~ When Playboy Meets Innocent Girl ~

"When Sehun Got a Fever"

Oh Sehun and Xi Luhan (GS)

AU, Fluff, and Romance

2016©Summerlight92

.

.

.

"39 derajat."

Luhan menarik napas panjang. Wajahnya tertekuk ketika angka 39 itu tertera pada benda yang tengah dipegangnya—termometer.

Luhan menggulirkan pandangannya ke bawah—tepatnya pada sosok Sehun yang terbaring lemah di atas ranjang. Kondisi Sehun memang tidak terlihat baik, dengan bulir-bulir keringat yang mulai terlihat di bagian kening.

Siang itu, Luhan mendatangi apartemen Sehun karena bertepatan dengan hari Minggu. Ia bermaksud menghabiskan waktunya bersama Sehun di hari libur. Sayangnya, Luhan justru mendapati kekasihnya jatuh sakit—demam tinggi.

"Sayang?" Sehun mengernyit karena Luhan hanya bersedekap dengan ekspresi wajah khas orang marah. Namun terselip kekhawatiran yang luar biasa di sana.

"Sudah kubilang jangan bekerja terlalu keras," kata Luhan dengan nada meninggi. "Kau mengabaikan nasehatku dan sekarang lihat akibatnya!"

Sehun terdiam. Ia tahu Luhan marah karena kesalahannya sendiri—memforsir diri untuk bekerja terlalu keras, hingga jatuh sakit seperti sekarang.

"Maafkan aku." Sehun menatap Luhan dengan penuh penyesalan. Ini memang bukan pertama kali ia jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja. Akan tetapi, melihat Luhan yang begitu marah bahkan dengan mata yang berkaca-kaca, membuat dada Sehun terasa sesak.

"Aku berjanji, mulai sekarang aku akan mendengarkan nasehatmu. Tidak akan mengabaikannya lagi."

Well, Sehun akui sakit itu tidak menyenangkan. Mau tidak mau ia memang harus mendengarkan nasehat Luhan. Toh itu juga untuk kebaikannya sendiri—demi kesehatannya.

"Kau janji tidak akan mengabaikan nasehatku lagi? Kau akan mendengarkan kata-kataku?"

Sehun mengangguk. "Ya, aku janji," jawabnya dengan penuh keyakinan.

Luhan terdiam sejenak, lalu mengusap matanya yang sedikit berair. Setelahnya, sebuah senyuman menghiasi wajah cantiknya. "Kau sudah janji, ya? Jadi, hari ini kau harus mematuhi kata-kataku."

Tiba-tiba saja Sehun memiliki firasat buruk ketika melihat Luhan buru-buru keluar dari kamar. Beberapa menit kemudian, Luhan masuk kembali ke kamarnya dengan wajah sumringah. Kedua tangannya berada di belakang dan mengundang rasa penasaran dalam benak Sehun.

"Pejamkan matamu, Sehunnie," titah Luhan setelah duduk di tepi ranjang.

Sehun ingin bertanya namun Luhan sudah memberikan tatapan tajamnya. Sehun terkekeh pelan. Meski berusaha memperlihatkan sisi tegasnya, Luhan justru kelewat imut dengan matanya yang melotot itu.

Perlahan Sehun mulai memejamkan matanya. Saat itulah, Luhan mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan di belakang punggungnya. Gadis itu terkikik geli. Dengan hati-hati dan secara perlahan, ia menempelkan benda itu pada kening Sehun.

"Sudah. Kau boleh membuka matamu, Sehunnie."

Dalam hitungan detik mata Sehun terbuka. Laki-laki itu menatap Luhan dengan sorot mata bertanya. Namun setelahnya, wajah Sehun perlahan berubah. Ia merasakan ada sesuatu yang menempel pada keningnya. Ketika tangan Sehun menyentuh keningnya, mata laki-laki itu membulat sempurna.

"Kau memasang plester kompres demam?!" tanyanya sedikit memekik.

Luhan mengangguk dengan wajah polos. "Eits, jangan dilepas!" teriaknya saat melihat tangan Sehun memegang ujung plester kompres.

"Sayang, kau tahu 'kan aku tidak suka memakai plester kompres seperti ini?" Sehun mendengus kesal. "Aku lebih suka memakai kompres dari handuk yang dibasahi air."

"Kenapa kau tidak suka?" Luhan mencebik. "Ini akan jauh lebih cepat menurunkan demammu, Sehunnie."

"Ini membuatku terlihat seperti anak-anak," rengek Sehun. See? Bukankah tingkah Sehun yang merengek barusan justru membuatnya terlihat seperti anak-anak?

Luhan tertawa kecil. Inilah sisi lain dari seorang Oh Sehun. Jika sedang dalam kondisi sakit—seperti sekarang—maka Sehun akan bersikap manja pada Luhan.

