I'm Fine

4.

Draco duduk di ayunan besar di halaman belakangnya, ia menemukan bahwa tempat ini adalah tempat paling jelas untuk mendengar kegiatan tetangga barunya.

Ia bisa mendengar suara Maura tertawa karena sesuatu yang dikatakan Hermione. Hermione masih belum mengizinkannya masuk ke rumahnya, jadi ia harus berhati-hati menggunakan mantra yang memperbesar suara.

"Mommy, kapan Grandpa akan datang?" Maura bertanya.

"Grandpa bilang ia akan datang sabtu ini, kenapa? Kau merindukan Grandpa?" Hermione bertanya.

Draco tidak mendengar jawaban Maura, mereka sepertinya pergi dari ruang makan ke kamar.

Draco menghela nafasnya.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kepergiannya ke desa Muggle ini membuatnya menemukan Hermione dan anak mereka.

"Kapan Blaise akan datang?" Draco bertanya pada Theo.

Theo tertawa. "Kau tahu kan kalau merawat bayi itu tidak mudah, mungkin sekarang Blaise sedang mengganti popok atau semacamnya."

Draco menghela nafasnya, ia tidak mengerti kenapa Blaise memilih cepat-cepat menikah dengan Daphne dan bahkan dengan cepatnya punya anak.

TIdak lama Blaise muncul dari perapian, dengan menggendong bayinya yang baru berumur beberapa bulan.

"Shit Mate! Kenapa kau membawa anakmu kesini?" Draco berseru saat melihat Blaise.

"Shut Up Draco!" Blaise berseru marah. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan! Daphne demam dan ia hanya bisa berbaring, dan aku baru sadar kalau anakku juga demam, apa yang harus kulakukan?" Blaise berseru cemas.

"Bawa mereka ke St. Mungo!" Draco berseru kesal. "Kenapa kau membawa anakmu kesini?" Draco bertanya kesal.

Seharusnya mereka menghabiskan waktu bersama seperti biasanya, kegiatan rutin mereka selama ini, tapi Blaise malah membawa anaknya dan membuat keributan.

"Aku tidak bisa menggendong keduanya!" Blaise berseru frustasi. "Tolong gendong Charlotte sebentar, hanya sebentar, aku akan membawa Daphne ke St. Mungo lalu menjemputnya kesini."

Mata Theo dan Draco membesar mendengar permintaan temannya itu.

"Kau bercanda kan?" Theo tidak percaya apa yang baru dikatakan temannya itu.

"Oh, ayolah kumohon!" Blaise berseru.

"Ah, aku ada janji dengan Astoria!" Theo berseru dengan cepat lalu menghilang begitu saja.

Blaise lansung mendekat ke arah Draco yang kebingungan dan meletakkan Charlotte ke gendongannya. "Hanya sebentar Draco, hanya sebentar!" Blaise kemudian menghilang.

Draco tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Sekarang ia dihadapkan dalam salah satu keadaan paling sulit dalam hidupnya.

Draco ingin mengumpat dan mengutuk Blaise tapi ia tahu ia tidak boleh mengumpat dihadapan anak kecil, sekecil apapun anak itu.

Draco melihat Charlotte, anak sahabatnya yang kalau tidak salah baru berumur 5 bulan. Bayi digendongannya menangis begitu keras, sangat keras sampai-sampai kupingnya pengang. Draco berdiri dari sofa yang di dudukkinya lalu mulai bergerak-gerak dengan cara yang tidak di mengertinya.

Ia menggendong Charlotte dan bergerak aneh, seakan-akan tubuhnya tahu apa yang harus dilakukannya agar bayi digendongannya berhenti menangis.

"Sssssstt…" Draco kaget mendengar suara yang dikeluarkannya. Apa itu? Kenapa ia tiba-tiba mengeluarkan suara seperti itu? Dan kenapa Charlotte bahkan berhenti menangis?

Draco kemudian tertawa. "Wah, Charlotte kau pasti mengerti kan kalau sedang digendong pria tampan."

"Mate!" Blaise berseru entah muncul darimana. "Terimakasih, terimakasih banyak." Blaise berseru lalu berjalan ke arah Draco dan mengambil bayinya lagi, lalu dengan cepat pergi.

