Prewarning: contained some mature scenes, curse, and an unnecesarilly-explained-ever imagination.
.
.
MJ PROJECT
"LUCIDSCAPE"
Starring: MarkJin.
-Chapter 4 Part A-
Italic for conversation in lucid dream.
.
.
Sial!
Jinyoung terjaga.
Keringatnya membasahi kening dan nafasnya sedikit tersengal. Well, zona black out memang melelahkan dan terkadang lebih banyak mengambil energi.
Kepalanya agak sakit dan ini bukan yang pertama. Sudah ratusan kalinya dan Jinyoung tidak lagi bisa menemukan kehidupannya yang normal.
Aku ingin keluar Jackson.
Aku ingin menghentikan semua ini.
Secara harfiah, katakanlah dia yang menginginkan ini. Namun tidak ada yang menyangka kalau dirinya akan dihadapkan dengan situasi yang sulit karna selalu mendengar suara itu. Suara Mark yang memanggilnya.
Mark.
Setidaknya kini nama itu terasa asing karna tidak ada lagi orang yang menyebut namanya. Tidak ada lagi Mark, tidak ada lagi dream sharing dan yang paling membuat Jinyoung tidak menyangka adalah dia akan merindukan pintu mimpinya. Padang rumput dengan kunang-kunang. Kini dia hanya bisa terpaku pada zona blackout yang menyebalkan.
"Bermimpi lagi Jin?"
"Ah ya, apa aku membangunkanmu?"
"Tidak. Aku pikir kau butuh ruang konsultasi untuk sebuah panic-disorder sydrome"
"Tidak lucu Jimin-ah dan darimana saja kau hari ini?"
"Aku pergi dengan Taehyun menonton konser. Sepertinya anak itu terlalu banyak berimajinasi tentang artis-artis korea"
Jinyoung tertawa "Setidaknya sepupumu itu normal. Tidak seperti kau"
"Aku? Kenapa denganku?"
"Aku tidak mau membahasnya. Percuma saja, pada akhirnya hanya aku yang akan merasa kesal"
"Apa roommate-mu yang dulu tidak sepertiku? Kau tampak kaku sekali. Kutebak pasti kau pindah karna kau dibully oleh mereka"
"Tidak dan kenapa aku harus membahasnya denganmu?"
"Lihat? Aku tidak menyangka kalau kau bahkan memiliki kekasih"
"Selamat malam kalau begitu Jimin-ah"
Ah ya Suji.
Jinyoung tidak pernah menyangka mungkin Suji adalah gadis terakhir untuknya dan malam saat dia mengatakan semuanya, dia tidak pernah menyangka kalau dia tidak akan menyesalinya sampai hari ini.
.
.
.
Seoul, few months ago..
"Jin, kau yakin? Jika kau melepaskan pintu mimpimu, kau hanya akan bisa melewati zona blackout tanpa mendapatkan apapun. Kau ingat bukan? Saat kau menolong Mark. Kau hanya mampu mencapai zona itu. Zona diantara pintu mimpi dan blackout yang artinya kau tidak akan bisa bermimpi lagi."
"Aku mengerti Jackson."
"Dan bukankah kau dan Mark sudah bersama?"
"Ya dan aku tidak ingin semua itu berlangsung selamanya karna aku menerima perasaannya saat aku tengah mabuk dan tidak bisa berfikir jernih"
"Agaknya aku mulai memahami semua ini"
"Hmm? Apa itu?"
"Kau hanya tidak bisa mengakuinya bukan?"
"Uhm tentang?"
"Tentang perasaanmu. Kau hanya tidak bisa mengakui kalau semua yang diberikan Mark membuatmu merasa nyaman"
"Jackson please.."
"Baiklah, kapan kau akan melakukannya?"
"Setelah aku menyelesaikan dua hal"
.
.
.
Malam itu hujan deras. Jinyoung sudah basah kuyup menunggu di depan pintu asrama wanita saat yang dia tunggu datang. Gadis itu tidak lagi tersenyum dan Jinyoung paham sekali. Dia berhak mendapatkan sebuah pukulan, setidaknya setelah Suji melihatnya berciuman dengan Mark di lorong asrama. Jinyoung tidak pernah tahu jika Suji akan begitu memikirkannya dan membuatkannya sebuah kue. Setidaknya begitu yang dikatakan sabahat Suji, Fei. Fei berkata banyak hingga sebenarnya kebanyakan yang dikatakan Fei hanya ada di pikiran Suji semata. Dia sungguh tidak pernah berkata apapun pada siapapun tentang hubungannya dengan Mark.
