Seperti biasa ya… disclaimer na silahkan dibaca di chapter sebelumnya. Udah deh, semoga minna sama suka dengan chapter yg baru ini. Sama arigatou buat yg mengingatkan Rina soal siapa villain na disini, karena Rina bisa dibilang… lupa. Setidaknya main villain Rina lupa untuk nentuin. Tapi, Rina membayangkan bahwa ini akan terdengar seperti Half-Sword of Mana, jadi kayak na bakalan udah da yg tahu kira2 siapa.
? ? ? POV
Aku membuka mataku lagi setelah aku berusaha untuk menghubunginya. Aku hanya bisa berharap bahwa 'dia' mendengar suaraku. 'Dia' perlu tahu tentang dunia ini untuk membuka jalan menuju ke tempatku. Kesedihan yang kurasakan, rasa sakit yang kurasakan, harapan yang kurasakan, juga kebahagiaan yang kurasakan, aku ingin dia mengetahui itu semua.
'Dia' harus mengetahui itu semua, karena aku adalah 'Dunia'. Dan setiap 'Dunia' memiliki batas waktu masing-masing. Aku ingin 'Dia' segera datang dan menyelamatkan dunia ini dengan menyampaikan pesanku pada semuanya. Aku ingin 'Dia' dan semuanya tetap hidup, meski aku harus menghilang demi mereka.
"Kumohon… cepatlah…" bisikku dengan pelan entah kepada siapa. Aku terduduk akibat mengeluarkan tenaga yang sangat berharga untuk berbicara dengannya. Aku melihat tempatku kini berubah menjadi sebuah bunga mawar, dan aku duduk tepat di tengahnya.
Aku melihat ke depan dan mengawasi apa yang dia lakukan, sekaligus mengawasi perkembangan dari 'Bulan'. 'Bulan' menjadi sedikit lebih bercahaya, tanda bahwa belum saatnya 'itu' terjadi. Tapi, aku tahu bahwa aku tidak akan bertahan lama, begitu juga dengan 'Dunia'.
Tiba-tiba, aku merasakan tetesan air di punggungku. Bulu kudukku segera berdiri akan sentuhan air yang sedingin es. Aku sangat tahu, bahwa 'Dia' datang lagi. Aku mempersiapkan diri untuk melawannya apapun yang terjadi.
Benar saja, dengan segera aku merasakan sepasang tangan yang memelukku dari belakang dan kulit yang terasa sangat dingin melekat pada punggungku. Nafasnya yang sedingin es menyapu kulitku, membuat perasaan takut menguasai tiap syaraf tubuhku.
Dengan suara yang seperti sengaja dilumuri dengan madu, dia berkata, "Bukankah sudah saatnya kau menyerah saja?" ujarnya dengan suara itu. Sungguh menjijikkan.
Tubuhku serasa melemah akan sentuhannya, aku tidak bisa melawan terlalu banyak, atau bahkan melihat ke arahnya. Ada sebuah kekuatan yang menghalangiku untuk melakukannya, sehingga aku tidak tahu wajahnya.
Tapi, demi dunia ini dan juga 'Dia', aku harus bisa melawannya. Dengan segera aku menepis kedua tangannya yang menggantung bebas di pundakku. Dengan berusaha untuk menjaga ketenangan dan kekuatanku yang terbatas, aku berkata, "Pergilah. Apapun yang kau pikirkan, aku tidak akan menyerahkan dunia ini pada tanganmu," ujarku dengan nada setenang mungkin.
Aku bisa mendengar suara tawanya yang menggema. 'Dia' pergi dari tempatku, namun aku bisa mendengar suaranya yang menjijikkan dari belakangku. Aku mendengar tawanya selesai, dan dia berganti menggunakan bahasa kuno untuk berbicara, "Too bad, my dear. After I kindly set up your 'Knight' to find a way to you too…" dia berkata dengan menyembunyikan senyum licik yang ada di wajahnya. Aku tidak tahu apa itu benar, tapi aku merasakannya.
