Salam jumpa kembali di Chapter 4 ! Semoga chapter kemarin tidak mengecewakan dan chapter ini bisa lebih memuaskan. Terimakasih buat yang sudah meluangkan waktu untuk meReview, Fave dan Follow. Tanpa dukungan kalian semua saya cuma butiran debu hehehe.
Maaf kalau tiap chapternya pendek, karena semakin panjang semakin lama updatenya dan saya sedang berusaha mengalahkan WB yang menyiksa, jadi berapapun hasilnya saya update saja... Juga terimakasih banyak buat 'manajer penagihan' yang menambah semangat buat mempercepat update hehehe... Tidak banyak cakap lagi, monggo dinikmati kelanjutan ceritanya...
** catatan : Anggap saja Mpreg sudah biasa di didunia ini, GoM sekolah di Teiko dari SMP hingga SMA (saya suka seragam putih biru hitamnya) dan Kagami juga masuk ke Teiko saat SMA.
#
#
#
Gelisah, Cemas dan Resah...
Ketiga perasaan itu entah kenapa muncul di dalam hati dan rasanya sangat mengganggu bagi Akashi Seijuuro, dia sangat mengkhawatirkan kondisi sang terkasih. Padahal mereka baru saja berpisah selama beberapa jam, meski berada di lingkungan sekolah yang aman, tidak lantas membuat hatinya tenang. Ingin sekali rasanya segera mengakhiri pelajaran dengan paksa dan berlari menuju kelas Kuroko Tetsuya.
Seorang Akashi tidak pernah salah karena mereka selalu menang. Bagi Seijuuro, firasat dan prediksinya selalu tepat. Jika saat ini perasaanya tidak tenang, pasti sang kekasih sedang dalam kondisi tidak baik. Meski tampak serius memperhatikan penjelasan guru, namun saat ini otak jeniusnya tengah sibuk memikirkan hal diluar pelajaran. Memikirkan bagaimana cara tercepat menemui Tetsuya tersayang. Karena saat istirahat lorong sekolah akan sangat ramai, dia berada di kelas 2-A letaknya cukup jauh dari kelas Kuroko di 2-F, butuh waktu untuk sampai kesana. Belum lagi tuntutan tugas sebagai ketua OSIS mengharuskanya untuk mengumpulkan proposal kegiatan siswa ke ruang guru saat istirahat nanti, sungguh hambatan besar.
Tiap detik berlalu sangat lambat, aura mencekam mulai keluar dari tubuh dan mata dwi warna menatap tajam pada punggung guru yang masih asyik mengajar, membuat guru malang tersebut merinding dan berkeringat dingin. Akhirnya beliau memilih untuk mengakhiri pelajaran, memberikan tugas daripada harus berlama-lama di dalam kelas yang berasa horor.
Akashi dengan sangat cepat menyelesaikan tugas yang diberikan, tinggal menunggu siswa lain mengerjakan dengan penuh kerja keras, namun itu membuat moodnya bertambah buruk dan dia terus mengeluarkan aura membunuh yang tentu saja membuat teman-teman sekelasnya tidak bisa konsentrasi, soal yang sebenarnya cukup mudah butuh waktu lama untuk dikerjakan, Akashi semakin tidak sabar dan suasana ruangan semakin mencekam.
Beruntung Midorima Shintarou maju menyelamatkan, mengingat posisinya sebagai wakil ketua yang juga merasa tidak nyaman dengan suasana kelas, dia bersedia menggantikan Akashi mengumpulkan tugas juga proposal OSIS. Bahkan memberikan lucky item harian untuknya juga untuk Kuroko ; sebungkus tisu basah dan mouthwash beraroma Vanilla. Pemilik rambut merah langsung melesat keluar pintu, diiringi helaan nafas penuh kelegaan dari seisi kelas.
'Baby Accident'
AkaKuro fanfiction
By. AuRi
Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi
Chapter 4. Usaha II
Meski terburu-buru, seorang Akashi Seijuuro tetaplah murid teladan yang patuh pada peraturan, untuk tidak berlari di lorong sekolah. Memilih berjalan cepat dengan langkah lebar, aura Raja menguar membuat orang-orang menyingkir dari hadapannya memberi jalan. Sampai di kelas 2-F tidak nampak sosok sang terkasih, sepasang alis merah mengerenyit berusaha menajamkan pandangan bila saja hawa keberadaan Tetsuya yang tipis membuatnya tidak terlihat, tapi hasilnya nihil, dia tetap tidak dapat menemukan sosok biru muda itu. Kakinya kembali melangkah cepat menyusuri lorong sekolah, hingga dia menemukan kerumunan siswa dan tiba-tiba radar Kurokonya bergetar.
