Hey what's going on guys? It's Mea & Dissa here and welcome back.

Ini update karena ada temen yang nagihin (dan kebetulan dia RP jadi Kasuga di BBM dan Mea jadi Sasuke) jadinya ajak Emak Dissa buat lanjutin lagi. Wkwkwkw maafkan Mea yang amat kurangajar udah nagihin Dissa buat cepet lanjutin tapi malah Mea sendiri yang update-nya 11 bulan kemudian :"D

Sengoku BASARA © CAPCOM
Warning: SaSuga, OOC, AU.

Enjoy!

.TJr.

"Capek, ih," keluh Sasuke sambil beristirahat di pinggir lapangan.

Pria itu menyeka keringatnya yang bercucuran di pelipis. Matanya menerawang sekeliling, mencoba mencari "pemandangan bagus", entah maksudnya apa. Mungkin semacam cecan (cewek cantik) dengan bodi yang begitu bagus. Oke, ini sudah masuk tahap porno. Dan ups, ingat Kasuga!

Memang semua ini salah Fuuma. Pria itu yang membuatnya dihukum seperti ini. Maksudnya, memang sih ia langganan dihukum Magoichi-sensei. Tapi, permasalahan kali ini beda. Gara-gara Fuuma, ia jadi terus memikirkan rencana untuk modus. Padahal, jika dipikir-pikir, modus ya tinggal modus saja, ngapain pakai ada rencana-rencana segala.

Aduh, jahat sekali pikiran Sasuke. Masa, rekan sendiri dimaki seperti itu.

"Mana coba itu guru, katanya ngawasin? Dasar nggak jelas." Sasuke berdiri, kemudian berjalan ke koperasi sekolah untuk membeli air putih. Yang tidak dingin tentunya, karena ia baru saja "berolahraga". Ia pun langsung menuju ke kelas.

Sepertinya mulut Sasuke memang harus dilakban, berbicara seperti itu kepada gurunya sendiri—dari belakang, pula.

Sementara itu, di kelas…

"Sudah? Sarutobi Sasuke?" tanya Magoichi-sensei sambil melipat kedua tangannya di dada.

Sasuke mencibir malas. "Dah."

"Kalau bicara sama guru yang sopan!" omel Magoichi-sensei sebal, berpura-pura akan melempar penggaris panjangnya.

Sasuke hanya mengangkat bahu, kemudian melenggang menuju singgasananya.

Dari ujung sana, Kasuga ngakak dalam hati. Dasar bocah.

.TJr.

Esok harinya.

"Kenapa harus pakai jaket juga? Ini sempit sekali, astaga …."

Kasuga terus mendumal sembari mempercepat langkahnya menuju sekolah. Sekarang sedang gerimis, ibunya—Uesugi Kenshin—menyuruhnya untuk memakai jaket dikarenakan hal itu. Jaket yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Kasuga pakai lagi semenjak ia kelas 2 SMP. Dan ya, sudah kekecilan.

Namun, ia tidak punya jaket lagi selain itu. Tubuh Kenshin sangat mungil, bahkan sering dibilang adiknya Kasuga karena mukanya yang awet muda. Eh, melantur. Kita kembali ke pembicaraan awal. Kasuga tidak pernah suka memakai jaket, karena ia sangat mudah kegerahan.

Ia sendiri tidak dapat menolak permintaan Kenshin kali ini. Terakhir kali Kasuga kena hujan—sebulan lalu, ia langsung flu dan sembuhnya sangat lama. Ia baru saja sembuh, omong-omong.

"Halah, biasanya juga Kenshin-kaasan juga nggak maksa. Ini kenapa memaksa sekali, ya?" gerutu Kasuga. "Oh, aku tahu. Karena ini baru terjadi hujan kecil lagi setelah sebulan lalu terjadi hujan. Kenshin-kaasan marah, kemudian menyuruhku memakai jaket, deh. Menyebalkan."

Tiba-tiba saja, seseorang menepuk pundaknya. Kasuga langsung memekik terkejut. Ia menoleh, kemudian langsung berlari begitu tahu siapa yang menepuknya barusan.

"Oi! Kasuga, tunggu!" teriak orang itu sambil mengejar Kasuga.

Kasuga mempercepat larinya. "Sasuke! Kamu ini jangan mengagetkanku, dong!"

Yang Kasuga sesalkan adalah, dia berlari lebih lambat dari Sasuke dan pria itu berhasil mendapatkan tangannya.

"Lagian, mengomel sendiri. Memangnya ada apa? Sepertinya kamu kesal sekali begitu." Sasuke terkekeh.

