N/P : Satu hal. Ini bukan cerita dewasa. Jadi santai aja ^^. Saya cuma meniru adegan komedi dalam anime. Juga ... ini tidak harem, kok. Dan cerita ini mungkin selesai 2 atau 3 chapter lagi.
Warning (!) Hinata OOC, miss (typo), ada saat perlu membaca dengan tempo cepat dan ada saat membacanya lambat
Chapter 4
Malam harinya, mereka bertiga kembali ke hutan menuju puncak bukit terdekat. Seperti yang dikatakan Naruto sebelumnya, ada sesuatu yang sudah menunggu mereka di sana. Sesuatu yang bersinar, berwujud bulat dan menempel di tanah.
"Kita sampai," ujar Naruto, setelah melewati rumput yang tinggi dan lebat.
Di depan mereka sudah tampak wujud sesuatu yang sudah menunggu itu. Memiliki bentuk spiral dan bersinar putih, menempel di tanah, serta berputar-putar. Itu lingkaran sihir.
"Lingkaran sihir spiral, kah? Ini jenis teleportasi. Siapa yang memasangnya di tempat seperti ini?" Konohamaru mendekati lingkaran sihir itu.
"Mungkin seseorang yang sudah mengenal Naruto-kun—teman seanggotanya," kata Hinata.
"Hina-nee, coba gunakan~"
"Ya ampun, sudah kubilang panggil aku Hinata, Hinata saja, Naruto-kun," potong Hinata, kesal.
"A-Ah, Hinata. Ya, aku tahu. Hinata saja, ya? Oh... Hinata. Hinata... hahaha..."
"Aniki, ada apa denganmu? Apa kau sakit?" Konohamaru menyadari wajah gelisah Naruto.
"A-Ah, aku tidak apa-apa. Aku tidak sakit. Aku hanya sedang ... berpikir. Jangan khawatir, Konohamaru. Kau terlalu khawatir. Aku sangat sehat. Bahkan ... aku merasa lebih sehat dibanding kemarin." Suara Naruto terdengar bergetar—seperti sedang ada yang membuatnya takut saja.
"Dasar, lalu apa yang akan kita lakukan se...lan...jutnya?" ucapan Konohamaru memelan di kata terakhir. Pandangannya langsung terarah pada Hinata yang ada di belakang Naruto. Gadis itu dengan mantab memegang kedua bahu pemuda pirang itu. Rambutnya yang panjang seakan menari-nari di udara, matanya menyala merah, aura hitam juga menyelimuti tubuhnya. Dia berubah menakutkan lagi, sepertinya dia masih marah, batin Konohamaru.
"Mati aku!" Naruto melirik belakangnya.
"Naruto-kun. Aku bisa memaafkanmu tentang kejadian tadi, tapi bukankah aku sudah memintamu untuk memanggilku Hinata saja, kan? Apa sangat sulit untukmu mengucapkannya? Apa namaku sangat jelek sampai bibirmu tidak mau mengucapkannya? Kukira aku sudah mendengarmu memanggilku Hinata saja sebelumnya, tapi kau malah kembali memanggilku Hina-nee." Nada suara Hinata terdengar berat.
Naruto tiba-tiba memegangi kepalanya. Ia menunduk. Mulutnya berkomat-kamit, "Maafkan aku maafkan aku maafkan aku..." Ia benar-benar sangat ketakutan sekarang. Konohamaru pun sampai terkejut karena baru pertama kali ini melihat anikinya itu terlihat takut berlebihan.
"Katakan! Panggil aku Hinata. Untuk selanjutnya dan selanjutnya. Panggil aku 'Hinata'. Mengerti!" Aura hitam yang menyelimuti Hinata semakin menggila—sampai terlihat seperti angin ribut saja.
Gigi Naruto bergetakan, matanya melotot menatap tanah, keringat dingin bermunculan di wajahnya. Dengan penuh ketakutan, ia pun hanya mengiyakan perkataan Hinata. Kemudian suasana langsung berubah. Aura hitam yang terus keluar dari tubuh Hinata mendadak saja lenyap. Sekarang gadis itu terlihat berbunga-bunga. Wajahnya yang menakutkan tiba-tiba tergantikan oleh senyum manisnya.
"Naruto-kun ini, jangan selalu membuatku marah, tahu," Hinata tertawa ketika Naruto memeluknya sambil menangis meminta maaf. "Sudah... sudah... tidak perlu menangis begitu. Naruto-kun ini."
Konohamaru sweatdrop. Ia menampar dahinya, kemudian membentur-benturkan kepalanya ke batang pohon. Anikinya dan gadis elf itu, mereka benar-benar orang aneh. Padahal selama ini dirinya sudah kerepotan dengan Naruto yang gila oppai, dan sekarang ditambah seorang gadis polos yang aneh. Apa hidupnya akan selalu berada di sisi orang aneh, ya? Apa jangan-jangan ketika sudah saatnya nanti ia akan menikah dengan orang aneh juga? Konohamaru begidik ngeri membayangkannya.
"Ok, kita tidak bisa membuang waktu lagi." Naruto menampar-nampar pipinya seperti sedang menyemangati dirinya sendiri.
"'Kita'? 'Kalian' saja kali." Konohamaru sweatdrop.
"Hinata-chwan, setelah kita berdiri di lingkaran itu coba gunakan sihirmu ... sedikit saja, okay?" Naruto mengacungkan jempol ke arah Hinata dengan mata berbinar-binar.
Konohamaru benar-benar sweatdrop sekarang, "—chwan?"
Sementara Hinata, dia terlihat berkilau-kilau—di sekitar kepalanya ada beberapa bintang yang berkelap-kelip. Sepertinya dia sangat senang dipanggil seperti itu.
"Hoy, kapan berangkatnya?"
