"Kekuatanku ?" balas Chloe.

Tao menggangguk,"Iya, karena saat musim panas tiba, kita akan mengadakan acara tahunan yaitu The Olympus Tournament—tournamen yang cukup menantang dan menaikkan adrenalin kita untuk mendapatkan sebuah telur legendaries yang telah disiapkan khusus oleh Dongyup-songsaengnim—selaku kepala sekolah kita,"

Chloe bergumam. Ia baru tahu ada juga turnamen seperti itu.

"Dan aku ingin kau bersama Kris-ge menjadi tim-ku di tournament itu, bagaimana ?" tawar Tao.

Tao meggulurkan tangannya pertanda apakah Chloe menerima tawarannya atau tidak ? Chloe menatap dalam-dalam Tao, kemudian menjabat tangan Tao semangat.

"Jika kau mempercayaiku, just count on me," balas Chloe.

Title : The Oberon : The Inverse

Author : ChenLin21

Character : EXO, OCs

Genre : Fluff, Friendship, Tragedy

Pairing : EXO x OCs

Rating : T

Disclaimer : all characters are belongs to their parents. I just owned the plot.


Dentangan piano terdengar begitu pula dengan suara nyanyian seseorang yang menggema menyeluruh ke seluruh lorong-lorong sekolah. Alunan lagu mellow nan indah ini menjadi background song dari Minri yang sedang berjalan menuju kamar asrama milik Chanyeol. Sebuah lagu yang amat terkenal semasa Minri masih di Portal Awal.

Pallae—Lee Juck.

Lagu yang menjelaskan tentang ketidak pastian atau mungkin—bingung dengan hatinya sendiri mengenai hubungan di masa lalu bersama sang kekasih yang telah meninggalkan dia—atau si orang pertama yang meninggalkan kekasihnya.

Minri memperlambat langkah kakinya, dan menolehkan ke arah jendela kristal yang menghiasi lorong menara selatan dengan indah. Suara itu bergema serasa Minri berada di gereja. Ketika si penyanyi mulai menyanyikan bagian klimaks dari cerita di lagu ini.

Minri tersontak dan menyadari air mata sudah jatuh dari kedua mutiaranya. Ia mulai melihat rintik-rintik hujan membasahi jendela itu. Ia mulai merutuk siapa pun yang menyanyikan lagu ini dan merusak mood-nya. Ia berjalan terus menuju kamar asrama Chanyeol.

.

.

.

Minri menggetukkan pintu kayu kamar Chanyeol. Setelah mendengar suara Chanyeol dari dalam, ia menghentikan aktivitas ketuk-mengetuk. Pemuda asal Lyon Region itu keluar dari kamarnya bersama anjing Bloodhound-nya—Maggle. Ia menyapa Minri dengan senyuman 3 jarinya. Memang pantas jika Chanyeol disebut sebagai Happy Virus oleh teman-temannya, nyatanya ia mudah membaur dengan Minri—atau mungkin Minri yang mudah membaur dengan kaum pria.

"Kau sudah siap dengan latihan pertama ?" tanya Chanyeol membawa senapan karabin burnside berbahan kayu.

Minri menggembangkan senyumannya dan menggangguk.

"Bagus. Latihan pertama kita akan berlatih dengan fisik—mungkin kau akan selesai dengan tubuh babak belur," ucap Chayeol masih menunjukkan senyuman 3 jarinya, "Kecuali kalau kau memang cepat tanggap dan berbakat,"

Minri terdiam. Padahal kemarin ia baru sampai ke dunia fantasi ini, dan juga dia sedikit cultural shock. Tetapi karena Minri sudah diberi tanggung jawab besar. Ia harus menjalankannya dengan baik. Kedua Rooks ini pun berjalan ke hutan selatan di Oberon Region, melewati perbukitan dan lembah-lembah. Mungkin sudah berjam-jam, mereka lalui. Minri berpikir ini baru saja permulaan, ia tahu bahwa Chanyeol akan menguji kemampuannya. Beruntung, tidak banyak salju bertumpukkan. Hanya hawa dingin yang menusuk kulit Minri, tapi tidak untuk Chanyeol yang memakai kaus lengan panjang dengan jeans berwarna gelap, dan sepatu sneaker yang membalut di kakinya.

Hutan selatan—atau South Oberon Forest, dikelilingi dengan pohon pinus yang tinggi-tinggi. Hutan ini dikenal dengan kawasan rusa liar yang berkeliaran dengan bebas. Karena banyak rusa di sini, maka banyak juga yang memburu rusa-rusa ini. Chanyeol melihat sekelilingnya, mencari spot yang bagus untuk latihan. Nafas Minri tersenggal-senggal, ia tidak tahu jika dirinya harus menempuh sejauh ini.

"Baiklah, kita mulai latihan kita," cibir Chanyeol.

"Di—Di sini ? Haah… Haah…" kata Minri dengan nafas tidak beraturan.

Chanyeol membalikkan badannya, dan mendesah tersenyum. Pemuda setinggi 180cm itu menepuk-nepuk lembut punggung Minri.

"Rileks. Ini baru saja permulaan," bisik Chanyeol di daun telinga Minri.

Chanyeol menepuk-tepuk bahu Minri. Ia sendiri tahu bahwa ini sedikit berat untuk Minri yang baru sampai di Portal terbalik. Tetapi, ia menginginkan partnernya lebih bergerak cepat dan kuat lebih dari partnernya sebelumnya, Sulli. Chanyeol menyuruh Minri untuk stretching sebelum memulai latihan fiksinya, sedangkan Chanyeol sedang melirik ke segala arah untuk memastikan tempat mereka aman. Tidak ada gangguan apa pun seperti beruang grizzly.

"Minri, latihan fisik hari ini seharusnya dimentorkan oleh Kai," Chanyeol mengisi peluru ke dalam senapannya, "Tetapi anak itu sedang menemani Yoonmi untuk menjalankan terapi,"

Minri hanya menggangguk, "Jadi, apa yang akan kita lakukan, pak mentor ?"

Chanyeol menyeringai, "Kita akan bermain tembak dan lari,"

Mata Minri menyeringitkan dahinya, "Jadi. Kita ke sini untuk bermain ?"

Pemuda bermata abu-abu seperti awan hitam ketika hujan itu hanya menahan tawaannya. Ia tidak mengira jika gadis yang di hadapannya begitu lugu.

"Begini… Permainan yang kita akan mainkan masih termasuk ke dalam latihan kita," Chanyeol menyunggingkan senyumannya lagi.

Minri membulatkan bibirnya dan menggangguk mengerti.

"Untuk peraturannya itu sama seperti dengan petak umpet, hanya saja aku menemukanmu dengan ini …" Chanyeol menunjukkan senapannya.

"Itu ?"

"Ya, aku akan menemukanmu dengan ini, menembakmu dari jauh," Chanyeol menggucapkannya dengan santai, "Lalu, kau harus menghindar dari tembakanku. Jika kau tanya, apa dampak dari senapan ini ? Biar aku tunjukkan,"

Senapan yang dipegangnya adalah senapan karabin burnside dengan ukiran seekor phoenix di bagian kayu senapan itu. Mata abu-abu terang milik Chanyeol kini membidik sesuatu dengan senapan itu. Chanyeol bersiap menembakkan sesuatu di antara semak-semak.

Dor.

