Chapter 3: Warmth Between

.

.

[!] PLEASE READ SLOWLY

(BACA PELAN-PELAN & DIHAYATI!)

.

.

Seseorang sedang duduk memeluk lutut diruang tamunya dan mendekap sehelai kain berwarna putih. Benar, itu adalah baju Sehun yang dipakainya kemarin dan belum sempat ia kembalikan. Luhan merasa ia adalah orang paling beruntung di seluruh dunia karena ia bisa mencium bau Sehun dari pakaiannya. Baunya candu, hampir membuatnya gila karena senyum-senyum sendiri dari tadi.

Benaknya memutarkan saat-saat kemarin ketika ia berjalan berdampingan dengan pria masker itu, satu-satunya pria yang ia sukai. Sejak ponselnya jatuh karena ditabrak Sehun, semua kejadian baik mulai berdatang.

Apakah itu adalah pertanda baik baginya?

Pertanyaan itu masih berkeliaran di otaknya. Ia harap demikian. Ia harap Sehun serius dengan ucapannya waktu itu.

Akan kubuktikan kalau aku benar-benar menyukaimu, Luhan.

Pria bermata doe itu menutup wajahnya yang tersipu, membayangkannya saja membuat dirinya hampir melayang entah kemana. Senyumnya tidak bisa pudar, semua terasa begitu indah ketika perutnya terus bergejolak memikirkan Sehun.

Gejala kasmaran.

Tidak lama kemudian, pintu rumahnya seperti ada yang mengetuk. Luhan beranjak dan perasaannya bilang ini bukan sesuatu yang baik.

Seseorang masuk dari balik pintu dengan wajah cemberut dan ocehan panjang lebar yang tidak dimengerti Luhan bahkan hingga ia mendaratkan bokongnya di sofa.

"Astaga, Luhan. Aku hampir gila dibuatnya. Benar-benar gila! Kau percaya padaku kan? Jongdae itu pria gila dan kenapa aku bisa mengenalnya! Oh Tuhan, aku benci padanya. Harusnya dulu aku tidak mengenalnya dan semua hal tidak akan terjadi seperti ini! Ya ampun, ini benar-benar membuatku sangat kesal!" Gerutu Minseok ketika ia masuk kerumah Luhan dan menghempaskan tubuhnya begitu saja diatas sofa. Luhan melesat ke dapur dan mengambil segelas orang juice yang disukai sahabatnya itu.

"Tidak, kau tidak membencinya. Kau sangat mencintainya." Luhan berkata menggoda, tidak menggubris omelan dan sumpah serapah Minseok untuk kekasihnya sendiri.

"Dia itu sinting! I swear to God, aku tidak tahu dengannya lagi. Aku tidak mengerti dan aku tidak peduli. I'm so done. Hah." cibirnya lagi.

Luhan terkekeh pelan dan kembali duduk di sofanya seperti posisi tadi, dengan baju putih Sehun dalam pelukannya, "Memangnya ada apa, sih? Ia menghilangkan buku catatanmu lagi? Sudah kubilang jangan pinjamkan buku apapun untuk pacar seperti Jongdae. Tetapi kau tidak pernah mendengarnya, kkk"

"Oh itu! Kau benar! Jongdae menghilangkan kertas yang diberikan Mr. Kim. Aku benar-benar merasa ingin mencekik lehernya, kau tahu. Siapa yang tahan dengan kata-kata manisnya yang sangat memuakkan itu?! Mungkin hanya aku! Tsk. Kenapa aku ini bodoh sekali."

"Kau sudah terlalu banyak termakan kalimat-kalimat cintanya, Xiu." Tambah Luhan.

"Bukan hanya itu, Lu. Kau tahu, Lu, ini adalah bagian terburuknya!" Minseok menjeda, mengeluarkan sebuah buku dan meletakkannya diatas meja, menepuknya dengan kasar sambil melanjutkan caci maki untuk pacarnya sendiri, "Ini! Kau lihat ini?!" Minseok yang duduk bersebrangan dengan Luhan mengangkat sebuah majalah dewasa dengan cover yang agak vulgar dan Luhan hanya menatapnya geli. "Ia menyelipkan ini! Kedalam tas-ku! Apakah pria itu sudah benar-benar kehilangan kewarasannya?! Dasar sinting! Dan kau tahu apa yang ia lakukan saat aku berteriak padanya? Ia hanya tersenyum innocent layaknya tidak berbuat dosa padaku. Aku yakin kau tidak akan menemukan orang aneh selain dirinya."

Minseok menghela nafas lalu melempar buku itu keatas meja, Luhan hampir tertawa terbahak ketika melihat ekspresi kesal Minseok. Ia tahu sahabatnya sedang menahan malu karena memacari pria tidak tahu malu seperti Jongdae.

"Well.. kurasa ia hanya menginginkannya darimu, Xiu."

"Menginginkan apa?!"

"Itu.. Uhm.. Kau cukup dewasa untuk mengerti kan?" Luhan tertawa aneh, takut sahabatnya ngamuk lagi karena ia salah bicara.

"Astaga Luhan! Apa yang kau bicarakan? Apakah kau sekarang ketularan virus pervert-nya?" Minseok membulatkan kelopak matanya lalu menggembungkan kedua pipi chubby itu, "Ia memintaku untuk menciumnya setiap pagi, diruang kelas, ketika semua orang belum datang, lalu memelukku seperti tidak ada CCTV kelas yang melihat! Apakah itu semua tidak cukup?!"

"Hm.. Mungkin tidak?" Luhan menggigit bibirnya menahan tawa.

"Kupastikan kalau ia berani menyentuhku tanpa seizinku, akan kubunuh orang itu." katanya serius. Tepatnya sedang mencoba untuk serius. Siapa juga yang akan membunuh kekasih pervert yang sangat dicintainya itu.

"Kau yakin akan membunuhnya?"