Aku segera terkejut saat 'Dia' menyebut tentangnya dalam perkataannya. Aku segera berbalik, namun dia tidak ada dimanapun. Aku tahu itu, sangat tahu itu. Aku juga tahu bahwa 'Dia' merencanakan sesuatu.
"What did you do to him? Tell me!" aku berteriak dengan sekuat tenagaku entah kemana. Aku tahu bahwa dia mendengarkanku entah dimana, tapi dia tidak menjawab.
"TELL ME!" aku berteriak lagi dengan mengerahkan lebih banyak kekuatanku. Dadaku terasa terbakar dan udara seperti keluar dari dadaku. Aku tidak dalam kondisi untuk melakukan ini, aku tahu, tapi aku harus tahu apa yang 'Dia' rencanakan.
"Enjoy the show my dear Rin," ujarnya lagi sebelum tertawa dengan nada iblisnya.
Aku berusaha berdiri dan menggapainya, tapi aku tahu itu sia-sia saja karena dia tidak ada disini. Dengan semua kekuatan yang kusimpan untuk bertahan hari ini darinya, aku berteriak, "TELL ME RUI! RUIIIIIIIIIII!" teriakku dengan sekuat-kuatku.
Namun setelah itu kesadaranku menghilang dari tubuhku.
Len POV
Aku hanya bisa melongo melihat kuil Magi yang ada di hadapanku. Karena ukurannya benar-benar BESAR! Aku tidak bisa mengukur secara tepat ukurannya, tapi aku yakin bahwa ukurannya setidaknya sebesar Colloseum yang pernah diceritakan Ibu.
Aku melihat gedung ini sebentar. Bentuknya berupa kubah yang sangat besar dengan warna biru kehijauan. Dari yang kudengar, tempat ini dibagi menjadi 2 lantai, lantai 1 untuk yang dikunjungi dalam hari-hari tertentu oleh penduduk disini, dan di atas sebagai tempat tinggal para Elder dan keluarga Cantor. Banyak jendela besar yang terletak di lantai 2, aku tidak tahu untuk apa, tapi terlihat seperti penjagaan yang sangat jarang untuk ukuran tempat tinggal orang penting. Tempat ini dikelilingi oleh sebuah parit yang sangat besar, yang terhubung langsung dengan sungai besar yang melalui desa Rosella.
Aku melihat ke arah dinding yang ditulisi dengan menggunakan bahasa yang tidak kupahami. Yang membuatku heran, ini bukanlah tulisan tentang 'Mana' jadi ini bukanlah kuil Mana. Sebenarnya apa yang terjadi di luar sana? Kenapa Dewi Mana dilupakan?
Aku segera menarik salah seorang yang lewat untuk memasuki kuil. Dia terlihat mirip dengan 'Cantor' Miku, namun laki-laki dan seorang cowok. Dia membawa sebilah pedang di punggungnya dan terlihat cukup kuat.
"Eh, permisi, apa ini kuil Mana?" tanyaku padanya langsung saja. Aku tidak terlalu pintar berbasa-basi hanya sebagai sikap sopan.
Dia melihatku dengan kaget, kemudian dia berkata, "Kau seorang pendukung Mana?" ujarnya balik bertanya kepadaku. Dia terlihat kaget dalam artian yang tidak terlalu membahayakan. Tapi, aku tahu bahwa subjek ini bukanlah hal yang patut dibicarakan di depan publik.
Tapi, aku mempercayai reaksinya yang tidak membahayakan, dan mengangguk pelan. Dia terlihat menghela nafas lega, tapi dengan segera dia menarikku ke koridor yang tidak ada siapapun disana. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, seperti memeriksa apakah tembok disini memiliki telinga. Aku menunggunya saja, sambil merasa beruntung dalam hati, bahwa orang yang kutemui bukanlah musuh.
Setelah menunggu beberapa saat, dia segera berkata, "Baiklah, aku peringatkan agar kau tidak mengatakannya pada setiap orang dengan mudah. Eh, aku belum bilang, namaku Mikuo," ujarnya dengan serius, dia juga mengenalkan dirinya sendiri.
