FF Yunjae. 03

Title: The Jung Sitter
Genre: Romance, fluff, humor(saia usahakan ne~)
Rated: M
Pairing: Yunjae
Warn: yaoi, typos, dll.


Chap 02

"Jae..." Panggil Yunho menatap tajam kedua mata Jaejoong. Namja cantik itu hanya bergumam tak jelas.

"Ayo temani aku tidur"

"Mwo?" Pekiknya kaget.

"Hmm... Teman aku tidur" jelas Yunho.

"Biasanya, Kim ahjumma akan membelai rambutku seperti ini sampai aku tertidur" Yunho menaruh tangan Jaejoong pada kepalanya.

Jaejoong menghela napasnya lega. Ia sempat mengira, menemani tidur yang dimaksud oleh majikannya adalah err... Kalian pasti tahu.

Jaejoong berjalan kesusahan menuju ke kamar Yunho, karena namja itu memeluk tubuhnya dari belakang dengan erat.

Namja berambut hitam itu duduk di ranjang Yunho, dan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang, sementara majikannya berbaring disampingnya, memeluk lengannya protektif.

Yunho mengambil tangan Jaejoong yang satunya, dan ia taruh pada kepalanya. Namja cantik itu tersenyum mengerti, kemudian membelai kepala Yunho lembut, seperti menimang seorang bayi.

Ia menggumamkan sebuah lullaby untuk Yunho, dengan pikiran yang menerawang jauh.

Namja ini, Jung Yunho. Bukanlah namja biasa, ia kaya, pekerja keras, dan hidup tanpa orang tua. Jaejoong tidak dapat membayangkan betapa sulitnya hidup sendiri tanpa orang tua sejak berumur 9 tahun. Pasti ia memiliki beban yang sangat berat.

Mungkin... Mungkin, ia dapat membantunya meringankan beban itu. Setidaknya dengan kehadirannya sebagai seorang sitter, namja tampan ini bisa bermanja-manja sepuasnya padanya.

Well, Jaejoong memang menyukai anak kecil. Dan ia rasa, ia bisa menganggap majikannya ini anak kecil, untuk saat ini.

Yeah, untuk saat ini.

End of chap 02.


Jaejoong membuka kedua matanya perlahan saat merasakan getaran di samping tempat tidurnya. Ia menggerakan tangannya meraba-raba dasar bantal, mencari sumber getaran tadi, masih dengan kedua mata yang belum terbuka sempurna.

Ah, alarm dari ponselnyalah yang membangunkannya.

Ia menyernyit menatap layar ponsel yang menyilaukan itu. 04.30, masih terlalu pagi untuknya bangun.

"Sarapan? Jung Yunho? Nugu-ah... Aku ingat" gumamnya setengah sadar, membaca notes yang tertulis dilayar benda elektronik itu.

Ia beranjak dari tempat tidurnya, lalu berjalan malas menuju kamar mandi dipojok ruangan.

Mandi, bersiap untuk sekolah, membuat sarapan telah selesai ia lakukan saat jarum jam menunjuk angka 6. Tinggal satu pekerjaan lagi yaitu, membangunkan 'bayi' asuhnya yang ada dikamar atas.

Helaan napas keluar dari mulut mungil seorang Kim Jaejoong, saat ia berdiri didepan sebuah pintu coklat, milik majikannya.

Baiklah, ia merasa gugup sekarang. Jika saja majikannya itu bertingkah layaknya namja normal seusianya, mungkin ia akan bisa tenang menghadapi namja tampan itu. Tapi ini... Berbeda.

Huh, sadarlah Kim Jaejoong. Kau adalah seorang sitter buatnya, seharusnya kau bisa memaklumi jika anak asuhmu bersikap layaknya anak-anak lain. (yang tidak seusianya)

Lalu sekarang, apa yang harus ia lakukan? Cara apa yang sebaiknya ia gunakan untuk membangunkan big babynya itu?

Mengetuk pintu hingga ia terbangun, atau langsung masuk kedalam tanpa mengetuk, kemudian membangunkannya layaknya sitter-sitter pada anak asuh umumnya?

Ah, ia rasa cara kedua kurang sopan untuk membangunkan seorang executive director dari sebuah perusahaan adi kuasa di Korea. Mungkin cara pertama lebih baik.

