Title: AS I TOLD YOU

Cast: Jungkook, Jimin, Taehyung, Jin, Hoseok #KookMin #VMin

Lenght: Two Shoot (4 Chapter Include Teaser)

Rating: 15+

Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]


Jungkook berjalan pulang menuju kosannya.

Membiarkan dirinya basah kehujanan.

Tepat ketika Jungkook mendengar jawaban Jimin kepada Taehyung, pelan-pelan Jungkook keluar dari mini market itu dan segera berlari dalam hujan, menjauh dari mini market itu menuju kosannya.

"Aku rasa... Aku sudah tidak punya harapan sama sekali terhadapnya..." gumam batin Jungkook sambil berlari dalam hujan.

Jawaban Jimin kepada Taehyung kembali terngiang di telinganya, membuat dadanya terasa sesak seketika.

"Inikah rasanya patah hati? Mengapa sesakit ini?" gumam Jungkook. Ia berhenti sejenak dan memegang dadanya yang terasa sangat sakit, lalu kembali berjalan menuju kosannya dalam hujan.

Hoseok sedang berdiri di depan kamar kosannya sambil menatap hujan, dan tiba-tiba ia melihat sosok Jungkook berjalan menuju kosan dengan basah kuyup.

"Yaishh, pabo ya! Mengapa ia berjalan pulang dalam hujan? Apa ia lupa bawa payung? Ia kan bisa berteduh dulu! Ckckckck..." gumam Hoseok.

Jungkook menaiki tangga menuju kamar kosannya di lantai tiga, dan berpapasan dengan kamar Hoseok yang berdiri di depan kamarnya yang terletak di sebelah kanan kamar Jin.

"Jungkook ah, kau kenapa hujan-hujanan?" tanya Hoseok.

Jungkook menatap Hoseok. "Uh? Uhmmm... Aku hanya sedang ingin bermain hujan..." sahut Jungkook dengan senyum terpaksa.

"Ada yang tidak beres lagi dengannya.." gumam batin Hoseok.

"Aku masuk kamar dulu ya, hyeong..." sahut Jungkook dengan nada lemas.

"Araseo.. Jgn lupa mandi dengan air hangat, oke?" sahut Hoseok.

Jungkook menganggukan kepalanya, lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Hoseok memiringkan kepalanya menatap ke pintu kamar Jungkook yang sudah tertutup. "Ada apa lagi dengannya?"

.

.

.

Taehyung berbaring di dalam kamarnya.

Langit sudah sangat gelap.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.40 PM.

Namun Taehyung belum juga bisa tertidur.

Ia memejamkan kedua matanya, dan kejadian sore tadi di mini market kembali melintas dalam benaknnya.

"Jimin ah... Aku... Ingin mengatakan sesuatu padamu..." sahut Taehyung.

"Mwoya... Tidak biasanya kau seserius ini..." sahut Jimin.

"Jimin ah.. Aku serius..." sahut Taehyung.

"Wae? Katakan saja..." sahut Jimin.

Tiba-tiba Taehyung memegang erat bahu Jimin. "Jimin ah... Aku... Mencintaimu... Sudah sejak lama..."

"Mwoya?" Jimin membelalakan kedua bola matanya menatap Taehyung. "Kau sedang bercanda kan?"

"Aniya..." sahut Taehyung sambil menatap tajam ke arah Jimin. "Aku serius... Sudah sejak lama... Aku... Menyukaimu..."

Jimin terdiam sejenak, menatap Taehyung lekat-lekat.

Taehyung menatap Jimin dengan ekspresi sangat serius.

"Kim Taehyung... Aku... Tidak mengerti... Sedikitpun tidak mengerti.. Mengapa kau bersikap seperti ini padaku... Tapi... Kau kan tahu kita sudah bersahabat sangat lama..." sahut Jimin sambil menatap Taehyung.

Taehyung terus menatap Jimin.

"Aku... Sudah menganggapku sebagai sahabat terbaikku... Aniya... Bahkan, aku sudah menganggapmu seperti saudara kandungku sendiri... Seperti.. Uhmmmm... Saudara kembar? Saudara kembar yang tak pernah terpisahkan..." sahut Jimin.

Taehyung terus menatap Jimin dalam diam.

"Aku... Sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai pasangan... Aku... Sangat sangat menyayangimu... Sebagai sahabat dan saudara... Kupikir kau juga menganggapku begitu... Makanya kau tetap saja cuek dengan gosip-gosip yang beredar... Karena kupikir perasaanmu sama sepertiku..." sahut Jimin lagi.

"Apa kau menolakku?" sahut Taehyung sambil menatap Jimin.

Jimin menghela nafas. "Kim Taehyung... Aku... Benar-benar tidak bisa menganggapmu lebih dari apa yang sudah kita jalani selama ini.. Tolong, Taehyung ah... Jangan buat keadaan jadi rumit diantara kita... Aku.. Tidak mau hubungan kita jadi canggung... Tetaplah menjadi Kim Taehyung yang biasa... Yang selalu ada disampingku sebagai sahabat terbaikku... Ttak joha... Ireohke... Jebal, Taehyung ah... Eoh?"

TES~

Air mata Taehyung menetes mendengar penolakan dari cinta pertamanya itu.

"Untung saja setelah itu aku bisa berakting dengan baik! Jadi keadaan antara kami tidak menjadi canggung..." sahut Taehyung sambil menghapus air matanya.

