Big Thanks To :

rusacadel/ChiminChim/Kim Sun Ah/jun,hoejun/100BrightStars/duabumbusayur/kiyowo/CloveRine26/Park RinHyun-Uchiha/akhfa,10/Rina Putry299/preetybeauty/renjunita/hopekies/xoxojung00/Rara Azzahra.

.

.

.

Jaehyun menunduk dalam, matanya menatap nanar kertas yang berada di atas mejanya. Menghela nafasnya lelah, Jaehyun bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang kerjanya. Matanya bertemu tatap dengan Hansol yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Kau sudah dapat surat itu?" Terdengar nada khawatir dari suara Hansol.

Jaehyun mengangguk lemah, diremasnya kuat tangannya yang mengepal. "Sudah hyung."

"Johnny benar-benar keterlaluan. Aku kira dia tidak akan mendaftarkan perceraian kalian secepat ini."

Jaehyun tersenyum tipis. "Kita bicarakan di tempat Yuta hyung saja, ayo hyung."

Jaehyun memandu jalan mereka, langkah Jaehyun terlihat sangat pelan yang membuat Hansol mendesah tertahan.

Begitu sampai di depan ruangan Yuta, Jaehyun mengetuk pintu berwarna coklat itu. Setelah mendengar kata 'Masuk' dari yang punya ruangan, Jaehyun pun masuk ke dalam yang diikuti oleh Hansol.

"Jaehyun? Oh, Hansol hyung!" Yuta berseru kaget begitu melihat Hansol yang berjalan di belakang Jaehyun.

Yuta pun bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri sang sahabat juga suaminya. Menyilahkan keduanya duduk di sofa yang ada dan menyamankan duduknya di samping Hansol.

"Tumben hyung kemari?"

Hansol tersenyum, tangannya menggenggam tangan Yuta dan matanya menatap Jaehyun yang sedang menatap lantai di bawahnya dengan tatapan kosong. Yuta mengikuti arah pandang Hansol, senyuman kecil terpatri di bibirnya.

"Johnny?" Yuta berbisik dan diangguki oleh Hansol. "Jaehyun sudah menerima surat panggilan dari pengadilan. Jadi sudah dipastikan tak lama lagi mereka akan bercerai."

Hansol menyenderkan tubuhnya pada sofa di belakangnya dengan helaan nafas yang terdengar begitu berat. Yuta menggenggam tangan sang suami berusaha untuk memberi kekuatan pada Hansol agar tetap semangat untuk membantu Jaehyun. Matanya melirik Jaehyun yang kini terasa benar-benar kosong, ditambah penampilannya terlihat berantakan.

Yuta berdiri, keluar dari ruangannya dan memanggil Jungwoo. Menyuruh pegawainya untuk membuat minuman kedua orang yang di sayangnya itu. Setelah itu, Yuta kembali duduk di samping Hansol.

"Mereka masih bisa mediasi kan? Semoga saja dengan itu pernikahan mereka bisa selamat." Yuta berbisik yang langsung ditanggapi dengan anggukan lemah oleh Hansol.

"Memang. Terlebih Jaehyun juga masih ingin mempertahankan pernikahannya. Hanya saja tidak dengan Johnny, anak satu itu ingin sekali berpisah dengan Jaehyun, aku sendiri bingung karenanya." Hansol mengacak rambutnya frustasi, kenapa juga ia yang harus menjadi pengacara Jaehyun?

Jaehyun mengepalkan tangannya erat. Ia bersungguh-sungguh tak ingin berpisah dari Johnny apalagi Mark. Tapi jika ia memang harus berpisah dari Johnny, baiklah ia akan terima. Tapi kalau dari Mark? Tidak! Jaehyun tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

"Permisi." Suara seseorang dari arah pintu membuat ketiga orang itu sontak menoleh. Ditemukannya Jungwoo yang membawa nampan berisi minuman dan cemilan, dan di belakangnya ada Mark yang berdiri di sana.

"Mark?" Jaehyun langsung berdiri dan mendekati sang anak. Mark sontak memeluk erat sang appa dengan raut wajah sedih yang begitu jelas.

"Mark tadi berdiri di depan restoran, dia sepertinya habis menangis hyung. Makanya aku menyuruhnya masuk dan mengajaknya bertemu dengan hyung." Ujar Jungwoo setelah menaruh minuman dan cemilan yang dibawanya ke atas meja.

Yuta mengernyitkan dahinya, berdiri dari duduknya, ia melangkah mendekati Mark dan Jaehyun yang masih berpelukan. Kenapa Mark akhir-akhir ini menjadi sangat sensitif?

