Universe

02. Vega

(n) bintang paling terang di rasi bintang Lyra, dan bintang paling terang kelima di langit malam

...


Sabtu siang, dan waktu itu Sehun memiliki banyak waktu luang untuk menemani Luhan memeriksakan kandungannya ke dokter. Baginya, pengalaman yang tidak sempat ia dapatkan saat Luhan mengandung Haowen itu terasa menyenangkan. Sehun bisa melihat bagaimana bayi yang sedang dikandung Luhan bergerak-gerak melalui layar monitor USG. Matanya selalu berbinar-binar saat memperhatikan bayinya. Sementara itu, Luhan yang juga mengamati perubahan ekspresi Sehun tiap lelaki itu menemaninya melakukan pemeriksaan rutin kehamilan, jadi tidak bisa menahan senyum lebar. Terkadang Sehun juga kekanakan meskipun lelaki itu lebih sering membantah ketika Luhan menggodanya dengan berkata, "Kau persis seperti anak kecil, bayi besarku."

"Sejauh ini, keadaan Nyonya Oh dan bayinya baik." Jelas Dokter berkacamata itu. Sehun yang mendengarkan pun menghembuskan napas lega secara diam-diam. Ia melirik Luhan yang baru saja duduk di sebelahnya kemudian. "Semuanya baik, Tuan Oh." Lanjutnya ketika mengetahui gelagat cemas dari Sehun.

Sehun meringis kecil dan segera mengubahnya menjadi sebuah senyuman. Dokter yang pernah menangani Luhan sewaktu perempuan itu mengandung Haowen ini sepertinya mengerti bagaimana kekhawatirannya.

Setelah itu sesi tanya jawab antara Luhan dan Dokter Lee berlangsung. Sementara Sehun sibuk mengurus Haowen yang bermain-main di pangkuannya, sesekali mendengarkan dan memperhatikan betapa seriusnya Luhan saat mendengarkan penjelasan Dokter Lee. Sehun tersenyum samar melihatnya. Mungkin, kalau dulu dia ada bersama Luhan saat perempuan itu mempertanyakan hal yang sama untuk Haowen yang dikandungnya, Sehun akan lebih mengerti. Sehun jadi merasa menyesal karena waktu itu dia tidak memutuskan untuk berjuang mencari Luhan dan berusaha untuk membawanya kembali.

Selesai melakukan pemeriksaan rutin, mereka pergi dari rumah Yifan dan Yixing. Luhan yang mengajak dan merengek, alasannya karena dia ingin bertemu dengan Yixing yang juga sedang hamil. Usia kehamilan Yixing sekitar lima bulan, perempuan itu mengaku berat badannya naik belasan kilogram. Karena kabar itu, Luhan jadi tidak sabar dan ingin sekali mencubiti pipi Yixing yang sudah dipastikan akan terlihat seperti bakpao. Sementara Sehun yang sudah lelah meminta Luhan untuk tetap di rumah akhirnya menurut saja. Luhan memang keras kepala dan sepertinya Sehun harus sekali-kali menuruti Luhan.

Luhan sedang duduk di sofa, bercanda dengan Yixing yang berada di seberangnya. Sesekali Luhan akan mengawasi Haowen yang bermain-main di karpet atau terkadang fokus pada acara anak-anak yang ada di televisi. Sehun dapat mendengar obrolan serta tawa kedua perempuan tersebut dari teras rumah. Ia duduk di kursi kayu klasik bersama Yifan dengan dua cangkir kopi panas sebagai teman mengobrol.

"Kau masih bersikap posesif pada Luhan?" tanya Yifan mengalihkan topik pembicaraan.

Sehun beralih, menatap lelaki yang sempat tidak dia sukai ini, lalu menjawab, "Apa maksudmu?" dengan balik bertanya.

