Sebuah janji, terucap dari hati
untuk saling menjaga perasaan satu dengan yang lain...
Katakan, apakah kau mengingatnya?
.
.
.
.
A Story From The Bottom Of My Heart
-Pinky Promise-
.
.
Disclaimer: Pandora Hearts/Jun Mochizuki
Genre: angst/romance
Pairing: Oz/Alice
Warning: 2 POV (Oz & Alice's POV)
Typo (?)
Italic words: Memories
.
ENJOY!
Terkadang kita mengharapkan yang terbaik, tanpa sadar bahwa yang terbaik tidak selalu menjadi apa yang kita harapkan...
-Flync-
OZ'S POV
Apa arti keheningan ini?
Apa kamu terkejut?
Apa kamu senang?
Katakan padaku…
Sebelum aku menjadi gila di dalam keheningan ini…
Malam itu langit bertabur bintang, kita kembali bertemu di atap untuk hal yang menurutku tidak penting, dan tidak jelas.
Ya, tapi kita sama-sama menikmati saat-saat itu...
Saat-saat penuh makna untuk kita.
Ataukah itu hanya berlaku bagiku?
"Bintang jatuh!" tunjukku
Kamu hanya diam, mungkin terpana dengan pemandangan di depanmu
"Let's make a wish" kataku dengan jantung berdegup kencang...
Permohonan...
Satu permohonan...
Oh...
Ada banyak sekali hal yang kuinginkan di dunia ini...
Tapi aku tahu, hanya ada satu keinginan yang benar-benar aku inginkan...
Kebahagiaan...
Maka dengan suara sepelan mungkin aku membisikkan permohonanku, berharap dunia ini dipenuhi dengan kebahagiaan.
Kamu tetap diam di sampingku, diam yang terasa ganjil...
Apa kamu juga merasakan apa yang kurasakan sekarang?
Apa jantungmu berdegup tak karuan?
Apa dirimu merasa hangat karena kehadiranku?
Walaupun angin dingin terus meniup kita?
"Sudah malam" akhirnya kata-kata itu keluar dari bibirmu
"Ya" jawabku kaku
Uh...
Bodohnya aku...
Jawaban macam apa itu?
Keheningan ganjil kembali menyelimuti kita...
Haruskah aku mengatakannya sekarang?
Perasaan yang selama ini aku pendam?
"Alice" akhirnya aku berhasil memanggil namamu..
Tahukah kamu, rasanya malam itu suaraku nyaris tak bisa kuraih?
"Ya?"
"Ada yang ingin kutanyakan padamu" kataku pelan
UHG!
itu bahkan lebih bodoh dari yang aku inginkan!
Ada yang ingin kukatakan...
Bukan kutanyakan...
Oh, baiklah sebenarnya pada akhirnya kau juga akan menjawab pertanyaan atas perasaan ini...
Tapi..
Uhg...
"Tanyakanlah" suara pelanmu membuyarkan pikiranku
"Ngg... Sebenarnya..." aku baru saja akan memperoleh semangatku, keberanianku untuk mengungkapkan semua perasaanku padamu...
Tapi semua terlambat bukan?
Semua karena orang itu...
"Ahh, kalian ada di sini juga rupanya" suara itu membuyarkan semangatku...
Aku berbalik, setengah kesal dan penasaran "Break?"
Di sampingku kamu tetap diam, uhh...
"Oh, Alice juga ada di sini! Kebetulan sekali ada yang harus kusampaikan padamu" kata Break sambil berjalan ke sampingmu
Tunggu!
Aku belum mengatakan apa yang aku ingin katakan!
Sialan kau Break!
"Aku... Tidak bisa..." jawabmu pelan
membuatku merasa sedikit lega, apa itu berarti kamu memang ingin tetap bersamaku?
Bisakah aku mengangkat harapanku?
Namun Break menggeleng-gelengkan kepalanya
"Gadis nakal, kita harus membicarakannya sekarang juga!" kata Break
Dadaku terasa panas, kesal...