Memberikan sedikit dorongan pada punggung salah satu siswa, sukses membuat kerumunan itu terbelah, memberinya akses akan pemandangan yang terjadi di tengah-tengah. Sepasang mata dwi warna terbelalak melihat sosok pucat Kuroko Tetsuya merosot di lantai, sambil menutupi mulut dengan kedua tangan. Sementara Aomine Daiki tampak panik sendiri, kebingungan dengan baju kotor terkena muntahan.
Tubuhnya otomatis bereaksi, maju mendekap pundak sang terkasih yang nampak siap oleng kapan saja. "Masih ingin muntah Tetsuya?" sebuah anggukan lemah sebagai jawaban dan kedua lengannya langsung mengangkat tubuh si biru muda dalam bopongan bridal style.
"Tahan sebentar ya, aku akan membawamu ke ruang kesehatan." masih dengan dua tangan didepan mulut, Kuroko membenamkan kepala ke dada sang calon ayah muda yang tampak memberikan death glare pada pemuda berkulit gelap di hadapannya.
Aomine langsung merinding disko, membayangkan hukuman yang akan diterima, "A... Akashi, aku tidak berbuat apapun pada Tetsu lho, di... dia yang tiba-tiba muntah." ucapnya terbata.
Namun sang kapten cuma menatapnya sekilas tanpa berkata apa-apa, sebelum beranjak membawa pergi Kuroko dalam gendongan erat meninggalkan si hitam berdiri sendiri meratapi nasib buruknya, "Kalau begini tinggal aku yang ingin muntah, ugh ... sialnya nasibku." gerutunya.
.
.
Beruntung Ruang Kesehatan tidak begitu jauh, namun tempat itu kosong, dokter yang biasa berjaga tidak nampak dimanapun. Akashi membawa Kuroko menuju toilet yang ada di dalam ruangan, dengan setia memegangi tubuh kurus sang kekasih saat mengeluarkan isi perutnya. Lucky Item pemberian Midorima ternyata sangat berguna, mouthwash menghilangkan rasa getir di mulut, aroma vanillanya yang tajam sukses menghilangkan rasa mual. Akashi memastikan akan mengirim parcel cantik ke rumah sang penggemar Oha-Asa itu, karena jasa bantuannya sangat besar hari ini.
Kuroko kembali dibopong menuju salah satu ranjang. Jaket, dasi, sepatu, bahkan sampai sabuk celana sekolah dilepas sebelum tubuhnya dibaringkan. Sang phantom tidak punya tenaga untuk protes atas perlakuan yang diberikan karena sangat lemas terlalu banyak muntah, dia cuma bisa memejamkan mata saat Akashi mulai mengelap wajahnya yang sembab penuh keringat dengan tisu basah, membuat Kuroko sedikit merasa segar.
"Apa masih mual?" elusan lembut terasa di perut, Kuroko cuma bisa menggeleng lemah, "Pasti sekarang perutmu kosong, kau harus makan sesuatu untuk mengisi perut," imbuh si rambut merah lagi.
Sepasang alis biru muda mengkerut, suara serak terdengar lirih namun tegas. "Aku tidak mau muntah lagi Seijuuro-kun ... aku tidak mau makan."
Akashi tersenyum, menyisir rambut biru muda berantakan dengan jarinya yang panjang lalu mencium kening dan pipi Kuroko lembut. "Akan kucarikan makanan yang tidak membuatmu mual, kalau kau tidak makan bisa sakit nanti."
"Tidak mau ... pokoknya Seijuuro-kun tidak boleh kemana-mana, disini saja temani aku sampai jam istirahat selesai." bantah si biru muda keras kepala, cemberut memajukan bibir beberapa senti matanya mulai berkaca-kaca. Sungguh suatu keajaiban sangat langka, bisa melihat ekspresi merajuk menggemaskan di wajah Kuroko Tetsuya yang biasanya sedatar triplek. Keajaiban yang hanya bisa dilihat oleh Akashi seorang, memang sang phantom selalu bisa mengejutkan dan melebihi ekspektasinya, hal itulah yang membuat sang kapten semakin cinta.