"Luhan sering cerita padaku kalau dia kesal karena keposesifanmu itu." Yifan justru meneruskan topik yang ia bangun sendiri tanpa ingin menjawab pertanyaan Sehun. "Jangan begitu padanya,"

Sehun menatap Yifan dengan mata menyipit. Inilah yang tidak disukai Sehun dari Yifan. Lelaki berdarah Cina-Kanada itu seolah tahu apa yang dibutuhkan Luhan maupun yang dibutuhkan Huang Zitao, mantan kekasihnya dulu.

Eh, tapi bukankah wajar-wajar saja karena Yifan lebih dulu mengenal Luhan dan Tao sebelum perempuan-perempuan itu masuk ke dalam kehidupan Sehun?

"Luhan masih sering cerita padamu?" tanya Sehun, berusaha untuk tidak terlalu memikirkan kepedulian Yifan pada Luhan sebagai masalah yang besar. Mereka ini berteman dan Sehun tahu bahwa hati Luhan hanya untuknya.

Yifan mengangguk. "Ya, masih sering." Jawabnya jujur. Ia melirik reaksi Sehun dan nyatanya lelaki berkulit putih susu itu baik-baik saja dengan jawabannya. Maka dari itu Yifan kembali berkata, "Jangan begitu pada Luhan. Luhan tidak suka urusannya diurusi orang lain."

"Aku tahu." Sahut Sehun terdengar tidak sabar. "Tapi aku bukan orang lain untuk Luhan."

Yifan mengapit dagunya dengan tiga jari, lantas berpikir. "Benar juga." Gumamnya menyetujui Sehun. "Tapi tetap saja. Jangan terlalu posesif pada Luhan, Sehun."

Kini Sehun bersedekap sembari menatap Yifan sangsi namun tidak berkata apa-apa. Jadi Yifan terus melanjutkan kalimatnya.

"Aku tahu kau cemas karena apa yang telah Luhan alami sebelumnya. Tapi sekarang ini Luhan baik-baik saja, Sehun, tidak seperti saat Luhan mengandung Haowen dulu. Aku—"

Sehun mengernyit dan segera menyela, "Luhan yang dulu, maksudnya?"

Yifan menghela napas pelan. Ia menoleh ke dalam rumahnya karena mendengar suara tawa Yixing dan Luhan. Kemudian Yifan kembali pada Sehun. Sebenarnya enggan bercerita tentang hal ini sedari dulu. Karena Yifan yakin, setelah tahu fakta ini, Sehun akan merasa lebih menyesal lagi.

"Adakah yang tidak kutahu soal kehamilan pertama Luhan?" tanya Sehun.

Yifan akhirnya memilih untuk jujur pada Sehun. "Oke, seharusnya aku bertanggung jawab secara tidak langsung karena saat itu akulah yang ada di sisinya." Sehun menyipitkan matanya kelihatan sedikit tidak suka dengan kalimat Yifan. "Tapi Luhan juga keras kepala sekali waktu itu. Dokter Lee sudah bilang kalau kondisi Luhan dan kandungannya sedang tidak baik karena Luhan stress—"

"Luhan… stress?"

"Sehun, jangan sela aku dulu." Kata Yifan jengah. Sehun melirik ke arah lain, wajahnya sudah hampir kusut. Yifan melanjutkan, "Kalau kau tanya Luhan stress, jawabannya iya, Luhan stress. Dia terlalu banyak memikirkan masalah kalian yang bahkan membuatku ikut pusing. Aku sudah bilang padanya untuk jangan terlalu memikirkan masalah itu kalau tidak mau dia dan bayinya bermasalah. Meskipun Luhan mengiyakan nasehatku, Luhan tetap juga memikirkannya. Kau tahu sendirilah bagaimana Luhan." Yifan menggidikkan bahu sekilas, memberi jeda untuk cerita selanjutnya.

Sementara Sehun, pandangannya jadi kosong, pikirannya kemana-mana. Sehun tidak bisa fokus seketika. Ia tidak menyangka bahwa Luhan terlalu memikirkan masalah mereka. Sehun pikir, dulu, dengan tidak adanya dia di sisi Luhan, maka Luhan akan lebih tenang dan tidak memikirkan masalah mereka, Luhan akan baik-baik saja dan fokus dengan bayi yang dikandungnya, pun Luhan akan tenang dan merasa bebas karena tidak adanya perjanjian konyol itu, sementara dia akan berusaha untuk menjadikan dirinya pantas bersanding dengan Luhan—Sehun menganggap dirinya seorang pecundang yang berengsek waktu itu. Maka Sehun berusaha untuk menahan diri tidak mencari Luhan lagi dan membiarkan Luhan sendiri.

