Chapter Four

Pengorbanan

"Tidak banyak," jawab Temari getir. "Aku mengandung anak iblis."

"Apa maksudmu?" tanya Shikamaru bingung.

"Lihat ini," kata Temari. Dia melepaskan sarung tangan kirinya. Shikamaru terbelalak. Tangan Temari yang putih kini penuh carut-marut kebiruan. Beberapa luka sayatan yang masih baru mengeluarkan cairan kental berwarna hitam.

"Kenapa tanganmu, Temari?!"

"Ini semua karena gigitan vampir itu," Temari menghela napas. "Racunnya telah mencemari darahku dan menumbuhkan semacam janin di tangan kiriku."

"Janin?"

"Janin-janin, sebenarnya. Dan mereka hidup. Terus berkembang biak," sambung Temari masam. "Aku baru mengetahuinya beberapa minggu lalu. Dan menurut para ahli ini berbahaya. Janin-janin itu bisa membunuhku walaupun mereka berukuran amat sangat kecil."

"Temari... ma-maaf..." Shikamaru bergumam pelan.

"Tidak apa-apa," sela Temari. "Para ahli sudah menemukan obatnya. Yang perlu kulakukan hanyalah mengeluarkan janin-janin beserta darah itu lewat sayatan yang kubuat. Setelah itu mereka disucikan Gaara sehingga warnanya berubah menjadi bening. Lalu... kuminum."

Shikamaru merasa mual. Kenapa Temari harus meminum darahnya sendiri karena kepengecutan yang telah diperbuatnya bertahun-tahun lalu?

"Tunggu, Temari," kata Shikamaru pura-pura tegar. "Kenapa kau menyebutnya janin? Kenapa bukan bakteri atau kuman? Bukankah sama-sama hidup dan berkembang biak?"

"Yang ini lain. Makhluk-makhluk di tanganku ini juga bisa bernapas, bertambah besar. Entah bagaimana keadaannya nanti..."

Sejenak mereka terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Shikamaru merasakan penyesalan yang luar biasa. Mengapa dia harus membuat perempuan yang sangat dicintainya ini menderita? Harusnya dia yang menanggung semua rasa sakit Temari itu!

Temari merasa matanya memanas. Tapi dia tidak boleh menangis! Perlahan dia memakai lagi sarung tangan kirinya. Dia lalu diam-diam memerhatikan Shikamaru. Shikamaru tampak sangat terguncang. Matanya terpaku pada tanah di bawahnya. Keningnya berkerut, matanya terpejam. Temari menghela napas.

Warung dango itu semakin sepi. Hanya tinggal mereka yang duduk di sana. Pemilik warung bersiap akan menutup toko. Di kejauhan, burung-burung memekik nyaring, terbang bebas. Langit mulai memerah, lalu gelap. Malam sudah tiba.

"Maaf," pemilik warung mencolek bahu Temari, "warung ini akan saya tutup."

"Oh, baiklah. Kami akan pergi." Temari bangkit sambil merapikan kimononya. Tapi Shikamaru tetap duduk mematung, diam.

"Shikamaru," panggil Temari lembut, "ayo pulang."

Shikamaru mendongak. Matanya beradu dengan sepasang mata Temari yang berkaca-kaca. Dia lalu bangkit berdiri dan menggandeng tangan Temari. Dan mereka pun berjalan berdua, beriringan, tanpa sepatah kata pun yang terucap.

***

"Kau ini kenapa, Shikamaru?!" bentak Yoshino. "Dari tadi mengobrak-abrik lemari ayahmu saja..."

Shikamaru tidak menghiraukan ibunya. Dia sibuk membuka-buka lemari buku milik ayahnya, mencoba mencari informasi tentang penyakit yang diderita Temari. Tapi sejauh ini hasilnya nihil. Padahal lemari ini penuh dengan buku. Bermacam-macam buku tentang ilmu pengetahuan ninja. Tapi tidak satupun yang menyebut-nyebut tentang vampir.

"Hei! Hati-hati!" teriak Yoshino ketika setumpuk buku jatuh dari laci teratas, menimpa Shikamaru.

Shikamaru menyumpah-nyumpah, rambutnya penuh dengan debu, sementara ibunya mengomel-ngomel. Yang terjatuh tadi ternyata adalah... kumpulan buku porno. Shikamaru terperanjat. Dia mengembalikan semua dengan cepat-cepat sebelum ibunya tahu. Tapi terlambat.

"Apa itu?" tanya Yoshino dingin. Dia merampas buku porno itu dari tangan Shikamaru. "Shikaku... berani-beraninya kau!"