Beberapa hari kemudian saat Draco dan Theo juga Blaise berkumpul lagi, Blaise bukannya berterimakasih tapi malah meledeknya habis-habisan. Blaise berkata bahwa Draco harus segera menikah dan punya anak, Blaise berkata bahwa Draco punya insting untuk mengurus anak.

Blaise berkata bahwa Draco dilahirkan untuk menjadi seorang ayah.

Draco menghela nafasnya, melihat langit malam diatasnya lalu menghela nafasnya lagi.

Ia tidak pernah menyangka kalau ia ternyata punya anak, anak perempuan, dengan Hermione.

Kaget? Jantungnya nyaris putus saat ia sadar kalau Maura adalah anaknya, tapi anehnya ia langsung merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya sebelum ini.

Ia tahu bagaimana rasanya punya anak.

Ia begitu bahagia sampai-sampai rasanya bisa mengambil bulan dan memberikannya pada Maura.

Maura.

Draco tersenyum seperti orang bodoh.

Draco meminta Maura dengan cepat membuka pintu rumahnya, karena ia tidak bisa menembus ward rumah Hermione.

Maura menggenggam boneka naganya erat dan dengan ketakutan membuka pintu rumah Draco.

Draco menggendong Hermione dan membawanya ke kamar di lantai satu, ia tidak tahu kenapa Hermione pingsan melihatnya? Bukankah seharusnya ia melompat bahagia atau semacamnya?

Draco menghela nafasnya dan membaringkan Hermione yang masih tidak sadarkan diri. Ia kemudian melihat Maura yang berdiri ketakutan disamping kasur.

"Tenanglah." Draco berseru, ia kemudian duduk di kasur itu dan mendekati Maura. "Namaku Draco, Draco Malfoy." Draco mengulurkan tangannya pada gadis kecil yang memeluk erat boneka naganya.

Draco ingin tertawa, bahkan mainan favorit mereka berdua saat kecil sama, naga.

"Namaku Maura, Maura Granger." Maura mengulurkan tangan kecilnya perlahan, Draco tersenyum dan mereka berjabat tangan.

"Mister Malfoy, apa kau mengenal Mommy? Kau tidak berniat jahat kan?" Maura bertanya.

Draco menggeleng. "Aku tidak berniat jahat, sama sekali tidak, padamu ataupun pada Hermione. Aku mengenal Hermione, kami teman sekolah." Draco memberitahu, tentu saja ia tidak berbohong, ia dan Hermione memang teman sekolah.

Maura melihatnya dengan tatapan penuh hati-hati.

"Kau bisa menunggu Mommy-mu disini, tidak masalah, aku akan membuat minuman. Maura kau mau sesuatu?" Draco bertanya pelan.

"Apa kau punya jus strawberry?" Maura bertanya.

Draco tertawa, ia menggeleng."Aku tidak punya strawberry, tapi sepertinya aku punya jus jeruk, is that okay?" Draco bertanya.

Maura mengangguk.

Draco sudah bisa mengira-ngira apa yang akan dilakukannya dengan Maura, ia akan membiarkan Maura tinggal dengan Hermione, dan akan menemuinya terus menerus, bersikap seperti seharusnya seorang ayah. Lucius dan Ibunya mungkin akan menjadi masalah jika mereka tahu, entahlah, Draco akan memikirkannya belakangan.

Tapi yang sekarang menjadi masalah adalah Hermione, ia tidak yakin apa yang harus dilakukannya dengan Hermione.

.

Draco terbangun karena seseorang mengetuk pintunya. Ia melihat jam di dekat meja di samping kasurnya. "Demi Merlin." Draco mengumpat, ini bahkan belum jam delapan pagi dan seseorang sudah bertamu.

Draco menuju ke pintu dan mengumpat sesekali, karena ia masih terlalu mengantuk, ia mengintip dari lubang pintu siapa yang ada di depan pintunya, siapa yang berani-beraninya mengganggu tidurnya.

Draco membuka pintunya.

"Selamat Pagi Mr. Malfoy." Ketua perkumpulan desa ini tersenyum dan menyapanya.

