| RAIN |
Disclaimer : all characters that's Masashi Kisimoto own
Genre : romance/drama
Rate : Mature
Chapter 4
| THE SECRET |
Maafkan untuk segala bentuk typo ataupun kesalahan lainnya.
Saya akan sangat senang dan mengghargai jika kalian berkenan memfollow, mereview dan memvote jika kalian menikmati setiap cerita yang saya tulis.
Terima kasih..
SELAMAT MEMBACA
A STORY BY HEXE
Sang Nanadaime Hokage terdiam, mengabaikan kepulan asap serta aroma kuah kental penuh lemak dari makanan favorinya; ramen. Hatinya diselimuti rasa gelisah, beberapa waktu yang lalu dirinya dengan tidak tahu malu mengikuti Sasuke setelah pria Uchiha itu melaporkan misi padanya.
Sasuke mengunjungi mansion Hyuuga.
Naruto terkejut akan hal itu. tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika sahabatnya itu memiliki hubungan khusus dengan sang ketua klan. Ternyata permintaan Hinata tempo lalu mengenai pengawalannya ke desa Sunagakure memiliki alasan tersendiri. Sekarang Naruto bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua.
Naruto merasa kecewa.
Ada satu goresan luka yang ia rasakan, hatinya sakit dan dadanya terasa sesak saat melihat keintiman mereka berdua di bawah pohon. Naruto bisa merasakan chakra tenang dan damai yang menguar dari tubuh Sasuke kala pria Uchiha itu berdekatan dan bersentuhan dengan Hinata.
Sasuke begitu tenang dan nyaman bersama wanita Hyuuga itu.
Dan hal itu membuat sisi lain dari Naruto tidak menyukainya, Nanadaime Hogake merasakan perasaan iri yang luar biasa.
"Nanadaime-sama, apakah ramennya tidak enak?"
Sang Hokage tersentak, mendengar penuturan Ayame yang kini sedang memandang khawatir ke arah dirinya.
"Ah, Ahahaha. Tidak kok, ini sangat enak."
Bohong.
Naruto bahkan belum mencicipi makanan berkuah itu.
Ayame tampak mengelus dadanya, merasa lega karena ternyata dugaannya salah. Namun tetap saja, dirinya merasa khawatir karena sang Hogake terlihat melamun dengan raut wajahnya yang menyendu.
Naruto segera menolehkan kepala kuningnya kala merasakan chakra yang familiar dibelakang tubuhnya. Safirnya membulat untuk beberapa detik,
"Oh, Sasuke."
"Hn ..."
Sasuke memesan satu mangkuk ramen dan mendudukan dirinya disebelah Naruto. Tidak ada seorangpun dari mereka berdua yang membuka percakapan, suasana terasa canggung, Ayame yang melihat kedua pria terkuat di Konoha itu saling berdiam diri hanya menatap heran. Biasanya keduanya akan terlibat adu mulut dan cekcok meski tentang masalah sepele.
Tapi sekarang keduanya terdiam seperti asing satu sama lain. Sasuke membuang napasnya kasar, merasa aneh karena sahabat kuningnya berdiam diri.
"Aku menyukai Hinata, Naruto."
Tubuh Naruto menegang, pengakuan Sasuke dengan suara rendah itu menusuk dirinya dengan tiba-tiba. Untuk pertama kalinya Naruto merasakan dirinya ingin menghempaskan pria raven itu dengan rasengannya.
Tidak!
Naruto tidak menginginkan hal ini.
"Tapi Sakura-chan mencintaimu ..."
Dada Naruto bergemuruh, bukankah ini adalah kesempatan untuknya? Mengingat dirinya menaruh perasaan khusus pada teman se-timnya itu. Naruto begitu memuja dan mengejar si gadis musim semi sejak mereka di bangku genin. Tapi mengapa dia tidak merasakan perasaan senang barang sedikitpun?
Apa ini karena dirinya mulai tertarik dan menaruh hati pada si ketua klan Hyuuga? Menaruh hati pada gadis yang sebenarnya sudah ia abaikan perasaan cintanya yang tulus dan jernih bagai air.
'Kau mencintainya, bocah.'
Naruto menggeram dalam hati, mendengar perkataan Kurama didalam tubuhnya. Siluman rubah itu memang benar, dan Naruto mengakui hal itu.
Bahwa dirinya jatuh cinta pada Hinata.
"Aku sudah berbicara dengan Sakura."
