CHAPTER 4
.
.
.
AN EXO FANFICTION
.
.
.
CAST :
ALL EXO MEMBERS AND ANOTHER KPOP ARTISTS
.
.
.
PAIRINGS :
CHANBAEK
HUNHAN
KAISOO
.
.
.
WARNING:
YAOI. BOYSLOVE ( BL). BOY X BOY
SOME MATURE CONTENTS AND WORDS
.
.
.
GENRE:
ROMANCE
CRIME
ADVENTURE
HURT COMFORT
.
.
.
SEMUA CHARA ADALAH MILIK TUHAN YME DAN ORTU MASING-MASING
SAYA HANYA MEMINJAM
CERITA ORIGINAL MILIK SAYA
.
.
.
NO PLAGIAT PLEASE -_-
SO MANY TYPOS. GAJE BERHAMBURAN DAN GARING ALL THE TIME :V
.
.
HOPE YOU ENJOY IT ^^
.
.
.
.
.
.
.
" Katakan kepadaku... Apa saja yang kau dapatkan tentang keparat itu?"
" Ha...Mudah saja! Aku sudah menyelidiki seluruh riwayat hidupnya, penghasilannya, kesehariaannya, rutinitasnya, jadwal bisnisnya, seluruh saham, investor dan masih banyak lagi! Hei lihatlah...kau tidak akan pernah kecewa saat sudah meminta jasa kepadaku! Haha!"
" Ck! Diamlah kau Ahjussi"
Chen tertawa saat mendengar decakan temannya. Video callnya masih terbuka dan hal itu tidak disadari oleh temannya. Namja berkulit tan itu masih saja sibuk dengan kumpulan berkas dan data-data yang tertera dengan jelas di layar tab-nya tanpa tahu bahwa Chen menyeringai di antara remang-remang cahaya dari PC jumbo-nya.
" Hei Kkamjong" Panggil Chen singkat. " Apakah kau sadar akan sesuatu?"
" Sadar apa?"
Namja berwajah kotak itu terkekeh dan menyilangkan tangan di depan dada. Ia menatap layar PC-nya dengan tatapan santai tapi ada sirat meremehkan disana. Wajahnya begitu meragukan akan kewaspadaan teman hitamnya.
Yang duduk di kursi putar dan terus mendorong tubuhnya ke tiga meja berbeda tanpa beralih dari kursi. 3 meja berbeda dengan PC yang berbeda dan proyek yang berbeda pula. Sehabis mengetik sesuatu pada satu meja, namja berkulit tan itu kembali mendorong tubuhnya ke meja satunya dan membiarkan kursinya bergulir mendekati meja itu.
Chen mengambil sebuah HardDisk dari kantong hoodienya dan melambai-lambaikan benda itu di depan layar PC atau yang lebih jelasnya lagi−tepat di depan VideoCall mereka.
" Kau ingin datanya kukirim lewat apa? Email atau HardDisk, Kkamjong?" Tanya Chen. " Hei badan karet! Kau mendengarku atau tidak?"
Kepala temannya langsung tegak saat Chen sedikit berteriak. Ia mengalihkan pandangannya dari layar PC yang berisi rancangan kapal dan senjata menjadi menatap Chen. Namja berkulit tan itu melemparkan pandangan begitu tajam dan desisan tidak terima.
Chen tertawa saat melihat temannya itu berdiri. " HAHA! Akhirnya kau berdiri juga Kai! Aku sudah menduga bahwa julukan itu jelas-jelas akan menyita perhatianmu!"
Kai menggeram dan menggebrak mejanya. " Bisakah kalian semua melupakan semua tentang julukan itu hah!? Itu jelas-jelas masa laluku dan lupakanlah itu!"
Kai mengacak rambut hitamnya frustasi dan berlalu dari mejanya. Ia menyalakan semua tombol lampu di dalam ruangan tempat ia sedang bekerja secara total. Ruangan yang awalnya hanya diterangi oleh cahaya dari PC-PC yang menyala dan bahkan ada beberapa tempat yang masih ditutupi oleh gelap−menjadi terang seluruhnya.
Mata Chen berkaca-kaca saat semuanya dapat ia lihat dengan jelas. Namja berwajah kotak itu mulai menunjukkan sikap berlebihannya dengan tertawa dan bersikap seolah-olah tidak pernah melihat sebuah ruangan kelas bangsawan sebelumnya.
Lampu-lampu gantung menghiasi ruangan itu. Dengan tambahan karpet merah dan tirai-tirai dari sutra. Lihat bagaimana dekorasi khas keluarga bangsawan menghiasi keseluruhannya. Patung-patung torso dan lukisan abad pertengahan dari masa Victoria itu menambah kesan mewah.
Tapi yang membuat semuanya menjadi agak aneh adalah pemiliknya sendiri berpakaian seperti gelandangan. Dengan rambut hitam acak-acakan, baju putih yang begitu kumal dan celana pendek selutut. Ditambah wajah Kai yang seperti tidak makan setahun.
" Dasar!" Dengus Chen. " Kau dasar perusak suasana! Kau merusak suasana indah ini dengan kedekilan dan wajah miskin milikmu Kkamjong! Menjauh dari mataku kau Kai!"
Kai mendengus kasar dan tidak mengindahkan decakan kesal serta gerutuan Chen dari PC besar yang ia tempel di dinding ruang kerjanya itu. Namja berkulit tan itu memilih untuk kembali duduk pada salah satu meja kerjanya di ujung ruangan. Tangannya mulai mengetik sesuatu di depan layar PC yang tembus pandang layaknya layar kaca.
" Aku yang punya rumah, kau yang repot" Kai mendengus kasar. " Terserah diriku untuk berpakaian seperti apa di rumahku sendiri dan belajarlah untuk diam, Chen. Jangan terbiasa mengomentari apapun"
Chen mengerutkan bibirnya. " Eoh? Apakah aku sebegitu cerewetnya hah?"
Kai masih memakukan pandangannya pada layar PC. Sesekali ia melirik Chen dan mengerutkan kening. Teman berwajah kotaknya itu aneh. Sumpah... memang tidak sebodoh dan seaneh Chanyeol tetapi...
Apakah kau masih mengatakan temanmu tidak aneh dan sengklek saat kau melihat dia mencoba memasukkan dua buah pensil ke dalam lubang hidungnya? Dan sumpah...Kai mengeluh saat Chen dengan dua buah pensil panjang runcing di hidung itu tersenyum bodoh dan mengambil selfie layaknya artis.
" Say CHEESE!"
CKREEEKK...
CKREEKKK...
CKKRREEEKKK...
" Woahh...aku tampan sekali!"
Kai menahan nafas berat. Matanya menatap Chen yang berteriak konyol dan memuji selfie-nya sendiri dengan dingin. Demi celana dalam Xiumin yang bermotif polkadot pinky− Ia benar-benar menahan untuk tidak melempar PC mahal yang ditempel di dinding itu dengan koleksi pedang yang ditempel di dinding mansionnya. Jika saja Chen ada bersamanya, mungkin sudah dari 25 menit yang lalu, Kai menggantungnya sebagai hiasan perapian dan memperban mulutnya atau kalau bisa dijahit.
Terkadang kekonyolan mereka... membuat depresi.
" Ibumu memberimu makan apa sampai menghasilkan spesies kurang waras sepertimu!?" Sungut Kai kesal. Namja berkulit tan itu menatap Chen yang melongo ke arahnya dengan dua pensil yang masih menggatung indah pada dua lubang hidung besar milik temannya.
