Hola MInna!

Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe

DISCLAIMER :TITE KUBO

RATE : M (For Safe)

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!

(Tolong baca keterangan cerita habis fic ini yaa... dibawah loh... hehehe supaya senpai gak bingung sama cerita ngawur saya ini... makasih)

.

.

.

"Tou-san tidak perlu khawatir. Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu. Tapi aku rasa... Ichigo akan baik-baik saja. Selama ini dia selalu pulang'kan? Laki-laki remaja kalau pergi dari rumah sehari bukan masalah'kan?" ujar Kaien setelah berputar mencari adiknya itu. Tapi tetap tidak ketemu. Yang bisa Kaien simpulkan, mungkin Ichigo sedang marah pada ayahnya karena suatu hal. Dan Kaien hanya merasa itu adalah tindakan remaja normal. Kabur dari rumah bukanlah hal yang aneh untuk remaja laki-laki.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo melihat-lihat suasana apartemen mewah ini. Sudah pasti ini adalah apartemen untuk kalangan elit. Lihat saja gedung yang tinggi ini. Pasti ada 20 lantai lebih. Hebat sekali wanita mungil begini berani tinggal di apartemen setinggi dan semewah ini sendirian. Apa dia anak orang kaya? Yah... Ichigo juga pernah dengar tentang keluarga Kuchiki yang bangsawan itu. Dan dia sudah mengenal 2 orang yang menyabat gelar itu. Satu wanita mungil yang sadis ini dan satu lagi teman sekolahnya. Kuchiki Senna.

Ichigo hanya tak menyangka ternyata Kuchiki itu benar-benar kaya. Hmm... kurang lebih seperti itulah. Dan posisinya juga di perusahaan tempat kakaknya bekerja itu juga bukan main-main. Yang Ichigo dengar dari Kaien, wanita berambut hitam ini menjabat sebagai GM. Bukan jabatan yang rendah dan sembarangan. Tapi... untuk ukuran tubuhnya, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda seperti wanita karir pada umumnya. Tidak anggun, tidak menyenangkan, tidak lembut, tidak berwibawa dan selalu marah-marah. Memang kesan pertama melihat wanita ini sudah pasti memiliki wajah yang cantik dan senyum yang menawan. Tapi begitu mengenalnya lebih dekat lagi ternyata ada sisi lain. Dan entah kenapa Ichigo suka sisi lain itu. Sisi yang menampakkan watak aslinya. Sisi yang seolah mengatakan bahwa... inilah Kuchiki Rukia itu sebenarnya. Tidak seperti saat dia didepan orang lain atau di depan kakaknya. Bukan Kuchiki Rukia yang itu.

"Kenapa kau memperhatikanku begitu?" ujar wanita mungil ini sedikit sinis setelah menutup pintunya. Dan sepertinya sistem apartemen ini punya kunci password. Jadi mau masuk ke dalam harus pakai password angka yang ada di handle pintu.

"Aku tidak memperhatikanmu. Siapa yang memperhatikanmu?" ujar Ichigo balik.

"Benarkah?" selidik Rukia.

"Kau tidak percaya?"

Rukia mendengus dan tidak menghiraukan apa yang akan dikatakan bocah ini selanjutnya. Dia langsung berjalan lurus ke depan dan nyaris meninggalkan bocah ini di belakang.

"Hei... kau tidak mengantarku ke sekolah?" pekik bocah berambut orange itu dari belakang. Rukia berbalik sinis dan menatapnya seakan ingin menelan bocah itu hidup-hidup.

"Apa?" tanya Rukia seolah dia tak mendengarkan apa yang di katakan bocah raksasa ini.

"Antarkan-aku-ke-sekolah! Kau tidak dengar? Aku tidak bawa sepedaku. Dan aku tidak tahu daerah mana ini. Kau mau membuatku kesasar dan tidak sekolah?" jelas Ichigo. Walaupun sebenarnya tanpa sadar memang itulah yang dia inginkan. Rukia mendengus kesal dan memasang wajah geram yang luar biasa.

Satu kesalahan terbesar seorang Kuchiki Rukia. Membiarkan seorang bocah masuk ke dalam hidupnya dan menyusahkannya seperti ini!

.

.

*KIN*

.

.

"HEI! BAA-CHAN PENDEK PEMARAH! KENAPA KAU TURUNKAN AKU DI SINI!" teriak Ichigo setelah bibi itu menurunkannya dengan paksa di pinggir jalan. Ini masih ada sekilo lagi ke sekolahnya. Dan dia menurunkannya seenaknya saja. Yang benar saja. Kenapa Ichigo dibiarkan seperti ini. Ahh~ wanita memang sulit dimengerti.

Ichigo yakin tidak melakukan apapun yang membuatnya marah. Hmm... tunggu dulu, mungkin dia marah karena Ichigo tidur di kamarnya. Tapi kalau dia marah, seharusnya dia membiarkan Ichigo tidur di sofa, atau di lantai paling parah. Bukannya di kamarnya. Di kasurnya pula. Kalau begitu, mungkin dia marah karena Ichigo menginap tanpa sengaja di apartemennya. Kalau dia marah, kenapa tadi pagi dia memasakkan sarapan untuk Ichigo? Seharusnya membiarkan Ichigo kelaparan saja. Atau setidaknya yaa... Ichigo tidak mengerti ada apa sebenarnya. Apakah... di bagian saat Ichigo mabuk? Saat Ichigo menyangka dia ibunya? Hei... orang mabuk mungkin saja bisa salah mengenali orang'kan? Seharusnya dia maklum. Apalagi Ichigo masih 17 tahun. Lalu kenapa dia marah seperti itu!

Apakah... ada bagian yang terlewati saat Ichigo mabuk?