"Ya." Suara Minseok berusaha ia buat sedingin mungkin, mencoba untuk bersikap seolah tidak punya hati padahal ia sendiri sedang dilanda khawatir akan kekasihnya yang belum mengabarinya sejak pagi tadi ia mulai mengambek pada Jongdae.

Luhan hanya bisa menggeleng lalu tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya, "Sudahlah, mungkin ia hanya ingin merekomendasikan gaya berpacaran kalian yang baru. Yang lebih dewasa, mungkin?" kata Luhan sambil mengambil majalah dewasa yang tergeletak lalu mulai melihat apa yang salah dengan buku itu hingga membuat Minseok mengoceh tanpa henti.

"Tolong jangan menjadi sama gilanya seperti dia, Lu." Pria yang lebih chubby mendengus, lalu melipat kedua tangannya didepan dada sebelum mengecek ponselnya. Tidak bisa dipungkiri, Minseok sedang menunggu kabar dari Jongdae. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan kekasihnya hingga saat ini.

"Hm.. Isinya wajar-wajar saja untuk ukuran majalah dewasa.." komentar Luhan sambil membolak-balikkan halaman demi halaman.

"Itu tidak wajar, Lu."

Luhan hanya manggut-manggut lalu tidak sengaja matanya memperhatikan seorang model pria yang menjadi cover majalah tersebut. Keningnya berkerut beberapa detik. "Wajahnya familiar.." gumam Luhan pelan.

"Apanya familiar? Kau mengenalnya?"

Lalu matanya terbelalak sangat lebar hingga ia hampir melempar buku dewasa itu ke lantai.

"Luhan, ada apa?" tanya Minseok panik melihat reaksi Luhan.

Yang ditanya hanya terdiam, masih terlalu shock dengan apa yang barusan dilihatnya.

"Xiu, kau yakin ini yang diberikan Jongdae padamu?"

Minseok mengangguk, "Benar. Itu yang diberikannya padaku. Ada apa?"

"A-aku.." Luhan menelan ludahnya, "Tidak apa–"

"Kau yakin?"

Luhan mengangguk ragu. Minseok menatap Luhan curiga namun tidak bertanya lebih lanjut.

.


.

Sepanjang malam, Luhan hanya berbaring dan menatap kosong langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang jauh entah kemana. Minseok meninggalkan majalah dewasanya diatas meja ruang tamu tetapi Luhan sudah menyimpannya di suatu tempat. Ia tidak ingin mengambil resiko kalau siapapun bisa menduganya mengoleksi benda itu kalau ketahuan majalah itu berada diatas meja.

Ia menutup matanya rapat-rapat mencoba mengusir imajinasi aneh yang terus saja berputar dikepalanya, kemudian ia membuka kelopak matanya lagi dan semua itu belum hilang dari benaknya.

"Ayolah.. Tidur…" Luhan bergumam asal.

Bayangan wajah Sehun berada dalam benaknya.

Pria itu adalah Sehun.

Model majalah dewasa di cover depan itu adalah Sehun. Oh Sehun. Benar-benar Oh Sehun yang dikenalnya.

Perlahan semuanya tampak mulai jelas, Sehun memakai masker kemanapun ia pergi, ia bersikap dingin kepada orang-orang, dan semua orang menatapnya dengan tatapan super aneh ketika mereka melihat wajah sempurna itu.

Wajah eksotis seorang Oh Sehun yang muncul di beberapa edisi majalah dewasa.

Astaga, apa yang telah kulakukan… Luhan menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menggeleng pelan.

Sayangnya, itu bukanlah yang paling menyedihkan. Bagian terburuknya adalah, selama ini ia menyukai Sehun. Luhan menyukai seorang model majalah dewasa. Bagaimana bisa ia baru tahu mengenai hal ini.

Apa yang telah dipikirkannya? Ia mungkin sudah jauh lebih gila daripada Jongdae yang memberikan Minseok majalah itu.

Jantungnya berdebar sangat kencang, pipinya terus saja memerah karena tersipu. Ia bersumpah tidak akan membawa majalah itu lagi ke hadapannya.

Tapi tubuhnya berkhianat, dengan susah payah Luhan menahan keinginannya untuk tidak mengambil benda itu dari bawah ranjangnya, ternyata gagal. Ia mengintip sedikit lalu buru-buru memasukkannya lagi.

Kedua pipinya kembali merona setelah menatap model majalah dewasa yang membuat sesuatu diantara selangkangannya terasa ngilu dan menderita.

Ia harus tidur sekarang. Benar. Ia harus tidur. Bagaimanapun caranya.

.


.

Luhan merasa matanya masih berat, diliriknya alarm yang mulai berbunyi menunjukkan pukul tujuh pagi dan ia hampir telat kesekolah. Benar-benar telat dan ia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya kalau ia tidak memiliki kesempatan untuk masuk kelas karena hari ini ia akan mengikuti ujian.

Terakhir kali yang ia ingat adalah ia memaksa matanya agar terpejam tepat pukul empat pagi yang artinya ia baru tidur tiga jam.

Sepuluh menit lagi bel akan berbunyi.

Luhan hanya mencuci muka dan menggosok gigi lalu berganti pakaian, berlari kearah luar dan dengan apapun caranya, ia harus berhasil menapakkan kakinya di sekolah sebelum bel. Masih sempat ia mengutuk dalam-dalam mengenai kejadian semalam yang membuatnya hari ini bangun telat.

"Sialan." umpatnya dalam-dalam.

Selama beberapa hari kedepan ia tidak akan menemui siapapun dulu karena ia harus fokus pada ujian akhir. Ia tidak ingin perhatiannya terinterupsi dengan hal-hal tidak penting karena ini menyangkut masa depannya. Ia harus lulus dengan nilai terbaik agar ia dapat melanjutkan ke universitas yang diinginkannya.

