"Itu pakaian pelayan, Nona pirang!"

"Hee... Kenapa aku harus memakai ini?"

Natsu memutar bola matanya. "Tentu saja karena sekarang kau seorang pelayan. Pelayanku lebih tepatnya."

"E-etto... Kalian.. Hantu?" tanya Lucy dengan takut.

"Emm... Lebih tepatnya 'jiwa tanpa tubuh'," jawab Erza yang malah membuat Lucy semakin bingung.

"Kau tahu, Lucy-san? Kami sebenarnya adalah peri," ungkap Juvia berhasil membuat dagu Lucy turun. Juvia mengangguk sembari tersenyum kecil melihat ekspresi Lucy, "Ya, semua orang di sini tadinya adalah peri."

"Aku punya nama seperti anda Tuan Naga," jawab Lucy dengan nada ketus. "Panggil aku Lucy."

"Lu- Luigi?" ucap Natsu dengan kelu.

"LUCY. L-U-C-Y," eja Lucy dengan kesal.

"Namamu terlalu sulit, bodoh!" protes Natsu.

"Ck! Padahal namamu lebih sulit, Natsu!" gerutu Lucy dengan bibir mengkerucut.

"Aku akan memanggilmu Luce saja, itu lebih mudah."

Lucy menatap daun-daun yang gugur di kebun istana Natsu. Udarapun terasa semakin dingin lebih dari biasanya.

"Apa ini sudah masuk musim gugur?" tanya Lucy pada Lisanna dan Wendy. Mereka berdua tengah menerawang ke kejauhan. Alisnya berkerut seakan khawatir akan suatu hal.

"Mungkin saja. Terkadang cuaca menjadi tidak beraturan di sini," jawab Lisanna. Gadis itu mencoba menangkap daun yang melayang namun hanya mampu menembusnya saja. Lucy merasa kasihan melihat ekspresi sedih di wajah manis Lisanna.

Gadis hantu berambut perak itu pernah bercerita, dia memiliki seorang kakak perempuan dan laki-laki. Namun, keduanya telah meninggal dan mungkin sudah berreinkarnasi. Sungguh jelas terlihat kerinduan yang mendalam di wajah Lisanna saat menceritakan kisahnya itu. Apa jika Lucy berkata bahwa mereka telah meninggal mereka bisa pergi ke alam baka atau tempat mana pun itu dan berreinkarnasi? Tapi, Wendy dan Erza pernah berkata bahwa mereka bukanlah hantu. Melainkan jiwa tanpa tubuh. Tapi, apa maksudnya itu? Hingga kini Erza yang pernah berjanji untuk menjelaskan hal itu belum juga melunasi hutangnya itu.

"Hime-sama?" panggil Wendy mendapati Lucy melamun.

"Eh? Ya? Maafkan aku, aku tidak mendengarmu" sahut Lucy pada akhirnya, "Dan berhenti memanggilku 'Hime-sama'!"

Wendy hanya cengengesan mendengar omelan Lucy. "Gomen gomen, Lucy-san. Hanya saja..."

"Apa?" Lucy menatap heran ekspresi aneh itu untuk kesekian kalinya lagi.

"Kami harus pergi hehehe," ucap Lisanna dan wussshhh mereka berdua menghilang seperti angin.

"Nanti kita bermain lagi, Lucy-san," bisik Wendy seiring angin dingin membelai telinga Lucy.

Ketika Lucy masih berkutat dengan pikirannya, Natsu memanggilnya dari dalam istana. "Sebaiknya kau tetap di dalam dan jangan keluar! Cuaca buruk akan datang," perintahnya saat Lucy melewati Natsu. Lucy hanya mengangguk menanggapinya.

Waktu berlalu tidak terasa di sini. Lucy mulai tinggal di istana Natsu saat pertengahan musim panas dan sekarang sudah masuk musim gugur. Sungguh hal luar biasa Lucy bisa bertahan selama ini. Apalagi dengan sikap Natsu yang kasar dan seenaknya. Juga jangan lupakan para hantu yang menggentayangi istana menyeramkan ini.