Draco menghela nafasnya, ia kemudian berusaha tersenyum.

"Mrs. Atwell, ada yang bisa kubantu?" Draco bertanya.

"Iya, ada beberapa hal yang ingin kubicarakan." Mrs Atwell berseru, ia melihat ke arah dalam rumah Draco, memberi tanda bahwa ia ingin masuk dan bicara di dalam.

"Apa?" Draco bertanya, berusaha tidak terdengar kasar.

"Kurasa ini bukan hal yang bisa dibicarakan sambil berdiri Mr. Malfoy."

"Anda bisa duduk jika anda mau." Draco berkata, tapi tidak bergeser dari pintunya.

Mrs. Atwell sepertinya belum mengerti kalau Draco tidak ingin membiarkannya masuk.

"Aku ingin membicarakan tentang festival musim panas akhir pekan ini." Mrs. Atwell memberitahu.

"Lalu?" Draco bertanya.

"Mr. Malfoy, apa kau tidak ingin mengundangku masuk?" Mrs Atwell bertanya,terdengar ramah dan mengedipkan matanya.

Draco ingin muntah.

Perempuan di depannya bahkan lebih tua dari ibunya dan berani-beraninya menggodanya.

"Tidak." Draco menjawab. "Mrs. Atwell, anda bisa menyampaikan apa kepentingan anda sekarang atau pergi, aku harus melanjutkan tidurku." Draco berkata kesal.

Mrs. Atwell terlihat kaget dengan perkataan Draco berusan. "Uh, Well, akan ada festival musim panas akhir pekan ini, dan aku selaku ketua perkumpulan desa ini, ingin mengundang anda sebagai tamu kehormatan."

"Dan berapa aku harus menyumbang?" Draco bertanya, langsung, Ia tahu kalau perempuan menyebalkan di depannya mengukur kehormatan dengan uang.

Mrs. Atwell tersenyum. "Ah, Mr Malfoy, anda memang benar-benar dermawan."

Draco makin mual.

"Panitia masih kekurangan sekitar 500 Pounds." Mrs Atwell berseru.

Draco memutar matanya. "Aku akan memberikannya pada anda nanti siang atau sore, bisakah anda pergi sekarang?" Draco bertanya, tidak sabaran.

Mrs. Atwell tersenyum lebar, ia mengangguk. " Maaf jika aku mengganggu anda Mr. Malfoy, selamat pagi, selamat melanjutkan tidur anda." Mrs Atwell berkata lalu pergi.

Draco menggeleng, tidak mengerti bagaimana seseorang bisa begitu sukanya pada uang. Draco baru akan masuk dan mengunci pintunya saat ia mendengar suara yang paling disukainya di dunia.

"Draco…" Maura berseru, ia berjalan dari pintu rumahnya ke rumah Draco.

"Selamat pagi Maura." Draco tersenyum.

"Selamat pagi." Maura tersenyum. Draco tertawa melihat baju tidur maura yang terdiri dari piyama berwarna hijau bermotif naga. "Draco, apa kau sudah sarapan? Mommy menyuruhku mengajakmu sarapan bersama." Maura memberitahu.

Draco megangkat sebelah alisnya. "Mommy menyuruhmu atau kau yang memaksa Mommy?"

Maura tertawa. "Aku tidak memaksa Mommy, hanya merengek padanya." Maura makin mendekat, ia meraih tangan Draco dan menariknya. "Ayo, Mommy membuat pancake hari ini, dan pancake Mommy adalah pancake terenak di dunia."

Draco tertawa, "Baiklah, tapi Maura, tunggu sebentar, aku harus menyikat gigiku terlebih dahulu." Draco berkata.

Maura menggeleng. "Tidak perlu, asal kau tidak bilang pada Mommy, mommy tidak akan tahu, aku sering berbohong pada Mommy."

Draco tertawa lagi. Maura memang benar-benar anaknya.

.

Hermione memastikan bahwa Maura sudah tidur sebelum keluar dari kamar anaknya itu.

Hermione turun lalu memakai jacketnya yang tergantung di depan pintu, ia kemudian menuju ke rumah tetangga barunya.

