Chapter 3
Can't Wait to Love You
' Bad Day or sweet Day'
Cast : LeoN vixx
All member of vixx
Onkey – orang tua N
Yunjae – orang tua Leo
Taemin – namdongsaeng N
Changmin – hyung leo
Musim salju sudah tiba. Pertanda natal akan segera tiba. Salju yang turun setiap detik semakin bertambah, bertumpuk menjadi gumapalan es yang menimbun jalan. Walau sebanyak apapun salju yang turun dimusim kali ini, tidak akan memberhentikan aktifitas setiap orang. Justru kian menambah semangat demi natal yang akan tiba, itu artinya berkumpul dengan keluarga menghabiskan malam natal bersama.
Sama halnya dengan Jung Taekwoon, pagi pagi dia terbangun seperti biasa dan menyiapkan segala sesuatu untuk ke kantor. Pukul 7 dia sudah berpakaian rapi, dengan pakaian yang telah disiapkan sang istri tentu saja. Kakinya berjalan turun menuju meja makan. Sedikit mencari sang istri yang sedari dia bangun belum dilihatnya.
Kakinya menuju dimana sang istri berada –dapur-. Sedikit tidak percaya melihat sang istri berdiri didepan kompor dengan apron yang masih terpakai. Mulutnya tampak mengumpat tidak jelas. Jelas sekali jika itu sebuah sumpah serapah untuk minyak panas yang mengenai kulit tan nya.
"kau memasak apa?"
Suara Leo menyadarkan Hakyeon yang dengan refleks membalikkan badannya.
"aah… kau sudah siap?" ucap Hakyeon merasa malu, oh lihatlah dirinya yang pasti terlihat dekil. Salahkan minyak minyak panas itu yang suka sekali menempel padanya. "duduklah, aku akan menyelesaikan ini" hakyeon kembali berkutat dengan spatula dan pan yang ada didepannya
Leo menggeser kursi dan mendudukkan dirinya disalah satu kursi meja makan.
"cukup kopi saja" ucap Leo, dan meminum kopi yang sudah terhidang di meja.
"aku sudah membuatkanmu kopi… tidak baik jika setiap pagi kau hanya minum kopi.. mulai sekarang kau harus terbiasa mengisi perutmu dengan makanan makanan ringan" celoteh Hakyeon yang kini mengangkat telur dari penggorengan.
Yaa, sedari tadi ternyata dia memasak telur. Dengan cekatan hakyeon meletakkan telur diatas roti, lalu memberi selada lalu menambahkan sedikit saus dan mayonnaise. Selesai, dan kini ia hidangkan untuk sang suami.
"makanlah" ucapnya
Leo melihat sandwich buatan Hakyeon. Tidak terlalu istimewa, seperti sandwich biasanya. Tapi ia cukup menghargai usaha sang istri. Hakyeon pasti bangun pagi pagi sekali, terbukti pada saat dia bangun, sang istri tidak ada disampingnya. Menyiapkan pakaian kerjanya, menyiapkan dasi dan bahkan jam tangannya pun ia pilihkan. Dan sekarang istrinya menyiapkan sarapan untuk dirinya.
Biasanya Leo selalu melewatkan yang namanya sarapan, biasanya dia hanya meminum kopi buatannya sendiri. Ia lebih memilih merepotkan sekretarisnya untuk membawa sarapannya ke kantor. Tapi sepertinya mulai pagi ini dirinya akan makan dan hidup teratur, karena dirinya memiliki istri yang sedikit pemaksa. Ia pikir Hakyeon hanyalah namja manja yang tidak bisa diandalkan jika dalam urusan rumah tangga, tapi Hakyeon melakukan dengan baik tanggung jawabnya. Meskipun tidak sempurna, tapi ia cukup senang dengan usaha hakyeon. Leo menyantap sandwich buatan Hakyeon.
'tidak buruk juga' batin Leo
Hakyeon ikut duduk. Kini mereka berdua berhadapan sama sama menikmati sandwich buatan Hakyeon.
Tidak pernah dirasakan sandwich selezat ini menurut hakyeon. Mungkin karena menikmatinya didekat suami, sehingga apapun yang dimakan terasa nikmat. Apalagi melihat suami begitu menikmati masakan buatannya.
Hakyeon berusaha menahan senyumnya. Ia tak ingin ketauan Leo, bisa malu dirinya jika ketauan.
"kau ke kampus jam berapa?" Tanya Leo usai menelan gigitan sandwichnya
Hakyeon melirik jam didindingnya.
