[KAISOO 4]
Kyungsoo duduk dibangku paling depan, sengaja menjauh dari teman-temannya. Bahkan Kyungsoo tak membiarkan Minah duduk bersamanya. Ia sedang ingin sendiri, perasaanya sedang buruk gara-gara Jongin. Kyungsoo hampir menangis jika saja dia tidak cepat-cepat menaiki bus.
Kyungsoo tahu jika Jongin tidak akan pernah mengerti perasaanya. Mempermalukannya sudah menjadi kesenangan Jongin. Kyungsoo ingat betul sejak dia masih duduk di Junior High, Jongin selalu membuatnya malu didepan semua orang. Jongin selalu menyebutnya gadis bodoh, ceroboh dan cengeng. Kyungsoo akui, Jongin memang pintar bahkan Kyungsoo sendiri selalu mendapat peringkat dibawah Jongin. Tapi Jongin tidak boleh seenaknya pada Kyungsoo.
Lulus dari Junior High adalah hal yang paling di nantikan Kyungsoo. Alasannya tentu saja karena dirinya ingin menghindar dari Jongin. Namun, hal itu tidak terjadi karena Jongin masuk juga di sekolah yang sama dengan Kyungsoo dan yang lebih parahnya mereka satu kelas lagi. Awalnya Kyungsoo bersikap biasa seolah-olah tidak mengenal Jongin namun lagi-lagi Jongin membuatnya jengkel.
Kyungsoo ingat ketika jam lab Kimia, Jongin membuat kertas lembaran tes Kyungsoo basah dengan cairan Kimia berwarna merah hingga Kyungsoo harus mengulangnya kembali. Lalu saat Kyungsoo mengerjakan soal matematika didepan, Jongin mengatakan pada Pak Choi; "Biar saya saja Pak, Kyungsoo terlihat kesulitan dengan soal yang bapak berikan."
Tentu saja itu membuat Kyungsoo merasa diremehkan. Tidak tahukah Jongin jika Kyungsoo sedang berusaha mengerjakan soal matematika dengan benar? Hingga saat itu Kyungsoo mengatakan pada wali kelas bahwa dia ingin pindah kelas tapi tentu saja ia tidak mengatakan alasan yang sebenarnya bahwa Kyungsoo ingin menghindari Kim Jongin. Namun usahanya pindah kelas justru bukan tindakan yang tepat karena entah bagaimana caranya satu minggu setelah Kyungsoo terbebas dari Jongin, Jongin pun berada dikelas yang sama lagi dengan Kyungsoo.
Lalu ketika masuk universitas, satu-satunya harapan untuk terbebas dari Jongin tidak pernah berhasil. Karena Jongin juga masuk di universitas yang sama dan entah bagaimana mereka juga masuk fakultas yang sama.
Dan hari-hari Kyungsoo semakin suram karena Jongin. Sikapnya masih tidak pernah berubah hingga sekarang. Dan Kyungsoo dapat menarik kesimpulan bahwa; Kim Jongin ingin menghancurkan mimpinya. Karena setiap Kyungsoo memilih jurusan dan kegiatan lainnya Jongin selalu menghancurkannya, Jongin selalu mengikutinya. Bahkan ketika Kyungsoo berencana pindah, Jongin pun melakukan hal yang sama. Bagaimana bisa orangtua Kyungsoo menjodohkannya dengan laki-laki yang akan menghancurkan mimpinya?
Kenangan masa lalu yang berputar di kepalanya membuat emosi Kyungsoo kembali meluap. Ia sungguh tidak ingin mengingatnya. Jongin adalah lelaki yang sangat di bencinya dan sampai kapanpun Kyungsoo tidak pernah ingin memaafkannya.