Ia menyilangkan tangan dan menggerutu ke arah Chen.
Sumpah! Itu benar-benar...IHHH! JIJIK SEKALI! INI BAHKAN LEBIH JIJIK DARI KAOS KAKI BASAH AKAN LUMPUR YANG PERNAH KAI SIMPAN DI DALAM LEMARI APPANYA!
Chen melongo parah. " Hah!? Aku tidak mengerti"
Kai mendengus kasar. " Tentu saja kau tidak mengerti! IQ-mu bahkan lebih buruk dari kodok!"
" AKU LEBIH PINTAR DARI LUMBA-LUMBA KAU TAHU!?" Sungut Chen sengit.
Chen seketika merengutkan bibirnya ke bawah dan mendengus dengan dua pensil di lubang hidungnya. Kai sendiri yang sudah mulai fokus dengan proyek raksasanya di masing-masing PC berukuran jumbo itu−melirik tajam Chen dan yah...
' Ya Tuhan' Batin Kai. ' Kenapa aku punya teman yang otaknya bermasalah semua? Apalagi si Chany−ah...dasar spesies langka'
Chen makin mendengus melihat sifat ketus temannya itu. Oke...dia memang mengaku bahwa dia random dan tak terprediksi dalam artian lucu dan kocak. Karena jika kalian tahu sisi lain dari Chen−kalian semua tidak akan tahan untuk segera memanggil psikiater dan rumah sakit jiwa segera.
Namja berwajah kotak itu berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan sisi aslinya itu. Ia rela berlutut di hadapan Chanyeol dan anggota EXO yang lain dan berjanji untuk menjadi orang yang berbeda. Yang tidak akan melempar pisau untuk membelah kepala atau membawa kapak dan mengakibatkan genosida massal sebagai psikopat paling dicari sepanjang masa.
Ia berubah menjadi selucu dan sekocak yang ia bisa demi Xiumin. Namjachingu manisnya itu sayangnya tidak tahu sisi gelap Chen.
" HEI HEI HEI!" Tunjuk Chen dari seberang ke arah Kai yang sedang membuka beberapa berkas.
" Apa?" Jawab Kai singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas-berkas perusahaan dan saham yang berhamburan di atas meja dari kayu akasia miliknya. Berkas-berkas itu terkumpul dari sebuah map berwarna hijau bertuliskan ' Kim Corp'.
Chen makin merengutkan wajahnya tidak terima.
" Oke muka kantong mayat!" Dengus Chen. " Aku aneh-aneh begini−jika tanpa bantuanku, kau tidak akan bisa mendapatkan semua data milik orang ini! Orang ini susah di-hack kau tahu!? Dia memilik kemanan internet setingkat keamanan militer negara!"
Kai terkekeh saat mendengar gerutuan Chen tentang orang itu. " Apa baru saja kau bilang kemananan setingkat militer?"
Chen seketika mengernyitkan dahinya kuat saat melihat Kai terkekeh. Dia bingung dan heran. Oke oke...dia tidak mempermasalahkan kekehan Kai karena temannya itu memang sering terkekeh alih-alih tertawa. Hal itu sukses menjadikan Chen geram sendiri untuk membuat temannya itu tertawa tebahak-bahak sekali-kali. Ingin rasanya ia memasang pembuka mulut ukuran jumbo agar Kai mau membuka mulutnya lebih dari 0.5 cm saja.
Tapi yang jadi masalah...
" Perasaan kau yang lebih aneh daripada aku Kkamjong" Chen mengernyitkan dahi dan menyilangkan tangannya di depan dada. " Setidak-tidaknya aku menertawakan hal yang memang benar-benar aneh dan lucu. Bukannya keamanan setingkat militer dan dapat membuatku terbang ke angkasa karena rudal tingkat tinggi mereka"
Kai tersenyum miring dan menatap Video Call mereka. Matanya berkilat licik dan penuh hasrat. Membuat pemuda berkulit tan terlihat seperti sedang bersenang-senang di atas penderitaan musuhnya. Hal itu jelas-jelas membuat Chen menaikkan sebelah alisnya bingung.
" Kau tahu Chen?" Tanya Kai.
Chen mengikuti pergerakan Kai dengan lirikan matanya. " Ya mana ku tahu. Kau saja belum memberitahuku, dasar otak udang!"
Kai berdiri dari kursi dan menghadap meja kerjanya. Ia mengambil sebuah panah kecil sebelum melemparkannya tepat di sebuah lukisan besar yang menggantung di belakang meja kerja namja itu.
Chen yang melihat dimana panah kecil itu berlabuh−seketika langsung meloncat kegirangan dan bertepuk tangan senang seperti anak kecil. Bahkan namja berwajah kotak itu tertawa terbahak-bahak.
Demi lidah Sehun yang masih keseleo huruf s, akhirnya otak cemerlangnya menangkap maksud kekehan Kai! Namja berwajah kotak itu mendengus senang dan memutar kursinya lega.
Ia tertawa melihat panah itu berlabuh tepat di kepala seorang namja tua yang dilukis disana.
" Kukira apa tadi!" Teriak Chen. " Ternyata itu! Kau membuatku ketakutan karena tertawa tiba-tiba seperti setan masuk angin dan kukira penyakit epilepsi mu kambuh lagi! Ahahaha!"
Kali ini Kai yang balas mendengus tidak suka. Ia makin menambah panah dan melemparnya ke spot yang sama dengan wajah merengut. Tetapi hal itu juga malah semakin menambah tawa gila Chen hingga namja itu memukul mejanya senang.
" Epilepsi darimana? Aku bahkan tidak tahu ada penyakit itu"
Chen tertawa hingga matanya membentuk bulan sabit.
" Ahahahah−"
BRUKKKK!
BRAAAAAAKKKK!
BUUUGGGH!
Pintu masuk ruangan bergerak dan berbunyi nyaring.
Chen dan Kai bungkam seketika. Kai menaikkan sebelah alisnya bingung dan berhenti menembakkan panah kecil di tangannya. Namja berkulit tan itu mengerutkan dahi pertanda bingung dan menatap Chen. Tatapan Kai menyiratkan tanda tanya hingga rasanya Chen dapat melihat tatapan itu seolah-olah berkata suara-sialan-apa-yang-mengganggu-aktivitas-suciku-hah-?
Namja berwajah kotak itu menggidikkan bahu tidak tahu sebagai balasan dan melirik ke arah pintu masuk ruangan kecilnya. Kurangnya pencahayaan lampu dan hanya dibantu cahaya dari PC membuat namja itu harus menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas.
" Halo?"
" Oi! Jawab aku misalnya kau manusia!" Teriak Chen " misalnya kau manusia jejadian yang menjijikan dan bau bacin mak−"
" −CHEEEEEENNN TOLOL!"
" Sekali lagi aku mendengar tawa mengerikanmu, Jongdae akan kupotong milikmu dengan mesin penggiling dagingku! Aku tidak bermain-main dengan itu! Kau menakuti pelangganku!"
Suara namja yang melengking dari luar ruangan ditangkap oleh telinga Kai. Kai sendiri seketika memutar mata jengah saat mengetahui sumber dari suara sialan yang mengganggu kegiatan bersenang-senangnya. Namja berkulit tan itu menatap Chen dengan wajah datar.