Ya... Tepat setelah Jimin menjawab seperti itu, Jungkook segera perlahan berlari keluar dari mini market dan berlari dalam hujan.

Sementara di dalam mini market, Taehyung tiba-tiba tertawa, tepat ketika Jungkook sudah berjalan keluar dari mini market.

"Hahahaha... Apa aktingku sudah ada peningkatan?" sahut Taehyung.

Jimin membelalakan kedua bola matanya lagi. "Mwoya igo?"

"Aku... Akan diaudisi untuk menjadi pemeran utama pertunjukkan theater yang akan diadakan dua bulan lagi... Makanya, aku berlatih berakting denganmu barusan.. Apa aktingku... Sudah sangat bagus?" sahut Taehyung sambil tersenyum menggoda Jimin.

"Yaishhh! Kim Taehyung! Apa kau sudah gila? Kau cari mati, huh?" gerutu Jimin sambil meng-headlock kepala Taehyung dengan lengannya.

"Aaaaarggghhh... Sakit, imma... Sakit sakit... Lepaskan..." teriak Taehyung, kesakitan.

Jimin melepaskan headlock nya. "Jadi, yang kau katakan barusan... Hanya akting kan?"

Taehyung tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Tentu saja... Ya, Park Jimin! Kau kan tahu aku ini cassanova? Ada berapa banyak pria manis di luar sana yang menyukaiku? Mana mungkin aku jatuh cinta padamu yang ceroboh dan lemah ini? Hahaha..."

"Cih..." gerutu Jimin sambil menatap Taehyung. "Kukira kau tadi serius... Aku sampai kebingungan bagaimana harus bersikap dihadapanmu selanjutnya jika apa yang kau katakan tadi benar..."

"Hehehehehe..." Taehyung tertawa dengan polosnya.

"Tapi, Jimin ah.. Kau benar-benar sedikitpun tidak tertarik padaku yang tampan ini?" tanya Taehyung.

Jimin tertawa. "Hahahaha... Kita sudah terlalu lama bersama, imma... Aku sudah mati rasa kepadamu... Wleeee~" sahut Jimin sambil menjulurkan lidahnya.

"Ckckckck~ Seleramu rendahan..." sahut Taehyung sambil menggelengkan kepalanya.

"Sejujurnya... Awal-awal aku mengenalmu... Aku sempat jatuh cinta padamu.. Tapi aku tahu kau mana mungkin jatuh cinta padaku yang lemah ini, makanya kuputuskan untuk tetap diam dan menjalani hubungan ini sebagai sebuah persahabatan... Dan nyatanya, lama kelamaan aku benar-benar mati rasa padamu... Sedikitpun sekarang aku tidak tertarik lagi padamu... Hehehe~ Tapi harus kuakui, kau sudah seperti saudara kembarku rasanya! Karena kau selalu ada untuk menolongku, tanpa mengeluh... Itu yang disebut sebagai sahabat dan saudara kan?" sahut Jimin sambil tersenyum.

DEG!

Jantung Taehyung terasa ditusuk oleh sebilah pisau tajam saat itu juga.

"Pabo ya..." gumam Taehyung dengan sangat pelan.

Taehyung menatap ke arah Jimin yang kini sedang sibuk mencari coklat kesukaannya di rak.

Taehyung berusaha untuk tertidur, namun tetap tidak bisa.

"Jadi... Kau dulu juga sempat menyukaiku? Aku bahkan sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu menangis dalam kelas ketika kau terjatuh di tangga sekolahan! Aku.. Sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku menyapamu sore itu, imma... Cih... Seandainya saja dari dulu aku mengutarakan perasaanku dengan berani padamu... Apakah kita sedang berpacaran dengan bahagia saat ini?" gumam Taehyung.

"Setidaknya, untung saja aku bisa berakting, berpura-pura aku sedang berlatih akting dihadapannya... Jika ia tahu aku ternyata benar-benar mencintainya, sementara ia tidak mencintaiku, hubungan kami akan jadi canggung pastinya..." gumam Taehyung lagi sambil terus memejamkan kedua matanya, berusaha untuk tertidur.

.

.

.

Jungkook terbangun jam sepuluh siang, lalu segera berlari ke kamar Jin untuk mencari sarapan.

"Hyeong, apa ada yang bisa kumakan?" tanya Jungkook ketika ia masuk ke dalam kamar Jin.

Jin dan Hoseok sedang bermain playstation di dalam kamar Jin.

"Kau baru bangun lagi?" tanya Jin.

"Kau tidak sakit karena kehujanan kemarin kan?" tanya Hoseok.

Jungkook berjalan menuju kulkas Jin. "Aku pria kuat, hyeong.. Mana mungkin hujan membuatku sakit?"

"Baguslah kalau begitu.." sahut Hoseok.

"Kau... Belum mau bercerita kepada kami ada apa denganmu kemarin sampai hujan-hujanan begitu?" tanya Jin.

Jungkook duduk diantara Jin dan Hoseok sambil mengunyah keripik kentang, sementara tangannya menggenggam erat sebungkus keripik kentang yang diambilnya dari kulkas Jin.

"Aku... Kurasa aku sudah tidak punya harapan mengejar Jimin sunbae..." sahut Jungkook dengan nada lemah sambil mengunyah keripik kentang dalam mulutnya.

"Waeyo?" tanya Hoseok.