Hansol berdeham pelan, membuat Jungwoo mengerjap dan menatap ke arahnya. "Kau tahu kenapa Mark menangis?"

Jungwoo menunduk, matanya menatap gusar ke sekelilingnya dan jakunnya terlihat seperti menelan sesuatu dengan sulit. Membuat Hansol mengernyit, lalu menghadiahinya sebuah tatapan penuh dengan intimidasi.

"Ceritakan." Nada suara yang digunakan Hansol begitu tenang, namun mengancam sekaligus. Jungwoo akhirnya mengangguk pelan dan menatap takut-takut pada Hansol.

"Ada apa ini sebenarnya?" Jaehyun melepaskan pelukannya pada Mark. Menatap anak semata wayangnya bergantian pada Jungwoo yang sedang ditatap sebegitu intensnya oleh Hansol.

"Se-sebenarnya, tadi ada Johnny hyung ke sini." Jungwoo menjeda kalimatnya setelah melihat Jaehyun yang seketika menegang di tempat.

Begitu mendapat anggukan dari Hansol, Jungwoo melanjutkan kalimatnya. "Johnny hyung bersama seorang pria yang aku belum pernah lihat sebelumnya, dan di tengah-tengah mereka ada seorang anak yang usianya mungkin lebih muda dari Mark."

Jungwoo menunduk setelah mengatakan itu, mata Jaehyun membulat seketika. Ditatapnya Mark yang masih menundukkan kepalanya, Yuta yang berdiri di belakang mereka pun hanya bisa menghela nafasnya dan mengusap bahu Jaehyun guna menyemangatinya.

"Setelah itu?"

Jungwoo berniat menjawab, namun Mark lebih dulu menyelanya. "Daddy tersenyum dan tertawa lebar saat makan siang bersama mereka. Sebenarnya mereka siapa appa? Kenapa daddy lebih memilih makan siang bersama mereka dibanding kita?"

Jaehyun diam, ia tak mau menjawab pertanyaan Mark karena ia sendiri pun tak tahu harus menjawab apa. Ditariknya tubuh Mark ke dalam pelukannya, mencoba meredam suara tangis Mark yang terdengar begitu menyayat hatinya.

"Jungwoo-ya, keluarlah. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu." Jungwoo seketika mengangguk begitu suara Yuta terdengar di telinganya. Dengan segera, Jungwoo melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang suasananya terasa begitu sulit untuk dijabarkan.

Yuta tersenyum dan menepuk bahu Mark. Mencoba menenangkan Mark yang memang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Hansol melangkah mendekati ketiganya dan berujar cepat.

"Aku pergi dulu. Serahkan semuanya padaku." Ujar Hansol sembari melangkah cepat-cepat keluar ruangan setelah mendapat anggukan dari Jaehyun dan senyuman manis dari Yuta.

"Ayo sekarang kita duduk dan makan siang." Yuta mengusap sayang rambut Mark yang sudah melepaskan pelukannya pada Jaehyun. "Nanti ahjumma akan menelfon Jaemin agar kemari dan menemanimu, Mark."

Mark mengangguk dan mengikuti langkah Yuta untuk duduk di sofa. Jaehyun menatap penuh dengan tatapan terimakasih pada Yuta yang hanya diangguki oleh Yuta.

.

.

Mark melangkah dengan bosan menyusuri lorong kelasnya yang sudah sepi. Bel jam pulang memang sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu, jadi di sekolah ini hanya tinggal beberapa murid yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang masih berada di sekolah. Mark memang mengikuti beberapa club ekstrakurikuler, namun hari ini bukan jadwalnya.

Biasanya, di hari Rabu ini, Mark akan terburu-buru pulang agar bisa menghabiskan sorenya di tempat kerja sang appa dan malamnya ia dan kedua orangtuanya akan malam bersama. Setelah itu, mereka akan pulang ke rumah mereka. Berkumpul di ruang keluarga dan Mark akan membuka buka bukunya untuk diajari oleh kedua orangtuanya tentang apa-apa saja yang tidak dimengertinya.

Tapi, itu dulu kan? Melihat keadaan keluarganya yang sekarang, Mark pesimis akan mendapat perhatian yang sama seperti dulu. Terlebih daddynya, berkat pemandangan yang ia lihat beberapa hari lalu, Mark menjadi sadar kenapa daddynya jarang pulang, jarang makan siang bersamanya, jarang makan malam bersamanya, jarang bermain basket bersamanya, jarang menghubunginya, jarang mengajarinya, dan jarang melakukan hal-hal yang sering mereka lakukan bersama dulu.

