DISCLAIMER

VOCALOID MILIK PEMILIKNYA MASING-MASING

Story by MiyuTanuki

Dilarang keras meniru tanpa sepengetahuan MiyuTanuki

Kesalahan penulisan, typo, dan lain-lain mohon dimaklum.

Untuk itu dimohon untuk RnR.

Kita masih belajar ^^


CHAPTER 4


Meiko berlari mengikuti ayah, ibu, bersama kakak laki-lakinya. Ia bahkan tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Rumah indah dan megah itu kali ini nampak seperti gedung mengerikan. Halaman yang begitu luas menyulitkan mereka untuk berlari dari sesuatu yang kini mengejar. Napas terengah-engah, mereka tetap mencoba untuk lari dari kenyataan. Sang ayah yang mengeratkan genggamannya pada putra dan istrinya tersayang. Sementara sang ibu tetap menggenggam tangan mungil putri semata wayangnya.

Meiko berkali-kali menatap ke belakang. Berharap ia tak melihat sesuatu yang mengerikan di belakang sana. Semua orang mengkhianati mereka. Tak ada orang yang dapat mereka percaya. Semua itu hanya delusi, mengganggap bahwa para butler dan antek-anteknya dapat di percaya. Inilah resiko yang didapatkan mereka. Konsekuensi dari kekayaan. Manusia yang serakah, manusia yang gegabah.

Mereka menghindari berkeliling di dalam ruangan. Mayat-mayat berjajar didalamnya. Dengan luka-luka yang menganga. Bau amis menguar di udara, lantai lengket dengan cairan merah kental. Mereka yang mengabdi pada keluarga Sakine sudah musnah. Tak ada yang bisa membantu mereka untuk keluar dari lingkungan mewah ini.

Mereka terhenti di depan pintu usang. Pintu yang menghubungkan ruangan bawah tanah itu sungguh mengerikan. Meiko bersama Meito sang kakak tak berani untuk memasuki pintu yang kini terbuka lebar.

"Meiko, Meito, dengarkan ibu. Jangan keluar dari tempat ini."

Meiko terdiam, tubuh mungilnya dipaksa untuk terduduk di atas lantai berdebu. Membuatnya berkali-kali terbatuk. Tenggorokannya kering, rasa ngilu ketika ia mencoba untuk berbicara pada sang ibu.

"Ibu mohon untuk kali ini saja."

Sang ibu menutup pintu. Ia meninggalkan Meiko kecil disana dengan kegelapan yang perlahan menenggelamkannya pada presepsi-presepsi tak menyenangkan. Ia hanya gadis berumur 10 tahun yang bergelimang harta. Meito memeluk Meiko, tak membiarkan tubuh mungil Meiko mengejang ketika melihat sesuatu di celah pintu.


Bola matanya terbuka begitu saja, ia terduduk diatas ranjang. Menatap ke segala arah, matanya menelisik cemas ke seluruh penjuru ruangan. Napas yang memburu dengan tubuh yang basah akibat keringat membuatnya panik. Berkali-kali napas beratnya terulang. Tak membiarkan tubuh Meiko untuk tenang. Ia menggenggam selimut dengan erat. Rambutnya yang acak semakin menunjukan bahwa ia menderita.

"Mei-chan. Mei-chan." Meiko menatap cemas pada tubuh lelaki disampingnya. Ia menjauh dari lelaki itu. Keadaan ruangan yang gelap tak membiarkannya untuk melihat siapa lelaki itu.

"Mimpi buruk? Tenang ini aku, Kaito. Kau butuh ice cream?" Kaito duduk sembari mengusap matanya malas.

Meiko bernapas lega. Kembali ia mengusap dadanya. Berusaha untuk membuat dirinya tenang. Hari masih gelap dan setidaknya ia harus mendapatkan istirahat yang cukup sebelum esok pagi menjelang. Ia terkekeh mengingat apa yang baru saja Kaito katakan.