"Bukan urusanmu, tch," decih Kasuga sambil berusaha melepaskan tangannya yang digenggam Sasuke.

"Lho, 'kan kamu calon pacar a—du-du-duh, sakit!"

Kasuga tertawa terbahak-bahak. "Rasakan itu," ucapnya puas begitu melihat Sasuke yang sedang mengusap-usap bekas kejahatan Kasuga di lengan kirinya.

Sasuke hanya tersenyum miring, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kasuga melongo melihat benda itu.

Bunga mawar merah.

"Apaan nih? Mawar merah? Mainstream. Kenapa nggak yang lebih elit kayak bunga tulip atau anggrek?" ketus Kasuga.

Sasuke berusaha sabar.

"Ambil saja lah. Ini mawar terbaik dari florist terbaik pula, lho."

"Pertama, aku nggak suka bunga mawar. Apalagi mawar merah. Kedua, tadi kamu ngagetin. Ketiga, kamu dengan santainya memberi ini padahal kamu tahu ini akan menjadi gosip satu sekolah. Ke—"

"Keempat, pasti kamu jadi suka karena aku yang ngasih, 'kan?" Sasuke tercengir.

"Aku belum selesai bicara, Bodoh," desis Kasuga. "Keempat, kamu buang-buang uang. Kel—"

Sasuke memotong pembicaraan lagi. "Kelima, pasti dalam hati kamu nge-fly, walau dari luar jutek luar biasa."

"Tau ah," balas Kasuga malas. "Sana, ganggu aja."

"Lebih baik kita berjalan beriringan," usul Sasuke, dia membuang mawar yang sudah sia-sia ia beli ke tong sampah yang kebetulan nangkring di sampingnya.

Benar juga si Monyet ini. Ah, tapi aku benci dia, batin Kasuga.

Tawaran Sasuke memang menggiurkan bagi fans-fans-nya, tapi tidak bagi Kasuga.

Dan, Kasuga telah berubah 180 derajat hanya karena ide bodoh Fuuma. Sudah tahu Sasuke sangat cepat merespon dan, uhm, geer. Apalagi, dia sangat jago modus. Ini benar-benar bencana bagi Kasuga, terlebih dia sudah menerima taruhan yang dibuat Sasuke kemarin.

Harusnya, aku tolak aja. Aku nggak mikir dua kali sih. Kalau aku terima gini, 'kan, dia jadi bakal modus setiap hari, cerocos batin Kasuga. Gimana kalau aku nggak kuat? Gimana kalau nanti aku gagal? Harus pacaran sama dia, gitu?

Kasuga kok jadi pesimis.

Sasuke melirik ke arah Kasuga, melihat cewek itu tampak sedang berpikir keras, ia mendaratkan lengan kirinya pada pundak kiri Kasuga—merangkulnya. Kasuga yang sadar akan hal itu, langsung melepaskan tangan Sasuke. Nyaris saja Kasuga memelintirnya.

"Lah, kirain nggak nyadar," cengir Sasuke polos.

Terserah saja lah.

=TJr=

Seperti biasa, pada hari Rabu setiap pulang sekolah adalah saatnya para jurnalis berkumpul di kantornya masing-masing. Memang unik, setiap tim memiliki kantor sendiri-sendiri, walau kantor itu tidak begitu besar. Hanya berukuran sebesar 4x4 m. Di sekolah itu pun, hanya ada tiga tim, satu tim terdiri dari tiga orang.

Dan, hari ini, Sasuke telat datang. Harusnya, dia sudah datang daritadi. Kasuga santai-santai saja, mengingat cewek itu ogah dengan Sasuke.

Fuuma memberi secarik kertas pada Kasuga.

'Sejak kemarin, kamu terlihat begitu risih dengan Sasuke.' Begitu isinya. Kasuga menyeringai, menatap Fuuma yang duduk di sebelahnya.

"Aku tidak menyukai segala modusannya, Fuuma. Rasanya seperti diganggu, seperti punya fans yang terlalu fanatik. Risih, jujur saja," jelas Kasuga. "Tahu tidak sih, kemarin aku dengar suara teriakan Sasuke dari balik helai-helai pohon sakura, sepertinya ia ingin membuatku kaget waktu itu. Horor, tahu!"

'Jadi, kamu tipe perempuan yang takut film horor?' Fuuma memberikan secarik kertas lagi.

"Bukan itu maksudnya!" Kasuga mendecak kesal. Tangannya mengambil gelas berisi cokelat panas, meminumnya sedikit, kemudian menaruhnya kembali di coffee table di hadapannya.