Sayangnya, hidup terkadang tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan. Setelah hari pertama Luhan mengikuti ujiannya dan ia masih mempunyai beberapa mata pelajaran yang harus diujikan untuk beberapa hari kedepan, dimana harusnya ia belajar dengan fokus, Luhan malah berakhir ketiduran di sofa empuk dan nyaman itu. Ia sama sekali tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak tertidur, matanya berat.

Luhan terlonjak kaget ketika ia terbangun dan jam dindingnya menunjukkan bahwa hari semakin larut. Ada dua mata pelajaran yang akan diujikan besok dan ia belum menghafal satupun materinya.

Bagus, Luhan.

Ia mengacak rambutnya frustasi, kemudian kembali merutuki mimpi buruk itu. Tepatnya kejadian buruk yang barusan menimpanya hingga membuatnya seperti ini.

Luhan belum menyerah dengan pelajarannya, tidak hingga ponselnya berbunyi.

From : Sehun

Hey, selamat berjuang untuk ujian akhir! Aku tahu ini agak telat, tapi lebih baik telat daripada tidak sama sekali kan? ;] Fighting!

Luhan mengutuk anak itu. Bahkan emoji yang diberikan Sehun dalam pesan singkatnya membuat fantasi Luhan berpikir yang aneh-aneh. Mirip seperti wajah itu sedang mengerling seduktif padanya. Luhan mengerang kesal.

To : Sehun

Terima kasih, Sehun

Ia tahu balasannya sangat singkat, itu karena ia memang tidak ingin teringat oleh wajah Sehun yang memutar di benaknya. Maksudnya, wajah yang ada di majalah dewasa itu. Setengah mati ia berusaha untuk melupakan itu semua sejenak. Setidaknya hingga ia selesai melewati ujian dan lulus.

Tetapi tidak bisa. Sehun masih melintas di atas kepalanya.

Ia akan kembali ke sekolah esok hari dan ia harap ia tidak bertemu dengan Sehun.

.

.

"Hey." Suara itu memanggilnya dari jauh.

Luhan yang sibuk dengan sebuah buku ditangannya tampak tidak menggubris suara yang terasa semakin dekat. Ia malah menutup matanya rapat-rapat berusaha untuk menghafal beberapa bagian dari materi yang akan diujikan hari ini.

Langkahnya semakin terdengar, hingga Luhan merasakan seseorang berdiri disampingnya.

Jaket abu-abu dan masker hitam.

"Selamat pagi, hyung." Sapanya ramah dari balik masker.

"Pagi, Sehun."

"Kau sedang buru-buru, ya?"

"Mhm. Kau lihat ini sangat banyak." Jawab Luhan masih berusaha fokus pada buku tebalnya. Ia tidak ingin menoleh menatap kedua manik itu.

"Baiklah, good-luck, alright? Sampai jumpa."

Lalu Sehun mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipinya selama mereka berjalan berdampingan kemudian berbalik dan berjalan menjauh.

Luhan mematung. Ia mengernyit dan mulai merasakan kepalanya berdenyut.

Anak itu benar-benar membuat kepalaku pusing.

.


.

"Luhan! Kau tak ke sekolah untuk melihat nilai akhirmu? Sudah ramai sekali disini dan aku masih belum melihat batang hidungmu!" ucap Minseok bertubi-tubi dari seberang sana dengan suaranya yang cukup nyaring dan keras sehingga membuat Luhan harus sedikit menjauhkan ponsel dari telinga kirinya.

Luhan terbatuk sebentar. "Sepertinya aku tak bisa datang, Minseok-ah.." ucap Luhan lirih sambil memijat-mijat keningnya.

"Eh? Kau kenapa? Kau sakit? Kau baik-baik saja?"

"Hei, hei. Jangan panik begitu. Aku hanya flu biasa– Hatchiu!" Luhan mengusap bawah hidungnya dengan tisu perlahan. Mungkin ia sudah menghabiskan satu kotak tisu sejak malam tadi.

"Well, cepat sembuh, Lu. Setelah aku dapat menerobos pasukan barbar ini, aku akan meneleponmu lagi, bye!" Belum sempat Luhan membalas, Minseok sudah memutuskan sambungan. Luhan memutar bola matanya malas dan mengelap hidungnya lagi. Sampai sebuah notifikasi muncul di ponselnya.

From : Sehun

Luhan hyung, kau dimana?

Luhan tak membalas pesan singkat yang diterimanya dari adik kelasnya itu. Bukan karena sedang marahan atau apa, tapi mata berairnya bahkan tak sanggup menatap layar ponselnya lama-lama. Untuk mengetik satu huruf saja cairan didalam hidungnya sudah mengucur keluar. Luhan lalu beranjak dengan malasnya keluar dari kamar.

Hari ini memang seharusnya hari libur untuk kelas dua belas, untuknya. Tapi pihak sekolah mengumumkan nilai hasil ujian –yang membuat Luhan harus belajar berjam-jam– hari ini. Dan mau tak mau semua murid harus datang untuk mengetahui nilainya. Tapi tidak untuk Luhan. Flu yang didapatnya karena kurang tidur itu membuatnya bahkan enggan untuk keluar rumah menyapa tetangganya.

Baru saja ia mendaratkan bokongnya diatas sofa, ponselnya berdering.

Sehun.

Tsk, bocah itu, batinnya.

Ia lalu menekan tombol hijau. "Hal–"

"Kau kemana, hyung? Kenapa kau tidak masuk sekolah?"

"Kau orang kedua yang meneleponku hanya karena aku tak muncul di sekolah."

"Kau tidak melihat hasil ujianmu?" tanya Sehun. Dari suaranya, Luhan menebak pria itu tengah memakai maskernya.

"Hm, tampaknya aku akan menyuruh Minseok untuk memberitahuku nanti."

"Kau sakit?"

Darimana bocah ini tahu? Apa ia paranormal? Apa jangan-jangan ia memasang CCTV di rumahnya? Jangan konyol, Luhan.