Asap tipis keluar dari senapan tersebut. Bukan sebuah peluru yang meluncur ke bidikan Chanyeo, tetapi sebuah bola api dan menghanguskan seekor rusa betina yang bersembunyi di semak-semak itu. Mata hazel Minri membulat dan terkaget dengan apa yang terjadi pada rusa itu.

"Ya ! Apa yang kau lakukan ?" Tangan Minri memegang tangan Chanyeol.

Chanyeol melirik sebentar sosok gadis dengan pony-tailnya, "Gwaenchana. Efek sakit dari bola api itu hanya sebentar. Setelah itu akan hilang,"

Minri melirik lagi rusa betina yang sekujur tubuhnya terbakar, dan kini rusa itu sudah melompat pergi dengan aman. Gadis itu hanya menghela nafas. Ia mulai merasakan pressure dari latihan hari ini. Ia pun mulai menyiapkan mental untuk tantangan ini. Minri mengganggap latihan ini hanya permainan dan ia akan memenangkan permainan ini.

"Cara kau memenangkan permainan ini adalah menggambil bendera yang ada di atas sana," Chanyeol menunjukkan jarinya ke atas dahan pohon pinus.

Sebuah bendera merah bertengger di dahan pohon pinus setinggi 3 meter. Setelah ini, Minri harus memanjat. Beruntung sekali karena Minri adalah tipe gadis yang cukup tomboy dan sejak kecil sudah sering memanjat pohon. Kemudian, Minri menatap mata Chanyeol.

"Tenang lah, Minri. Aku tidak akan membunuhmu," goda Chanyeol.

"Aku tahu, kok," balas Minri.

Chanyeol membalikkan badannya, mulai memberikan hitungan waktu Minri untuk bersembunyi. Minri berlari sejauh mungkin, dengan menggerahkan kekuatan Teleportnya. Well—ia bersembunyi tidak jauh-jauh hanya berjarak 10 meter dari jarak Chanyeol. Minri merasakan degup jantungnya berdetak keras, menggusahakan agar ia tidak menggeluarkan suara apa pun. Minri bersembunyi di antara semak-semak tinggi, dan dari sela-sela semak-semak itu ia mengintip keadaan Chanyeol.

Lalu, Chanyeol pun menghentikan hitungannya karena tahu Minri sudah bersembunyi. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Pemuda dengan telinga layaknya peri itu melirik anjing kesayangannya, Maggle. Anjing itu pun mengendus-endus sekitarnya—tetapi masih di dekat Chanyeol. Mereka berputar tidak searah, dengan tatapan waspada.

.

.

.

Maggle berhenti dan menajamkan penciumannya, saat ia tepat berdiri di titik garis Minri berada.

.

.

.

Minri menegukkan salivanya kasar. Memohon Chanyeol tidak mengetahui keberadaannya.

.

.

.

Maggle mulai melolongkan gonggongannya dengan keras. Suara lolongannya menggelegar ke seluruh hutan. Chanyeol menyeringai, tanpa basa-basi menembakkan peluru bola apinya ke semak-semak Minri bersembunyi. Si gadis hanya berdecak kesal. Saat bola api itu nyaris mengenai semak-semak itu, Minri langsung menghindarkan dirinya dari sana dan melesat pergi. Maggle masih melolongkan gonggonggannya dan menggikuti arah kemana Minri pergi di tempat yang sama.

1,2 tembakan diluncurkan. Bola api itu melesat tepat di depan Minri. Untungnya, tubuh fleksibel Minri dapat menghindari tembakan bola api itu dengan lancar. Tetapi, tetap saja tembakan Chanyeol mempersulit gerak-gerik Minri.

"Hoy ! Hoy ! Apa hanya ini kemampuanmu ?" ledek Chanyeol masih melancarkan tembakannya.

Minri berdesis. Ia terus berpikir, bagaimana ia tidak terkena tembakan Chanyeol. Ia terus berlari dari semak satu, ke semak yang lain. Hingga saat ia mempercepat gerakannya, membuat bingung Maggle. Lolongan Maggle pun berhenti, Chanyeol pun menghentikan tembakannya.

"Ternyata dia lumayan juga," lirih Chanyeol memasukkan beberapa peluru ke senapannya.

Permainan Chanyeol benar-benar menegangkan dan tidak baik untuk jantung Minri. Bagaikan Bourne Vivaldi. Dentangan piano dan gesekan biola seakan menghantui pendengaran Minri. Tiba-tiba, Minri teringat akan sesuatu dan tersenyum karena ia mendapatkan ide yang cermelang.

Maggle terus-menerus menggendus. Dan menghentikan langkahnya, ketika ia mencium bau Minri kembali. Lagi-lagi ia melolong panjang lagi. Chanyeol meyeringai dan menembakkan bola apinya. Satu meleset. Chanyeol malah merasakan jika Minri memperlambat kecepatan teleport-nya. Karena letak tempat berpindahnya Minri tidak jauh-jauh seperti sebelumnya.

Hanya dua kemungkinan.

.

.

.

Dor.

.

.

.

Yang satu, mungkin Minri terluka. Sehingga ia tidak dapat mengfokuskan kekuatannya.

.

.

.

Dor

.

.

.

Yang kedua, mungkin Minri meremehkan kekuatan Chanyeol sekarang.

.

.

.

Tetapi dua opsi tersebut tidak masuk ke dalam logika. Chanyeol percaya seberapa kuat Minri hingga bisa mendapatkan kartu tarot yang diberikan oleh Anri dan juga Minri bukan tipe orang yang suka meremehkan. Tiba-tiba, bola api tersebut seperti membakar sesuatu. Chanyeol meyipitkan pandangannya, dan menghampiri tempat terbakarnya bola api tersebut. Apa secepat ini permainan-nya berakhir ? Ia sendiri tidak percaya.

Saat ia sampai letak terbakarnya bola apinya. Namun anehnya yang ia temukan hanyalah jaket training milik Minri dan—

.

.

.

.

—kucing milik Minri, Unyil—yang kini tergeletak pingsan. Chanyeol mengigit bibir bagian bawahnya dengan kasar, dan berdecak.

"Maggle, jelaskan kesalahanmu," Chanyeol berdesis.

"Ma—maafkan aku, Young Master," Maggle menunduk bersalah.

Chanyeol kembali menggedarkan pandangannya. Matanya menangkap sesuatu—tidak, seseorang yang sedang naik ke atas pohon dan berusaha mengambil kain yang disangkutkan oleh Chanyeol. Karena Chanyeol tidak mau mempermudah Minri untuk mengambil kain tersebut, ia membidik dahan pohon yang menjadi pijakan Minri.

.

.

.

.

Dor

.

.

.

.

Dahan besar dimana Minri berpijak patah. Namun dengan sigap, Minri menangkap dahan yang di atasnya dan bergelantungan. Ia kemudian mengayunkan tubuhnya 90 derajat, sehingga bisa berpijak di atas dahan yang menjadi ayunannya. Tepat di atas Minri, kain bendera merah itu terikat. Minri pun melompat ke dahan itu. Dahan yang tampaknya tidak bisa menampung tubuh Minri dengan baik, dan akan patah kapan pun juga. Minri berdecis, ia harus bergerak cepat. Ketika ia menarik paksa kain bendera, dahan tersebut patah. Otomatis, Minri terjatuh dari pohon.