Luhan membelai lembut wajah Sehun. Suhu tubuhnya memang masih tinggi—panas, tetapi Luhan yakin tak lama lagi akan segera turun. Tentu dengan bantuan plester kompres demam yang ditempelnya pada kening Sehun.

"Sehunnie?" Luhan menundukkan wajahnya—menatap lekat manik mata Sehun. Gadis itu tersenyum lembut, setelahnya mencium bibir Sehun dalam hitungan detik.

Sehun mengerjapkan matanya—cukup kaget dengan tindakan Luhan.

"Sayang?"

"Hm?"

"Aku mau lagi." Jawaban Sehun jelas membuktikan bahwa ia memang mantan playboy dengan tabiatnya sebagai perayu ulung. Tak peduli dalam kondisi apapun, ia selalu memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melakukan skinship bersama Luhan.

"Kau mau lagi?" Luhan menaikkan salah satu alisnya, kemudian tersenyum penuh arti. "Boleh saja. Asalkan kau mau memakai plester kompres demam itu sampai demammu turun. Bagaimana?"

Wajah Sehun kembali berubah—tampak belum sepenuhnya bersedia membiarkan benda berbentuk persegi panjang yang menempel di keningnya. Tapi jika diberi penawaran seperti itu, siapa yang bisa menolaknya?

"Baiklah." Sehun menurut, sengaja memasang wajah pasrahnya. Padahal dalam hati, ia tersenyum menyeringai.

Luhan berpikir jika Sehun kelewat polos—menuruti kemauannya dengan penawaran itu. Astaga Luhan, apa kau tidak sadar jika dirimu sendirilah yang kelewat polos? Tidak menyadari seringaian di balik wajah pasrah Sehun yang sebentar lagi akan mendapatkan ciuman lagi darimu? Yeah, she's innocent girl.

Sesuai perkiraan, ketika Luhan kembali mencium bibir Sehun, laki-laki itu mengambil alih. Tangannya menahan tengkuk Luhan agar gadis itu tak bisa bergerak dari posisinya. Luhan berusaha mengimbangi ciuman Sehun yang semakin lama semakin menuntut.

Ciuman itu baru terlepas setelah Luhan memukul dada bidang Sehun karena pasokan oksigennya serasa menipis.

Luhan mendelik sebal ke arah Sehun yang kini menatapnya dengan seringaian jahil. Wajahnya perlahan memerah. Ia bukan hanya saja malu karena ciuman itu, tetapi entah mengapa, Sehun tetap terlihat tampan bahkan sexy sekali pun dalam kondisi sakit.

"Kau memang selalu pandai mengambil kesempatan dalam kesempitan, Tuan Oh." Luhan menyadari arti di balik seringaian jahil kekasihnya itu.

Sehun terkekeh, "Kuanggap itu pujian untukku, Nyonya Oh."

Wajah Luhan merah padam. Cepat-cepat ia rapikan selimut yang membalut tubuh Sehun, lalu beranjak dari posisinya. "Beristirahatlah."

"Kau mau ke mana?" tanya Sehun sambil mencekal pergelangan tangan Luhan. "Temani aku."

Luhan tersenyum geli. Sehun benar-benar manja jika sedang jatuh sakit.

"Aku harus memasak bubur untukmu, Sehunnie." Luhan mengusap pipi Sehun dengan lembut. "Aku akan segera kembali."

Sehun mengangguk, lalu keduanya sama-sama tertawa kecil. Ia pandangi punggung Luhan yang perlahan mulai menjauh, lalu menghilang di balik pintu kamarnya.

Sehun menghela napas panjang, tangannya bergerak menyentuh keningnya yang terpasang plester kompres demam. Seulas senyum terukir di bibir tipisnya. Sehun bergerak mencari posisi yang nyaman, hingga akhirnya ia mulai terlelap dalam tidurnya.

...

Hampir 1 jam Luhan menghabiskan waktunya di dapur apartemen Sehun. Dengan apron yang melekat di tubuhnya, gadis itu tampak sibuk memasak bubur untuk Sehun.

Kini Luhan sudah mulai menyajikan bubur yang baru saja selesai dimasaknya ke dalam mangkuk. Tak lupa ia menyiapkan segelas air putih dan obat penurun demam. Setelah melepas apron, Luhan bergegas ke kamar Sehun sambil membawa nampan dengan semangkuk bubur, segelas air putih, dan obat penurun demam.

KLEK!

Luhan membuka pintu kamar Sehun dengan hati-hati dan memperhatikan nampan yang tengah dibawanya. Ia meletakkan nampan itu di atas nakas, lalu melirik ke arah Sehun yang masih tertidur. Luhan mengambil termometer untuk memeriksa kembali suhu tubuh Sehun.

"Syukurlah demamnya mulai turun," gumam Luhan senang. Ia menyentuh kening dan wajah Sehun. Luhan bisa merasakan suhu tubuh Sehun memang masih panas, tapi tidak separah sebelumnya.

