Hallo Minna~san.

ChiyaSakura kembali lagi~ (perasaan ngga ada yang ngarep). Akhirnya saya bisa update juga ini cerita setelah sekian lama sibuk sendiri.

Sebenarnya saya cuma nunggu ide dan akhirnya ide ini muncul juga.. Walaupun kalian mungkin agak bingung baca chap ini. Isinya FLASHBACK SEMUA.

Dan saya masukin nama chara lain yang menurut saya masih ada hubungannya dengan chara di sini. (menurut saya lho ya) hehe..

Semoga suka dan jangan lupa review-kritik-saran kalian ya. I need that especially 'saran' .

THANKYOU untuk semua support dari senpai2 di sini. Baca balasan reviewku ya.

HAPPY READ..


'My Memories'

Sengoku Basara Fanfiction

Rate : T

Genres : Romance/Angst/Tragedy (many more)

This story set in modern time.

NOTE : ISI CERITA KHUSUS CHAPTER INI ADALAH (FLASHBACK)


Chapter 4


OUT OF OICHI POV

Nobunaga turun dari mobil hitamnya dan berjalan menuju ke sebuah rumah. Kemudian tangannya mengetuk pintu itu dengan cukup keras. Tak berapa lama muncul seorang wanita dari dalam yang memakai celemek di luar dress bunga-bunganya. Wanita berambut lurus dan hitam mengilat itu tampak sedikit terkejut.

"Nii-sama? Tidak biasanya kemari tanpa mengabari Ichi dulu." ucap Oichi sambil mengusap celemeknya.

Nobunaga tersenyum lebar. "Memangnya aku tidak boleh kemari kalau tidak ijin?"

"Bukan begitu.. Maksud Ichi-"

"Sudahlah. Apa Nagamasa ada di dalam?" tanya Nobunaga sambil mengintip ke dalam.

Oichi mengangguk. "Iya. Nagamasa-sama sedang libur kerja. Silahkan masuk.."

Nobunaga mengikuti Oichi masuk ke ruang tamu dan melihat Nagamasa sedang duduk di sofa sambil membaca koran.

"A-Ani ja!" seru Nagamasa sambil melonjak berdiri dan meletakkan korannya. "Tumben sekali." sambung Nagamasa.

Nobunaga duduk di atas sofa dan menyuruh Nagamasa untuk kembali duduk di sofa. Oichi hanya berdiri di dekat sofa dengan menggenggam kedua tangannya sendiri. Perasaannya sedikit tidak enak. Entah mengapa.

Nobunaga berdehem. "Oichi,kenapa mematung begitu? Duduk saja."

"Eh- Ichi.. Ichi mau melanjutkan menyiapkan sarapan sebentar.. Nii-sama dan Nagamasa-sama mengobrol saja dulu." ucap Oichi lalu melangkah ke dapur menyelesaikan masaknya.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Nobunaga kepada adik iparnya. Nagamasa mengangguk dan menatap lekat-lekat kepada Nobunaga.

"Baguslah. Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu,Nagamasa." suara berat Nobunaga bergema di ruang tamu yang luas tersebut.

"A-apa Ani-ja?"

"Kudengar kau sekarang menjadi asisten manager diperusahaan yang di pegang Yoshiteru. Apa itu benar?"

Nagamasa mengangguk pelan. Tatapannya memancarkan kebingungan.

"Dan itu merupakan kabar buruk bagiku,Nagamasa. Karena perusahaan Yoshiteru adalah saingan dari perusahaanku. Dan perusahaan itu saat ini hampir membuat kantorku bangkrut." Nobuaga menjelaskan dengan seksama.

"Benarkah Ani-ja? Aku tidak tahu sebelumnya kalau-"

"Intinya aku sangat membenci Yoshiteru serta perusahaan sialnya itu." Nobunaga memotong ucapan Nagamasa. Nagamasa melotot mendengarkan kalimat Nobunaga yang baru saja terlontar.

Nobunaga kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan Nagamasa sambil mengelus dagunya."Maka dari itu kutawari kau,Nagamasa. Maukah kau pindah saja ke perusahaanku? Bukankah bagus kalau kita satu tempat kerja huh?"

Nagamasa menunduk dan tampak berfikir keras. Tak lama kemudian sebuah jawaban terlontar dari mulutnya. "A-aku tidak bisa."