" Bung" Panggil Kai, ekspresinya datar. " Seriusan? Kenapa kau gemar sekali memelihara singa betina PMS seperti itu?"
Chen tersenyum bodoh dan terkekeh singkat.
" Aye my cutie Princess Baozi!" Jawab Chen riang. " LUV YA!"
" JANGAN GOMBAL KAU AHJUSSI TUA! BERHENTILAH MESUM ATAU AKU AKAN BENAR-BENAR MEMOTONG MASA DEPANMU ITU DENGAN MESIN PENGGILING DAGING BERMATA GANDA MILIKKU HAH!" Suara itu kembali menyahut dan kali ini lebih tinggi dari sebelumnya.
Chen mempoutkan bibirnya dan menatap Kai dengan mata memelas. Sedangkan yang ditatap sendiri malah mendengus kasar dan dengan mulusnya melemparkan buku ke arah PC-nya yang membuat Chen makin memelaskan wajahnya.
" Berhenti memasang wajah jelek itu di hadapanku" Sahut Kai dengan nada datar. " Sebelum aku yang mengambil alih tugas Xiumin dan memotong milikmu"
Kekehan meremehkan terdengar dari sisi Chen. " Memangnya kau punya mesin penggiling daging, Kkamjong?"
" Tidak−tapi aku punya mesin pemotong rumput dan...penggiling kacang"
Chen memundurkan kursinya dari PC-nya yang menyala dan memasang wajah tidak suka ke arah Kai. " Yang benar saja..."
Kai kembali melanjutkan proyeknya yang tertunda. Mata hitamnya berkilat biru saat kembali membuka ketiga layar PC-nya dan memunculkan denah sebuah kapal pesiar berukuran raksasa. Namja berkulit tan itu memutar tangannya di keyboard transparan miliknya−mengetikkan beberapa koordinat denah dan memutar sebuah tombol berbentuk bola.
Membuat denah kapal itu berputar hingga menuju ke geladak dasar. Kai menyipitkan mata dan menggeram kesal.
Matanya dapat menangkap pemandangan kotak-kotak dan keranjang dalam ukuran raksasa sedang disembunyikan di geladak kapal pesiar mewah itu. Kai seketika mendesis saat semua kotak itu bertuliskan ' Kim Corp'. Tanpa banyak basa-basi lagi−Kai memperbesar layar itu. Membuatnya dapat melihat dengan jelas keseluruhan geladak kapal.
Chen yang sedari tadi memperhatikan Kai−mengangkat alis bingung saat melihat teman hitamnya beralih dari PC yang menampilkan gambar geladak kapal. Kai sendiri berjalan menuju meja kerjanya dengan raut mengeras karena menahan emosi yang menjalar hingga ke ubun-ubunnya.
" Chen..." Geram Kai. Namja itu mengobrak-abrik laci mejanya sambil sesekali menyumpah kasar.
Chen menguap. " Uaapa? Hm?"
Namja berwajah kotak itu tersentak kaget di kursinya saat Kai menendang sebuah meja kecil yang berat karena dilapisi emas−menuju ke arahnya dengan kasar. Bahkan membuat PC-nya bergetar. Mata Kai berkilat benci. Hal itu juga diiringi dengan gebrakan di atas meja−Kai membanting sebuah undangan dilapisi tinta emas di atas sebuah papyrus yang berharga hampir ribuan won itu.
" Wow wow wow..." Chen menyipitkan mata. " Sabar bung! Tahan emosimu dulu, Kkamjong. Jika kau seperti itu terus sepanjang hari, kau bahkan tidak ada bedanya dengan mama beruang pemarah yang siap mementalkan kepala siapapun ke udara seperti jet NASA"
Kai menatap Chen dengan pandangan kelewat tajam dan emosi yang hampir membludak.
" Kapal pesiar buatan Taiwan, Wayn Elizabeth Rose−berlabuh di Seoul esok jam 03:00 pm di bawah komando kapten Choi Siwon dan akan kembali berangkat menuju Beijing 2 jam kemudian." Ucap Kai dengan nada dingin.
" Lalu?" Balas Chen. " Kenapa kau marah dan apa gunanya kau membanting-banting undangan itu seperti orang gila mabuk hah?"
Kai tersenyum miring dan tertawa licik. " Mereka pergi dengan nyamannya setelah mencuri barang-barang perusahaan ayahku. Menjualnya secar ilegal tanpa persetujuanku sebagai pemilik syahnya−Nyaman sekali mereka pergi!"
Chen memajukan bibirnya dan memainkan pensil yang sudah ia cabut dari lubang hidungnya. Memutar-mutar pensil itu sambil berpikir. Mata milik namja berwajah kotak itu melirik ke arah undangan yang baru saja Kai banting setidaknya sekitar 2 menit 35 detik yang lalu.
Kai mengangkat undangan itu hingga ke hadapan wajah Chen. Membuat namja itu dapat melihat sebuah ucapan selamat dari tinta emas kepada sebuah nama dan nama undangan kepada Kim Jongin.
" Ini undangan biasa..." Kai menggoyang-goyangkan undangan itu dan terkekeh ngeri. " Aku bahkan tidak tahu untuk apa mereka mengundangku"
" Jadi maksudmu..." Chen membetulkan letak duduknya. " Kau ingin aku mencari tahu tentang undangan itu?"
Kai mengangguk. " Dan memasukkanku sebagai tamu VIP untuk acara kumpul pribadi. Kelihatannya aku tidak dimasukkan ke dalam VIP walaupun aku sendiri adalah boss-nya pemilik kapal pesiar itu"
Chen menyeringai mengerikan yang sama dengan milik Kai. " Tunggu sebentar−aku tidak akan mematikan Video call-nya agar kau dapat melihat aku bekerja. Ohohohohoho...sudah lama aku tidak berurusan dengan orang kaya! Uang mereka banyak sekali dan aku suka memeras uang-uang itu!"
Benar−Chen suka sekali misalkan ia disuruh untuk meretas sistem atau merugikan keluarga bangsawan dan orang kaya. Menurut Chen−sebagian besar dari mereka itu bodoh. Mereka hanya memperketat pertahanan fisik untuk melindungi harta mereka dari maling. Padahal Chen bisa dengan senang hati memeras ATM dan memenuhi kartu kredit mereka tanpa ketahuan SATU MILISEKONPUN.
" Hohohoho..." Chen mengetikkan jarinya dnegan kecepatan di atas kecepatan manusia biasa. Membuat bunyi klik-klik yang luar biasa banyak. " Mereka LUAR BIASA OTAK UDANGNYA! BAHKAN LEBIH OTAK UDANG DARIPADA OTAKMU YANG BERUKURAN MINI ITU KAI!"
Kai melotot. " Dasar muka kardus!"
Sambil mengetik dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap mata−Chen tertawa menanggapi Kai. Ia mengetik rumus yang panjangnya bahkan melihatnya saja membuatmu terserang demam keras. Bagaimana tidak−Chen mengetik rumus yang terdiri dari angka, simbol, huruf itu tanpa salah sedikitpun!
Tangannya terus bekerja dengan cepat menuliskan beberapa rumus−masuk ke sebuah laman, menulis rumus lagi, mengubah sistem kodenya, dan membuka puluhan laman lainnya yang terus bertumpuk di PC-nya.
Dan hal itu dikerjakan dengan kecepatan dan dia yang TERTAWA TANPA MELIHAT LAYAR SEKALIPUN!