"Aku Len. Memang apa yang terjadi?" balasku sambil bertanya kepadanya dengan heran. Seingatku kepercayaan Mana merupakan kepercayaan yang paling mendasar di dunia ini… saat aku masih kecil tentunya.
"Baiklah, karena aku bisa memperkirakan kau tidak tahu apa-apa entah bagaimana, biar aku ceritakan sejak awal. Sejak runtuhnya kekuasaan raja yang dulu, sekarang raja yang baru, Raja Ted, menekankan kepercayaan Magi pada orang-orang. Magi menentang Mana, tapi Mana selalu netral kepada semua kepercayaan. Nah, karena itulah Raja memerintahkan pembunuhan seorang Mana di tempat jika ditemukan satu. Jadi, meski orang masih percaya akan Mana, mereka beralih pada Magi. Meski penyebarannya tidak sebanyak dalam 6 tahun ini, sejak desa tempat utama bagi Mana berkumpul dihancurkan oleh sesuatu," ceritanya dengan sangat pelan.
Aku hanya mengangguk mengerti, aku tahu bahwa desa yang disebut oleh Mikuo adalah desaku, karena disana ada Ibu yang merupakan Cantor terbaik yang diketahui dunia ini. Mikuo kemudian melanjutkan ceritanya, "Lady Meiko, Lady Miko, Sir Kaito, Sir Meito, dan orang-orang penting Mana menghilang pada tahun yang sama dan hari yang sama pula, kecuali Sir Meito yang sudah menghilang sebelumnya, tapi tetap saja pada hari yang sama. Ini membuat orang merasa takut akan Mana, jadi semua orang berbondong-bondong menjadi Magi. Mana yang tersisa, demi keselamatan mereka berpura-pura menjadi Magi. Aku juga salah satunya. Cantor Rosella juga sama," lanjut Mikuo dengan mengakhiri penjelasannya yang merupakan ringkasan akan apa yang terjadi selama 6 tahun ini di dunia ini. Penjelasannya cukup panjang karena menyebutkan banyak tokoh-tokoh Mana, tapi yang paling mengejutkanku adalah fakta bahwa dia juga seorang Mana.
"Aku mengerti, jadi karena itu kuil ini tidak terdapat simbol Mana sama sekali… dan alasan kenapa aku tidak menyadari kuil ini sebelumnya," ujarku dengan menyentuh dinding kuil yang ditulis tidak dengan bahasa Mana.
Mikuo hanya mengangguk mengiyakan jawabanku. Dia kemudian berkata, "Jika kau mencari kuil Mana, aku bisa tunjukkan padamu. Tapi aku sedang berniat untuk melihat nyanyian Cantor yang baru. Mau pergi bersama?" ujarnya yang lalu menawariku untuk pergi bersama dengannya memasuki kuil.
Aku hanya mengangguk, lalu mengikutinya yang berjalan menuju ke ruangan Cantor akan bernyanyi. Omong-omong soal nyanyian… aku belum pernah mendengar Rin menyanyi sebelumnya. Aku melihat penampilannya juga sebagai penyanyi, tapi aku tidak pernah mendengarnya bernyanyi.
Rin… dimana kau? Apa yang terjadi padamu selama 6 tahun ini?
Saat aku menyadarinya, aku dan Mikuo sudah sampai di sebuah ruangan besar, dengan banyak orang di dalamnya. Mikuo berkata bahwa dia harus pergi duluan, jadi aku ditinggalnya disini. Aku hanya berdiri di depan gerbang yang terbuka lebar, tapi entah mengapa aku tidak ingin memasukinya. Perasaanku tidak terlalu enak.
Aku memutuskan untuk melihat dari luar saja, karena aku merasa bahwa di luar jauh lebih nyaman dibandingkan di dalam.
Aku menyembunyikan diriku di antara gerbang, sehingga tidak terlalu mencolok, saat aku mendengar tepuk tangan yang membahana di dalam ruangan. Tak lama kemudian aku bisa mendengar melodi yang asing di telingaku, ini bukanlah lagu yang Mana ajarkan! Apakah ini lagu buatannya?