Dia benar-benar mabuk total dan tidak ingat apapun. Lalu apa? Itulah sebabnya kenapa Ichigo hampir-hampir tidak mau dekat-dekat wanita manapun yang bukan keluarganya. Satu alasan. Wanita itu rumit!

.

.

*KIN*

.

.

Wajah Rukia seakan terbakar saking panasnya. Dia bahkan tidak bisa menatap bocah itu dengan baik bahkan untuk memandanginya secara sinis. Apa yang terjadi malam itu benar-benar tidak pernah dia bayangkan. Seumur hidupnya baru hal aneh seperti ini yang terjadi. Karena kejadian malam itu tanpa sadar dia marah-marah tidak jelas pada bocah ingusan itu. Apa yang Rukia lakukan tentu saja akan mengundang salah paham padanya. Tapi Rukia tidak peduli!

Bahkan Rukia saat ini tidak bisa menyetir dengan baik. Dia masih saja salah mengira lampu lalu lintas. Bahkan hampir kena tilang. Kenapa hanya karena... berciuman, bisa membuat seseorang begini payah? Karena sentuhan yang tidak diinginkan itu?

Yah, Rukia selama 30 tahun ini belum pernah berciuman sama sekali dengan laki-laki lain. Entah kenapa dia tidak menginginkan hal itu terjadi padanya hingga sekarang. Tapi bocah itu pasti tidak tahu'kan? Dia mabuk berat dan tidak ingat apapun. Bahkan dia tidak ingat mengira Rukia ibunya. Hmm... ibunya. Kelihatannya dia merindukan ibunya. Kalau merindukan ibunya, kenapa malah tidak pulang? Alasan orang merindukan seseorang itu adalah... jika orang yang dirindukan tidak ada didekatnya atau... tidak ada lagi didekatnya. Hanya 2 pilihan itu. Dan Rukia... tidak tahu ibu Ichigo itu ada dipilihan yang mana. Yang bisa Rukia tangkap, apa yang Ichigo rindukan, sama seperti apa yang Rukia rindukan. Tapi... itu mustahil.

Oh ya, ngomong-ngomong... Ichigo dan Kaien punya wajah yang hampir mirip. Rukia jadi penasaran. Seperti apa wajah kedua orang tua 2 laki-laki itu. Pasti orangtuanya begitu bangga punya anak-anak setampan mereka. Yah... Rukia juga wanita normal'kan? Siapa saja yang melihat Kaien ataupun Ichigo pasti mengira mereka tampan. Bahkan Senna saja tergila-gila pada Ichigo. Upps! Senna. Kuchiki Senna.

Rukia berharap keponakannya itu tidak tahu tentang insiden malam itu. Bisa kacau...

.

.

*KIN*

.

.

"Kurosaki-kun... kuharap... kau tidak bosan dengan kedatanganku..." ujar gadis berambut orange panjang bergelombang itu malu-malu di depan meja Ichigo. Saat ini istirahat siang dan Ichigo masih duduk di kursi paling belakang di kelasnya sendiri. Sejak pagi tadi dia tidak memperhatikan apapun selain pikirannya yang berkelana soal apa yang menyebabkan wanita pendek itu marah-marah padanya. Itu tanpa sebab'kan? Dan sekarang, Ichigo malah melihat seorang gadis terseksi dan tercantik di sekolahnya sedang berdiri di depan mejanya sambil membawa kotak bekal. Yah... ini sudah hari ketiga gadis ini muncul. Dan... semua anak laki-laki di kelasnya berteriak heboh.

"Wuooh! Ichigo! Miss Universe mendatangimu nih... dan sudah ketiga kalinya...!" sindir Asano Keigo. Siswa paling cerewet di kelas Ichigo. Dia yang mulai mempelopori anak-anak lain untuk berkerumun di sekeliling meja Ichigo dan melihat gadis terpopuler di sekolah mereka mendatangi Ichigo.

"Eh? Ada apa Inoue?" tanya Ichigo bingung. Bingung karena siswa laki-laki banyak menggoda dirinya dengan lelucon aneh. Dan bingung kenapa gadis ini datang lagi padanya. Dia memang pernah mengenal gadis ini. Waktu kelas 1 sempat satu kelas. Dan Ichigo juga pernah menolongnya berkali-kali saat gadis ini pulang ke rumah dan diganggui oleh preman dan laki-laki kurang ajar. Tapi Ichigo tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Dia hanya kebetulan menolong teman. Tidak lebih.

"Apalagi! Dia'kan membawakanmu makanan! Seperti pasangan pengantin baru saja yaa... hehehe..." goda Keigo lagi. Dan akhirnya... satu jitakan mendarat di kepala bocah cerewet itu. Ichigo langsung memandang teman anehnya itu dengan datar.

"Ohh... kalau kau tidak keberatan... aku hanya tidak pernah melihatmu makan siang di kantin. Aku khawatir kalau kau... kalau kau tidak keberatan... terima saja ini..." jelas Inoue Orihime dengan wajah malu-malu sambil menundukkan kepalanya dan menyodorkan kotak bekal itu. Dan sambutan anak-anak sekelas langsung begitu heboh dan meriah. Meskipun selalu disambut seperti ini setiap kali Orihime datang, tapi gadis seksi itu sama sekali tidak risih.

"Oh... terima kasih. Aku akan memakannya nanti." Jawab Ichigo kikuk sambil menggaruk kepalanya dan menerimanya. Membuat gadis malu, itu bukan sikap seorang laki-laki. Sebenarnya Ichigo masih kenyang dengan sarapan dari wanita pendek itu. Apalagi Ichigo kebetulan makan dengan porsi banyak. Perutnya mendadak lapar melihat nasi goreng yang menggiurkan itu. Dan sekarang... dia masih kenyang. Perutnya tak biasa memakan makanan yang berlimpah. Atau... kehidupan sempurna-lah. Pagi, siang, dan malam. Kalau Ichigo, jika pagi dia sudah sarapan, siang dia tidak bisa makan lagi, kecuali benar-benar lapar sampai mau mati. Kadang malampun, makan sekadarnya saja. Dan itupun tidak banyak.