Tapi nyatanya? Mereka sama-sama menderita.

"Dokter Lee juga menjelaskannya padaku, Luhan yang stress dan kondisi kandungannya yang buruk inilah membuat Luhan hampir terkena eklampsia*. Luhan stress, sulit menjaga nutrisi untuk bayi yang dikandungnya, dan aku serta Yixing hampir menyerah dengan apa yang dilakukan Luhan selama Luhan hamil; pola makannya, pola pikirnya, pola tidurnya, semuanya."

Sehun semakin tertunduk. Rasanya dia ingin berteriak sekeras-kerasnya karena penyesalan yang baru saja kembali ia rasakan. Tentang kenapa dia tidak mencari Luhan dan memperjuangkan perempuan itu. Sehun akui masalah mereka waktu itu memang rumit, dan pasti akan sulit untuk mengurainya. Apa yang mereka lakukan justru membuat benang-benang masalah itu semakin kusut. Sehun memilih untuk tidak mengejar Luhan, dan Luhan memilih untuk berbohong padanya. Mengingat Luhan berbohong padanya soal siapa ayah dari bayi yang dikandungnya saat itu, Sehun mengerti. Sehun akan melakukan hal yang sama jika ia ada di posisi Luhan. Ia juga akan melindungi calon manusia yang sedang dikandungnya saat itu.

Kalau saja Sehun tidak egois, kalau saja Sehun bisa berpikir panjang, maka tidak akan ada yang namanya perjanjian konyol itu, tidak akan ada yang namanya penyesalan.

"Maaf karena aku juga termasuk salah satu faktor yang membuat Luhan koma waktu itu."

Sehun terbangun dari lamunannya karena permintaan maaf Yifan. Ia terdiam sebentar, lalu menggeleng kecil. "Tidak apa-apa." gumamnya. Kemudian Sehun meraih cangkir kopinya, menyesap cairan hitam kental itu perlahan. Pahit.

Sepahit penyesalannya.


...


Sore itu, Luhan masih betah berada di rumah Yifan dan Yixing. Perempuan itu menolak untuk pulang dengan alasan, "Aku masih ingin di sini, Sehun." ketika Sehun mengajak pulang karena terlampau khawatir Luhan akan kecapekan. Saat itu Sehun mengiyakan dengan wajah muram. Luhan tersenyum geli melihat reaksi lelaki itu. Ia tahu Sehun sedang berusaha untuk mengalah demi membuatnya merasa bebas hari ini.

Luhan duduk di kursi kayu klasik yang ada di teras rumah, dan Sehun duduk di sebelahnya. Perempuan itu mengulas senyum dengan mata mengawasi Haowen yang bermain-main bersama Yifan di halaman rumah. Anak laki-laki yang kini hampir berusia tiga tahun itu berlari menghindari Yifan yang mengejarnya. Begitu Yifan menangkapnya, Haowen tertawa riang. Tawa anak kecil itu mengundang tawa gemas Yixing yang kemudian menghampiri Haowen dan menggendongnya. Bagi Luhan, rasanya bahagia melihat Haowen menjadi sumber kebahagiaan orang lain. Senyum yang Luhan ulas terlihat semakin lebar di wajahnya.

"Sehun," panggil Luhan pada suaminya. Ia menoleh pada Sehun, dan senyumnya perlahan luntur. Lelaki itu terlihat tenggelam dalam pikirannya. Luhan mengulum bibir, lalu menyentuh lengan Sehun sehingga lelaki itu tersentak kecil. Luhan menatapnya penuh tanya saat Sehun menoleh padanya. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.

Sehun melirik ke segala arah, kemudian menggeleng. "Ti-tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa." Jawabnya.