Dia benar-benar mengganggu...
Namun sebelum sempat aku memprotes, Break sudah menggendongmu.
"Break!" protesmu
Aku hanya terdiam, dan seperti orang bodoh menatapmu yang kini berada di dalam gendongannya
"Baiklah... Maaf mengganggu Oz, kami pergi dulu" kata Break yang kemudian membawamu turun dari atap, meninggalkan aku sendiri dengan pikiranku.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa Break bisa dengan mudahnya membawamu pergi dariku?
Apa yang ingin kalian bicarakan?
Apa aku sudah terlambat?
Apa perasaan ini hanya akan berakhir seperti perasaanku kepada Sharon?
Dan walau aku tahu pertanyaan-pertanyaan bodoh itu hanya akan menyakiti hatiku sendiri, tapi tetap...
Aku membiarkan mereka berbisik di telingaku, meracuni pikiranku dan meremukan hatiku lagi...
Ha... Ha..
Aku ini...
Memang bodoh bukan?
Alice's POV
Hening menyelimuti kita, dan aku bisa mendengar jantungku berdetak semakin kencang...
Astaga...
"Alice?" kamu memanggilku lembut, suaramu terasa bergetar
Aku menggeleng pelan sebelum menunduk menatap tanah...
Siapapun, kumohon...
Katakan ini bukan mimpi...
"Katakan Alice, katakan bagaimana perasaanmu untukku?" tanyamu
Dan lagi, jantungku terasa meloncat.
Perasaanku untukmu?
Astaga, apa kamu benar-benar ingin tahu?
Biar kukatakan padamu...
Setiap kali aku sendiri, aku selalu berharap kau ada di sampingku...
Setiap kali aku melihatmu, rasanya aku ingin menggenggam tanganmu...
Setiap kali aku bersamamu, aku selalu berharap aku bisa melihat senyummu, dan waktu akan berhenti...
Dan saat ini, saat kamu mengatakan semua itu; aku berharap aku bisa memelukmu, dan mengatakan betapa besar perasaan yang selama ini aku simpan untukmu...
Tapi... Itu tidak mungkin bukan?
Karena aku tidak mungkin bisa selalu ada untukmu setelah hari ini berlalu...
"Alice?" lagi-lagi suara lembutmu menarikku dari lamunanku
Aku kembali menggeleng.
Kamu menghela nafas pelan lalu menarik pelan tanganku.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab hari ini... Kamu bisa mengambil waktu selama yang kamu butuhkan untuk mengatakan jawabanmu"
Astaga, kumohon...
Jangan berkata seperti itu...
Kamu mengacak rambutku pelan, lalu berdiri; masih tetap menggenggam tanganku.
Jangan berkata seperti itu...
"Aku akan menunggumu"
Lalu kamu mencium ringan tanganku, sebelum meninggalkan aku di taman sendiri
Dan akhirnya suaraku pun berhasil keluar, bersamaan dengan tetes-tetes air mata yang tak bisa kutahan lagi...
"Aku juga menyukaimu"
"Dia mengatakan hal itu?"
Saat ini aku berada di dalam kamarku, dengan Break yang duduk di sampingku dengan wajah polos, tampaknya ia sama sekali tidak terkejut dengan fakta yang baru saja kusampaikan padanya.
"Hmm..." gumamku pelan
"Lalu apa jawabanmu?" tanya Break
Astaga, tampaknya ia lebih tertarik dengan jawabanku
"Aku tidak mengatakan apa-apa" jawabku pelan
Hening menyelimuti kami
"Bodoh bukan?" tanyaku
Break terdiam sejenak, menatap wajahku sebelum menghapus air mata yang diam-diam jatuh dari pipiku.
"Aku tidak akan pernah mengatakan bahwa melindungi perasaan orang yang kita cintai demi kebahagiaannya merupakan tindakan dari orang yang bodoh" kata Break sambil memelukku, membiarkan aku menangis di pelukannya.