"Terima kasih... Kurosaki-kun. Kalau begitu aku permisi ya..." ujar Orihime sambil menundukkan kepalanya dan tersenyum lembut pada Ichigo. Dijamin, semua laki-laki pasti akan jatuh bertekuk lutut dengan senyum itu. Tapi... bagi seorang Kurosaki Ichigo, senyuman gadis populer sama sekali tidak menarik dan terlihat biasa saja. Karena dia memang selalu tersenyum, jadi tidak ada yang menarik. Yang menarik untuknya adalah... ketika seorang wanita yang terlihat menyeramkan tersenyum lembut padanya.

Ehh? Wanita?

"Ohh! Miss Universe! Kau mau kemana? Biarkan aku ikut denganmu...!" rengek Keigo sambil mengejar Orihime ke luar dari kelas.

Dan sekarang... Ichigo tidak tahu mau diapakan kotak bekal ini. Mana mungkin dia mengembalikan dalam keadaan utuh'kan?

.

.

*KIN*

.

.

"Oh... gadis seksi itu keluar lagi dari kelas Ichigo. Dan ini sudah hari ketiga... dia benar-benar gigih ya?" komentar Riruka begitu melihat banyak siswa laki-laki mengiringi kepergian gadis populer di sekolah mereka itu dari kelas laki-laki paling populer di sekolahnya. Memang penebar pesona! Meskipun sekilas penampilannya terlihat biasa saja, seperti gadis tanpa dosa, tapi Inoue Orihime selalu bersikap seolah-olah dia adalah bidadari yang turun dari surga. Paling tidak itulah yang siswa laki-laki seluruh sekolahnya mendeskripsikan keadaan Inoue Orihime.

Kuchiki Senna melongo dari jauh melihat ke dalam kelas yang baru saja di masuki gadis terpopuler itu. Senna melihat, pemilik bangku paling belakang dekat jendela itu tengah menimbang-nimbang kotak bekal di tangannya.

"Kau tidak dengar aku ya?" sambar Riruka yang rupanya diacuhkan oleh Senna yang berdiri di sebelahnya.

"Oh? Maaf aku melamun. Ada apa?" tanya Senna pada teman sekelasnya itu.

"Kau masih belum mendengar ini? Gosipnya... saat festival musim dingin nanti, gadis terpopuler itu mau menyatakan cinta pada laki-laki terpopuler di sekolah kita. Meskipun dia menyangkal gosip itu, tapi melihat gelagatnya saja semua anak sudah bisa membacanya. Tinggal yang bersangkutan itu, mengerti atau tidak." Tunjuk Riruka pada laki-laki berambut orange yang sedang memandang keluar jendela itu. Sepertinya dia memasukkan kotak bekal itu ke laci mejanya.

"Kurasa... Ichigo tidak berpikir seperti itu. Orihime dan Ichigo'kan pernah sekelas. Dan mereka... teman baik." Kata Senna datar.

"Hah? Kau yakin? Itu Inoue Orihime. Gadis terseksi di sekolah kita. Banyak laki-laki tergila-gila pada tubuh seksinya. Bahkan sampai dijuluki Miss Universe segalanya. Ichigo itu laki-laki tahu, mana mungkin dia tidak tertarik pada Orihime. Yah... kalau dia tidak tertarik, mungkin dia punya sedikit kelainan." Kata Riruka setengah menyindir.

"Kau bicara apa. Ichigo bukannya tidak tertarik. Kurasa... dia belum saja memikirkan yang seperti itu. Kita masih sekolah dan lagi―"

"Dan lagi apa? Kita ini sudah kelas 2 SMA. Mana mungkin'kan terus-terusan jomblo? Apalagi laki-laki. Mereka juga pasti ingin punya kekasih di usia sekarang seperti ini. Usia kita ini adalah usia yang rentan akan keingintahuan. Kau tahulah... remaja seperti kita kini sangat penasaran dengan hal-hal yang berbau dewasa. Terutama laki-laki! Ingat... Ichigo itu... laki-laki. Dan kau. Kau punya kesempatan untuk itu."

"Kesempatan?" kini Senna bingung dengan penjelasan Riruka. Mereka berjalan melewati kelas Ichigo menuju kelas mereka. Riruka berjalan mundur sebentar lalu mengangguk menanggapi pertanyaan Senna dan kembali berjalan sejajar dengan gadis berambut ungu itu sambil menunjuk Senna dengan ujung jarinya.

"Kau adalah satu-satunya perempuan yang dekat dengan Ichigo'kan? Yah... dia sering bertanya padamu soal pelajaran. Dan kalian sering terlihat mengobrol akan sesuatu. Dia juga selalu menyapamu setiap pagi, kau juga begitu. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan. Kau punya perasaan'kan padanya?" tembak Riruka sambil menyibak rambut merah dengan potongan poni tail-nya dengan anggun.

Wajah Senna berubah merah. Walau tidak kentara. Dan maksudnya, dia memang mengakui itu. Selama ini Senna berusaha dekat dengan Ichigo yang notabene-nya jarang dekat dengan perempuan kalau tidak dia kenal. Yang kenal saja tidak bisa dekat, apalagi yang tidak kenal. Senna berusaha mencari tahu apa yang disukai Ichigo dan tanpa sadar mengajaknya mengobrol tentang hal itu. Lalu belajar dengan tekun, dan berharap Ichigo akan bertanya padanya tentang pelajaran. Sejauh ini usahanya berhasil. Tapi Senna masih tidak bisa menebak, seperti apa gadis yang disukai Ichigo itu.