Bohong. Sebenarnya Sehun sedang memikirkan kondisi Luhan di masa lalu, memikirkan apa yang Yifan katakan padanya beberapa waktu yang lalu.

Luhan menyipitkan mata mendengar jawaban Sehun. "Yang benar?"

Sehun mengangguk sebagai jawaban. Luhan mendesah pelan, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia kembali memperhatikan Haowen yang bermain di halaman rumah. Anak itu sedang menendang-nendang dedaunan yang gugur di tanah dan tertawa senang.

Sementara Luhan memperhatikan Haowen, Sehun justru senang sekali memperhatikan bagaimana Luhan memperhatikan Haowen. Perempuan itu cantik di mata Sehun. Tangannya selalu refleks mengusap-usap perutnya yang membuncit. Sehun beralih ke perut Luhan, lalu tersenyum samar. Tak terasa sekitar satu bulan lagi Haowen akan memiliki adik.

"Sehun," Luhan memanggil lagi. Kali ini Sehun menatapnya dengan senyum, Luhan juga membalas senyuman suaminya dengan senyuman yang sama. "Apa kau sudah diberitahu Yifan soal Tao?"

Sehun mengernyit. Mendengar nama mantan kekasihnya dari Luhan membuat Sehun merasa bagaimana begitu. Luhan mengatakannya dengan enteng, seolah nama Tao adalah nama seseorang yang pernah berlalu-lalang di hidupnya tanpa membuat keributan apapun. Tapi dalam kenyataannya, Tao menjadi salah satu faktor yang membuat Sehun melakukan kesalahan besar di masa lalu.

Meskipun Sehun merasa tidak suka Luhan biasa-biasa saja menyebut nama Tao, Sehun berusaha untuk biasa saja. Ia menyamankan duduknya, lalu menyahut, "Yifan tidak memberitahuku apa-apa."

Luhan mengernyit, lalu beralih pada Yifan yang memandangi Haowen bersama Yixing di halaman rumah. "Hei, Yifan!"

Si pemilik nama menoleh, lalu membalas, "Apa?" sambil berjalan mendekat.

"Kau tidak memberitahu kabar Tao pada Sehun?" tanya Luhan.

Lantas Yifan menatap Sehun. Matanya mengerjap, lalu kembali lagi menatap Luhan. Kali ini ia mengulas senyum kaku. Yifan tahu kalau Sehun tidak akan mau mendengar kabar apapun tentang Huang Zitao. Jadi dia memutuskan untuk tidak memberitahu apa-apa tentang Huang Zitao pada Sehun.

Tapi Yifan tetap menjawab pertanyaan Luhan dengan jujur. "Tidak."

Luhan menghela napas, lalu beralih pada Sehun. Lelaki yang memiliki status sebagai suaminya itu terlihat memandangi teras dengan pandangan kosong. Ada yang dipikirkan lelaki itu selagi Luhan sibuk berbicara dengan Yifan tadi. Luhan jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang Sehun pikirkan sedari tadi?

"Sehun?" Luhan kembali menyadarkan Sehun dari lamunan singkatnya. Lelaki itu menatap mata Luhan, dan Luhan berusaha menelisik mata yang selalu menenggelamkannya itu. "Jangan bilang kau masih kesal pada Tao," ujar Luhan, berusaha menebak sebenarnya.

Ekspresi Sehun berubah dalam beberapa detik. Luhan dapat menangkap perubahan ekspresi itu namun Luhan hanya diam saja.

"Aku tidak kesal pada Tao," sahut Sehun sambil menggeleng. Kemudian ia mendongak, menatap sejenak Yifan yang menjadi pendengar atas perbincangan pasangan suami istri di hadapannya ini, lalu kembali lagi pada Luhan. "Aku hanya belum bisa memaafkan perbuatannya selama ini."

Luhan mengerutkan alis. Sehun jujur padanya. Tapi Luhan tahu ada hal lain yang disembunyikan Sehun darinya, entah apa itu.

"Perbuatan yang mana?" Luhan kembali bertanya.