Menghiraukan perkataan Konohamaru, Naruto dan Hinata saling berpegangan tangan. Mereka saling bertatapan dekat dengan mata berbinar-binar. "Naruto-kun" "Hinata-chwan" begitulah gumaman mereka.
Konohamaru stress. Ia menendang-nendang batang pohon di dekatnya, kemudian kembali membentur-benturkan kepalanya sampai berdarah.
We Are Assassins
Naruto Masashi Kishimoto
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata
T
Romance, Adventure, Fantastik, Superpower
Angin berhembus cukup kencang di desa itu. Sebuah daun tampak meliuk-liuk di udara, kemudian tidak lama daun itu pun jatuh di sebuah kubangan air. Suara katak hingga burung terdengar menyebar di sekitar. Seberkas cahaya juga mendadak datang dari langit lalu menyinari bunga-bunga.
"Papa... Mama... aku di luar!"
Seorang gadis kecil terlihat keluar dari rumahnya. Ia tertawa sambil berlari ke tempat bunga-bunga berkumpul. Hingga keasyikkan berlari, ia akhirnya jatuh terpeleset. Ia terbaring di tengah kumpulan bunga. Ia menangis. Tapi tidak lama, tangisnya itu pun berhenti setelah melihat sesuatu. Baru saja, hujan reda. Awan hitam perlahan disapu oleh cahaya matahari. Ya, gadis kecil itu sedang melihat pelangi. Ia kembali tertawa.
"Mira-chan, jangan lari-lari begitu, dong. Nanti jatuh!"
Seorang wanita juga tampak keluar dari rumah yang sama. Memiliki rambut hitam sepanjang bahu. Kedua pupil matanya terlihat berwarna hitam keabuan. Dia memakai kacamata. Dan pakaiannya; ia menggunakan kaos—sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang, serta rok sepanjang bawah lutut. Dia sedang berkaca pinggang menatap gadis kecil itu.
"Mama... Mama... lihat! Lihat! Di langit!" ucap gadis kecil itu, girang.
"Ya ampun, baru saja mama bilang, kamu sudah jatuh duluan," Wanita itu menghela nafas, "bajumu jadi kotor, tuh," lanjutnya.
"Papa... ke sini!" Gadis kecil itu melambai ke arah seseorang yang baru saja keluar dari rumah—yang sama. Seseorang yang bisa dibilang pria atau bukan pria. Tingginya saja sama dengan anak SD—sekitar 140 cm, tapi di pipi kirinya dapat kita lihat ada bekas luka—seperti bekas luka bakar. Dia memiliki rambut merah.
"Sayang, lihat putrimu. Kau terlalu memanjakannya, sih." Wanita itu menatap pria pendek itu.
"Papa... pelangi! Pelangi!" Si gadis kecil—Mira menunjuk-nunjuk langit sambil tertawa.
"Mii, sudahlah, kau terlalu khawatir. Biarkan saja Mira-chan bersenang-senang, bukankah akhir-akhir ini kau selalu memintanya belajar," kata pria pendek itu. Sekarang dia berada di samping wanita itu sambil tersenyum melihat putri kecilnya yang sedang asyik menatap pelangi.
"E-Ehm, benar juga, sih." Mii—wanita itu terdiam sejenak, "K-Kalau begitu, aku akan bersih-bersih saja. Lagipula sebentar lagi dia akan datang. Aku tidak bisa membuatnya berpikir kalau aku bukanlah istri yang cocok untukmu. Sayang, jangan sampai membiarkan Mira-chan bermain di sungai atau aku akan sangat marah." kemudian ia masuk ke rumah.
Pria pendek itu menghela nafas, "Masih belum berubah juga. Kupikir dia sudah bersamaku 4 tahun lebih. Seharusnya kau tidak perlu terlihat malu,... Mii," gumamnya, lalu kembali menatap putri kecilnya—Mira.
—Lagipula sebentar lagi dia akan datang.
Itu benar. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan adiknya. Tiga tahun? Empat tahun? Entahlah. Dan sekarang, dirinya akan segera menemuinya. Apa dia sudah bertambah tinggi? Apa dia sudah menikah dengan gadis itu? Apa dia sudah berhenti membunuh orang yang tidak bersalah? Apa dia sudah meminang seorang atau dua anak? Hanya pertanyaan-pertanyaan tersebut yang ada di pikiran pria pendek itu.
"Naruto... Naruto... semoga kau tidak memiliki tubuh pendek seperti kakakmu ini. Yah, kupikir kau memang tumbuh lebih baik daripada aku."
Namanya Uzumaki Screisch. Dia adalah kakak Naruto. Fisiknya kecil seperti anak sekolah dasar. Rambutnya yang berwarna merah mungkin warisan dari ibunya—Uzumaki Kushina.
"Dasar Uchiha itu, seenaknya memutuskan tempat orang lain sebagai tempat berkumpulnya para pendosa." Pria pendek itu terdiam sejenak, "Yah, sudahlah." ia menghela nafas lagi.
"Papa... aku menemukan kucing yang manis. Boleh kupelihara?"
"Kucing?" Screisch tiba-tiba terbelalak, "M-Mira-chan, kau seharusnya tidak menyentuh hewan itu!"
"Heee? Kenapa?"
"Itu bukan kucing!" Screisch berkeringat dingin. Sial, Mii pasti akan memarahaiku, ucapnya dalam hati.
"Lalu?"
"Tahan ... jangan sampai dia merasa terancam, papa akan mengambilnya pelan-pelan. Baiklah sekarang berikan sigung itu ke papa, ayo berikan ke papa."