Nobunaga menoleh cepat dan melotot kepada adik iparnya. "Apa kau bilang?! Kau tidak mau membantu kakakmu sendiri dan memilih berpihak kepada orang lain?!"

"Aku tidak bisa,Ani-ja. Karena perusahaan yang di pegang Yoshiteru sekarang adalah milik keluargaku. Dan Yoshiteru sendiri adalah kakak iparku,suami dari kakak perempuanku. Aku tidak bisa karena aku sudah berjanji membantu perusahaanya. Mana mungkin aku menghianatinya begitu saja? " jawab Nagamasa.

Nobunaga tampak sangat terkejut. "Sainganku adalah kakak iparmu?!"
Nagamasa menggangguk dengan tegas. Tiba-tiba Nobunaga tertawa keras. Nagamasa hanya mengernyit tidak mengerti dengan sikap Nobunaga.

"Hahaha bodoh sekali. Ternyata adik iparku sekarang memilih menjadi sainganku. Begitu bukan?!"

"Bu-bukan begitu Ani-ja aku tidak bermaksud me-"

"Diam Nagamasa! Aku sangat kecewa sekali denganmu. Kau memilih untuk membuat bangkrut perusahaanku!"

Oichi yang mendengar keributan segera berlari ke ruang tamu.

"Nagamasa-sama ada apa?" tanya Oichi khawatir. Nagamasa hendak menjawab namun di dahului oleh Nobunaga. "Kau tahu Oichi? Suamimu baru saja memilih untuk menghianatiku!"

Oichi langsung menghampiri Nagamasa dan meremas lengan suaminya tersebut. "Nagamasa-sama ada apa sebenarnya ini?" tanyanya khawatir.

"Ichi,kujelaskan nanti saja." jawab Nagamasa yang saat itu tampak resah.

Nobunaga segera menyambar jaketnya di sofa dan menghampiri kedua adiknya.

"Pilihan yang bagus,Nagamasa. Kini kau resmi menjadi sainganku. Kau penghianat." Ujar Nobunaga sambil mengenakan jaket kulit warna hitamnya.

"A-apa?" Oichi masih kebingungan.

"Ani-ja,sudah kukatakan aku tidak bermaksud menghianatimu! Aku hanya memutuskan untuk menepati janjiku. Dan soal perusahaanmu,aku akan membantu apapun yang bisa kulakukan!" jawab Nagamasa tegas. Kini ia mulai tersulut emosi oleh kalimat kasar yang di keluarkan oleh kakak iparnya itu.

"Tidak perlu. Aku tidak butuh bantuanmu! Tidak ada gunanya aku berada di sini." Nobunaga berlalu cepat dan keluar dari rumah. Oichi mengejar kakaknya keluar dan menarik lengan kakaknya.

"Nii-sama.. Berhenti. Ada apa?Kita selesaikan baik-baik.."

Nobunaga menepis tangan adiknya dengan kasar. "Lepaskan aku!" bentak Nobunaga kemudian masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu meraung sebentar lalu meninggalkan Oichi yang masih memanggil-manggil kakaknya.

Oichi yang kewalahan kemudian masuk ke dalam rumah dan menemui suaminya yang duduk di sofa sambil meremas pelipisnya. Oichi duduk di dekat Nagamasa dan mengelus pundaknya pelan.

"Nagamasa-sama.. Apa yang terjadi?Kenapa Nii-sama sangat marah?"

"Dia memaksaku pindah ke perusahaannya dan membantunya,Ichi. Dia memintaku bekerja di sana agar bisa bersaing dengan Yoshiteru."

Oichi melongo. "Ber-bersaing?"

"Ya. Kakakmu adalah saingan kakak iparku sendiri. Bukankah itu konyol?!"

"Lalu..?"
"Kau tahu aku sudah berjanji pada Yoshiteru untuk bekerja sebagai asisten managernya dengan baik. Aku tidak mungkin tiba-tiba pindah kepada kakakmu. Aku akan dianggap penghianat juga oleh keluargaku."jawab Nagamasa.

Oichi hanya menunduk. Ia bisa mengerti keadaan suaminya itu.

"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?" ucap Nagamasa sambil memegang kepalanya yang berdenyut.

"Sudahlah Nagamasa-sama.. Jangan terlalu di pikirkan. Kita cari solusinya bersama-sama." jawab Oichi dengan lembut.