Gadis itu berjalan dengan malas ke arahnya. Jinyoung menarik nafas panjang dan hatinya mendadak kelu. Entah karena dia gelisah kalau Suji akan mengamuk atau karena Jinyoung tidak menyangka dirinya begitu siap dengan amukan Suji.
"Ada apa Jinyoung-ssi?"
Semua lelaki bilang begitu. Wanita jika marah tidak akan lagi memanggilmu Oppa meski hati mereka berkebalikan. Jinyoung tersenyum.
"Suji-ya, bisa bicara sebentar?"
"Aku sudah bilang bukan? Kita berakhir. Aku tidak bisa menjadi sebuah status untukmu Oppa lalu kau bisa seenaknya berhubungan dengan orang lain. Lelaki lain."
Jinyoung memejamkan matanya. Betapa ucapan itu menusuknya. Faktanya, Mark bukan lagi lelaki lain sekarang dan kedatangannya kesini untuk memperjelas semuanya.
"Well, karna itu aku datang. Aku ingin meminta maaf"
"Karna apa? Kau akan memperjelas kalau semua itu benar?"
"Jika maksudmu, aku menjadikanmu status tentu saja salah Suji-ya dan hentikan imajinasimu yang berlebihan itu. Kau hanya akan merusak otakmu dan otak Fei. Aku dan Mark.."
"Dan sekarang kau menyebut namanya"
"Ya karena kau harus tahu perjuanganku untuk membiasakan diri menyebut namanya di depanmu. Semua ini bukan keinginanku." Ucap Jinyoung sedikit lebih keras karena tentu saja atas apapun yang terjadi, Suji tidak akan bisa mengerti perasaannya. Tidak akan pernah. Apalagi untuk hubungan seperti ini. Seperti ini.
"Tapi pada akhirnya kau memilih orang itu"
"Aku tidak memilihnya Suji-ya, aku hanya.."
Hanya apa Jin?
Hanya menikmati semua sentuhannya dengan harapan Mark tidak memerlukan status hubungan kalian?
Jinyoung diam dan saat itu seolah Suji sudah menang karena dia bisa membuat Jinyoung terlilit ucapannya sendiri.
"Suji-ya. Maafkan aku, sudah menyakitimu dan aku tahu semua kata-kataku tidak akan bisa membantumu tapi.."
"Aku mengerti Oppa. Pergilah. Sejujurnya, aku kasihan padamu karena kau begitu terjerumus dengan mimpimu yang aneh. Kau tidak mendengar kata-kataku dan kini, kau meninggalkan aku karena kau begitu nyaman dan tenggelam pada sesuatu yang salah"
"Ya, dan jangan khawatir. Aku akan meninggalkan semua kenyamanan itu. Selamat malam Suji-ya dan terima kasih"
Jinyoung benar. Suji tidak akan pernah mengerti.
.
.
Jinyoung termenung sendirian. Mungkin pikirannya begitu kacau hingga dia merasa aneh karena entah mengapa hatinya terasa lega. Bicara dengan Suji adalah hal yang mendadak menjadi sebuah sumber stress karena tentu Suji akan menatapnya dengan penuh jijik dan ternyata semua salah. Ada beberapa hal yang membuat Jinyoung ingin tersenyum ketika Suji justru mengkhawatirkannya, mengasihaninya meski juga Suji membayangkan hubungannya dan Mark begitu menjijikkan seperti kebanyakan orang. Well, semua ini akan menjadi semakin aneh jika Suji begitu saja mendukungnya.
"Hei, sudah malam" bisiknya lembut. Jinyoung tersenyum.
Lelaki yang berdiri di belakangnya kini beralih duduk di samping Jinyoung. Rambutnya sedikit basah. Seperti sudah kehujanan sejak tadi.
"Kau menungguku?" tanya Jinyoung tanpa melepaskan tatapannya pada Mark.
"Sepertinya kau kehujanan. Aku melihatmu berdiri di depan asrama wanita"
Mark tidak menjawab langsung dan seperti biasa, sebaliknya lelaki itu menanyakan hal lain yang seharusnya juga ditanyakan Jinyoung dan Jinyoung tahu Mark berbohong. Tentu saja Mark akan mengikutinya kemanapun, mungkin juga dia mendengar semua pembicaraannya dengan Suji dan Jinyoung terkadang tidak peduli dengan hal itu. Mark tidak akan berani datang dan menyela semua waktunya jika bukan di dalam mimpi.