Chen mengambil chip kecil di PC-nya dan seketika menyambungkannya ke PC lainnya. Membuka beberapa laman dengan sistem kode rumit yang menyebut sistemnya saja dapat membuat lidahmu keseleo selama setahun.
Mengakses, dan terus melakukan hal seperti itu sambil tertawa dan menyumpahi dengan kutukan dan jampi-jampi penyihir kepada Kai.
" Pantat panciku saja lebih putih dari wajahmu, Kkamjong! Hahahaha!" Chen tertawa nyaring. " Pantas saja semua anak kecil takut saat melihat kau lewat! Wajahmu bahkan lebih gelap dari malam! Hahahaha! Seperti Abu arang yang dibakar lagi!"
Kai menatap Chen yang sedang menggerakkan mouse dan mengetik kode serta meretas sandi−menatap pemuda itu datar.
Namja berkulit tan itu mendecih kasar. " Diamlah dan mulailah fokus dengan pekerjaanmu Chen"
Chen mengerang kesal karena dilarang untuk berbicara lagi oleh Kai. Ia mengetikkan kode-kode itu dengan wajah merengut ke bawah dan bibir yang dikerucutkan. Namja berwajah kotak itu mengambil kaca mata anti radiasi dari laci meja di bawah PC-nya sambil menyumpah.
Berlainan lagi dengan Kai. Namja itu membuka laptop bermerek Apple-nya dan mengernyitkan dahi saat sebuah e-mail dari Kris masuk begitu saja sejak 15 menit yang lalu. Ia terlalu fokus dengan pekerjaannya hingga tidak banyak ikut andil dalam EXO. Dia yakin Chanyeol akan mengulitinya jika tidak mengirimkan barang untuk dikirim malam ini.
Jari-jari Kai membuka e-mail itu dengan cepat. Membacanya sebentar dan segera melirik Chen dengan kacamata anti radiasinya yang berwarna merah itu. Namja berwajah kotak itu mulai serius dengan apa yang dicarinya.
" Chen" Panggil Kai singkat. " Kurasa kau harus tah−"
"−YEY DAPAT!"
Kai menaikkan sebelah alisnya. " Apa? Dapat apa?"
Chen berdehem sebentar untuk membersihkan tenggorokannya dan seketika tersenyum senang ke arah Kai hingga matanya tenggelam di balik kelopak matanya. Namja itu melepas kacamatanya dan menhirup nafas dalam.
" Oke dengarkan Kai..." Chen menatap Kai.
" Undangan itu disebar kepada orang-orang agar menghadiri acara ulang tahun putra semata wayang orang itu yang ke-15 tahun. Dan itu dilaksanakan tepat di atas kapal Wayn Elizabeth Rose. Mereka berencana menjemput putranya di korea dan akan ke Beijing untuk memperkenalkan putranya itu kepada seluruh klien di China"
Kai menatap Chen bingung. " Tunggu dulu−putra? Dia punya anak?"
Chen seketika mendengus hebat. " Yak! Tentu saja dia punya, dasar kkamjong! Kau tahu apa prinsip semua orang kaya sejak zaman batu dan dekil? Milikilah putra dan anak agar kekayaanmu tidak musnah dimakan waktu−itupun apabila waktu bisa makan!"
" Ya..." Kai menggidikkan bahunya. " Lanjutkan penjelasanmu dan oh−siapa putranya?"
Chen melirik ke arah PC lainnya dan mengetikkan sesuatu secara singkat. " Do Kyungsoo. Dia lahir di Seoul tapi besar di Beijing. 2 tahun terakhir dia tinggal di Korea untuk sekolah di salah satu sekolah anak-anak para orang kaya di Korea dan akan pulang ke Beijing.."
Chen menatap Kai dingin. " ...besok"
Kai memutar-mutar undangan di tangannya yang bertuliskan namanya dan nama Tuan Do sambil tersenyum miring. " Ada penjelasan spesifik lain?"
Namja berwajah kotak itu memutar tubuhnya di kursi putar dan menghela nafas panjang sambil sesekali bersiul-siul. " Jadi intinya begini, aku sudah memasukkan namamu dalam daftar tamu VIP dan kau berkesempatan langsung untuk bertatap muka dengan putranya serta ayahnya yang bajingan itu!"
" Tapi..."
Chen menghentikkan kursinya dan menatap Kai serius. Hingga membuat yang bersangkutan melihatnya dengan tatapan yang sama seriusnya. " Tapi apa?"
" Jadwal undangan VIP itu tersembunyi dan tidak disamakan dengan undangan umum. Ada dua sesi−yang satu di kapal pesiar itu−Jam 06:00 pm tepat di ruangan antara geladak bawah dan ballroom kapal. Ada satu ruangan khusus disana dan disana kalian akan bertemu." Jelas Chen.
Kai mulai memperbaiki letak duduknya dan menyatukan kedua jemari tangannya sambil melihat ke arah Chen. " Dan sesi lainnya?"
" Sesi lainnya dikhususkan di rumah Do Kyungsoo yang berada di salah satu kompleks perumahan mewah ternama di Beijing. 3 jam setelah kalian tiba di Beijing dan sesi ini dikhususkan untuk berkenalan dengan putranya itu dan...aku punya berita bagus"
Chen menyeringai lebar dan mengambil selembar kertas kecil di tangannya. Menunjukkan ke depan wajah Kai yang memasang raut bingung.
" Aku punya data sekolah dan tempat tinggal Do Kyungsoo. Seluruh informasi bocah itu berada di tanganku sekarang, tetapi hidup dan matinya kuserahkan..."
Kai mengangkat alisnya dan tersenyum saat Chen menyerahkan kertas itu kepada Kai dari Video Call. Membuat Kai terkekeh dan melipat tangan di dada melihat Chen yang sama-sama terkekeh.
" Kau memegang kendali sekarang bung..." Ucap Chen. Matanya berkilat bagaikan psikopat dan membuat semangat Kai terbakar. " Hancurkan keluarga biadab itu. Jika ada satu anggota EXO dilukai, maka seluruh EXO akan membalasnya berjuta-juta kali lebih buruk. Buat mereka menyesal telah bermain-main dengan anak yang mereka kira ingusan dan bodoh ini Kai"
Kai tertawa renyah dan berdiri.
" Oh ya...terima kasih Chen. Aku akan memperbolehkanmu untuk memasuki mansionku sebagai rasa terima kasih"
Chen balas tertawa dan memegang perutnya yang terkocok mendengar tawaran Kai yang memang sudah ia idam-idamkan dari dulu. Bahkan ia berencana untuk meng-hack temannya sendiri dan membuka seluruh sistem keamanan mansion Kai.
" WAH WAH WAH! AKHIRNYAAAAA! DEMI CENALA DALAM NEPTUNUS! AKHIRNYA!"
Kai tersenyum licik. Ohohoho...tidak semudah itu dia akan menyerahkan mansion berharganya kepada alien yang terdampar seperti Chen. Dibalik tawaran yang sangat menggiurkan itu, Kai tersenyum licik.
" Ya Chen...setelah kau mencoba membatalkan ajakan Kris gege ke Guangzhou bersama spesies tidak terdeteksi−Chanyeol"
Chen seketika melongo. " HAH!?"
Kai tersenyum sangat licik dan mendengus kesenangan di atas penderitaan sahabatnya yang melongo parah seperti orang bodoh. " Kris gege telah membelikan kalian tiket ke Guangzhou dan menyuruh kau bersama Chanyeol menemuinya dan ini WAJIB"
Chen seketika connect dengan perkataan Kai dan mengerang kesal sekeras yang ia bisa.