Hermione tidak pernah mengira dunia akan bercanda seperti ini padanya. Ia tahu Draco tidak sengaja memilih tempat ini, lagipula Hermione sudah tahu dari lama kalau rumah disampingnya adalah milik keluarga Nott, tapi karena selama empat tahun ia disini tidak ada satupun keluarga Nott yang pernah datang dan menggunakannya maka Hermione tidak pernah terkena masalah, tapi kenyataan kalau Draco sekarang berada di rumah tepat disampingnya membuatnya ingin tertawa.

Hermione mengetuk pintu rumah tetangganya itu. Ia bisa mendengar suara langkah kaki dan pintunya terbuka.

Hermione melihat kebawah, tidak ingin melihat wajah Draco.

"Selamat malam Granger." Draco tersenyum.

"Aku ingin membicarakan sesuatu." Hermione berkata.

Draco tertawa, ia melihat ke luar, mengecek keadaan, tidak ada siapapun, maka Draco menarik Hermione kedalam lalu menutup pintunya.

Hermione langsung berjalan dengan cepat ke arah ruang tamu, menghindari kemungkinan Draco mendorongnya ke tembok dan menciumnya.

Draco tertawa begitu Hermione duduk di ruang tamunya, tentu saja perempuan itu masih bisa membaca pikirannya.

"Granger, kau ingin minum apa?" Draco bertanya.

"Apa saja." Hermione bergumam.

"Apa kau ingin bicara disini?" Draco bertanya. "Kurasa kamarku lebih nyaman."

Hermione memutar matanya.

Draco tertawa.

Tidak lama Draco membawakan segelas air dingin dan duduk di depan Hermione.

"Apa yang kau ingin bicarakan?" Draco bertanya.

"Aku ingin membicarakan beberapa hal tentang Maura." Hermione berseru.

Draco menghela nafasnya.

"Aku ingin kau membuat unbreakable vow denganku. Aku tidak ingin kau mengambilnya dariku." Hermione memberitahu.

Draco menyipitkan matanya, ia memikirkan perkataan Hermione barusan, ia tahu kalau Hermione pasti kuatir dan takut bahwa ia akan mengambil Maura darinya.

"Dengan syarat kau tidak boleh menghalangiku bertemu dengannya." Draco memberitahu.

Giliran Hermione yang terdiam.

"Kenapa kau diam Hermione? Lihat kan? Kau bahkan tidak dengan sukarela membiarkanku dekat dengan anakku sendiri, apa yang menurutmu harus kulakukan? Bukankah menyembunyikannya selama empat tahun sudah keterlaluan?" Draco bertanya.

Hermione masih diam.

"Apa yang kau lakukan disini?" Hermione bertanya, mengalihkan pembicaraan, ia harus memikirkan syarat yang diajukan Draco terlebih dahulu, meskipun Draco adalah ayah kandung Maura, Hermione tetap tidak bisa menjamin bahwa Draco tidak akan membawa pengaruh buruk pada Maura atau lebih buruk, membawa Maura pergi darinya.

"Aku sedang liburan." Draco memberitahu.

"Kenapa kesini?"

Draco tertawa. "Kenapa kau begitu ingin tahu? Apa kau masih punya perasaan padaku?" Draco bertanya menggoda Hermione.

"Jangan bercanda." Hermione menyangkal.

"Hermione…" Draco memulai, nadanya terdengar serius. "Aku tidak akan mengambil Maura darimu, kita tidak perlu melakukan unbreakable vow, tapi kalau kau tidak percaya padaku maka kita bisa melakukannya. Untuk saat ini aku hanya benar-benar ingin mengenal Maura, tentu saja aku berharap bisa memberitahunya kalau aku ayahnya, tapi aku mengerti kalau kita harus melakukannya perlahan. Aku berjanji tidak akan mengambilnya darimu, hanya saja kau juga harus berjanji tidak akan menghalang-halangiku dekat dengan anakku sendiri."