"Ambil start-mu. Jangan sampai kecolongan. Kalaupun dia menolakmu dan dia menyukai perempuan lain, setidaknya kau tidak terlalu menyesal. Artinya... kau sudah tahu dari mulutnya sendiri. Kalian'kan tinggal bersikap biasa saja dan anggap semuanya baik-baik saja. Yang terpenting nyatakan dulu perasaanmu. Apa kau tidak penasaran, sebenarnya Ichigo menganggapmu apa? Kalau aku jadi kau, aku pasti penasaran, apa yang Ichigo rasakan padaku sebagai seorang gadis yang dekat dengannya."

Dan tanpa sadar, penjelasan terakhir Riruka itu membawa Senna pada kesimpulan terakhirnya. Apa yang Ichigo rasakan padanya. Kalau memang Ichigo belum menyukai gadis manapun, setidaknya Senna bisa mencoba menjadi gadis idaman Ichigo. Tapi kalau Ichigo sudah memiliki gadis yang dia sukai, paling tidak yang bisa Senna lakukan adalah mendukungnya. dan berharap... hubungan itu biasa saja. Agar Senna bisa punya kesempatan selanjutnya. Karena bagi Senna... seorang Kurosaki Ichigo adalah cinta pertamanya yang berharga.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia kembali melanjutkan tugasnya. Kali ini dia mengadakan rapat dengan investor dan membahas tentang proyek selanjutnya. Ditambah lagi, kali ini dia pertama kalinya rapat dengan bos langsungnya. Suasana hati Rukia sedikit membaik ketika melihat senyum cerah mantan senpai-nya itu. Tapi kembali memburuk kala melihat Presdir-nya yang terus-terusan melihatnya. Ini menyebabkan hubungan yang tidak nyaman. Kalau saja... kalau saja Rukia tahu bahwa istrinya sudah meninggal, seharusnya Rukia tidak perlu lagi membalas dendam. Itu adalah balasan yang bagus. Meski belum setimpal. Dia kehilangan istri dan kakaknya adalah balasan yang bagus. Tapi pria itu belum tahu kakaknya sudah meninggal. Dan bagi Rukia, itu adalah meriam terakhir yang akan dia tembakkan kalau Rukia sudah merasa yakin kehidupan Presdir-nya ini tidak bagus. Dan Senna adalah alat pemicu terakhir.

Ledakan yang sangat besar yang bahkan sanggup mengguncangkan jiwa Presdir itu. Dan Rukia yakin, anak-anak Presdir itu tak akan menerima begitu saja soal Senna. Apalagi... jika anak-anak istri sahnya itu tahu, Senna adalah anak dari wanita yang membuat ibu mereka dikhianati selama ini. Memang kejam. Tapi setimpal. Kalau kakaknya tidak bahagia, mana mungkin Rukia membiarkan orang brengsek itu bahagia. Dan Rukia memutuskan akan menghilangkan diri kalau semua itu sudah terungkap dengan jelas. Rukia berjanji tidak akan muncul lagi dan tidak akan melakukan apapun lagi di sini. Dia kemari... hanya untuk balas dendam.

Selesai rapat, semua investor langsung setuju dengan proposal Rukia. Mereka setuju menanamkan modal dan proyek Rukia bisa dilakukan minggu depan. Semakin cepat semakin baik. Rukia memberikan salam terakhir pada investornya seusai rapat. Setelah semuanya sepi, Rukia membereskan barangnya. Tapi sebelum itu, Kaien tersenyum padanya dan memberikan isyarat untuk menunggunya selagi dia bicara dengan sekretarisnya. Rukia memutuskan untuk menunggu di luar. Sudah lama rasanya dia tidak bicara banyak lagi dengan mantan senpainya itu.

Rukia menunggu di luar sambil melirik jamnya. Ini sudah jam makan siang. Kenapa... lama ya?

"Kuchiki."

Rukia terdiam. Jantungnya terasa berdetak cepat kalau mendengar ada yang memanggilnya. Rukia tak ingin dengar suara itu. Tidak ingin. Tubuhnya gemetar. Tidak. Kenapa dia harus gemetar. Dia baik-baik saja! Dia mulai tidak nyaman sejak makan siang terakhir itu.

"Kuchiki. Ada yang ingin kubicarakan." Ujarnya setelah tepat berdiri di depan Rukia. Rukia tak mau memandangnya. Dia ingin jaga jarak. Tapi tidak bisa... ada kebimbangan tersendiri dalam hatinya. Dia ingin mengakhirinya... tapi kenapa dia masih bimbang.

"Maaf Presdir. Aku tidak bisa." Jawab Rukia.

"Selama ini kau tidak pernah menolak. Ada apa denganmu? Apa kau... masih tidak nyaman dengan ceritaku yang terakhir?" tanya Isshin.

Yah. Tidak nyaman.

"Maaf Presdir. Bukan itu. Tapi..."

"Aku ingin mencari wanita itu. Dan aku... ingin meminta pendapatmu. Karena kau satu-satunya orang yang tahu masalahku."

Mata ungu Rukia membulat. Apa? Dia tidak salah dengar'kan? Apakah... Presdirnya ini tidak waras? Yah! Pasti tidak waras. Presdirnya sudah pasti gila.

"Untuk apa Anda meminta pendapat saya? Saya hanya karyawan Anda."

"Sudah kukatakan sebelumnya. Kau adalah satu-satunya orang yang tahu masalahku. Dan aku... merasa nyaman untuk bicara denganmu."

"Tapi saya tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Anda tidak seharusnya membicarakan masalah pribadi Anda dengan saya."

Rukia hendak meninggalkan Presdirnya. Tapi baru saja berbalik kebelakang dan tidak jauh melangkah, Rukia kembali tercengang.