Ia mengangkat sebelah tangannya, dan mengetuk pintu coklat itu ragu.

Beberapa saat menunggu, tak ia dapati tanda-tanda kehidupan(?) dari dalam kamar. Membuatnya mengangkat tangannya lagi, dan mengetuk pintu itu dengan sedikit tenaga tambahan tentunya.

Tak berselang lama, pintu itu terbuka dan seorang namja dengan penampilan khas orang bangun tidur berdiri disana, masih dengan dua mata yang terpejam.

"Err... Yu-Yunho-sshi... Maaf membangunkanmu, tapi aku rasa ini sudah saatnya sarapan" kata Jaejoong gugup.

Namja tampan itu bergumam tidak jelas, lalu berjalan asal mendekati Jaejoong. Dengan satu gerakan ia memeluk tubuh kecil Jaejoong, dan menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher namja cantik itu.

Tubuh Jaejoong menegang seketika, ia ingin berteriak, namun entah mengapa suaranya seperti tercekat diujung lidahnya. Meskipun takut, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa hal ini sudah biasa untuk seorang sitter. Ia juga biasa melakukannya jika bersama ummanya dirumah, jadi... Ini biasa bukan?

Yah, mungkin ia akan merasa biasa jika anak asuhnya berumur 21 tahun lebih muda, dari anak yang diasuhnya sekarang ini.

"Kau membangunkanku, Jae-ah" gumam Yunho masih betah memeluk tubuh Jaejoong.

Namja cantik itu bergidik geli, merasakan kasar pipi Yunho-yang belum sempat namja itu cukur-menggesek lehernya.

"Ta-tapi kau harus sarapan, di jadwalmu..."

Belum selesai kata-kata yang dirancang Jaejoong dengan susah payah itu meluncur dari bibirnya. Yunho lebih dulu menegakkan tubuhnya, dan menatap Jaejoong dengan mata setengah terpejam.

"Aku rasa kau melupakan jadwalku. Sebaiknya kau mengeceknya lagi nanti" ia tersenyum dan menepuk kepala Jaejoong dua kali sebelum beranjak dari sana.

"Jja, sarapan sudah menunggu" ia berjalan menuju kearah dapur tanpa mandi terlebih dahulu. Jaejoong mengerutkan keningnya tak suka, dalam kamus hidupnya, siapapun yang hendak memakan sarapan ataupun makan malam yang dibuatnya, harus makan dalam keadaan bersih. Tsk, khas seorang ibu-ibu#eh?!

"Ya!" Teriakan namja cantik itu mampu membuat Yunho dan dirinya sendiri terlonjak kaget.

Astaga, ia lupa bahwa yang dihadapannya itu bukanlah sepupu ataupun temannya, melainkan majikannya. Bagaimana bisa ia meneriaki majikannya sendiri? Aigoo.

"Ne?" Namja tampan itu menatap Jaejoong penuh tanya.

"Ehm... Ka-kau be-lum... Er, kau... Kau belum..." Ia jadi gugup sendiri mengatakan alasannya.

Haruskah ia berkata. 'Hei, kau belum mandi. jadi kau tak akan kuijinkan menyentuh masakanku' pada namja didepannya itu? Well, jika ia ingin dipecat saat itu juga, mungkin hal itulah yang akan ia katakan.

"Err... Yunho-sshi, aku rasa akan lebih baik jika kau mandi terlebih dahulu" ujarnya canggung.

Yunho mengerjap-kerjapkan matanya tampak berpikir, lalu berjalan mendekati Jaejoong.

"Arrata" katanya tersenyum manis dihadapan Jaejoong.

"Oh, dan bisakah kau tidak menggunakan embel-embel saat memanggil namaku? Itu terdengar aneh mengingat kau adalah nannyku"

Dua mata bulat Jaejoong berkedip lucu.

"Lalu?" Tanyanya tidak mengerti.

"Kau bisa memanggilku Yunho, atau Yunnie. Oh, keponakanku juga memiliki seorang nanny. Dan biasanya ia dipanggil chagy, oleh nanny itu. Terserah kau mau menggunakan yang mana" senyuman lebar penuh arti yang ditunjukan Yunho, dibalas dengan ekpressi aneh oleh Jaejoong.

"Yunho... Baiklah, aku akan pakai yang itu" Jaejoong memaksakan sebuah senyuman untuk majikannya.