Lalu, aku mendengar suara soprano yang sangat kuat memasuki gendang telingaku. Nadanya bagus dan musiknya juga indah. Inilah suara Cantor Miku… tapi, ada yang salah dengan suaranya.
Buru-buru aku melihat ke arah dalam dan melihatnya menyanyi dengan sekuat tenaganya. Semua orang diam dan mendengarkan lagu yang dinyanyikan olehnya. Tapi, saat aku melihat ekspresinya, itu bukanlah ekspresi seseorang yang sedang menyanyi. Ibu dulu menyanyi dengan sangat tenang dan membuat siapapun yang ada di sekitarnya akan diam dan mendengarkan. Semua orang yang sibuk bekerja akan berhenti sejenak hanya untuk mendengarkan lagu yang membawa kebahagiaan dan ketenangan dalam hati.
Tapi… tapi lagu ini… ini salah! Benar-benar salah! Aku harus pergi dari tempat ini segera. Aku membutuhkan kuil Mana sekarang juga. Nyanyiannya bukanlah nyanyian seorang Cantor. Aku bisa merasakan Air, Tanah, Angin, Api, Cahaya, bahkan Kegelapan, menjerit kesakitan akan suara ini. Sebenarnya… untuk siapa dia menyanyi? Seorang Cantor menyanyi untuk menenangkan Dunia ini, bukan menyakiti mereka.
Dengan segera aku berbalik dan melarikan diri dari kuil itu. Tepat saat aku menginjakkan kaki untuk beranjak dari kuil, suara nyanyian itu berhenti. Tapi, aku tidak terlalu memikirkannya dan berlari keluar dari tempat itu.
Miku POV
Meski hanya sekilas, aku melihat pemuda itu lagi. Dia berlari meninggalkan kuil dengan telinga tertutup rapat. Aku segera menghentikan nyanyianku dan menatapnya dengan lekat-lekat. Aku tahu aku tidak bisa melihatnya sekarang, karena tempatku dan tempatnya berbeda ketinggian yang sangat jauh. Tapi, aku hanya menatap.
"Lady Miku, kenapa anda berhenti?"
Teriakan seperti itu mulai mengisi ruangan yang kumasuki ini. Aku tidak bisa membuka mulutku untuk bernyanyi, karena ada seseorang yang menginginkanku berhenti. Aku seharusnya membuat semuanya berbahagia dengan suaraku, tapi kenapa ada seseorang yang merasa tersiksa? Apa ada yang salah dengan suaraku?
Aku segera melihat ke sekeliling, mencari orang yang bisa menjadi sandaranku. Aku mengucapkan mantra untuk memanggil Luna berkali-kali, tapi dia tidak muncul sama sekali. Aku sendirian disini…
Aku melihat ke arah Elder yang terlihat tidak puas dan melihat wajah Elder Rook yang tersenyum dengan licik seakan mengetahui bahwa ini akan terjadi. Dengan geram aku segera merobek rok panjangku dan mengikatnya sehingga menjadi sedikit di bawah lututku. Tanpa mempedulikan suara teriakan orang-orang, aku segera berlari meninggalkan kuil untuk mengejar pemuda itu. Aku tahu bahwa dia tahu tentang apa yang salah denganku.
Saat aku mencapai di luar, aku melihat ke kiri dan ke kanan kemana perginya pemuda itu. Aku merasa nafasku menjadi berat saat aku keluar dari kuil Magi. Aku terbatuk-batuk dan berusaha untuk memasuki wilayah kuil Magi kembali untuk mendapatkan udara yang kubutuhkan sekarang ini.
Namun, saat itu aku sadar… sadar akan sesuatu yang penting… sebuah pertanyaan yang akan menghantuiku sekarang.
"Kenapa aku bergantung pada Magi?" gumamku sambil melangkah mundur menjauhi kuil.
Tidak, ini tidaklah benar. Aku adalah seorang Mana, bukan Magi, kuil Magi bukanlah tempatku. Tempat yang kubutuhkan saat ini adalah Mana, kuil Mana yang sudah dibuang oleh semua orang. Aku yakin dia ada disana pula, karena dia tidak tahan berada di dalam Magi. Benar, aku harus pergi ke kuil Mana sekarang juga!