"Aku... Kemarin ketika berteduh di mini market, tidak sengaja mendengar Taehyung sunbae menyatakan perasaannya pada Jimin sunbae..." sahut Jungkook.

"Jinjja? Lalu? Mereka kini berkencan?" tanya Jin.

Jungkook menggelengkan kepalanya. "Jimin sunbae menolak Taehyung sunbae..."

"Yaishhhh! Itu tandanya kau punya harapan, imma!" sahut Hoseok sambil memukul bahu Jungkook.

"Aniya... Aku justru sama sekali tidak punya harapan lagi..." sahut Jungkook sambil menundukkan kepalanya.

"Waeyo?" tanya Jin, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jungkook.

"Logikanya, hyeong... Taehyung sunbae dan Jimin sunbae sudah bersama sejak sangat lama... Untuk jangka waktu yang panjang... Lalu, Taehyung sunbae memiliki wajah yang sangat tampan seperti itu... Dan mereka sudah sangat dekat, seperti sepasang kekasih begitu... Namun, pria seperti Taehyung sunbae saja ditolaknya! Apalagi aku yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Taehyung sunbae ini, hyeong? Jimin sunbae pasti tidak akan tertarik padaku..." sahut Jungkook, wajahnya sudah seperti orang mau mati saja.

"Aaaaahhhh... Jadi itu alasanmu mengapa kau bilang kau tidak punya harapan lagi?" tanya Jin.

Jungkook menganggukan kepalanya.

"Alasanmu... Masuk akal juga sebenarnya kalau dipikir-pikir..." sahut Hoseok sambil menganggukan kepalanya.

"Lalu... Aku harus bagaimana mulai sekarang?" sahut Jungkook dengan nada sanagt lemas.

.

.

.

Selasa pagi.

Tidak sengaja Jungkook dan Jimin berpapasan di gerbang kampus karena mereka berdua sama-sama baru tiba di kampus.

Jungkook langsung menundukkan kepalanya ketika ia beradu tatapan dengan Jimin, lalu berjalan dengan agak cepat menuju ke gedung fakultasnya.

Jimin memiringkan kepalanya. "Uh? Bukankah itu Jungkook-sshi? Mengapa ia tidak menyapaku?" gumam Jimin sambil berjalan menjauh dari Jungkook menuju ke gedung fakultasnya.

Setelah Jimin berjalan menjauh, Jungkook langsung mengarahkan pandangannya ke arah Jimin berada.

Jungkook menatap punggung Jimin yang berjalan menjauh darinya itu.

"Aku... Tidak memiliki keberanian untuk mendekatimu lagi, sunbae..." gumam Jungkook sambil terus menatap punggung Jimin yang menjauh darinya.

.

.

.

Selasa siang.

Jungkook tahu betul siang itu Jimin ada di perpustakaan, jadi Jungkook pelan-pelan berjalan masuk ke perpustakaan.

Jungkook melihat Jimin tengah terduduk di meja di sudut ruangan sambil membaca sebuah buku.

Jungkook menatap Jimin dari balik rak buku dekat meja tempat Jimin duduk.

"Melihat wajahmu saja sudah membuatku senang... Walaupun kau... Tidak akan pernah bisa kumiliki..." gumam Jungkook.

Jungkook terus menatap wajah manis Jimin dari balik rak, dan tiba-tiba saja Jimin menoleh ke arahnya dan mereka beradu pandang.

Jungkook langsung membuang pandangannya ke arah lain, berpura-pura sedang tidak melihat Jimin.

"Uh? Jungkook-sshi?" gumam Jimin.

Jungkook segera berjalan cepat keluar dari perpustakaan itu.

"Huft! Hampir saja aku ketahuan sedang memperhatikannya!" gumam Jungkook ketika ia sudah berada di luar gedung utama.

.

.

.

Rabu siang.

Jungkook dan Jimin kembali berpapasan di kantin siang itu. Bukanya kebetulan, namun Jungkook tahu betul bahwa Rabu siang itu Jimin pasti ke kantin untuk berkumpul dengan klub basketnya.

Dan lagi-lagi Jungkook berjalan sambil menatap ke bawah ketika Jimin melintas disampingnya.

Dan setelah Jimin menjauh, Jungkook baru berani menoleh ke arah Jimin, menatap punggung Jimin yang menjauh darinya.

Dan tiba-tiba saja Jungkook teringat akan sebuah lagu lama.

"Kim Sung Jae - As I Told You

.

As I told you, I'm in love with you

But, I can't even tell you

Another day is passing by

But I'm always going nowhere

.

When you have your back to me

I always look at you

When you are in front of me

I always look at the ground

Haven't you notice me?

Awkwardly forcing myself to look away from you

.

Every time we happened

To pass by each other

Everytime we brushed by each other

Exchanging greetings

Didn't you realize

That happened way too often?

.

Every single moment like that

Was never a coincidence

As much as I love you

I'm scared to say what a fool I am!

.

As I told you, I'm in love with you

But, I can't even tell you

Another day is passing by

But I'm always going nowhere

.

As I told you, I'm in love with you

But, I can't even tell you

Another day is passing by

But I'm always going nowhere"

"Whoaaaa... Lagu itu benar-benar seperti apa yang tengah kulakukan saat ini!" gumam Jungkook.

"Another day is passing by, but I'm always going nowhere... When you have your back to me, I always look at you... When you are in front of me, I always look at the ground... Huft..." gerutu Jungkook, merutuki dirinya sendiri yang begitu pengecut.