Nagamasa menelan ludah. Ia hanya memangut-mangut. "Ya,Ichi."


OICHI POV

Aku sedang mencuci piring di sebuah wastafel ketika telepon rumah berdering dengan nyaring. Aku membersihkan tangan cepat-cepat kemudian mengangkat telepon itu. Sebuah suara berat terdengar dari seberang. Suara Nii-sama!

"Nii-sama.. Apa kabar?" sapaku agak canggung dengan semua yang terjadi dua hari yang lalu. Nii-sama benar-benar marah saat Nagamasa menolak untuk bergabung di perusahaanya yang hampir bangkrut.

"Baik. Bagaimana denganmu?" suara Nii-sama terdengar halus. Kurasa amarahnya sudah mereda.

"Ichi juga baik-baik saja Nii-sama.."

"Nagamasa ada?Aku ingin bicara dengannya."

Aku menelan ludah. "Nagamasa-sama belum pulang kerja,Nii-sama."

"Yasudah,Kalau begitu aku bicara denganmu saja. Dengar,aku minta maaf dengan sikapku dua hari yang lalu itu. Aku terbawa emosi,Oichi. Tapi kau tahu perusahaan yang aku kelola sangat berarti bagiku,bagi keluarga kita. Kalau sampai bangkrut keluarga kita akan jatuh miskin."

Aku mendengarkan penjelasan Nii-sama di telepon sambil memainkan kabel telepon itu. Aku benar-benar bingung apa yang harus kukatakan pada kakakku. Yang pasti aku tidak boleh membuatnya marah lagi.

"Ichi mengerti,Nii-sama. Tapi.. Ichi yakin Nagamasa-sama pasti membantu perusahaan Nii-sama. Kemarin kami sempat berdiskusi,dan Nagamasa-sama bilang dia akan meminta Yoshiteru untuk berhenti bersaing dengan perusahaan Nii-sama lagi. Jadi tidak akan ada saingan lagi.."

"Begitu?" tanya Nii-sama di seberang.

"Iya. Perusahaan Nii-sama pasti baik-baik saja."

"Okelah. Sebagai permintaan maafku,aku berencana mengajak kalian ke puncak. Kita akan liburan di sana selama dua hari. Bagaimana?"

Aku mengernyit. Puncak? Selama ini Nii-sama jarang sekali mengajak pergi untuk liburan bersama. Bahkan saat aku masih tinggal bersamanya. Kami bahkan tidak pernah ke puncak sebelumnya. Dan sekarang ia mengajak kami ke puncak?Kurasa Nii-sama pasti benar-benar merasa bersalah pada kami.

"Eh Ichi sangat setuju.. Tapi Ichi harus tanya Nagamasa-sama dulu."

"Hmp. Baiklah. Telepon kembali saja jika kalian setuju. Aku cuma berusaha memperbaiki hubungan kita." Nii-sama langsung saja menutup telepon setelah berkata begitu.

Aku meletakkan gagang telepon dan memandang jendela luar. Sebuah cahaya kecil terpancar. Cahaya dari lampu mobil Nagamasa-sama. Aku langsung keluar dan menyambutnya. Nagamasa-sama keluar dari mobil dan tersenyum ke arahku.

"Kenapa wajahmu serius sekali,Ichi?" tanyanya.

"Ada yang ingin Ichi bicarakan.." Aku menggandeng Nagamasa-sama masuk ke dalam dan kami berdua duduk bersebelahan di sofa.

"Nii-sama baru saja menelepon." semburku. Nagamasa-sama menaikkan alisnya. "Hah?Lalu,apa yang dia katakan?"

"Dia meminta maaf kepada kita atas sikapnya sebelumnya dan sebagai permintaan maaf,dia mengajak kita liburan ke puncak selama dua hari." kataku dengan ceria. Entah aku sangat senang sekali.

Nagamasa-sama melempar senyum ramah. "Hmm. Syukurlah dia tidak marah lagi. Aku setuju."


xXx


Pada hari yang telah kami janjikan sebelumnya,yaitu hari sabtu pagi aku dan Nagamasa menunggu kedatangan Nii-sama di depan rumah. Sebuah tas besar terletak di depan kami. Kami sungguh tak sabar untuk ke puncak.

"Ichi,kau sudah bawa jaket kan?Pasti dingin sekali di puncak." ujarnya memastikan.

