"Hiashi-sama..."

"Belum. Belum saatnya. Aku ingin melihat perkembangan mereka selanjutnya... Ko"

"Wakarimashita, Hiashi-sama"

Ketenangan dari seseorang bernama Hiashi terpancar jelas di wajahnya. Jelas sekali dia masih ingin bermain dengan kehidupan 'mereka'. Entah siapa yang dipermainkannya. Tak seorang pun yang tahu, kecuali dia, pengawalnya, dan tahta yang sejak tadi menjadi saksi bisunya.


.

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei yang punya chara

Pairing : SasuHina

OOC banyak sekali

Typos bertebaran disana-sini

OC yang biasanya ikut pendeskripsian, akan sedikit muncul ._.

Butuh banget kritikan... Mohon bantuannya ^_^

Yosh, Uzumaki NaMa mempersembahkan...

Chapter 4

~^ Kehidupan Baru ^~

.


.

.

Pagi di keesokan hari telah datang menjadi hari ini. Di hari rabu yang cukup terang ini menjadi pertanda awal Hinata akan menjalani kehidupannya sebagai seorang murid. Terkadang dia bertanya-tanya, dengan keadaan dirinya yang tak mengingat apapun, apa masih bisa dia mengikuti kegiatan belajar mengajar? Bagaimana cara dirinya menyusul ketertinggalan? Apalagi setelah mendengar bahwa kenaikan kelas akan diadakan dalam waktu dekat. Memang tak ada ujian, tapi jika pelajaran lama saja dia tak tahu, bagaimana dengan yang baru?

Sebuah kemeja lengan panjang berwarna tosca muda dengan aksen 2 garis putih di setiap ujungnya. Rok pendek lipit berwarna hijau kotak-kotak. Tak lupa blazer putih yang kini bertengger manis di genggaman tangannya telah menjadi bukti lengkapnya seragam sekolah. Dilihatnya sang kakak yang juga memakai seragam tak jauh berbeda darinya. Hanya saja rok pendek diganti dengan celana panjang.

Sebelum berangkat, dia mendapat sedikit petuah dari kakaknya. Menangkap pembicaraan tadi, ternyata kelasnya berbeda dengan sang kakak. Hanya saja mereka satu angkatan, sama-sama kelas XI. Bersyukur dalam hati saat tahu dia sekelas dengan Yakumo. Yah, setidaknya dia kenal dan merasa lebih cocok dengan orang ini. Daripada dua makhluk yang belum bisa Hinata percayai sebagai temannya.

Agaknya kepribadian dua pirang yang jauh dari kepribadiannya menjadi tolak ukur. Jelas saja, duo berisik dan pendiam... Tak cocok kan?

Menaiki sepeda motor yang dikendarai sang kakak setelah sebelumnya menggunakan helm, mereka siap untuk menuju sekolah. Jujur, untuk Hinata yang baru, dia merasakan banyak kegelisahan. Tak bisa dia bayangkan apa yang akan terjadi disana. Bagaimana suasana gedung bernama sekolah. Dan banyak hal lain yang kini bertengger di otaknya. Sepertinya otaknya kembali dari pensiun.


.

Kehidupanmu yang baru akan dimulai...

Bersiaplah...

...karena aku...

..

...takkan segan

.


.

.

Sasuke tak pernah berfikir hal ini akan berjalan mudah. Tinggal di bumi benar-benar bukan pilihan buruk. Sadar dirinya harus berterima kasih kepada tetua Kunshu yang berbaik hati mengirimkannya ke alam ini.

Mencari penduduk juga bukan hal sulit bagi dirinya. Meski jalanan yang harus dilaluinya begitu terjal, namun pemandangan yang disajikan benar-benar membuat lelah dan bosannya terobati. Beberapa hewan liar baik bersayap ataupun berkaki sangat banyak disini. Dia juga sudah berkenalan dengan mereka. Beruntung, makhluk-makhluk penghuni hutan itu menerima kehadirannya dengan senang hati.

Belum lagi beberapa tanaman liar berbunga dan berbuah. Sangat indah... dan buahnya yang mampu menghilangkan lapar dan dahaga, sangat cocok dibawanya untuk perbekalan mencari pekerjaan. Sedikit perjanjian juga dia buat dengan hewan disana mengenai tanaman. Dia diperbolehkan mengambil tanaman disini dengan syarat menyiramnya dengan air.