Sepertinya Lucy harus berhenti memanggil mereka hantu. Wendy, Juvia, Erza dan yang lainnya bilang mereka bukan hantu. Dan Lucy nyaris percaya kala merasakan kehangatan samar di tangan mereka atau saat mereka tengah memegang sesuatu dengan tubuh transparannya. Tetapi, sulit juga mengganggap mereka bukan hantu mengingat mereka bisa menembus apapun, termasuk tembok. Hal itulah yang paling Lucy benci karena terkadang mereka secara tidak sadar menembus tembok kamar mandi saat dia tengah berada di dalamnya.

"KELUAR KAU DASAR HANTU HENTAI!" teriak Lucy suatu hari saat tiba-tiba saja Gray masuk ke kamar mandi.

"GRAY-SAMA KAU JAHAT! HUWEEEEE!"

Lucy merinding mengingat Juvia yang ngambek padanya selama hampir tiga hari. Saat itu, Juvia yang biasanya terlihat seperti hantu manis, menjadi hantu menyeramkan yang biasanya membunuh korban-korbannya dengan sadis. Lucy berharap dia pernah membaca buku tentang hantu (atau hal lain seperti mereka) dan penangkalnya.

Lucy berjalan mengelilingi istana karena bosan dan tau-tau saja dia berada entah di mana. Apa dia tersesat? Sungguh memalukan jika begitu karena setiap harinya dia biasanya berkeliling membersihkan istana ini. 'Tapi, di mana ini?' pikir Lucy, panik.

Lucy hendak memanggil salah satu hantu itu sebelum sebuah pikiran terbersit di kepalanya. "Mereka selalu menghilang saat Natsu muncul dan mereka hanya datang saat Natsu tidak ada di dekatku," ujar Lucy pada dirinya sendiri.

Dia baru menyadari hal itu dan saat itu juga pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan. Kenapa seperti itu? Apa ada hubungannya antara Natsu dengan kematian mereka? Atau bahkan Natsu yang membunuh mereka? Dan yang lebih penting, apa maksud Erza dari 'Jiwa Tanpa Tubuh'?

Sebuah bayangan merah melewati pertigaan di depan Lucy. Bayangan itu berlalu melewati Lucy begitu cepat. Erza kah itu? Tanpa pikir panjang Lucy mengikutinya. Melewati ruangan-ruangan terkunci, menaiki tangga berlingkar hingga menembus tembok. Ah tidak. Tentu Lucy tidak bisa menembus tembok.

"Erza sialan," umpat Lucy sembari meraba-raba dan menelusuri tembok berdebu itu. 'Apa... Ku coba saja?' pikir Lucy dan mencoba menerjang tembok seperti yang dia lihat. Hasilnya, sebuah benjol besar bertengger di dahinya.

Lucy duduk di lantai dengan hati dongkol dan dahi benjol. Sembari mengumpat dia mengurut dahinya yang terasa sakit itu. Memang ide bodoh mengikuti apa yang dilakukan hantu. "Dasar hantu sialan!" umpatnya.

Ketika itu, Erza pun lewat lagi. Kali ini lumayan jauh akan tetapi masih dapat Lucy lihat. Sontak Lucy langsung bangkit dan berlari ke arahnya. Anehnya kali ini Erza berjalan begitu cepat dan Lucy terlalu takut untuk berteriak memintanya menunggu. Entah kenapa.

Lucy kembali kehilangan Erza dan kini juga kehabisan nafas. Dia memegangi kedua lututnya sembari ngos-ngosan seakan dia telah mengikuti perlombaan lari se-Negeri Selatan yang diadakan tiap tahun.

"A-apa ini?" tanya Lucy pada ruangan kosong berantakan kala melihat sebuah lukisan. Di sana terpampang potret gadis kecil berambut biru yang di jalin rumit. Gadis itu tengah tersenyum kaku mungkin karena malu. "Ini Wendy," Lucy menjawab pertanyaannya sendiri.

Lucy beralih ke lukisan-lukisan lain yang juga menampakkan potret Wendy dengan berbagai posisi. Kebanyakan lukisan itu telah robek dan rusak sehingga Lucy cukup sulit mengenali orang lain di beberapa pigura lain. Tapi, Lucy cukup lumayan mengenali wajah Juvia, Gray dan Lisanna.