"Salahkah kalau aku merasa kau mirip dia dan membuatku merasa melihatnya kembali kalau aku melihatmu? Aku... sangat merindukannya. Tidakkah kau tahu itu? Kalau sejak awal kau tidak merasa nyaman, kenapa dari awal kau mau mendengarkannya? Kau membuatku bingung."

Rukia terdiam untuk sekian kalinya. Kenapa dia mau mendengarnya dari awal? Sudah jelas bukan? Karena Rukia ingin balas dendam! Dan dia tidak bisa melakukannya karena targetnya sudah tidak ada! Lalu pilihan Rukia untuk menghindarinya apakah salah?

"Karena Anda adalah Presdir dan saya adalah... bawahan Anda. Kita tidak seharusnya membuat gosip. Anda bisa dekat dengan saya. Tapi kita tidak perlu membicarakan masalah selain dengan urusan pekerjaan. Masalah apakah Anda ingin menemukan wanita itu lagi atau tidak, itu bukan urusan saya. Maaf Presdir. Saya permisi." Ujar Rukia menunduk hormat pada Presdirnya dan langsung undur diri. Sekarang yang bisa dia katakan adalah ini. Jika lebih dari ini, dia takut, Rukia tak bisa mengendalikan dirinya. Dia takut... apa yang berusaha dia tutupi untuk sementara waktu ini bisa di ketahui begitu saja. Dan Rukia belum siap, bila nanti ada skandal yang tidak baik untuknya yang bisa diketahui oleh mantan senpainya itu. Dia tidak mau mantan senpainya itu memandang buruk pada Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

Bel SMA Karakura sudah berbunyi nyaring. Akhirnya satu hari yang lelah sudah berakhir. Semua anak mulai sibuk dengan berteriak sana sini memanggil petugas piket kelas. Tapi Ichigo sejak seharian ini masih penasaran dengan apa yang membuat wanita pendek itu marah-marah padanya. Mau ditolak untuk dipikirkan juga tidak bisa. Pertama kali dalam sejarah hidupnya menginap di rumah seorang wanita. Dalam keadaan mabuk. Itu yang membuat Ichigo kelimpungan. Seharusnya dia tanyakan saja apa yang telah terjadi. Ichigo hanya takut jika nanti... sisi liarnya... yang menakutkan itu yang datang kemarin saat dia mabuk. Ichigo tahu kalau dia tidak sadar, selalu melakukan hal yang di luar batas kendalinya. Walaupun tahu... tapi dia tidak bisa menghentikannya. Namanya juga remaja. Laki-laki pula. Di usianya yang labil ini, tentu saja dia haus akan keingintahuan dan segala sesuatu yang berbau dewasa. Apapun itu!

Dia juga ingin merasakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya yang lain, bila berdekatan dengan seorang gadis dan... yah... namanya remaja! Tapi demi apapun itu, Ichigo tak pernah berpikir kesana. Entah karena dia memang masih polos dan lugu atau memang dia belum tertarik melakukan hal-hal aneh itu. Entahlah.

"Ichigo." Panggil seseorang.

Ichigo berhenti didepan pintu kelasnya. Dia melihat seorang gadis berambut ungu berdiri bersandar di dinding di samping pintu kelasnya. Gadis itu berdiri tepat di depan Ichigo sambil tersenyum ramah.

"Senna? Ada apa?" tanya Ichigo.

"Apa kau... punya waktu?" tanya Senna ragu. Seharusnya ini tidak dia lakukan. Tapi... Riruka memaksanya. Riruka mengancam kalau dia tidak lakukan ini sekarang, gadis berambut merah itulah yang akan melakukannya. Dan tentu saja Senna tak mau itu! Apa yang akan Ichigo pikirkan kalau ada gadis aneh yang datang padanya dan bicara yang aneh-aneh!

"Hmm... yah. Sebenarnya tidak ada. Ada apa?" tanya Ichigo lagi.

"Oh ya? Kalau begitu... maukah kau... makan es krim denganku? Sebenarnya ada toko es krim yang baru buka. Aku mau ke sana, tapi... tidak ada teman. Kalau kau tidak keberatan―"

"Toko es krimnya dimana?" tanya Ichigo.

"Eh? Di dekat stasiun bawah tanah. Tidak terlalu jauh. Hanya sekali naik bus."

"Baiklah. Kita pergi sekarang?"

Ichigo memang tidak pernah menolak permintaan tolong siapapun. Dia selalu siap membantu. Senna bukannya tidak senang Ichigo langsung mau menemaninya. Hanya saja... dia tidak yakin... apakah Ichigo senang mendengar apa yang akan dia katakan nanti. Dia sudah mempersiapkan hatinya. Tapi... bagaimanapun juga... ini terlalu mendadak. Bahkan untuk Ichigo sendiri. Senna tak yakin dengan apa hasilnya nanti. Tapi... lebih baik mencoba daripada tidak 'kan?

.

.

*KIN*

.

.

Rukia berdiri didepan wastafel toilet kantornya. Dadanya masih sesak. Presdirnya bilang dia mengingatkannya pada wanita itu? Hah! Lalu bagaimana reaksi Presdir-nya seandainya dia tahu bahwa mereka tak sekadar mirip? Pasti Presdir-nya langsung sakit jantung!

Rukia membasuh wajahnya berkali-kali. Keadaan dimana dia selalu cemas akan sesuatu dan ingin meredam emosinya. Hanya ini. Mencuci wajahnya.

Setelah yakin jantungnya sudah kembali tenang, Rukia keluar dari toiletnya dengan langkah gontai. Dia tak sanggup untuk melakukan apapun lagi.

"Yo Kuchiki! Umurmu masih 30'kan? Tapi kau sudah berlagak seperti nenek-nenek berumur 100 tahun!"

Rukia terkejut kala melihat Direktur-nya berdiri sambil bersandar didinding sebelah pintu toilet wanita. Rukia menganga lebar.