"Kamu berhasil Alice, kamu sudah tahu apa yang menjadi jawaban dari pertanyaan yang selama ini ingin kamu ketahui… Kamu sudah mendapatkan waktumu, kesempatamu dan kamu sudah berhasil menjalani 1 bulan ini dengan tegar… Kini saatnya kamu beristirahat…"
Aku menggeleng pelan di dalam pelukan Break.
"Tidak, aku tidak ingin beristirahat sekarang…" bisikku
Namun Break tidak menjawab, ia hanya membiarkan aku menangis di dalam pelukannya selama sisa hari itu, sebelum membaringkanku di tempat tidurku dan berkata "besok, pastikan kau siap untuk besok"
Lalu ia menutup pintu, dan aku kembali menangis di balik selimut.
Hei Oz, apa kamu ingat?
Dulu, kita pernah membuat janji di bawah pohon sakura di taman belakang…
Hari itu, kita bertukar cerita tentang memori masa kecil kita…
Bukan kenangan yang menyenangkan untuk diingat, tapi kita tetap saling bercerita, dan saat kata terakhir menutup cerita itu, aku merasa lebih lega…
Semua beban itu telah hilang…
"Alice, berjanjilah padaku" ucapmu waktu itu
"Apa?" tanyaku was-was.
Aku tidak ingin mengucapkan janji yang tidak akan bisa aku penuhi…
Aku tidak ingin menyakiti hatimu Oz…
Saat itu kita tengah berbaring di atas rumput, menatap langit sore nan indah…
Kamu berbalik menatapku, tepat di dalam mataku; dan aku takut wajahku akan memerah…
Astaga…
"Kalau kamu mau berjanji, aku juga akan menjanjikan hal yang sama…" katamu
Aku mengangguk pelan; seolah terhipnotis oleh tatapanmu.
"Berjanjilah, kamu tidak akan menyakiti hatiku, dan aku pun juga berjanji aku tidak akan menyakiti hatimu… Bila ada di antara kita yang merasa kesulitan, sedih, putus asa, kesal, maka yang lain harus mau mendengarkan sehingga ia menjadi pengobat hati yang lain" ucapmu
Ahh…
Janji ini…
Apakah aku bisa mengucapkannya?
Apakah aku bisa menepatinya?
Masih cukupkah waktuku untuk menepati janji ini?
Aku meraih tanganmu, lalu mengaitkan kelingking kananku di kelingking kirimu…
"Aku berjanji"
Dan sejak hari itu, ada perasaan hangat yang menyusup di dalam hatiku setiap kali aku mendapat serangan….
Karena aku tahu pasti, kita telah berjanji untuk saling menjaga perasaan satu sama lain…
Tapi sekarang, aku bertanya-tanya…
Masihkah kamu mengingatnya?
Oz'POV
Malam ini langit terlihat cerah, bintang-bintang bertaburan begitu indah.
Angin tidak begitu kencang, namun cukup untuk membuatku tertidur.
Ahh…
Rasanya seperti berada di surga…
Tapi sayangnya. kamu tidak datang ke atap hari ini…
Apa kamu marah?
Apa kamu takut bertemu denganku?
Atau…
Aaaa…
Cukup dengan semua pikiran itu!
"Malam yang indah bukan?" mendadak suara seseorang mengejutkan telingaku
"Break!" protesku sambil melirik tajam kearah pemuda itu.
Break hanya diam, matanya yang menatap langit tampak sayu; seolah ada kesedihan mendalam yang ia pendam.
"Alice pasti akan senang jika melihat langit malam ini" ucapku tanpa sadar
"Hmm…" gumam Break
Dan keheningan menyelimuti kami
Uhh… Di saat-saat seperti inilah aku merasa sangat merindukanmu…
Keheningan yang tercipta diantara kita, suara nafasmu yang pelan….