Daddynya sudah mempunyai anak lelaki lain yang nampaknya lebih bisa membuat sang daddy bahagia dan bangga. Mark menghela nafas berat begitu pemikiran tentang kelakuannya selama ini tiba-tiba masuk dalam fikirannya. Selama ini Mark tidak pernah berbuat salah kan? Maksudnya dia tidak pernah membuat Johnny ataupun Jaehyun malu kan? Jadi kenapa daddynya lebih memilih si anak kecil itu dibanding dirinya? Dan lelaki dewasa yang berada di samping daddynya, apa dia lelaki yang sering dibawa-bawa oleh kedua orangtuanya ketika bertengkar? Diakah orangnya yang membuat keluarga bahagianya hancur?

"Mark!" Seruan di belakang Mark membuat Mark tersadar dari lamunannya. Menoleh dengan cepat, Mark menemukan Dino yang menyengir lebar dan melambaikan tangan ke arahnya.

Mark mengernyitkan dahinya, namun tetap melangkah mendekati Dino. "Ada apa?"

Wajar jika Mark bertanya, nyatanya Mark dan Dino ataupun teman-teman yang lain tidak begitu dekat. Mark di sekolah hanya dekat dengan Lucas, Jaemin, dan Haechan, itupun karena mereka memang teman sejak kecil. Bukannya Mark tidak mau berbaur, hanya saja teman-temannya yang lain selalu mengejeknya 'anak manja' hanya karena kedekatannya dengan orangtuanya. Bukankah itu berlebihan?

Dino langsung merangkul bahu Mark ketika Mark sudah berada di sampingnya. "Aku lihat-lihat, sepertinya kau sedang ada masalah." Dino berbisik yang membuat kernyitan di dahi Mark bertambah.

"Ayo ikut aku. Aku bisa membantumu melupakan masalahmu." Dino tersenyum lebar dan menatap penuh binar pada Mark. Mark terlihat berfikir, haruskah ia mengikuti Dino? Tapi dia juga sudah sendirian. Lucas dan Haechan sudah pulang karena Taeyong ahjussi yang baru pulang dari luar kota datang menjemput mereka. Jaemin juga sudah pulang karena katanya ada belajar kelompok. Jadi, haruskah Mark ikut?

"Ayo!"

.

.

Johnny tersenyum melihat Taeil yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Daehwi masih di dalam kamarnya untuk mengganti bajunya yang basah karena terkena susu yang akan diminumnya tadi.

"Kau seperti orang gila tersenyum sendiri begitu."

Taeil bergidik geli begitu menatap Johnny yang malah melebarkan senyumannya.

"Aku gila karenamu hyung."

"Ya, kau memang gila." Taeil mengangguk dan melanjutkan kalimatnya. "Hanya orang gila sepertimu yang meninggalkan orang sebaik Jaehyun untuk orang sepertiku."

Senyum Johnny perlahan menghilang. Digantikan senyuman tipis yang terlihat begitu terpaksa.

"Hyu-"

"Jadi, sebelum aku ikut gila, batalkan semuanya John. Atau nanti saat kau sudah mediasi bersama Jaehyun, bilang kalau kau masih mau bersama dengannya. Bilang jika ini hanya kekhilafanmu semata."

Taeil menghembuskan nafasnya pelan, begitu sesak memang mengatakannya. Tapi bagaimana lagi? Ia tak mungkin kan menghancurkan kebahagiaan rumah tangga orang lain?

"Dengar John, aku tahu kau peduli padaku karena hanya kita teman lama. Tapi perasaan cintamu padaku itu sebenarnya tak ada, perasaanmu itu hanya ada di masa lalu. Hanya saja waktu itu kau belum sempat mengatakannya makanya kau terus kefikiran. Tapi sekarang, hati dan fikiranmu sudah sepenuhnya dipenuhi oleh Jaehyun dan Mark. Mereka adalah hidupmu John, kau yakin itu kan?"

Johnny balas tatapan Taeil yang begitu dalam dan teduh begitu menatapnya. Tanpa sadar, Johnny menangguk yang membuat senyum Taeil merekah. Tidak sulit sebenarnya meyakinkan Johnny, hanya saja terkadang sifat keras kepala Johnny yang membuat Taeil harus memutar otaknya agar bisa membuat lelaki jangkung di hadapannya mau menuruti perkataannya.