Chanyeol yang melihat itu, langsung bertindak. Ia memegang senapannya ke atas, sinar cahaya sebuah sealed muncul di tanah Chanyeol berpijak dan mengubah senapannya menjadi seekor phoenix. Phoenix itu terbang melewati Minri, tidak menyelamatkan Minri. Justru Chanyeol melompat dari pohon ke pohon dan loncat ketika Minri jatuh dekat dimana ia berada. Ia melompat dari dahan pohon, dan memeluk tubuh Minri dengan satu tangan, dan satu tangannya lagi di cengkram oleh Phoenix milik Chanyeol. Mereka pun mendarat dengan mulus.

Nafas Minri tersenggal-senggal. Chanyeol mendengus lega, dan memberikan seulas senyuman.

"Well, as expected 'The Star'," Chanyeol menggusak-usak puncak kepala Minri.

Minri terkekeh, "Bagaimana kekuatanku ?"

Chanyeol memiringkan bibirnya, "Well, It was quite smart,"

Kali ini Minri menyunggingkan senyum 3 jarinya. Lalu, saat Minri ingin berdiri, ia merasakan kakinya kesakitan. Ia pun meringis. Tampaknya pergelangannya membengkak. Chanyeol pun menggendong Minri.

"H—Hey ! Apa yang kau lakukan ?" tanya Minri sedikit berteriak.

"Anggap ini sebagai permintaan maafku untuk latihan berat hari ini," ucap Chanyeol.

"Baiklah," ucap Minri menyamankan posisinya. Mereka berdua pun berlalu kembali ke kawasan Oberon School.


Di sebuah ruangan kesehatan dimana Lay sedang memberi terapi untuk Yoonmi ditemani Kai. Sebenarnya, Anri ataupun Lay tidak pernah menyarankan Yoonmi untuk menjalani terapi. Namun, Kai sendiri yang berinisiatif untuk mengajak gadis berkekuatan telepathy untuk melakukan terapi, demi keamanan—atau mungkin kesehatannya sendiri. Yoonmi duduk bersila, sedangkan Lay terpancarkan cahaya putih yang menenangkan isi kepala Yoonmi. Kai hanya berdiri di pojok ruangan dengan menggendong Koya. Tatapan matanya tidak lepas dari Yoonmi. Lay menarik tangannya dari kepala Yoonmi, sebuah gelembung hijau pekat keluar dari kepala Yoonmi. Lay berjalan ke meja labortarium di ruang kesehatan itu, dengan membawa gelembung tersebut. Ia melepaskan gelembung di dalam ember aluminium. Lay memeriksa gelembung itu dengan seksama.

"Hyung," panggil Kai.

Lay menolehkan kepalanya dan melirik sosok Kai sebentar, "She is fine. Hanya saja dia belum bisa mengontrol kekuatannya dan dia tidak boleh terlalu capek saja, itu akan melemahkan tubuhnya,"

Setelah selesai penjelasan, Lay dengan surai kecoklatannya melanjutkan terapinya. Ia duduk bersimpuh tepat di belakang Yoonmi dan memejamkan matanya. Soul dari Lay memasuki tubuh Yoonmi, kemudian Lay membetulkan sel-sel di tubuh, memperlunak, dan melonggarkan urat Yoonmi yang mengencang. Menambahkan zat-zat kalsium untuk memperkuat tulang Yoonmi demi menghindari patah tulang.

Begitu selesai terapi, Kai memberi Yoonmi sekaleng susu pisang.

"Thank you," Yoonmi menerima susu kaleng itu.

"Bagaimana ? Apa perasaanmu lebih baik ?" tanya Kai.

Yoonmi menegukkan susu pisangnya, sambil mengganggukan kepalanya yang pertanda 'iya'. Kai menggusak-usak poni Yoonmi, dan tersenyum tipis. Entah mengapa Yoonmi merasakan sesuatu yang familiar dari mata dan perlakuan Kai pada dirinya. Sentuhan pemuda berkulit tan ini tidak asing. Bahkan wangi mint yang lekat pada Kai tercium sangat familiar. Lalu, gadis itu membuyarkan pikirannya, ia tidak bisa lama-lama larut dalam tatapan Kai. Setiap ia berpikir keras untuk mengingatnya, kepalanya akan berdenyat-denyut.

Decitan pintu ruang kesehatan membuat perhatian Yoonmi dan Kai ke sana. Sosok pemuda bermata rusa memasuki ruangan itu. Raut wajahnya berbeda dengan pertama kali Yoonmi melihatnya. Wajah penuh dengan keceriaan, begitu pula dengan warna rambutnya yang berwarna merah muda—bukan hitam. Apa ini adalah Luhan ?—atau ia adalah kembaran Luhan, pikir Yoonmi saat itu.

"Lay ~!" seru pemuda itu.

Lay tersenyum, "Selamat siang, Luhan,"

Luhan langsung menghampiri Lay yang langsung menggusak surai merah muda milik Luhan.

"Wah ! Ada Kai ~! Lama tidak berjumpa," sapa Luhan.

Yoonmi menyeringit bingung. Apa yang dimaksud oleh Luhan dengan lama tidak berjumpa, batin Yoonmi. Ia ingat betul jika kemarin Luhan ada dan ia bertemu dengan Kai.

"Luhan, perkenalkan ini Yoonmi—the new Knight," ucap Kai.

Luhan tersenyum manis, "Aku tahu kok, aku sudah beritahu oleh-nya,"

Yoonmi masih bingung dengan percakapan di antara mereka.

"Baiklah, biar aku periksa dirimu," perintah Lay.

Luhan duduk di pinggir kasur ruang kesehatan. Lay memeriksa Luhan sangat teliti, dari bola mata—detak jantung—suhu badan, dan darah. Yoonmi dan Kai masih berdiri di tempat mereka masing-masing, menyaksikan pemeriksaan Lay pada Luhan.

"Bagaimana ada keluhan apa pun akhir-akhir ini ?" tanya Lay bersiap mencatat keluhan Luhan di papan pembaca dengan kertas-kertas yang berisi mengenai Luhan.

Luhan terdiam sejenak.

"Keadaannya tidak separah 2 tahun yang lalu—Aloise akan muncul di saat-saat genting, entah kenapa akhir-akhir ini ia seenaknya berganti soul denganku. Aku tidak takut dengannya, tetapi aku takut ia akan melukai yang lain. Saat tidur, aku selalu berkomunikasi dengannya untuk tidak macam-macam atau tetap patuh dengan kalian. Dia bilang kalau aku akan disakiti," jelas Luhan.

Lay menepuk bahu Luhan, "Itu artinya ia sayang padamu—dia tidak mau kau disakiti oleh kasta atas seperti layaknya Suzy. Tenang saja, biarkan ia mengendalikan kekuataanmu—dan kau mengendalikan perasaannya. Aku kira tidak masalah tentang keberadaannya, justru ia sangat displin dan baik dengan kami,"

Luhan menggembangkan senyumannya, "Ya—aku juga sependapat denganmu, Lay,"

"Lebih baik kau banyak-banyak istirahat, jangan lupa untuk makan terartur. Arraseo ?" ucap Lay.

Luhan menggangguk, lalu ia memejamkan matanya. Seketika surai merah mudanya berubah menjadi hitam pekat. Irisnya berubah menjadi warna violet terang. Aura dari pemuda itu Nampak berbeda dari sebelumnya. Aura kuat.