"Kau ini memang paling pintar membuat alasan ya," jawab Akashi gemas dan gerah, jiwa mudan yang bergairah membuatnya mulai mendekatkan wajah. Melihat gelagat itu Kuroko kembali menutupi mulutnya dengan tangan. "Dilarang berciuman, aku baru saja muntah dan mulutku rasanya tidak enak."
Tapi bukan Akashi namanya kalau menyerah begitu saja, dia tidak kehabisan akal menghadapi penolakan sang kekasih, tangan kirinya langsung mencengkeram pergelangan tangan Kuroko sementara tangan kanan bergerak kebawah menggelitik bagian pinggang si biru muda yang memang sangat sensitif, memberinya gelitikan ringan namun langsung membuat Kuroko tersentak lalu menggeliat kegelian dan moment itu langsung dimanfaatkan sang kapten untuk menyerang.
"Ukh...Hmpff.."
.
.
Momoi Satsuki, gadis cantik berambut merah muda panjang mempesona. Manajer tim basket TEIKO sejak masih berada di SMP, memiliki kemampuan handal untuk mendapatkan segala informasi yang berkaitan dengan para pemain basket lawan maupun kawan. Menjadi satu-satunya gadis dalam tim pemain berbakat Generation of Miracle, yang juga terkenal akan pesona ketampanan para anggotanya, membuat orang lain memandang iri pada Momoi akan perannya yang seolah menjadi heroine dalam film bertema reverse harem* atau sebagai tokoh utama dalam otome* game yang diperebutkan para tokoh lelaki.
Namun bagi Momoi Satsuki semua pandangan itu tidak benar, karena baginya sang heroine dan tokoh utama dalam kelompok mereka adalah Kuroko Tetsuya, pemuda imut tanpa pemanis buatan yang pola perilakunya bahkan tidak bisa Momoi prediksi, meski dia sudah mengumpulkan banyak data dan foto-foto lengkap tentang pemain bayangan itu, jangan tuduh Momoi sebagai stalker, dia sudah lama lulus dari pekerjaan itu, sekarang Momoi hanyalah seorang fansgirl yang haus akan asupan.
Menurut pendapat Momoi Satsuki, Kuroko Tetsuya adalah pribadi unik yang menawan, semakin dikenal semakin membuat penasaran. Tidak heran banyak orang yang kesengsem pada pemuda berambut biru muda itu, termasuk Momoi sendiri yang sangat memuja dan pernah berharap bisa menjadi pacar sang phantom, bisa jatuh cinta hanya karena sebatang stik bekas es loli berhadiah yang sampai sekarang masih disimpan sebagai jimat keberuntungan.
Namun sang manajer sudah lama menyadari bahwa hati Kuroko cuma untuk Akashi seorang, hanya sifat keras kepala serta keunikan sang phantom yang mampu mengalahkan absolutisme Kaisar gunting berdarah. Kuroko Tetsuya seorang yang bisa menggerakan hati, juga menemukan celah rapuh dibalik kokoh dinding pertahanan Akashi Seijuuro, mereka berdua saling melengkapi.
Menjadi saksi liku perjalanan panjang pasangan AkaKuro hingga bisa menjadi kekasih seperti saat ini membuatnya menjadi fans nomor satu, tapi tetap saja melihat kemesraan mereka membuat Momoi tidak kuat diri, khayalannya meliar saat mengetahui keduanya akan mendapatkan bayi. Fakta yang merangsang imajinasi, menyebabkan otak panas dan mimisan akut, sungguh merepotkan karena Momoi butuh banyak tranfusi darah.
Sebuah tepukan ringan di bahu, memecahkan lamunan sang gadis merah muda yang sedang asik bertopang dagu di mejanya, "Momoi-chan! Hayo! ... Kenapa kau melamun?" sapa Miki Arai teman sekelas.
Segera Momoi menggelengkan kepala sambil menjawab riang. "Uhm ... tidak apa-apa kok! ayo kita ke kantin Mii-chan, perutku lapar."
Mata Momoi otomatis melirik ke bangku bagian pojok belakang saat hendak melewati pintu kelas, mencari keberadaan sang sahabat kecil Aomine Daiki 'Aneh, biasanya Dai-chan masih tertidur di mejanya jika tidak ku bangunkan, kemana dia ya?' pikirnya keheranan melihat bangku itu kosong.