"Oke, aku akan pergi." Yifan menyela sembari mengangkat kedua tangannya di udara tanda menyerah. Ia tidak akan mendengar perselisihan Sehun dan Luhan lebih lanjut. Ketika Luhan menatapnya penuh arti, Yifan urung beranjak dari posisinya. Ia bertanya pada perempuan itu, "Apa?"

"Tolong beri tahu pada Sehun kabar Tao yang kau kabarkan padaku lusa lalu." Kata Luhan.

Yifan menghela napas pelan. Tanpa mengatakan apa pun, lelaki itu masuk ke dalam rumah. Sehun bingung, namun ia tetap diam. Begitu Yifan datang tidak berapa lama kemudian, mata Sehun tidak lepas dari sosok Yifan. Lelaki jangkung itu meletakkan kertas tebal yang terlipat berwarna silver di meja, lalu menggesernya ke depan Sehun.

"Untukmu, dari Tao." Kemudian Yifan segera pamit dari sana demi meninggalkan ruang yang luas untuk Sehun dan Luhan berbicara.

Sehun mengernyit melihat kertas yang jelas-jelas sebuah undangan itu. Ada nama Tao dan seseorang yang tidak Sehun kenal. Pun ada namanya yang tertera sebagai penerima undangan.

Tao hendak menikah, dan perempuan itu mengundangnya.

"Minggu depan Tao menikah." Luhan menegaskan apa yang tertulis di undangan itu. Sehun mendengak menatapnya, dan Luhan melanjutkan, "Sudah hamper dua tahun dan kau masih belum bisa memaafkan Tao. Bagian mana yang tidak bisa kau maafkan?"

Sehun terdiam. Luhan yang menunggu jawaban Sehun akhirnya hanya bisa menghela napas.

"Sehun, asal kau tahu, tanpa kau sadari, kau pernah menyakiti Tao karena kau lebih memilih aku ketimbang dia, pun kau pernah menggantungkan hubunganmu dengan Tao, memutuskan hubunganmu tanpa mengatakan alasan yang sebenarnya—"

"Luhan," Sehun menyela. Ia mengerutkan kening tidak suka, karena ia merasa Luhan menyudutkannya karena membela Tao.

Namun Luhan tidak peduli. "—kau pernah berbohong padanya soal hubungan kita berdua, kau menyalahkan Tao atas segalanya—"

"Aku tidak suka kau membelanya."

"—aku memang tidak membelanya tapi sebagai perempuan, aku tahu perasaannya. Aku merasa kau juga jahat."

Sehun menatap Luhan, membisu. Bang! Luhan menembaknya tepat sasaran. Ia tidak tahu harus membela diri apalagi. Meski ia kesal setengah mati ingin memarahi Luhan, tapi Sehun tidak bisa melakukan itu. Semarah apapun ia pada Luhan, Sehun tidak bisa menumpahkannya begitu saja. Sehun menahannya dengan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

Dan Luhan tahu kalau Sehun marah padanya. "Aku tidak membelanya, Sayang. Aku hanya merasa kau tidak pantas untuk tidak memaafkan Tao selama ini."

Sehun tidak merespon apapun, membuat Luhan menghela napas lagi. Perempuan itu bangkit dari duduknya, lalu memilih untuk duduk di kursi yang dekat dengan suaminya. Luhan meraih tangan Sehun, lalu mengusap punggung tangan lelaki itu dengan lembut. Sehun menatapnya, dan ia bisa melihat senyum kecil perempuan itu di depannya.

"Atau selama ini kau marah pada dirimu sendiri?" tanya Luhan. Ia balas menatap Sehun dengan tatapan lembut. "Kau marah pada dirimu sendiri karena kau bingung, yang salah itu kau atau Tao, benar?"

Hening sejenak.

"Aku merasa aku yang salah. Tapi di sisi lain aku juga merasa Tao yang salah." Ujar Sehun, membenarkan tebakan Luhan sebelumnya. Ia menunduk, menggeleng kemudian. "Aku tidak tahu sebenarnya yang salah selama ini adalah aku, atau Tao. Aku banyak salahnya pada Tao, mungkin Tao juga begitu. Lebih mudahnya, mungkin skor kesalahan yang kami buat adalah seri."