Namja tampan itu mengedikkan bahunya tak acuh, lalu menepuk puncak kepala Jaejoong.

"Baiklah... Kau bisa menungguku dibawah" katanya seraya berlalu memasuki kamar pribadinya.

"Chagy?" Gumam Jaejoong menggelengkan kepalanya tidak mengerti.

Jaejoong tengah sibuk mengecek tas sekolahnya saat Yunho memasuki ruang makan.

"Jae" suara berat khas seorang seme menginterupsi kegiatan Jaejoong.

Ia mendongakkan kepalanya menatap Yunho yang berdiri diambang pintu.

Oh, gosh. Tubuh tinggi tegap yang dibalut oleh setelan jas mahal, dengan rambut yang tertata rapi, juga wajah tampan yang tampak segar.

Entah bagian mana yang membuat Jaejoong tidak dapat mengedipkan matanya saat menatap majikannya itu. Tapi ia benar-benar merasa seakan terpaku untuk terus memandang karya Tuhan didepannya.

Meskipun kemarin malam ia juga melihat Yunho dengan setelan jasnya, namun saat itu Yunho dalam keadaan kacau karena kehujanan. Dan sekarang, dengan penampilan yang mendekati sempurna itu ia tampak layaknya namja dewasa.

"Jae!" Teguran itu mengembalikannya ke dunia nyata.

"Ne?" Tanyanya polos. Yunho hanya terkekeh melihat tingkah Jaejoong.

"Ayo makan" ajak namja bermata musang itu duduk di samping Jaejoong.

Jaejoong duduk manis menghadap makanannya setelah menyiapkan makanan Yunho. Gerakan tangannya terhenti saat ia tidak melihat Yunho bergerak sama sekali.

Ia menoleh dan menatap Yunho dengan tatapan penuh tanya. Namun namja tampan itu hanya tersenyum lebar, seraya mengedipkan matanya.

Beberapa saat mereka hanya diam. Yunho yang merasa lelah, akhirnya menyerah dengan usahanya. Ia menghembuskan napasnya kesal.

"Kau tidak mau menyuapiku seperti kemarin malam?" Katanya.

Ow, ternyata ini yang menyebabkan majikannya itu bersikap aneh.

Jaejoong menelan makanannya susah, lalu mengambil mangkuk Yunho, dan mulai menyuapkan makanan itu kedalam mulut namja tampan didepannya.

"Mulai sekarang, kau harus menyuapiku saat aku makan" kata Yunho dengan mulut penuh.

Membuat Jaejoong menarik pemikirannya tadi. Namja tampan didepannya ini... Sama sekali tidak dewasa.

Meskipun tidak pernah bekerja sebagai seorang sitter, maupun diasuh oleh sitter. Tapi bagaimanapun bayangan pekerjaan sitter di otak Jaejoong memang mendekati ini. Hanya saja dengan anak asuh yang memiliki size lebih kecil.

Setelah sarapan, Yunho memaksa Jaejoong untuk mengantar namja cantik itu kesekolahannya sebelum berangkat kerja.

"Jae, aku akan menjemputmu saat kau pulang sekolah nanti" ujarnya tanpa bantahan.

Jaejoong tersenyum(meringis) mendengarnya, ia berjalan memasuki area sekolahannya dengan sebuah pertanyaan besar diotaknya.

'Sebenarnya siapa yang majikan disini?'

"Sitter?!" Teriak seorang namja tampan yang sedang berjongkok diatas kursi kelas dihadapan Jaejoong.

Namja cantik didepannya hanya menganggukan kepalanya, dan menatap sahabatnya itu polos.

Namja tinggi bernama Shim Changmin itu mengerutkan keningnya, kemudian ia membenarkan posisi duduknya dengan satu gerakan.

"Darimana ia tahu bahwa kau butuh pekerjaan?"

Jaejoong mengedikkan bahunya guna menjawab pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya itu.

Baru saja Changmin hendak mengeluarkan suaranya lagi, bunyi bell pertanda pelajaran dimulai menginterupsinya.

Ia beranjak malas membalik tubuhnya, menghadap wali kelas mereka yang berdiri didepan bersama seorang namja yang tidak ia kenal.

"Pagi ini kalian mendapatkan seorang teman baru di kelas ini" ujar saem tua itu sambil menatap namja tampan disebelahnya.