Hanya air kan? Tidak buruk. Iya, tidak buruk jika saja sungai tidak jauh di dalam sana. Tapi, mau tak mau dia harus menyetujuinya. Tak ada pilihan lain. Dia tak mungkin memakan ikan setiap saat dia lapar. Lama-kelamaan pasti enek, blenek, dan segala hal yang berbau tak nyaman. Dia bertekad akan memikirkan cara membuat aliran sungai agar mencapai tanaman disini.

Beberapa menit yang lalu dia menyelesaikan pekerjaannya yang terakhir. Dia bekerja kepada seorang juragan sawah dengan menumbuk padi. Lumayan, setidaknya dia memiliki sisa uang walau membeli sebuah kasur empuk saat ini.

Membeli kasur bisa dia lakukan nanti. Saat ini dia harus mencari pekerjaan baru. Menambah penghasilan tidak buruk dengan memiliki lebih dari tiga pekerjaan kan? Lagipula, dia bisa membagi waktu dengan baik. Percuma jika hanya berada di rumah mungilnya tanpa melakukan pekerjaan. Berdiam diri takkan menambah jumlah yen-nya. Yang ada malah semakin menipis.

.


~^ Together Or Not? ^~


.

Bekal yang disiapkan orang tuanya sudah habis. Beberapa saat lalu jam pelajaran telah usai. Sungguh, Hinata tak tahu harus merasakan apa. Dia bingung. Dan sepertinya kelelahan memenuhi jiwa dan mentalnya. Bagaimana tidak? Tepat saat dirinya memijakkan kaki di sekolah ini, sekumpulan siswa-siswi memenuhi area pandangnya. Berbagai macam pertanyaan mereka lontarkan dengan bahasa yang menurut Hinata agak berlebihan. Padahal ya, inti pertanyaannya rata-rata sama. Sudah sembuh?

Dirinya memang tak pernah tahu kehidupan lamanya seperti ini. Mengikuti pelajaran, mengobrol, memakan bekal, dan mengerjakan PR. Rutinitas yang harus dilakukannya secara continue. Bahkan lebih menyeramkan dari bayangannya.

Sungguh, hal seperti ini sama sekali tak sejalan dengan kepribadiannya. Ia ingat memiliki sifat yang tak ingin menenggelamkan diri dalam hal-hal berbau merepotkan.

Dia santai. Melakukan sesuatu dengan tenang tanpa tergesa. Pribadinya ini sangat cocok jika ia realisasikan ke alam. Melakukan sesuatu yang berhubungan dengan alam layaknya petualangan. Lagi, teman-temannya bilang dia akan ber–ulang tahun dalam waktu dekat. Satu harapannya. Dia ingin benda yang dapat menangkap dan menyimpan gambar.

Bel pertanda istirahat berakhir dibunyikan. Lantas dia rapikan kotak bekalnya kemudian bergegas menuju kelas. Yakumo bilang dia mendapatkan tugas sekolah akhir-akhir ini, jadi dia tak bisa menemani Hinata menghabiskan waktu istirahat. Terang saja, Yakumo adalah salah satu anggota OSIS dan menjabat sebagai seorang sekretaris. Pekerjaannya yang harus membuat proposal mengenai kegiatan akhir tahun ajaran adalah buktinya.

Perjalanan Hinata menuju kelas menghabiskan waktu lebih dari 5 menit. Hal ini karena letaknya yang memang cukup jauh dari taman tempatnya menghabiskan bekal. Perlahan namun pasti dia berjalan sambil sesekali melihat kanan-kiri. Menyesali diri saat sadar dia harus mengikuti pelajaran. Seharusnya dia berjalan-jalan mengelilingi sekolah tadi.

Pintu di hadapannya dia geser. Menghela nafas dia lakukan tak lupa membatinkan ucap syukur saat melihat keadaan kelas yang belum memiliki tanda-tanda keberadaan sensei.

Dan rasa bahagianya bertambah dua kali lipat saat melihat tulisan di papan putih mengenai tugas Biologi. Itu artinya sensei yang mengajar Biologi tidak masuk kelas hari ini. Oh senangnya...

"Hinata... kau tidak mengerjakan tugas?" seorang siswi bertanya padanya.

"Aa-aa.. iya" agak kikuk dia menjawab pertanyaan tiba-tiba itu.

"Baiklah. Ayo kerjakan bersama" ajak siswi itu. Kalau dia tak salah ingat, namanya Yamanaka Ino. Salah satu dari dua pirang yang ternyata sekelas dengannya.

Meski harus merasakan pahitnya melakukan pekerjaan membosankan seperti sekolah, setidaknya di hari pertamanya dia tak harus mengikuti banyak pelajaran karena sensei yang berhalangan hadir.