"Suaramu berbeda." lanjutnya.

Luhan menghela nafasnya sejenak. "Ya, aku hanya flu. Bukan masalah besar."

"Aku ke rumahmu sekarang."

PIP.

Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Sehun dan Luhan tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menghela nafas.

Ia melanjutkan aktivitasnya membersihkan cairan yang terus mengalir keluar sambil meratapi nasib dengan ekspresi wajah menderita karena flu. Mungkin flu itu membuat pikirannya sedikit kacau, ia lupa apa yang ingin dilakukan olehnya sekarang.

Oh ya, ia ingat, ia ingin mengambil segelas air hangat. Katanya itu dapat meredakan flu walaupun Luhan tidak mengerti bagaimana caranya.

Dirinya kembali ke posisi sofa seperti semula, kali ini Luhan memilih berbaring. Tidur di ranjang sungguh membosankan. Ia memejamkan matanya sejenak, berdoa agar flu yang dialaminya cepat pergi sehingga ia bisa menghadiri acara sekolah sebagai kenangan terakhir disana beberapa hari lagi.

Belum lama ia berbaring, pintu rumahnya berbunyi. Luhan turun dari sofanya dan membuka pintu.

"Hey." katanya sambil melepas masker hitamnya.

"Eh? Sehun? Sedang apa disini?"

"Hyung, kau terlihat sangat buruk, kau tahu. Mengapa bisa sampai seperti ini?"

"Masuklah. Aku tidak apa-apa. Hanya flu biasa."

Setelah mereka masuk ke ruang tengah, Luhan kembali duduk di atas sofanya yang nyaman. Sehun menatapnya cemas. Hidungnya memerah, suaranya mindeng, dan rambutnya berantakan.

"Aku akan membuatkanmu sup. Katanya itu dapat meredakan flu. Boleh kupakai dapurmu?"

"Kurasa tidak perlu, Sehun. Aku akan segera membaik." Luhan tersenyum sambil mengusap air yang melesak keluar dari matanya. Ia tidak menangis, namun tekanan yang diberikan oleh kedua pipinya ketika mengeluarkan cairan dari hidung membuat matanya berair.

"Tidak, hyung. Kau lihat dirimu. Flu itu tidak akan sembuh dalam waktu dekat. Kau bisa percaya padaku, aku tidak akan membakar rumahmu."

"Baiklah. Dapurnya ada disebelah sana." Luhan menunjuk ke ujung ruangan. Sehun berjalan ke arah yang sama dan memulai kegiatannya.

Untung saja bahan makanan yang tersedia belum habis, Luhan baru ingat beberapa waktu yang lalu ia mampir ke supermarket untuk membeli barang-barang itu. Termasuk tisu kotaknya.

Setelah selesai, Sehun membawa semangkuk sup ayam ke ruang tengah untuk Luhan. Apron kuning yang menempel di tubuhnya membuat Luhan menahan tawa ketika melihat pria itu. "Ini hyung, hati-hati masih panas."

"Sehun, aku ingin mengambil fotomu dengan apron itu. Bolehkah?"

Kening Sehun berkerut seolah bertanya "Untuk apa?"

Luhan mengambil ponselnya namun Sehun buru-buru mencegahnya. "Tidak, hyung. Memangnya untuk apa."

Sehun tidak mungkin membiarkan Luhan mengambil fotonya. Ia bisa saja tidak sengaja menyebarkan hasil jepretan itu dan Sehun tidak akan ambil resiko jika sesuatu terjadi pada Luhan dan dirinya. Bisa saja fans-nya mengomentari akun weibo Luhan dengan kasar kalau Luhan meng-upload disana.

Kecuali Sehun memakai masker.

Tapi rasanya itu bukan ide yang bagus kalau ia memakai apron kuning dan masker dalam waktu bersamaan. Ia akan terlihat benar-benar freak.

Luhan masih sempat mengerucutkan bibirnya ketika Sehun menolak untuk difoto.

"Cepat dimakan sebelum dingin. Kau harus segera sembuh."

Luhan mengikuti apa yang disuruh oleh pria yang sekarang mengambil posisi duduk disampingnya. Sehun mengangkat mangkuk sup dan menyuapi Luhan dengan hati-hati.

"Memangnya kenapa?" tanyanya polos, wajahnya benar-benar sangat imut.

"Karena ada yang harus kukatakan padamu dalam waktu dekat ini."

Luhan mengunyah potongan daging kecil didalam mulutnya sambil menatap pria didepannya, "Apa itu?"

"Akan kuberitahu nanti, saat kau sudah sembuh."

Luhan merasa penasaran tentang apa yang akan dikatakan Sehun kepadanya. Rasanya ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi, tetapi flu ini sangat menyebalkan. Pikirannya bertanya-tanya bagaimana jika ia ketahuan menyimpan majalah dewasa dengan wajah Sehun di halaman depan. Apakah Sehun akan marah padanya? Ia ingin tahu reaksi Sehun saat ia mengatakan kalau dirinya sudah tahu bahwa Sehun ternyata adalah seorang model dan itu yang menjadi penyebabnya selalu memakai masker.

Memikirkan hal itu, Luhan senyum-senyum sendiri. Ia menatap Sehun lekat, mengamati setiap inci wajahnya sempurna milik pria itu. Rambut hitam pekatnya, garis rahang, dagu lancip, dan semua hal yang menjadi milik Sehun benar-benar membuat Luhan tidak bisa berhenti menyukainya.

Bagaimana mungkin seseorang yang lebih muda darinya menjadi seorang model. Dan ia menyukai adik kelasnya sendiri sekaligus model majalah dewasa. Sungguh, Luhan ingin menertawai dirinya. Ini semua terlihat seperti film drama yang ia tonton.

Dan bagian klimaksnya adalah, apakah Sehun benar-benar menyukai Luhan seperti yang pernah dikatakan olehnya waktu itu. Apakah Sehun serius dengan ucapannya.