"Papa ini, jadi hewan ini yang namanya sigung, ya?" Mira terdiam sejenak, "Eng..." ia menatap ekor hewan itu, "Etto..." selanjutnya ia mengangguk, "Hyat!" mendadak ia menarik ekor hewan itu. Kemudian suara "tuuuuut" seperti orang sedang kentut terdengar cukup keras. Screisch panik. Mira menangis karena bau busuk yang sigung itu keluarkan. Mii keluar dari rumah mendengar tangisan Mira. Screisch lagi-lagi berkeringat dingin. Mii memarahinya habis-habisan.
Chapter 4 : Ini Bukan Lagi di Jepang!
Lingkaran berbentuk spiral itu semakin lama bersinar terang. Naruto, Hinata dan Konohamaru tampak berdiri di atasnya. Tubuh mereka secara perlahan tenggelam ke lingkaran shir itu. Dan ketika mereka sepenuhnya tenggelam, tiba-tiba lingkaran sihir itu berangsur-angsur menjadi sesuatu yang kecil—mirip kunang-kunang. Terbang kanan-kiri tak beraturan seperti kupu-kupu serta menjatuhkan benda semacam serbuk cahaya.
Benda itu mendadak saja meluncur ke langit—seperti roket yang baru lepas landas. Lalu saat cukup tinggi benda itu berada di atas—sekitar di bawah awan sangat dekat, benda itu secara horizontal terbang ke arah bulan terlihat. Jika kita bayangkan, benda itu seperti meteor kecil saja yang akan jatuh ke permukaan bumi. Terbang sangat cepat melewati apapun di bawahnya; melewati sungai panjang yang dikelilingi pohon-pohon, pegunungan yang hijau, pantai berpasir putih, laut yang biru, hingga akhirnya sebuah pulau yang besar—membentang entah seberapa luas. Bahkan bulan yang tadinya terlihat besarseperti supermoon sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan, tergantikan oleh matahari—seakan-akan kita sedang menyaksikan matahari terbit dari timur dengan waktu yang cepat.
Tidak lama kemudian, benda bercahaya itu perlahan melintas miring ke bawah seperti pesawat yang akan mendarat saja. Turun semakin turun hingga setinggi pohon. Dan turun lagi hingga akhirnya menyentuh tanah. Lalu benda itu bersinar semakin terang hingga seperti api unggun besar yang menyinari pohon-pohon di sekitar. Bahkan seekor kelinci yang tadinya bersembunyi di semak-semak tiba-tiba keluar hanya untuk melihat benda apa itu. Kedua mata kelinci itu sampai tak berkedip. Bayangannya sendiri yang terlihat besar di belakangnya hingga tak dipedulikannya.
Sekarang dapat kita lihat kalau cahaya yang terang itu mendadak saja lenyap. Naruto, Hinata serta Konohamaru sudah terlihat berdiri dimana benda bercahaya tadi berada.
"Akhirnya sampai juga," Konohamaru menatap sekelilingnya.
"Ternyata alam lebih indah jika dilihat dari atas. Rasanya seperti menjadi burung yang terbang bebas," kata Hinata, matanya tampak berbinar-binar.
Sementara Naruto, ia sepertinya sedang menatap sesuatu dengan serius. Sesuatu yang ada di depannya—cukup jauh. Lebih tepatnya ke seseorang yang berdiri di sana. Di balik pohon dengan kepalanya saja yang terlihat. Dia seperti sedang mengintip.
"Apa yang dilakukan bocah itu?" Konohamaru berkaca pinggang menatap seseorang itu. Ya, sepertinya orang itu masih anak-anak jika dilihat dari fisiknya. Memiliki rambut merah pendek. Dia juga memakai jubah coklat yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala.
"H-Hah, d-dia... d-dia... dia..." Hinata perlahan mendekati bocah itu dengan wajahnya yang seperti tak percaya. Lalu ia tersenyum dan berteriak "Sacchi!" sambil melompat ke arahnya. Memeluk bocah itu, kemudian mengguling-guling di tanah. Tertawa seperti anak kecil saja.
"Hah? Sacchi?" Konohamaru terdiam sejenak. Ia pun terbelalak, "S-Sacchi!" ucapnya tidak percaya. Ia beberapa kali membandingkan Naruto dengan bocah itu. Rambut, wajah, warna mata; tidak ada yang sama dari mereka. Apalagi bekas luka di pipi kiri yang dimiliki bocah itu. Apa benar dia kakak Naruto? Konohamaru terus mengusap matanya.
"Sacchi, kau semakin imut saja, ya? Bagaimana keadaan istrimu? Kudengar kau sudah punya anak, siapa namanya? Beritahu aku! Beritahu aku!" Hinata terlihat sangat senang.
Bocah itu tersenyum, "Anda belum berubah juga, ya?" ucapnya.
"Sacchi ini, bukankah aku pernah memintamu untuk tidak bersikap formal padaku? Apalagi saat ini kita tidak sedang di istana." Hinata tersenyum, "Panggil aku Hina-nee atau Hinata, ok?"
Bocah itu mendesah pelan, "Baiklah, Hina-nee. Sekarang, boleh aku menyapa adikku dulu?"
Hinata mengangguk, lalu melepas pelukannya membiarkan orang itu berhadapan dengan Naruto.
"Yo... Screisch, seperti biasa kau selalu terlihat bersembunyi. Apa tinggimu sudah bertambah?" Naruto bersedekap menatap sombong ke arah kakaknya.
"Yo, Naruto, seperti biasa kau selalu tidak sopan denganku. Apa kau masih belum bisa memanggilku 'Kakak' lagi?" Screisch tersenyum.
Hening. Setelah itu tak ada satu kata pun yang diucapkan mereka. Konohamaru sampai bingung. Ia tidak mengerti dengan situasi ini. Ia terus bertanya-tanya. Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka hanya diam saling menatap? Mereka terlihat seperti dua atlet petinju yang akan memulai pertandingan saja. Berdiri berhadapan saling menatap dengan tatapan yang tajam.