Alice, aku…
"Sayangnya Alice sedang tidak enak badan" kata Break
Dengan cepat kepalaku berputar kearah Break.
"Apa dia sakit?" tanyaku was-was
"Entahlah, mungkin hanya kelelahan… Akhir-akhir ini ia cepat lelah, bagaimana menurutmu?"
Kamu sakit?
Cepat lelah?
Ohh… Aku ingat…
Beberapa hari lalu, saat kita duduk di taman kamu terlihat agak pucat, kamu juga tidak terlihat seceria biasanya sejak Sharon pergi…
Apa ini karena kamu tidak ingin Sharon pergi?
Atau karena kamu sakit?
Atau…
"Ja, aku rasa aku harus turun sekarang. Masih banyak hal yang harus kuurus untuk kegiatan besok" ucapan Break membuyarkan pikiranku.
"Huh?"
Break berdiri, menunduk menatapku dengan senyum kaku
"Ingatlah Oz, kita tidak pernah tahu berapa lama waktu yang kita punya… Maka dari itu, kita harus menggunakan segala kesempatan dan waktu yang kita miliki"
Dan ia meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan di benakku…
Apa maksudnya dengan kegiatan besok?
Menggunakan kesempatan…
Tunggu!
Break tahu kamu sakit, Break memiliki rencana untuk besok, Break memperingatkanku untuk menggunakan kesempatan dan waktu yang aku miliki…
Aku menggeleng, lalu berdiri dan berjalan cepat menuju tangga turun…
Berharap apa yang aku bayangkan hanyalah sebatas khayalanku saja…
Alice's POV
Menjelang tengah malam, aku tebangun dengan rasa sesak di dada.
Tanpa kusadari aku telah menangis hingga jatuh tertidur.
Aku menghela nafas, bangkit dari tempat tidurku lalu menatap langit malam cerah yang bertaburan bintang.
Merasa tidak kuat, aku bergerak pelan menuju tempat tidur.
Namun tubuhku terasa berat dan berjalan terasa menguras habis tenagaku…
Astaga, apakah aku akan mati?
Di sini?
Saat ini?
Aku menutup mata, berharap ini hanya mimpi buruk dan aku akan terbangun nanti dengan tubuh bugar...
Tapi aku tahu pasti, ini bukanlah mimpi...
Dan besok, aku harus meninggalkan rumah ini, kenangan-kenangan ini, dan juga kamu...
TOK! TOK!
Suara keras dari arah jendela mengejutkanku, dan saat aku menatap kearah jendela dengan penuh tanya, aku merasa tenagaku dipulihkan saat tahu bahwa yang mengetuk jendela adalah kamu…
"Oz!" bisikku kaget
Kamu hanya tersenyum kecil, sementara aku berjalan pelan lalu membukakan jendela untukmu.
"Hai Alice, kudengar kau tidak enak badan" sapamu sesantai mungkin
Tak tahan, aku memutar bola mataku; ini pasti akal Break untuk mencegah Oz menemuiku…
"Nah, karena kamu sakit kamu harus kembali ke tempat tidurmu bukan?" katamu sambil menarikku ke tempat tidur
"Oz!" protesku pelan
Tapi kamu tidak menyahut, kamu memaksaku kembali duduk di atas ranjang sementara kamu duduk di kursi yang biasanya Break gunakan saat menemaniku.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku pelan
Kamu memasang wajah pura-pura tersinggung, lalu menjawab asal "Karena kamu sakit dan membutuhkan teman bicara"
Aku tersenyum kecil, dadaku tidak lagi terasa begitu menyakitkan, dan itu semua berkat kamu…
"Alice" panggilmu kaku
Aku menggumam pelan, memiringkan kepala; bingung dengan sikapmu yang mendadak kembali kaku.
"Boleh aku bertanya?" tanyamu
"Kamu sudah bertanya" jawabku geli
Kamu tersenyum gugup, lalu menyahut "Kuartikan itu sebagai boleh"
Aku tertawa pelan, lalu mengangguk
"Bicaralah".