" ARRRRGGGGHHH! DASAR OTAK UDANG! LENDIR SIPUT! KUTIL UNTA! DASAR HITAM! KAU MEMBERIKU HARAPAN PALSU!"
Kai tertawa dan dengan sepihak mematikan video callnya. Membuat Chen tersentak kaget dan memaki-maki Kai dari meja kerjanya dan berteriak kesal layaknya gadis yang alat make-upnya dibakar.
" JAMBANGAN LUMPUR BERBAU! SEMPAK NAGA! BERONDONG SIALAN! AMOEBA HITAM! CACING PLANARIA!"
" DASAR KAU HITAM BERMULUT DUSTA!"
" AKU AKAN MEMBUNUHMU KAU KKAMJONG BRENGSEKKKK!
BRAAAAAKKKK!
Chen seketika menggigit lidahnya dan menatap pintu yang dibuka paksa oleh seorang namja berwajah manis yang kelihatannya...manisnya hilang seluruhnya.
" H-hai C-chagiya..." Sapa Chen gugup. " M-merindukanku?"
Chen hampir saja akan berteriak saat melihat Xiumin mengangkat sebuah pisau daging dengan mata berapi-api ingin mencincang-cincang seseorang bernama Kim Jongdae menjadi dendeng Chen yang siap jual.
" MANA PENISMU JONGDAE!?"
Chen menutup daerah pribadinya cepat. " Eh eh... nanti Xiuminnie tidak dapat jatah lagi misalnya pisang Chennie dipotong~"
Xiumin mengangkat pisaunya makin tinggi dan menatap Chen dengan tatapan ibu-ibu yang melihat diskon 90 % untuk seluruh panci di mall.
" AKU MEMBENCIMU KIM JONGDAE! DAN JANGAN BERHARAP AKU MAU MEMBERIKAN LUBANGKU LAGI KARENA AKU-AKAN-SEGERA-MEMOTONG-HABIS-PENISMU!"
Chen memasang kuda-kuda ingin kabur. " YAKK! MY PRINCESS! JANGAN!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol mengulum senyum senang sesaat setelah meninggalkan Caffe milik Xiumin. Ia suka melihat wajah bingung namja manis bernama Byun Baekhyun itu. Bukannya ia jatuh cinta , tetapi kelihatannya mengerjai anak itu benar-benar menyenangkan.
Lihat bagaimana wajahnya mengernyit dengan lucu saat Chanyeol mulai menunjukkan kesomplakannya. Nadanya yang blak-blakan saat mengatai Chanyeol dan sifat sinisnya yang menggemaskan membuat Chanyeol berhasil mengulum senyum dan...
Chanyeol menelpon Sehun dengan Iphonenya.
" Hei albino!" Sapa Chanyeol riang.
Sehun menggerutu di balik telepon. " Hei alien kurang otak! Kenapa kau lama sekali hah!? Aku menyuruhmu untuk membeli telur, bukannya mengintip pemandian wanita kau dasar bedebah!"
Chanyeol tertawa geli dan menghentikan dirinya di salah satu gang sempit. Ia berbicara dengan Sehun tetapi matanya menatap pulpen yang baru saja ia gunakan untuk menuliskan nomor teleponnya kepada Baekhyun. Membuat seringai tercetak jelas di wajah Chanyeol.
" Hei hei...apakah kau masih menyimpan aplikasi yang terhubung dengan pulpen pendeteksi sidik jari milikku?"
Chanyeol memainkan pulpen itu dan seketika tertawa. Dia memang mengganggap Baekhyun menarik tapi ia tidak jatuh cinta. Tekankan itu.
Tapi Baekhyun kelihatannya menarik untuknya sekarang. Bocah polos yang naif dan gampang marah telah berhasil membuat Chanyeol tertarik untuk memerangkap dan bermain-main dengannya.
" Apa?" Balas Sehun ketus. " Memangnya kau ingin memata-matai siapa hah? Kita tidak bisa langsung memata-matai orang itu...itu terlalu berbahaya untukmu, tiang listrik. Rencana kita bisa kacau"
Chanyeol menghela nafas. " Bukan itu, albino kurang pigmen"
" Ingat data seorang namja yang kusimpan di dalam Iphone milikku? Nah...namja manis itu bekerja di tempat Xiumin dan aku baru saja mendapatkan sidik jarinya"
Sehun mengangkat alisnya bingung. " Tempat Xiumin? Kenapa dia bisa ada disana? Siapa dia?"
Chanyeol tertawa mendengar pertanyaan Sehun.
" Hmmm... Dia Byun Baekhyun...namja itu bersekolah di EXORDIUM Junior HighSchool. Menurut data yang ku dapatkan−bocah itu merupakan salah satu dari 50 peringkat teratas di sekolahnya"
Terdengar suara deheman dari sisi Sehun hingga membuat Chanyeol mengernyitkan dahi bingung. Telinga Yoda milik namja tinggi itu juga dapat menangkap suara seseorang yang bergerak dan benda bergeser.
" Byun Baekhyun ya? Tapi tunggu dulu tiang listrik−kenapa kau tertarik untuk mendapatkan bocah itu? Dia masih SMP dan apa untungnya dia bagi kita hah?"
Chanyeol merengut tidak suka. " Heh albino! Bagaimana aku tidak tertarik jika sistem kode akunnya hampir sama bahkan persis dengan milik Xiumin! Aku meretasnya dan BUUM! SAMA PERSIS! KAU MAU PROTES APA LAGI!?"
" UHUKKK UHUUUKK!"
Namja dengan telinga yoda itu menggerutu mendengar Sehun yang tersedak. Sepertinya teman albinonya itu sedang minum dan tersedak secara tiba-tiba saat mendengar Chanyeol menjelaskan tentang sistem akun milik seorang Byun Baekhyun.
" Apa!?" Beo Sehun tidak percaya. " Xiumin itu pacar Chen, dasar kau alien! Sistem akunnya sama ter-privasinya dengan milik Chen karena ahjussi tua itu posessivenya minta ampun! Bagaimana anak itu bisa men-copynya!?"
Chanyeol mendengus kasar. " Maka dari itu, aku mendapatkan sidik jarinya! Darisana kita bisa tahu tentangnya lebih lanjut, spesies albino!"
Sehun menggerutu dan mengerang lirih. Ia menyumpahi Chanyeol kasar sembari mengetikkan sesuatu di laptopnya tanpa melepaskan Iphone miliknya dari telinga namja itu. Chanyeol sendiri hanya bisa merutuki betapa bodohnya Sehun.
" Dan oh satu lagi!"
Sehun bergumam. " Apa?"
Sehun meretas web dan akun milik SMP Baekhyun. Mata tajamnya bergerak kesana-kemari mengikuti alur kursornya. Membuka beberapa laman hingga Sehun sendiri menemukan daftar siswa-siswa yang terdafar di sekolah itu.
" Kau bilang dia salah satu dari peringkat 50 teratas sekolah itu bukan, tiang listrik?" Tanya Sehun.
Orang yang ditanya bergumam mengiyakan dan terkekeh geli. " Jangan tertipu dengan wajahnya"
" Hah?" Sehun mengerjapkan matanya dan seketika merengutkan dahi bingung. " Apa maksudnya?"