Shikamaru menghela napas. Saat keluar dari rumah dia masih bisa mendengar suara ibunya yang mengamuk memarahi ayahnya. Shikamaru menendang-nendang kerikil di jalan dengan kesal. Ayahnya jelas tidak memiliki buku berisi informasi yang dibutuhkannya sekarang. Padahal dia harus segera menemukan cara untuk menyelamatkan Temari!

Setelah beberapa lama akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan Konoha. Ketika masuk ke sana, dia berdecak kagum. Selalu begitu. Buku-buku di perpustakaan ini banyak sekali, bertumpuk-tumpuk, tampak jauh lebih banyak dari waktu terakhir kali dia ke sini.

Shikamaru berjalan tergesa-gesa ke bagian pengobatan. Dia menelusuri rak-rak buku yang berdebu. Banyak sekali buku di bagian ini... Pengobatan Ninja, Kiat untuk Mengobati Luka Sehabis Bertarung, Penyakit-penyakit Kuno dan Cara Menyembuhkannya...

Shikamaru mengambil setumpuk buku tentang pengobatan. Dia lalu duduk di kursi dekat jendela dan mulai membenamkan diri di antara buku-buku itu. Perpustakaan ini sunyi senyap, hanya terdengar suara orang bersin sesekali saking banyaknya debu di sini. Shikamaru membaca dengan tekun.

"ru... Shikamaru?"

Shikamaru mendongak dengan kaget. Temari berdiri di depannya, tersenyum.

"Temari? Sedang apa kau di sini?" tanya Shikamaru.

"Aku mencarimu," kata Temari. Dia lalu duduk di samping Shikamaru. "Aku ingin mengatakan sesuatu... kurasa... kau tidak perlu khawatir lagi, Shikamaru."

"Apa maksudmu?"

"Kau tidak perlu repot-repot mencari pengobatan untukku, " kata Temari sambil melirik ke tumpukan buku di meja mereka. "Karena kurasa... sudah ada pemecahannya!"

"Benarkah?!" teriak Shikamaru girang. "Apa... apa itu?"

"Aku tidak bisa menceritakannya padamu sekarang," kata Temari. "Kejutan. Beberapa hari lagi aku akan menemuimu dan aku pasti sudah sehat..."

Shikamaru tersenyum lebar. Dia lalu mengajak Temari meninggalkan perpustakaan itu. Dia menggiring Temari ke restoran yakiniku, dan mereka berpesta di sana. Shikamaru tampak sangat girang. Temari juga ikut tertawa-tawa. Tapi seulas senyum sedih sekilas tampak di wajahnya...

***

Shikamaru berbaring di atas atap sebuah gedung, matanya terpejam. Dia bisa merasakan angin berdesir di telinganya, daun-daun kering berterbangan, dan keributan orang-orang di bawahnya. Dia merasa sangat damai saat itu. Dan sangat senang. Temari memberitahunya kemarin bahwa dia akan menemuinya di sini. Shikamaru tidak sabar lagi. Sudah seminggu dia tidak melihat Temari, dan dia merindukannya. Beberapa hari ini benaknya terus bertanya-tanya, sudah sehatkan Temari? Bagaimana pengobatannya?

Tak lama kemudian Shikamaru mendengar langkah-langkah kaki menaiki tangga. Dia langsung membuka mata. Dan benar saja, Temari muncul dari ujung tangga dengan kedua tangan di belakang punggung. Shikamaru langsung bangkit berdiri dan menghampirinya dengan girang.

"Bagaimana, Temari?" tanyanya.

"Aku... aku baik-baik saja," jawab Temari dengan suara serak. "Kata Gaara janin-janin itu sudah sangat membahayakanku, tapi dia akhirnya menemukan cara untuk membasmi mereka selamanya..."

Dan perlahan, sangat perlahan, Temari menjulurkan kedua tangannya yang selama ini tersembunyi di balik punggung.

Shikamaru terbelalak.

Tangan kiri Temari telah dipotong sampai sebatas siku.

The End


Mohon maaf kalau selama ini saia menghilang dari fanfiction. Beberapa fanfic saia, termasuk yang ini, udah hiatus sejak lama. Soalnya saia dilanda mood bosen-nulis-fanfic-otakku-kehabisan-ide-nih. Tapi makasih banget buat yang udah ngasih review ke fanfic ini! Luph you all...

Tapi belakangan ini saia udah semangat lagi nulis fanfic. Tapi karna udah menggantung terlalu lama, ni fanfic terpaksa saia tamatin di chapter ini. Mohon maaf sekali lagi... tapi saia bakal seneng banget kalau masih ada yang mau review :D