Lucy menelusuri lorong panjang itu yang ternyata penuh dengan lukisan. Walaupun telah rusak parah, tapi, beberapa masih terlihat menampilkan warnanya walaupun sangat berdebu. Lucy menelusurkan jarinya pada gambar Lisanna yang tengah tersenyum ceria dengan dua orang lain, kakak-kakaknya. Lucy terpana menatap lukisan Juvia dengan Gray yang tampak seperti lukisan suami-istri. Ara... Pantas saja dia begitu marah saat insiden kamar mandi itu. Dan di ujung lorong, sebuah lukisan besar tergantung. Sebuah potret seorang laki-laki berambut pink dengan senyuman lima jari yang memperlihatkan gigi-gigi taringnya yang agak lebih panjang. Bukannya menyeramkan, itu malah menjadikannya lebih manis.

Lucy menatap lekat lukisan itu merasa mengenalinya tapi juga tidak. Lucy mengingat-ingat, jelaslah pasti dia seorang pangeran dilihat dari pakaiannya.

"Em? Apa ini?" tanya Lucy melihat sebuah kertas dari kulit di bawah lukisan itu. Kertas kulit itu terlihat lapuk dan sangat tua, tapi, tulisannya masih bisa Lucy baca.

'Natsu Dragneel. Cahaya keluarga juga negeri. Teman seperjuangan dan pangeran muda yang paling dicinta. Sayang sinarmu redup lebih cepat. Semoga kita bertemu di kehidupan selanjutnya.'

"Na-Na-Natsu?!" Entah seperti apa sekarang wajah Lucy kala menatap nama yang tertulis di sana. Natsu, katanya. Jangan bilang Natsu yang itu. Tapi, di sini dikatakan Natsu adalah pangeran yang telah meninggal. Pasti bukan Natsu si Naga kejam itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Lucy melonjak kaget ketika mendengar suara dingin nan dalam di belakangnya. Lucy pun berbalik pelan dengan tubuh gemetar.

"A-aku... A-aku hanya...,"

"Bukankah sudah ku bilang untuk tidak pernah menginjakkan kakimu di sini?!" bentak Natsu. Wajahnya kian memerah karena marah.

Lucy semakin mundur dan memeluk tubuhnya sendiri. "A-aku hanya tersesat, Nats-"

"PERGI! PERGI KAU DARI SINI, BRENGSEK!" teriak Natsu membuat Lucy makin ketakutan. Lucy pun berlari pergi meninggalkan Natsu dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

Lucy terus berlari walaupun dia sama sekali tidak bisa melihat apapun. Air hujan seakan menajam saat menerpa wajahnya. Badai memang benar-benar datang seperti yang dikatakan Natsu. Ah.. Pria monster itu. Lucy benci pria monster itu. Hanya karena tersesat dan sampai di tempat yang dia katakan terlarang, dia mengusirnya di tengah badai seperti ini. Lucy benci dia.

Entah sudah berapa jauh Lucy berlari, sekarang dia tidak tahu di mana dia berada. Tetapi untuk sekarang, Lucy tidak peduli. Dia hanya ingin segera menjauh dari istana terkutuk itu. Segera pergi dari cengkraman monster naga bernama Natsu.

Gigi Lucy semakin bergemeletuk kedinginan. Udara terasa semakin dingin dan dingin. Bahkan hujan pun kini telah berganti salju. Langkah Lucy semakin pelan dan pelan karena kelelahan. Dia memeluk dirinya sendiri yang hanya berbalut gaun tipis, air matanya pun turun semakin deras.

BRUG!

BRUG!

BRUG!

Lucy membisu merasakan getaran di atas tanah. Apa ini? Lucy melihat sekeliling dan hanya mendapati kegelapan dan kesunyian. Bahkan para hewan pun tak bersuara lagi.

Salju berputar di sekitar Lucy membuat gadis itu terasa membeku. Ketika instingnya mulai menyadari sinyal bahaya, sesosok monster muncul dari balik angin salju. Bukan Natsu. Monster itu setinggi 6 meter atau lebih, lengannya lebih besar daripada tubuh Lucy dengan kuku-kuku yang seperti mata tombak yang baru diasah. Tapi, yang lebih menyeramkan adalah mata hitam kelam nan tajam yang kini menatap lekat Lucy. Entah penglihatan Lucy salah atau tidak, makhluk itu seakan tengah nyengir dengan gigi-giginya yang tidak kalah tajam.