Momoi berjalan di sepanjang lorong yang ramai sambil mengobrol seru, hingga mereka terhenti ketika mendapati beberapa siswa berkerumun dengan sosok Aomine Daiki di tengahnya, "Dai-chan! Ada apa ini? Apa yang terjadi?" teriak Momoi seraya menghampiri.
Aomine membalikan badan dan langsung menggerutu, mengadu pada sobat kecilnya itu, "Haaah ..., Satsuki ... hari ini aku sungguh sial, Tetsu muntah di bajuku dan Akashi memberiku tatapan seolah ingin memutilasi, ukh ... apa setelah ini aku masih bisa selamat?" seketika wajah berkulit gelap itu terlihat pucat, dua tangan besarnya mencengkeram pundak si rambut merah muda, "Sa ... Satsuki, kalau sampai besok pagi aku tidak muncul di sekolah, jangan ragu ya laporkan ke polisi! Kau tahu siapa pelakunya jika sampai aku mati! dan tolong kuburkan mayatku dengan layak ... "
Momoi spontan menghindar mundur beberapa langkah, meski Aomine sudah seperti saudara, baju pemuda itu kotor terkena muntahan yang terlihat lebih seperti tumpahan bubur bayi, karena hanya terdiri dari susu dan roti, tapi kombinasi tambahan cairan lambung tentu membuatnya berbau tidak sedap. "Ukh ... Dai-chan, kurasa kau berlebihan, tolong jangan dekat-dekat ya, tubuhmu bau!"
Kedua mata Aomine terbelalak, dia mengacak-acak rambutnya kesal dengan kedua tangan. "AAAARRRRGGHHH! SIAAAL! KENAPA INI TERJADI PADAKU SIH!?"
Menyadari Aomine mulai menggila, Momoi mundur teratur. Tidak mau direpotkan oleh ulah sang sahabat, dia memilih pergi mencari pasangan AkaKuro di ruang kesehatan, berpisah arah dengan teman sekelasnya yang melanjutkan perjalanan ke kantin sekolah.
Berjalan cepat menuju ruang kesehatan, Momoi merasa dadanya berdegup kencang. Mungkin karena rasa khawatirnya akan kondisi sang phantom idola, dia bahkan tidak menyadari bahwa degupan itu terjadi lebih karena payudara berukuran jumbonya memantul ke-kanan dan kiri seiring langkah cepatnya, membuat para siswa terpana menatapnya hingga mereka kehilangan konsentrasi, sungguh pesona yang luar biasa.
Sampai di depan sebuah pintu putih bertuliskan 'RUANG KESEHATAN', Momoi menghela nafas panjang sebelum tangannya terjulur untuk membuka pintu geser tersebut, "Permisi ... apa Tetsu-kun ada di dalam?" ucapnya pelan sambil melangkah memasuki ruangan dan mata gadis itu langsung terbelalak lebar, wajahnya seketika merona parah melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
Berada di atas salah satu ranjang perawatan, sang idola bersama kekasihnya tengah asyik bercumbu mesra, si merah di atas, si biru di bawah, tubuh bertumpukan dan bibir saling bertaut menyanyikan lenguhan merdu mendayu.
Momoi meremas bagian depan seragam, jantungnya berdetak sangat cepat dan nafasnya terasa tercekat menahan emosi yang meluap. Melihat interaksi langsung, pemandangan live pairing yang paling dicintai sungguh tidak bagus untuk kesehatan jantung seorang fansgirl. Seluruh aliran darah terasa naik ke ubun-ubun hingga menyebabkan wajah gadis itu merah padam.
GUBRAK! sang gadis langsung pingsan, tubuhnya berdebam jatuh kelantai.
Suara keras itu membuat pergumulan sepasang kekasih di atas ranjang spontan terhenti karena kaget, mereka segera memisahkan diri. Akashi Seijuuro melompat turun, secepat kilat merapihkan penampilannya sementara Kuroko Tetsuya langsung terduduk di ranjang dengan wajah merah terengah, menahan malu dan rasa was-was.
Pemandangan yang sangat mengejutkan keduanya, saat mendapati sosok gadis cantik berambut merah muda terkapar tidak sadarkan diri di lantai dengan darah mengalir deras dari kedua lubang hidungnya.
"Seijuuro-kun... mulai saat ini dilarang mencium di lingkungan sekolah!" si pemilik surai biru muda berujar kesal, beranjak turun dari ranjang berniat menolong.
