[A/N] Hai! Sori ya late update... orz

Disclaimer: Sherlock Holmes adalah milik Sir Arthur Conan Doyle dan Hunter x Hunter adalah milik Yoshihiro Togashi.

Listening To: Welcome To The Black Parade - My Chemical Romance. Eh katanya MCR mau bubar ya? Yah padahal gue MCRmy... TwT


"Apa? Jadi kau mau bilang kalau ada dua orang pembelot di Genei Ryodan?" tanya Gon masih dengan tampang tidak percaya.

Holmes tidak menjawab, diduga karena ia sedang tenggelam dalam pikirannya.

"Ya, sepertinya begitu," jawabku demi kesopanan.

Tiba-tiba Holmes membelalakkan matanya.

"Aku tahu dimana ia berada. Cepat, sebelum terlambat!"

Kami pun tergopoh-gopoh mengikuti langkah kakinya yang panjang, berlarian di bawah naungan bintang malam.


Tap... tap... tap...

Terdengar suara hak sepatu beradu dengan tanah, bergema ke seluruh ruangan. Wanita bergaun hitam itu memegang handphone kelas atas sambil memencet-mencet keyboard-nya berirama.

Sampailah ia kepada sebuah pintu yang dijaga oleh seorang satpam. Satpam itu pun terpesona oleh kecantikan wanita itu.

"Siapa Anda?" tanya satpam itu.

"Chrollo memintaku ke sini," jawab si wanita sambil tersenyum, sebuah senyuman yang tak bisa dikatakan manis.

Tanpa banyak bicara, satpam itu langsung membukakan pintu untuk wanita itu.

"Terima kasih," kata wanita itu sembari masuk ke dalam ruangan.

Ruangan itu sangat luas. Lampu gantung yang besar bersinar gemerlap tepat di atas meja bundar yang dikelilingi oleh 12 orang.

Ada satu orang yang paling mencolok. Di dahinya terdapat lambang salib terbalik. Orang itu lalu tersenyum pada wanita yang baru saja memasuki ruangan. 11 orang lainnya pun menengok kepada wanita itu. Tak jauh berbeda dengan satpam tadi, mereka semua berdecak kagum melihat wajahnya yang cantik luar biasa, lekuk tubuhnya yang proporsional, serta kakinya yang langsing nan indah.

"Biar kutebak. Chrollo Lucifer?" kata wanita itu pada si salib terbalik yang ternyata memang Chrollo.

Chrollo lalu mengangguk. "Silakan duduk." Chrollo menunjuk kursi yang berseberangan dengan kursinya. Wanita itu lalu duduk. Dengan anggun, tentunya.

"Sekarang Nobunaga sudah terbunuh. Aku membutuhkan orang yang tepat untuk menggantikannya."

"Dan kau tahu akulah yang terbaik."

Chrollo hanya tersenyum.

"Selamat datang di Genei Ryodan..."

"... Irene Adler."


Kami telah sampai di depan rumah Nobunaga. Rumah yang besar, terlalu besar untuk ukuran seorang petugas kepolisian. Catnya berwarna hijau, tapi tidak berpagar. Pintunya pun bergaya Jepang (sebenarnya rumah itu memang rumah bergaya Jepang), jadi dapat digeser dan bukannya ditarik.

"Ini dia," kata Holmes sambil mengokang magnum revolver kesayangannya. "Kau bawa Sig Sauer-mu, Watson?" tanyanya. Aku lalu mengecek kantong celanaku, dan sangat kecewa ketika mengetahui kantongku rata.

"Tentu saja," kata Holmes.

Holmes lalu merogoh saku jubahnya dan melempar sesuatu padaku tanpa menoleh. Secara refleks aku menangkapnya.

"Sig Sauer-ku!" kataku spontan. Holmes lalu meletakkan jari telunjuknya yang kurus di depan mulutnya dan mendesis. Aku pun memutar bola mataku.

Ia lalu mencoba membuka pintu rumah Misizawa. Pintunya terkunci.

"Ayo Watson, bantu aku mendobraknya," katanya sambil menggerakkan kepala sebagai isyarat untukku agar segera datang. Aku lalu menghampirinya.

"Satu..."

"... Dua..."

"... Tiga!"

BRAKK!

Pintu itu terbuka.

Pemandangan pertama yang dapat kami lihat adalah mayat Nobunaga.

Tapi janggal sekali.

Segalanya terasa sangat rapi.

Tidak ada darah sedikit pun.

Ruangan tidak berantakan.

Satu-satunya hal yang dapat kami dengar adalah semilir angin di luar jendela.

Bukan... Ini bukan sekedar rapi...

Ini terorganisir!

Aku nyaris berteriak ketika Holmes mendahuluiku.

"VATICAN CAMEOS!"

Aku dan Holmes pun merunduk. Gon, Killua, Kurapika, dan Leorio yang tak tahu apa-apa, hanya bisa diam dan menirukan gerakan kami.

PYAAR!

Kaca jendela di sampingku pecah ditembus peluru.

Kling.. kling...