Kyungsoo memejamkan matanya perlahan. Mungkin dengan tidur sebentar selama perjalanan akan membuatnya sedikit tenang. Kyungsoo kembali membuka matanya ketika merasakan seseorang duduk disampingnya. Dia segera menggeser duduknya, Kyungsoo ingin protes tapi ia terlalu malas untuk mengeluarkan suaranya demi menyuruh orang itu untuk pindah hingga akhirnya Kyungsoo hanya diam dan mengalihkan pandangannya menatap jalanan.
"Maafkan aku."
Kyungsoo tidak berminat untuk sekedar mendengar suara yang membuatnya jengkel. Kyungsoo tidak peduli dan Kyungsoo tidak ingin bicara saat ini pada siapapun apalagi pada orang yang sedang duduk di sampingnya.
"Kyungsoo."
Kyungsoo segera menepis tangan Jongin yang menyentuh bahunya. Tak lama setelahnya, Kyungsoo tersentak ketika Jongin membalikan tubuhnya agar menghadap pada Jongin.
"Dengarkan aku, Kyungsoo!" Jongin mencengkram bahu Kyungsoo dengan erat agar gadis itu tidak lagi menghindarinya. Matanya menatap Kyungsoo dengan lekat.
"Lepaskan, Kim Jongin!"
Kyungsoo berusaha untuk melepaskan cengkraman Jongin di bahunya tapi itu percuma saja, Jongin mencengkramnya dengan sangat kuat. Kyungsoo mencoba untuk menghindari tatapan Jongin. Pandangannya sudah mulai buram, ia tidak mau menangis dihadapan Jongin.
"Tatap mataku, Kyungsoo."
Suara Jongin mulai melembut. Ia menyentuh dagu Kyungsoo agar gadis itu menatapnya namun, lagi-lagi Kyungsoo menepisnya. Jongin mendesah ketika Kyungsoo kembali menolaknya.
"Tolong Kyungsoo, mengertilah." Jongin masih menatap Kyungsoo yang diam. Perlahan ia melepaskan cengkramannya dari bahu Kyungsoo.
"Aku akan diam, kau harus ingat. Jangan lagi membuat teman-temanmu mengkhawatirkan mu."
Jongin melihat Kyungsoo yang kembali menjauh itu kembali memalingkan wajahnya menatap jalanan. Dan tanpa Jongin sadari, air mata Kyungsoo menetes membanjiri pipinya.
(***)
Mereka sudah sampai di penginapan yang telah disediakan oleh pihak kampus. Setelah Chanyeol, sang ketua membagikan kamar masing-masing semua mulai membereskan barang-barang yang dibawa.
Jongin menyeret kopernya menuju kamarnya diikuti oleh Chanyeol yang kebetulan teman sekamarnya. Wajah Kyungsoo tadi masih terbayang-bayang jelas di benaknya. Matanya yang bengkak dan hidung yang merah. Jongin tidak bodoh, ia tahu Kyungsoo menangis sepanjang perjalanan tadi. Jongin mengacak rambutnya. Rasa penyesalan semakain menyelimuti hatinya, begitu banyak penyesalan-penyesalannya.
Chanyeol yang melihat tingkah aneh Jongin membuat mulutnya terasa gatal jika tidak bertanya.
"Kenapa, Kim?"
Chanyeol melirik Jongin yang sedang membereskan perlengkapannya. Ia masih menunggu penjelasan Jongin, ya walaupun Chanyeol tahu pasti karena Kyungsoo tapi Chanyeol ingin mendengar penjelasan lebih detail dari Jongin. Tadi Chanyeol duduk di belakang Jongin, ia mendengar perdebatan kecil mereka. Chanyeol juga tahu, Jongin dan Kyungsoo memang tidak pernah akur walaupum sekarang ini status hubungan mereka adalah tunangan. Ini bukan sekali dua kali Chanyeol melihat Jongin yang tampak resah layaknya seorang pencuri, tapi Chanyeol sering melihatnya seperti ini. Terkadang Chanyeol juga merasa kasihan melihatnya. Jongin memang payah dalam urusan hal percintaan.