"Senpai?" gumam Rukia tanpa sadar.

"Wajahmu dari kemarin memang tidak bagus. Kalau aku minta jelaskan ada apa, kau pasti bilang tidak ada apa-apa. Apa yang bisa kulakukan untukmu? Apa... aku harus berubah jadi lampu jin? Doraemon? Coba kupikirkan."

Rukia bengong dengan tingkah bos-nya yang tampak berpikir keras itu. Lalu sesaat kemudian, Rukia tersenyum. Kaien selalu bisa membuatnya tersenyum.

"Nah! Kau sudah tersenyum. Wajahmu kelihatan bagus kalau kau tersenyum. Jangan seperti itu lagi. Nah... sekarang obatnya! Oh... kau suka es krim? Aku dengar ada toko es krim yang enak baru buka di dekat stasiun bawah tanah. Mau ke sana?" tawar Kaien. Rukia tahu senpainya ini memang suka sekali mendengar toko apa yang baru buka. Dia selalu lakukan ini sejak SMA dulu untuk mengencani gadis-gadis yang dia suka. Rukia hapal betul bagian ini. Tapi Rukia merasa ini tidak apa-apa.

"Tapi... jam makan siang kita hampir habis..."

"Siapa bos di sini? Kau tidak akan kena marah karena kau pergi dengan Direktur! Tenang saja. Kalau ada yang protes, katakan padaku, biar kucincang orang itu!"

Kembali Rukia tersenyum, bahkan seperti tertawa lebar.

"Tapi... naik mobilku saja ya. Repot kalau kita menyetir sama-sama."

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo dan Senna duduk berdua di pinggir jendela toko itu. Suasananya bagus dan sangat cocok untuk kencan. Mereka kemari dengan naik bus. Yah... selain karena Ichigo tidak bawa sepeda, lalu bagaimana caranya dia bawa sepeda kalau dia saja tidak pulang ke rumah. Ichigo hanya memesan capuccino dan Senna dengan es krim tropical-nya. Mereka tampak menikmati pesanan mereka dan membicarakan hal seputar sekolah mereka. Selain mereka, ada pasangan dari sekolah lain yang juga ikut makan di sini. Dan kelihatannya kebanyakan dari mereka adalah pasangan kekasih sungguhan. Senna memperhatikan beberapa pasang yang makan es krim di pojok toko kini sambil bercanda gurau. Bahkan ada beberapa gadis dari SMA lain yang ikut makan es krim bersama geng mereka. Dan akhirnya yang Senna takutkan terjadi. Geng anak SMA lain itu mulai saling sikut memperhatikan meja Senna. Apalagi kalau bukan memperhatikan Ichigo. Repot juga makan dengan laki-laki populer. Dimana saja bertemu dengan fans dadakan. Entah kenapa, pilihan makan di tempat seperti ini jadi salah.

"Kau lihat apa?" tanya Ichigo bingung karena Senna tampak memasang wajah sinis. Maksudnya wajah itu ingin ditunjukkan pada gerombolan geng gadis SMA lain itu yang sepertinya sedang berusaha untuk menyapa Ichigo. Tapi untungnya sudah dipelototi oleh Senna, mereka jadi berpikir bahwa Ichigo mungkin datang dengan kekasih! Itu bagus! Walau bukan kekasih betulan.

"Tidak. Hanya beberapa gadis yang tiba-tiba terpesona melihatmu." Kata Senna.

Ichigo menoleh kebelakang dan melihat beberapa gadis yang duduk tak jauh dari meja mereka mulai melambai-lambai tak karuan dan tersenyum lebar pada Ichigo. Senna mulai kesal. Dasar gadis kegatalan!

"Jangan hiraukan. Gadis remaja memang begitu." Kata Ichigo santai sambil mengaduk capuccino-nya.

"Lalu... kau sendiri bagaimana? Kau juga laki-laki remaja'kan? Memang tidak tertarik dengan salah satu dari gadis-gadis itu?" pancing Senna.

"Aku tidak tertarik dengan orang yang tidak kukenal." Jawab Ichigo singkat. Dalam hati, Senna ingin berujar 'YES' keras-keras. Artinya... Ichigo bukan laki-laki mata keranjang yang jelalatan melihat wanita yang tidak sengaja bertemu di jalan.

"Lalu? Bagaimana dengan Inoue Orihime? Dia'kan selalu datang ke kelasmu akhir-akhir ini. Ditambah lagi, kau kenal padanya. Dan dia... gadis populer." Lagi-lagi Senna memancingnya. Ini adalah pertanyaan yang wajib Senna lancarkan sebelum dia menembak sasaran. Istilahnya pemanasan!

"Inoue? Kenapa dengan dia? Dia Cuma mengantarkan makanan padaku. Kami hanya berteman." Jelas Ichigo.

"Tapi'kan orang lain mungkin salah paham pada kalian. Kau tidak tahu kalau gosip beredar kau mungkin menyukai Orihime? Dan mereka bilang Orihime tipe-mu ya?"

"Hah? Siapa yang bilang begitu?"

"Keigo!"

"Sialan itu! Aku tidak tertarik dengan gadis populer. Inoue Cuma teman. Dan tetap seperti itu. Kurasa dia memikirkan hal yang sama." Jawab Ichigo. Senna menggeleng pelan. Ini tidak bagus. Meski dia bilang tidak tertarik pada gadis populer, tapi akhirannya Ichigo bilang Orihime tidak memikirkan itu. Itukan insting laki-lakinya yang bilang!

"Itukan pikiranmu. Bagaimana kalau suatu saat tiba-tiba Inoue mengatakan suka padamu? Kau'kan laki-laki populer..."

"Hubungan kami tetap teman. Aku mengenalnya sebagai teman. Tidak lebih. Bagiku sulit mengenal orang yang sudah seperti teman untuk jadi kekasih."