"Terima kasih, Hyung. Kau sudah menyampaikannya dengan baik," ucap Luhan seringai.

"Kau bicara apa, Lu ? Sudah tugasku untuk membantumu dan si anak lembek itu," balas Lay menahan kekehannya.

Pemuda yang mungkin Luhan itu menolehkan kepalanya pada Yoonmi dan Kai. Pemuda itu tersenyum lembut—namun beda dengan sebelumnya.

"Apa kau bingung ?" tanya Luhan.

Yoonmi menundukkan kepalanya, "Sedikit,"

"Well, biar Tuan muda Kai yang menceritakannya dari awal hingga akhir," ucap Luhan datar.

Kai tercengang, "Aku ?"

Luhan menggangguk.

"Oh tidak, anak muda," tolak Kai, "Kenapa bukan kau saja yang menceritakannya ?"

Lay menggelak, "Kai. Tolong. Aku masih ingin memeriksa Luhan. Bisakah kau mengerti ?"

Kai berdecak, dan menarik tangan Yoonmi keluar dari ruang kesehatan. Lay hanya terkekeh sepeninggalan mereka berdua dan melanjutkan perbincangannya dengan pasien langganannya.

Kai membawa Yoonmi ke tempat yang tenang, sebuah danau hijau dekat lingkungan sekolah. Yoonmi bermain ayunan yang tergantung di pohon dekat danau, sedangkan Kai melempar batu yang menyebabkan pantulan di atas air danau.

"Jadi bisakah kau jelaskan maksud Luhan tadi ?" Yoonmi mengayunkan kakinya.

Kai melirik Yoonmi sebentar, lalu melemparkan batunya ke dalam danau.

"Well, ada jiwa lain di dalam tubuh Luhan," ucap Kai santai.

Yoonmi terbelalak, "Apa ?"

"—Singkat kata, dia mengidap penyakit Alter ego. Tapi bedanya dengan portal awal adalah jiwa yang tersesat masuk ke dalam tubuh kita dan tinggal di dalamnya seumur hidup," jelas Kai.

"Jadi, maksudmu Luhan ada dua orang ?" tanya Yoonmi.

Kai menggangguk, "Kurang lebih iya. Mulanya kami tidak tahu—ralat, para hyung tidak mengetahui hal itu. Saat itu aku masih kecil dan belum bermain bersama dengan mereka. Dulu sekali, saat Kris-hyung masih sangat muda dengan Xiumin-hyung, Suho-hyung, Baekhyun-hyung, Chen-hyung, dan Chanyeol-hyung. Mereka bertujuh sering menyelinap pergi ke Caramen Market, berlari-lari di antara blok ke blok lainnya, dan bersenang-senang layaknya anak kecil pada umumnya. Suatu hari, mereka sedang bermain-main di Balai kota, dan mereka menemukan seorang laki-laki yang sebaya dengan mereka. Ketika itu Kris-hyung tertarik, lalu mengajak anak itu bergabung dengan mereka. Namun dengan syarat harus mengalahkan mereka semua dengan adu Basket. Mengejutkannya, Luhan-hyung mengalahkan mereka semua dalam waktu 30 menit. Mereka berhasil menemukan teman baru yang unik dan kuat. Aku yang masih terlalu kecil waktu itu, sering melihatnya dari jauh—dari sela-sela jendela kediamanku. Ia selalu bermain ke belakang rumahku demi mendekati seorang gadis yang berstatus kakak perempuanku, Naeun. Mereka berdua saling menyukai satu sama lain. Kakakku yang bagaikan paras dewi Aphrodite yang dengan mudahnya membuat para kaum pria—legenda mengatakan wanita yang memiliki kecantikan bagaikan demi Aphrodite dapat membuat peperangan—legenda itu terulang, banyaknya kaum kasta atas yang ingin menikahi kakakku di usia belia. Beruntung, kakakku berhati seperti es di depan seluruh pelamarnya. Hatinya berubah layaknya musim semi ketika ia bertemu dengan Luhan. Ceritanya tidak berhenti sampai itu saja—,"

Kai bersandar di pohon dan memandang sela-sela pohon yang memancarkan cahaya matahari, "Kakakku di culik oleh suruhan dari salah satu pelamar kakakku. Para hyung—termasuk Luhan-hyung, tentunya. Mereka melesat pergi mencari kakakku ke seluruh wilayah Oberon. Selama 3 hari, lolongan serigala terus melolong di malam hari. Memberi sinyal kepada satu sama lain. Para Hyung bukanlah kaum mutan seperti Kris dan Tao yang keluarganya adalah kaum Mutan. Tetapi mereka berkelompok dengan menggunakan sistem alfa. Seperti pada peraturan dalam berkelompok di sebuah lingkaran serigala. Lolongan mereka adalah sebuah nyanyian berupa sinyal dan pemberian kabar satu sama lain. Mereka tidak berubah, hanya suara mereka yang menyatakan mereka adalah kelompok serigala. Tak lama kemudian, Luhan-hyung menemukan markas dimana Naeun-noona disekap. Dalam hitungan detik, ia menghabisi orang-orang suruhan yang menculik kakakku. Setelah hari kakakku diselamatkan, kakakku menjauhkan dirinya dari Luhan-hyung. Aku bingung—padahal jelas-jelas mereka saling menyukai. Tetapi, Luhan-hyung pun tidak mempermasalahkannya. Akhirnya, kami bertumbuh bersama dan masuklah kita ke Oberon School dengan menjalani tradisi yang ada—Xalvador adalah sebutan untuk penghapusan dosa dan noda lama dengan memasukkan tubuh kita ke dalam laut—dengan kata lain, baptis. Satu per satu, kita melakukan pembaptisan. Saat giliran Luhan-hyung tiba, sebuah tinta hitam kental keluar dari tubuhnya. Lay-hyung yang membantu kami membaptiskan diri kita pun panik. Ia menarik tubuh Luhan-hyung keluar dan menyadarkan sesuatu jika Luhan-hyung memiliki Alter ego,"

"Tunggu—bagaimana Lay tahu bahwa Luhan memiliki Alter ego ?" tanya Yoonmi penasaraan.

Kai mendehem, "Di sini Alter ego—atau memiliki kepribadian dua atau lebih itu dianggap roh jahat yang merasuki tubuh manusia seperti kami. Ciri-ciri mengetahui dia memiliki Alter ego adalah—saat dibaptis, mengeluarkan tinta hitam dari tubuhnya. Hanya orang-orang terdekat yang mengetahui bahwa Luhan-hyung memiliki jati diri lainnya dalam dirinya. Dan yang menariknya, yang tinggal di tubuhnya adalah seorang anak kecil bernama Aloise. Aloise—atau dalam arti perancisnya adalah pendekar—memang seorang pendekar kecil yang berkuatan lebih kuat dan susah dikontrol. Beruntung, ia dan Luhan-hyung memiliki relasi baik. Jika tidak, anak itu sudah menghancurkan separuh dari Portal terbalik. Aloise—Kuat, tegar, dingin, dan penyendiri. Sedangkan, Luhan—Stabil, ramah, tenang, dan lembut. Mereka berdua bagaikan 'Yin dan Yang' yang saling menguatkan. Aloise mengatakan 'dia adalah Luhan, selama ia berada di tubuh Luhan,'. Hanya Luhan-hyung yang boleh memanggil namanya. Jika Aloise sedang memakai tubuh Luhan-hyung, ia akan dekat dengan Sehun ketimbang Lay yang selama ini ditugaskan untuk mengawasinya atau Xiumin-hyung yang selalu di samping Luhan-hyung."