Chanyeol kembali berkata "Minta maaflah padanya." ia kembali memasukan baju kedalam lemari. Ia mendengar helaan napas frustasi dari Jongin.
"Jangan menjadi pengecut." Chanyeol kembali melirik Jongin yang kini terdiam.
"Jangan bertingkah seperi orang bodoh."
Chanyeol hendak kembali membuka mulut namun ia segera mengatupkan mulutnya ketika melihat tatapan jengkel dari Jongin seolah menyuruhnya untuk diam.
Chanyeol melihat Jongin yang tiba-tiba berdiri dan meninggalkan kamarnya.
"Kau mau kemana?" Chanyeol berteriak namun Jongin tak menjawabnya dan mengelos keluar kamar.
"Sebenarnya hari ini hari apa? Kenapa orang-orang menjadi tidak jelas seperti ini." gumam Chanyeol entah pada siapa.
(***)
Sebenarnya Jongin tidak tahu tujuannya keluar kamar untuk apa. Telinganya seakan panas mendengar ocehan Chanyeol. Jongin tahu jika lelaki itu peduli padanya tapi untuk sekarang, Jongin sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Untunglah kegiatan dimulai besok pagi.
Jongin memutuskan untuk mengambil minum didapur. Pikirannya sedang kacau. Jongin benar-benar tidak bisa mengontrol diri. Ia menyesal telah membuat Kyungsoo menangis.
Setelah menegak habis air putih, Jongin segera kembali namu ia terkejut ketika hampir menabrak tubuh Kyungsoo yang juga hendak kedapur. Jongin merasakan bahwa Kyungsoo juga terkejut namun tak lama karena Kyungsoo kembali pada sikap awalnya. Gadis itu bahkan mendelik kearahnya masih tidak ingin menatapnya. Tidak tahan dengan sikap Kyungsoo yang seperti ini, Jongin segera meraih lengan Kyungsoo yang hendak berbalik.
"Apalagi, Kim Jongin?!" suara bentakan dari mulut gadis itu membuat Jongin terkejut.
"Kita harus bicara, Kyungsoo." Jongin menarik lengan Kyungsoo dengan kasar namun gadis itu menahannya. Matanya yang bengkak dan merah menatap Jongin dengan tajam.
"Bicaralah!"
"Tidak disini, aku tidak ingin yang lain mendengarnya."
Kyungsoo berdecih. Ia tersenyum sinis pada Jongin. Lucu sekali lelaki ini. Tidak ingin yang lain mendengarnya padahal tadi Jongin sudah mempermalukannya depan teman-temannya.
"Bukankah tadi kau membiarkan yang lain mendengarnya? Mengatakan bahwa aku ini ceroboh? Gadis tak beguna? Bukankah itu yang kau mau, Jongin? Mempermalukanku didepan banyak orang?!"
Kyungsoo merasakan kembali emosinya membuncah. Kilat kebencian begitu jelas dimata Kyungsoo. Ketika melihat perubahan wajah Jongin, Kyungsoo merasa muak melihatnya. Kenapa ia harus satu kelompok lagi dengan laki-laki ini dan selama dua minggu dia harus bertatap muka dengan wajah laki-laki ini.
"Karena aku sangat–"
"Cukup, Jongin! Aku tidak mau lagi mendengarmu!" Kyungsoo berhasil melepaskan tangannya dari Jongin. Ia hendak melangkah menuju kamarnya.
Tiba-tiba Jongin kembali menarik lengannya hingga wajahnya dengan wajah Jongin berjarak sangat dekat. Kyungsoo tersentak ketika merasakan bibir Jongin menyentuh bibirnya. Matanya melebar ketika Jongin mengecap bibirnya dengan lembut. Kyungsoo mencoba mendorong Jongin agar menjauh namun sia-sia.
(***)
Entah keberanian dari mana Jongin melakukan hal yang sangat gegabah. Ia merutuki dirinya sendiri. Jongin seperti pria brengsek, iya dia memang brengsek. Mencium seorang gadis yang sedang marah padanya. Itu hal paling bodoh yang pernah dilakukan.