"Ya, apa kau juga mendengar obrolanku dengan Suji?"
"Tidak. Youngjae mencariku"
"Hmm? Dia tidak sedang bersama JaeBum?"
"Mereka sedang bertengkar kurasa karena itu YoungJae memintaku untuk menemaninya dan sekarang.."
Mark tersenyum penuh arti sambil menarik lengan Jinyoung. Lelaki itu terbangun dari duduknya dan begitu saja terhempas ke atas ranjang.
"Sekarang giliranmu menemaniku tidur"
"Sekarang? Kau tidak tampak mengantuk"
"Aku mengantuk Jin, jika kau sudah berada dalam pelukanku begini"
.
.
Entah apa yang terjadi, sesaat setelah Jinyoung sampai di dalam mimpinya Mark sudah menariknya begitu erat dan menghabiskan waktu untuk mencumbunya. Bibirnya sudah habis dengan semua pagutan yang sedikit kasar dari biasanya. Bajunya yang semakin terbuka lebar karena setelah itu Mark memutuskan untuk menghisap beberapa bagian tubuhnya. Tangannya yang begitu lemas, hanya bisa meraih rambut Mark dan membiarkannya meluapkan fantasinya di sana. Tubuhnya berjengit saat Mark menyentuh miliknya.
"Uhm.. Mark, apa yang terjadi?" tanya Jinyoung begitu merasakan Mark sudah mengeras. Lelaki itu berhenti memainkan bibirnya pada tubuh Jinyoung. Matanya menatap Jinyoung dengan dalam dan entahlah, Jinyoung bisa merasakan semua keinginan Mark hanya dengan melihat ke dalam matanya.
"Aku tidak bisa lagi menahannya Jin. Aku menginginkanmu. Aku ingin kau melupakan gadis itu"
Aku sudah melupakannya Mark. Aku pun membenci diriku karena begitu mudah melupakannya.
Jinyoung tersenyum getir dan dia tidak ingin Mark melihat itu.
"Aku ingin kau menjadi milikku"
Lalu dengan sebuah anggukan, Jinyoung kemudian meraih tengkuk Mark dan memagut bibirnya begitu dalam hingga Jinyoung tidak merasakan tangan Mark begitu cepat melucuti semua pakaiannya.
"Ugh!" Jinyoung mengerang saat Mark merubah posisi mereka dan membuat milik keduanya bergesekan. Mark menarik bibirnya lembut tanpa menyudahi gerakannya.
"Jin.." panggilnya lembut
"Urgh, Mark bisa kau hentikan ini. Sial!" umpat Jinyoung kesal dan perasaan kesalnya didominasi oleh tubuhnya yang begitu panas yang entah mengapa dia ingin meluapkannya untuk Mark. Jinyoung ingin menahannya. Sungguh, dia tidak ingin Mark melihatnya menikmati semua ini.
"Aku tahu kau menikmatinya. Aku tahu celanamu sudah basah sekarang" goda Mark dengan bisikannya yang halus. Tentu saja, di alam nyata sana miliknya pasti mengeras dan basah.
Jinyoung perlahan membuka matanya dan seolah Mark sudah menunggunya begitu lama untuk membalas.
Jinyoung mengumpat di dalam hatinya. Sekali hingga lebih dari tiga kali dan tentu saja, dia tetap kalah.
"Ugrh.. please"
Mark tersenyum penuh kemenangan dan dengan satu gerakan lagi, dia menggulingkan JinYoung. Seolah sekarang mereka ada di sebuah ranjang besar yang begitu hangat. Tentu saja, Mark akan lebih menggunakan logikanya sekarang dibanding Jinyoung dan memilih tempat selain rumput.
Mark mengusap wajahnya. Begitu lembut.
"Aku akan menyakitimu Jin"
Jinyoung menatap sebal. "Kau belajar darimana kata-kata itu?"
"Well, karena yang aku tahu ini akan menyakitimu"
"Apa maksudmu? Argh−brengsek! Apa yang−Argh!"
Jinyoung begitu erat mencengkram lengan Mark dengan jarinya yang memutih. Matanya terpejam erat. Dia merasakannya. Mark yang kini masuk ke dalam pusatnya dan semakin jauh menguasai tubuhnya.
"Mark.."
"Jin.."
Begitu sulit dan menyakitkan. Membuka sebuah jalan yang sejak dulu tertutup. Jinyoung merasa tubuhnya seperti terbelah dan mungkin inilah alasannya Mark melakukan semua ini di dalam mimpi.