.

.

.

Jumat siang.

Tiba-tiba saja ada acara gabungan antar fakultas.

Semua mahasiswa dikumpulkan di gedung auditorium yang sangat sangat luas. Ruangan itu sanggup menampung semua mahasiswa di kampus itu.

Para rektor dan petinggi kampus berusaha mengumpulkan semua mahasiswa untuk menjelaskan dan mengingatkan lagi mengenai peraturan dan kebijakan kampus yang sudah mulai sering dilanggar oleh para mahaiswa akhir-akhir ini.

Jungkook duduk bersebelahan dengan Hoseok dan Jin.

Sementara dari tempat duduk Jungkook, ia bisa melihat Jimin duduk bersebelahan dengan Taehyung tak jauh di depannya.

"Yaaaa, Jungkook ah! Lihat siap disana? Cinta pertamamu..." sahut Jin ketika menyadari Jimin duduk tak jauh dari tempat mereka duduk.

"Ah.. Majjayo!" sahut Hoseok.

Jungkook menundukkan kepalanya. "Aku sudah tahu sejak tadi..."

"Ckckckck~ Kau... Benar-benar menyerah untuk mendekatinya?" tanya Hoseok.

Jungkook menatap ke arah Jimin. "Aku... Tidak punya keberanian untuk mengejarnya, hyeong..."

Dan tiba-tiba saja Jimin menoleh ke belakang, dan beradu tatapan denga Jungkook.

Jungkook segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Jimin karena grogi. Jungkook langsung memandang sekeliling gedung, lalu berkata kepada Jin dengan nada canggung, "Hyeong, ruangan ini sangat luas ya!"

Hoseok tertawa. "Lihat kelakukannya, hyeong!" sahut Hoseok sambil menatap Jin. "Ia mengalihkan pandangannya dari Jimin karena tatapan mereka beradu barusan! Hahahaha..."

Jin ikut tertawa. "Aku juga menyadarinya, hahahaha..."

"Sssst!" gerutu Jungkook sambil menundukkan kepalanya.

Jimin memiringkan kepalanya sambil menatap ke arah panggung di depan. "Ada yang aneh dengannya.. Apa ia lupa denganku?"

"Siapa?" tanya Taehyung ketika mendengar ucapan Jimin.

"Pria yang menabrakku waktu itu... Biasanya setiap kami berpapasan, ia selalu menyapaku.. Tapi akhir-akhir ini ia membuang pandangannya dariku setiap melihatku..." sahut Jimin ekspresi kebingungan.

"Jinjja?" tanya Taehyung,

Jimin menganggukan kepalanya. "Jinjja ya... Ada apa sebenarnya?"

Taehyung menatap Jimin.

"Mengapa menatapku begtu?" tanya Jimin.

"Dweso..." sahut Taehyung sambil menatap ke arah panggung.

.

.

.

Sudah nyaris tiga minggu berlalu sejak Jungkook mendengar penolakan Jimin kepada Taehyung di mini market itu.

Dan selama dua minggu itu, Jungkook selalu saja membuang pandangannya setiap berpapasan dengan Jimin, dan selalu menatap Jimin dengan diam-diam dari kejauhan.

Jumat sore itu hujan turun sangat deras.

"Kim Taehyung, aku pulang duluan ya.." sahut Jimin.

"Bukannya kau ada ekskul basket?" tanya Taehyung.

"Kelas ekskul hari ini diliburkan.. Kapten tim sedang ada urusan keluarga... Aku pulang duluan saja ya, aku malas menemanimu disini.." sahut Jimin.

"Hujan sangat deras..." sahut Taehyung.

"Gwenchana.. Aku bawa payung di tasku..." sahut Jimin.

"Araseo... Hati-hati ya!" sahut Taehyung, seperti biasa, selalu memperingatkan sahabatnya itu.

"Ne~ Ne~ Ne~" sahut Jimin sambil berjalan menjauh dari Taehyung.

Setibanya Jimin di lobi kampus, ia membuka tasnya dan baru menyadari bahwa payungnya tertinggal di kamarnya tadi pagi.

"Yaishhh! Mengapa aku bisa lupa memasukkannya ke tasku!" gerutu Jimin.

Di saat bersamaan, Jungkook juga berjalan, dan berdiri di belakang Jimin, ia tidak sadar Jimin tengah berdiri dihadapannya.

"Yaisssshhh! Payungku kan dipinjam Jin hyeong kemarin Sabtu dan belum dikembalikan padaku! Mana hari ini ia sudah pulang lebih dulu karena orang tuanya datang berkunjung!" gerutu Jungkook.

Jimin menoleh ke belakang dan mendapati Jungkook berdiri sambil menggerutu di belakangnya.

Jungkook menatap ke depan dans ecara tidak sengaja bertatapan dengan Jimin.

Jungkook refleks membuang pandangannya, menatap lantai yang tengah diinjak kedua kakinya.

"Yaiiishhhh... Mengapa aku tidak sadar Jimin sunbae dihadapanku!" gerutu batin Jungkook.

Jimin memiringkan kepalanya, lalu kembali menatap ke depan. "Mengapa ia lagi-lagi menghindariku?" gumamnya pelan.

Mereka berdua berdiri di lobi dalam diam hampir sepuluh menit lamanya, menunggu hujan reda namun belum reda juga.

Akhirnya Jimin memutuskan untuk buka suara memecahkan keheningan diantara mereka.