Adakah yang lebih bahagia dari ini? -Pertanyaan khusus bagi spesies golongan murid-

Kebisingan akibat murid yang berbincang terdengar di sekitarnya. Dari yang normal sampai tak bermoral. Hinata hanya bertindak sebagai pendengar tanpa menanggapi. Meski sesekali dia harus menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.

Lagipula Hinata bisa apa? Dia tak memiliki memori. Kenyataan itu jelas menjadi salah satu bukti dirinya yang tak tenggelam dalam pembicaraan. Tangannya juga sibuk menyalin sejak tadi. Tak ada waktu bagi dirinya untuk sekedar menoleh dan menyuarakan kalimat. Dia juga ingat harus belajar hal-hal baru yang jelas tak dimengertinya sama sekali.

Bunyi bel untuk jam kedua pelajaran Biologi terdengar. Saat itu pula teman sekelas Hinata telah selesai mengerjakan tugas mereka. Tinggal 2 jam pelajaran lagi sebelum sekolah berakhir. Yakumo juga sudah kembali dan menyelesaikan tugas OSIS-nya.

Kini Hinata sedang sibuk memandangi Yakumo yang sedang menyalin pekerjaan Biologinya. Perbincangan juga terjadi diantara mereka meski Yakumo lebih mendominasi. Menceritakan beberapa kejadian yang Hinata alami sebelum mengalami 'kecelakaan'. Mengenalkan beberapa ilmu termasuk pelajaran sekolah. Menjelaskan beberapa kata sulit dalam tugas kali ini.

Yakumo dengan sabar dan teliti mengajarkan Hinata yang tak tahu apa-apa. Beruntung, Hinata bisa mengikutinya dengan baik.

Bosan dengan keadaan, akhirnya Yakumo mengajak Hinata keluar kelas yang langsung diiyakan oleh Hinata dengan antusias. Mengelilingi sekolah adalah tujuan mereka.

Mulai dari lantai dua hingga atap. Kemudian turun menuju kantin dan berakhir di taman yang dikunjungi oleh Hinata saat istirahat tadi. Ayunan yang menggantung di pohon sakura menjadi pilihan mereka untuk mendudukkan diri.

"Ne~ Hinata... Apa kau benar-benar tak mengingat sekolah ini?" secara tiba-tiba Yakumo mengatakan itu setelah terdiam sejak lama.

Gelengan kepala adalah jawabannya.

"Sou-ka? Pasti rasanya tidak enak" ujar Yakumo lagi.

"Benar" dan entah kenapa Hinata menunduk. Mungkin, meratapi nasib dirinya yang kurang beruntung.

"..."

"Aaa... Yakumo, bolehkah aku bertanya?" Hinata mendongakkan kepala dan melihat kepada lawan bicaranya.

"Hey, itu sudah masuk pertanyaan" Yakumo berucap dengan geli.

"Hmhhh..." Hinata menggembungkan pipinya, "Oke aku ganti... Emmm, pertanyaanku harus dijawab ya?"

"Memangnya kau ingin bertanya apa sih? Kenapa berbelit-belit?" Yakumo menghentikan kebingungan Hinata seraya menggerakkan ayunannya dengan kecepatan sedang.

"Ano~ Aku ingin mendengar pengalamanku yang kecelakaan hingga membuatku begini..." jeda sejenak, "...darimu!"

"Ne~ Hinata... Itu permintaan bukan pertanyaan" Yakumo menghentikan ayunannya dan melihat ke arah Hinata dengan wajah datar.

"Aish..." lagi-lagi Hinata salah dalam memilih kata.

"Hahaha..." Yakumo tertawa dengan keras tanpa peduli lawan bicaranya kesal atau tidak. Yang jelas, dia butuh kepuasan tawa sekarang.

"..." sedang Hinata menatap bingung kepada temannya ini. Apa yang membuatnya tertawa dengan tak elit begitu? Apa ada yang lucu?

Hey, jangan-jangan... Mata Hinata terbelalak dan tak menduga hal ini terjadi.

"Haha..." Yakumo belum menghentikan tawanya.

"Ne~ Yakumo... Kau menjailiku?" Hinata menuduh dengan pandangan kesal. Tak lupa telunjuk kanannya yang terangkat menghadap lawan bicaranya.

"Menjaili? Haha... Tidak tidak, aku hanya menjadikanmu lelucon"

Zingg. Perempatan siku imajiner muncul di dahi Hinata. Entah bagaimana hal se-imajiner itu bisa terlihat.