"Kau benar-benar−Oh!"
Jinyoung membuka matanya. Melihat Mark yang kini tersenyum lelah. Hanya saja matanya begitu membara.
"Kau menyukai bagian itu?"
"Apa maksudmu dengan bagian itu? Huh? Semua ini menyakitkan dan−Ahhh!"
Mark tersenyum begitu dalam dan Jinyoung menatapnya. Mengapa semua kesalahan ini begitu menjerumuskannya? Mengapa tubuhnya membalas semua perlakuan Mark?
"Kau tahu? Sepanjang hidupku, kau adalah mimpi terindah dan aku akan membuatnya menjadi nyata"
Jinyoung membeku.
Orang-orang mengatakan, mungkin suatu saat kau bisa menjadi mimpi terindah untuk orang lain dan kini, Jinyoung tidak pernah berharap kenyataan itu muncul kepadanya dari seorang lelaki yang begitu membuatnya merasa berarti, merasa dicintai.
Dan kemudian, Jinyoung tidak tahu apa yang membuatnya mengalungkan lengannya kepada Mark, seolah meminta lelaki itu untuk tetap bergerak.
Oh sungguh, detik itu Jinyoung ingin sekali melupakan alarm paginya.
.
.
Seoul, Today..
.
.
Jinyoung meninggalkan Seoul. Meninggalkan semua hal tentang lucid dream dan Mark. Lelaki itu memilih untuk melepaskan pintu mimpinya untuk Mark juga pergi dari semua dunia mimpi. Dia mengunci pintu mimpinya yang lain dan membiarkan tempat itu kosong sementara kini Jin tinggal di tempat yang baru.
Jinyoung tidak lagi bisa bermimpi. Dia melepaskan semuanya. Lucid Dream, Dream Sharing, juga Mark. Jinyoung sudah menghapus berbagai kebiasaannya sebelum tidur. Membuang semua jurnal mimpinya dan terlebih lagi semua imajinasinya sebelum tidur.
Suaranya masih terdengar jelas. Di malam hari saat semua orang sudah terlelap. Jinyoung mengacak-acak rambutnya frustasi, perlahan bangkit dari ranjang dan meraih sebuah kaleng minuman di kulkas. Lelaki itu duduk di pinggiran jendela kamarnya.
Hujan.
Mungkin Mark sedang bermain di dalam mimpinya.
Atau masih mengejar orang-orang yang sejak dulu mempermainkan hidupnya.
Ah, sungguh menyebalkan.
"Jin, kau belum tidur?" panggil Jimin dari ranjangnya. Lelaki itu bangun lalu mendekat dan duduk di sebelah Jinyoung.
"Aku sudah mencobanya Jimin-ah. Kau sendiri?"
"Aku? Aku hanya tidak bisa tidur"
"Kenapa?"
"Well, sepupuku Taehyun, hingga hari ini dia belum juga sadar"
"Hmm? Dia sakit? Kau belum bercerita kepadaku"
"Tidak. Entahlah, dia tidak terbangun lagi dari tidurnya. Paman dan bibiku bilang, dia mengikuti skema berbagi mimpi dengan teman-temannya, apa namanya ya? Oh, lucid dream dan entah apa yang terjadi sampai dia tidak lagi kembali"
Jinyoung terdiam.
Otaknya berdengung begitu kata lucid dream masuk dan diproses ke bagian memori jangka panjang dan jangka pendek. Apa Taehyun juga seorang korban seperti dirinya?
"Jin, kau diam lagi. Apa yang membuatmu tidak pernah bisa tidur dengan benar?"
"Jimin-ah, aku tahu tentang lucid dream dan mungkin sepupumu terluka hingga tidak sadarkan diri jadi dia tidak bisa kembali"
"Jadi lucid dream bukan hanya omong kosong? Aku cukup kesal mendengar ocehan paman. Kurasa Taehyun sudah gila, mengapa dia mengikuti skema aliran sesat seperti itu?"
Jinyoung memutar matanya sebal.
"Well, kau bisa diam sekarang dan beritahu dimana sepupumu sekarang"
.
.
Jimin anak yang begitu ceria.
Jinyoung tidak tahu apa yang membuatnya merasa murung selepas kepergiannya dari Seoul ke Jeju. Hingga dia bertemu dengan Jimin, rekan satu kelasnya juga roommate-nya. Jimin sangat baik. Dia mengenalkan beberapa tempat di Jeju dan bercerita banyak hal tentang dirinya termasuk sepupunya Taehyun. Jimin sebelumnya tinggal bersama Taehyun sebelum memutuskan untuk mencoba hidup lebih mandiri di asrama.