Aku segera berlari menuju ke arah kuil Mana. Ibu selalu bilang, seorang Mana sejati selalu bisa menemukan 'rumah' mereka dimanapun mereka berada. Itu karena Mana melindungi kami semua, memeluk kami dengan lembut dan hangat. Aku harus mengingat Mana yang ada dalam diriku.
"Benar sekali… itulah jawabanmu…" aku tiba-tiba mendengar suara asing di dalam pikiranku. Tapi aku tidak peduli, sekarang ini aku harus menemukan pemuda itu lagi.
Kami adalah Mana, jadi Mana akan mempertemukan kami entah bagaimana. Aku harus mendengar apa yang salah denganku darinya, sehingga aku bisa bernyanyi demi semua orang-orangku. Sama seperti yang dikatakan gadis dengan mata ruby itu.
Aku terus berlari dan berlari tanpa kenal lelah menuju kuil Mana. Aku tidak tahu berapa lama aku berlari hingga akhirnya aku menemukan sebuah kuil kecil yang tersembunyi di balik rumah-rumah rusak yang sudah tidak terpakai lagi.
Saat aku memasuki wilayah itu, dadaku terasa terbakar dan kekuatanku berkurang dengan drastis. Tempat ini seakan-akan merupakan sebuah tempat yang penuh dengan kabut beracun. Tapi, aku menganggapnya bukanlah sebagai siksaaan, tapi sebagai pertanda bahwa aku sudah meninggalkan Mana terlalu lama hingga dia menolakku.
Lalu, dengan menghirup udara Mana sebanyak yang aku bisa, aku segera memasuki wilayah kuil dengan kekuatan baru yang kutemukan di dalam Mana. Aku berjalan menuju pintu yang sudah rusak setengahnya. Tapi anehnya, saat aku menyentuh gagang pintu itu, pintu itu kembali menjadi indah, bersamaan dengan area disekitarnya yang awalnya gersang, menjadi hijau kembali.
"Inilah… Mana yang Ibu ajarkan…" gumamku sambil melihat pemandangan yang membentang di hadapanku. Mana selalu menjaga orang yang mempercayainya dan memberikan mereka kebahagiaan batin yang tak terhingga.
Aku membuka pintu itu pelan dan melihat ke dalam. Disana tidak ada siapapun, kecuali seseorang yang berdiri di depan altar dengan melihat ke arah simbol Mana, sebuah pohon yang memiliki akar yang sangat kuat. Dia kemudian berlutut di hadapannya dan menundukkan kepala. Aku ikut merasakan suasana nyaman yang ada disana, dan entah kenapa tidak ingin mengganggunya.
Aku memasuki tempat itu dengan tanpa suara. Aku hanya berdiri di depan pintu dan menikmati perasaan kembali pulang yang kurasakan. Inilah rumah yang ingin aku datangi lagi, bukan tempat tadi yang diisi oleh orang-orang seperti Elder Rook.
Aku duduk di salah satu bangku belakang dan berdo'a kepada Mana agar aku dimaafkan dan diterima kembali sebagai seorang putrinya. Mana itu seperti seorang 'Ibu' bagi semua orang. Selalu menjaga sepenuh hati dan memberi kita rasa nyaman di dekatnya.
Tiba-tiba, ditengah do'aku aku mendengar suara nyanyian seorang cowok dan aku segera mengangkat kepalaku. Aku melihatnya meletakkan pedangnya dan menyanyikan sesuatu yang terdengar sangat familier di telingaku.