"Sudahlah..." mencoba mengabaikan kekesalannya, "Jadi, bagaimana bisa aku seperti ini?"

"Hhh..." Yakumo menghentikan tawanya dan menatap Hinata dengan serius.

"..."

"Jadi waktu itu..."


~^ Together Or Not? ^~


Perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam itu dapat terlewati dengan baik. Dua bus yang merupakan rombongan murid dari sekolah yang sama menghentikan laju rodanya dan parkir di tempat yang telah disediakan. Satu persatu dari mereka turun seraya menggendong sebuah ransel yang tak bisa dibilang kecil. Beberapa 'bentuk muka' (?) tercetak di masing-masing remaja.

Ada yang pasang muka ngantuk. Ada yang baru bangun tidur. Ada yang menguap, entah karena kurang tidur atau kebanyakan tidur. Ada yang semangat. Ada yang begini, ada yang begitu. Banyak dan tak bisa disebutkan satu-satu.

Di salah satu sudut keramaian murid-murid itu, terlihat seorang gadis yang memasang wajah penuh keceriaan. Tubuhnya terbalut jaket tebal berwana ungu untuk menghalau rendahnya suhu. Lehernya juga tak mau kalah dengan dilingkupi oleh sebuah syal berwarna senada dengan ransel merahnya. Selain syal, sebuah headphone juga bertengger di lehernya.

Kaki-kakinya yang terpakai sepatu sneakers berjalan mengikuti arus yang bejubel. Pandangannya sesekali ke bawah mengagumi tanah, ke atas mengagumi awan dan langit, serta ke samping mengagumi ramainya manusia. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tatkala sadar dirinya benar-benar tidak bermimpi.

Iya, dirinya... Hyuuga Hinata, seorang siswi dengan segala peraturan dan kungkungan keluarga yang melingkupi, berada di tempat ini! Di tempat yang seharusnya dilarang baginya untuk datang. Sebuah hutan di dataran tinggi -Hutannya dikhususkan untuk petualangan kok. Jadi aman-

Salahkan saja dirinya yang tak bisa menjaga diri. Beberapa waktu lalu dia pernah terjatuh saat menaiki anak tangga menuju kuil di atas bukit. Alhasil, kakinya terkilir dan tak bisa digerakkan lebih dari dua minggu lamanya. Kejadian itulah yang menjadi alasan orang tuanya melarang dengan keras sang putri untuk mengikuti kegiatan pendakian macam ini.

Butuh banyak bujukan dan rayuan untuk meyakinkan orang tuanya. Salah satu temannya yang menjadi saksi saat itu adalah Yakumo. Yakumo juga membantunya menjadi perayu dengan menganggukkan kepala dan mengeluarkan kata iya saat mendapat pertanyaan dari orang tuanya. Sedang semua alasan yang terlontar berasal dari bibir Hinata.

Sebenarnya Hinata kesal jika mengingat yang dilakukan Yakumo sangat jauh dari kata membantu. Tapi toh, dia berhasil sampai sini kan?

Ngomong-ngomong soal Yakumo, dia tidak sedang bersama Hinata saat ini. Kesibukannya sebagai OSIS menuntutnya untuk bekerja saat yang lain sedang santai. Hinata sungguh iba dengan temannya itu. Ingin hati membantunya menyusun laporan pendakian, tapi apa boleh buat? Dirinya tak bisa melakukan hal macam itu. Ingat dengan segala kerepotan yang dibencinya? Dia benci hal-hal yang merepotkan, bukan?!

Sekitar 30 menit dari tempat parkir, mereka sampai di sebuah gerbang menuju hutan. Di sisi kanan gerbang terdapat patung seorang pendaki laki-laki yang terbuat dari batu tanpa warna. Ukirannya benar-benar halus. Makna semangat jelas tergambar dari pahatannya.

Sedang di sisi kiri gerbang terdapat sebuah posko yang dijaga dua orang bergender laki-laki. Usianya jelas tak bisa dibilang muda, juga tak bisa dibilang tua. Mereka ini adalah penjaga hutan sekaligus yang bertanggung jawab terhadap keamanan para pengunjung. Jadi, sebelum memasuki hutan, dua orang ini memastikan kelengkapan dan kesiapan pengunjung saat mendaki dan menjelajahi hutan.

Sebenarnya wajar sih... Karena perjalanan yang akan dilalui lebih dari 3 hari 3 malam. Jika dihitung hingga kembali ke posko ini lagi, bisa mencapai waktu seminggu. Cukup lama juga untuk sebuah pendakian.