Jinyoung sendiri, dia tidak pernah menceritakan apapun tentang masa lalunya. Tentang dream sharing, lucid dream, juga Mark. Jinyoung merasa itu tidak perlu karena semakin banyak dia mengingat Mark, semakin sulit baginya untuk sembuh. Ya, setidaknya Jinyoung sudah berusaha banyak untuk menyembuhkan dirinya.
Jinyoung benar. Taehyun sedang terluka di dalam mimpi. Keringatnya sering bercucuran pasti karena lelaki itu mencoba segala cara untuk bangun. Jimin menatapnya ragu kemudian mendekat dan menepuk bahu Jinyoung.
"Kau bisa membantuku? Ini sudah tiga hari, dia mungkin bisa mati jika omonganmu benar" kata Jimin sambil menaruh beberapa kudapan juga minuman untuk Jinyoung. Semenjak datang, Jinyoung tidak melihat keberadaan orang tua Taehyun. Sepertinya, Taehyun mengikuti skema lucid dream karena dia seorang anak yang kurang perhatian.
"Well, aku sudah lama tidak melakukannya dan aku pergi dari duniaku yang lalu karena aku tidak ingin lagi melakukannya" jawab Jinyoung dengan nafas yang berat.
"Ya, kau berhak menolak tapi aku tidak tahu siapa lagi teman TaeHyun dan.."
"Jimin-ah, apa Taehyun tidak bercerita sesuatu selama ini? Misalnya tempat yang paling sering dia kunjungi, tempat yang nampak sangat dijaga olehnya. Apa kau tahu?"
"Hmm, terakhir kali dia menyebutkan tentang pintu lemarinya. Aku tidak mengerti tapi tampaknya dia agak sebal saat aku menutupnya terlalu keras setelah mengambil baju"
"Kau tahu dimana dia menyimpan kunci lemarinya?"
"Dibawah kasurnya. Bukankah itu sangat aneh?"
Jinyoung tertawa.
"Tentu tidak. Barang itu sangat berharga Jimin-ah"
"Ah baiklah, jadi bagaimana? Kau bisa membantuku?"
"Sepertinya begitu"
.
.
Kurasa kau benar Jinyoung-ah, dia mengikuti lucid dream karena dia memang ingin menghabiskan banyak waktu untuk melupakan apa yang terjadi pada paman dan bibi.
Jinyoung membuat jurnal. Lagi.
Menuliskan sebuah huruf di telapak tangannya juga menggenggam sebuah kunci sebelum tidur. Jimin sempat melihatnya dengan tatapan aneh namun Jinyoung tidak membalasnya, dia hanya berpesan untuk membunyikan alarm jika dalam lima jam dia tidak kembali dan Jimin mengangguk.
Anak itu terlihat khawatir. Entah karena tidak percaya pada Jinyoung atau karena takut Jinyoung akan bernasib sama dengan Taehyun.
"Aku memang sudah lama tidak melakukan ini tapi aku yakin, sepupumu akan baik-baik saja"
Jimin mendengus sebal. "Kau tidak perlu menghiburku seolah aku sedang depresi. Aku hanya tidak ingin kau juga terluka. Kau tahu, di dalam mimpi mungkin dunia tidak seperti apa yang ada di dunia nyata"
Jinyoung tersenyum lebar.
"Mungkin kau akan menganggapku berbohong tapi percayalah, aku pernah menganggap kalau mimpi adalah tempat terindah. Sampai jumpa Jimin-ah"
.
.
.
Redup.
Jinyoung sudah melewati zona black out. Hanya saja, jarak pandang di sini agak sedikit redup. Dia harus mencari pintu mimpi Taehyun dan Jinyoung belum bisa menebak keberadaannya. Seingatnya, dia sudah menuliskan sebuah nama di tangannya.
Jinyoung membacanya dan detik itu dia menghilang dari zona after blackout.
Rumah Taehyun tidak kalah redup dengan zona after blackout. Jinyoung segera masuk ke dalam kamar mencoba membuka pintu lemari Taehyun.
SPLASH!
Sial!
Jinyoung mengumpat.
Dia tidak menyangka pintu mimpi Taehyun berupa kubangan kecil yang airnya cukup kotor.