Akashi menghela nafas panjang tidak membantah karena merasa sudah berbuat ceroboh, langsung dia maju mencegah kekasihnya. "Kau berbaring saja Tetsuya, biar aku yang mengurusnya." dalam hati dia merasa kasihan pada sang manajer yang lagi-lagi harus pingsan dan mimisan, "Sepertinya Momoi memang tidak bisa menjalankan misi, sayang sekali tiga orang sudah gagal," gumamnya pelan agar tidak terdengar oleh Kuroko.
"Seijuuro-kun bilang apa?"
"Tidak apa-apa kok, kau tidak usah khawatir Momoi mimisan sudah biasa kan," jawabnya sambil berjalan menghampiri sang manajer, berniat mengangkatnya ke salah satu ranjang perawatan.
.
.
.
Keributan yang terjadi di lorong sekolah segera saja menjadi viral, yang menyebar melalui pesan singkat, aplikasi pengirim pesan, maupun langsung dari mulut-kemulut. Tidak heran jika seorang Kise Ryouta menjadi begitu heboh mendengarnya. Pemuda berambut kuning itu langsung melesat pergi sambil melemparkan ciuman jarak jauh kepada para fans yang sejak tadi mengerumuni, terlihat jelas pancaran cinta penuh kekaguman dari mata mereka, seolah menerima ciuman panas yang sesungguhnya. Para fans itulah yang memberinya sumber berita dan gosip terbaru, tidak perduli apakah berita yang disampaikan benar faktanya, mereka berlomba memberi cerita paling menarik dan seru demi mencari perhatian sang idola.
Berbeda dengan Akashi dan Momoi, Kise tidak begitu perduli pada peraturan sekolah dan berlari kencang di sepanjang lorong, tujuannya satu, menuju gerbang sekolah untuk memanggil Taxi. Kise harus segera menyelamatkan sang phantom pujaan sebelum dia terancam bahaya, "Kurokocchi, bertahanlah-ssu! Aku akan menyelamatkanmu dari racun Aominecchi dan hipnotis Akashicchi !" teriaknya lantang.
Kise Ryouta merasa sangat cemas, sebab salah satu fansnya mengatakan bahwa ; "Ada seorang siswa berambut biru muda dan bertubuh mungil, muntah hebat begitu bertabrakan dengan Aomine Daiki salah satu Ace tim basket, malangnya lagi dia langsung pingsan begitu Akashi Seijuuro sang kapten mendekat dan menatapnya tajam. Kemungkinan besar siswa itu bertubuh sangat lemah yang tidak sanggup berhadapan langsung dengan para anggota GoM dan sekarang dia dilarikan ke rumah sakit."
Sungguh berita salah kaprah yang menyesatkan, namun sayangnya seorang Kise Ryouta sangat percaya tanpa berpikir panjang.
Si rambut kuning berlari sangat kencang hingga tidak memperdulikan situasi sekeliling, beberapa orang yang sudah menjadi korban tabrak lari cuma bisa berteriak protes, karena sang copycat sudah berlalu menjauh. Sampai di sebuah lorong dia kembali menubruk, hanya saja kali ini calon korbannya memiliki reflek yang bagus dan bisa langsung menghindar, malah membuat Kise hilang keseimbangan dan jatuh terduduk.
"ADUH!"
"EH!? AOMINE-CCHI!" teriak si rambut kuning memekakan telinga, begitu menyadari sosok di hadapannya, "Dasar kau ini jahat-ssu! Beraninya mengganggu Kurokocchi sampai muntah-muntah masuk rumah sakit! Apa kau meracuninya hah!? Tega sekali perbuatanmu itu! Hanya karena Kurokocchi punya cahaya baru-ssu! Sungguh tidak beradab!" tuding Kise penuh emosi, buru-buru dia bangkit untuk menunjuk-nunjuk muka si kulit gelap.
"Haah!? Rumah Sakit? Apa yang kau bicarakan sih? dasar tolol sialan!"
"Tolol!? Kau yang idiot dasar kulit dakian! Tidak usah pura-pura, mengaku sajalah atas semua dosamu! dasar daki beracun-ssu! Wajahmu itu sudah menunjukan kau pela... UHKK!" belum selesai Kise berkoar kerah bajunya sudah ditarik paksa, membuat si rambut kuning tercekik.