Murid-murid itu membentuk dua barisan –laki-laki dan perempuan– untuk mengantri. Satu persatu dari mereka diperiksa keamanan dan kesiapannya untuk menghadapi perjalanan yang menghabiskan waktu seminggu itu. Selembar kertas juga diterima dari posko yang menggambarkan rute perjalanan. Kertas ini adalah sebuah peta.


~^ Together Or Not? ^~


"Ne~ apa benar kita melakukan perjalanan macam itu?" Hinata bertanya dengan mata berbinar. Rasanya ingin kejadian seperti itu tidak terlupa dari ingatannya.

"Hey, kenapa memotongnya? Ini bahkan belum setengah dari cerita!" ujar Yakumo kesal. Bagaimana perasaanmu, andai saat bercerita tiba-tiba ada yang memotongnya? -Sebal kan?-

"Kau lama..." Hinata merengut. Keinginannya untuk mendengar cerita bagaimana kecelakaannya terjadi hilang karena kejenuhannya mendengar cerita dari sang kawan. Sepertinya Yakumo bukan ahli dalam ber-cerita ulang.

"Dasar tidak sabaran" Yakumo mencibir, "Baiklah aku langsung ke cerita..."

"..." Hinata diam mendengarkan.

"Jadi.. sampai mana aku tadi..."


~^ Together Or Not? ^~


Setelah melakukan pemeriksaan dan mendapatkan peta, mereka dibagi dalam beberapa kelompok pendakian. Satu kelompok terdiri dari 3 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Muku, Shira, Yakumo, Hokuto, Sara, Ryuuzetsu, dan Sumaru sang nii-sama, menjadi satu kelompok dengan Hinata.

Tiap kelompok mendapat rute berbeda. Kebetulan kelompok Hinata mendapat rute utara yang katanya memiliki jalan cukup terjal. Medan areanya juga lebih licin daripada rute lain. Tapi, apa boleh buat? Itu adalah rute yang dibagi oleh panitia dari sekolahnya.

"Yakumo, kau ikut kelompok biasa?" Hokuto bertanya di tengah perjalanan mereka.

"Begitulah. Aku yang memintanya. Hup.." melompati batu kemudian melanjutkan, "Rasanya bosan berkutat dengan tugas. Lagipula, tak adil kan kalau aku menyelesaikan pekerjaan saat kalian bersenang-senang?"

Semuanya diam membenarkan.

"Ah, iya... Ada berita baru loh..." Sara, siswi berambut merah dan kelewat aktif itu berbicara.

"Apa?" Hokuto bersuara "Kalau gosip lagi, aku tak ingin mendengarkan"

"Bukan. Ini bukan gosip. Ini adalah fakta paling mengejutkan..." suaranya meledak penuh semangat.

"..." semuanya memasang telinga penuh perhatian.

"Coba lihat ke belakang..."

Serentak seakan dihipnotis, kepala-kepala manusia itu menoleh ke arah yang dibicarakan Sara.

Semua terdiam, mencerna apa yang mereka lihat. Sejenak kemudian, masing-masing dari mereka menunjukkan senyuman paling jail. Sedang yang menjadi objek belum menyadarinya sama sekali.

"Cieee..."

"Ehemm..."

"New couple..."

"Yang pacaran..."

"Traktirannya dong..."

"Kucing dan anjing yang bersama.."

Kalimat terakhir inilah penyebab kesunyian tercipta. Bahkan sang objek yang sejak tadi tak connect, kini malah loading 100 persen.

"Siapa yang kau bilang kucing dan anjing, hm?" sang wanita berkata seraya menekuk lengannya di pinggang. Tak lupa untuk mendekati seseorang yang mengeluarkan kalimat terakhir tadi.

"Et-etto... ano~ maksudku kalian kan sering bertengkar, jadi ya-ITTAI...!"

"Kucing dan anjing adalah simbolnya? Kau BAKA..." dan pukulan kedua pun tak bisa dihindari. Shira yang menjadi objek pukulan tak mampu untuk mengelak. Bukan tak mampu sebenarnya, hanya saja dia tak berniat melukai perempuan.

"Sudahlah tak usah berisik. Jadi, apa yang kalian bicarakan?" satu lagi orang menyebalkan.

Tep "Bro, kalau pacaran bilang-bilang lah..." Sumaru yang mengerti kondisi sang kawan -yang tak bisa mendengar dengan jelas a.k.a sedikit budek- lekas mendekatinya.

"Siapa yang pacaran?" dia mengernyit bingung.