Luhan tidak ingin menemukan dirinya kecewa. Walaupun ia percaya pada pria itu –sangat mempercayainya– namun tetap saja ia harus memiliki plan-B kalau seandainya perasaan Sehun padanya berubah suatu saat nanti.

.


.

Setelah berpidato singkat di upacara kelulusannya, Luhan kembali ke tempat duduknya. Tangannya merogoh saku celananya dan menemukan banyak notifikasi masuk dari keluarga dan kerabatnya yang mengucapkan selamat untuk kelulusannnya. Senyumnya tak dapat dipungkiri lagi. Namun ada satu orang yang ia harap memberikannya ucapan selamat. Sayangnya, hingga saat ini ia belum menampakkan batang hidungnya bahkan tidak ada pesan ataupun panggilan masuk dari orang itu.

Luhan menghela nafas singkat dan memutuskan untuk membuka akun instagram-nya. Ibu jarinya men-scroll timeline yang ramai akan foto teman-temannya. Matanya terhenti pada sebuah akun yang lewat di timeline-nya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Sehun meng-update SNS-nya dengan sebuah selfie dan beberapa patah kata.

"Congratulations for your graduation ;] #SL520"

Apa maksudnya? Apakah Sehun menujukan pesan itu untuknya? Atau Luhan hanya terlalu percaya diri? Mungkin nanti Luhan akan menanyakannya pada Sehun.

Dan acara kelulusan pun selesai. Yang lain berbondong-bondong keluar didampingi orangtua atau kerabat mereka, tapi tidak dengan Luhan. Keluarganya masih di kampung halamannya dan berhalangan hadir. Luhan pun keluar dari ruangan namun tepat ketika ia menginjakkan kakinya keluar dari aula, ponselnya berdering.

"Selamat atas kelulusanmu, hyung."

Luhan tak dapat menyembunyikan senyumnya, setidaknya dia tidak melupakan hari pentingnya. "Thanks, Sehun-ah."

"Kau masih di sekolah? "

"M-hm. Ada apa?"

"Tunggu di depan gerbang, aku akan menjemputmu. Lima menit lagi sampai."

TUT.

Hhh.. Seperti biasa, bocah itu, batin Luhan.

Dan benar saja lima menit kemudian Sehun sampai dengan mobil hitam mengkilapnya. Ia membuka jendela mobil, menampakkan wajah tampan tanpa masker yang membuat Luhan harus menahan nafasnya sejenak.

"Masuklah. Tunggu apa lagi?"

Tanpa ba-bi-bu Luhan masuk kedalam mobil dengan senyum canggung. Sehun menginjak pedal gas dan mulai melaju dengan kecepatan standar.

Luhan memulai pembicaraan mereka. "Um.. Kita mau kemana?"

Sehun pun sontak menoleh dan sedikit tersenyum. "Merayakan kelulusanmu? Aku tak mau kau merayakannya dengan tidur siang dan bermalas-malasan seakan ini bukanlah hari penting."

Tahu darimana dia apa yang akan kulakukan nanti? Apa dia benar-benar peramal? Luhan mengerucutkan bibirnya lucu.

"Y-ya terserah padaku dong," Luhan melanjutkan, "sekarang kita mau kemana, sih?"

Dan lagi-lagi Sehun tak menjawab pertanyaan Luhan dan itu membuat Luhan sangat geram sekarang. Ia mendengus kesal, lalu menatap tajam pria yang sedang menyetir dalam diam. Sudah lewat dua puluh menit dan pria tampan dengan garis dagu tegas itu masih bersikukuh tidak menjawab Luhan kemanakah mereka akan pergi.

Sebuah ide terbersit di benak Luhan. Seharusnya jika ia melakukan ini, pria disampingnya akan setidaknya menjawab pertanyaannya. Ia melirik Sehun sekilas lalu dengan sengaja memajukan badannya menutupi spion mobil padahal Sehun ingin menyelip diantara mobil-mobil lamban di jalan tol.

"Duduk yang benar, Lu,"

Kali ini Luhan yang tidak mendengarkan apa kata Sehun. Luhan tahu Sehun mendecakkan lidahnya kesal barusan. Rasakan itu!

Tapi Sehun tetap bungkam, tak mengatakan sepatah katapun. "Keras kepala sekali orang ini!" batin Luhan sambil mendengus sebal.

"Lu, aku harus berbelok dan lebih baik kau tidak menutup kaca spionnya." Ulang Sehun sekali lagi.

"Tidak sampai kau memberitahuku kemana kita akan pergi."

"Bisakah kau duduk diam dan berhenti bertanya?"

Sehun memutar stir-nya dengan sangat perlahan takut-takut kalau ada mobil dari belakang yang akan mendahuluinya. Luhan memutar bolamata malas, lagi-lagi menghela nafas kesal.

"Kenapa kau ini sangat keras kepala!"

"Memangnya kau tidak? Kau bahkan mengganggu konsentrasiku menyetir."

"Aku hanya ingin tahu. Apa susahnya mengatakan itu."

Sehun bungkam, tidak lagi melanjutkan percakapan. Luhan sama sekali tidak mengerti tentang sebuah kejutan dan itu membuat Sehun menyerah. Kalau ia mengatakan lebih banyak lagi maka rencananya tidak akan berjalan sesuai rencana.

Sehun berniat untuk mengakhiri argumen menyebalkan ini, tetapi Luhan tidak mengerti. Pria itu malah semakin memojokkannya dalam situasi seperti ini. Pria cantik itu melanjutkan ocehannya seperti seorang wanita on-her-period.

"Kau sangat menyebalkan Sehun. Kau tahu itu? Aku tidak mengerti mengapa aku bisa duduk disini bersama orang sepertimu. Mungkin seseorang harus membawaku pergi dari sini. Segera." Luhan menekankan kata terakhirnya, lalu mendengus. Ia melipat kedua lengannya didepan dada, membuang wajah kearah keluar jendela. Berharap aksi ngambeknya itu akan membuat Sehun berubah pikiran.