"Jungkook-sshi?" tanya Jimin sambil menatap Jungkook.

"Uh? Uh?" Jungkook kalang kabut, tidak menyangka Jimin akan menyapanya terlebih dulu.

"Kau... Apa kepalamu baik-baik saja?" tanya Jimin.

"Ah? Ne? Kepalaku?" Jungkook menatap Jimin dengan kebingungan.

"Kau... Tidak lupa kan aku ini siapa?" tanya Jimin.

"Jimin... Sunbae..." sahut Jungkook dengan wajah polosnya.

"Majjayo! Kau mengingatku, dan mengenalku... Lalu.. Mengapa akhir-akhir ini kau tidak pernah menyapaku lagi setiap kali kita berpapasan?" tanya Jimin sambil menatap Jungkook.

"Uh? Itu.. Uhmmm... Aku... Uh..." Jungkook bingung harus menjawab apa.

"Apa aku... Berbuat salah padamu sampai kau berusaha menghindariku?" tanya Jimin.

"Aniya! Kau tidak salah apa-apa, sunbae!" sahut Jungkook seketika itu juga.

Jimin tertawa kecil mendengar jawaban Jungkook. "Aku semakin penasaran, ada apa sebenarnya denganmu?"

"Aniya... Aku... Uhmmm..." Jungkook menggaruk kepalanya karena kebingungan.

"Sejujurnya... Aku merasa aneh akhir-akhir ini karena kau tidak menyapaku... Hatiku... Sedikit merasa kecewa... Setiap kau mengacuhkanku akhir-akhir ini..." sahut Jimin sambil menatap hujan yang turun dengan deras dihadapannya.

"Uh?" Jungkook menatap Jimin.

"Lupakan ucapanku.. Hehehe..." sahut Jimin sambil tersenyum.

Jungkook menggaruk kepalanya lagi, tidak mengerti apa maksud ucapan Jimin barusan.

Tak lama kemudian hujan turun, dan mereka berduapun kembali ke rumah masing-masing.

.

.

.

Sabtu siang.

"Yaaaa! Itu artinya, ia sedikit banyak menyimpan perasaan padamu, imma!" sahut Jin ketika Jungkook bercerita pada kedua sahabatnya itu mengenai kejadian antara ia dengan Jimin sore kemarin.

"Jinjja? Ap itu maksudnya?" tanya Jungkook.

"Majjayo! Whoaaaa, chukkae Jeon Jungkook! Kau punya harapan!" sahut Hoseok.

"Aku tidak merasa begitu... Aku berpikir, ia mungkin hanya ingin menjadi sahabatku... Makanya ia berkata begitu..." sahut Jungkook.

"Masuk akal juga ucapanmu..." sahut Jin.

"Aku harus bagaimana sekarang, hyeong?" tanya Jungkook.

"Kalau kau berani, nyatakan perasaanmu padanya..." sahut Hoseok.

"Bagaimana jika aku ditolaknya juga?" sahut Jungkook.

"Bukankah Taehyung sudah ditolak Jimin, namun mereka masih bisa bersahabat baik? Kau juga masih punya peluang menjadi sahabatnya jika ia menolakmu.." sahut Hoseok.

"Setidaknya.. Kau sudah mencoba yang terbaik... Setidaknya kau dapat jawaban yang pasti bagaimana perasaannya padamu.. Daripada kau menerka-nerka seperti ini?" sahut Jin.

Jungkook terdiam sambil berpikir. "Ucapanmu masuk akal juga, hyeong..." sahutnya setelah berpikir sejenak.

.

.

.

Senin pagi.

"Sunbae..." sapa Jungkook ketika ia memberanikan dirinya mendatangi gedung fakultas sastra pagi itu.

"Uh? Kau kesini mencariku? Kupikir kau sedang berusaha menjauhiku..." sahut Jimin, terkejut melihat Jungkook tiba-tiba menghampirinya di depan kelasnya.

"Uh... Mengenai pertanyaanmu kemarin... Dengarkan rekamanku di CD ini... Aku... Tidak bisa mengatakannya secara langsung padamu, makanya aku memutuskan untuk merekamnya di CD ini..." sahut Jungkook sambil memberikan sebuah CD kepada Jimin.

Jimin mengambil CD itu. "Ini apa?"

"Dengarkan saja, sunbae... Kalau begitu, aku pamit dulu, sunbae... Maaf mengganggu waktumu..." sahut Jungkook.

Jimin menganggukan kepalanya, dan Jungkook segera berlari menjauh dari gedung sastra itu.

"Whoaaaaaaaaa! Aku nyaris mati karena terlalu grogi barusan!" sahutnya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.

"Ia pria yang menabrakmu itu kan?" tanya Taehyung sambil berjalan menghampiri Jimin ketika Jungkook sudah menghilang dari hadapan Jimin.

"Majjayo..." sahut Jimin sambil menganggukan kepalanya.

"Uh? Ia memberimu apa?" tanya Taehyung ketika melihat sebuah CD di genggaman Jimin.

"Nado molla.. Ia hanya bilang, memintaku mendengarkan CD ini..." sahut Jimin.

"Ne?" Taehyung membelalakan kedua bola mata besarnya itu. "Jaman sekarang masih ada saja yang menyuruh mendengarkan CD seperti ini?"

Jimin tersenyum. "Kyeopta..."

"Aku?" tanya Taehyung.