Aku mengangguk dengan senyuman. Nagamasa-sama membalas senyumanku. Aku menatap wajahnya dengan lumayan lama. Entah mengapa aku ingin menatap wajah itu terus,apakah aku takut tidak bisa melihat wajah itu lagi?Perasaan yang aneh.

"I-ichi kenapa kau menatap aku seperti itu?!"bentaknya sambil memalingkan wajahnya. Aku selalu tertawa saat Nagamasa-sama bertingkah seperti itu.

"Ah tidak apa-apa.. Hanya saja hari ini Nagamasa-sama tampan sekali." Aku tertawa kecil.

"A-apa?Konyol sekali kau ini." pipi Nagamasa-sama tampak memerah. Tak berapa lama kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan kami. Mobil Nii-sama. Nagamasa-sama mengangkat tas kami berdua dan aku melangkah cepat untuk menyambut Nii-sama.

"Letakkan saja tas kalian di bagasi." ucap Nii-sama sambil membetulkan letak jaket hitamnya.

"Baiklah." Nagamasa-sama segera memasukkan tas kami ke bagasi.

"Mana Nee-sama?" tanyaku sambil mengintip ke dalam kaca mobil kakakku.

Nii-sama berdehem. "Dia tidak ikut." Aku melongo. Kenapa tidak ikut? Aku merasa sangat kecewa. Pasti liburan ini tidak akan sempurna tanpa Nouhime gishi.

Tiba-tiba seseorang keluar dari pintu sebelah kanan mobil itu dan seorang pria berambut pendek sedagu berdiri di dekat Nii-sama. Setahuku dia adalah asisten Nii-sama di perusahaannya. Dia kerap datang ke rumah saat aku masih tinggal dengan Nii-sama,Dan kurasa.. Dia sering memandangiku lekat-lekat dan tampak gugup saat kuajak bicara.

"Nou tidak mau ikut,jadi kuajak saja dia." Ujar Nii-sama memperkenalkan pemuda di sebelahnya. "Kau ingat dia kan,Oichi?"

Nagamasa-sama memandangiku curiga.

"Iya.. Dia asisten Nii-sama kan?" jawabku.

Nii-sama mengangguk. "Ya. Namanya Katsuie. Kenalkan Nagamasa,dia asistenku."

Nagamasa-sama mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Katsuie. Katsuie membalas menjabat tangan namun ekspresinya dingin. Kemudian Nii-sama menyuruh kami semua masuk ke dalam mobil. Dan kami pun berangkat.


xXx


Malam itu kami tengah bersantap makan malam bersama di sebuah vila yang di sewa Nii-sama untuk liburan. Kami berempat saling berdiam diri untuk beberapa saat,kemudian Nagamasa-sama membuka percakapan.

"Ani-ja,pasti mahal menyewa tempat seperti ini." ucapnya basa basi.

Nii-sama terkekeh dengan suara beratnya. "Santai saja,Nagamasa. Nikmatilah selagi kita berada di sini."

Katsuie yang duduk di dekat Nii-sama hanya melirik. Dia belum menyentuh makanannya sama sekali. Hanya memainkan sendok dan garpu dengan tangannya. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.

"Jadi kamu ya suaminya Oichi.." gumam Katsuie tanpa memandang salah satu dari kami. Pandangannya terfokus pada piringnya yang berisi makanan yang masih utuh.

"Eh-Iya." jawab Nagamasa-sama dengan mengerutkan alisnya.

Mata Katsuie kali ini melirik ke arah Nagamasa-sama. "Huh.. Beruntung sekali.. Andai saja aku jadi kamu.." ucapnya dengan suara pelan. Aku sedikit terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan Katsuie.

Nagamasa-sama langsung berhenti mengunyah makanannya. "Permisi,Apa maksudmu?!"

Nii-sama tiba-tiba saja tertawa keras. Sendok di tanganku hampir saja terjatuh. Aku sering kaget dengan suara Nii-sama yang tertawa tiba-tiba. Apalagi suaranya sangat menggelegar. "HAHAHA sudahlah jangan terlalu memperdulikan perkataan Katsuie. Dia memang sering berkata aneh-aneh."

"Iya.. Aku tidak bermaksud untuk.. Ah lupakan. Silahkan makan." sahut Katsuie lalu kali ini dia mulai menyendok makanan di piringnya. Sikapnya sangat aneh. Nii-sama juga. Nii-sama terlihat sangat ceria namun tampak di paksakan. Perasaanku jadi tidak enak.