WUSSSH!

Berterima kasihlah kau Lucy pada insting bertahan hidupmu. Jika tidak karena itu, mungkin sekarang kau sudah menjadi es krim rasa Lucy gara-gara semburan es yang muncul begitu saja entah dari mana.

Lucy terbaring di atas salju yang baru disadarinya cukup dalam. Otaknya berputar mencari solusi. Namun, sebongkah es berujung tajam melesat di atas kepala Lucy dan menghantam pohon di belakangnya hingga hancur. Lucy membayangkan jika itu kepalanya.

Lucy bangkit perlahan ketika makhluk itu menggeram keras, entah itu berarti dia tertawa atau sedang marah Lucy tidak tahu. Gadis itu meraba pinggangnya dan tidak menemukan pedangnya. Ah! Pedang itu tertinggal di istana Natsu, bahkan cambuknya yang biasanya ia sembunyikan di balik gaun pun entah hilang kemana.

'Oke, no weapon no defence. Sekarang apa?!' pikir Lucy panik.

Monster es itu berlari menerjang Lucy dengan kaki-kaki besarnya. Hup! Lucy melompat menghindar ke kiri. Benar! Semakin besar tubuh lawan, semakin lambat gerakannya.

'Jadi aku hanya terus menghindar dan mengecohnya. Mungkin aku bisa kabur...,' simpul Lucy.

Monster itu berbalik kembali menghadap Lucy. Hidungnya menghembuskan uap dingin layaknya seekor banteng. Dia -monster es- kembali berlari layaknya kereta ke arah Lucy, tetapi, kini Lucy sudah siap. Kakinya dia buka selebar bahu dan kedua tangannya dia siapkan di sisi tubuhnya. Ketika monster es itu menerjangnya, Hup! Lucy kembali melompat ke samping. Namun, sepertinya siasat itu hanya mempan satu kali. Sebuah tongkat, salah, sebuah lembing es tiba-tiba saja muncul dan memukul Lucy layaknya dia adalah bola baseball saat dia menghindar tadi.

Lucy meringis. Di wajahnya melintang garis merah dari dagu ke pipi kanannya. Dadanya pun terasa nyeri.

'Sial!'

Lucy mengkeret mundur hingga dia menyentuh batang pohon. Monster es itu mengambil ancang-ancang lagi. Lembing es, semburan badai mini yang seolah menurutinya belum lagi meriam salju yang mungkin bisa dia lontarkan.

'Mati aku...,' ringis Lucy.

Dari sekian banyaknya hal yang bisa monster es itu bisa lakukan, dia memilih untuk menerjang Lucy dan menusukkan lembing esnya ke tubuh Lucy. Lucy hanya menutup matanya, pasrah saat kemungkinan dia akan menjadi sate pirang pertama di dunia. Lucy membayangkan kematian yang lebih mudah dan tidak menyakitkan dulu, seperti mati saat tengah tertidur saat umurnya menginjak 70 tahun dan sudah memiliki 3 orang cucu. Tetapi, ternyata menjadi sate tidak sesakit itu. Bahkan Lucy tidak merasakan apapun.

"Mau sampai kapan kau menutup matamu seperti itu, huh?"

Mata karamel Lucy sontak membuka kala mendengar suara familiar yang sering terdengar jengkel. Dinanapnya punggung bersayap naga di depannya itu. Ujung lembing es dia tahan dengan tangan kiri. Sementara Sang empunya terbelalak dan berusaha melepaskan lembing esnya.

"Na-Natsu?"

BWUSHHHHHHH!

Natsu menyemburkan api dari mulutnya. Cahaya merahnya membuat Lucy harus menutup matanya dengan tangan. Lucy kira panasnya 1000 derajat dan pastilah si Monster es itu tengah meleles bak es di musim panas. Namun, Lucy salah. Monster itu menahannya dengan tembok es layaknya tameng.

"Ck! Kau itu memang menyebalkan yah?!" umpat Natsu. "Kenapa kau tidak kembali saja ke neraka, huh?!" lanjutnya yang dia lanjutkan dengan tendangan tepat ke wajah monster itu, membuat makhluk seberat sejuta kilogram itu melayang membentur pohon hingga hancur.