Kamu menghela nafas, menatap kedalam mataku dengan penuh kesunguhan; membuat jantungku terasa meloncat.
"Apa hubunganmu dengan Break?"tanyamu dengan suara serak
Ha?
Apa?
Tunggu…
Hubungan?
Aku?
Break?
Apa…
"Tampaknya Break menyukaimu" katamu pelan
Ha! Pasti kamu ingin menyembunyikan nada cemburu di dalam suaramu bukan?
Nah, kamu gagal Oz, karena aku bisa mendengarnya.
Pelan, terselip begitu sempurna namun tidak cukup sempurna untuk menyembunyikan diri dari telingaku.
"Ia hanya teman" kataku
Dan ketegangan di dalam matamu sedikit mencair.
"Dan ada satu lagi yang aku ingin kau tahu" katamu
Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
Kamu meraih tanganku, menggenggamnya pelan.
"Sharon, well… Besok dia pulang dan satu bulan yang lalu, tepat sebelum ia pergi ia mengatakan bahwa ia masih mencintaiku…" katamu pelan.
Dadaku terasa sesak
Sharon…
Ya, besok ia akan kembali…
Dan ia sudah mengambil langkah sejak dari ia meninggalkan rumah ini…
"Apa kamu masih mencintai Sharon?" tanyaku tanpa bisa kucegah
Kamu terdiam…
Kumohon, jawab pertanyaanku dengan jujur, jangan alihkan pandangan matamu!
Tatap aku! Lihat mataku…
Katakan apa yang kau rasakan, katakan perasaanmu…
Apa kamu masih mencintai dia?
"Jawab aku" bisikku
Kamu tertunduk, tidak mampu menatap kedalam mataku
Dadaku terasa sakit, oh…
Ya, tentu saja seharusnya aku sudah harus sadar bahwa hari ini akan tiba juga
Hari dimana kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku tapi kamu masih menggenggam bayangan dirinya…
Lalu apa aku di matamu?
Boneka yang dicintai saat kamu melihatnya untuk yang pertama kalinya di dalam hidupmu?
Tapi kamu masih membawa boneka lamamu, memaksakan diri untuk bermain dengan kami berdua
Dan hanya waktu yang bisa menjawab, kapan dan siapa yang akan kamu buang saat kamu sudah bosan…
"Lupakan semua ini Oz" kataku pelan
Akhirnya kamu mengangkat wajahmu, menatap kedalam mataku dan aku bisa melihat rasa sesal mendalam
Astaga, ingin rasanya aku memelukmu, mengatakan bahwa aku rela menunggu seumur hidup hingga akhirnya kamu benar-benar hanya mencintaiku, tapi itu berarti…
Waktu yang kita miliki hanya sedikit sekali bukan?
"Apa maksudmu?" tanyamu dengan suara bergetar.
Aku tidak ingin membuatmu memilih, membuatmu terluka…
Tidak, biarkan aku membawa semua perasaan dan rasa sakit itu kedalam alam maut…
"Lupakan aku, kembalilah dengan Sharon, aku yakin dia lebih membutuhkanmu" jawabku
"Tapi…"
"Pergilah Oz" potongku sambil mendorong pelan tanganmu dari tanganku
Selamat tinggal Oz…
"Tapi Alice…"
"Pergi!" teriakku sekuat tenaga
Astaga, dadaku terasa semakin sakit
Kamu menatapku dengan tatapan terkejut, apa yang kamu lihat?
Sesosok gadis menyedihkan yang melepaskan cintanya?
Kuharap bukan itu…
Karena aku tidak mau kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi…
"Alice… Alice, aku…"
Lalu mendadak kamu menghilang, digantikan dengan punggung tegap milik orang itu…
"Break!"
Oz'POV
Sorot matamu memancarkan berbagai emosi…
Ya, aku bisa melihatnya dengan jelas…
Sedih, takut, penuh harap, terluka….