Setelah selesai makan malam bersama aku dan Nagamasa-sama berdiri di sebuah balkon. Kami memandangi hutan dengan pepohonan lebat yang mengelilingi vila ini.

"Kakakmu pasti menghabiskan banyak uang untuk semua ini. Aku jadi tidak enak." Ujar Nagamasa-sama sambil menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya untuk menghangatkan diri. Aku mengikuti apa yang dia lakukan karena aku juga agak kedinginan. Padahal aku sudah memakai jaket tebalku.

"Nii-sama sungguh baik sekali." jawabku sambil memberikan senyuman pada suamiku. "Sayang sekali Nee-sama tidak ikut juga." tambahku.

Nagamasa-sama memangut-mangut. "Benar. Sejujurnya aku kurang suka sama Katsuie. Maksudku,kenapa dia melontarkan kalimat seperti itu tadi. Dia dekat denganmu ya?"

Aku menangkap mimik cemburu di wajah Nagamasa-sama. "Tidak.. Dia hanya sering datang kerumah karena ada urusan dengan Nii-sama.."

"Oh begitu. Baiklah kalau begitu."

"Nagamasa-sama.. Marah ya?" candaku.

"Ugh. Tidak."

"Benarkah..?" Aku menggandeng lengannya. Kutatap wajahnya sambil tersenyum.

"Kan aku sudah bilang tidak. Tidak ya tidak."

"Umm.. Maaf Ichi membuatmu kesal." sesalku. Kurasa bercandaku mulai kelewatan.

"Aku tidak marah atau kesal,Ichi. Lebih baik kau tidur. Sudah malam." ujarnya sambil mengelus rambutku.

Kemudian pintu kamar kami dibuka. Kami serentak menoleh dan melihat Nii-sama masuk bersama Katsuie.

"Aku berencana mengajak kalian untuk menikmati api unggun bersama di luar." ajak Nii-sama. Kastuie hanya mematung di dekatnya. Aku saling pandang dengan Nagamasa-sama.

"Eh-Apa tidak terlalu malam? Dan kurasa Ichi juga sudah mengan-"kalimat Nagamasa-sama terpotong oleh ucapan Nii-sama.

"Oh. Ayolah. Mumpung kita berada di sini,pasti kalian menyesal menolak ajakanku ini. Bagaimana?" jujur saja ini pertama kalinya aku melihat Nii-sama setengah memohon seperti itu.

Nagamasa-sama menggaruk kepalanya. "Hmm okelah. Bagaimana Ichi?"

"Ichi menurut saja.." jawabku.

"Tapi kita belum punya kayu untuk api unggun. Jadi kita harus mencarinya terlebih dahulu di hutan." kata Nii-sama menunjukan senter yang sudah ia bawa dan tas hitam entah apa isinya.

Nagamasa-sama menaikkan alisnya. "Di hutan? Malam begini? Tapi aku khawatir dengan Ichi kalau kita pergi ke hutan melam-malam begini."

"Tenang saja. Oichi memang tidak seharusnya ikut. Dia menunggu saja di vila sebentar. Kita akan segera kembali setelah mendapatkan beberapa kayu." jawab Nii-sama sambil melempar senyuman padaku.

"Ichi.. Sendirian di sini? Eh Ichi ikut saja dengan Nagamasa-sama.." pintaku pada mereka.

"Sudahlah Oichi. Di hutan sangat dingin dan banyak serangga. Kau di sini saja sebentar. Kau tidak akan membiarkan istrimu kedinginan di hutan kan,Nagamasa?" Nii-sama bertanya dengan serius.

"Tentu saja tidak! Ichi,kau di sini saja sebentar. Kami akan segera kembali." perintah Nagamasa-sama.

Aku hanya cemberut. Entah kenapa jantungku berdegup kencang. Rasa khawatir mulai memenuhi diriku.

"Bagus. Kalau begitu ayo berangkat." Nii-sama melangkah duluan dari kamar kami. Katsuie juga ikut dengan Nii-sama.

Nagamasa-sama mulai melangkah namun aku menarik lengannya.

"Nagamasa-sama segera kembali kan?" tanyaku khawatir.

"Iya,Ichi. Aku janji akan segera kembali." Jawabnya sambil tersenyum.