Fuuma tersenyum, pundaknya bergerak naik turun—tertawa dalam diam. Ia menulis, 'Dia memang sedang mencari cara agar bisa modus padamu. Bagaimana? Dia sudah modus apa saja?'

"Apa ya? Seingatku sih… dua hari yang lalu ia mengajakku membuat taruhan, kemarin dia menaruh tepak beige-nya di mejaku, lalu tadi pagi dia memberikanku bunga mawar merah, menggandengku… ih, banyak deh! Baru juga satu hari. Bagaimana sampai tiga bulan, ya? Ah, elah!"

Fuuma mengernyitkan alisnya. Ia menulis, 'Taruhan?'

"Iya! Kemarin dia ngajakin taruhan. Kalau dia bisa bikin aku suka sama dia dalam kurun waktu tiga bulan, aku harus pacaran sama dia—sebenernya sih untung karena 'suka'. Tapi, kalau dia gak berhasil, dia harus lompat jongkok keliling lapangan sekolah 5 putaran dan mentraktirku di restoran paling mahal di Tokyo," jelas Kasuga panjang lebar. Ia mengerlingkan kedua matanya, terlihat kesal.

Fuuma tertegun. Mereka sampai membuat taruhan segala? Ini cukup unik. Sebenarnya tidak unik juga, sih. Mereka sudah biasa membuat taruhan. Namun, membawa-bawa taruhan ke 'asmara' bukannya beresiko? Ia menyunggingkan senyum kecil, merasa geli dengan tingkah dua jurnalis yang kini sedang dijodohkannya.

'Kasuga, kamu bisa bahasa isyarat?' tanya Fuuma dalam secarik kertasnya.

Kasuga mengangguk. "Bisa. Aku sering sekali menonton film bertemakan orang bisu, kemudian aku mempelajarinya."

Fuuma manggut-manggut. Pria itu pun mulai menggerakkan tangannya, berbahasa isyarat kepada wanita berpipi tirus itu.

'Kalau kamu yang meluluhkan hati Sasuke, apakah itu dihitung sebagai "kemenangan"-mu? Maksudku, aku yakin dia hanya sekadar modus untuk taruhan itu, tidak ada niat untuk menyukaimu sama sekali. Mungkin kamu bisa gantian modus kepadanya.'

Kasuga mengernyitkan alis, melirik ke arah kanan—berpikir. Sepertinya bisa juga. Namun, tentu harga dirinya akan turun di hadapan pria tukang modus bernama Sarutobi Sasuke itu. Tidak. Ini jelas ide buruk. Dirinya tak bisa melakukan hal itu, malah merusak reputasinya yang cukup tinggi di sekolah.

"Aku tidak mau modus. Itu tidak setara levelku," jawab Kasuga seadanya.

Fuuma mengangkat bahu. 'Terserah kamu saja sih.'

BRAK!

Tiba-tiba saja pintu kantor terbuka lebar dan langsung menghantam dinding. Sasuke di bibir pintu jatuh terduduk. Sepertinya ia jatuh ke belakang dan menabrak pintu kantor itu, menyebabkannya jatuh. Pintu itu memang tidak sempurna tertutup, menyisakan sedikit celah.

"WOI! DASAR BANCI! SINI BERANTEM KALAU BERANI!"

Kasuga dan Fuuma sama-sama terkejut mendengarnya.

"Sasuke!" tegur Kasuga, setengah berteriak.

Pria itu bangkit, kemudian melongok ke luar ruangan. Dia menggeram kesal sebelum berjalan menghampiri Kasuga dan Fuuma dengan raut wajah yang tidak mengenakkan. Bajunya pun berantakan dan bernoda—sepertinya ketumpahan sesuatu. Fuuma melangkah ke bibir pintu, menutupnya, kemudian duduk di sebelah Sasuke.

"Hoi, Sasuke! Kamu tidak memikirkan reputasi kita sebagai jurnalis terfavorit?! Ngapain kamu teriak kayak tadi?!" tanya Kasuga to the point.

"Jangan banyak komen," balas Sasuke, nada bicaranya terdengar menyebalkan di telinga Kasuga.

"Dih!" geram Kasuga.

Fuuma segera melerai mereka berdua. 'Kamu diam dulu sebentar, Kasuga. Mungkin saja Sasuke punya alasan.'

Kasuga berkacak pinggang.

"Pria berengsek itu memaksa-maksa untuk memasukkan berita tentangnya yang akhirnya berhasil mengajak pacarnya kencan! Basi parah. Mana ada yang mau baca berita kayak gitu?!" cerita Sasuke.