"Sehunnie?" Luhan mencoba membangunkan Sehun dengan membelai lembut pipinya.

"Eungh ..."

"Kau harus makan," ujar Luhan setelah Sehun membuka kedua matanya. "Aku sudah memasakkan bubur untukmu."

Sehun mengangguk. Dengan kondisi tubuh yang masih lemas, Sehun mencoba duduk dari posisi berbaringnya. Luhan mengambil bantal untuk dijadikan sandaran punggung Sehun. Setelahnya, ia mengambil segelas air putih terlebih dahulu untuk Sehun, karena kekasihnya itu mengeluhkan rasa haus yang menderanya.

Perhatian Sehun beralih pada mangkuk bubur yang berada di tangan Luhan. Ia tersenyum saat gadis itu mulai menyuapkan bubur untuknya.

"Kenapa?" Luhan terheran melihat sinar mata Sehun yang memancarkan kebahagiaan. Sangat kontras dengan wajahnya yang tampak pucat dan lemas.

Sehun menggeleng, namun tetap tak berhasil menghilangkan kerutan di dahi Luhan. Gadis itu tampaknya terlanjur penasaran dengan apa yang ada dalam benak Sehun.

"Aku hanya merasa bahagia, Sayang," ucap Sehun sambil tersenyum.

"Bahagia?" Luhan menatap tak percaya. "Kau jatuh sakit kenapa bahagia?"

Sehun terkekeh. Ia menggerakkan tangannya—memberi isyarat pada Luhan agar mendekatkan wajahnya. Saat itulah Sehun mendaratkan kecupan lembut di kening Luhan, meninggalkan semburat rona merah di pipi gadis itu.

"Karena aku beruntung, memiliki kekasih seperti dirimu. Gadis berhati malaikat dengan kecantikan seperti bidadari."

Luhan tersipu mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir Sehun. Tanpa ragu gadis itu mengecup pipi Sehun, membuat laki-laki itu tertawa kecil.

"Sudah. Habiskan buburmu dan segera minum obat," tegas Luhan menyudahi obrolan singkat mereka yang kelewat manis.

Sehun mengangguk dan menuruti ucapan Luhan. Ia memakan bubur buatan Luhan dengan lahap sampai habis. Setelahnya ia meminum obat penurun demam yang sudah disiapkan oleh Luhan.

Sehun kembali berbaring saat kembali merasakan kantuk. Sepertinya efek obat itu mulai bekerja. Matanya mulai terasa berat, namun Sehun berusaha menahannya karena masih memperhatikan Luhan yang terlihat sibuk membereskan peralatan makannya di atas nakas.

Ketika Luhan keluar dari kamarnya, Sehun tak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Laki-laki itu mulai memejamkan mata, bersiap untuk tidur agar kondisi tubuhnya segera pulih seperti semula.

Beberapa menit setelahnya, Sehun sedikit mengernyit saat menyadari ada gerakan di samping yang mengusik tidurnya. Matanya mengerjap pelan dan saat itulah ia melihat Luhan sudah berada di sebelahnya, dengan posisi setengah berbaring.

Tanpa menunggu lagi, Sehun langsung memeluk pinggang Luhan, melesakkan kepalanya di sekitar perut Luhan. Gerakannya itu sempat membuat Luhan merasa kegelian. Luhan terkekeh pelan melihat tingkah Sehun yang seperti anak-anak. Ia mengusap lembut punggung Sehun, membiarkan laki-laki itu tertidur dalam posisi layaknya seorang anak yang sedang tertidur dalam pelukan ibunya.

"Sayang?"

"Hm?"

"Terima kasih," Sehun berujar dengan suara seraknya. "Saranghae."

"Nado saranghae," balas Luhan sambil tersenyum. Diliriknya wajah Sehun. Luhan bisa melihat jika laki-laki itu juga tersenyum. Perlahan dengkuran halus mulai terdengar, tanda bahwa Sehun sudah terlelap dalam tidurnya.

Luhan membelai wajah Sehun, setelahnya ia mengecup bibir tipis kekasihnya itu sambil berujar, "Semoga cepat sembuh, Sehunnie."

.

.

.

END

A/N : Yang ini juga full of fluff :D

Belum ada ide untuk kasih sentuhan humor lagi, mungkin di series selanjutnya aja ya ;)


Special Thanks to :

laabaikands, Nisa Aprilia, tjabaekby, DinkyAA, lulu-shi, luhanzone, Arifahohse, Seravin509, KyuMinElfcloud, robiatus18, SweetHoon, nik4nik, Lisasa Luhan, PinkuDeer, Nurul999, Juna Oh, ElisYe Het, HunHanCherry1220, Misslah, Guest, Skymoebius, JYHYunho, 1004baekie, luharawr, dindahidayanti07, babyblue, Aura626

P.S : Buat yang baru mengikuti FF ini, saya ucapkan selamat datang (^_^)