Sementara itu, Hinata tampak tidak peduli. Ia sudah terlanjur sangat senang sekarang. Setelah sekian lama, akhirnya ia bertemu dengan teman masa kecilnya. Naruto, ditambahkan lagi Screisch. Ia berjongkok di dekat semak-semak sambil menangis.
"Kami-sama, Kau memang yang terbaik!" teriaknya.
Konohamaru sweatdrop, "Hoy..."
Perlahan, Naruto mendekati Screisch. Wajahnya yang sombong mendadak menjadi datar. Tangan kanannya tiba-tiba ia bentangkan ke belakang seakan ingin menerima sesuatu saja. Dan dalam sekejap, sebuah pedang tampak sudah digenggamnya. Tidak salah lagi, itu pedang yang biasa Naruto gunakan untuk membunuh. Pedang Excalibur. Apa yang akan ia lakukan dengan pedang itu?
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kuharap kau tidak membunuh orang tidak bersalah lagi." Screisch menatap pedang yang digenggam Naruto.
"Maaf," Naruto semakin mengeratkan pegangan pada pedangnya, "tapi bagaimanapun juga..." tiba-tiba dengan sekuat tenaga ia ayunkan pedangnya itu ke leher Screisch, "aku tetaplah seorang pembunuh."
Screisch menghindar dengan berjongkok, kemudian tampaklah kakinya sedang mengayun bermaksud menjegal Naruto, "Oh, begitu, ya?" ucapnya.
"Begitulah." Naruto melompat untuk menghindar juga, "Lalu bagaimana dengan anakmu? Laki-laki atau perempuan?"
Screisch tersenyum, "Kalau kubilang perempuan, kau mau apa?"
"Jadi perempuan, ya? Kuharap kau bisa menjaganya baik-baik." Naruto mengayunkan kakinya dengan cepat hingga berhasil mengenai pipi Screisch. Screisch langsung terpental. Kepalanya tertancap di batang pohon.
Konohamaru ternganga lebar. "Ho-Hoy, Aniki, apa yang kau lakukan?" ucapnya.
Naruto diam saja. Wajahnya masih datar. Ia mulai berjalan mendekati Screisch yang masih terdiam tertancap di pohon. Ia mendadak berlari. Semakin cepat dan semakin cepat. Hingga sebuah batu sebesar bola sepak berada di dekatnya, tiba-tiba ia tendang batu itu sekuat mungkin. Batu itu pun meluncur bagai peluru ke arah Screisch. Dan saat itulah, dapat kita lihat sekitar tiga sampai empat pohon roboh begitu saja. Darah tampak terciprat ke udara. Pedang yang Naruto bawa mendadak jatuh, kemudian memantul-mantul di tanah. Waktu seakan-akan menjadi lambat. Kedua mata Naruto terlihat seperti tak ada pupilnya—hanya berwarna putih. Mulutnya ternganga lebar. Darah sudah keluar dari hidungnya. Saat ini, ia sedang melayang di udara. Entah sejak kapan, Screisch sudah ada di depannya. Tangan kanannya mengepal erat di dekat pipi Naruto. Kejadian itu begitu sekilas. Screisch menghindar lalu muncul di depan Naruto, kemudian menghajarnya. Benar-benar tak terduga.
Sekarang tampaklah Naruto sedang terpental. Menabrak lima pohon~tidak sepertinya sepuluh atau lima belas, entah berapa karena dia terus terpental. Tubuhnya terguling-guling di tanah seakan tidak mau berhenti. Naruto benar-benar kesakitan. Ia pun berteriak. Hingga akhirnya, ia menabrak batu yang besar. Batu itu berhasil menghentikannya, tapi tetap saja retak. Kaki dan tangan Naruto seakan meregang ke belakang. Matanya masih seperti tadi—tak ada pupilnya. Mulutnya juga masih ternganga. Ia pun tergeletak di tanah sambil terbatuk-batuk memuntahkan darah. Ia tidak bisa menggerakan tangan dan kakinya sekarang. Semuanya kaku.
"Sial! Padahal aku sudah berusaha keras, tapi tetap saja kalah." Naruto tersenyum meskipun seluruh tubuhnya mati rasa.
"Kau terlalu meremehkan lawanmu, karena itulah kau kalah, Naruto." Screisch sekali lagi muncul di dekatnya entah bagaimana.
Naruto mendesah kesal, "Sebenarnya seberapa kuat sih kau ini,... Aniiwe?"
Screisch hanya tersenyum, kemudian melambai ke arah Konohamaru dan Hinata berada. Balas melambai, itu yang dilakukan Hinata. Ia juga tampak tersenyum. Ia seperti tidak khawatir saja Naruto sedang terluka. Sedangkan Konohamaru, matanya sampai tak berkedip. Mulutnya masih ternganga. Ia benar-benar terkejut. Hanya dengan sekali pukul, Naruto kalah telak. Padahal, selama ini di matanya yang terkuat hanya Naruto saja. Itulah kenapa dia dijuluki Pembunuh Terkejam. Tapi setelah melihat kejadian ini, mungkin ia perlu merubah jalan pikirannya. Jadi, inilah kekuatan dari manusia terkuat.
"Naruto-kun ini, apa kau tidak menyerah juga melawan Sacchi?" Hinata mendekat, "Dia itu kakakmu, tahu. Kau tidak bisa menjadikannya musuh." ia berkaca pinggang.
"Hoy, apa benar dia kakakmu?" Konohamaru menatap Naruto sambil beberapa kali melirik Screisch.
"Kau ini, tanya saja sendiri!" Naruto mendesah.
Screisch tersenyum, kemudian menatap Konohamaru, "Kau yang bernama Konohamaru-kun, ya? Aku sudah mendengar banyak tentangmu."