Jawaban terakhir membuat Senna ragu. Sulit mengenal orang yang sudah seperti teman jadi kekasih? Lalu... bagaimana dengan Senna sendiri? Ichigo menganggap Senna teman'kan?

"Lalu... bagaimana denganku?" tanya Senna perlahan sambil menundukkan kepalanya. Senna memandangi es krim yang perlahan meleleh itu. Senna tak tahu apa reaksi Ichigo. Tapi dia jadi takut memandanginya.

"Apa?"

"Bagaimana denganku? Kalau aku... juga menyukaimu?" kata Senna langsung. Walaupun... sepertinya Senna sudah tahu jawaban.

Sedangkan Ichigo sendiri terdiam mendengar gadis itu mengatakan kalimat terakhir. Jika awalnya dia menanyakan soal Inoue, Ichigo akan menjawabnya sesegera mungkin. Tentu saja karena memang Ichigo tidak merasakan apapun untuk Inoue. Mereka hanya teman saja. Tidak ada yang lebih. Dan tidak ada yang istimewa di antara mereka. Tapi... Senna? Ichigo tak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.

Untuk sekian saat mereka terdiam cukup lama. Senna sendiri sudah gugup dengan jawaban Ichigo.

"Senna... maafkan aku." Ujar Ichigo akhirnya.

Demi apapun yang ada. Senna tak ingin Ichigo meminta maaf padanya. Tidak ingin. Dengan ragu Senna mengangkat wajahnya dan melihat ke wajah laki-laki berambut orange yang tampan ini. Ichigo juga menunduk dan berwajah serba salah.

"Kenapa kau minta maaf?" tanya Senna.

"Aku... aku sama sekali... belum memikirkan itu. Jujur... kau memang lebih dari teman untukku. Tapi bukan sebagai gadis yang kusuka. Kau punya artian lain."

"Artian lain? Seperti apa?" tanya Senna.

"Seperti... saudara. Seperti adik."

Senna memaksakan seulas senyum. Sebagai adik. Yah... tidak buruk sebenarnya. Bahkan hubungan seperti itu jauh lebih abadi bukan? Tapi... Senna tak mungkin bisa menerima itu begitu saja. Dia sudah berjuang selama ini untuk dekat dengan Ichigo. Dan hasilnya... hanya seorang adik?

"Senna... aku..."

"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya. Bukan mengungkapkan perasaanku. Tenang saja. Aku senang kau bilang seperti adik. Hubungan seperti itu jauh lebih abadi. Kuharap... pembicaraan kita hari ini tidak mengubah sikap kita ya. Kau janji akan memperlakukanku seperti biasa'kan? Karena aku takut... kau jadi menjauhiku karena hal ini." Jelas Senna memaksakan diri untuk terlihat baik. Dia tidak mau Ichigo merasa bersalah padanya. Karena Senna sudah melihat laki-laki itu tanpa berwajah bersalah padanya.

"Tentu saja. Kita akan tetap seperti ini." Balas Ichigo sambil tersenyum.

"Kalau begitu... gadis seperti apa yang kau sukai? Maksudku... seperti apa tipe gadis yang kau sukai? Aku boleh'kan bertanya seperti ini?"

Ichigo kembali terdiam. Memang Senna tidak salah bertanya seperti itu. Tapi begitu Senna mengatakan hal itu yang terlintas pertama kali dalam benak Ichigo adalah... wajah seorang wanita mungil, berambut hitam pendek yang melotot marah padanya sambil memegang pisau. Ichigo terkejut dengan fantasinya. Astaga! Dia pasti sudah gila!

"Ichigo'kan? Sedang apa di sini?"

Ichigo mendongakkan kepalanya begitu melihat seseorang yang memanggilnya. Di pintu masuk toko es krim ini berdiri berdampingan seorang pria dan wanita dewasa. Mata Ichigo terbelalak lebar melihat 2 orang ini masuk ke dalam toko ini. Wanita itu tampak tersenyum lebar di samping pria itu. Lalu berubah datar begitu melihat Ichigo.

"Oba-chan?" kata Senna kaget melihat bibinya datang bersama pria tak dikenal. Yang dipanggilpun merasa seperti itu.

"Senna? Kau..." Rukia bingung mau bilang apa.

"Oba-chan? Dia keponakanmu Rukia?" tanya Kaien sambil menunjuk gadis berambut ungu itu. Senna langsung menunduk sopan pada Kaien.

"Ya..." jawab Rukia singkat.

"Berarti... satu sekolah dengan Ichigo ya? Seragam kalian sama. Ichigo! Kau tidak pernah bilang kau kencan dengan seorang gadis cantik. Dia pacarmu?" tebak Kaien asal.

"Hah? Nii-san!" geram Ichigo. Karena merasa Kaien sudah salah melihat artian mereka ini. Yah... begitulah...

"Loh... kalian berdua pasti habis pulang sekolah'kan? Sudah sekolah langsung kencan... benar-benar anak SMA..." goda Kaien.

Senna sudah berwajah merah karena malu. Sedangkan Ichigo tampak tak suka dengan lelucon kakaknya itu. Ditambah lagi... wanita pendek itu menatap datar pada mereka berdua.

"Nii-san sendiri! Apa yang Nii-san lakukan di sini?" tanya Ichigo. Sebenarnya... walaupun bertanya pada Kaien, tapi matanya tertuju pada Rukia. Hanya saja.. Rukia mengartikan itu dengan tatapan biasa.

"Tentu saja! Kami berkencan. Kencan orang dewasa. Iya'kan Rukia."

Baik, Senna, Ichigo maupun Rukia mendadak terkejut luar biasa.

Dan Ichigo bertambah tidak suka dengan jawaban payah itu. Mendadak dia menyesal bertanya. Ichigo merasa tidak suka kakaknya mengatakan hal itu.