"Ice cream? Yang benar saja. Kau ingin membuatku gendut?" Meiko membuat suaranya setenang mungkin.

"Sepertinya. Kembalilah tidur." Kaito tertawa sejenak sebelum akhirnya ia menepuk-nepuk punggung Meiko.

Seperti yang dikatakan Kaito, Meiko segera berbaring di sampingnya. Kaito terlelap begitu cepat, tubuhnya memunggungi Meiko. Meiko terdiam sejenak. Ia tahu bahwa ia tak dapat kembali terlelap karena mimpi buruk yang selalu menghantuinya. Beberapa saat Meiko hanya berbaring disana, mengandai-andai penuh harap. Perlahan kelopak matanya menutup. Namun lagi-lagi ia mengurungkan niat untuk kembali terlelap dengan alasan ponsel yang berada di atas nakas berbunyi.

"Sakine desu." Ujarnya singkat. Meiko segera meninggalkan ranjang.

"Ah aku kira kau sudah tertidur." Meiko mengerlingkan matanya ketika mendengar suara Kiyoteru.

"Apa kau sudah membawa seluruh berkas itu?" Meiko mengusap-usap pundaknya perlahan. Ia bahkan ragu untuk memberitahu bahwa satu lembar berkas itu dicuri.

"Ya. Bisakah kita membicarakannya di kantor? Kali ini bagianku untuk istirahat." Meiko terdiam di depan lemari pendingin. Membukanya, dan mengambil sebotol minuman.

"Baiklah. Pastikan berkas itu tak ada yang hilang. Kalau begitu aku akan kembali mengerjakan laporan." Meiko tahu bahwa kali ini Kiyoteru pasti sedang mengusap wajahnya gusar.

"Selamat mengerjakan laporanmu ketua." Terdengar sarkastik. Tapi seperti itulah kenyataannya.

Suasana kembali senyap. Meiko bahkan mengembalikan botol minuman itu ke tempatnya. Pikirannya masih terganggu dengan fakta bahwa Miku membawa selembar kertas penting di kumpulan berkas itu. Dan hingga saat ini ia bahkan tak tahu apa informasi dari selembar kertas itu. Semakin ia tenggelam pada pemikirannya, semakin ia bingung. Dan ia kembali berpikir siapa yang Miku hubungi ketika ia berada di toilet. Mengapa Miku melakukan hal itu. Mengapa Miku berpura-pura jijik melihat mayat ketika pada kenyataannya setelah Miku melihat mayat kemarin, ia bahkan tak mengeluarkan isi perutnya. Dan Meiko melupakan waktu ketika ia terlalu membebani pikirannya dengan hal-hal itu.


"Setelah kubaca kembali berkas ini. Selama pembunuhan pertama hingga pembunuhan ke-12, jarak waktunya selalu 3 bulan. Namun si Psycho ini memajukan waktu pembunuhannya menjadi 1 bulan." Kiyoteru menancapkan sebuah pin di atas foto salah satu korban.

Ia kembali mengambil beberapa lembar berkas di tangan Meiko. Kini hanya mereka bertiga yang berada di ruang rapat berukuran sedang itu. Gakupo memutar-mutarkan pensil dihadapannya, ia terlihat berpikir begitu keras hingga terlihat kerutan di dahinya.

"Kita pertimbangkan lagi pertanyaan inspektur muda itu. Mengapa si pelaku memajukan waktu pembunuhannya? Sementara kita mengetahui bahwa ia selalu melakukannya dengan selang waktu 3 bulan." Kiyoteru kembali angkat bicara. Hal itu membuat ekor mata Meiko menatap sekilas kearahnya.

Yang kini Meiko pikirkan bukanlah selang waktu 3 bulan atau 1 bulan. Melainkan berkas apa yang Miku bawa. Berkali-kali Gakupo menunjukkan poin-poin penting di setiap berkas, menyuruhnya untuk menuliskan semua poin-poin itu. Dan Meiko menurutinya. Sebuah ketukan ringan terdengar. Membuat ke-enam bola mata itu menatap pintu secara serempak.