Konohamaru tersentak. Ia berkeringat dingin. Sepertinya ia sedikit tidak enak berbicara dengan kakak Naruto itu. Tentu saja, di awal tadi saat dirinya melihat Screisch yang bersembunyi di balik pohon. Ia menatap sekaligus meremehkannya. Dan berkata kalau dia masih bocah. Ia takut kalau orang itu akan marah. Mengingat Naruto berhasil dikalahkan hanya dengan sekali pukul, mungkin ia harus berhati-hati agar tidak mati dihajarnya. Ia harus bersikap sopan.
"A-Ah, iya," ucap Konohamaru, kedua tangannya tampak menggigil. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk meneruskan pembicaraan. Ia bingung. Ia mengacak-acak rambutnya, kemudian dengan mantab ia menunjuk Naruto, "Aniki! Ini semua salahmu!" katanya tiba-tiba.
"Hey, ada apa denganmu?" Naruto heran, "Apa maksudmu dengan 'semua salahku'? Memangnya apa yang kulakukan?"
"Itu... Itu..." Konohamaru grogi karena terus dilihat Screisch, "Bukankah kau yang bilang kalau desa kakakmu tinggal adalah tempat teraman di pulau kita berada sebelum ini. Tapi kalau kuingat-ingat saat teleportasi tadi, kenapa kita malah terus ke selatan melewati lautan? Ini sudah bukan pulau di Jepang lagi, Bodooooh!" ia terengah-engah.
Naruto terdiam sejenak, "Hm..., mungkin kau benar. Sebenarnya aku juga tidak tahu kalau Aniiwe tidak lagi tinggal di pulau tempat kita. Aku diminta Itachi-san. Aku harus pergi ke puncak bukit terdekat, dan dia hanya memberitahuku kalau semua anggota Assassins akan berkumpul di rumah Aniiwe."
Konohamaru sweatdrop, "Katakan saja kalau kau tidak berpikir sebelum bicara, Dasar Pembohong."
"Oh, ya, Hina-nee," Screisch menatap Hinata, "kelihatannya... pakaianmu sedikit berlebihan."
Hinata mendadak tertawa sombong, "Hohoho... lihat, Kalian Bertiga," ia berkaca pinggang—bergaya seperti model, "inilah yang disebut style."
"Ha?" Konohamaru sweatdrop, "Kapan kau ganti baju?!" teriaknya.
"Baru saja,"
"APA?!" Konohamaru, Naruto dan Screisch berteriak kompak. Mereka tidak menyangka kalau Hinata akan senekat itu. Penampilan gadis itu berubah, dia benar-benar mengganti pakaiannya. Sekarang Hinata tampak memakai jubah hitam yang tak berlengan. Ia juga memakai sarung tangan hitam. Ia terlihat seperti tokoh dunia lain di anime Black Rock Shooter atau seorang sniper yang ada di film-film fantasy saja.
"Hey, jangan mesum. Aku menggunakan sihir untuk mengganti pakaianku, jadi tenang saja," jelas Hinata.
Mereka menghela nafas lega.
"Hinata-chan, benda suci yang kuberikan padamu sebelumnya, sekarang coba kau jadikan satu," ucap Naruto.
"Oh, ini?" Hinata menggenggam benda suci itu, kemudian ia menuruti perkataan Naruto. "Sudah kusatukan. Lalu apa selanjutnya?"
"Sekarang alirkan sedikit sihirmu ke benda suci itu," lanjut Naruto.
"Ah, seperti ini, ya?" Hinata melakukannya. Tangannya tampak diselimuti mana berwarna biru yang cukup tebal. Benda suci yang tadinya berbentuk tongkat sekarang perlahan meleleh menjadi cairan kental berwarna-warni lalu membentuk sesuatu seperti senjata berpeluru. Panjang dan memiliki lubang peluru yang cukup besar. Akhirnya dapat kita lihat senjata apa itu. Terlihat seperti sebuah basoka, namun lebih panjang.
"Aduh, bagaimana menggunakan senjata ini, sih?" Hinata beberapa kali membolak-balikan benda itu.
"Kau hanya perlu menekan pelatuknya, Bodoh." Konohamaru sweatdrop.
"Konohamaru-kun ini, bilang dari tadi, dong." Hinata benar-benar melakukannya. Ia bahkan tidak tahu persis sedang menembak ke arah mana. Yang ia tahu, sebuah bola mirip peluru meriam tiba-tiba keluar dari lubang senjata itu, kemudian meluncur cepat melewati antara kepala Naruto dan Screisch. Lalu tidak lama, suara ledakan besar seperti bom terdengar jelas. Hinata terdiam sejenak melihat akibat perbuatannya. Ia tertawa asam. Ia juga berkeringat dingin.
Perlahan dan pelan-pelan, Naruto, Screisch serta Konohamaru menengok ke belakang. Mereka terpaku. Sebuah kawah yang besar—seperti habis dihantam meteor saja, terlihat di sana. Tak ada lagi pepohonan. Tak ada lagi suara-suara binatang di sana. Hanya sebuah kawah yang penuh kobaran api. Jika kita bayangkan, kawah itu terlihat seperti fenomena alam lubang neraka yang ada di Uzbekistan saja.
Berbahaya. Senjata suci yang Hinata bawa sungguh mengerikan. Naruto bahkan tidak tahu kalau senjata suci itu bisa melakukan hal yang gila seperti ini, padahal dirinya yang memberikan senjata itu.
Scruiths, nama senjata suci itu. Senjata suci yang dahulu pernah digunakan oleh salah satu Pahlawan untuk mengalahkan Raja Iblis. Kalau tidak salah, Naruto mendapatkannya setelah membunuh Raja Goblin.
ITU tepat beberapa hari sebelum dirinya bertemu Konohamaru. Naruto membunuh Raja Goblin karena permintaan dari gadis kecil bernama Haku yang waktu itu baru kehilangan orang tua serta desanya—akibat amukan monster itu sendiri. Tidak ada yang tahu alasan kenapa dia mengamuk. Padahal tak seorang pun di desa itu yang mengganggunya.