"Aniya! Kau sama sekali tidak ada imut-imutnya..." sahut Jimin sambil berjalan menuju tempat duduknya.

"Lalu siapa yang kau bilang barusan?" tanya Taehyung sambil berjalan mengikuti Jimin.

"Ra..Ha...Si...A..." sahut Jimin sambil tersenyum.

Taehyung menatap Jimin. "Mwoya..."

.

.

.

Malamnya, Jimin segera berjalan menuju kamarnya sepulang makan malam bersama Taehyung setelah pulang dari kampus.

Taehyung bersikeras ingin ikut mendengarkan isi CD itu namun Jimin tidak mengijinkan Taehyung.

"Ia memberikan ini untukku, jadi kau tidak boleh mendengarnya!" sahut Jimin ketika Taehyung merengek ingin mendengar isi rekaman di CD itu.

Sesampainya Jimin di kamar, ia segera menyetel CD itu dan mendengarkannya.

Pertama, sebuah suara terdengar.

"Test one two three... Ehem...

Jimin sunbae... Sebelum aku menjelaskan padamu mengapa aku akhir-akhir ini berusaha menghindar darimu... Aku ingin kau mendengarkan sebuah lagu yang kunyanyikan ini untukmu..

Uhmmm... Maafkan aku kalau suaraku kurang bagus... Tapi kuharap.. Kau menyukai lagu yang kunyanyikan ini..."

Tiba-tiba suara alunan musik terdengar.

Dan suara Jungkook tengah menyanyi mulai terdengar.

"As I told you, I'm in love with you

But, I can't even tell you

Another day is passing by

But I'm always going nowhere"

"Uh? Lagu ini..." gumam Jimin.

"When you have your back to me

I always look at you

When you are in front of me

I always look at the ground

Haven't you notice me?

Awkwardly forcing myself to look away from you

.

Every time we happened

To pass by each other

Everytime we brushed by each other

Exchanging greetings

Didn't you realize

That happened way too often?

.

Every single moment like that

Was never a coincidence

As much as I love you

I'm scared to say what a fool I am!"

"Apa maksudnya menyanyikan ini untukku?" gumam Jimin.

"As I told you, I'm in love with you

But, I can't even tell you

Another day is passing by

But I'm always going nowhere

.

As I told you, I'm in love with you

But, I can't even tell you

Another day is passing by

But I'm always going nowhere"

"Uh?" Jimin masih kebingungan.

Tiba-tiba sebuah suara kembali terdengar.

"Ehem... Kalau kau sedang bingung, mengapa aku menyanyikan lagu ini untukmu... Akan kujelaskan sekarang..

Inilah alasanku, menjauh darimu akhir-akhir ini...

Karena aku... Tidak berani mendekatimu, sunbae...

Sejujurnya aku... Sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertabrakan pagi itu...

Aku... Langsung jatuh cinta padamu ketika melihat wajah manismu dihadapanku saat itu juga..."

"Mwoya? Jadi ini... Pernyataan cinta.. Untukku? Jinjja?" Jimin membelalakan kedua bola matanya.

"Awalnya, aku berusaha mendekatimu... Karena kupikir, aku punya kesempatan untuk mendapatkanmu... Namun aku mulai lemas ketika melihatmu sangat dekat dengan Taehyung sunbae...

Tapi sahabat-sahabatku terus mendukungku untuk mendekatimu, karena kau dan Taehyung sunbae tidak sedang berkencan...

Jadi, aku berusaha diam-diam membuntutimu dan bersikap selah-olah tidak sengaja berpapasan denganmu... Padahal, aku merekayasa itu semua...

Aku mengetahui apa saja jadwalmu dari seorang kenalanku, jadi aku tahu jam berapa kau biasanya berada di perpustakaan.. Jam berapa biasanya kau ada di kantin.. Dimana kau biasa memfotokopi tugas-tugasmu... Apa saja mata pelajaranmu dan jam berapa kelasmu berakhir..

Aku mengetahui semua itu, dan mendekatimu dengan diam-diam lalu bersikap seolah kita berpapasan secara tidak sengaja, agar aku punya kesempatan untuk menyapamu..

Seperti yang dikatakan di lirik lagu yang kunyanyikan tadi.

Every time we happened to pass by each other... Everytime we brushed by each other.. Exchanging greetings... Didn't you realize that happened way too often? Every single moment like that was never a coincidence...

Kau pasti merasa heran kan mengapa tiba-tiba kita jadi sering berpapasan? Semuanya bukan kebetulan.. Semuanya sudah kuatur agar aku bisa bertemu denganmu..."

"Mwoya igo? Hahahaha! Pantas saja aku jadi sering berpapasan denganmu padahal sebelum kita bertabrakan, aku bahkan tidak pernah melihatmu di kampus! Hahaha~" Jimin tertawa mendengar penjelasan Jungkook.

"Tapi...

Sore itu secara tidak sengaja aku mendengar pernyataan cinta Taehyung sunbae padamu. Dan aku mendengar kau menolaknya!

Padahal Taehyung sunbae sudah begitu lama bersamamu.. Kalian sudah begitu dekat.. Dan Taehyung sunbae sangat tampan seperti itu... Tapi kau menolaknya!

Apalagi aku? Aku yakin kau tidak akan menyukaiku... Makanya sejak itu kuputuskan untuk tidak lagi menyapamu..

Aku memutuskan untuk menatapmu dari kejauhan dengan diam-diam...