"Dasar berisik! Idiot sepertimu mana tahu kejadian sesungguhnya!" geram Aomine mengeratkan tarikan tangannya di kerah, Kise meronta berusaha melepaskan diri "KHH! LEPASHHHK! DASRR BAUU!"
Aomine bertambah kesal mendengar kata 'bau' sudah sangat mengusiknya dari tadi, namun tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala, dengan seringai lebar dia menyeret Kise yang masih terus meronta menuju toilet terdekat. Siswa-siswi lain yang melihat tidak bisa berbuat banyak, mereka enggan melerai dua orang tukang ribut yang sudah biasa berkelahi itu, karena biasanya hanya anggota GoM lain yang punya kemampuan mendamaikan keduanya.
Begitu melihat Aomine Daiki masuk sambil menyeret Kise Ryouta yang tampak tercekik, seisi toilet laki-laki langsung berhambur keluar. Memilih menjauh dari perkelahian sengit yang mungkin terjadi, mereka tidak mau menjadi korban pukulan nyasar mengingat toilet itu cukup sempit. Aomine mendorong Kise hingga dia terhuyung menabrak pintu salah satu bilik yang tertutup, menimbulkan suara berdebum keras, siswa diluar merasa ngeri mendengarnya, membayangkan adu jotos berdarah-darah. Bahkan salah satu dari mereka pergi mencari bantuan guru agar bisa melerai perkelahian.
Tapi sebenarnya bayangan para siswa itu salah besar, karena yang terjadi di dalam bukanlah adegan laga melainkan adegan ambigu yang akan mengundang kesalah pahaman.
"Adu ... duh, punggungku ..." keluh Kise sambil membungkuk menahan nyeri, karena pegangan pintu yang terbuat dari besi menusuk punggungnya, "Sialan kau Aominecchi! Akan kubala ... eh!?" ucapan pemuda berambut kuning itu terhenti, matanya terbelalak kaget saat melihat apa yang tengah lawannya lakukan saat ini.
Aomine membuka seragamnya, mulai dari sweater luar yang dia lemparkan ke atas jajaran washtafel, "Cih sial sekali hari ini! HWEH! Payah! bajuku benar-benar bau sampai kedalam!"
Kise cuma bisa diam membatu saat si kulit gelap mulai membuka kancing kemejanya sambil bicara, "Aku tidak mengerti apa yang kau maksud dengan rumah sakit tolol! Tadi itu aku hendak menjalankan misi dari Akashi, tapi Tetsu malah muntah di bajuku. Kurasa sekarang dia dibawa ke ruang kesehatan, bukan ke rumah sakit."
Tubuh berkulit sawo matang, bidang dan atletis terpampang jelas, entah kenapa Kise tidak bisa mengalihkan pandangannya. Hingga dia menyadari seringai lebar yang muncul diwajah sang Ace, membuat si rambut kuning jadi merinding dan perasaanya tidak enak. Spontan tubuhnya mundur dengan punggung kembali menempel ke pintu, bagian pegangan kembali menusuk punggung, Kise meringis nyeri, "Awh, Aduh! A ... pa yang mau kau lakukan Aominecchi?" cicitnya gugup saat Aomine berjalan mendekat.
"Lepas bajumu Kise."
"A ... APA!?"
"Kubilang lepas bajumu dan berikan padaku!"
"Ti ... Tidak! jangan-ssu ..."
"Sudah cepat lepaskan!"
"GYAAAAAAAAAA!"
Teriakan 'agak' manly, terdengar melengking menggema di sepanjang lorong. Para siswa berkerumun di depan pintu toilet, merasa iba dan khawatir akan keselamatan sang model, tapi tidak ada yang berani masuk untuk menolong, hingga seorang guru datang tergopoh-gopoh. Saat itulah semuanya menjadi saksi mata perbuatan tidak pantas yang terjadi di dalam, peristiwa itu langsung menjadi sumber gosip baru terpanas di SMU TEIKO, moment mencengangkan saat Aomine Daiki menindih, mencoba menelanjangi Kise Ryouta di dalam toilet.
Beruntung guru datang, Kise masih bisa mempertahankan seragam di tubuh meski hampir semua kancing kemeja copot dan sweaternya melar acak-acakan. Sementara Aomine mendapat sanksi hukuman dari sang guru karena sudah berbuat onar, tapi paling tidak dia mendapatkan baju ganti yang diinginkan.
.