"Tapi kemudian apa Draco? Setelah kau mengenalnya, setelah kalian dekat, bahkan jika setelah Maura tahu kalau kau ayahnya lalu apa? Apa kau bisa menjamin tidak akan terjadi apa-apa padanya? Bagaimana jika orangtuamu tahu? Apa kau pikir mereka akan membiarkan half-blood Malfoy berkeliaran begitu saja? Apa kau bisa menjamin mereka tidak akan mengambil Maura dariku? Bagaimana jika mereka melakukan hal buruk padanya? Bagaimana jika mereka bersuaha membunuhku dan anakku?" Hermione bertanya, mengeluarkan semua ketakutannya.

"Bagaimana jika media tahu? Apa menurutmu mereka akan membiarkan kami hidup tenang? Mereka akan membuat Maura hidup tidak tenang! Draco, menurutmu kenapa aku memutuskan untuk pindah kesini? Kenapa kau pikir aku membawa Maura jauh-jauh dari London? Dari dunia sihir? Kau pikir rambut pirangnya bisa berbohong? Mata silvernya?"

"Berhentilah kuatir Granger!" Draco berteriak, menghentikan Hermione yang meracau tidak jelas. "Berhentilah kuatir! Berhentilah memikirkan sesuatu yang belum terjadi! Kenapa kau tidak bisa membiarkan semuanya berjalan begitu saja." Draco bertanya, muak dengan tingkah Hermione yang berlebihan.

"Semuanya sudah berubah Malfoy! Aku bukan hanya bertanggung jawab pada hidupku saja, tapi juga pada hidup anakku! Aku tidak bisa melakukan sesuatu sesuka hatiku tanpa memikirkan akibatnya! Dan kalau kau ingin bertemu dengan Maura terus, maka dewasalah sedikit!"

Draco menghela nafasnya. "Aku tidak ingin bertengkar denganmu." Draco berseru pelan.

"Aku juga bukan datang untuk bertengkar." Hermione menghela nafasnya.

Draco mengangguk, ia meminum air yang tadi diletakkannya untuk Hermione.

"Beritahu aku tentang Maura!" Draco meminta.

Hermione menggeleng. "Tanyakan saja padanya sendiri besok."

Draco tersenyum, Hermione benar, akan lebih baik jika ia bertanya pada Maura besok.

"Beritahu aku tentangmu!" Draco berseru lagi. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau berakhir disini Granger?"

Hermione menghela nafasnya. "Kau punya wine?"

Hermione perlahan menuruni tangga dan menuju ruang makan di burrow, ia tidak nafsu makan sama sekali, tapi ia tahu ia harus makan sesuatu. Kakinya dan punggungnya sakit sekali, jadi ia berusaha perlahan-lahan menuruni tangga yang tidak beraturan itu.

"Harry, apa kau berani bersumpah kalau itu bukan anakmu?" Hermione bisa mendengar Ginny bertanya.

"Astaga Gin, berapa kali harus kukatakan kalau itu bukan anakku." Harry berseru frustasi. "Hermione sudah seperti saudara perempuanku, it fells like incest. Apa kau pikir aku sudah gila?"

Hermione menghentikan langkahnya, bertahan di tangga dan tidak menunjukkan batang hidungnya, ingin tahu apa yang dibicarakan orang-orang itu.

"Ron? Apa kau?" Molly yang kali ini bertanya. Hermione bisa mendengar suara penuh harap dari mulut Molly Weasley.

"Bukan Mom, aku bahkan tidak pernah menyentuhnya." Ron berseru, Hermione bisa mendengar dari suaranya kalau Ron juga berharap kalau anak yang dikandung oleh Hermione adalah anaknya.

"Well, kurasa jika memang bukan salah satu dari kalian berdua, maka kemungkinan besar Hermione hamil oleh pria asing." Ginny berkata dengan ringan. "Aku tidak heran, perempuan jalang sepertinya memang cepat atau lambat akan hamil karena keteledorannya."

Hermione bisa mendengar beberapa orang berseru kaget dengan perkataan Ginny barusan. "Aku rasa kau berlebihan Gin." George berkata, membela Hermione.

Hermione menghela nafasnya, berusaha menahan amarahnya, seandainya saja ia tidak terlalu lemas, ia pasti sudah mengeluarkan tongkatnya dan melempar Ginny ke sarang serigala, ke tempat seharusnya ia berada.