"Kau dan Ryuuzetsu"

Muku diam. Ryuuzetsu diam. Sumaru terdiam. Shira didiamkan. Dan yang lain berdiam.

"Eeeee... itu berita darimana?" Ryuuzetsu mencak-mencak, kentara sekali dia tak terima dengan dugaan itu.

"Tuhhh..." semua mata memandang sang penggosip, "...Sara yang bilang!" Hokuto menegaskan. Seakan senang dengan keadaan yang semakin parah.

"Sara..." Kretek. Glek"...apa saja yang kau sebarkan?" Ryuuzetsu pasang muka paling sangar. Tak lupa tangannya yang mengepal membentuk tinju.

Sara hanya bisa meneguk ludah beberapa kali. Keadaannya juga tak mendukung. Dia terjepit oleh Hinata dan Hokuto, bahkan dibelakangnya ada pohon. Satu-satunya jalan adalah di depannya yang sekarang tengah dilewati Ryuuzetsu.

Tap

Jduk

Brak

"Aaaaa..."

Brrt

Duak

"HINATAAAA..."

Entah bagaimana kejadiannya. Tak ada yang tahu dengan pasti. Yang jelas, sebelum Sara melakukan pergerakan, Hinata sudah terperosok ke jurang sana. Keadaannya benar-benar tak bisa dibilang baik.

Wajah Sara pias, pucat pasi. Sungguh, meski bukan dirinya yang menyebabkan Hinata terjatuh, dia merasakan ketakutan yang dalam.

Setelah teriakan kesakitan Hinata terdengar, Sumaru segera menoleh dan meneriakkan nama adiknya. Melihat Hinata yang berhenti di bawah sana, dia langsung membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah tali. Pergerakannya cepat dan tanpa basa-basi. Tiba-tiba saja, tali yang memiliki 2 ujung itu sudah terikat di sebuah pohon dan satu lagi di tubuhnya.

Shira yang pertama menyadari Sumaru yang berniat turun, lekas membantu. Dipegangnya erat tali yang terikat di pohon. Takut-takut ikatannya terlepas.

Dengan cekatan Sumaru melompat ke jurang tempat Hinata terperosok. Raut wajahnya jelas menunjukkan kecemasan. Khawatir adiknya tidak baik-baik saja. Batinnya juga tak berhenti untuk berdo'a demi keselamatan sang adik.

Sedang yang lain tak berani mengeluarkan suara. Bahkan sesenggukan akibat menangis pun berusaha mereka redam. Shira dan sekarang dibantu Muku berusaha menggenggam tali yang terikat pohon. Mereka hanya bisa berharap sang kawan tidak mengalami sesuatu yang membahayakan.


~^ Together Or Not? ^~


"Aku... jatuh ke jurang?" ucap lirih Hinata.

"Begitulah. Tapi, kami benar-benar tak tahu apa penyebabnya" Yakumo menjawab lirihan Hinata.

"Setelah itu?" Hinata menanyakan lanjutan kejadiannya.

"Setelah berhasil mengangkatmu dari jurang. Kami langsung pergi ke rumah sakit. Dan saat itulah kau dirawat inap selama hampir 2 bulan. Dokter juga mengatakan bahwa ada sedikit kerusakan di bagian otakmu akibat benturan yang keras. Aku juga tak mengerti sih" Yakumo berucap dengan terbelit. Dia benar-benar tidak ahli dalam bercerita.

"Sou-ka? Aku juga mendengar itu" ujar Hinata.

Dan Yakumo hanya mengangguk mengiyakan.

.


~^ Together Or Not? ^~


.

Beberapa pekerjaan sudah dia lakukan. Upah juga sudah diterimanya sesuai kesepakatan. Sore ini dia mencoba mencari peruntungan. Mungkin saja dia bisa menemukan keramaian.

Setelah menanyakan beberapa tempat yang mungkin menjual kasur, Sasuke segera mencarinya sesuai yang dikatakan juragan tadi. Mungkin saja dia bisa membeli beberapa kebutuhan lain yang diperlukan rumah mungilnya.

Sebenarnya dia juga bosan. Biasanya saat malam hari sebelum tidur, dia pasti meluangkan waktunya untuk melukis. Jadi, dia bertekad untuk mendapatkan keperluan lukis setelah ini.

Cukup jauh memang jika dilihat dari lamanya dia berjalan. Tapi, hasilnya cukup memuaskan. Karena saat ini dia tepat berada di pusat kota. Keramaian yang dicarinya sudah ada di hadapannya. Beberapa muda-mudi, baik remaja maupun anak-anak ada disana. Bentuk bangunan dengan bermacam-macam ketinggian juga menjulang disana. Dia takjub. Saat di Kunshu saja yang memiliki bangunan tinggi hanya istana.