07.20
Mata mendelik lebar dengan mulut yang terisi penuh. Dia meletakkan sisa roti ditangannya dan langsung bergegas berlari kekamar tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
'sial, dia ada mata kuliah pagi ini. Jam 8'
20 menit kemudian.
'aiisshhh matilah kau hakyeon" Hakyeon menggerutu tidak jelas sambil memakai jaketnya, dan sambil menenteng tasnya menuruni tangga. Memakai sepatu lalu bersiap berlari keluar apartemen. Tapi, ia kaget melihat sang suami yang masih berada di apartemen.
"kau belum berangkat?" bertanya dengan wajah lugu
"kau berangkat naik apa?" Leo malah balik bertanya
"aku biasa diantar ahjussi….tapi aku akan naik bus saja"
"kita berangkat bersama"
Hakyeon mengerjapkan matanya. Ia tidak salah dengarkan? Berangkat bersama? itu artinya leo akan mengantarnya bukan?
"cepatlah, kau bisa terlambat"
Hakyeon seketika sadar lalu, berlari megikuti Leo.
Leo hanya ingin membalas apa yang dilakukan oleh Hakyeon pagi ini. itu kata hatinya.
Jalanan lenggang, meskipun terdapat beberapa petugas membersihkan salju di jalan jalan yang tertutup salju. Leo dengan tenang mengemudikan mobilnya. Matanya sesekali melirik namja manis disebelahnya. Sedangkan yang dilirik tampak melihat jam ditangannya sambil menggiti jarinya.
'tenanglah" Leo menncoba menenangkan
"aiisshhh salahkan si Namja ahjumma itu yang memberikan kabar pagi pagi kalau ada mata kuliah jam 8… kenapa dia tidak memberitahu dari kemarin"
"mungkin dia lupa"
"haaah…"
Hakyeon tampak pasrah, ketika mobil berhenti di lampu merah. Mungkin kalo Hakyeon sedang bersama ahjussi Kang, ia akan menyuruh ahjussi untuk menerobos lampu merah jika kondisinya sudah sangat telat seperti ini. Tapi nyatanya, sekarang ia bersama Jung Taekwoon, orang yang hidup dengan disiplin. Tidak akan mungkin melanggar peraturan yang ada.
"errr… apa tidak apa apa kau mengantarku? Apa kau tidak sedang buru buru ke kantor?"
"tidak..aku biasa ke kantor cepat untuk memakan sarapan yang dibawa ravi"
"isssh kasihan sekali ravi…" cibir hakyeon
"tenang saja mulai hari ini dia tidak perlu lagi membawa sarapanku… kan sudah ada kau" balas Leo
Ucapan Leo membuat Hakyeon bersemu merah. Bukankah artinya Leo menerima sarapan yang dia buat. Dan Hakyeon berjanji pada dirinya akan mulai belajar memasak, demi menyenangkan suaminya.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit sampailah mereka di kampus Hakyeon. Bergegas membuka pintu mobil.
"terima kasih sudah mau mengantarku" ucap Hakyeon tulus
Leo hanya membalas dengan senyuman.
Usai Hakyeon menutup pintu, Leo menjalankan mobilnya.
Hakyeon masih menatap kepergian mobil Leo hingga hilang ditikungan. Senyum nya kian mengembang mengingat betapa baiknya hubungan mereka. Ia akan selalu berdoa agar hubungan mereka menjadi lebih baik lagi. Tidak ada salahnya dia berharap pada hubungan mereka. Apalagi melihat respon Leo yang memperlakukannya dengan baik. Dan dia akan terus bersyukur kepada Tuhan, karena diberi kesempatan untuk menikmati apa yang namanya cinta. Yaah, sudah lama dia menantikan ini. Hidup bersama dengan orang yang dicintai.
"apa kau gila hyung?"
Suara itu menyadarkan Hakyeon yang masih tersenyum memandangi objek yang sudah hilang dari tadi.
Ken tadi nya datang untuk mengagetkan temannya ini, tapi dia heran melihat hakyeon yang berdiri dan menatap kearah jalan dengan cengiran tak jelas. Apa hyungnya ini memiliki gangguan kejiwaan setelah menikah?
"ckk.. siapa kau yang bilang gila?" Hakyeon menoleh menatap ken
"tentu saja kau, apa yang kau lihat? Ini masih pagi hyung. Apa kau melihat penampakan?"