Semua keberanianku menghilang dan aku tidak berani lagi mendekatimu... Makanya aku selalu memalingkan pandanganku darimu saat kita berpapasan, dan aku baru menoleh ke arahmu setelah kau berjalan menjauh dariku...

Itu alasanku mengapa aku menjauh darimu akhir-akhir ini..."

"Aigooooooo..." gumam Jimin. "Kurasa ia tidak mendengarkan percakapanku dengan Taehyung hingga selesai sore itu... Taehyung hanya sedang berakting sore itu, imma..."

"Dan terakhir kali, sebelum rekaman ini kuakhiri...

Dengarkan ucapanku ini baik-baik ya, sunbae...

Aku...

Sangat menyukaimu..

Sangat menyukai wajah manismu...

Sangat menyukai eye smilemu saat kau tersenyum...

Aku...

Seseorang yang bodoh sampai-sampai tidak berani mendekatimu secara langsung...

Aku bahkan harus merekam semua ini karena aku tidak akan bisa mengatakannya langsung dihadapanmu...

Aku..

Mencintaimu, sunbae...

Saranghae, Park Jimin!"

Dan rekaman itu pun selesai terputar.

Jimin menatap CD player dihadapannya itu sejenak, lalu sebuah senyuman terlintas di wajahnya.

.

.

.

"Jungkook-sshi... Annyeong~" sapa Jimin sore itu ketika Jungkook sedang berjalan menuju gerbang kampus.

"Uh? Sun.. Sunbae..." Jungkook terkejut melihat Jimin tiba-tiba muncul dihadapannya.

"CD nya... Sudah kudengar..." sahut Jimin dengan ekspresi santai di wajahnya. "Dan aku.. Suka dengan lagunya.. Suaramu sangat bagus, kau seharusnya masuk ke jurusan seni suara..."

"Aaaaahhh..." Jungkook hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar, tidak ahu harus berekasi bagaimana. Ia merasa malu menghadapi Jimin setelah memberikan CD itu pada Jimin.

"Jungkook-sshi, bisa kau tatap kedua mataku?" tanya Jimin.

"Ne?" Jungkook menatap Jimin.

Dan tiba-tiba saja.

CUP!

Sebuiah kecupan kilat mendarat di bibir Jungkook.

"Uh?" Kedua bola mata Jungkook membulat dengan sempurna.

"Itu jawabanku..." sahut Jimin sambil tersenyum, menggoda Jungkook.

"Mak.. Maksudnya?" tanya Jungkook.

"Aku... Juga tertarik padamu sejak bertabrakan pagi itu denganmu, pabo ya!" sahut Jimin.

"Ne?" Kedua bola mata Jungkook semakin membulat.

"Aneh kan? Aku bersama Taehyung sudah sangat lama, tapi aku tak pernah memikirkannya seperti aku sering tiba-tiba memikirkanmu... Awalnya kupikir, aku hanya terpesona dengan wajah tampanmu dan senyuman gigi kelincimu itu..." sahut Jimin.

Jungkook membuka lebar mulutnya dan menatap dengan sangat terkejut ke arah Jimin, tanpa suara. Speechless.

"Tapi, ketika kita sering berpapasan dan kau menyapaku... Entah mengapa hatiku begitu senang... Aku tiba-tiba sangat bersemangat setiap habis bertukar sapaan denganmu... Dan aku... Merasa sedih dan terluka ketika kau tiba-tiba tidak lagi menyapaku setiap kita berpapasan..." sahut Jimin.

"Aaaaahhh..." Jungkook benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa.

"Itulah alasan utamaku menolak Taehyung... Karena aku.. Sudah menyukaimu saat itu... Dan kau tidak mendegar ucapan Taehyung setelah aku menjawab pernyataan cintanya? Ia bilang padaku ia hanya sedang berakting! Ia kan anak theater, makanya ia jago berakting! Kau pasti tidak mendengarkan pembicaraan kami hingga selesai kan?" sahut Jimin sambil menyentil pelan kening Jungkook.

"Ah jinjja? Ia bilang begitu? Aku segera pergi menjauh ketika mendengarmu menolaknya..." sahut Jungkook dengan terkejut.

"Majjayo... Aku dan Taehyung sudah seperti saudara kembar, makanya tidak mungkin ada cinta diantara kami.. Aigoo, pabo neo!" sahut Jimin sambil mengacak pelan rambut Jungkook.

"Ah jinjja?" sahut Jungkook.

"Aku... Jatuh cinta padamu, imma..." sahut Jimin sambil tersenyum.

Taehyung, yang daritadi ternyata sedang melihat dan mendengar percakapan mereka, segera berjalan menjauh dari Jimin dan Jungkook.

Air mata menetes dari kedua bola matanya. Ia segera menghapus air matanya agar tidak ada yang menyadari bahwa ia tengah meneteskan air mata.

"Aku... Kalah dengan pria yang baru saja ditemuinya? Cih..." gumam Taehyung sambil berjalan menuju gerbang kampus,berniat segera pulang ke rumahnya.

"Jimin ah... Sekian lama kita bersama, namun takdir tidak mempertemukan kita sebagai kekasih rupanya?" gumam Taehyung lagi.

Taehyung menghentikan langkahnya, lalu menarik nafas dalam-dalam. "Jimin ah... Semoga pilihanmu itu tepat dan baik untukmu... Sebagai sahabat terbaikku, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu... Walaupun aku harus merasakan sakit hati seperti ini..."