Yoonmi memiringkan kepalanya lucu, "Kenapa begitu ?"

"Aloise dan Sehun memiliki chemistry hidup yang sama. Sama-sama memiliki masa lalu yang kelam. Sehun sewaktu masih balita, secara tidak sengaja membunuh kedua orang tuanya—membunuh 3 orang dewasa—dan menghancurkan setengah wilayah pedesaan Oberon. Sedangkan Aloise—Dijual oleh orang tuanya dan menjalani sepanjang hidupnya ia pernah menjadi pemain sirkus di dunia Portal awal—menjadi badut atau bahan tawaan karena kekuatannya. Ia meninggal sangat muda dikarenakan kelaparan dan rohnya pun bergentanyangan di Portal terbalik—sebuah lelucon di sela-sela tragedi seorang Aloise. Entah apa yang dilakukan Luhan-hyung sampai-sampai ia mengizinkan Aloise tinggal di dalam tubuhnya," cerita Kai yang membuat Yoonmi tercengang.

"Aku tidak tahu kalau Sehun memiliki cerita setragis itu," Yoonmi membelokkan pembicaraan awal mereka.

"Yah, karena di diri Sehun juga memiliki seseorang seperti Aloise. Bedanya, kekuatan Sehun yang menjaga Sehun dari bahaya. Begitu ada orang yang mengusiknya, kekuatan Sehun yang berupa elemen angin itu tidak segan-segan akan membunuh orang tersebut. Sebenarnya, dibalik kisah tragis Sehun—bukan sepenuhnya salah Sehun. Tetapi justru orang-orang tersebut yang terlebih dahulu yang hendak mencelakainya. Setelah diselidiki, ternyata orang tua Sehun hendak membuhuh Sehun, karena ia dianggap sial bagi keluarga mereka. Saat hendak membunuh, keduanya malah mati dengan keadaan mengenaskan. Jika kisah 3 orang dewasa, dirinya hendak dijual oleh 3 orang tersebut yang akhirnya juga bernasib seperti kedua orang tuanya. Setelah itu, ia tinggal di Oberon dan mendapat cacian buruk dari masyarakat sekitar. Kekuatannya pun tidak terkendali dan menghancurkan setengah dari wilayah pedesaan. Beruntung, keempat sekertaris keluarga Lee Donghae menghentikan kekuatannya dengan cepat. Jika tidak, seluruh wilayah Oberon Region akan rata dengan tanah. Saat Sehun hendak ingin ditangkap dan dipenjarakan, Anri berdiri dan mengatakan dengan tegas bahwa Sehun akan jadi tangan kanannya, bukan sebagai tahanan.

Eunhyuk membalas 'Tapi, nona muda. Dia hampir memusnahkan Oberon Region,'

Anri kecil yang sudah memegang kartu The Priestess, mengeluarkan kekuatannya yaitu Resurrection dan memanggil The Guard itu membuat keempat sekertaris ayahnya berlutut takut. Anri pun menarik Sehun menaiki kereta Hippogriff-nya, dan membawanya pulang. Semenjak itu, Sehun menjadi tangan kanan Anri. Itu alasannya, Sehun sangat protektif dengan Anri," balas Kai panjang lebar.

Yoonmi terdiam, setelah mendengarkan cerita Kai tadi. Ia tidak tahu betapa tragisnya kehidupan di Portal Terbalik, semula ia hanya berpikir ia hidup di kehidupan fantasi yang aman sentosa. Ternyata tidak sama sekali—banyak hal-hal yang amat menyedihkan di balik semua hal yang menyenangkan.

"Ternyata di sini banyak juga yang sedih," lirih Yoonmi.

"Benar. Bahkan aku pun merasakannya juga," balas Kai menatap Yoonmi.

Yoonmi balas menatap Kai, "Kau juga ?"

Kai menatap Yoonmi lekat-lekat, "Tidak ingatkah hal-hal mengenaiku ?"

"Maksudmu ?"

Kai mendesah dan menolehkan kepalanya ke arah lain, "Bukan apa-apa."

Yoonmi menyeringit bingung. Ia pun tidak langsung pikir panjang, namun ia merasa familiar dengan Kai. Seperti pernah bertemu—entah dimana dan kapan. Yoonmi semakin dalam memikirkannya. Sebuah bayangan hitam seakan memakan dirinya. Remang-remang, ia seolah kembali ke masa lalu. Ia menemukan dirinya sendiri sedang memegang payung dan hendak menghampiri seorang lelaki. Kenangan itu seperti video rekaman yang berputar kembali.

"Gwaenchana ?" lirih gadis itu.

Pemuda itu masih terdiam. Gadis itu membantunya untuk berdiri. Saat ia menyadari bahwa pemuda itu tidak beralaskan sepatu, semakin tinggi keinginannya untuk membawanya pulang. Gadis itu menarik pergelangan tangan pemuda itu menuju rumahnya.

"Kita mau kemana ?"

—pemuda bersurai hitam itu bersuara.

.

"Ke tempat aman, dan tempat yang menghangatkanmu,"

.

"Kenapa kau menolongku ?"

.

"Aku melihat bayanganku di balik tubuhmu, dan takkan kubiarkan dirimu seperti itu,"

.

"Aku Yoonmi—ngomong-ngomong, kau ?"

Kai membalikkan badannya dan menatap lekat-lekat Yoonmi. Suara-suara seperti bisikan terdengar dan melintas di pikiran Yoonmi. Raut wajah Kai semakin lama semakin sedih.

'Kenapa dia tidak mengenaliku ? Apa semua kenangannya hanya ilusi ?'

Yoonmi membeku di tempat. Sekali lagi, ia berusaha memperjelas ingatannya. Berusaha membuka gembok dari kotak ingatannya yang sudah lama terkunci. Ia terdiam dan berkonsentrasi pada satu titik. Lalu, ia membuka matanya lebar-lebar.

"Aku melihat bayanganku di balik tubuhmu, dan takkan kubiarkan dirimu seperti itu,"

.

"Aku Yoonmi—ngomong-ngomong, kau ?"

Lelaki menunduk malu dan tersenyum.

"Aku Kai. Terima kasih telah menolongku, Yoonmi-ssi,"

.

.

.

Air mata Yoonmi mengalir perlahan. Kai tersontak. Yoonmi langsung masuk ke dalam pelukan Kai dan menangis deras. Sekarang ia mengingat semua kenangan tentang dirinya dan lelaki yang ia peluk. Ia tidak mengerti mengapa ia sama sekali tidak mengenali Kai. Padahal mereka berdua sudah menjalani hidup bersama-sama.

"Kai… Kenapa aku baru meng—mengingatnya sekarang. Aku orang jahat—maafkan aku,"

"Kau—Apa maksudmu ?" tanya Kai.

Kedua tangan Yoonmi memegang kedua sisi wajah Kai. Menatapnya dengan dalam dan penuh makna.