" Lihat saja nanti!"
Sehun menggidikkan bahu tidak mengerti dan memaki Chanyeol yang tertawa terbahak-bahak dari seberang telepon. Teman tiang listriknya itu terkadang benar-benar membuat Sehun ingin segera membunuhnya dan membuang mayatnya di sungai Han. Atau jika bisa membakar Chanyeol hidup-hidup.
Kursor milik Sehun meng-klik laman dengan daftar murid-murid yang masuk ke dalam 50 peringkat atas di seluruh sekolah.
" Byun...Byun Baekhyun..."
Mata Sehun menyipit saat menemui banyak nama Byun tetapi tidak menemukan Byun Baekhyun.
" Ahh...ini dia" Sehun menekan sebuah nama di peringkat 27 atas nama Byun Baekhyun dari kelas IX B. Dan segera saja data diri tentang Byun Baekhyun muncul secara lengkap ke hadapan Sehun.
Sehun melirik foto Baekhyun dan mengangkat alis.
" Oi Chan...kenapa kau mengincar gadis tomboy sepertinya hah?"
Chanyeol seketika tertawa. " HAHAHA! Lihat gendernya bung! Lihat dan cermati! Kalau perlu di-zoom sampai 100 agar kau bisa melihat dengan jelas gendernya!"
" Ap−AHK!"
Sehun seketika melotot dan menjauhkan wajahnya secara tiba-tiba dari laptop. Ia bungkan dan seketika mengernyitkan dahi. Padahal beberapa saat yang lalu, itu masih biasa. Masih normal dan tidak ada keanehan. Tetapi demi apapun! Sumpah...Sehun ingin rasanya menelan Chanyeol karena tidak memberitahukan kepadanya bahwa Byun Baekhyun adalah NAMJA!
Mata hitam bersinar, kulit mulus, pipi merona, rambut coklat muda yang terlihat lembut dan senyuman semanis madu berhasil membuat Sehun jantungan setelah melihat gendernya.
" D-dia...n-namja?" Ucap Sehun dengan nada bergetar.
Chanyeol mengangkat bahunya. " Sudah kubilang...jangan tertipu dengan wajahnya. Jika saja kau bertemu dengannya di dunia asli...sumpah, dia lebih manis dan cantik dari Aphrodite dan Hathor*"
Sehun mengucek sebelah matanya. Namja dengan mata tajam itu berusaha sebaik mungkin untuk mencermati foto Baekhyun. Namja itu tersenyum dengan senyuman hangat. Yang membuatnya terlihat sedikit namja adalah seragamnya yang memakai dasi biru dan jas hitam laki-laki.
Sisanya...
" Kenapa ada namja secantik dia?" Tanya Sehun lirih. " Ini bahkan melebihi yeoja manapun..."
Chanyeol mengangkat alisnya dan tertawa. Namja itu menyandarkan punggung tegapnya pada salah satu tiang di dalam gang. Memainkan kantong belanjaannya dan sesekali tersenyum mengingat Baekhyun yang benar-benar jengkel kepadanya.
" Cocok kan?" Tanya Chanyeol senang.
" Cocok kepalamu... kita tidak bisa menggunakannya sebagai umpan dasar tiang listrik. Fisiknya memang bagus tapi apakah dia mempunyai kemampuan untuk mematuhi kita? Dan membuat kita tidak tertangkap?"
Namja dengan tinggi yang tidak biasa itu mulai menjauh dari gang dan berjalan untuk membaur dengan sesamanya di jalanan. Mata hitam milik Chanyeol berkilat nafsu tetapi senyum bodoh dan wajah tampan itu memudarkannya. Padahal di dalam sana−namja itu merencanakan sesuatu yang mengerikan.
" Kalo soal patuh... aku akan menjaminnya untuk jadi anak anjing manis yang penurut denganku" Sahut Chanyeol. Ia tersenyum gentle dan hal itu secara tidak sengaja membuat lusinan yeoja menjatuhkan rahang mereka serempak, mengambil foto Chanyeol dan menghancurkan hidung mereka karena menabrak tiang banner.
Sehun diam. Dia terus menatapi data diri seorang Byun Baekhyun dengan tatapan dingin khas-nya.
Nada bicara Chanyeol berbeda. Memang bagi orang awam, nada itu terkesan biasa dan main-main, tetapi bagi Sehun itu alarm tanda bahaya. Chanyeol akan melakukan apapun yang ia inginkan dan ia rencanakan.
Jadi saat dia berkata akan menjadikan Baekhyun sebagai anak penurut, nadanya memberat dan penuh tekad. Biarpun setelahnya namja itu tertawa.
Sehun menghela nafas berat. " Dia kelihatan seperti namja baik-baik Chanyeol. Dia masih polos oke? Apakah kau yakin akan menjadikannya sebagai umpan?"
Namja tinggi itu menggembungkan pipinya imut di tengah jalan. Membuat selusin yeoja dan namja lainnya terdiam melihat namja tinggi itu. Tetapi Chanyeol hanya mendesah lelah dan sesekali merengut.
" Tentu saja! Bagaimana aku bisa menyia-nyiakan hal ini? Aku akan mendekatinya dan lihatlah bagaimana seorang PCY saat sudah mendapatkan targetnya!" Ucap Chanyeol dengan nada riang.
Wajah Sehun memucat mendengar nada riang Chanyeol. Oke... Sehun menagakui bahwa dirinya adalah salah satu member tersadis di EXO. Dia ditakuti oleh para Hacker pro karena kemampuannya yang rapi dan rahasia.
Dia seperti pembunuh berdarah dingin tetapi di dunia hacking. Membuat semua musuhnya benar-benar dibuat bertekuk lutut karena tidak bisa menangkap basah dirinya sedang meretas.
Tetapi selicik-liciknya Sehun... ketuanya merupakan orang paling licik bahkan terlicik diantara orang licik lainnya di dunia. Chanyeol yang periang dan random. Chanyeol yang suka tersenyum dan menjahili teman-temannya juga merupakan Chanyeol yang dingin dan tertutup.
Dari luar Chanyeol terlihat sekali seperti orang yang terbuka dan mudah membagikan perasaannya kepada siapapun.
PPPFFFTTT. Salah.
Sehun akan menertawakan para klien dari perusahaan milik Kkamjong atau para rekan keluarganya yang berkunjung. Mereka selalu memuji Chanyeol akan sifat baik dan sopannya. Sifat humorisnya juga membuat mereka senang karena namja tampan itu bisa mencairkan suasana tegang dengan mudahnya.
Chanyeol orang yang berbahaya. Bahkan Sehun akan selalu mencoba menjaga jarak dari temannya itu saat mereka bekerja.
Tidak ada satu pun teman dan sahabatnya yang menjadi anggota EXO yang tahu masa lalu dan latar belakang dari Chanyeol. Bahkan Sehun sekalipun. Selama bertahun-tahun mereka menjadi sahabat dan rekan tetapi tetap saja, latar belakang Chanyeol selalu jadi misteri.
" Jadi?" Tanya Chanyeol balik.
Sehun menghela nafas pasrah. " Terserah kau saja...kau ketuanya"
Chanyeol tertawa senang. Membuat senyumnya terangkat lebar dan lesung pipi menghiasi wajah tampan namja itu. Ditambah aura menyenangkan yang dikeluarkan Chanyeol, sukses membuat semua yeoja berteriak dan menjerit.