"Jan.. Janji?" tanyaku lagi. Entah kenapa aku seakan tidak rela melepaskan tangaku dari lengannya. Berat sekali membiarkannya pergi walaupun dia berjanji akan segera kembali.

"Janji." Jawab Nagamasa-sama lalu ia memelukku sebentar mengecup dahiku. Kemudian ia melangkah keluar bersama Nii-sama dan Katsuie.


xXx


Kurasa sudah hampir setengah jam aku mondar-mandir dengan resah. Kenapa mereka bertiga belum juga kembali? Aku sangat khawatir. Kumohon cepatlah kembali,batinku. Aku berlari menuju pintu utama dan melihat dalam kegelapan malam. Tidak ada tanda-tanda seseorang muncul.

Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan mereka? Pikirku panik. Aku tidak tahan lagi. Aku segera mencari ponselku untuk menerangi jalan dan kuputuskan mencari mereka dengan masuk ke dalam hutan.

Sudah beberapa meter aku melangkah sambil memandang sana-sini namun tidak ada tanda-tanda cahaya senter.

"Nagamasa-sama?" panggilku dalam keheningan malam.

"Kalian dimana?" jeritku.

Hening. Langkahku mulai gontai namun aku tetap melangkah terus. Dan kemudian..

DOR!

Aku melonjak. Suara itu bergema di tengah hutan. Suara apa itu? Tembakan? Pikirku panik. Aku segera berlari menuju sumber suara yang kelihatannya tidak jauh dari tempatku. Aku tidak peduli dengan ranting-ranting tajam yang menggores kakiku. Aku terus berlari terengah-engah.

Dan aku sampai ketempat itu. Aku melihat mereka bertiga. Aku melihat tertelungkup di tanah dengan wajah menoleh ke samping. Cahaya rembulan memberi sedikit penerangan. Dan kini kulihat cairan warna merah merembes keluar dari kepalanya. Darah?

Tubuhku mulai bergetar.

Nii-sama berdiri di sampingnya. Sebuah pistol ia genggam di tangannya erat-erat dan berkata. "Akhirnya berhasil,Katsuie. Kita harus buang mayatnya supaya tidak ada yang menemukannya. Lalu kita bilang kepada orang-orang kalau Nagamasa jatuh ke jurang dan tidak pernah di temukan."

Kini aku mulai menyadari semuanya. Tubuhku bergetar hebat seakan hendak ambruk. Nafasku sesak. Sangat sesak.

"NAGAMASA-SAMA!" jertiku frustasi.

Nii-sama terkejut dengan kedatanganku dan menjatuhkan pistolnya. Katsuie melotot ketika menyadari kedatanganku.

"O-OICHI!" seru Katsuie panik.

Entah dengan kekuatan apa aku menyerang Nii-sama dan memukul mukulnya. Air mata mengalir deras dari kedua pelupuk mataku. "KAU JAHAT! KAU JAHATT!" jeritku frustasi sambil mencakar-cakar kakakku sendiri. Katsuie menangkapku dari belakang berusaha melepaskanku dari Nii-sama namun aku memukul wajah Katsuie sekeras mungkin.

Katsuie ambruk dan mengaduh. Kemudian dengan masih mengerang dan menangis ku dekati tubuh Nagamasa-sama yang tidak bergerak. Aku membalik tubuhnya dan mengelus wajahnya yang penuh dengan darah. Nii-sama telah menembaknya tepat ke dahinya. Aku memeluknya sambil terisak keras.

"Nagamasa-sama… Nagamasa-sama…" bisikku pelan dengan air mata yang berjatuhan.

"Apa yang harus kita lakukan?" kudengar suara Katsuie.

"Diam Katsuie! Oichi! Ayo kita pulang sekarang! Kau tahu ini yang terbaik. Nagamasa tidak baik untukmu! Dia menghianatiku! Oichi kau dengar aku!?" Nii-sama membentakku.

Namun aku tetap memeluk suamiku. Suamiku yang sangat aku cintai. Dan dia telah pergi..

"Nagamasa-sama.. Jangan pergi.. Nagamasa-sama.." aku tetap bergumam sambil menyeka darah dari wajahnya. Air mataku memenuhi wajahku yang basah. Hatiku sangat sakit. Batinku sakit. Semuanya terasa sakit dan hancur.