"Kenapa aku tidak mengingatmu ? Padahal aku menolongmu saat kau kehujanan, menampungmu agar kau aman dari orang-orang jahat, membantumu mencari orang yang amat kau sayangi, kita menghabiskan banyak waktu bersama-sama, dan …" Yoonmi menatap Kai, "bahkan aku telah mengatakan betapa aku mencintaimu, dan kau juga akan kembali kepadaku. Bertahun-tahun lamanya, aku menunggu dirimu—akhirnya kau datang dengan kata 'maaf'. Dan setelah itu, aku tidak ingat lagi. Waeyo ? Kenapa aku tidak ingat. Kenapa kau pergi ? Kenapa kau bisa di sini ? Jelaskan ! Jebal, Kai, Jelaskan !"

Ketika Yoonmi berseru, ia terus-menerus memukul dada bidang Kai berkali-kali dan histeris. Kai hanya terdiam, dan menarik Yoonmi ke dalam pelukannya lagi. Pelukan yang hangat dan penuh rindu. Kai tidak percaya jika ia akan bertemu dengannya lagi, sebenarnya ia sudah putus asa akan ia bertemu dengan Yoonmi. Tetapi takdir mengatakan lain, mereka berdua dipertemukan kembali di tempat Kai lahir dan dibesarkan.

.

.

.

"Kai !"

Si pemilik surai hitam menolehkan kepalanya dan menyengirkan giginya. Ia tersenyum lebar kepada orang telah menolongnya. Beruntung, Kai bisa bertemu dengan Yoonmi. Kalau tidak mungkin Kai sudah jadi gelandangan. Karena Kai tahu keadaan Yoonmi yang krisis ekonomi, ia juga tidak minta yang aneh-aneh atau yang tak sewajarnya. Ia sanggup menahan lapar demi tidak terlalu menyusahkan Yoonmi. Namun, gadis berwajah tembam itu justru memberinya makan—walau hanya semangkuk ramen instan. Kai juga tidak tega untuk menghabiskan ramen itu seorang diri, ia pun berbagi dengan Yoonmi.

"Yoonmi-ssi ! Kau sudah pulang ?" tanya Kai riang.

Yoonmi menggangguk, "Ini ada hadiah kecil untuk kita berdua, bossku bilang ini adalah bonus untukku,"

"Wah ! Bagus lah ! Selamat makan !" seru Kai sambil menerima kotak bento.

Yoonmi tersenyum lembut sambil memangkukan dagunya. Ia merasa senang jika ia bisa melihat senyuman Kai. Baginya, senyuman Kai seperti obat yang menyembuhkan rasa sepinya. Semua suasana di rumah kontraknya menjadi cerah karena kehadirannya. Kai selalu membantunya dan berada di sisinya jika ia sedih.

"Aigoo—Lihat dirimu," Yoonmi menggambil sebutir nasi yang tertempel di pinggir bibirnya, dan memakannya, "Nikmati saja, tidak ada yang merampok makananmu,"

Kai menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, "Maaf, kebiasaan,"

Senyum Yoonmi menggembang, ia memberi sayuran dari kotak bentonya ke kotak milik Kai.

"Makan yang banyak, biar besok kau punya energi banyak agar mencari saudaramu itu," ucap Yoonmi lembut.

Kai menggangguk kaku, "Ne, gomawo."

Yoonmi kembali tersenyum dan memulai menyantap makannya. Kai melirik Yoonmi dengan seksama. Ia begitu tenang jika bersama Yoonmi. Ia memiliki daya tarik, dimana Kai juga harus melindunginya. Ia ingin sekali tinggal lebih lama dengan Yoonmi, namun misinya harus ia jalani dan ia tidak boleh berlama-lama di Portal Awal—kecuali namanya dicoret dari daftar keluarga besarnya. 2 hal yang tidak bisa dipilih oleh Kai saat itu, pergi meninggalkan Yoonmi atau tetap tinggal dengan Yoonmi.

Kai disibukkan dengan misi pencariannya, sedangkan Yoonmi disibukkan dengan pekerjaan barunya di sebuah restoran cepat saji. Keduanya bertemu saat bulan dan bintang menghiasi langit. Ketika lampu-lampu di jalan, menerangi ruas-ruas jalan. Ketika hawa dingin mulai menusuk kulit mereka. Mata dengan mata, mereka saling menatap. Saling menyemangati satu sama lain. Saling melindungi. Saling membutuhkan satu sama lain. Tapi sampai kapan Kai harus tinggal sedangkan waktunya semakin menipis.

"Yoonmi-ah,"

Yoonmi melirik Kai.

"Apa yang kau lakukan jika nantinya aku pergi ?" tanya Kai sambil menundukkan kepalanya.

Yoonmi membeku dan terdiam. Ah—benar, dia baru ingat jika Kai berhasil menemukan saudaranya, ia akan berjalan pergi darinya. Yoonmi selalu lari dari kenyataan itu, selalu menutup telinga seolah-olah ia tidak pernah mendengar pernyataan itu, selalu tersenyum walau nyatanya sakit—setiap kali Kai bertanya hal yang sama.

Pergi.

Sebuah kata yang singkat dan amat menyakitkan.

"Maafkan aku, aku mohon maafkan aku," lirih Kai.

"Jadi, kau sudah menemukan saudaramu ?" tanya Yoonmi.

Biasanya, Kai akan menjawab 'Anio. Hanya tanya saja,' dengan ia lanjutkan dengan tawa renyahnya. Tapi kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya,Kai terdiam, "Bukan aku yang menemukannya. Kakak kandungnya yang sudah menemukannya terlebih dahulu. Aku harus kembali,"

Yoonmi menangkap pergelangan Kai dan menatap pemuda tinggi itu penuh makna. Kai berusaha untuk tidak menangis, padahal ia selalu tegar dengan semua perpisahan. Tetapi ini berbeda. Gadis yang berdiri di depannya dan menatapnya lekat-lekat itu membuatnya ia tidak ingin pergi. Kai menariknya ke dalam pelukannya.

"Andai waktu bisa berhenti, andai tidak ada larangan. Andai takdir menyatukan kita hingga akhir—dan andaikata, semua kita lalui adalah sebuah realita—bukan hanya secarik memori. Aku akan terus bersamamu," Kai meletakkan dagunya di bahu Yoonmi.

"Kai, andwae. Aku tidak ingin sendiri ! Jangan tinggalkan aku !" lirih Yoonmi.

"Aku—Aku akan selalu mengingatmu. Mengingat wajahmu, mengingat tatapan matamu, mengingat suara, senyuman, dan—kenangan kita saat kita bertemu," Kai memejamkan matanya, "Terima kasih, kau telah menolongku. Tersenyumlah untukku, maka aku akan kembali untukmu,"

Saat Yoonmi menangis, tubuh Kai lama-kelamaan menghilang seperti debu. Yoonmi terus menangis dan berteriak histeris. Ia terus menggapai sesuatu yang kosong—atau hampa di hadapannya. Ia memeluk dirinya sendiri dan terisak.

"Kai !"

.

.

Sejak hari itu, Yoonmi tidak pernah melihat sosok Kai. Ia sudah mencari ke seluruh pelosok Busan. Ia tidak menemukan pemuda bernama Kai, pemuda yang mirip dengan Kai, atau pemuda yang ia tolong di saat turun hujan. Ia selalu menunggu lelaki itu untuk membuka pintu rumahnya, menunggu hujan yang tak kunjung turun. Sebanyak apa pun Yoonmi menangis, sebanyak apa pun Yoonmi memohon. Kai tidak akan pernah kembali. Ia hanya pemuda yang ada di dalam mimpinya.