Meski merasa sakit dan trauma akan peristiwa yang baru saja dialami, tetapi Kise masih ingat akan tujuan mulianya untuk menyelamatkan sang pujaan, berjalan lunglai dengan penampilan berantakan menuju ruang kesehatan. Senyum mengembang di wajah saat melihat pintu putih tempat tujuan, semangat sang model mulai pulih.
BRAK!
"Kurokoocchiiii Aku datang menyelamatkanmu!" suara debum keras disusul teriakan terdengar saat pintu ruang kesehatan dibuka paksa.
"HWAAA! PEMBUNUHAN!" Kise Ryota berteriak makin keras ketika melihat Akashi Seijuuro membersihkan genangan darah di lantai dengan kain pel yang digerakkan menggunakan kaki, persis seperti pelaku kriminal yang sedang memusnahkan barang bukti di TKP. Tubuh sang model gemetar hebat saat sepasang manik dwi warna menatap tajam, Kise belum siap menjadi korban selanjutnya.
"Bukan pembunuhan Kise-kun, itu darah mimisannya Momoi-san," sebuah suara bernada datar terdengar dari atas salah satu ranjang, meski kaget mendengar suara dari tempat yang tadi dikira kosong, Kise langsung menghela nafas lega bisa selamat dari pembunuhan sadis.
"Ukh ... maaf Akashicchi ... aku salah paham-ssu," ujar sang model gemetar, memilih untuk tetap berdiri diam di ambang pintu sampai Akashi menyelesaikan pekerjaanya.
"Ryouta, kau jaga Tetsuya dan Momoi disini, aku keluar sebentar." ujar sang kapten sambil mencuci tangan setelah memasukan kain pel ke dalam tempat sampah.
"Ba ... baiklah, serahkan saja padaku," jawab Kise dengan senyum kikuk. Begitu Akashi keluar ruangan, sang model langsung menghambur ke arah Kuroko Tetsuya "Huweeee! Kurokocchiiii!" teriaknya sambil berlinang air mata seraya memeluk erat tubuh si biru muda.
"Sesak Kise-kun, tolong lepaskan... atau nanti aku bisa muntah lagi," diucapkan dengan nada datar namun terdengar sangat mengancam, Kise tidak mau bernasib sama seperti Aomine, langsung dia melepas pelukannya "Hyaa! jangan muntah lagi, nanti Akashichii bisa membunuhku!"
"Kise-kun lepaskan ... kau bisa membuatku ingin muntah lagi. Juga tolong jangan berteriak, suaramu mengganggu. Kasihan Momoi-san nanti tidak bisa istirahat." ujar Kuroko Tetsuya datar.
"Huwee ... Kurokocchi kejam-ssu, padahal aku sangat mengkhawatirkan kondisimu." rengek si rambut kuning lagi, namun kali ini lebih pelan. Mata lentiknya memandang ke sekeliling dan menemukan di ranjang seberang Momoi Satsuki terbaring tak sadarkan diri dengan wajah pucat kurang darah, terpujilah Akashi Seijuuro yang bersikap gentleman, mengangkat gadis itu ke ranjang bahkan menyelimuti dan memberinya kompres dingin.
Melihat kondisi Momoi yang tidak bisa diajak bicara, Kise mengambil sebuah kursi untuk duduk di samping ranjang sang phantom, dengan nada pelan dia mulai membuka pembicaraan, "Ne ... Kurokocchi, apa kau sudah baikan? Kudengar dari orang-orang kau muntah dan jatuh pingsan di koridor."
"Hmm... aku tidak pingsan kok, hanya lemas dan mual. Tapi tidak apa-apa sekarang, hanya rasanya masih lemas,"
Kise Ryouta memandangi sosok berambut biru muda itu dengan seksama, mencoba mengamati bila ada perubahan yang ganjil, tetapi tidak mendapatkan sesuatu yang berbeda karena perut yang terlihat masih rata. Rasanya masih kurang yakin jika Kuroko hamil, tapi Akashi tidak mungkin bercanda masalah hal sepenting itu, apalagi sampai memberi mereka misi.
Sungguh misi sulit yang membuat pusing, padahal saat ini adalah moment sangat tepat untuk bicara, tapi model yang biasanya cerewet itu bingung harus mulai dari mana. Kise mengerenyitkan kedua alisnya, berusaha berpikir untuk menemukan suatu ide, hingga sebuah suara datar memecah konsentrasinya.
"Kise-kun kenapa bajumu berantakan begitu?"