"Ah Kiyoteru-san. Ini file yang kau butuhkan." Meiko menatap gadis itu bingung. Pasalnya ia belum pernah bertemu dengan gadis itu.

"Dia Lily. Bawahan baru yang mengurus bagian berkas." Tatapan mencurigakan Meiko diarahkan pada Kiyoteru yang kini terfokus pada berkas dihadapannya.

"Kalau begitu saya permisi." Lily meninggalkan Gakupo dan Meiko yang masih terkejut.

Sudah cukup dengan detektif baru yang memiliki sisi misterius –Miku—, kali ini ada lagi wajah baru yang akan menangani bagian berkas. Membuat Meiko menangkupkan wajahnya di atas meja.

"Aku baru pertama kali melihatnya." Gakupo mengarahkan ujung pensilnya pada Kiyoteru.

"Aku yang merekrutnya." Sebuah aduhan terdengar dari mulut Gakupo.

Kiyoteru mengalihkan perhatiannya pada Meiko. Ekspresi Meiko tak menunjukan apapun. Namun beberapa tanda disana yang menyebutkan bahwa Meiko sedang memikirkan sesuatu. Apapun itu alasannya, sepertinya Meiko masih tak ingin memberitahukannya pada Kiyoteru. Terbukti ketika kini Meiko menatapnya seakan tak ada sesuatu yang terjadi dan kembali menuliskan bagian-bagian berkas yang menurut Meiko penting.

Mereka menghela napas panjang secara bersamaan. Sejujurnya, pembunuhan ini memang diserahkan pada tim mereka. Namun jalan pikiran mereka yang sama menanyakan mengapa tim D juga diturunkan untuk mengurusi kasus ini. Tetapi tak ada satupun yang dengan kepala besar menanyakan hal itu pada para petinggi. Bahkan bagi seorang Gakupo yang sarkastik seperti itu pun tak berani mengungkapkan pertanyaan itu. Meiko mendengus melihat foto yang Kiyoteru sebarkan di hadapannya.

Foto-foto itu berbeda dari foto-foto yang berada di ruangan khusus Meiko. Foto itu diambil oleh bagian forensik, ketika mayat sedang di otopsi. Foto mayat di TKP tak akan di satukan dalam berkas ini. Sementara foto yang berada di ruangan Meiko tentu saja foto ketika mayat sedang berada di TKP. Karena ia sendiri yang mengambilnya.

Terlihat perbedaan jelas ketika mayat sedang berada di kamar otopsi maupun ketika berada di TKP. Meiko mengingat-ngingat kembali foto-foto di ruangannya. Mayat selalu berada di posisi berbeda. Si Psycho itu tak menyimpan mayat di satu tempat di setiap pembunuhannya. Sebagai contoh saja, si Psycho itu menyimpan mayatnya di atas sofa di setiap pembunuhannya. Namun pada kenyataannya, posisi mayat di setiap pembunuhan selalu berbeda.

Meiko memilih untuk meninggalkan Kiyoteru dan Gakupo. Kali ini kepalanya terasa penat dengan semua informasi yang sudah ia tulis. Dengan baik hati, Kiyoteru memperbolehkan Meiko untuk pulang lebih awal.


Dan disinilah Meiko. Kembali terduduk di atas sofa milik Kaito. Dengan berkas yang berserakan di atas meja. Segelas kopi berada di tangan Meiko. Hal inilah yang ia sukai. Ia tak terlalu senang ketika memikirkan sebuah kasus bersama-sama. Karena selalu ada opini yang bertentangan yang akan membuat kepalanya pening. Foto-foto yang ia tangkap berada di tangannya. Foto ekslusif yang ia dapatkan ketika ia berada di TKP. Ia menaruh foto itu secara rapi. Kemudian Meiko memandang jam di atas LCD di depannya.

Shit!