"GARGGGHHHHHHHH!" raungnya.

Natsu mengorek kupingnya dengan bosan.

"Dasar cerewet!"

Bola-bola es serta jarum es sebesar pohon melesat cepat ke arah Natsu. Kini Lucy bisa melihat asal proyektil-proyektil itu. Es-es tajam itu muncul begitu saja dari kulit hitam si Monster.

BWUSHH!

Natsu mengibaskan sayapnya dengan kuat, melontarkan kembali serangan si Monster ke arahnya. Tetapi, sepertinya si Monster memiliki kulit sekeras badak karena tidak satupun es tajam itu menancap ke tubuhnya.

"Grrghhh..." geram si Monster dengan suara dalam hingga bulu kuduk Lucy dibuat meremang.

"Kau menantangku, huh? Deliora?" tanya Natsu, sebelah alisnya terangkat.

"Kalau begitu aku serius sekarang, " ucap Natsu kemudian. Pria naga itu pun terbang melesat ke arah Deliora. Cakarnya dia arahkan.

Srakkk!

Srakkk!

Natsu mencakar acak tubuh Deliora yang ajaibnya berefek di kulit badak Deliora. Makhluk itu mengaum kesakitan. Deliora mencoba menepis dan menangkap Natsu, tetapi, pria itu terlalu gesit untuknya. Deliora pun mengaum kesal karenanya.

BWUUUSSSSSH!

Natsu kembali menyemburkan api ke wajah si Monster es, dan kali ini Deliora tidak mampu mengeluarkan tameng esnya itu. Wajahnya terbakar hebat membuatnya kalang kabut.

Natsu mendarat pelan di samping Lucy. Peluh menetes di dahinya. Mata tajamnya masih memperhatikan api yang membakar Deliora. Ketika api itu padam dan hanya menyisakan abu, Natsu memalingkan wajahnya dan menatap Lucy.

"Kau baik?" tanyanya sembari berjongkok di depan Lucy.

Gadis pirang itu hanya mengangguk pelan. Wajahnya pucat pasi tanda dia masih shock. Satu-satunya hal merah di wajahnya adalah garis melintang peninggalan senjata Deliora. Natsu meringis melihatnya.

Natsu mengulurkan tangannya pada Lucy, tapi, gadis itu menepisnya. Natsu menghela nafasnya. Gadis itu ketakutan dan bukan pada Deliora saja, tapi, juga pada dirinya. Pria bersurai pink itu hanya menatap tangannya, sedikit bergetar entah karena dingin atau apa. Lalu, di tengah deru salju yang masih berhembus, Natsu berbisik lirih dengan penuh penyesalan, "Maaf. Maafkan aku... Maafkan aku karena bersikap kasar padamu tadi."

Natsu tidak mendengar umpatan atau kata-kata kasar dari mulut Lucy. Setidaknya Natsu lebih baik mendengar gadis itu mencaci makinya atau bahkan memukulnya. Natsu tidak akan melawan, dia akan membiarkan gadis itu melampiaskan kemarahannya.

Namun, itu semua tidak terjadi. Di tengah deru salju aneh di awal musim gugur, sedu sedan Lucy melirih di antaranya. Menyentak batin Natsu dengan perasaan janggal yang tidak pernah dia rasakan selama 400 tahun lebih kehidupannya. Lucy menangis keras malam itu. Menumpahkan segala hal yang beberapa saat lalu dia rasakan dengan air matanya. Entah kenapa, rasa lega juga menyelinap di antara semua kemarahan Lucy pada Natsu.

Malam dingin bersalju aneh di musim gugur itu, Natsu kembali membawa Lucy ke istananya yang kelam dan penuh misteri. Namun, kini dengan deru nafas tenang Lucy dan perasaan asing nan menggebu di dada Natsu.

To be Continued

Pojok Curhat Author ~

Ah.. Kayaknya aku diwajibkan kena timpuk deh... Gomen ne akibat ketelatan update dan cerita yang pendek ini geheee... Aku dapet 1000 rintangan buat nulis nih chapter (?) but akhirnya lumayan lah bisa tamat walau aku sendiri agak kurang puas sama chapter ini. Gimana menurut kalian? Tulis komentar, key?

Sangkyuuu see you next chapter