Saat itu, Naruto benar-benar berhadapan dengan raja monster—Raja Goblin. Tubuh monster itu sangat berotot tampak seperti seorang pria. Kulitnya hijau. Berkepala botak. Dia selalu berkata "Gobl! Gobl!" lalu berteriak sangat keras seperti raksasa. Monster itu berlari seperti orang gila—kepalanya miring ke samping, lidahnya menjulur panjang mengeluarkan ludah yang menjijikan, pupil matanya yang merah menyala bergerak-gerak tak masuk akal seperti mata boneka.
Tak ada imbalan waktu itu. Naruto hanya ingin memenuhi permintaan dari gadis kecil itu secara cuma-cuma. Meskipun cara assassin bekerja adalah dengan diberi imbalan terlebih dulu lalu melaksanakan permintaan; tapi ia tetap melakukannya. Ia merasa harus berhadapan dengan Raja Goblin.
Dan dengan pedang Excalibur, Naruto pun berhasil membunuhnya. Ia menebasnya. Membelah monster itu menjadi dua bagian. Saat itulah, ia menemukan senjata suci itu terselip pada organ tubuh bagian perut Raja Goblin. Naruto mengambilnya. Kemudan ia menitipkannya pada seseorang. Kalau dipikir-pikir, mungkin senjata itu akan berguna NANTI.
Suara derap kaki mendadak terdengar. Sekarang dapat kita lihat kalau Hinata dan yang lainnya sudah menunggangi kuda. Masing-masing dari mereka menunggangi satu, kecuali Naruto yang masih sakit. Dia satu kuda dengan Screisch.
"Padahal aku tadi tidak melihat tiga kuda ini bersamamu. Hey, Aniiwe, ada apa? Kau terlihat gelisah," ucap Naruto.
Screisch terdiam, "Ledakan besar yang Hina-nee akibatkan tadi..." ia sekilas melirik kanan-kirinya, "pasti mereka sudah mengejar kita."
Hinata dan Konohamaru menatap Screisch.
Naruto terheran, "Apa maksudmu? 'Mereka' siapa?"
Screisch sebentar menatap ke belakang—ia seperti sedang memeriksa sesuatu, "Mereka adalah..." ia meneguk ludah, "kami menyebutnya 'Ghoul'," ucapnya.
"Ghoul?" Konohamaru memiringkan kepalanya—tidak mengerti.
"Ghoul itu..." Screisch berkeringat dingin, "makhluk setengah vampir dan setengah iblis."
"Apa mereka memakan manusia?" tanya Hinata.
"Tidak,... mereka menyukai kita, tapi mereka tidak memakan kita." Screisch tiba-tiba mengangkat salah satu tangannya, lalu ia kembali menatap belakang, "Ini gawat! Angin terlalu cepat membawa bau tubuh kita!" ucapnya.
Mereka bertiga terlihat bingung.
"Hoy, percepat laju kuda kalian! Kita harus bergegas!" Screisch melecutkan tali kudanya. Ia tampak panik.
Hinata dan Konohamaru menuruti perkataan Screisch. Mereka mempercepat laju kuda, meskipun mereka tidak tahu apa yang membuat pria pendek itu gelisah.
Terdiam, Naruto tampak terus menatap ke belakang. Ia duduk di depan Screisch. Keringat terlihat menetes dari pelipisnya. Ia seakan menyadari sesuatu. Matanya terus melotot menatap ke sana.
"Menakutkan. Perasaan apa ini?" gumamnya.
"Sial! Kita tidak akan sempat!" Screisch kembali melecutkan tali kudanya berusaha mempercepat laju secepat mungkin, sehingga membuat kudanya sendiri beberapa kali memekik.
"Ya ampun, sebenarnya ada apa sih?" Konohamaru menyadari kegelisahan kakak-adik itu. Ia pun menatap Hinata, "Hoy, Nee-san, apa yang~" ia terdiam tiba-tiba. Gadis elf itu, ada apa dengannya? Dia tampak tidak seperti biasa. Wajahnya yang selalu penuh dengan senyuman itu ... sekarang tidak ada. Hanya keseriusan yang terlihat. Saat ini, Hinata tampak menatap ke belakang. Matanya tajam. Dia masih memegang senjata suci tadi—yang saat ini sudah berwujud tongkat pendek. Dia pun kembali menatap depan.
"Konohamaru-kun! Kunci pandanganmu ke depan! Jangan sampai melihat belakang!" teriak gadis itu, lalu melecutkan tali kudanya.
Semua orang di sini mendadak terlihat tidak biasa. Naruto yang selalu tampak tenang ketika menghadapi apapun; malah melotot seakan tengah menghadapi monster yang tidak bisa dikalahkannya. Hinata yang selalu girang; sedang serius seakan penuh konsentrasi. Screisch yang katanya manusia terkuat; wajahnya gelisah. Konohamaru terus bertanya-tanya. Ada apa?
Hening. Konohamaru pun menatap ke depan. Ia tahu harus tutup mulut. Kalau memang akan ada bahaya yang benar-benar mengerikan, mungkin dirinya juga perlu waspada. Ia pun menggenggam erat tali kudanya. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terus tenggelam dalam kebingungan. Ia hanya perlu menuruti perkataan Screisch—orang yang sudah mengenal daerah ini. Percepat laju kuda ... dan jangan sampai menengok ke belakang.
Aneh. Pandangan Konohamaru tiba-tiba teralih. Seekor kupu-kupu berwarna biru menyala, entah sejak kapan sudah ada di bahunya. Ia tidak tahu bagaimana bisa serangga itu berada di sana. Bukankah kecepatan kupu-kupu melaju itu tidak lebih dari orang berlari. Bagaimana bisa hewan itu hinggap di bahunya?