Jinyoung membersihkan dirinya. Tidak jauh dari kubangan rupanya Taehyun sudah menyiapkan sebuah tempat untuk mencuci tangan dan kaki.
Jinyoung melihat ke sekeliling. Mimpinya dipenuhi dengan padang rumput, ilalang, kunang-kunang, juga pohon besar, Jinyoung merasa sedikit bernostalgia dan menemukan ternyata mimpi setiap orang berbeda. Mimpi Taehyun dipenuhi dengan pemandangan laut di musim gugur. Dingin dan basah.
Jinyoung berlari mencoba menemukan gedung atau tempat lain yang mungkin bisa menjadi tempat keberadaan Taehyun.
Dan dia menemukannya. Sebuah jalan menuju kota.
Sungguh melelahkan. Sudah cukup lama tidak berada di dalam mimpi. Juga sudah cukup lama tidak bisa tidur dengan tenang.
"Taehyun-ah! Nam Taehyun!"
Tidak ada jawaban.
Jinyoung berfikir keras. Jalan mana yang harus dia ambil, melihat ada dua jalan yang bersimpangan di depannya.
"Sial! Mengapa mimpi Taehyun begitu rumit!"
Kemudian seolah mengingat sesuatu, Jinyoung berlari ke arah kiri dan masuk ke sebuah bangunan. Di sana juga suasananya begitu redup.
"Nam Taehyun!"
"Nam Taehyun! Kau mendengarku?"
"Ugh.."
Jinyoung berbalik. Berhenti sebentar dan mencoba mencari sumber suara yang datang sebelum dia berjalan pelan ke arah sebuah ruangan. Di depan ruangan itu ada sebuah pintu kecil yang sudah terbuka. Jinyoung masuk ke dalam perlahan.
"Nam Taehyun?"
"Jim-min-ah.."
"Oh Tuhan!"
Jinyoung menemukannya.
Lelaki itu sedang merintih kesakitan. Jinyoung menepuk pipi Taehyun pelan.
"Hei, aku Park Jinyoung. Jimin memintaku untuk menolongku. Sekarang, tolong lupakan sejenak rasa sakitmu. Aku harus membawamu kembali. Alarm-mu akan berbunyi sebentar lagi. Kumohon sadarkan dirimu!"
Nam Taehyun perlahan membuka matanya dan menggenggam erat tangan Jinyoung seolah mencari pertolongan dan saat itu alarm berbunyi.
"Terima kasih Jin"
.
.
.
Seminggu berlalu.
Jinyoung masih mengingat jelas saat Taehyun bangun dan Jimin memeluknya dengan erat. Tidak berhenti anak itu berterima kasih. Sedangkan Taehyun, dia begitu mengagungkan Jinyoung sejak saat itu dan selalu datang ke asrama hanya untuk memberikan Jinyoung kudapan dan barang-barang lain yang sebenarnya tidak perlu.
Hari ini Taehyun mengundangnya datang ke rumah karena teman-teman komunitasnya akan datang menjenguknya. Jinyoung tidak mempunyai alasan untuk menolak dan Jimin juga begitu ingin Jinyoung bertemu dengan teman-teman Taehyun hanya karena agar mereka tahu seharusnya mereka bertanggung jawab atas Taehyun.
Jimin agaknya kesal karena bantuan dari komunitas lucid dream begitu terlambat.
"Terima kasih banyak sudah menolong Taehyun. Aku datang begitu terlambat" ucap Mino. Salah satu anggota komunitas. Jinyoung hanya tersenyum lebar.
"Ah Well, bukan masalah. Aku hanya menolong semampuku"
"Jika kau tidak ada, dia pasti tidak akan kembali kepada kami" tambah Jinwoo
"Jin, mereka adalah teman-teman komunitasku. Mereka tidak tinggal di Jeju tapi kami selalu bertemu di dalam mimpi. Kau tahu dream-sharing bukan? Mereka mengajarkanku banyak hal"
"Oh ya, aku tahu itu"
"Seungyoon adalah ketua kami" kata Taehyun lagi.
Jinyoung mengangguk sambil meneguk tehnya. "Ya, aku sudah bertemu dengannya tadi"
"Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau aku berada di dalam gedung sebelah kiri?"
"Karena kau kidal. Kau terbiasa memilih bagian kiri bukan?"
"Wow! Kau jenius Jin"
"Tidak. Seseorang mengajarkanku cara menebak isi mimpi orang lain"
"Oh ya? Siapa? Aku juga belum mendengar ceritamu. Kau masuk ke dalam komunitas mana?"