"Katsuie,kau urus mayat Nagamasa! Aku akan urus adikku yang bodoh." Suara Nii-sama kembali menggelegar.

"B-b-baiklah.."

Nii-sama mulai menarikku menjauh dari mayat suamiku. Aku berteriak dan meronta-ronta sekuat tenagaku. Kemudian Nii-sama membekapku dengan sapu tangan yang berbau aneh dan memusingkan. Dan aku hilang kesadaran.

Entah berapa lama aku pingsan. Tiba-tiba aku sudah terbangun di dalam mobil Nii-sama. Nii-sama tengah menyetir dan Katsuie duduk di samping kemudi.

"Nobunaga-sama.. Bagaimana kalau perbuatan kita diketahui polisi?" tanya Katsuie dengan suara bergetar takut.

"Kau sudah membuang mayatnya kan?!"

"Be-benar.."

"Bagus. Setelah ini akan kuurus Oichi. Aku pikirkan dulu apa yang harus kulakukan untuk membungkam mulutnya."

Kemudian aku teringat. Nagamasa-sama telah mati. Dia telah di bunuh.. Oleh kakakku sendiri. Orang yang kucintai telah pergi.. Tidak. Ini semua salahku. Aku tidak bisa hidup tanpa dia. Aku tidak bisa hidup tanpa Nagamasa-sama!

"Ichi.. Ichi akan menemani Nagamasa-sama.." bisikku pelan dengan tatapan kosong.

Nii-sama dan Katsuie serentak menoleh ke belakang kemudi ketika mendengar suaraku.

Katsuie berkata panik. "Oichi.. Kau sudah sadar!Oichi percayalah.. Kami melakukan hal ini untuk kebaikanmu karena-"

Aku membuka pintu mobil yang tengah melaju kencang itu. "Ichi.. Ichi akan menyusul Nagamasa-sama.." aku tertawa pelan. Pikiranku mulai kacau.

"Tidak! Oichi jangan lakukan itu!" seru Katsuie sambil berusaha menjangkau diriku.

Nii-sama berusaha mengerem mobil yang melaju kencang itu. Namun terlambat. Aku sudah menjatuhkan diriku dari mobil itu. Tubuhku jatuh dengan keras ke jalanan dan terbalik-balik. Rasa sakit memenuhi sekujur bagian dari diriku. Dan kepalaku terhantam dengan keras. Aku kehilangan kesadaran. Aku yakin aku telah mati. Namun aku salah.. Aku tidak berhasil menyusul suamiku. Aku justru terbangun dengan pikiran yang masih kosong.

Aku amnesia.

Dan Nii-sama menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan hidupku.

Dan itulah segalanya yang telah aku ingat kembali.


A/N :

The next is the last chapter!

*Ani-ja : panggilan Nagamasa kepada Nobunaga. Saat itu pas denger di story mode.(entah salah atau bener) X.X

Terimakasih sudah membaca.

Salam

Chiyasakura


BALASAN REVIEW

Hananami Hanajima :

Iya senpai saya ini asli tanpa kloning perempuan..wkwkw(say what?) terimakasih FAV FOLL nya saya harap senpai suka chapter gaja pol ini. ^_^ TERIMAKASIH SUPPORTNYA dan btw fic senpai aku request humor boleh? (gak)

NialCoffee

Hai senpai. Trimakasih udah selalu baca dan repieww. saya harap kamu ngerti isi chapter ini karena agak ruwet.. hehe. ngakak pas si Katsu di cap dora sama hampir semua author di sini. Katsubaby~~sabar nak dont cry~~

Io-aruka

ngakak baca review 'Balapan Liar' Huahahaha. Oke. HUAHAHAHA. udah. (cukup nak cukup). dan ada lagi.. saya ngokngoks (baca ngakak juga ya) pas baca AMAN. STERIL. Masa Allah senpai.. itu mah susu murni nasional (ngomong apa iki) NGAIAHAHAHAHAHA. terimasih buat saran dan masukannya. semoga di chap ini saya dikit bikin kesalahan di tanda koma-pisah-koma-pisah (putus nyambung dek?). Thankyou senpai..

Shakazaki-Rikou

Hallo senpai.. masih bersama Thanatos? (hushh). Thankyou always repiew senpai dan saya liat SENBASA SCHOOL LIVE makin kompor ghasss.. lanjot ya senpaii.. salam kompor gas(btw itu bahasa indro warkop kan?)