"Apa sulitnya mengatakan kita akan kemana dan aku akan diam. Aku tidak memintamu untuk melakukan apapun selain bicara. Kau dengar? Bi-ca-ra. Apakah sesulit itu membuka mulut?" Ia melanjutkan, masih dengan wajahnya yang tidak berniat melirik pria disebelahnya sama sekali.

Hening, Sehun memijat pelipisnya setelah memindahkan geer tangan dan menginjak pedal gas lebih kencang. Kalau Luhan berharap Sehun berbicara dan meladeninya, ia salah besar. Sehun masih bersikukuh untuk diam. Ia tahu kalau ia berbicara Luhan akan semakin ribut.

"Bagus, dan sekarang kau mengabaikanku." Luhan mengerucutkan bibirnya dan mendengus, lagi.

Suasana tenang didalam mobil hitam bertahan cukup lama setelah Luhan menyelesaikan kalimat terakhirnya. "Pelankan mobilnya, Sehun." perintah Luhan dengan nada suara dingin, "Aku tidak ingin mati kecelakaan didalam mobil bersama dengan pria dingin yang kesulitan dalam berbicara."

Baiklah, cukup dengan kata-kata pedas yang diberikan Luhan padanya. Sehun memutuskan untuk menjawab, "Bukankah itu malah bagus? Kita akan dikenal oleh semua orang karena kau adalah penyebab dari kecelakaan itu."

"Yak. Apa yang sedang kau katakan?!"

Sehun masih bersikap dingin padanya. Mendadak pria cantik itu berubah menjadi seperti Minseok, mengoceh tanpa henti. Tidak peduli seberapa canggung keadaan yang sedang terjadi, ia bersikeras untuk membuat Sehun membuka mulut. Ia pikir ia harus membuat Sehun menurutinya.

Sehun mempercepat kecepatan mobilnya secara tiba-tiba membuat kepala Luhan nyaris terbentur dasbor kalau saja pria itu tidak menggunakan sabuk pengaman.

"Sehun, cukup. Aku hampir kehilangan kewarasan karena berbicara denganmu. Menyukai adik kelasku sendiri saja sudah terdengar seperti lelucon apalagi menyukai seorang model majalah dewasa. Apa yang telah kulakukan pada hidupku! Kau membuatku terlihat begitu konyol dan aku tidak ingin bersikap bodoh lebih jauh lagi!"

Sehun mendelik mendengar ucapan Luhan barusan, keningnya berkerut sangat dalam dan mobilnya mendadak menepi di pinggir jalan. Setelah menarik rem tangan, ia menoleh pada pria cantik disampingnya dengan wajah aneh dan misterius, yang menurut Luhan cukup menyeramkan tetapi Luhan berpura-pura untuk tetap tenang.

"Apa sekarang? Kau sudah memutuskan untuk berbicara padaku?"

"Kau bilang apa tadi?"

"Apa? Yang mana?"

"Yang barusan. Ulangi kalimatmu barusan." perintah Sehun. Luhan menautkan alisnya, mengulang kembali kata-kata yang baru saja ia ucapkan.

Luhan terbelalak dan spontan menutup mulutnya begitu ia menyadari sesuatu. Astaga apa yang telah kukatakan padanya. Luhan tidak berani menatap Sehun disampingnya, ia menatap lurus kedepan dan menelan liurnya gugup.

"Ulangi ucapanmu, Luhan hyung."

"Eh? Tidak, aku.. aku–"

"Jadi kau sudah mengetahuinya? Sejak kapan?"

Luhan tidak tahu apa yang harus dijawab. Berbicara dengan Sehun sekarang seperti membunuh diri sendiri kedalam jurang. Sorot mata tajam Sehun menunggu sesuatu diucapkan oleh Luhan.

"Itu– belum lama.."

"Lalu?"

"Apanya?"

Sehun menyerah, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan kasar. Suara hela nafas berat bisa terdengar oleh Luhan. Sehun menatap ke arah keluar jendela saat rintik hujan mulai memenuhi kaca mobil. Udara mendadak menjadi canggung dan dingin.

Sehun merasa rencana kejutan yang ia siapkan sudah hampir gagal. Pertama, Luhan terus memojokkan Sehun dan tidak berusaha untuk mengerti bahwa Sehun telah menyiapkan sesuatu untuknya. Yang kedua, masalah pekerjaan freelance Sehun sebagai seorang majalah dewasa yang belum terselesaikan, ia bahkan ragu kalau Luhan akan menerimanya setelah ini. Dan yang terakhir adalah hujan turun begitu deras.

Seakan tidak ada satupun orang yang mendukungnya hari ini untuk melakukan acara penyataan cinta pada pria cantik disampingnya itu.

"Sehun…?" panggil Luhan.

"Mhm?" ia menggumam asal, memikirkan rencana cadangan karena Sehun tidak ingin menunda. Ia harus mendapatkan sebuah rencana romantis untuk meminta Luhan menjadi kekasihnya. Sialan, bahkan otaknya sendiri tidak berguna. Sehun tidak mendapatkan ide apapun. Sungguh payah.

Luhan bergeming, tidak melanjutkan lagi. Ia berharap Sehun ingin mengatakan sesuatu setelah ini.

"Baiklah, kau mungkin ingin tahu sesuatu. Aku memang bekerja di perusahaan majalah dewasa. Maka dari itu aku selalu memakai masker."

Luhan tahu yang satu itu. Tapi kenapa? Kenapa harus model majalah dewasa? Kenapa Sehun?

"Kau mungkin heran dan bertanya, dan kuberitahu sekarang bahwa aku tidak mempunyai alasan. Aku bekerja disana. And that's all. Maaf untuk tidak memberitahumu sejak awal." Sehun menjeda.