"Namanya Kim Junsu, ia sebelumnya menjalani home schooling karena suatu alasan tertentu. Jadi aku harap, kalian bisa menerimanya dengan baik" namja imut itu berjalan menuju satu bangku kosong yang berada disebelah Jaejoong, setelah dipersilahkan oleh saem tua tadi.

"Annyeong, Kim Junsu imnida" sapa namja imut itu tersenyum pada Jaejoong.

"Kim Jaejoong imnida, kau bisa memanggilku Jaejoong" balas Jaejoong tak kalah ramah.

Baik Junsu maupun Jaejoong sama-sama merasa bahwa mereka akan menjadi teman baik mulai saat ini. Yeah... Dan author menyetujuinya.

Saat jam istirahat, Jaejoong dan Changmin, mengajak Junsu untuk ke kantin. Meskipun kenyataannya, hanya Changminlah yang mengisi perutnya disana.

"Jadi kau ber-home schooling selama ini?" Tanya Jaejoong membuka pembicaraan.

"Sebenarnya hanya selama 3 tahun terakhir ini saja aku tidak belajar di sekolah" jawab Junsu

"Waeyo? Apakah kau memiliki sebuah penyakit yang membuatmu tidak dapat keluar dari rumah?" Changmin yang mengikuti pembicaraan mereka berdua, mengajukan pertanyaan.

"Ani... Hanya saja, Yoochun tidak mengijinkanku saat itu"

"Yoochun?" Tanya Jaejoong sembari mencomot tteoppoki milik Changmin dengan cepat.

"Dia err... Dia... Namjachinguku" namja imut itu meringis menutupi kebohongannya.

"Kalian tinggal serumah?" Changmin bertanya seraya merebut sendoknya dari Jaejoong.

"Hu'um. Aku tinggal di rumah pribadinya"

"Apa kau tidak takut jika nanti ia berbuat yang macam-macam padamu? Bukankah kalian berdua masih berpacaran" ujar Jaejoong.

Junsu tampak salah tingkah dibuatnya. Ia membuka mulutnya hendak menjawab, namun suara Changmin lebih dulu mendahuluinya.

"Bukankah kau lebih berbahaya, hyung? Kau bahkan tinggal serumah dengan seorang namja yang tidak kau kenal" namja tinggi itu melemparkan tatapan malas pada Jaejoong.

"Itu karena aku bekerja padanya, Changmin-ah" jawab Jaejoong kesal.

"Jinja? Kau sudah bekerja, hyung? Apa pekerjaanmu?" Tanya Junsu mengalihkan pembicaraan.

"Menjadi sitter" jawabnya

"Tapi dia tidak mengasuh bayi maupun anak kecil seperti sitter lainnya, hyung" sela Changmin.

"Hm? Maksudnya?" Junsu menciptakan kerutan di dahinya, tanda tidak mengerti.

"Dia merawat seorang ahjusshi berumur 28 tahun!"

"Mwo?!"

Jaejoong memukul kepala Changmin keras. Ia mendengus sebal karena sahabatnya itu membeberkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.

Namja tinggi itu hanya mengusap kepalanya namun tidak memperdulikan death glare Jaejoong.

"Kalau tidak salah... Nama majikannya itu, Jung... Jung siapa? Aku lupa"

"Jung Yunho, Changmin-ah" sela Jaejoong.

Dan dengan kata-kata itu, Jaejoong sukses membuat Junsu mendelikkan matanya tak percaya.

'J-Jung Yunho?!'

"Bwahahaha..."

Suara tawa membahana(?) di sebuah ruangan milik direktur eksekutif di sebuah perusahaan besar.

Namja pemilik suara itu-Park Yoochun- sibuk menertawakan pengakuan sahabatnya, yang tengah menatapnya sebal.

"Jadi kau benar-benar melakukannya, Yun?" Ujar Yoochun seraya menghapus air mata di sisi matanya.

"Kau benar-benar membiarkan tubuhmu kehujanan, seperti yang kemarin kukatakan kepadamu?" Ujar Yoochun tidak percaya.

Yunho mendecih lalu melemparkan majalah yang ada diatas meja, tepat di kepala Yoochun.