Namja tinggi itu terdiam mendengar jeritan selusin yeoja di belakang tubuhnya. Ia berbalik dan tersenyum pada para yeoja itu.
" GYAAAAA! OPPA ITU TERSENYUM PADAKU!
" HEI! DIA TERSENYUM PADAKU!"
" OPPA ITU TERSENYUM PADA KITA DASAR BODOH!"
" KYYAAAAA! OPPA JADI PACARKU!"
" Hei albino..." Bisik Chanyeol. " Aku kedatangan tamu..."
Sehun menangkat alisnya. " Cepat beresekan mereka dan jangan berakhir seperti minggu kemarin! Mereka memanjat apartemenku dan mencuri semua celana dalamku! Dan itu semuanya dasar tiang! Kau yang dikejar aku yang kena batunya"
Chanyeol menelfon sambil tertawa. Ia berlari memanjat pagar dengan gesit saat...serbuan fangirls dimana-mana. Mereka mengejar Chanyeol secara gila-gilaan, tetapi Chanyeol terlalu muda untuk mati dicium bibir bergincu tebal itu.
Ia ingin yang perawan. Bersih dan ketat. Dia juga memilih yang natural daripada polesan makeup yang tebalnya melebihi tebal tembok cina itu lagi.
" Hahaha! Tenang saja bung...aku akan membawakanmu lebih banyak penggemar. Jadi terkenal sekali-kali sepertiku tidak buruk-buruk amat juga. Aku kasihan dengan wajah datar seperti jalan tolmu itu...perlu diubah-ubah sekali-kali"
Sehun menggerutu. " Ya! Dan membuat seluruh celana dalamku dicuri lagi! Kau kira itu murah hah?"
" Ya..itu masih biasa" Chanyeol mengulum senyum senang. Sambil berlari, namja itu menengok ke belakang dan bertatap muka dengan segerombol yeoja dan siswi muda yang terus menjeritkan OPPA tanpa henti.
Namja tinggi itu dengan seenak jidatnya, mengedipkan sebelah mata kepada mereka.
Dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya...
Sehun dengan wajah datarnya yang makin datar dan hampir berubah seperti talenan sayar karena saking datarnya, menjauhkan Iphone dari telinganya saat suara jeritan dan teriakan gila membahana hingga menembus telinga Sehun.
Padahal namja itu tidak menekan tombol speaker tetapi...itu terdengar sekali seperti speaker.
" Jangan lupa makananku dan tiket ke Guangzhou. Kau berangkat dua hari lagi" Ucap Sehun. Wajahnya dingin.
" HAH!? AKU TIDAK MENDENG−"
Tuuutt...
Tuuttt...
Tuuuut...
Chanyeol menyumpah saat dia sedang berlari dengan gentingnya, teman kekurangan pigmen warna itu malah mematikannya dengan sepihak.
" Ah sial!" Desah Chanyeol kesal. " Albino itu!"
Wajah Baekhyun terngiang-ngiang di pikiran Chanyeol. Membuat senyum yang tidak bisa diartikan tercetak jelas di wajah tampan namja itu.
" Byun Baekhyun...I gonna get you, little bacoon"
.
.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun dan Luhan sama-sama membungkuk di hadapan Xiumin. Xiumin sendiri hanya bisa mengumbar senyum manis saat melihat kedua namja itu telah bersiap untuk pulang karena hari juga sudah mulai larut.
" Gomawo..." Ucap Xiumin. " Kalian sudah membantu banyak hari ini. Mudahan saja sup itu cukup sebagai makan mala kalian"
Baekhyun tersenyum manis hingga senyum kotaknya keluar. Di tambah Luhan dengan mata rusanya sama-sama membalas senyuman manis Xiumin dengan senyuman yang berjuta-juta kali lebih manis.
" Ahh ini bahkan lebih dari cukup" Ucap Luhan sopan.
Baekhyun tersenyum. " Karena biasanya kami cuma makan kimchi saja"
Luhan tersenyum tapi tatapannya mengerikan. Ia melotot kepada Baekhyun dan membuat dongsaeng-nya itu tersedak ludahnya sendiri. Baekhyun menahan jeritan kaget saat Luhan dengan nyamannya menginjak kaki Baekhyun.
Mata Baekhyun membalas dengan tatapan garang.
" Apa-apaan!?" Bisik Baekhyun garang.
Luhan malah tidak mengindahkannya dan pamit ke arah Xiumin hyung yang menurutnya sedikit nggh...aneh? Xiumin berusaha mengangkat senyum padahal diam-diam Luhan dan Baekhyun dapat mendengar namja sipit itu meringis.
Terutama saat ia berjalan dan menghentakkan kakinya yang membuat pantat namja itu juga terhentak. Disanalah Xiumin akan menggigit bibir bawahnya dan meringis lirih. Hal itu sukses membuat dua namja manis itu mengernytikan dahi.
" Aissh.. kalian berdua lucu sekali"
Xiumin tertawa melihat pertengkaran kedua dongsaeng-nya itu. Terutama Baekhyun. Sedari tadi Xiumin melihat Baekhyun yang tersenyum dan bertengkar dengan Chanyeol. Oh..jangan kira dia tidak tahu Chanyeol sempat berkunjung ke caffe miliknya.
Tidak ada yang tidak dia tahu di caffe miliknya.
Baru saja Xiumin ingin mendatangi Chanyeol dan menyambut temannya itu, tapi Baekhyun mendahuluinya. Xiumin sendiri kaget tetapi kekagetan itu segera diganti dengan senyuman menang.
Terutama saat Chanyeol terlihat sangat menginginkan Baekhyun. Dan Baekhyun yang bertingkah ketus. Namja manis itu berusaha senormal mungkin menghadapi Chanyeol tapi akhirnya kesal juga.
Hal itu membuat Xiumin yakin bahwa rencananya akan berjalan baik.
" Kami pamit pulang dulu hyung" Ucap Baekhyun.
Xiumin tersadar dari lamunannya dan melambaikan tangan saat kedua namja manis itu sekali lagi membungkuk sopan dan berjalan menjauh dari Caffe seiring dengan tenggelamnya matahari.
Namja bermata sipit itu segera memasuki caffenya dan mengunci pintu.
" Yes yes yes!" Xiumin berteriak girang. " Yes yes yes! Kkkkk akhirnya berhasil!"
" Apanya yang berhasil, princess?"
Xiumin seketika menengok ke arah dapur caffe dan menatap Chen yang berdiri disana. Namja berwajah kotak itu menatapnya datar dan sesekali mengunyak wortel mentah yang baru dicuci. Xiumin seketika menggidikkan badannya geli.
" CHENNIE!"
BRRRUUUKKKK!
" UHK!"
Chen menaikkan sebelah alisnya saat kekasih singanya ini tiba-tiba menjadi kitten manis dan menggesek-gesekkan pipi bakpao itu. Membuat Chen tersedak wortel yang ia emut beberapa menit yang lalu.
Xiumin mendongakkan wajahnya dan menatap Chen. " Yey...berhasil"
" Berhasil? Apa yang berhasil?" Chen mengernyitkan dahi.
Namja bermata sipit itu hanya membalas dengan kekehan dan senyum manis yang segera saja membuat Chen geram dan membanting tubuh Xiumin ke lantai dan mencumbu ganas kekasihnya itu.
Dan kelihatannya...Xiumin tidak menolak padahal pantatnya sudah berdenyut-denyut kesakitan.
.