"aiissh otakmu" Hakyeon memukul leher ken, hal yang biasa dilakukan kepada orang yang meledeknya "AAHH… pabbo yaa bukankah kau bilang kita ada mata kuliah jam 8? Aiiisshhh ottokhae? Ayoo cepat keniie" Hakyeon mulai panik dan menarik Ken menuju gedung perkuliahan mereka
"hah? Siapa yang mengatakan itu hyung?" balas ken dengan santai
Seketika Hakyeon berhenti.
"apa kau bilang? Kau bertanya siapa yang mengatakan padaku? Bukankah kau yang mengirim pesan seperti itu padaku?"
Ken mengernyitkan dahinya. Perlahan dia mulai melepaskan tangannya dari rangkulan Hakyeon
"err.. angka 8 dan 9 itu bersebelahan hyung.. mungkin…aku…salah…menekaaaannnn….." Ken berlari meninggalkan Hakyeon yang masih mencerna kata kata ken
'angka 8 dan 9 bersebelahan…salah menekan' itu artinya bukan jam 8 tapi jam 9?
"YAAAAKKKK LEE JAEHWAAANNNN…. DASAR KAU DONGSAENG KURANG AJAARRRRRR"
Hakyeon berlari mengejar Ken. Terjadilah pagi yang heboh di koridor gedung dimana keduanya menuntut ilmu. Ckckck
Pulang sekolah Hakyeon, Ken dan Hyuk berkumpul di sebuah caffe yang biasa mereka singgahi ketika jam jam kosong atau ketika pulang kuliah. Jaraknya tak jauh dari universitas tempat mereka belajar. 'Starlight Caffe'.
"ahahahhahaaaa…. Jadi kau memberi hadiah untuk N hyung sebuah Lingeri hyung?" Sanghyuk atau yang biasa dipanggil hyukie, tak bisa menghentikan tawanya mendengar cerita Ken yang memberi hadiah sebuah Lingeri kepada Hakyeon. Dan itu berhasil membuat hakyeon murka. Ken sukses menghancurkan siang Hakyeon dengan segala tingkah menyebalkannya.
"DIAM KAU HYUKIE… kau mau semua orang jadi memperhatikan kita" Hakyeon jadi kesal dengan mereka berdua
"ahahahah… jadi apakah kau sudah menggunakan lingeri itu hyung? Untuk memancing suamimu?"
"YAAKKK…" Hakyeon benar benar murka dan memukul kepala kedua dongsaengnya ini.
"dia belum menceritakan malam pertamanya hyuk ah… mungkin dia malu…" ucap ken menggoda
Ingatkan Hakyeon untuk meracuni makanan mereka jika ada kesempatan.
"sudah aku katakan… kami sepakat untuk menjalani pernikahan ini dengan pelan pelan.." ucap Hakyeon membela diri "…err… lagi pula mana mau aku melakukannya jika dia belum mencintaiku…"
"aiisshh hyung pabbo… bukankah kau mencintainya sudah lama hyung? Mungkin saja setelah melakukannya dia akan mencintaimu hyung…" Ken memulai memberi saran.
"benar hyung… sungguh bodoh mr jung itu jika dia menolak namja hitam seksi seperti dirimu.." Hyuk ikut menambahi
"YAAKKK…" Hakyeon kembali berteriak, berhasil mengalihkan perhatian pengunjung café . dia tidak terima jika temannya mengatakannya hitam. Ayolaahhh dia bukan hitam, tapi coklat aahh light beige lebih tepatnya.
Hyuk dan ken saling berhigh five karena berhasil menggoda temannya mereka ini.
"sudahlah, jangan membahas itu lagi… lagi pula Leo tidak memperlakukanku dengan buruk. Sejauh ini sikapnya sungguh baik. Dia tidak mengabaikanku seperti yang aku takutkan selama ini. Semoga saja akan tetap seperti itu"
"ya semoga saja.. kaarena jika dia sampai menyakitimu, dia akan berhadapan denganku hyung…"
"denganku juga" Hyuk ikut menimpali, dan mereka saling beradu tangan seolah olah menjadi sekutu untuk membela hakyeon
Hakyeon sungguh terharu melihat tingkah kedua sahabatnya ini. Sungguh beruntung dirinya memiliki sahabat seperti mereka.
Pukul 18.00 Leo telah menyelesaikan pekerjaan kantornya. Saatnya dia pulang, melepaskan penat seharian menghadapi beberapa document yang kurang dari seminggu ia tinggalkan. Meskipun ada ravi, tetap saja dia harus mengecek ulang pekerjaan yang telah dikerjakan sekretarisnya itu.