—Itu yang dipikir oleh Yoonmi saat itu.

Dua tahun kemudian,

Di tempat pertama kali ia bertemu dengan Kai. Yoonmi kembali menemukannya, duduk di depan mini market. Wajah tampannya yang masih sama, tatapan matanya, dan rambutnya. Hanya saja ia semakin tinggi dan semakin dewasa. Beda dengan pertama kali, Yoonmi bertemu dengannya. Kini ia datang dengan menggunakan blazer abu-abu dalaman v-neck Tshirt putih, balutan jeans yang menyelimuti kaki panjangnya dan kedua pasang pantofel hitam membuat Kai semakin terlihat tampan. Sejak hari Kai meninggalkan Yoonmi—tepatnya dua tahun silam—Yoonmi selalu memimpikannya. Dan kali ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan.

Yoonmi memeluk leher Kai dan menangis kembali.

"Kau kembali,"

Kai tersenyum dan membalas pelukan Yoonmi, "Aku di sini, Yoonmi-ah,"

"Kenapa kau pergi meninggalkanku ?"

Kai terdiam.

"Aku mencintaimu, kenapa kau pergi ?" tanya Yoonmi lagi.

"Maafkan aku, maafkan," lirih Kai dalam tangisnya.

Yoonmi melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata Kai yang sudah mengalir di kedua pipi Kai.

"Aku selalu memaafkanmu, Kai,"

"Berjanjilah padaku," Kai menatap Yoonmi dalam-dalam, "Tersenyumlah untukku, maka aku akan kembali untukmu,"

Yoonmi tersenyum dalam sendu dan memeluk Kai lagi, "Ya, aku berjanji."

Akhirnya, mereka kembali bersatu. Bersatu dalam satu kisah. Mereka memulai kisah cinta mereka. Keduanya saling mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka, sering berbelanja ke supermarket—dan selalu dianggap pasangan muda oleh ibu-ibu yang sedang berbelanja, memanjat loteng dan menatap bintang-bintang—demi mencari bintang jatuh, mengatakan bahwa aku mencintaimu dan aku juga mencintaimu saat sebelum tidur, dan kembali lagi—mata dengan mata saling bertemu dan merasakan sebuah gelojak asmara.

Bagaikan hidup seperti Romeo dan Juliet—ya, Romeo dan Juliet. Sebuah kehidupan cinta yang amat mengerikan dibalik kisah romansa mereka. Setiap hari, mereka selalu dihantui dengan kejaran-kejaran yang menurut Yoonmi adalah 'orang jahat'. Mereka mengincar Kai dan berusaha memisahkan Yoonmi dengannya. Awalnya, Kai tidak tahu apa yang harus ia perbuat—ia tidak mau membahayakan hidup Yoonmi. Apalagi melibatkan dirinya ke dalam hidupnya.

"Jangan coba-coba untuk menyakiti dirimu sendiri," ujar Kai menggenggam tangan Yoonmi. "Jika kau masuk ke dalam hidupku, rasa sakitnya akan lebih daripada sebelumnya. Aku tidak mau kau terlibat dengan hal ini,"

"Anio." Jawab Yoonmi.

Tetapi, dengan gigih Yoonmi berkata :

"Aku tidak mau kau melepaskan aku dan meninggalkanku sendiri seperti dulu. Takdir baru saja mempertemukan kita dan menyatukan kembali kita berdua. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. As long you live, I will be with you. Wherever you are,"

Rasa haru—Kembali lagi mengenangi mata mereka. Kai pun akhirnya melibatkan Yoonmi ke dalam hidupnya. Ia mengatakan yang sejujurnya siapa dia, darimana ia berasal, dan siapa orang-orang mengejarnya. Orang-orang yang mengejarnya adalah sekertaris dan pengacara Donghae. Mereka akan menyeret Kai kembali ke Portal Terbalik.

Dan.

.

.

.

Waktunya sudah tiba. Salah seorang sekertaris Donghae berhasil menghadang langsung Kai yang sedang membawa Yoonmi lari di tengah gelapnya malam.

"Tuan muda, kembalilah," ucap Eunhyuk datar.

"Tidak, Eunhyuk ! Tidak akan ! Aku tidak mau meninggalkan Yoonmi untuk sekali lagi !" bantah Kai.

Dari belakang, Ryeowook menepis leher belakang Kai—yang merupakan titik vitalnya. Kai pun ambruk. Heechul muncul dan memegang kedua tangan Yoonmi agar tidak banyak bertingkah.

"Kai !" pekik Yoonmi.

Henry menghampiri Kai yang terjatuh itu, "Jangan keras kepala, anak muda. Pulang. Oberon sedang membutuhkan kekuatanmu—ratusan nyawa dan ribuan orang di sana ada di tanganmu. Nyawa tidak sebanding dengan sebuah perasaan yang tidak berguna—yaitu Cinta,"

Kai terdiam. Henry membalikkan badannya, kini Ryeowook membantu Kai untuk berdiri.

"Kajja. Aku yakin kau akan bertemu dengannya kembali. Karena dunia ini sempit," ucap Ryeowook lembut.

Kai melirik Yoonmi yang sudah penuh dengan rasa kekuatiran jika Kai akan meninggalkannya lagi. Kai mendesah dan melirik Heechul.

"Aku punya permintaan, tolong hapus memorinya mengenai aku," bisik Kai.

Heechul menggangguk kecil dan menghampiri Yoonmi.

"Apa yang kau lakukan ? APA YANG INGIN KAU LAKUKAN ? ANDWAE YO !" Yoonmi meronta-ronta dalam cengkraman Heechul.

Kai tersenyum tipis, "Andai waktu bisa berhenti, andai tidak ada larangan. Andai takdir menyatukan kita hingga akhir—dan andaikata, semua kita lalui adalah sebuah realita—bukan hanya secarik memori. Aku akan terus bersamamu,"

"Kai !"

Heechul mencengkram ubun-ubun kepala Yoonmi dan mulai menghapus memori-memori tentang Kai. Semuanya—dan ia kunci di sebuah kotak di dalam isi kepalanya. Ketika Yoonmi jatuh pingsan, Kai membopongnya dan membawanya pulang. Ia meletakkan tubuh Yoonmi di atas ranjang, menggecup kening Yoonmi lembut dan beranjak pergi dari sana.

"Aku pergi dulu," Kai membalikkan badannya, "Aku janji akan menjengukmu, dan akan membawamu pergi,"

Itu lah kata terakhir—sejak itu Kai tidak pernah bertemu dengannya lagi. Sedangkan, Yoonmi tidak pernah mengingat sesuatu mengenai Kai. Semuanya sudah tersimpan di sebuah kotak di dalam kepalanya.


Anri yang bersembunyi tidak jauh dari tempat Kai dan Yoonmi, menghela nafas lega. Ia senang jika keduanya sudah bisa bersatu seperti sebelum-sebelumnya. Mata dengan mata, mereka saling menatap. Mereka akan saling menyemangati satu sama lain. Saling melindungi. Saling membutuhkan satu sama lain. Seperti dahulu.

"Aku tidak menyangka nona Yoonmi memiliki kisah cinta yang menyedihkan seperti itu," kata Tony.

"Iya. Kkamjong chukkae !" sambung Ginger.

Anri menggangguk setuju dan berjalan pergi dari tempat persembunyiannya. Ia memberi mereka berdua sedikit privasi.