"Meskipun aku juga mencintaimu John, tapi aku sadar bahwa aku mempunyai hal yang lebih penting, yaitu Daehwi. Semenjak ibunya meninggal 7 tahun yang lalu, aku memang tak pernah berfikir untuk mencari penggantinya. Tapi tiba-tiba kau datang dan memberikanku harapan, itu berhasil membuatku sedikit goyah. Tapi, aku juga sadar John, jika aku mengikuti egoku, akan ada banyak yang terluka."

Taeil mengusap lembut bahu Johnny. Johnny hanya menunduk mendengarkan semua perkataan Taeil. Mungkin Taeil benar, semua perasaannya terhadap Taeil hanya perasaan karena tak sempat terungkap dulu kan? Pantas saja sekarang hatinya terasa lega.

"Setelah makan malam, pulanglah dan segera minta maaf pada Jaehyun dan Mark."

Lagi-lagi, Johnny hanya mengangguk pelan menuruti kata-kata Taeil.

.

.

Lucas menatap gusar pada jam dinding yang terpampang di dinding kamarnya. Sudah hampir jam 8 malam dan Mark belum pulang? Yang benar saja! Kemana perginya anak satu itu. Seharusnya tadi siang ia ajak saja Mark pulang bersamanya sehingga sekarang Jaehyun ahjussi tidak perlu menelfonnya dan menanyakan Mark dengan nada khawatir yang kentara.

"Hyung!" Haechan tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarnya yang membuat Lucas hampir terjungkal karena kaget.

"Apa?!"

Lucas melirik tajam yang membuat Haechan mengerucutkan bibirnya. Melangkah masuk, Haechan memungut buku Kimia milik Lucas yang tergeletak di atas lantai.

"Belum ada kabar dari Mark hyung?"

"Jika sudah, aku tidak mungkin uring-uringan begini Haechan. Memang seharusnya aku tidak meninggalkan dia sendiri tadi. Dia butuh teman."

Haechan mengangguk paham, ditatapnya sang kakak yang kini mengacak rambutnya frustasi. Wajar sih, mereka itu kan sangat dekat, pasti Lucas hyung sangat khawatir. Pikir Haechan.

"Kau sudah menghubungi teman-temanmu clubmu?"

"Sudah. Mereka bilang Mark tidak bersama mereka. Lagipula tadi club juga tidak latihan."

"Teman-teman yang lain?"

"Dia tidak mungkin bersama mereka Haechan-ie. Mark kan tidak dekat dengan siapapun di sekolah."

"Bodoh!"

"Apa?!"

"Aku tahu kau khawatir hyung, tapi mungkin saja kan Mark hyung bersama salah satu dari mereka? Apalagi Mark hyung tadi sendiri. Aku takut hyung, jika Mark mengikuti teman-temanmu yang berandal itu."

"Oh!"

Dengan cepat Lucas menyambar jaket miliknya yang membuat Haechan mengernyit heran. Melangkah dengan cepat, Lucas memakai sepatunya dan keluar dari appart mereka sebelum ditahan oleh Haechan.

"Kau mau kemana hyung?"

"Tempat mereka."

"Siapa?"

"Dino dan kawanannya. Aku pergi dulu Haechan-ie. Jika daddy dan mommy bertanya, bilang saja aku pergi menjemput Mark."

"Baiklah. Hati-hati hyung."

Haechan melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam. Dengan segera ia meraih ponselnya dan mencari nama 'Jaemin' di sana.

"Halo."

"Jaemin-ie."

"Apa Haechan-ie?"

"Ayo berdoa."

"Untuk apa?"

"Untuk keselamatan Lucas hyung dan Mark hyung."

"APA?!"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

Penjelasan sifat Mark

-Jadi di sini Mark itu seorang anak yg berusia 14 tahun, dimana anak umur segitu itu masih dalam masa peralihan dari anak-anak ke remaja, jadi sifat Mark masih labil. Makanya aku buat dia disini rada cengeng dan manja, itu semua efek karena 'rumor' perceraian kedua orangtuanya yang membuat dia jadi sensitif apalagi dia anak tunggal. Makanya, aku buat sifat Lucas yg seumuran ama dia itu agak lebih dewasa karena memang dia kan punya adik, jadi lebih bisa ngebimbing. Dan disini Mark juga masih labil buat nentuin mana yg baik dan buruk buat dirinya sendiri.

FF ini lebih fokus ke Marknya dibanding JohnJae ataupun JohnIl, karena aku memang ingin menggambarkan bagaimana sih bimbangnya seorang anak ketika harus memilih suatu jalan tapi nggak ada yg membimbing? Jadi ya begitulah, aku harap kalian nggak kecewa.

Kayanya cukup ocehan nggak penting dariku.

Sampai jumpa!