Luhan menatap Sehun, lalu mengulum bibir. Ia kembali mengusap punggung tangan Sehun yang berada dalam pangkuannya, berpikir sejenak.

"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir, siapa yang lebih banyak salahnya diantara kau dan Tao. Mungkin dengan begitu kau bisa memaafkan Tao. Tao juga pantas mendapat kebaikan darimu. Waktunya hanya sampai sebelum kita berangkat ke Cina." Sehun menaikkan alisnya, dan Luhan segera menjelaskan, "Tao mengundangmu, Sehun. Tidak mungkin kau memasang wajah marah di acara pernikahan mantan kekasihmu, kan?" Luhan tersenyum kemudian.

Sehun takjub. Ia menyeringai kecil, merasa Luhan memang mengerti dirinya dengan baik, dan merasa bahwa Luhan memang perempuan yang tidak pernah memedulikan sikap Tao padanya dulu.


...


Pukul dua belas malam. Sehun melihat Luhan berdiri, bersandar di bingkai pintu kerjanya, bersedekap, dan menatapnya yang duduk di kursi kerja. Jujur, ketika menyadari keberadaan Luhan yang memakai gaun tidur putihnya, Sehun terkejut setengah mati. Dia kira siapa. Ternyata, yang berdiri memandanginya adalah Luhan.

Sehun menelan ludah. Lalu memasang ekspresi sebiasa mungkin pada Luhan. "Kau belum tidur?"

"Belum." Luhan menggeleng, lalu menghampiri Sehun dan duduk di sofa yang berada di sebelah Sehun, sofa yang dikhususkan untuknya. "Lalu kenapa kau masih ada di sini?"

"Aku belum mengantuk." Jawab Sehun seadanya. Kemudian Sehun menutup map hitam di meja, lalu menyingkirkannya dari hadapan.

Luhan mengangguk-angguk. Sofa ini lebih pendek dari kursi kerja Sehun jadi Luhan harus mendongak ketika menatap suaminya itu. "Sehun," panggilnya. Si pemilik nama berdengung halus sebagai jawaban serta memusatkan perhatiannya pada Luhan. "Aku bertanya-tanya, kenapa kau sering menyelinap keluar saat aku sudah tertidur?"

Sehun membulatkan mata samar. Luhan tahu perbuatannya.

Ya, Sehun memang sering menyelinap keluar dari kamar saat Luhan sudah tertidur. Lelaki itu lebih sering menghabiskan malamnya dengan menghabiskan secangkir kopi, atau memeriksa kembali pekerjaannya. Memang tidak setiap hari. Tapi Sehun cukup sering menyelinap keluar. Sehun punya alasan sendiri kenapa ia melakukannya. Tapi menurutnya, jika ia menjelaskan alasannya pada Luhan sekarang, Sehun tidak yakin kalau Luhan mau menerima alasan itu.

Jadi untuk menghindari resiko itu, Sehun akhirnya menjawab, "Akhir-akhir ini aku jadi sulit tidur," dan itu juga salah satu alasan terjujur dan teraman untuknya saat ini.

Ekspresi Luhan berubah menjadi khawatir. "Oh, ya?" tanyanya. Sehun mengangguk sebagai jawaban. Luhan lantas bangkit lalu memeluk Sehun dari samping, merasa prihatin karena ternyata, Sehun tidak bisa tidur selama ini. "Kenapa kau tidak bilang padaku? 'Kan kalau kau punya masalah tidur seperti ini aku bisa membantumu untuk sembuh perlahan-lahan."

Sehun tersenyum dan mengusap-usap punggung Luhan dengan halus. "Kalau aku bilang padamu, mungkin kau juga ikut-ikutan tidak bisa tidur."

Luhan terkekeh. Ia melepas pelukan lalu menarik salah satu tangan Sehun supaya ikut dengannya. "Ikut aku. Aku akan membuatkanmu susu supaya kau bisa tidur."