Peluru itu berbunyi nyaring saat beradu dengan tanah.

Holmes menarik napas lega setelah mendengar suara peluru beradu dengan lantai.

Karena jika tidak beradu dengan lantai,

Peluru itu pasti sudah bersarang di bagian tubuh manusia.

"Tetaplah merunduk, kita tak pernah tahu kalau akan ada serangan yang berikutnya," perintah Holmes. Ia lalu mendekati mayat Nobunaga secara berhati-hati dan mencoba menyentuhnya.

PYAR!

Lagi-lagi suara kaca jendela pecah karena peluru.

"Sial! Kita terjebak di sini!" kata Holmes.

"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Gon.

Holmes lalu berpikir keras.

Tiba-tiba handphone-ku bergetar tanda aku mendapat SMS baru. Aku lalu membaca SMS itu.

Dari: Nomor tak dikenal

15 menit sudah berlalu.

Katakan pada temanmu itu, sudah saatnya bersikap jantan.

SM

"Holmes..." bisikku pelan sambil melempar handphone-ku ke arahnya. Holmes pun menangkap handphone-ku dan melihat SMS dari Moran. Ia lalu melempar balik handphone-ku. Bedanya, lebih emosional. Rupanya Ia telah mengirim sebuah SMS untuk membalas ejekan Moran

Untuk: Nomor tak dikenal

Kau mau tindakan jantan?

Makan ini.

SH

"Apa-apaan...?" kataku tak percaya. "Kita akan bergerak menuju pintu belakang," kata Holmes sambil menunjuk sebuah pintu di belakang dapur, "Dalam satu, dua,"

"tiga."

Kami berenam berlari menuju pintu belakang. Anehnya, tiada tembakan menyasar pada kami. Kami pun bisa dengan cepat keluar dari rumah Nobunaga.

"Baiklah. Ada yang terluka?" tanya Holmes.

Killua mengangkat tangan. Kami semua menengok padanya. Ia sudah dalam keadaan bersimpuh sambil memegangi perutnya.

"Killua!" kata Gon sambil mencoba mendekati Killua.

Killua hanya meringis, lalu ia tak sadarkan diri.


Killua mencoba membuka mata sedikit demi sedikit. Cahaya lampu neon langsung menyerbu memasuki pupil Killua, seolah menyambut kedatangannya setelah koma. Seketika saja Killua merasakan nyeri di lambungnya. Secara refleks ia meraba bagian perutnya yang sakit.

Gon, Kurapika, Leorio, dan Holmes, dan aku yang sudah mulai putus asa menunggu sadarnya Killua pun bangkit lagi semangatnya. "Killua!" kata Gon sambil tersenyum lebar melihat sahabatnya itu telah sadar. Killua pun menengok ke arah kami. "Apa yang terjadi?" tanya Killua.

"Kita sedang berada di rumah sakit. Kau tertembak di lambung. Semalam kau dioperasi. Kau baru bisa meninggalkan rumah sakit seminggu lagi," jelas Kurapika.

Killua pun mengangguk. "Lanjutkanlah penyelidikan tanpaku."

"Baiklah, jika itu maumu," jawab Gon.

"Kita harus pergi sekarang," kata Holmes. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Killua, kami pun keluar dari kamar.

"Bagaimana caranya? Kita hanya bergerak sedikit, ia menembak. Tapi saat kita kabur, ia diam saja! Aneh!" kataku setelah keluar dari kamar Killua.

"Aku baru bisa memutuskan saat aku tahu bahwa yang menembaki kita tadi adalah Moran. Ia adalah penembak jitu. Saat kita bergerak perlahan, dia masih bisa menembak. Tapi tidak jika kita berlari tak beraturan. Mengapa? Karena senapan penembak jitu tidak memiliki fungsi otomatis. Malah, senapan penembak jitu dilarang untuk memiliki fungsi otomatis, karena penembak jitu selalu berprinsip 'One shoot, one death'. Jika memberondong tembakan, maka posisi dapat dengan mudah diketahui musuh," jelas Holmes.

Kami berempat pun mengangguk-angguk tanda mengerti.

Holmes lalu memeriksa handphone-nya. Mungkin ia merasakan handphone-nya bergetar.

Ia lalu membaca SMS tersebut.

Ia terlihat sangat terguncang.

"Ada apa, Holmes?" tanyaku. Ia lalu menyerahkan handphone-nya padaku.

Dari: Nomor tak dikenal

Tindakan yang pintar.

Sebagai hadiah untuk tindakanmu itu, aku akan memberimu informasi:

Irene Adler telah bergabung dengan Genei Ryodan.

SM


The game gets personal when The Dominatrix joins in...


[A/N] Ada yang nggak tau fungsi otomatis ya? oke, gue jelasin.

Otomatis itu, sekali pelatuk kita tarik, terus kita tahan terus, senjata itu bakal terus nembakin peluru. Nah biasanya kalo di senjata sniper itu adanya semi-otomatis, sama kayak otomatis, tapi cuma nembakin 3 peluru.