Tiba-tiba ada seseorang yang berseru kaget, Hermione tidak yakin, sepertinya Ron.

"Aku ingat." Ron berseru. Dugaan Hermione benar.

"Kalian ingat kan saat Aku, Harry dan Hermione melarikan diri dari Malfoy Manor." Ron berseru. "Hermione terpisah dari kami karena Dobby terluka parah, kami tidak bisa menemukan keberadaannya selama beberapa jam sampai kemudian ia tiba-tiba mengirimkan patronous-nya."

Hermione berdebar-debar, ia tidak menyangka Ron bisa menebak apa yang terjadi padanya.

"Oke, kau bilang Hermione terpisah dengan kalian beberapa jam, tapi kemudian apa yang terjadi?" George bertanya, tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan saudaranya.

"Aku menemukannya saat itu, asumsiku saat itu Hermione menggunakan wandless magic karena ia tidak memegang tongkatnya, karena terlalu panik aku tidak begitu memperhatikannya, yang ada dipikiranku saat itu hanya bagaimana dengan cepat membawanya ke tempat yang aman. Tapi kemudian, setelah kupikir-pikir lagi, dalam keadaan lemah dan terluka, tidak mungkin Hermione mampu mengeluarkan patronous."

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan Ron?" Harry bertanya, mulai tidak sabaran.

"Aku mencium sesuatu saat itu dari tubuh Hermione." Ron memberitahu.

"Apa?" Molly dan Ginny bertanya serempak.

"Sex." Ron berbisik.

"Apa?" Semua yang ada disitu berseru kaget, sekarang Hermione tidak yakin ada berapa orang disana, awalnya ia mengira hanya ada lima orang, Molly, Ginny, George, Ron dan Harry, tapi sepertinya ia salah.

"Apa maksudmu Hermione diperkosa?" Harry bertanya, setengah berteriak.

"Kecilkan sedikit suaramu Harry!" Ginny berseru.

"Entahlah, aku tidak tahu!" Ron berseru.

"Siapa yang melakukannya?" George bertanya.

"Aku tidak tahu!" Ron mengulangi kalimatnya.

"Jika yang melakukannya adalah pelahap maut , tidak mungkin ia membiarkan Hermione lepas begitu saja setelah itu." Molly berseru, berusaha menjelaskannya dengan logikanya.

Semua orang terdiam, sepertinya mereka berpikir keras.

Tentu saja, pikir Hermione, kalau ia diperkosa oleh Death Eater pasti ia langsung dibunuh setelah itu, atau dibawa kembali ke Malfoy Manor untuk disiksa kembali. Tapi mereka tidak tahu kalau yang menolongnya adalah Draco, Draco Malfoy.

"Apa mungkin seseorang lewat dan membantunya? Meminjamkan tongkatnya pada Hermione lalu Hermione menggunakannya untuk membuat patronous?" Harry bertanya, berusaha berpikiran positif.

"Dan membayar orang itu dengan sex?" Ginny bertanya menghina.

Hermione bergidik mendengar nada bicara Ginny barusan.

"Lagipula siapa yang berkeliaran disana pada waktu itu?" Ron bertanya lagi.

"Sudahlah! Aku tidak peduli apa yang terjadi pada Hermione saat itu! Setidaknya kita harus merawatnya sekarang!" George berdiri, Hermione mendengar suara kursi bergeser, apa George berdiri? Apa ia akan pergi? Hermione kembali menaikki tangga secepat yang ia bisa dan kembali ke kamarnya.

"Jadi keluarga Weasel dan juga Potter berasumsi seperti itu?" Draco bertanya, berusaha menghindari kata rape.

Hermione mengangguk, meminum gelas ketiganya.

"Kenapa kau tidak memberitahu mereka?" Draco bertanya, meminum wine-nya juga.

Hermione tertawa. "Menurutmu aku harus memberitahu mereka, kalau aku melakukannya dengan suka rela dengan Draco Malfoy dan lupa menggunakan contraceptive charm dan kemudian hamil?" Hermione tertawa lagi. "Aku tidak ingin melahirkan di rumah sakit jiwa Malfoy."