The color of mornings that sank into dawn
A cat laps up water…
On distant yesterday… the soil too must have finally dried up…
The winds of tommorow… still cannot affect me…
Aa~ you wander astray once more
The trees of the forest fall into deep sorrow
With a sounds that resounds in my heart
Suddenly rustles their clustered leaves
Saat aku mendengarkannya, aku merasakan ketenangan yang sangat dalam. Tanpa kusadari aku memanggil Luna, dan Luna muncul di hadapanku dan dia menari dengan senang saat mendengar suara itu. Kenapa, kenapa Luna muncul saat mendengar suaranya? Kenapa dia tidak menghiburku saat aku menyanyi? Apa yang sebenarnya salah…
Aku berdiri dan sepertinya itu mengundang perhatiannya kepadaku. Aku memandanginya dan aku yakin dia menyadari bahwa aku adalah seorang Cantor. Dia melihatku dengan heran, lalu bertanya, "Kenapa kau ada disini?" tanyanya dengan melihatku.
Normalnya dia akan disebut tidak sopan, tapi aku tidak mempedulikan itu dan aku menjawab, "Aku ingin pulang…" jawabku singkat. Aku segera menutup mulutku, aku terdengar seperti seseorang yang sedang disekap disini.
Dia melihatku dengan tatapan penuh selidik, kemudian berkata, "Hei, sebenarnya aku ingin bertanya tentang ini sejak tadi, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu," ujarnya dengan melangkah mendekatiku yang ada di kursi belakang.
Aku mendongak dan melihatnya dengan lebih jelas sekarang. Dia memiliki mata berwarna sapphire dan rambut berwarna Blond terang, dia terlihat sedikit lebih tinggi dariku. Dia membawa sebuah pedang yang sangat besar, dan juga sebilah pedang yang berkarat dengan parah.
"Eh? Bo-boleh saja…" kini giliran aku yang merasa heran kepadanya. Apa dia ingin menanyaiku tentang itu? Tanpa sadar kuizinkan dia berbicara.
"Kenapa kau menyanyi?" ujarnya singkat dengan melihat ke arahku dengan penuh selidik.
Aku melihat ke arah lain, dan aku langsung saja menjawab, "Aku tidak tahu… aku selalu percaya bahwa aku menyanyi demi orang-orangku… karena ini tugasku… karena Ibuku adalah seorang Cantor… karena itu aku… melakukannya," jawabku dengan sejujurnya. Aku tidak bisa berbohong di hadapannya.
Dia kemudian mengambil tempat duduk di sampingku dan dengan tenang dia berkata, "Apa kau tidak mendengar tangisan mereka saat kau menyanyi?" tanyanya lagi dengan pelan dan penuh makna.
'Mereka?' aku segera melihat ke arahnya dengan tatapan tanda tanya. Apa maksud pemuda ini dengan mereka? Siapa yang menangis saat aku menyanyi?
"Air, Tanah, Udara, Api, Dunia ini, semuanya menangis. Langit juga ikut menangis saat kau menyanyi. Kau menyiksa mereka semua," jelasnya dengan singkat dan padat.
Aku melihatnya dengan tidak percaya. Apa tanpa kusadari aku telah menyakiti mereka? Aku membuat mereka menangis? Apa tidak hanya dia yang merasa tersiksa mendengarku? Kalau itu benar… kenapa aku terus menyanyi? Sejak kapan aku menjadi seseorang yang kejam seperti itu?
Apa aku…
"Apa kau…"
Benar-benar…
"…merupakan…"
Seseorang yang bisa bernyanyi… demi semua orang?
"…seorang Cantor?"
Oke, sekarang Miku dan Len bertemu, tapi kayaknya Miku gak kepikiran buat tanya nama Len deh. Yah, sudahlah. MOHON REVIEW~ di flame juga boleh kok. Tapi, kalo mau FLAME jangan pake ANONIM itu mah namanya menjatuhkan untuk menghancurkan mental seorang penulis. Yah, bagi yg gemar Action, jangan khawatir ntar ada adega Action na sendiri. Oh, ya, buat yg juga baca 'Cursed Cinderella' na Rina dan pingin adega Action, Rina mengabulkan permintaan kalian dan menambahkan adegan itu. Tapi, tetep tunggu tanggal 24 Maret ya~ P.S.: Lirik yg dinyanyikan Len berasal dari lagu 'Forest' buatan Nata-P
Sekali lagi, Review please!~