Kedua mata Konohamaru mendadak terbelalak. Ia tidak salah lihat tadi. Bersamaan ketika ia menatap kupu-kupu di bahunya, ia juga melihat sesuatu melintas cepat di semak-semak. Hitam seperti bayangan. Apa itu kelinci? Sepertinya bukan.
Konohamaru menengok kanan lalu kirinya. Mulutnya pun ternganga. Ia benar-benar tidak salah lihat. Sekarang ada sesuatu yang hitam dan bergerak cepat melewati batang-batang pohon di sekitar. Tapi tidak lama, semua itu berhenti begitu saja. Bayangan itu tak terlihat lagi. Ada apa? Konohamaru mulai panik. Akhirnya ia ingin melihat ke belakang. Tidak peduli dengan peringatan yang dikatakan kepadanya tadi, ia pun melihat ke belakang. Ia sungguh menatap ke belakang sekarang.
Tidak ada apapun kecuali pohon-pohon dan semak-semak yang terlihat. Konohamaru menghela nafas. Ia pikir sesuatu yang mengerikan akan mengagetkannya. Ternyata tidak ada apa-apa.
"Ha?"
Konohamaru terdiam. Matanya tiba-tiba terpaku. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Mulutnya seakan terus mengatakan "a". Sesuatu membuatnya tidak bisa bergerak, tapi ia masih menatap ke belakang. Di depan wajahnya sedikit ke atas, mulut dengan gigi-gigi runcing dan besar terlihat sedang menganga seakan ingin memakannya. Apa itu? Mata Konohamaru pun membulat. Ia akhirnya sadar. Itu... Itu mereka yang dimaksud Screisch sejak tadi. Ghoul.
Sekarang Konohamaru benar-benar panik. Ia mendadak bernafas cepat. Ia sungguh bisa merasakan bagaimana jantungnya mengguncang tubuhnya sendiri. Deg! Deg! Deg! Cepat, jantungnya berdetak sangat cepat. Ia akan mati! Makhluk itu sudah berada di atasnya. Makhluk itu akan memakannya.
Wujudnya? Bagaimana dengan wujudnya? Konohamaru masih belum bisa melihatnya. Saat ini, ia hanya bisa melihat mulut makhluk itu yang ternganga lebar seperti buaya. Apa yang harus dilakukan? Konohamaru tidak tahu. Mulut besar itu sudah menenggelamkan setengah kepalanya. Gelap. Konohamaru tidak bisa lagi menatap keadaan sekeliling karena kepalanya memang sudah tenggelam dalam mulut makhluk itu. Tinggal menunggu dia menutup mulutnya Konohamaru akan mati. Ia akan mati! Sungguh-sungguh akan mati! Konohamaru sangat ketakutan. Ia pun berteriak.
"SIAAAAL!"
Dan saat itulah, suara tembakan tiba-tiba terdengar. Konohamaru terdiam. Ia bisa melihat cahaya lagi sekarang. Ada apa? Apa dirinya selamat? Ia beberapa kali memegangi kepalanya. Tidak ada yang berdarah ataupun sakit. Ia selamat. Ia pun menatap ke arah Naruto dan yang lainnya. Mereka juga sedang menatap dirinya termasuk Hinata yang masih mengacungkan senjata berwujud pistol ke arahnya.
Gadis elf itu sekilas melirik ke belakang lalu kembali menatap depan. Dilihat dari caranya membawa pistol, tidak salah lagi kalau yang menyelamatkannya tadi memang dia. Tak begitu mengherankan, Scruiths adalah senjata suci yang dapat berubah menjadi berbagai macam senjata sesuai dengan kemauan pemiliknya.
"Dasar bodoh! Bukankah Hinata-chan sudah memperingatkanmu jangan melihat ke belakang!" tegas Naruto.
"Memang apa salahnya, sih? Aku hanya ingin tahu saja," ucap Konohamaru.
"Mereka bereaksi ketika melihat wajah kita. Itu membuat mereka sadar kalau kita bukan target yang salah," jelas Screish.
"Kau sudah mengerti, kan, Bodoh!" Naruto benar-benar kesal.
Konohamaru hanya diam. Ia tidak bisa berkata lagi. Ini memang salahnya. Seharusnya dari awal ia perlu mengikuti kata orang lain.
Screisch mendesah pelan, "Apa boleh buat. Sepertinya ini akan sedikit merepotkan."
Naruto menatap Hinata, "Kupikir aku tidak akan melihatmu seperti itu lagi." Ia tersenyum, "Kita bertarung?"
Hinata tersenyum, "Ya, kita bertarung." Ia kemudian menggenggam erat senjatanya.
"GRRGH!"
Hening. Padahal baru saja suasana sedikit menjadi lebih baik, tapi semua mendadak lenyap begitu saja. Mata mereka tiba-tiba terbelalak. Hanya Hinata saja yang tidak. Karena sesuatu yang membuat mereka terbelalak sebenarnya sudah ada di belakang gadis itu.
Waktu sungguh dipaksa berjalan dengan lambat. Screisch mendelik seakan tak bisa berbuat apa. Naruto perlahan mengangkat tangannya seakan ingin meraih Hinata; mulutnya seperti tengah berteriak memanggil gadis itu tapi tak terdengar apapun. Konohamaru kembali seperti tadi, terpaku dan hanya bisa melihat.
Ghoul—benar! sesuatu yang tiba-tiba ada di belakang Hinata tidak salah dan tidak lain memang makhluk setengah vampir itu. Dia seakan terbang di sana. Sudah siap menerkam gadis itu. Sekarang, dapat kita lihat dengan jelas bagaimana wujud makhluk setengah vampir dan iblis itu: tubuh seperti manusia tanpa pakaian: memiliki rambut hitam panjang hingga menutupi matanya, mulutnya juga dipenuhi oleh cairan lengket seperti ingus, apalagi wajahnya yang tampak setengah hancur lalu setengahnya lagi halus seperti terawat saja—meskipun begitu, dilihat dari mana pun dia tetap menakutkan. Lebih jelasnya, dia tampak seperti seorang wanita telanjang bulat yang sedang memamerkan ekspresi wajah mengerikannya.