"Tidak, tidak apa-apa." Luhan ingin melanjutkan kalimatnya tetapi Sehun seperti memberikan reaksi lain, jadi ia memutuskan untuk mendengarkan pria itu terlebih dulu.

Sehun menyeringai misterius, sebenernya takut kalau Luhan benar-benar akan menolaknya kali ini. "Lucu rasanya ketika memikirkan kembali apa yang terjadi, aku menolakmu saat pertama kita bertemu hanya karena untuk menyembunyikan identitasku. Tapi kau lihat sekarang," ia menjeda, "Aku bahkan menjadi satu-satunya orang yang takut akan penolakanmu sekarang."

Rintik hujan terdengar bergemuruh menetes ke permukaan tanah, menemani keheningan mereka didalam sejuknya udara mobil. Mobil kaca berembun, Sehun menatap keluar, pandangan matanya berhenti pada sebuah kedai kopi yang masih buka.

"Ayo kita keluar." ajak Sehun segera melepaskan sabuk pengaman Luhan.

Jarak mereka begitu dekat sekarang, hingga Luhan bisa merasakan terpaan udara hangat dari nafas Sehun di wajahnya.

"Tidak perlu gugup seperti itu."

Sehun hanya membuat fantasinya muncul dan memikirkan yang tidak-tidak. Luhan sungguh tidak ingin pikirannya tertular oleh pikiran kotor Sehun. Pft.

Setelah mengambil payung di kursi belakang, Sehun setengah berlari ke pintu penumpang dan membukakannya untuk Luhan.

"Hati-hati." katanya langsung memeluk pinggang Luhan agar berada lebih dekat dengannya –dibawah payung mereka– saat Luhan keluar dari mobil. Sehun menekan remote mobil dengan tulisan lock diatasnya.

Mereka berlari menyebrangi jalan yang tampak sepi, dibawah hujan. Sehun merangkul Luhan, takut kalau pria itu akan kebasahan. Tidak peduli kalau dirinya sendiri menggigil karena angin berhembus, Sehun merasa dirinya harus melindungi pria disebelahnya.

Luhan berjalan lebih cepat menyesuaikan langkah pria yang lebih tinggi hingga mereka sampai di beranda kedai kopi itu. Walaupun kedinginan masih menyelimuti, setidaknya mereka tidak akan basah karena bulir air yang turun dari langit.

"Untuk apa kita kesini?"

"Tunggu disini."

Daripada mengajak Luhan masuk kedalam karena Sehun yakin kalau kedai ini sudah hampir tutup –tidak ada orang yang terlihat disana– ia melesat masuk kedalam kedai kopi dengan bau Arabica menyeruak menyapa hidungnya. Ternyata yang menjual kopi itu bukan orang setempat, Sehun mengenali wajah barat di balik kasir.

"Can I have two cups of hot coffee?"

"Sorry, but we have just closed." katanya ramah. Pria paruh baya dengan rambut pirang itu terlihat baik, jadi Sehun memberanikan diri untuk memohon.

"Please? It's cold outside and my boyfriend is craving for a cup of your tasty coffee."

Sehun hampir mengeluarkan wajah aegyo setengah memohon. Pria itu tampak menimbang sebentar sebelum berakhir merelakan waktunya untuk membuat dua gelas kopi untuk dua orang –yang sedang jatuh cinta– itu.

"Alright. Wait a minute."

Lalu ia menghilang di balik pintu dapur. Sehun tersenyum puas. Setidaknya dengan sedikit usaha ia berhasil untuk membujuk Paman Sam. Itulah yang tertulis di apron hijaunya, 'Uncle Sam'.

Sehun mengalihkan pandangan ke arah pria diluar sana tengah memeluk tubuhnya sendiri. Luhan hanya memakai kaus biasa dan celana panjang casual. Sehun tersenyum, hatinya berbunga begitu mengetahui kalau Luhan masih disana menunggunya.

Buru-buru ia keluar begitu membayar dua cangkir kopi yang diserahkan padanya. Sehun menyerahkan satu cangkir kepada Luhan dan satu lagi berada dalam genggamannya.

"Minumlah. Kau bisa jadi lebih hangat."

Mereka tidak bisa masuk kedalam karena pemilik kedai akan segera pulang.

Jadi disinilah mereka, menikmati secangkir minuman berkafein di beranda sebuah kedai kopi. Sehun dan Luhan berdiri berdampingan menyesap minuman mereka masing-masing. Suara hujan dan sedikit cahaya penerangan yang tersisa ikut menemani. Sehun bisa merasakan Luhan menggeser mendekat saat lampu lain tiba-tiba dimatikan.

Luhan menikmati suara hujan sekaligus bertanya dalam hati kapan hujan akan berhenti, sementara Sehun memutar otak bagaimana untuk memulai percakapan.

Mereka bertahan selama beberapa menit dalam keheningan yang menenangkan. Luhan tidak merasa canggung untuk berdiri di samping pria tinggi disebelahnya.

"Luhan hyung."

"Mhm?" Luhan bergumam saat Sehun memanggil tepat saat ia sedang menyesap kopi. Noda hitam kopi menempel di garis luar bibirnya.

"Apa yang kau inginkan dari seseorang yang menyatakan cintanya padamu?"

Luhan berpikir sambil mengeratkan genggaman pada cangkir kopi, menghangatkan telapak tangan.

"Sepertinya tidak ada. Mengetahui orang yang kucintai memiliki perasaan yang sama terhadapku itu sudah cukup."

Sehun menoleh pada pria yang lebih rendah, "Sesederhana itu?"

"Ya." Luhan mengangguk.

"Kau tidak menginginkan cincin atau bunga atau apapun yang berharga saat seseorang menyatakan cintanya padamu?"

Luhan meniup asap yang keluar dari mulut cangkir kopinya, "Aku tidak mengatakan aku tidak menginginkannya. Menurutku cincin dan bunga hanyalah sebuah bonus. Yang kuinginkan adalah rasa tulus dari orang itu. Dan kita bisa bersama-sama membangun dan mempertahankan sebuah hubungan. Ya, begitulah."