"Jika saja aku tahu kau hanya mengerjaiku, maka aku tidak perlu susah-susah berlari mengelilingi halaman depan hanya agar terlihat menyedihkan, seperti katamu itu" dengus Yunho sebal. Yoochun kembali meledakkan tawanya mendengar penuturan temannya itu.

"Lalu, apa rencanamu berhasil?" Yoochun masih betah tertawa.

Yunho mendengus sebal, lalu menatap sahabatnya itu dengan tatapan kesal.

"Tidak" ia mengalihkan pandangannya kearah lain, dengan wajah yang mulai memerah karena malu.

"Saat aku melihatnya menyambutku malam itu. Entah kenapa, aku merasa... Takut" lirihnya.

Yoochun menghentikan tawanya, dan menatap Yunho serius.

"Maksudnya? Kau takut jika Jaejoong membencimu jika kau menidurinya malam itu?"

Yunho menganggukan kepalanya lemah.

Ow ow, sepertinya Yoochun mengerti tentang keadaan sahabatnya ini. Yeah, Jung Yunho sedang jatuh cinta pada nannynya sendiri. Padahal awalnya ia mengira, Yunho tidak benar-benar serius saat mengatakan bahwa ia menyukai sitternya, ia kira yang di maksud dengan 'menyukai' oleh Yunho sama dengan 'menyukai' versinya.

Mungkin akan lebih sulit dari yang ia kira.

Yoochun menepuk pundak Yunho keras, dan menatap mata musang itu serius.

"Aku akan membatumu"

Seorang namja tampan berjalan memasuki sebuah cafe modern dengan angkuh, mengacuhkan tatapan kagum dari manusia-manusia yang ada disana.

Dibelakangnya, seorang namja lain yang lebih feminim darinya, berjalan setia mengikutinya. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya, karena Yunho langsung menyeretnya untuk makan siang, tepat setelah ia menginjakan kaki keluar gerbang sekolah.

Mereka berdua terlihat serasi, dalam keadaan apapun. Meskipun tidak ada yang menyangka, bahwa hubungan mereka adalah majikan dan sitter.

"Kau mau pesan apa, Jae?" Tanya Yunho setelah mendudukan dirinya disebuah kursi yang ada ditengah ruangan.

"Apa saja" Jaejoong tersenyum menanggapinya.

Mata bulat milik namja cantik itu memandang takut ke sekelilingnya, mungkin hanya ia yang menyadari tatapan membunuh dari yeoja-yeoja yang ada di cafe itu.

Ia hanya dapat menundukan kepala, menghindari tatapan sinis yang didapatnya.

"Jae? Gwenchanayo?" Yunho menepuk kepala Jaejoong lembut.

Namja berumur 17 tahun itu meringis, lalu mengangguk kecil.

"Aku rasa, kau memilik banyak fans" ujarnya.

Namja bermata musang itu mengangkat kedua alisnya.

"Lihat saja sekelilingmu" lanjut Jaejoong.

Yunho mengedarkan pandangannya ke sekeliling mejanya, mendapati puluhan yeoja yang menatapnya seperti seorang fangirl.

"Pasti banyak yang pernah menyatakan cinta padamu" ujar namja berkulit putih itu meringis.

"Hm, tentu saja" sebuah cengiran lebar tercetak di wajah tampan milik Yunho.

"Mulai dari yeoja sampai namja... Entah sudah berapa ratus orang yang menyatakan cinta padaku. Tapi aku tidak tertarik pada mereka" ujarnya lagi.

Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan tidak percaya.

"Namja?" Lirihnya.

Namja tampan itu hanya menganggukkan kepalanya tak acuh.

Oh, my... Ia kira majikannya itu straight. Tapi ternyata.

Menyadari raut wajah Jaejoong, Yuho menaikan sebelah alisnya.

"Hmm... Aku tidak keberatan dengan namja. Asalkan namja itu manis, dan bersedia berada dibawahku" ujarnya seraya tersenyum lebar.

"Sepertimu..."

Dan Jaejoong sukses menyemburkan bubble tea yang baru saja diteguknya.

Baiklah, ia rasa, setelah ini. Ia tidak dapat menganggap anak asuhnya itu sebagai 'anak' lagi.

TBC

Chap depan hubungan Yunjae meningkat.

Siap2 NC di beberapa chap depan, (mungkin 2 chap depan)

Tengkyu buat yang udah mau baca ataupun ninggalin jejak... :-*
Bubye semuaaaaa~