"Hei, aku bukan anak kecil!"

"Siapa yang bilang kau anak kecil?" Luhan berhenti menarik Sehun. Ia berbalik lalu kembali memeluk Sehun seperti ia memeluk Haowen. "Kau bayi besarku, Sayang."

Sehun mengerjap, merasakan perut luhan yang besar menekan perut bagian bawahnya. Sehun menelan ludah susah payah, lalu refleks berkata, "Aduh, perutmu," yang kemudian membuat Luhan segera melepaskan pelukan.

Luhan mengerjap melihat ekspresi Sehun yang tidak bisa ia terjemahkan. "Kenapa perutku?" tanyanya.

Sehun menggeleng, berusaha mengendalikan ekspresinya sendiri. "Rasanya lucu saja kau memelukku dengan perut buncitmu itu." jawabnya asal.

Luhan meringis mendengar jawaban itu. "Hehe, maaf." Kemudian ia kembali menarik Sehun untuk ke dapur. Seperti apa yang ia katakan tadi, Luhan akan membuatkan Sehun susu supaya Sehun bisa tidur dengan nyenyak.

Sehun duduk di kursi makan, menunggu Luhan membuatkannya susu. Tidak berapa lama, Luhan menghampirinya. Gelas berisi susu itu Luhan letakkan di hadapan Sehun dan Luhan duduk di sebelah lelaki itu. Sehun menerimanya, menghabiskannya kemudian. Gelas yang telah kosong itu ia letakkan lagi di meja lalu menghadap Luhan yang sedari tadi memperhatikannya.

"Terima kasih," kata Sehun dengan senyumannya. Luhan tersenyum lebar dan mengangguk sebagai tanggapan.

Kemudian hening. Keheningan itu membuat Sehun merasa begitu damai saat bersama Luhan. Perempuan itu menatapnya, bahkan mengusap punggung tangannya dengan halus. Sehun balas menatap Luhan penuh damba, seolah mereka sedang berkomunikasi dengan tatapan mata. Perempuan itu cantik sekali saat hamil sekarang ini. Kulit putihnya bersinar, terlihat kontras dengan rambut hitam panjangnya yang selalu terurai.

Di matanya, sosok Luhan seperti terangnya bintang Vega di langit malam. Bintang yang ada di rasi bintang Lyra itu begitu cantik. Cahayanya nampak biru, ungu, dan sedikit putih. Cantik sekali. Apalagi di rasi bintang itu menjadi sumber dari indahnya bulan April, bulan kelahiran mereka. Di salah satu malamnya akan terjadi hujan meteor Lyrids. Dan, itu sungguh indah!

Luhan adalah penggambaran yang pas untuk bintang Vega, dan segala-galanya yang ada di rasi bintang Lyra.

Sehun menyelipkan helaian rambut Luhan yang menutupi wajah cantik perempuan itu ke belakang telinga. Kemudian Sehun menangkup sebelah pipi Luhan, merasa pipi itu semakin tembam saat Luhan hamil. Sehun tersenyum. Ia mengecup ujung hidung Luhan, lalu turun menuju bibirnya. Sehun melumatnya cukup lama, meresapi rasa manis yang ia rindukan. Luhan membalas seadanya, dan tersenyum begitu Sehun melepaskan tautan mereka.

"Kau merasa takut?" tanya Sehun kemudian.

Alis Luhan terangkat dua-duanya. "Takut tentang?" Sehun mengusap-usap perut Luhan yang buncit sebagai jawaban. Luhan yang mengerti jadi mengulas senyum geli. Ia menggeleng sambil berkata, "Tidak. Kenapa?"

Sehun menggeleng. Hendak ia menjawab pertanyaan itu namun refleks ia berkata, "Woah!" begitu merasakan tendangan yang cukup kuat dari si kecil.

Luhan tertawa. Astaga, Sehun masih belum terbiasa dengan tendangan si kecil walaupun dia sering mengusap-usapnya. Pasalnya si kecil ini sering menendang saat Sehun mengusap-usap perutnya.