Kalau begitu... gadis seperti apa yang kau sukai? Maksudku... seperti apa tipe gadis yang kau sukai?

Jika... kata gadis itu diganti menjadi wanita... apakah... Ichigo masih bisa dikatakan laki-laki normal?

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hmm... kok kayaknya pada protes ya Ichigo seneng sama tante-tante? apa saya kelewat jauh bikin beda usia mereka ya? kayaknya saya jadi author kok kejam banget ya? hahahaha... saya bingung sama diri saya sendiri. serba bingung.

ok...ok...ok...

pasti pada protes nih... mana rate-m nya?

saya juga bingung dimana rate-m nya. sebenarnya... saya pengen bikin tahapan dimana Ichigo betul-betul mikirin perasaannya sama Rukia. jadi perlu ada proses dulu. kan gak enak tuh, belum pasti sama perasaan udah masin nyosor aja. cewekkan meskipun udah tua juga butuh kepastian. nggak membabibuta gitu juga... hohohoho saya banyak denger dari pengalaman orang. kalo cewek udah ada kepastian dari si cowok, apapun deh bakal dikasih.

makanya saya fokusin dulu sama perasaan Ichigo. jadi kalo dia udah yakin, tinggal dianya gimana caranya ngerayu Rukia-nya biar mau... *ngapain?*

oh, ya, kayaknya kebanyakan senpai belum paham ya sama cerita Ichigo dan Kaien? dari sudut pandang Rukia, mereka itu punya marga yang sama karena Ichigo manggil Kaien Nii-san. terus, Kaien bilang, Ichigo itu emang adiknya sama Rukia. jadi... sebenernya Rukia sampe sekarang belum tahu kalo Ichigo itu Kurosaki. ckckck... kasian ya... makanya Rukia masih menganggap Ichigo itu biasa aja. gak ada sangkutpautnya sama urusan balas dendamnya. dan tambahan, Rukia juga gak tahu kalo Kaien ada hubungan sama Kurosaki. jadi tambah lagi deh bingungnya. hohoho. intinya... Rukia sampe chap ini belum tahu kalo Ichigo sama Kaien punya hubungan sama Kurosaki. gituloh...

terus saya juga agak bingung pas bagian gimana caranya Rukia nolak deket lagi sama Presdirnya tapi Presdirnya mulai penasaran siapa Rukia. saya kesulitan banget nemuin momen yang pas.

ok. cukup galaunya kita balas review dulu... kasian pada nungguin tuh... wkwkwk

FYLIN-chan : makasih udah review... hmm... ayahnya Ichigo ngamilin kakaknya Rukia. jadi Rukianya dendam soalnya kakaknya ninggal gara-gara itu. hehehe cukup jelas gak senpai? hehheheehe

Zanpaku nee : makasih udah review senpai. hmm... senpai... Rukia'kan gak tahu kalo Ichigo itu Kurosaki. dipikirknya sama kayak Kaien. marganya senpai. soalnya Kaien bilang Ichigo tuh adiknya gitu loh... hohoho. kalo Rukia tahu, entah apa jadinya... hehehehe iya senpai. mesti review terus loh... hhohoho

Dewi Anggara Manis : makasih udah review.. haduh... senpai... Ichigo tuh... gimana ya. dibilang tertarik ama tante-tante tapi kenyataan emang begitu... hmm... tapi gak semua tante kok. cuma Rukia doang senpai... hehehe

Lhyn hatake : makasih udah review senpai. makasih udah setuju ama perbedaan umur yang kelewat jauh ini. hehehe bener kok. Senna tuh anaknya Isshin. gak mirip tapi ya? hehehe namanya aja minjem chara... susah banget nyari yang mirip. hehehe

nenk rukiakate : makasih nenk udah review... hehehe sweet banget ya? gimana chap kali ini? hohohoho aee saya tuh suka semua adegan dimana cowoknya usaha mati-matian biar deketin ceweknya. sampe ikutan miris sendiri pas ceweknya gak mau nerima perasaan tulus cowok itu... hiks...

ichigo4rukia : makasih udah review. oh ya, baru sadar pas udah dipublish. hhoohoho iya emang bener. Byakuya udah tahu Hisana hamil. tuh dia nerima Senna buktinya. nah... kalo itu saya juga ragu, gimana perasaan Ichigo nanti kalo dia tahu yang sebenernya. sejujurnya kisah ini rumit. tapi saya berharap gak kayak sinetron banget. hohoho

snow : makasih udah review... hehe makasih udah seneng sama ceritanya... gimana chap kali ini?

Purple and Blue : makasih udah review... hehehe iya sengaja cepet soalnya ada kesempatan nih. mumpung internet lancar... hehehe

Voidy : makasih udah review senpai! yey! senpai udah bilang bagus nih chap. saya seneng banget sampe mau loncat dari monas deh... heheheeh ternyata kalo nulisnya dari ati gitu ya tanggapannya heheheh... kalo chap ini gimana senpai? saya masih ragu mau bilang ini bagus. tapi mudah-mudahn udah cukup... senpai... saya udah dikasih tahu alamat FB senpai. tapi saya gak tahu punya senpai yang mana. jadi belum saya add. bisa kasih tahu senpai pake foto apa?

noname : makasih udah review..

o : makasih udah review...

hoshichan : makasih udah review... hehehe

Yosh!

ok deh... yang udah review, yang udah baca, tanggungjawab buat reviewnya yaa... saya sedih kalo senpai cuma liat doang. paling nggak review dong... biar saya tambah percaya diri melanjutkan cerita ini. bagi seorang author geblek seperti saya, satu review dari senpai semua adalah penyemangat jiwa dan raga saya *lebai* hehehehe

silahkan review apa mau ada kelanjutan atau nggak fic ini...

Jaa Nee!