"Apa kamu masih mencintai Sharon?"
pertanyaan itu terasa menancap di hatiku
Aku tahu suatu hari nanti , entah kapan itu seseorang akan menanyakan pertanyaan itu padaku…
Tapi tak pernah aku bayangkan bahwa saat itu datang begitu cepat, dan terlontar dari bibirmu; orang pertama dari urutan orang yang kuharap tidak akan pernah menanyakan pertanyaan itu.
"Jawab aku" bisikmu
dan lagi-lagi aku bisa merasakan adanya pisau yang kembali menancap di hatiku…
Aku menunduk, menghindari tatapan matamu.
Alice… Andaikan aku bisa mengatakan semuanya padamu…
Bagaimana jantungku masih berdetak kencang saat melihat Sharon, bagaimana aku lupa dengan sekitarku saat aku bersama dia…
Bagaimana rasa nyaman yang tak lagi kurasakan saat bersama Sharon berpindah kedalam dirimu…
Bagaimana rasa sakit di hatiku saat melihat sorot matamu yang terluka…
Aku…
"Lupakan semua ini Oz" katamu pelan
Kali ini aku tidak diam, tidak lagi…
Aku menatap langsung kedalam matamu, dan…
Astaga…
Aku menyakitimu lagi bukan?
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan suara bergetar.
Kamu terdiam, dan sejenak aku merasa terhipnotis dengan sorot matamu yang penuh kesedihan.
"Lupakan aku, kembalilah dengan Sharon, aku yakin dia lebih membutuhkanmu" jawabmu
Aku terdiam, merasa dunia mulai runtuh perlahan-lahan…
"Tapi…"
"Pergilah Oz" potongmu sambil mendorong pelan tanganku dari tanganmu
"Tapi Alice…"
"Pergi!" teriakmu sekuat tenaga
dan saat itulah aku menyadari, kamu memang tidak ingin aku ada di sini…
Kehadiranku hanya membuatmu semakin tertekan…
"Alice… Alice, aku…" aku ingin menjelaskan semuanya, aku ingin! Sungguh…
Tapi mendadak kamu menghilang, digantikan dengan wajah kesal…
"Break!" bisikku kesal.
Break menjulang diantara kita, menutupimu dari pandanganku.
Sorot matanya tajam dan wajahnya terlihat kesal.
"Pergi Oz, pergi dan jangan pernah ganggu Alice lagi" kata Break dengan suara dingin.
"Kau tidak punya hak untuk mengaturku, Break" balasku dengan suara bergetar.
"Jadi kau menolak pergi?" Tanya Break
Aku menggeleng
"Tidak sebelum Alice mendengar penjelasanku"
"Tidak, ia tidak butuh penjelasan apa-apa, sifatmu sudah cukup menggambarkan penjelasan macam apa yang akan kau katakan pada Alice"
Tanganku terkepal erat, baru saja aku akan menjawab ucapan Break, saat aku menyadari sosokmu yang melorot dari tempat tidur dan kini nyaris terbaring di lantai.
"Alice!"
Huaaaaaa... #guling-guling di lantai #kejedut DX
Akhirnya berhasil mempublish chapter baru sebelum mid semester! #lirik kalender
Ja, sebelumnya maaf untuk beberapa review yang mungkin tidak bisa saia balas
Yang jelas tampaknya banyak readers yang tertipu di chapter sebelumya bukan ;) #senyum jahil
Untuk chapter selanjutnya dipastikan akan keluar cukup lama, mengingat mid yang bahannya nggak tanggung-tanggug #lirik tumpukan buku
Nah, malah jadi curcol deh DX
Ja, sebelum mulai semakin meracau author pamit dulu~
Ganbatte ne untuk readers yang akan melalui UN, US #atau udah lewat ya? # maupun mid semester TT_TT
Mari berjuang bersama! :D
Eitt...
Ada yang ketinggalan!
RnR plz? ?
BANZAI! X3