Mungkin jika Sasuke tidak kolot, ada rasa minder dan malu saat dia berada disini. Pakaian jadulnya jelas tak cocok dengan lingkungan penuh modernisasi di sekitarnya. Beberapa pasang mata memandangnya dengan penuh ekspresi. Ada yang kagum, ada yang menunjukkan ketertarikan, ada yang geli, ada yang menahan tawa. Tapi toh, Sasuke tidak peduli. Dia hanya perlu berjalan, mencari barang, membayar dengan uang, dan membawa barang yang sudah dibelinya kan? Jadi, apa hubungannya dengan mereka? Dia bahkan tidak mendapat yen dari mereka.


.

Maa~ Sasuke...

Sikap cuek-mu adalah bumerang bagimu.

Cobalah untuk memperhatikan hal-hal kecil di sekitarmu.

Kau benar-benar tak menginginkan perubahan ya?

Pantas saja...

...Hiashi tak menginginkanmu!

.


Setelah menemukan kasur yang cocok dan kemudian membayarnya, dia segera keluar dari toko itu untuk mencari tempat sepi. Saat inilah energi spiritual–nya akan berguna. Dia akan sedikit mengecilkan ukuran kasur agar bisa masuk ke kantong plastiknya. Aneh? -memang aneh-

Setelahnya dia berjalan sambil melihat toko yang berjajar. Di tangannya sudah ada kantong berisi kasur, beberapa potong pakaian, dan peralatan lukis. Satu lagi yang dibutuhkannya. Dia tak mungkin memakan ikan dan sayur tanpa makanan pokok, kan? Iya, dia butuh beras.

Sedikit berjalan tergesa, akhirnya dia menemukan sebuah ruko yang menjual bermacam-macam beras. Dia memilih beras yang bagus dengan harga murah. Setelah kesepakatan, di tangannya sudah ada beras seberat 5 kg dengan harga yang lumayan. Sebenarnya pemilik toko menawarkan diri untuk membawakan beras miliknya, tapi dia menolak. Untuk apa? Lagipula dia benar-benar tidak membutuhkan pertolongan.

Mencoba mengingat jalan, Sasuke berniat untuk kembali ke rumahnya. Langit yang mulai menggelap menambah kesusahannya dalam mencari jalan. Semaksimal mungkin dia mengerahkan otaknya untuk mengingat. Mungkin saja keberuntungan sedang berada di pihaknya, itu adalah do'anya.

Belum lama dia meninggalkan keramaian, suara cekikikan beberapa orang mampir di telinganya. Awalnya dia tak peduli, tapi entah kenapa rasa penasarannya semakin membuncah. Didekatinya sang sumber suara sembari menajamkan pendengarannya.

Tak cukup dengan suara, dia ingin melihat rupa orang-orang itu. Mata onyx-nya dia arahkan kesana. Semakin menyipit saat penglihatannya justru agak kabur. Efek gelapnya malam benar-benar mengganggu pandangannya.

Satu, dua, ..tiga orang berada disana. Dua laki-laki dan satu perempuan.

Menyadari itu, kedua matanya membulat seakan tak percaya. Kilatan mustahil jelas terpancar dari sana. Beberapa kali dia mencoba untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah kenyataan. Dia... sedang tidak berada dalam genjutsu, kan?

Tak mau semakin lama berada disana, dia segera berbalik dan meneruskan perjalanan. Tubuhnya bergetar layaknya orang yang ketakutan. Tidak, dia tidak takut. Dia hanya tak ingin keberadaannya diketahui. Bisa bahaya kalau mereka tahu dia masih hidup.

"Apa... ...yang mereka lakukan disini?" Sasuke bergumam seraya menatap langit. Dirinya tahu, hukuman yang sesungguhnya baru akan dilaluinya. Tetua Kunshu itu, benar-benar...

Tch, bukankah waktu itu mereka bilang akan membiarkan dirinya hidup dengan syarat tidak mendekati Hinata? Bahkan dia belum menemukan keberadaan sang oujo-sama! Apa mereka benar-benar membencinya sampai mengirimkan beberapa utusan seperti itu? Apa misi mereka untuk membunuh? Membunuh dirinya? Atau Hinata-nya? Aarrghhh... Dia benar-benar tak mengerti.

"Kami-sama..." lirihnya penuh permohonan.


.