"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"

Semua orang memperlakukan Hermione seperti boneka porselein. Membangunkannya dengan lembut, membuatkannya makan pagi, siang, dan malam, membuatkannya teh, bertanya apa yang bisa mereka bantu, apa yang bisa mereka lalukan untuknya. Bahkan Ginny berpura-pura baik padanya.

Hermione muak.

Ia ingin cepat-cepat meninggalkan Burrow.

Kingsley memberitahunya kalau ia dan beberapa auror sudah berhasil menemukan kedua orangtua Hermione dan mereka akan segera kembali dan benar-benar merindukannya.

Hermione kemudian memutuskan akan kembali ke rumah orangtuanya dan meninggalkan burrow, berharap kedua orangtuanya akan menerima keadaannya.

Hermione tinggal di rumah orangtuanya saat ia hamil lima bulan sampai ia melahirkan. Hermione akan selalu bersyukur akan keberadaannya ayah dan ibunya. Tentu saja mereka marah karena Hermione menghilangkan ingatan mereka dan mengirim mereka ke Australia, tapi Hermione tahu kalau mereka masih tetap menyayanginya.

Hermione menceritakan apa yang terjadi padanya, bagaimana ia hamil, dan kedua orangtuanya menerimanya dengan tangan terbuka, mereka membantu Hermione menjalani kehamilannya, ayah dan ibunya selalu menemaninya ke St. Mungo meskipun Hermione tahu mereka tidak nyaman berada di dunia sihir.

Kedua orangtuanya benar-benar memperlakukannya sama, tetap memperlakukan Hermione seperti anak mereka, bedanya sekarang anak mereka sedang hamil dan mengandung cucu mereka.

Jika tidak ada kedua orangtuanya, Hermione pasti sudah depresi berat.

Ayahnya bahkan pasang badan setiap ada yang datang dan berusaha bertemu dengannya, baik itu Harry atau Ron. Ayahnya akan mengambil senapan berburunya dan mengacungkannya pada mereka berdua.

"Pergi sebelum aku membunuh kalian! Anakku tidak ingin bertemu dengan kalian!"

Ayahnya dan Ibunya beberapa kali bertanya siapa ayah dari anak yang dikandungnya, setelah berkali-kali Hermione menolak memberitahu mereka berhenti bertanya, tapi suatu ketika ibunya bertanya ; apa Hermione mencintai ayah anaknya? Hermione tidak menjawab, ia hanya menangis, dan ibunya tidak pernah bertanya lagi.

Hermione berjanji pada kedua orangtuanya begitu Maura lahir, ia tidak akan kembali ke dunia sihir, dan meskipun nantinya Maura akan memiliki kekuatan sihir, ia akan menyekolahkannya di sekolah Muggle, dan mengajarinya tentang sihir dirumah atau mungkin pergi ke sekolah sihir di prancis.

Ayah dan ibunya benar-benar lega, dunia sihir sudah berubah dari dunia yang menakjubkan dan menarik, menjadi dunia berbahaya yang ingin mereka kubur dalam-dalam di masa lalu.

Draco tidak tahu harus merespon apa, ia benar-benar sedih karena Hermione harus mengalami hal sulit karenanya, tapi ia benar-benar bersyukur setidaknya ia memiliki orangtuanya.

"Syukurlah kau punya kedua orangtuamu." Draco berseru pelan.

Hermione mengangguk.

"Kalau seandainya kau memberitahuku."

"Jangan mulai."

"Paling tidak aku bisa menemanimu, melindunginmu dan Maura dari Potter dan Weasley."

Hermione tersenyum. "Kurasa aku harus pulang, aku takut Maura terbangun." Hermione berbohong, Maura benar-benar anak yang tidurnya selalu nyenyak, sama seperti Draco, ia bahkan selalu tidur lebih lama dari anak-anak lainnya, sama seperti Draco.

Draco mengangguk.

"Granger!" Draco berseru sebelum Hermione ber-apparating kerumahnya.

"Apa?"

"Apa aku boleh pergi ke pantai dengan Maura besok?" Draco bertanya.

"Sure." Hermione menjawab, tersenyum.

Draco tersenyum sebelum Hermione menghilang. Ia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

-To Be Continued-