Sehun mengangguk mengerti, "Jadi aku masih memiliki kesempatan 'kan?"

"Kesempatan apa?"

Sehun berdiri berhadapan dengan Luhan begitu pula dengan pria yang lebih rendah darinya. Luhan menatap lurus ke manik Sehun, wajahnya polos. Pria yang lebih tinggi mengurai sebuah senyum di sudut bibirnya.

"Kesempatan untuk menjadi kekasihmu."

Luhan termenung disana. Kelopak mata doe masih beradu dengan manik Sehun, sangat lekat. Seolah mencari sesuatu disana, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran dan ketulusan. Hati kecilnya mengatakan pria itu serius terhadapnya.

"A–apa maksudmu?"

"Aku tidak menyiapkan bunga ataupun cincin, aku juga tidak pandai dalam merangkai kata-kata, tapi kau tahu satu hal yang sudah pernah kukatakan, bahwa aku menyukaimu. Dan aku akan membuktikannya,"

"Percaya atau tidak, perasaan untukmu semakin tumbuh setiap harinya. Dan aku bersedia untuk membangun dan mempertahankan sebuah hubungan."

Luhan masih mendengarnya dengan seksama. Ia tahu dirinya menahan nafas sebentar, tidak ingin fokusnya terganggu oleh apapun termasuk deru nafasnya sendiri.

"Aku ingin mencintaimu, Luhan hyung."

Suara hujan sesekali menginterupsi pembicaraan mereka, tapi Luhan mengusahakan agar suaranya terdengar oleh Sehun.

"Bagaimana aku bisa percaya kalau kau benar-benar serius?"

Masih dengan senyum yang sama, Sehun mengambil cangkir kopi Luhan dan meletakkan miliknya dan milik Luhan di sebuah meja kecil disana.

"Aku bisa membuktikannya dengan ini."

Sehun menarik tengkuk pria dihadapannya dan membiarkannya merasakan sepasang benda kenyal menyapu bibir merah muda Luhan. Luhan hanya mampu terbelalak, mengatur detak jantungnya dalam dekapan pria itu. Ciuman itu awalnya lembut, lama kelamaan menjadi lebih hangat. Jilatan demi jilatan diberikan Sehun pada garis bibir Luhan.

Sehun meraup bibir bagian bawah Luhan dan mengecapnya seolah benda itu adalah miliknya sendiri. Akhinya Luhan tidak bisa menahan diri untuk tidak menyambut bibir Sehun kedalam mulutnya, ia membuka mulutnya memberikan akses lebih, membawa ciuman mereka lebih dalam.

Ciumannya begitu adiktif, udara dingin berganti dengan kehangatan. Tidak peduli dimana mereka berada sekarang, Luhan merasa dirinya menginginkan ciuman itu lagi begitu Sehun menarik tautan mereka.

Dan sekarang perasaan khawatir telah menguap dari hatinya tergantikan dengan rasa bahagia. Sehun memiliki perasaan yang sama. Luhan tidak harus jatuh cinta sendirian, karena Sehun juga akan melakukan hal yang sama, padanya.

.

.

.

.

fin.

.

.


.

.

Epilogue

.

"Ah maaf. Sepertinya aku tidak bisa. Sehun memintaku untuk menemaninya ke toko buku besok. Bagaimana kalau lain kali?"

Minseok mengerucutkan bibirnya, pria berambut pirang itu hanya menyeringai penuh rasa bersalah.

"Kenapa harus besok. Kau bisa menolaknya dan menemaniku untuk membelikan kado untuk Jongdae! Kau tahu kan ulangtahun Jongdae sudah hampir tiba dalam waktu dekat ini."

"Iya– baiklah, akan kucoba mengatakan padanya. Bisakah kau mengambil ponselku di kursi belakang?"

Minseok mengangguk. Ia mengambil ponsel Luhan dan membuka menggeser layar lock screen.

"Lu, Sehun mengirimkanmu begitu banyak pesan?"

Luhan hanya tersenyum, ia memutar stir ke arah kanan mengantar Minseok ke rumahnya.

"Anak itu memang seperti itu."

Iseng-iseng Minseok membuka salah satu pesan yang dikirimkah oleh Sehun. Oh, ternyata itu voice note. Tiba-tiba sebuah suara terdengar melalui speaker ponsel Luhan.

"Hyung, aku memiliki beberapa hal untuk dikerjakan malam ini. Jadi kuharap kau tidak akan melupakan makan malammu, okay? Aku akan menghubungimu segera. I love you."

Minseok melebarkan bola matanya. Ia membawa ponsel Luhan dekat dengan dadanya. Mulutnya menganga lebar. Keterkejutan Minseok membuat suara pekikan memenuhi seluruh isi mobil. "Luhan! Apa yang anak itu katakan padamu?! Apa maksudnya? Kalian berdua…? Jangan katakan padaku kalian sudah berpacaran! Demi Neptunus, Xi Luhan mengapa kau tidak memberitahuku?"

Luhan mengangkat bahunya sekaligus menyeringai bodoh, mengiyakan semua pertanyaan Minseok secara tidak langsung.

"Yak! Xi Luhan! Kau mengencani model majalah dewasa!"

Ya, begitulah cinta.

.

.

.

selesai.


Chingchongs:

satu lagi ff kami yang tamat~ ahahahayy~

gimana? tebakan kalian ada yang bener? nyahaha~ absurd bgt ya ga sih/?

untuk ff ini, uda fix ga ada sequel. sorry~

.

THANKS A LOT BUAT YANG UDA NUNGGU FF INI YANG SUPER NGARET/?

THANKS A LOT BUAT YANG UDA REVIEW DAN BACA, I LOVE YOU~!

.

saranghaja,

exoblackpepper