Kasuga melirik sekilas.

'Siapa?' tanya Fuuma dalam bahasa isyarat.

"Hah? Kamu ngapain, Fuuma?" tanya Sasuke bingung, setengah melongo.

Fuuma menepuk dahinya. Rupanya pria ini tidak mengerti bahasa isyarat. Akhirnya, Fuuma mengutarakan kata-katanya lewat tulisan.

'Siapa?' tulis Fuuma.

"Oh, tadi bahasa isyarat, ya? Maaf, aku tidak mengerti," cengir Sasuke. Fuuma mengangguk. "Nama pria itu Maeda Toshiie, dengan pacarnya yang bernama Matsu."

Kasuga hanya mendengarkan, tidak berkomentar sama sekali. Fuuma menepuk bahunya, membuatnya terpaksa ikut berkomentar. Padahal, sejujurnya, ia masih kesal karena omongan Sasuke tadi yang begitu tidak mengenakkan didengarnya.

"Ya… bagus lah kalau kamu menolaknya," mulai Kasuga. "Berarti kalian tahu mana berita berkualitas dan tidak berkualitas, tidak seperti berita homo waktu itu."

'Itu beda lagi, Kasuga. Itu untuk menaikkan popularitas,' isyarat Fuuma.

Kasuga mengangkat bahu. "Terserah saja lah. Ya sudah, sekarang kita mulai diskusinya."

Perempuan itu mengambil majalah minggu ini dan minggu kemarin, meletakkannya di atas coffee table. Fuuma menyusuh Sasuke membuka web jurnalistik SenBasa High School, memeriksa grafik penjualan.

"Kira-kira, selanjutnya kita akan mengambil berita apa saja? Kalian tahu kejadian-kejadian hot di sekolah saat ini?" tanya Kasuga. "Jangan tiba-tiba saja membuat berita tanpa sepengetahuan kami, Fuuma."—kami untuknya dan Sasuke.

'Tentang modusan Sasuke juga bagus.'

Kasuga langsung menatap Fuuma tajam. Enak saja. Sementara Sasuke hanya menatap mereka berdua, tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan sekarang.

"Kalian ngomong apa?" tanya Sasuke.

Kasuga menggeleng. "Bukan apa-apa."

'Tapi, beneran lho, aku akan buat berita tentang modusan Sasuke ke kamu. Pasti lucu, dan jika berita itu dimuat di cover, aku yakin penjualan akan naik dua kali lipat,' lanjut Fuuma. Kasuga mengerlingkan matanya kesal. Ya kali. Masa beritanya harus itu? Sama sekali tidak penting.

"Jangan deh, Fuuma. Lebih baik berita tentang persami waktu it—"

"JANGAN ITU!" potong Sasuke. "Aku punya berita yang lebih bagus. Bagaimana tentang Maeda Toshiie tadi yang memaksaku membuat berita tentangnya?"

"Jatuhnya malah merusak nama baik, Sasuke," jawab Kasuga datar.

"Terus apa, dong?"

Ketiganya kembali berpikir.

'Oh ya, ngomong-ngomong modus, apakah di antara kalian sudah ada progres?' isyarat Fuuma. Sasuke menaikkan satu alisnya tidak mengerti.

Kasuga menggeleng. "Sama sekali tidak ada. Dia hanya buang-buang uang, tenaga, dan pikiran."

"Kalian membicarakanku?" tanya Sasuke, merasa tersindir.

"Tuh. Nyadar kalau dia sudah buang-buang uang, tenaga, dan pikiran," balas Kasuga skakmat. Fuuma tercengir, sementara Sasuke mengumpat. Enak saja harga dirinya direndahkan seperti itu.

Awas saja kamu ya, Kasuga. Aku janji akan membuatmu jatuh hati. Tinggal tunggu tanggal mainnya, batin Sasuke geram, mengepalkan tangannya.

.TJr.

M/N

Ternyata gaya nulisnya Mea dan Dissa itu beda jauh, ya XD wkwk Mea belajar banyak lhoo

Buat chapter selanjutnya silahkan tanya-tanya sama Dissa, ya :3 /WOI

Maaf banget udah telat update. Oiya, dan Mea gak jadi hiatus. Project novelnya ditunda dulu sampe tahun depan soalnya masih butuh banyak referensi. Hwhw. ((astaga Me. Lu udah kelas 9, harusnya udah fokus. Ini masih ae ngurusin hobi))

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

2 November 2016