Kedua safir Naruto membola, bagaimana mungkin Sasuke berbicara mengenai hal ini pada Sakura? Tidakkah dia memikirkan perasaan Sakura? Naruto mengepalkan kedua tangannya.
"Apa yang Sakura-chan katakan?"
Sasuke menghela napas, "Tidak ada."
Naruto mendengus, merasa jawaban yang diberikan Sasuke bukanlah kebenaran yang sesungguhnya.
"Sasuke, mengapa kau mengatakan semua ini padaku?"
Si pemilik sharingan itu terdiam untuk beberapa saat. Jika dipikirkan kembali, untuk apa dirinya mendeklarasikan bahwa ia menyukai dan menaruh perasaan istimewa terhadap Hinata? Apakah ini karena dirinya menyadari saat Naruto mengikutinya ke mansion Hyuuga beberapa waktu lalu? Atau karena dirinya merasakan chakra kemarahan yang menguar dari sang Nanadaime Hokage kala dirinya melakukan kontak fisik dan berpelukan dengan Hinata?
Sasuke tidak tahu dengan pasti.
Keturunan Uchiha terakhir itu tidak mengetahui dengan pasti apa yang menjadi alasan dirinya memberitahu sahabat dungunya mengenai perasaannya pada Hinata. Tapi sisi lain dari dirinya memaksa jika Naruto harus mengetahui tentang semua ini. Mengingat si pirang adalah pria yang dicintai oleh Hinata selama bertahun-tahun.
Sasuke merasa waspada, hanya itu.
"Naruto, aku mencintai Hinata dan aku berniat menikahinya secepat mungkin."
Tubuh Naruto menegang untuk kedua kalinya, Sasuke merasakan aliran chakra yang mulai tidak beraturan menguar dari sahabatnya itu mulai waspada.
"Tapi Hinata mencintaiku, Sasuke."
Akhirnya, ketakutan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh Sasuke terjadi juga, bahwa Naruto bukanlah pria bodoh yang tidak menyadari perasaan Hinata padanya. Si pirang itu mengetahui semuanya.
Dengan penuh tekanan Sasuke berkata,
"Aku tahu itu, tapi aku akan membuat Hinata berbalik mencintaiku."
Detik berikutnya, Naruto kembali sendiri. Ramen yang dipesan Sasuke tidak tersentuh sedikitpun, asap yang sebelumnya mengepul kini menghilang. Begitu juga dengan Sasuke, pria Uchiha itu menghilang setelah mengutarakan kesungguhan hatinya terhadap hubungannya dengan Hinata.
'Apa yang akan kau lakukan, Naruto?'
Kurama yang melihat dan menyaksikan perbincangannya dengan Sasuke kembali bebicara. Naruto meremas dadanya, merasakan denyutan yang menyesakkan setelah mendengar semua kebenaran yang utarakan Sasuke padanya.
"Hinata mencintaiku, Kurama. Dia akan tetap mencintaiku."
R A I N
Keesokan harinya, Hinata terbangun dengan perasaan sehangat mentari yang menerpa wajahnya pagi ini. Wanita Hyuuga itu bangun dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Satu ketukan terdengar di pintu shoji. Dengan suara serak khas bangun tidur, Hinata berseru dan menyuruh pelayan itu untuk memasuki ruang kamarnya.
"Ohayou, Hinata nee-sama."
Suara lembut Hyuuga Hanabi membuat si pemilik surai indigo itu sedikit terperanjat, salah mengira dengan seseorang yang mengetuk pintu kamarnya di pagi hari ini. Biasanya, pelayan pribadinya yang akan mendatangi kamarnya dan untuk menyipkan segala kebutuhannya. Seperti air hangat untuk mandi, kimono, dan juga untuk menata rambutnya yang panjang dan tebal.
Hinata selalu menerima pelayanan semenjak dirinya dilahirkan. Dan sekarang pelayanan itu masih ia dapatkan, apalagi statusnya yang menjadi ketua klan membuat hal itu semakin bertambah saja.
"Ohayou mo, Hanabi-chan."
Satu ulasan senyum manis Hanabi dapatkan dari sosok yang disayangi dan dihormatinya, dengan langkah pelan, gadis berambut cokelat itu mendekat dan duduk bersimpuh disamping futon.
"Aku ingin meminta maaf atas kelancanganku tadi malam, nee-sama. Karena telah mengintip nee-sama dengan Uchiha-san."
Hanabi meremas kimono yang dikenakannya, kepalanya ia tundukan karena merasa malu.