Ne~ Sasuke...

Ada apa denganmu?

Kau takut? Takut dengan keadaan?

Hahaha... Bersabarlah sayang..

Karena kehidupanmu...

...belum sepenuhnya dimulai.

.


.

.

.

To be continued...

.


Halooo... Saya bawa chapter empat nih... Ada yang mau baca? #ngarep

Hwaaa... #AuthorMewek# Saya kehilangan mood saya dalam menulis #hiks... Saya benar-benar tak tahu penyebabnya. Tapi mungkin karena ujian yang sekarang saya lewati #hiks... Maafkan saya kalau hasilnya mengecewakan #bungkuk2

Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan chapter ini, saya benar-benar harus banyak minta maaf T,T #pundung

Sebelum saya mengakhiri cuap-cuap ini, saya mau mempersembahkan Special thank's buat senpai yang sudah review, follow, bahkan mem-fave beberapa ff saya sebelumnnya...


(re-publish) 14 hari ^^ :

puchan : Terimakasih sudah mampir. Saya gak merasa itu nice loh...


Tunggu Aku ^^ :

cintya . cleadizzlibratheea ; Cahya Uchiha (fave)

hyugahime : Saya suka banget nistain Sasuke, haha #KetawaJahat# Kenapa bunuh diri? Karena perlakuan bully yang diterimanya semakin parah saat itu. Intinya dia gak kuat dengan keadaan.

*Maaf gak bisa nyebutin lagi. Tapi saya sudah tulis di ff saya yang 'Manusia Biasa' kok. Gomen~


Manusia Biasa ^^ :

geminisayank . sayank ; Nurul851 ; cintya . cleadizzlibratheea ; Cahya Uchiha (fave)

TheMagicGirl1 ; santi revinty (follow)

geminisayank . sayank : Makasih sudah mampir. Saya akan berusaha meramaikan fandom SasuHina dengan fict saya. Kalau gaje jangan salahkan ya? XD

Nurul851 : Selamat 14SHKE juga. Sasu playboy? Begitulah. Dan iya, SasuHina berteman dari kecil. Haha, bibirnya Sasu buat Hina seorang? Bukan buat fans di dunia nyata–nya ya? #DitimpukHinata#

cintya . cleadizzlibratheea : Iya, mereka berteman sejak kecil. Saya bawa fict multichap nih, semoga suka ^_^

Rin Ruka : Makasih sudah mampir.

Sasuhinalemonxx : Haha... Kita yang meleleh atau Hinatanya? XD Jangan panggil senpai dong, saya newbi loh T.T

Sasuhinalemonxx : Aih, romantis kah? Wkwkwk, saya berhasil dong? Jangan panggil senpai dong, saya newbi loh T.T

Hyugahime : Ah, maafkan saya yang gak bisa menjelaskannya secara detail #bungkuk2# Terimakasih sudah mampir ^_^


Together Or Not? Chap 3 :

Fleur Choi ; Virgo Shaka Mia ; liyaneji ; nalie . oktavia ; Euiko Katayanagi (fave)

Fleur Choi ; Virgo Shaka Mia ; liyaneji ; nalie . oktavia (follow)

Virgo Shaka Mia : Sesama newbi tak usah berebut senpai lah XD

Hikari No Aoi : ano~ apa ini penerapan yang salah? #sembunyi# Saya sudah berusaha meminimalkan percakapan. Semoga sesuai dengan yang senpai ajarkan ke saya ya? #ngarep# Mampir lagi senpai. Saya butuh banyak saran ^_^

nalie . oktavia : Salam kenal juga Nalie-san ^_^ Saya sudah bawa next chapnya. Semoga gak kecewa ^_^

Guest : Haha.. maafkan saya. Entah kenapa saya suka bikin Sasu jadi rakyat jelata #EvilSmirk# Semoga tidak kecewa dengan chap ini ^_^

yuka : Aaa.. gomen~ #bungkuk2# Hina belum ketemu Sasu. Saya mau menjelaskan kehidupan mereka berdua dulu sebelum ketemu, saya takut kecepetan kalau-kalau mereka sudah ketemu. Tapi... apa saya terlalu lambat ya? Maaf T.T


Apa saya terlalu lama bicara? Maaf, saya cuma mau mengapresiasi para senpai yang sudah repot-repot dateng ke fict saya buat baca. Apalagi sudah ngetik kalimat review, dan meng-klik kotak fave dan follow. Wah, saya merasa bahagia XD

Baiklah, untuk yang terakhir... Mind to RnR?

Arigatou Gozaimashita ^_^