Tepat pukul 7 malam Leo sampai di apartemennya. Biasanya dia akan langsung masuk ke dalam apartemennya, tinggal menekan password lalu pintu akan terbuka. Tapi hari ini tidak, meskipun password apartemennya masih sama, dia lebih mengutamakan kesopanan dan menghargai orang yang tinggal bersamanya. Dia memilih menekan bel, dan menunggu sang istri membuka pintu.
Tidak sampai menunggu bermenit menit, pintu sudah dibuka. Namja manis yang menggunakan piyama bermotif penguin menyambut kepulangannya.
"kau sudah pulang…" Hakyeon mengambil alih tas kerja Leo
Leo hanya menganggukkan kepalanya.
"mandilah dulu, air hangatnya sudah aku sediakan, aku sedang menyiapkan makan malam"
Sungguh tenang sekali hidupnya sekarang. Segala sesuatu yang diperlukannya telah disediakan oleh namja manis yang berstatus istrinya ini. Kurang apa lagi?
Hakyeon melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan malam. Tinggal menghidangkan diatas meja lalu menunggu sang suami selesai mandi.
Hakyeon begitu semangat menjalani kesehariannya sekarang. Tak apa jika kini pekerjaannya bertambah, semua dilakukannya dengan tulus. Tulus mengabdi untuk sang suami.
Tiiing…Tiiing
Suara bel berbunyi, hakyeon bergegas menuju pintu. Mungkin itu orang yang dihubunginya. Dengan cepat Hakyeon menuju pintu.
Leo telah menyelesaikan mandinya. Kini dirinya bergegas mengenakan pakaian yang sudah disediakan istrinya. Piyama bermotif sama dengan istrinya.
'haah..'
Leo hanya bisa menarik nafas, lagi lagi dirinya tidur mengenakan piyama. Piyama yang sama dengan sang istri.
Dirinya beralih kecermin dan melihat pantulannya dirinya. Hilang sudah imej coolnya mengenakan piyama ini. Tapi sudahlah, toh tidak ada yang akan melihat dia bukan.
Puas memandangi dirinya, matanya beralih menatap sesuatu di meja rias. Mendekat, lalu mengambil benda tsb. Botol obat, berwarna putih polos, tidak ada label apapun. Dahinya mengernyit, dan membuka botol tersebut. Kosong, isinya sudah habis. Dia merasa tidak pernah memiliki botol obat seperti ini. Mungkinkah punya Hakyeon?
Dia membawa botol tersebut dan menuju ruangan dimana sang istri telah menunggu. Dia akan menanyakan obat apa ini.
Langkahnya berubah pelan, ketika mendengar suara orang lain diapartemen ini. Suara Taemin, adik Hakyeon. Dia lebih memilih diam, dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.
"hyung, ingat jangan lupa lagi dengan obatmu…kau bisa menghubungiku kapan saja untuk mengantar obatmu…"
"aiiisshhh iyaa iyaaa…. Kau sudah puluhan kali mengatakannya… sudahlah lebih baik kau pulang sana.. aku tau Minho si namja kodok itu pasti sudah lama menunggumu dibawah"
"yaakkk… biarkan saja dia menunggu… siapa suruh dia tidak mau ikut" ucap Taemin, yang tampaknya kesal dengan sang namja chingunya. Taemin melihat sosok suami sang hyung berdiri tidak jauh dari mereka
"aahh Leo hyung… apa kabar…" Taemin menyapa Leo, dan dibalas Leo dengan senyum sopan
"kenapa kau tidak masuk taemin ah?" Tanya Leo
"istri bodohmu ini tidak menyuruhku masuk hyung" taemin menunjuk Hakyeon tanpa merasa bersalah, dan dibalas delikan kesal oleh hakyeon. Kenapa orang orang senang sekali menguji kesabarannya.
"ah sudahlah hyung, aku mau pulang saja… eomma menitip salam untukmu hyung… dan sabar sabarlah menghadapi hyung bodohku ini… dan..err… kalian terlihat seperti pasangan yang serasi sekali dengan piyama couple itu…hahahha"
Hakyeon sudah akan menendang bokong adiknya itu, kalau saja sang adiknya tidak segera lari. Dirinya sudah habis digoda seharian oleh orang orang yang ditemuinya. Ingatkan dia untuk tetap menjadi namja manis yang penyabar.
"hahaah…" Leo tidak tahan untuk terkekeh melihat wajah menggemaskan sang istri.
"kenapa kau tertawa?" Hakyeon berucap dengan nada sedikit sebal, lihatlah suaminya itu ikutan menjadi menyebalkan.