17.30

Ia bahkan belum menyiapkan apapun untuk makan malam. Meiko bergegas merapikan segala berkas di atas meja dan berlari ke dapur. Ia berencana untuk memasak sup rumput laut, dan mungkin daging ikan salmon dengan saus tiram, dan telur gulung. Bagaimanapun ia tak ingin merepotkan Kaito hanya karena ia memang sering berkunjung ke apartemennya. Namun beruntunglah Kaito, jika saja Meiko jarang berkunjung ke tempat ini. Meiko yakin isi dari lemari pendingin itu akan di penuhi dengan ice cream vanilla dan beberapa rasa mint.

Meiko tak keberatan untuk menyiapkan sarapan, ataupun bekal makan siang, dan bahkan makan malam untuk Kaito. Meskipun bisa di ketahui bahwa kemampuan Meiko dalam memasak sangat lah minim. Terkadang ketika Kaito berada di apartemen dan melihat Meiko memasak, ia akan merasa ngeri. Bagaimana tidak? Melihat Meiko menggenggam pisau saja rasanya seperti ia akan membunuhmu secara mendadak. Meiko memang tidak menyadari hal itu, karena ia menganggapnya hanya suatu hal yang biasa.

Pintu utama terbuka. Meiko tahu bahwa itu adalah pemilik apartemen. Kaito menunjukan dirinya. Ia berdiri mematung ketika melihat Meiko berada di dapurnya. Pandangannya kembali menelusuri berkas di atas meja. Kala itu juga Kaito menutup matanya. Yang pertama ia lihat adalah lengan tanpa jari yang penuh dengan memar. Hal itu membuat Meiko terkekeh, sementara Kaito berlari ke kamar tidur utama dengan bulu roma yang berdiri.

Kaito kembali dengan mengenakan pakaian kasual. Dan hal janggal lainnya adalah ia menggunakan kacamata hitam. Hal selanjutnya yang ia lakukan adalah membalikan seluruh berkas yang tercecer di bawah meja dan juga foto-foto mengerikan. Meiko menyadari bahwa lengan Kaito gemetar ketika ia menyentuh foto-foto itu. Tawa Meiko memenuhi seluruh ruangan. Membuat Kaito pucat pasi, menyadari bahwa ternyata kekasihnya itu mengerikan.

"Makan malam hampir selesai. Kenapa tidak manjakan dulu tubuh mu itu dengan berendam di air hangat? Aku tahu kau pasti lelah." Dan saat itu juga Kaito mengangguk cepat dan kembali ke kamarnya.


Makan malam sudah selesai. Meiko dan Kaito kini menikmati satu cup ice cream sebagai dessert. Beberapa menit suasana hening, hingga ponsel Kaito berbunyi. Kaito berdiri meninggalkan Meiko ketika ia mengetahui siapa yang menghubunginya. Meiko hanya terfokus pada ice cream-nya, dan ia menyadari bahwa hal itu tak biasa di lakukan Kaito di hadapan Meiko. Ia tak pernah meninggalkan Meiko ketika ada seseorang yang menghubungi ponselnya. Baik itu tentang pekerjaan, ataupun teman-temannya yang tak jarang mengajak pria mata biru itu minum. Namun kali ini Meiko dikagetkan dengan prilaku Kaito yang mendadak aneh.

Tak lama Kaito kembali dengan ekspresi seperti tak terjadi apapun. Seberapa mampu kah Kaito menyembunyikan kebenaran di hadapan Meiko? Tentu saja ia tak mampu. Memiliki suatu hubungan dengan seorang wanita yang memiliki sifat psikopat tentunya akan sangat kesulitan. Kesulitan untuk menyimpan rapat-rapat sebuah kebenaran dibalik kebohongan yang Kaito tampilkan saat ini. Bahkkan kali ini Meiko memicingkan matanya tajam. Sebelum ia berkata sarkastik, setidaknya ia sudah memberikan Kaito kesempatan untuk menyatakan apa yang terjadi. Tetap dengan pendirian ia tak akan melontarkan kalimat yang mengiris hati pada Kaito.