"Hmm, ketua senat di kampusku dulu yang memberitahuku. Aku tidak masuk ke dalam komunitas manapun. Kebetulan dia dan aku memiliki ketertarikan yang sama" ucap Jinyoung berbohong. Dia tidak mungkin menyebutkan segala kejadian yang ada dalam dirinya bukan? Tentu saja, dia masih mengingat jelas siapa yang begitu rajin mengajarinya. Jinyoung tertawa dalam hati dan entah mengapa hari ini dia senang mengingat Mark.
"Ah, jika kau bisa masuk ke dalam komunitas kami pasti akan sangat menyenangkan"
"Tidak perlu. Aku sedang berusaha tidak lagi terikat dengan lucid dream"
"Oh? Benarkah? Kenapa?"
"Aku harus lulus kuliah bagaimanapun juga"
Mereka tertawa "Kau benar"
Seseorang masuk ke dalam kamar Taehyun. Dia adalah Seungyoon. Ketua dari komunitas mereka. Seungyoon terlihat begitu kaku dan dingin. Jinyoung hanya sempat menyapanya sekali dan tidak seperti kelihatannya, Seungyoong tampak hangat menyambutnya.
"Jadi, anak itu masuk ke dalam mimpimu Taehyun-ah?"
"Ya, kalian ingat? Saat terakhir aku akan kembali ke dalam pintu mimpiku , dia ternyata mengintaiku sejak lama lalu menghajarku. Aku sempat melawan dan memproyeksikan mimpiku hingga akhirnya aku bisa mengeluarkannya tapi aku sadar semakin lama aku semakin tidak bisa berjalan"
"Kurasa dia masih ada di zona after black out. Dia senang sekali berada di sana akhir-akhir ini"
"Kau belum menemukan pintu mimpi dia yang baru Jinwoo-ah?"
"Belum. Kurasa dia lebih banyak di luar pintu mimpi dan mengejar kita sekarang"
Jinyoung dengan malas memperhatikan percakapan mereka. Taehyun menyadari Jinyoung cukup bosan dan mengajaknya keluar ruangan.
"Hei Jin, kau pasti tidak tahan dengan obrolan kami bukan?"
"Tidak juga. Aku cukup menikmatinya karena sepertinya hidupmu sedang terancam"
"Ya, karena aku yang paling terakhir bergabung. Kurasa dia akan mengejarku lebih dulu"
"Dia? Siapa?"
"Entahlah, aku lupa namanya karena Seungyoon hanya menyebutnya satu kali. Dia adalah orang yang termasuk ke dalam komunitas lucid dream sama seperti kami. Dia mengejar kami dengan teman-temannya karena menaruh dendam pada Seungyoon. Awalnya, Seungyoon adalah pendiri komunitas lucid dream yang pertama kali lalu kelompok mereka datang dan mengambil alih semuanya. Kau tahu, lucunya mereka menganggap kelompok kami adalah pengkhianat dan mengejar kami untuk melepaskan kami dari pintu mimpi kami."
Jinyoung terdiam.
Tentu saja dia ingat cerita itu. Mark pernah bercerita banyak tentang sekelompok orang yang mencoba mengejarnya dan juga pengalamannya dulu menyelamatkan Mark.
Apa Taehyun juga sama seperti Mark? Apa mereka juga menyerang komunitas Taehyun?
"Jin, malam ini kami akan mengejarnya. Ku dengar dia sedang berada di zona blackout"
"Hmm? Bagaimana kau tahu?"
"Jinwoo melihatnya semalam. Kau mau ikut?"
"Kenapa aku harus ikut?"
"Karena kau pasti akan menyukai ini. Aku ingin membuatmu mendapatkan pintu mimpi yang baru"
"Well, Taehyun-ah aku.."
"Sekali saja. Seungyoon pasti senang jika kau ikut"
.
.
.
"Kau sengaja menyetting mimpimu menjadi redup ya?" tanya Jinyoung sesaat setelah dia sampai. Taehyun berbaik hati meminjamkan pintu mimpinya hingga Jinyoung kini berada di satu mimpi yang sama.
"Ya, karena aku tidak suka cahaya"
"Well, cahaya bagus untuk tubuhmu kau tahu"
"Aku tidak suka Jin. Sejak dulu aku lebih banyak diam di kamar karena jika aku membuka pintu atau jendela yang terdengar hanya suara mereka bertengkar"
Jinyoung tidak berkata lagi. Ingin meminta maaf tapi rasanya begitu kaku. Namun, Taehyun berbalik menatapnya dan tersenyum.