Dengan perlahan Jongin melepaskan tautan bibirnya. Ia sudah memejamkan mata dan siap menerima tamparan dari Kyungsoo. Namun setelah menunggu beberapa saat tak ada sesuatu yang mendarat di pipinya. Jongin membuka mata dengan perlahan ia melihat Kyungsoo yang sudah penuh dengan air mata. Kilatan emosi begitu terlihat jelas di matanya. Ketika Jongin hendak membuka mulut sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Jongin memegang pipi kirinya yang ditampar dengan begitu keras oleh Kyungsoo. Ya, dia memang pantas menerimanya.
"Brengsek! Aku membencimu, Kim Jongin! Aku membencimu!"
Setelah itu Jongin hanya bisa menatap punggung Kyungsoo yang berlari ke luar. Lagi-lagi dia membuat kesalahan.
(***)
Kyungsoo menangis dengan keras ketika dirinya berlari tidak jauh dari tempat penginapan. Entah sudah berama lama ia menangis karena perlakuan Jongin kepadanya. Rasanya ingin berhenti namun air mata sialan ini terus saja mengalir tanpa diminta.
Ia tak habis pikir jika Jongin akan melakukan hal bodoh yang membuatnya muak seperti tadi. Menciumnya dengan paksa! Kyungsoo sungguh membenci ini!
Kyungsoo masih tidak bisa menahan isakkannya. Ia ingin kembali ke penginapan namun tak ingin teman-temannya melihatnya dengan keadaan seperti ini. Matanya yang sudah sebesar bola ping pong, hidungnya yang sudah merah akan membuat mereka mengira yang tidak-tidak.
Lagi, Kyungsoo tersentak ketika sebuah tangan melingkar di perutnya dan itu membuat kepalanya bersandar di dada seseorang. Dari wangi parfumnya Kyungsoo sudah tahu siapa yang memeluknya. Kyungsoo mencoba melepaskan diri namun tangan itu semakin mengeratkan pelukannya. Ia bisa merasakan sesuatu menekan puncak kepalanya.
"Maafkan aku, Kyungsoo." suaranya terdengar begitu lembut. Kyungsoo tidak bisa berbuat apa-apa ketika puncak kepalanya di hunjami ciumam lembut.
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah berbuat lancang."
Kyungsoo menggigit bibirnya berusaha untuk menahan isakannya. Kyungsoo sudah benar-benar lelah menangis hampir seharian ini. Ia sedang tidak ingin adu mulut dengan Jongin tapi nyatanya lelaki itu masih saja menyulut emosinya.
"Kyungsoo, kau tahu kenapa aku sangat marah padamu saat kau datang terlambat?" Jongin menghela napas pelan suaranya masih terdengar lembut di telinga Kyungsoo. Ini untuk pertama kalinya Kyungsoo mendengar Jongin berbicara lembut padanya. Dan untuk pertama kalinya Kyungsoo memperlihatkan sisi lemahnya pada Jongin.
Perlahan tangan yang tadinya memeluknya erat kini melonggar. Jongin memutar tubuh Kyungsoo dengan lembut agar mereka berhadapan. Mata lelaki itu menatap Kyungsoo dengan begitu lembut.
"Karena aku sangat mengkhawatirkan mu." katanya kemudian dan setelah itu Jongin membawa Kyungsoo kedalam pelukannya. Ia bersungguh-sungguh mengatakannya. Jongin berjanji tidak akan membuat Kyungsoo menangis lagi karenanya.
Tangis Kyungsoo mereda, namun isakannya masih terdengar. Ia sudah lelah, matanya tiba-tiba terpejam dan entah kenapa rasa nyaman yang belum pernah Kyungsoo rasakan mulai menjalar di hatinya selagi matanya benar-benar terpejam.
(***)