Nampaknya itu cukup sulit untuk di mengerti oleh seorang Kaito Shion. Ia hanya menatap Meiko beberapa saat dan akhirnya kembali menjatuhkan pandangan pada ice cream di hadapannya. Baiklah, sepertinya kesabaran Meiko untuk menuntut kebenaran dari Kaito dengan tatapan sudah habis. Ia bahkan sudah mengambil napas dalam.

"Bagi ku itu hal asing." Meiko menahan diri dengan memasukkan se sendok ice cream ke dalam mulutnya.

"Apa?" Baik, itu adalah pertanyaan bodoh yang paling di benci oleh Meiko.

"Kau berjalan pergi untuk menjawab seseorang yang mengubungimu." Dan bukankah kali ini Meiko sudah naik pitam?

"Tadi? Atasan memanggilku untuk mengerjakan laporan hasil rapat tadi." Kaito berusaha keras untuk meyakinkan Meiko.

"Lalu mengapa kau pergi ke sana untuk menjawabnya? Ada sesuatu yang salah denganmu? Apa kau menyembunyikan sesuatu." Ungkapan 'mengapa' itu ia tekankan.

Bukankah itu adalah hal yang bodoh? Menyadari bahwa Meiko hanya terpancing emosinya ketika ia melihat hal kecil berubah pada Kaito. Hal ini seperti ia melampiaskan amarahnya pada Kaito yang bahkan tak bersalah. Amarah bahwa ia tak mengetahui apa yang Miku bawa. Atau kah rasa penyesalan karena tak bertanya pada Miku? Meiko bahkan masih meragukan hal apa yang membuat emosinya terpancing.

"Kau cemburu?"

Dua kata itu berhasil membuat Meiko terbatuk keras, membuatnya menjatuhkan cup ice cream yang tengah ia pegang. Bersyukurlah bahwa isi cup ice cream itu sudah lenyap. Wajah Meiko merah padam. Entah karena ia malu untuk mengakuinya, ataupun karena tersedak ice cream. Yang jelas Meiko tak bisa mengatur frekuensi batuknya saat ini.

"Benarkan?"

Kali ini terlihat senyuman bodoh dari Kaito. Ia terlalu jelas dalam menggoda Meiko, membuat Meiko kembali terbatuk. Kaito terkekeh dan mengambilkan segelas air mineral untuk Meiko. Sungguh inilah dimana saat Meiko benar-benar merasakan hal yang di sebut 'malu'.

"Sudahlah." Meiko berlalu saja dan meninggalkan Kaito yang tertawa kencang.

Meiko mengambil kembali semua foto pembunuhan itu. Memasukkannya ke dalam map. Lalu merapikan itu semua. Kaito kini tertawa disampingnya. Meiko hanya mengerlingkan mata.

"Baru kali ini kau tidak sibuk. Apa tidak ada kasus?"

"Tidak. Kau ingat bahwa si Psycho ini selalu membunuh 3 bulan sekali. Dan sekarang berganti menjadi 1 bulan sekali. Dan kita masih memiliki 1 minggu untuk hal itu terjadi."

Kaito kembali mengangguk. Meiko tahu bahwa ia tak akan berani bertanya bagaimana kemajuan kasus itu. Meiko menghargai itu. Untuk malam ini mereka bisa tertawa dan menikmati waktu senggang bersama. Sebelum Meiko dihadapkan pada situasi yang pelik dengan segala teka-teki yang didapatkannya dari pembunuh psikopat itu.


A/N

Haaa akhirnya bisa update chapter ini.

Ternyata moment KaiMei nya kurang, jadi chapter ini full KaiMei.

Maafkan ga ada kasus.

Tapi di chapter depan makin pelik kok ^^

Banyak juga kasusnya.

Mind RnR?

Salam KaiMei

MiyuTanuki ^^