"Tendangannya kuat sekali." Kata Sehun takjub. Wajahnya terkejut dan lugu sekali di mata Luhan.

Luhan berusaha untuk berhenti tertawa. Ia ikut mengusap-usap perutnya lalu berkata, "Kau membuat Ayahmu terkejut, Sayang," pada si kecil dan ia terkekeh lagi. "Jangan nakal, ya…"

Sehun tersenyum melihat interaksi singkat antara Luhan dan bayinya. Saat ini Luhan juga masih berbicara dengan perutnya sembari mengusapnya lembut. Sehun memandanginya, dan ia tidak bisa menahan rasa gemasnya ini. Sehun menarik kursi Luhan, mengikis jarak diantara mereka, sehingga hampir membuat Luhan memekik karena terkejut. Begitu Luhan ingin protes, Sehun justru sudah terlebih dahulu membungkam Luhan dengan ciuman manis yang panjang.

Luhan terbuai. Matanya terpejam. Sehun memeluknya, dan Luhan merasa sangat-amat hangat.

"Aku mencintaimu," bisik Sehun setelah ia mengakhiri pagutan manisnya dengan Luhan.

Luhan tersenyum. "Nado," jawabnya sayup.


...

to be continue…


*Eklampsia adalah serangan pada wanita hamil yang mengalami preeklampsia, berupa kejang atau koma.

Biasanya kasus eklampsia ini disebabkan karena hipertensi, hamil pertama, hamil kembar, mengalami gangguan nutrisi, dsb. Tapi pada kasusnya Luhan, Luhan kena eklampsia karena dia nutrisinya terganggu waktu hamil. Memang pada eklampsia bisa terjadi kejang. Tapi Luhan ngga mengalami kejang karena preeklampsianya ngga parah. Kejang bisa terjadi karena preeklampsianya sudah parah sekali dan sudah memengaruhi otak.

Sekalian bahas—sedikit— euthanasia (pembunuhan yang disengaja) aja deh heheh.

Jadi di Howler itu kan Luhan koma dan nggaada harapan apa-apa buat sadar lagi, kan? Trus karena ngga ada harapan itu, si Dokter nyaranin Sehun buat relain Luhan dengan cara euthanasia, keluarga yang lain udah setuju dan akhirnya Sehun juga setuju. Kenapa dilakuin euthanasia juga? Karena euthanasia ini boleh dilakukan kalau dari segi medis pasien tidak ada harapan hidup lagi (penyakitnya tidak dapat disembuhkan). Karena Luhan koma dan kondisinya setiap hari semakin menurun sementara tidak ada tanda-tanda Luhan akan sadar, jadi dilakukanlah tindakan ini.

Sebenarnya ada juga syarat-syarat dilakukannya euthanasia ini. Tapi karena aku nggak bisa nerangin secara ringan, jadi, ya, kalian boleh cari tahu sendiri di google heheh.



Semoga penjelasannya dapat dimengerti ya :)

Btw, pengetahuanku tentang hal-hal seperti ini masih cethek ya, gengs. Jadi kalau semisal kalian tahu aku salah, boleh deh kasih tahu aku bagaimana benarnya. Aku ngga sempet belajar banyak soal euthanasia dan eklampsia ini karena ketabrak sama jadwal ujian-ujian-ujian-dan-ujian :)))))

Omong-omong soal ujian, maaf karena hal itu aku ngga bisa update cepet. Mulai minggu ini sampai bulan April aku disibukin sama ujian :') kalau kalian mau menunggu sampai April, boleh aja wkwkwk. Tapi bakal kuusahain buat nulis kelanjutan cerita ini dan update kok.

Trus, maaf juga kalau ada typo heheh.

Oh, jawaban kalian emang bener kok. Sehun posesif gitu karena intinya dia nggapengen ngulang kesalahan yang sama. Kalau kalian tanya itu konfliknya, maka jawabannya; bisa iya, bisa tidak.

Konfliknya nggak berat kok. Setidaknya menurutku wkwk.

See you!