Dor! Suara tembakan mendadak terdengar. Hinata yang tadi seperti belum menyadari kehadiran ghoul di belakangnya , tiba-tiba sudah menembak makhluk itu. Gadis itu dengan sigap menengok. Memasukan ujung pistolnya ke mulut ghoul itu. Kemudian, dengan mantab ia tarik pelatuknya.
Sekarang ghoul itu jatuh. Terguling-guling di tanah. Dia pun menabrak batang pohon. Suara jeritan tiba-tiba terdengar darinya. Dia memegangi mulutnya yang berdarah karena tembakan Hinata tadi. Dia tampak seperti sedang menangis—pipinya basah. Dia beberapa kali membentur-benturkan mulutnya ke tanah berusaha mengurangi rasa sakit yang dirasakannya. Dia akhirnya menyerah. Kemudian dia terbaring di tanah seperti sudah mati saja. Matanya melotot ke langit.
Ini mungkin sedikit mengejutkan. Padahal sudah cukup jauh mereka meninggalkan ghoul yang mendadak muncul itu, tapi ekspresi mereka masih sama: ternganga, mendelik. Hening. Tak ada satu kata pun yang mereka bisa katakan saat ini. Bahkan Hinata. Ia juga ikut ternganga.
"Barusan,..." Konohamaru memegangi kepalanya—ia masih tidak percaya melihat apa yang dilakukan ghoul tadi, "dia berteriak ... seperti ... seperti gadis biasa," ucapnya.
Hinata terdiam, "Perasaan ini,..." ia menatap ke bawah—ia seperti sedang menyesali sesuatu saja, "rasanya ... aku baru saja membunuh seseorang." Ia menatap kedua tangannya.
"Aniiwe," Naruto menatap kakaknya, " tadi itu ... apa maksudnya?"
Screisch terdiam sejenak. Pandangannya kembali ia lempar ke depan. Ia seperti enggan memberitahu sesuatu pada mereka. "Berhenti!" Akhirnya ia hanya berteriak sambil menarik tali kudanya. Dan hal itu juga membuat Hinata ataupun Konohamaru menarik tali kuda mereka. Sekarang, mereka tampak terdiam di tempat. Kuda mereka sudah tak lagi berlari.
"Kita tidak punya waktu!" Screisch tiba-tiba turun dari kudanya, "Hina-nee, tolong bantu Naruto!" ia berjalan tergesa-gesa mendekati salah satu pohon berbatang besar, "aku akan membuat kendaraan agar kita sampai lebih cepat ke desa." Kemudian, dengan cepat ia tendang batang pohon itu hingga patah lalu roboh.
"Hey, apa tidak apa kita berhenti?" Konohamaru turun dari kudanya, "Apa mereka sudah tidak mengejar kita?" ucapnya.
"Naruto-kun, apa kau masih merasa sakit?" Hinata membantu Naruto berdiri.
"Aku baru saja turun dari kuda tanpa bantuanmu. Aku sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir." Naruto tersenyum.
"Hoy, kalian bertiga! Cepat naik!" teriak Screisch. Sekarang ia tampak sedang mengangkat batang pohon yang dipatahkannya tadi.
"Apa kau sedang pamer kekuatan?" Naruto melihat batang pohon itu, "Panjang 10 meter, diameter 1 meter. Sepertinya lumayan berat. Kupikir aku harus mencobanya nanti." Ia manggut-manggut, "Aku tidak akan kalah denganmu, Aniiwe." Ia lalu menunjukkan tinjunya ke Screisch.
"Ini bukan saatnya, Naruto. Cepat naik saja ke batang pohon ini atau kalian akan mati kehabisan darah. Cepat!"
Konohamaru ternganga lebar. Ia seakan tidak percaya. Batang pohon sepanjang dan sebesar itu diangkat oleh Screisch yang bertubuh mungil? Yah, mungkin tidak perlu dikatakan lagi kalau dia memang manusia terkuat seperti orang-orang katakan. Meskipun tadi ia juga melihatnya mematahkan batang pohon itu hanya dengan sekali tendang, ia masih saja tak percaya.
"Konohamaru-kun, apa yang kau tunggu? Cepatlah!" Hinata berteriak dari batang pohon tadi. Ia sudah duduk di batang itu bersama Naruto di depannya, sementara Screisch masih mengangkat benda itu sejajar dengan tanah—ia terlihat seperti sedang mengangkat tongkat ringan saja. Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan kalau dia keberatan.
"Aku sudah naik!" Konohamaru duduk di depan Naruto. Bisa dibilang kalau mereka duduk dengan urutan: Konohamaru, Naruto, lalu Hinata.
"Oke, pegangan yang erat! Aku akan melempar kalian!" tegas Screisch. Ia berancang-ancang. Kaki kanannya tampak ia mundurkan sedikit. Ia mulai berjalan sambil mengangkat batang pohon yang sudah dinaiki mereka bertiga. Ia tiba-tiba berlari. Kemudian dengan sekuat tenaga, ia lemparkan batang pohon itu miring ke langit. Jika kita bayangkan, ia melempar seperti atlet pelempar tombak saja.
To Be Continued
Maaf pendek cerita untuk chapter inj. ^_^
Maaf lama updatenya. Untuk chapter kali ini mungkin sedikit membosankan, tapi yah gitulah. Gimana? Mau dilanjutkan?
Penting!
Dua atau tiga chapter lagi. END.