.
.
.
Di tempat lain.
.
.
" Apa-apaan maksudmu tadi hah!?" Maki Baekhyun ke arah Luhan. " Kau ingin membuat kaki adikmu menjadi lempeng seketika hah!? Injakan kakimu itu bahkan lebih mengerikan dari injakan gajah!
CTAAAKK!
" YAK! Jangan memberitahukan Xiumin hyung juga kalau kita cuman makan seadanya!" Omel Luhan. Ia menjewer telinga Baekhyun dan hal itu dibalas Baekhyun dengan jeritan dan rontaan yang mirip seperti teriakan ingin diperkosa.
Baekhyun merengutkan wajahnya secara keseluruhan saat Luhan berhenti menjewer telinganya dan malah meninggalkan Baekhyun sendirian. Namja dengan mata rusa itu melajukan kecepatan berjalannya dan meninggalkan Baekhyun.
Yang kepalanya berdenyut-denyut sakit dan telinganya yang mungkin saja memanjang 1 cm gara-gara jeweran pedas dari hyung cinanya.
Baekhyun menggerutu dan mengerucutkan bibirnya.
Siapa yang tidak kesal jika apapun yang kau katakan selalu salah. Baekhyun hanya ingin mengatakan yang sejujurnya tapi Luhan terlalu over sensitif dengan semua perkataan Baekhyun. Dan berakhir membuat adiknya jadi babak belur setahun.
" Dasar rusa cina!" Gerutu Baekhyun. Baekhyun menatap Luhan yang memasuki sebuah supermarket dengan tatapan kesal. Namja manis itu menghempaskan pantatnya kasar ke sebuah kursi taman yang berjarak tidak jauh dari supermarket.
Baekhyun terlalu malas untuk ikut. Bisa-bisa mereka kembali bertengkar dan berakhir dengan supermarket yang bangkrut karena mereka saling lempar melempar barang.
Drrrt...Drrrtt...
" Huh?"
Baekhyun mengernyitkan dahi saat merasa ponsel lipat di dalam kantong bajunya bergetar. Namja manis itu mempoutkan bibirnya saat membuka ponsel itu dan menemukan panggilan dari orang yang tidak ia ketahui alias...
" Halo?" Baekhyun mengangkat suaranya.
" Hai manis! Mengingatku!? Namja tinggi di caff−
Tuutt...
Tuuutt...
Tuuuut...
Chanyeol menjauhkan Iphonenya dengan wajah melongo parah dan mulut menganga.
" D-dia...
" Dia mematikan p-panggilanku?"
Sehun mengalihkan pandangannya dari TV LCD di depannya ke arah Chanyeol yang benar-benar melongo seperti orang bodoh. Memelototi Iphonenya dengan wajah yang...sumpah itu jelek sekali.
" Hun..." Chanyeol menggapai tangan Sehun yang sedang mencoba meraih kripik.
Sehun memajukan wajahnya. " Apa?"
" Dia..."
Chanyeol menatap Sehun dengan wajah tidak percaya. " Dia mematikan panggilanku!"
" MWOYA!?"
Kai yang sedari tadi masa bodo dengan lingkungannya terutama Sehun dan Chanyeol yang bisa saja berkelahi hingga menimbulkan perang antar galaksi−terkejut. Namja berkulit tan itu sama-sama mengangakan mulutnya hingga kripik yang baru saja ia kunyah, jatuh ke sofa putih milik Chanyeol.
" Umpanmu mematikan panggilanmu?" Kai menyipitkan matanya. " Sepihak!?"
Sehun mengangguk dan Chanyeol yang masih saja dalam mode terkaget-kagetnya. Ia terus memelototi nomor Baekhyun dan tulisan panggilan berakhir 3 detik yag tertera di layar Iphonenya.
" Dia berani..." Ucap Sehun datar.
Kai mendengus dan terkekeh. Ia melanjutkan gamenya yang sempat tertunda dan menepuk bahu Chanyeol. " Sangat berani malahan tiang. Kau yakin ingin menjadikannya umpan? Kelihatannya anak itu susah dibujuk"
Chanyeol terdiam. Ia menatap Iphonenya.
" Kurasa aku akan terfokus pada Byun Baekhyun sekarang"
.
.
.
.
Baekhyun menutup ponselnya.
" Sialan!" Baekhyun melototi ponsel lipatnya. " B-bagaimana namja aneh itu mengetahui nomorku!? Aku saja belum menelponnya!"
Namja manis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat dengan curiga. Kalau-kalau ada orang yang sedang membuntutinya dan membuat namja itu dalam bahaya. Tetapi Baekhyun hanya bisa mendesah lelah saat tidak mendapatkan orang yang mencurigakan.
" Aissshhh..." Erang Baekhyun. Namja itu menatapi ponselnya.
" Ada apa dengan orang zaman sekarang? Bagaimana mereka bisa tahu nomor ponselku..."
Baekhyun mengerang. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke dalam supermarket. Badannya lelah dan pikirannya kacau. Dia perlu istirahat sekarang. ditambah besok mata pelajaran pertama adalah matematika.
Mengingat wajah Kim Seosaengnim saja sudah membuat Baekhyun terserang anemia akut apalagi kalau harus berhadapan langsung. Bisa mati berdiri Baekhyun karena guru botaknya itu gemar membuat Baekhyun harus berdiri di depan kelas untuk menajwab semua soal susah.
" Aisshh..." Baekhyun mengedarkan pandangan malas dan mencari Luhan dengan langkah terseok-seok. Ia masih memegang ponselnya.
Baekhyun sekali lagi menatap layar ponselnya yang menyala. Menampilkan tulisan panggilan berakhir 3 detik yang lalu. Yang tentu saja ia akhiri karena terlalu kaget mendengar suara namja tinggi yang baru saja itu temui pagi tadi memasuki telinganya.
" Mungkin itu cuma khayalanku saja..." Baekhyun mencoba tertawa. " Mana bisa dia mengetahui nomorku jika aku tidak menelponnya dulu?" Ada-ada saja..."
Baekhyun terus berjalan mencari Luhan.
Tanpa tahu bahwa Chaneyol sejak dimatikan sepihak menjadi ambisius dan makin licik.
.
.
.
T
B
C
XD
Halo semua O^O
Kangen saya? Sorry udah lama nggak ninggalin jejak buat ff chanbaek T^T
pertama karena UAS. Kedua karena saya juga punya ff lain di Wattpad yang harus diperhatikan. Readers disana hampir ngamuk semua karena saya juga lama nggak neg-post dan upload cerita :v
ketiga karena ide nyetop :v
Cerita ini terinsipirasi dari salah satu toko Otome Game MM : Choi Luciel :v dan kebetulan saya juga jatuh cinta dan negbet buat dapetin ini rute :v
Tapi pas saya sendiri liat Chanyeol. sifat mereka itu hampir sama. Jadinya ya...munculah ini cerita :v. Jadi ide kadang datang kadang nyetop.
Maafkan saya yang lambat buat upload cerita! saya usahakan buat update cepat karena ini masa liburan
dan Oh...
terima kasih buat semua yang sudah fav dan follor ini cerita ^^ Terima kasih juga buat yang nyempetin waktunya dikit buat ninggalin jejak dan review. saya merasa terharu dengan ini semua. Because of that i luv chu all ^^
Mind To Rnr?
SEE YA AT NEXT CHAP GUYS! ^^
SINCERELY
A.W.J