"Eh!?" wajah sang model seketika memerah, mengingat kejadian memalukan yang dialaminya tadi "I ... ini bukan apa-apa kok-ssu, tadi ada kecelakaan sedikit," jawabnya berkelit mencoba memalingkan wajah, tidak mau melihat langsung bola mata biru yang menatapnya penuh curiga.
Saat itulah dia melihat poster menarik tertempel di salah satu bagian tembok ruangan, poster lucu bertemakan pendidikan untuk anak usia dini, "Aha!" tiba-tiba sebuah ide bagus muncul di kepala.
Kise langsung mulai angkat bicara. "Kurokocchi ... kau pernah bilang ingin menjadi guru TK kan?"
"Iya ... itu benar, hoahm ..." jawab sang phantom sambil menutup mulutnya dengan tangan karena menguap cukup lebar, mulai mengantuk.
Mata Kise Ryouta berbinar, kali ini dia yakin idenya akan berhasil. Maka dengan antusias mulailah dia bercerita panjang lebar, tanpa menyadari bahwa lawan bicaranya tengah terlelap seperti sengaja diberi dongeng pengantar tidur.
"Bla... bla... bla... bla..., Kurokocchi pasti bisa menjadi seorang mama yang baik-ssu. Bahkan jika bisa reinkarnasi, aku sangat bersedia lahir sebagai anakmu hehehe. Jadi sebaiknya Kurokocchi batalkan saja niat untuk aborsi. Karena aku pasti akan membantumu, aku akan sangat senang kalau bisa merawat anak itu bersama-sama." saking antusiasnya sang model bercerita, dia tidak menyadari bahwa Kuroko Tetsuya sudah mulai mendengkur pelan dan masih saja terus melanjutkan bicara, yang entah kenapa malah mulai mempromosikan diri.
"Yaah aku paham jika Kurokocchi meragukan kemampuan Akashicchi sebagai seorang ayah, dia sadis dan menyeramkan sih, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan pada anak kalian nanti. Tapi jangan cemas, aku bisa kok jadi ayah yang baik untuk bayi Kurokocchi ... Nanti dia akan kudidik jadi orang yang sangat baik hati! tidak seperti Akashicchi yang jahat seperti setan hehehe." celoteh sang model riang penuh percaya diri. Namun tiba-tiba hawa dingin terasa menyelimuti ruangan itu, seketika bulu kuduk di tengkuk Kise Ryouta berdiri semua, mulutnya langsung bungkam.
"Hm ... Ryouta, bagus sekali pemikiranmu itu ... menjadi ayah yang baik ya? Kurasa aku harus menunjukan cara ku mendidik anak yang baik padamu ya ..."
CKRIS, sebuah gunting merah dikeluarkan dari dalam saku.
Tubuh sang copycat terlonjak kaget "A ... Ampuun Akashicchi, a ... aku cuma bercanda-ssu ..." ujar Kise gugup, wajahnya seketika menjadi pucat pasi, berusaha mundur teratur sampai mendekati pintu keluar, sang kapten menyeringai lebar matanya berkilat tajam.
Kise mulai berkeringat dingin, dengan cepat dia mencari alasan untuk bisa keluar dari ruangan "Ah! Aku ingat ada urusan! Kurasa aku harus pergi-ssu ... uhm ... aku permisi!" sang model langsung melompat keluar, berlari menjauh sekencang mungkin.
Beruntung Akashi tidak mengejar, ataupun melemparkan gunting ke kepala kuning itu. Karena tidak mau Kuroko terbangun oleh jeritan yang pasti akan sangat mengganggu. Untuk sementara nyawa Kise Ryouta masih bisa terselamatkan.
~Bersambung~
di revisi tgl 5-9-2016. Terimakasih buat yang kemarin sudah mengingatkan typo nya hehe, nda sadar banyak kalimat & spasi yang hilang setelah di publish. Semoga sekarang lebih enak dibaca.
reverse harem* : Anime dengan tokoh utama wanita yang dikelilingi oleh banyak tokoh sampingan pria, yang biasanya mereka akan bersaing memperebutkan cinta sang wanita, kebalikan dari anime Harem yang tokoh utamanya pria.
game otome* : Game yang ditargetkan bagi kaum wanita, biasanya bertema tentang perjalanan pemain utama dalam menjalin hubungan dengan salahsatu dari beberapa tokoh pria dalam game tersebut.