Leo seketika menghentikan tawanya.
"ehemm… tidak ada…" Leo beralih berjalan menuju meja makan yang sudah terhidang masakan sang istri. Istrinyakah yang memasak?
Hakyeon mengikuti sang suami. Duduk dikursi yang dia duduki pagi tadi.
"kau memasak ini?" Tanya Leo , sedikit tidak percaya karena diatas meja terhidang jokbal dan bossam, makan malam yang berat menurut Leo. Tapi tak apalah, perutnya juga terasa lapar karena seharian berkutat dengan document document dikantor.
"hmmm… cobalah" hakyeon mengambil mangkuk Leo dan mengisinya dengan nasi
"tidak buruk" ucap Leo, setelah memasukkan potongan daging ke mulutnya. Leo jujur, masakan sang istri tidak buruk juga. Meskipun rasanya tidak selezat jika dia yang memasak.
"benarkah? Aku mencari resepnya di inertnet…hehehe" Hakyeon berkata jujur. Memang semenjak dirinya berjanji untuk belajar masak, maka dirinya sejak sore browsing mencari menu makan malam untuk dimasaknya. Hakyeon merasa beruntung, sang suami menyukai masakannya.
"hmm…" Leo menyantap makannya lagi dengan nasi yang dihidangkan.
Hakyeon begitu takjub dengan selera makan sang suami. Lihatlah makanan dimeja habis sudah. Dirinya hanya makan seperlima nya saja, sisanya suaminyalah yang makan. Tidak, hakyeon tidak marah. Dirinya justru senang masakannya dihabiskan. Itu membuatnya semakin bersemangat untuk belajar memasak.
"haaaahhhhh…." Tegukan terakhir, Leo merasa puas. Perutnya terasa penuh. Salahkan masakan sang istri yang begitu menggoda. Bilang saja kalau kau suka, hei Mr. Jung.
Tiba-tiba leo teringat botol obat yang ada di saku piyamanya. Ia berniat menanyakannya tadi. Begitu juga dengan kedatangan taemin kesini tadi, juga soal obat.
"Hakyeon ah…" Leo memanggil Hakyeon yang masih menghabiskan makannya
"yaa…" balas Hakyeon
"ada apa taemin kemari?"
"err… itu dia hanya mengantar barangku yang tertinggal dirumah. Aku menyuruhnya tadi" balas hakyeon dan melanjutkan makannya. Hakyeon tampak buru buru mengunyah makanannya. Dia ingin menyelesaikan makannya secepatnya.
"barang? Obat maksudmu?" Leo mengeluarkan botol obat yang ditemukannya di kamar tadi.
Hakyeon terlihat kelabakan dan merogoh sakunya, ada. 'Dari mana leo menemukannya' batin hakyeon.
"aku menemukannya dikamar" seolah menjawab Hakyeon "obat apa ini?" Tanya Leo lagi
Hakyeon menenangkan dirinya dan menjawab dengan sesantai mungkin
"bukan obat apa apa, hanya obat demam biasa. Kau tau cuaca mulai sangat dingin. Dan aku tidak tahan dengan cuaca dingin… obatku sudah habis, jadi aku meminta taemin mengantarnya"
Leo mengingat dimana hakyeon tidak nyaman tidur dengan pendingin ruangan yang terlampau dingin. Leo mempercayai ucapan Hakyeon.
"hmmm… kalau begitu jangan lupa minum obatmu, kalau ada apa apa kau bisa meminta bantuanku"
"yaa.." Hakyeon sedikit lega. Dia tidak mau Leo berpikir yang tidak tidak.
"dan terima kasih untuk makan malam yang lezat ini" Leo mengucapnya dengan tulus. Bukankah sudah seharusnya begitu?
Hakyeon tidak tau harus membalas apa, hanya bisa tersenyum lebar mendengar ucapan terima kasih dari suaminya. Rasa kesal sedari pagi akibat teman temannya yang menyebalkan, dan adiknya yang menggodanya hilang sudah hanya dengan ucapan mengahargai dari sang suami. Hakyeon berani bersumpah, jika semua sikap menyebalkan yang ia dapatkan akan dibalas dengan kemanisan seperti ini, dia rela jika besok besok temannya menjadi lebih menyebalkan dari hari ini.
*****TBC*****
Terima kasih untuk yang review *bow*
Maaf untuk typo yang mengganggu..
Kalau review banyak, jadi semangat ngetik chap 4 + special gift (seputar vixx di weekly idol)