"Jangan dipikirkan. Aku sudah lebih baik sejak bergabung dengan Seungyoon"
Jinyoung tersenyum.
Pintu mimpi terbuka. Mereka berjalan ke dalam zona after black out. Di sana Jinyoung melihat Seungyoon sudah menunggu Taehyun.
"Hyung!"
Seungyoon tersenyum sedikit dan menatap ke arah Jinyoung "Wah, aku tidak tahu kalau kau berhasil mengajaknya"
"Kejutan untukmu kalau begitu"
Jinyoung tertawa. Taehyun sungguh seorang maknae yang begitu ceria dibalik semua cerita hidup keluarganya. Sepertinya dia memang begitu menganggap komunitasnya adalah hal yang berarti.
"Seungyoon, aku melihatnya. Sepertinya dia tidak menyangka kita akan datang"
"Dia berlari ke arah mana?"
"Kanan. Kau tahu bukan? Jalan yang biasanya menyambungkan tempatnya bersembunyi"
"Asrama itu? Dia masih di sana?"
"Ya. Taehyun-ah, kau sudah menulis tempatnya bukan?"
"Sudah. Aku akan kesana dengan Jinyoung"
Jinyoung tidak mengerti dengan ucapan mereka namun dengan segera dia mengikuti arah Taehyun pergi. Beberapa langkah kemudian, Taehyun memberikan selembar kertas.
"Mungkin kau belum pernah pergi ke sini, jadi aku sudah menuliskan nama tempatnya"
Jinyoung membeku dan dia tidak sempat berbicara karena Taehyun sudah menarik lengannya dan membawanya kesana.
Ke dalam asramanya yang dulu.
"Jinyoung kau baik-baik saja?"
"Ya tapi Taehyun-ah.."
"Jalan ke kiri sedikit lalu kau akan menemukan sebuah pintu. Masuklah ke sana, aku akan memanggil yang lain. Tempat kami biasanya bersembunyi di sana"
Taehyun menghilang. Sejenak Jinyoung merasa nafasnya begitu sesak. Bagaimana mungkin dia kembali ke sini setelah sekian lama mencoba berlari dari tempat ini.
Jinyoung mendengarnya. Taehyun tengah berjalan ke arahnya.
"Taehyun-ah, apa kau sudah menemukan Seungyoon?"
Tidak ada jawaban. Namun langkah itu terdengar begitu jelas.
"Taehyun-ah, aku.."
Dan Jinyoung melihatnya. Dia berdiri di depannya.
Dia masih seperti bajingan yang datang begitu saja ke dalam mimpinya. Dia masih orang yang sama yang dulu memeluknya erat dan mempermainkan hidupnya.
Dia masih seperti yang dulu. Mark.
Hanya saja, kini Mark tidak lagi tersenyum ke arahnya. Mata itu hanya menatapnya begitu dingin tanpa berkedip dan Jinyoung membatu di tempatnya.
"Jinwoo-ah, dia di sini!"
Beberapa orang kemudian datang dan berlari mengejar Mark. Taehyun berdiri dengan panik di sampingnya.
"Kau baik-baik saja? Apa dia menyakitimu?"
"Taehyun-ah, apa dia.."
"Ya, itu dia. Dia yang melukaiku dan mengejar komunitasku untuk balas dendam. Namanya adalah Mark Tuan. Seungyoon memanggilnya MT"
Lalu yang Jinyoung tahu, dia meminta Taehyun untuk kembali dan bangun dari mimpinya.
.
.
.
Unfinished
Hello everyone!
My big apologize for you all because things happened and a year passed without any update from me.
I had my laptop broken. so it needs time to buy the new one and thankfully it is solved now.
According to my previous chapter, I've promised you that the 4th chapter will be the last one but how to do? It's gonna be a long ending so I have to make it into two parts but don't worry, it wont be a long time to update the last because I've prepared it so well.
A year passed. I wonder a lot about you guys and each time I read your comment seems like you guys enjoy the story very well till some of you just cant wait to read my other chapter.
So here it is.
There's another flashback part. The most important part because it will tell you a lot about Jinyoung feeling before he left Mark alone on his dream.
I thankyou guys so much for waiting and once again my apologize that it took a really long time to make this complete. Works and reality killed me so hard lol
See you at the ending!
MJ
p.s: my new character is from winner. Don't worry guys it's just a character and it built not to destroy the pairing. Enjoy it!