Kai menurunkan kepalanya dan menatap lekat-lekat mata Yoonmi. Ia memiringkan kepalanya, kemudian mengecup bibir Yoonmi. Hanya salju, langit, dan danau di dekat mereka yang menjadi saksi ciuman pertama mereka.


Gadis dengan rambut hazel melangkahkan kakinya mantap, berjalan menuju Cafetaria—dimana ia dapat memakan sesuatu yang manis di sana. Eri sudah lengkap dengan baju santainya—bersama dengan Bubu yang melompat-lompat lucu menggikuti langkah kaki majikannya. Ia berjalan di antara korridor dan berpapasan dengan para Day watcher, Centaur.

"Selamat siang, Bishop," sapa salah satu Centaur.

Eri tersenyum, "Selamat siang…"

"Anda tidak latihan seperti nona Minri ?" tanya yang satunya.

"Ah, aku masih belum tahu kekuatanku apa…" Eri tersenyum kecut.

"Saya yakin anda memiliki kekuatan yang sangat hebat," ucap Centaur menyemagati Eri.

Eri tersenyum lebar, "Terima kasih. Kalau begitu, aku duluan,"

Eri melanjutkan perjalanannya ke cafeteria. Ketika ia ingin memasuki ruang kafetaria tersebut, pemuda dengan surai silver itu menepuk-tepuk bahunya. Eri secara otomatis, menolehkan kepalanya.

"Anyeong…"sapa Baekhyun sambil melambai kecil tangannya.

Eri terkejut dan memundurkan beberapa langkahnya. Ia menundukkan kepalanya, menutupi wajahnya merahnya. Eri mulai mengumpat kepada jantungnya yang sudah berdetak cepat. Sesekali Eri menggigit bibir bagian bawahnya dan mendesah pelan.

Baekhyun mendekatkan wajahnya dengan Eri, "Waeyo ? Kau kenapa ?"

"A—anio," kata Eri takut-takut.

"Benar begitu, nona tukang menyelinap mimpi orang ?" tanya Baekhyun.

Mata Eri terbelalak dan tampak terkejut dengan pernyataan Baekhyun. Apa yang Baekhyun dengan 'nona tukang menyelinap mimpi orang' ? Seumur-umur, ia baru pertama kali disebut—atau dikatai dengan sebutan itu. Tetapi, ia merasa ia tidak menyelinap mimpi orang. Apa Baekhyun mengira ia seperti roh spongebob yang bisa berpindah-pindah ke mimpi satu ke mimpi lainnya ? Tidak kan ? Pemuda di depannya pasti bercanda—atau memang iya ? Karena tidak ada yang tidak mungkin di Portal Terbalik.

"Ma—Maksudmu ?" balas Eri.

"Iya ! Kau itu tukang nyelinap mimpi—atau bahasa halusnya adalah Dream Catcher," Baekhyun menggetukkan jarinya di hidung mancung Eri.

"Eh ? Aku apa ?" Eri menunjuk dirinya sendiri.

"Kau adalah Dre-am Cat-cher. Dream Catcher, aigoo," balas Baekhyun—yang kali ini mencubit lembut pipi Eri yang merona sempurna.

"Bagaimana bisa ?" tanya Eri lagi—dengan ekspresi 'tidak percaya dengan perkataan Baekhyun'.

"Buktinya, tadi malam kau masuk ke mimpi burukku. Kehadiranmu membuat mimpiku tidak seburuk sebelum-sebelumnya," Baekhyun menyeringai.

Eri terdiam, seakan mencerna perkataan Baekhyun barusan. Tiba-tiba, terlintas kembali adegan Eri dan Baekhyun berciuman. Gadis asal Seoul itu menundukkan kepalanya malu.

Baekhyun tertawa ringan, "Aigoo, kiyowo,"

Sekali lagi Baekhyun mencubit gemas pipi Eri. Baekhyun tidak tahan jika didepannya ada gadis semanis Eri—rasanya Baekhyun ingin menculik Eri sekarang juga.

"Jadi, apa aku yang pertama kalinya kau kunjungi, hm ?" tanya Baekhyun lagi.

Eri menggangguk lucu, "Ne,"

"Jinjja ?" tanya Baekhyun dengan suara ceria.

"Ne. Kau yang pertama,"

"Gomawo," Baekhyun menggusak poni Eri lembut.

Kembali jantung Eri berdetak kencang dan wajahnya semakin memerah seperti kepiting. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu. Kabur—atau justru tetap bersama Baekhyun. Rasanya ia ingin pingsan akan pesona Baekhyun.

"Eri-ya, bagaimana kalau kita minum teh di gazebo-ku ? Kita bincang-bincang tentang dirimu—dan diriku," tawar Baekhyun.

"Dasar gombal," bisik Bubu.

Sebelum Eri sempat menjawab. Pemuda dengan baju layaknya dokter berjalan menghampiri keduanya. Siapa lagi—kalau bukan Lay—si calon dokter terbaik di Oberon. Tampaknya, ia sudah menyelesaikan urusannya dengan Luhan.

"Ah ! Lay-hyung !" sapa Baekhyun.

Lay tersenyum bagaikan malaikat, "Baekhyun dan Eri—selamat siang,"

"Selamat siang," Eri memanggutkan kepalanya.

"Apa yang kau lakukan di sini ? Apa kau sudah menyelesaikan praktekmu ?" tanya Baekhyun.

Lay menggangguk, "Ya, aku baru saja selesai dan sekarang aku harus memenuhi permintaan Anri,"

"Oh ya ? Permintaan apa ?" Baekhyun semakin penasaraan.

"Aku ingin menjemput Eri untuk latihan," balas Lay.

Bagaikan bola bisbol yang memecahkan jendela rumah Eri. Oh, Holy Great Heaven—For God's sake, Lay datang di saat yang tidak tepat—ralat, Anri menyuruh Lay di saat yang tidak tepat. Jika ingin menyalahkan atas batalnya acara minum teh dengan Baekhyun—maka ini semua salah Anri.

"Kajja, Eri. Kita mulai latihan kita—sebentar lagi kau akan menghadapi Pre-Tournament," ajak Lay.

Eri berdecih dan menyembunyikan tubuh mungilnya di balik punggung Baekhyun, "Shirreo. Aku ada janji dengan Baekhyun untuk minum teh,"

Lay hanya tersenyum tipis. Sebenarnya Lay bukan orang yang pemaksa tetapi mau tak mau, ia harus menjalankan perintah Anri sekarang juga. Now or never. Lay pun meniupkan sebuah peliut kecil berbentuk tanduk. Ketika peluit dibunyikan seekor Unicorn putih berlari menghampiri mereka dan dengan cepat menggigit kerah belakang Eri, kemudian ia lemparkan tubuh Eri ke belakang punggungnya. Eri yang masih bingung apa yang terjadi, hanya terdiam—membisu, lebih tepatnya.

"Baiklah. Sampai nanti, Baekhyun," Lay mengundurkan diri bersama Unicorn-nya yang membawa pergi Eri dan Bubu, "Kajja, Vint,"

"YA ! TURUN AKU! DASAR MANUSIA UNICORN !" pekik Eri.

Baekhyun hanya menghela nafas, dan tersenyum.

"Dia memang lucu sekali," lirih Baekhyun—dan masuk ke dalam Cafetaria, "Snack spesial hari ini apa ya ~?"


To Be continued.