"Tidak apa, Hanabi-chan. Aku tidak akan marah tentang hal itu."
Hanabi mengangkat kepalanya lalu memabalas senyuman Hinata dengan sama lembutnya. Gadis itu merogohkan tangan kedalam saku kimononya dan mengeluarkan sebuah benda yang semalam ingin ia berikan pada Hinata.
Hinata menerima pahatan kayu berbentuk burung elang itu dengan kedua tangannya, satu lirikan ia beri bermaksud untuk meminta apa yang sebenarnya ingin Hanabi sampaikan.
"Aku mengukirnya sendiri, neee-sama. Aku harap nee-sama mau menerimanya."
Hinata mengelus sebelah pipi Hanabi, "Mengapa harus burung elang?"
Pertanyaan itu sontak saja membuat Hanabi melirik-lirikan matanya,
"Um, karena aku ingin ada seorang pria yang seperti burung elang untuk menemani nee-sama. Karena burung elang itu adalah-"
"Apakah Uchiha-san terlihat seperti burung elang?"
"Eh?"
Hanabi mengerutkan kedua alisnya mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Hinata. Sang heiress yang melihat kerutan bingung terlukis dari wajah adiknya hanya tertawa dengan pelan.
"Ne, Hanabi -chan. Bagaimana menurutmu tentang Uchiha-san?"
Kedua kelopak itu mengedip dua kali, Hanabi tidak pernah menduga jika sang Kakak akan menanyakan hal ini padanya.
"Apa nee-sama menyukai Uchiha-san?"
Hanabi malah balik bertanya. Tidak ada jawaban yang terlontar dari bibir tipis milik Hinata, hanya seulas senyum klise dan misterius yang Hanabi dapatkan. Namun, beberapa detik setelahnya, Hinata berkata dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya,
"Aku ingin menjadi bagian dari Uchiha, Hanabi-chan."
.
.
.
Nanadaime Hokage dan para tetua lain duduk bersisian dengan melingkar, siang ini akan diadakan rapat antar ketua klan untuk membahas mengenai pembangunan jembatan yang menghubungkan antara desa Konoha dengan desa kecil, Fuyuyashi.
Semua anggota yang diundang dalam rapat tersebut sudah berkumpul, hanya tinggal menunggu satu anggota lain; ketua klan Hyuuga belum terlihat dan belum tiba.
Sasuke yang berdiri di belakang bagian samping dari kursi yang di duduki oleh Naruto terus memandangi pintu masuk; menunggu kedatangan dari sang ketua klan Hyuuga yang sudah menjadi tambatan hatinya.
Rasa hangat menjalari hati si pemilik sharingan itu kala suara Hinata terdengar mengalun menyusuri seluruh ruangan,
"Maaf atas keterlambatan saya, Hokage-sama."
Hinata tampak membungkukan tubuhnya diambang pintu, diikuti oleh pengawal setianya; Ko, yang mengekor di belakangnya dan ikut membungkukan tubuhnya juga.
Naruto mengangkat satu tangannya sebagai lambaian santai, satu senyuman lebar yang khas ia perlihatkan,
"Tidak apa, Hinata-oujo. Silahkan duduk, aku akan segera memulai rapatnya."
Semua pasang mata melirik ke arah sang Hokage yang kini memasang senyum lembut yang membuat mereka terpana. Hinata kembali menegakkan tubuhnya dengan kedua pipinya yang sudah dihiasi rona merah samar. Sasuke yang melihat rona merah itu mulai menggeram dalam hati; tidak suka.
Hinata mengangguk sekilas kearah Naruto dan memandang pada pria yang kini memandang tajam kearah dirinya, namun tatapan tajam itu tidak berlangsung lama karena Hinata mengulas senyum hangat yang begitu menawan,
"Sasuke-kun ..."
Kini giliran si pemilik surai raven yang menjadi pusat perhatian semua orang, Naruto yang menyaksikan interaksi antara keduanya hanya mengepalkan satu tangan yang berada di sisi tubuhnya.
Dengan rona merah tipis yang bertengger di pipi tirusnya, Sasuke membalas sapaan dari Hinata dengan mengangguk sekilas. Detik berikutnya, pria Uchiha terakhir itu memalingkan wajah; malu. Sasuke merasa malu sekaligus senang karena Hinata tersenyum sangat manis padanya.
Apalagi si ketua klan Hyuuga itu memanggil dirinya dengan 'Sasuke-kun'. Hati Sasuke sedang berpesta ria sekarang.
BERSAMBUNG