Sementara itu, Jungkook terus menatap Jimin dengan tidak percaya.

Jimin terus tersenyum melihat ekspresi terkejut Jungkook dihadapannya itu.

"Kalau begitu... Kau bersedia menjadi kekasihku, sunbae?" tanya Jungkook tiba-tiba.

"Tentu saja!" sahut Jimin sambil tersenyum, sangat manis.

"Jinjja, sunbae?" tanya Jungkook.

Jimin menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

Jungkook segera memeluk erat tubuh Jimin. "Gumawo, sunbae... Jinjja gumawo..."

Dan tak lama kemudian, Jungkook melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua pipi Jimin dengan kedua telapak tangannya.

Jungkook memiringkan kepalanya dan memejamkan matanya, begitu juga dengan Jimin yang segera memejamkan kedua matanya.

Bibir mereka bertautan dan saling melumat.

Dan tiba-tiba saja keramaian terdengar di sekitar mereka.

"Whoaaaaaaaaaaa! Jimin sunbae yang berhasil mendapatkan cinta the coolest boy from communication faculty?"

"Jimin dan pria dari fakultas komunikasi itu berciuman? Jadi, ia dan Taehyung benar-benar tidak berkencan?"

"Daebak! Ini benar-benar di luar gambaran kita semua!"

"Whoaaaaaaaaa! Ada pasangan baru di kampus kita!"

"Fakultas sastra akan berbesanan dengan fakultas komunikasi rupanya?"

"Akhirnya aku punya kesempatan mendekati Taehyung sunbae!"

Jimin dan Jungkook melepaskan ciuman mereka, lalu dengan malu-malu menatap kerumunan di sekitar mereka.

"Kalian ini.. Bisanya mengganggu saja... Hehehe~" sahut Jimin kepada teman-teman sekelasnya yang terlihat berada diantara kerumunan itu.

"Chukkae, Jimin ah! Saatnya bagiku untuk mengejar Taehyung!" sahut salah seorang teman sekelas Jimin.

"Whoaaaaa~ Chukkae, imma!" sahut Jin sambil berjalan bersama Hoseok menghampiri Jungkook.

"Akhirnya, cinta pertamamu tidak bertepuk sebelah tangan rupanya..." sahut Hoseok sambil merangkul bahu Jungkook.

"Kenalkan, mereka berdua sahabat terbaik yang pernah kumiliki..." sahut Jungkook, memperkenalkan kedua sahabatnya kepada Jimin.

"Ah.. Annyeong.." sahut Jimin, menyapa Jin dan Hoseok.

"Kalau begitu, selamat berkencan.. Kami pulang duluan..." sahut Hoseok, berpamitan kepada Jungkook dan Jimin.

Jungkook tersenyum lebar, begitu juga dengan Jimin.

Baru saja Jungkook menggenggam tangan Jimin untuk mengajaknya berkencan, tiba-tiba saja Yugyeom memeluk erat tubuh Jungkook dari belakang. "Chukkae, Jeon Jungkook! Jangan lupa traktirannya! Ayo traktir aku sekarang~ Ayo~ Hahahaha..."

"Aigoo... Rasanya hari ini banyak sekali yang mengganggu kita untuk bermesraan..." gerutu Jungkook, diiringi tawa Jimin.

.

-END-


Note: AKHIRNYA END JUGA :) Happy ending buat KookMin, sad ending buat VMin/? :) Kim Taehyung, semangat! Wkwkw XD

Sekali lagi, semoga FF ini bisa menghibur kalian semua ya :)

Thx a lot buat semua masukan, dukungan, saran, semangat, dan pujian serta reviewnya dari chapter awal sampe end ini :) /deep bows/

Jangan bosen-bosen baca FF saya ya :) See u all in my other FF :)

Btw mian saya ternyata rabu kemarin mau post ff ini tapi lupa makanya baru keupdate sekarang XD

Rabu ini sebagai pengganti FF yg udah end ini, insya allah akan saya post lanjutan ff saya yang "OUR SPRING DAY - BTS FF" ya :)


reply for review:

Vi Jiminie : here endingnya vi, semoga suka ya :)

yongchan : horeeee bisa login, ayo makan2/? XD

Arvhy : wkwkw friendzone, timezone aja lebih enak XD whoaaaa thx a lot udah suka sama ff ini vhy :) senyum2 sendiri ati2 disangka alig/? XD #maapkeun btw itu lirik jepunnya bukan? kayaknya itu lirik jepunnya dah XD

OphiSans : tiap rabu saya postnya tp udah end nih :) see u in my other ff ya! :)

iPSyuu : lah yuu ikutan galau juga? XD here endingnya, semoga suka ya :) lah yuu jd curhat, cinta tak sampai pada JJK ya yuu? XD

taniaarmy19 : theori YNWA tan? saya mah udah nyerah sama teori2 bangtan XD kaga ketebak XD kukinya gemesin ya? pacari aja atuh tan skalian #itumahmaunyatania XD

Kimeul : vmin emang agak berat buat ditikung tp akhir2 ini kookmin mulai merajalela XD

TaeHyun : wkwkw mian ya hyun endingnya kookmin nih :)


CUMA MAU NGOMONG~

MV "BTS - SPRING DAY" SWEET SEKALI :) MV NOT TODAY DAEBAK GILA! :)

MAKIN SALUT SAMA BANGTAN :)