Warning : GS, gaje, tidak sesuai EYD, alur membosankan, kurang romantis, aneh, typho dll
Semua cast bukan punya saya, tapi cerita ff ini punya saya
Dilarang copy paste ff ini dan dilarang bash cast ff ini
Saya pinjam nama cast dari Super Junior dan SNSD
'JOY'
LOVE INN
Sungmin POV
Pagi ini, seperti biasa, aku terbangun dengan kepala begitu berat, rasanya seperti membawa beban yang harus di gantungkan di kepalaku. Dengan malas aku beranjak dari ranjang, membuka korden jendela, merasakan sejenak kehangatan sinar matahari, membiarkannya menyapa tubuhku.
Untuk beberapa saat aku berdiri, menikmati pemandangan indah di luar sana. Hamparan bunga-bunga, ditambah pohon-pohon maple yang memagarinya, sebenarnya merupakan salah satu pemandangan favoritku saat aku masih bersama dengannya.
Ya, suamiku atau lebih tepatnya mantan suamiku yang sangat aku cintai. Cho Kyu Hyun. Satu-satunya namja yang sudah mencuri hatiku, memilikinya. Satu-satunya namja yang bisa membuatku merasakan kehangatan cinta, dan aku yakin, tak ada namja lain yang bisa melakukannya.
Satu hal paling membahagiakan yang tak akan pernah bisa kulupakan adalah saat ia mengajakku menikah, melamarku saat kami menikmati kembang api di hari ulang tahunku. Rasanya saat itu, aku seperti mendapatkan hadiah terbesar yang tidak akan bisa terganti dengan apapun.
Dilanjutkan dengan lamaran resmi, dan kemudian hari itu tiba. Hari dimana kami mengikat janji untuk selalu saling mencintai. Hingga dimulailah hari-hariku yang terisi cinta...cinta...cinta den kebahagiaan.
Namun sayangnya, karena keegoisanku, kebahagiaan kami tidak bertahan lama. Semakin hari, karena kesibukanku dengan bisnis food court ku yang semakin berkembang, justru membuat hubunganku dengannya semakin merenggang. Hingga puncaknya sekitar sebelas bulan yang lalu, ia mengajukan gugatan cerai kepadaku. Membuatu seperti terjatuh ke jurang terdalam.
Selama lima bulan setelah pengajuan gugatan itu, aku terus berusaha untuk meminta maaf kepadanya, meminta satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.
Tapi mungkin hatinya sudah tertutup. Tidak ada kesempatan lagi bagiku untuk berbenah. Dia bersikeras kami harus bercerai. Akhirnya, karena lelah dengan sikap dan penolakannya akupun menandatangani surat cerai itu.
Membuat status kami kembali single sejak enam bulan yang lalu.
Tak sadar aku kembali menuju ke ranjangku. Menghempaskan tubuh lemahku di sana. Memeluk guling dan kembali memejamkan mata.
Entah mengapa, sejak aku berpisah dengannya, tidur dan minum wine sudah menjadi rutinitas favorit yang menyita tujuh puluh persen kegiatan harianku, selain mengurus bisnisku tentunya. Rasanya kedua kegiatan itu menjadi hal terbaik yang bisa kulakukan untuk melupakannya, melupakan rasa bersalah dan perih yang begitu menyakitkan hatiku.
Aku sudah nyaris kembali masuk ke alam mimpi, sendainya suara itu tidak menggangguku.
"Minnie imo...ayo bangun ... jebal ..." suara kecil itu kudengar semakin dekat dengan telingaku, dan kemudian kurasakan dua tangan kecil yang menggoncangkan lenganku pelan, mencoba menyadarkanku dari alam mimpi.
"Minnie imo ... temani Youngie main...ayo imo …" tangan kecil itu masih setia mengguncang lenganku.
"Sooyoungie …kau sedang apa chagi?" yang ini aku yakin suara eonnie iparku, Lee Ki Bum.
"Youngie mau main cama imo, eomma …" tak kurasakan lagi tangan kecilnya mengguncang lenganku.
"Tapi Youngie tidak boleh membangunkan Minnie imo dengan cara seperti itu." ucap Kibum eonnie sambil mendekati ranjangku dan menggendong Sooyoung, putrinya dengan lembut. Sementara aku yang masih malas bangun masih memejamkan mataku. Berpura-pura tidur dan tidak merasakan apapun.
"Nah Youngie, sekarang main sama Hyoyeon imo dulu ya. Biar eomma yang membangunkan Minnie imo. Nanti Kalau Minnie imo sudah bangun, Youngie bisa main sama Minnie imo."
"Ne eomma, nanti kalau Minnie imo bangun, Youngie akan mengajaknya belmain boneka ..." ucap Sooyoung. Dan kudengar langkah kecil itu mulai menjauh dari kamarku.
"Nah Minnie, sekarang kau harus bangun." kurasakan Kibum eonnie kini sudah duduk di dekatku. Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfum lembut yang menenangkan.
"Aku tahu, kau sudah bangun dari tadi, jadi tidak usah berpura-pura masih tidur seperti itu." Kibum eonnie masih sabar menungguku mau membuka mataku dengan sukarela.
Ini adalah salah satu rutinitasku setelah bercerai dan memutuskan menumpang di rumah oppaku, Lee Si Won. Menunggu Kibum eonnie membangunkanku dari tidurku. Mendengarkannya berbicara terus menerus hingga dia lelah. Mungkin ini adalah salah satu hiburanku selain bermain dengan Sooyoung, keponakanku satu-satunya.
Hampir limabelas menit, Kibum eonnie masih setia duduk di dekat ranjangku, mengucapkan kata-kata motivasi yang sebenarnya mempunyai arti yang dalam dan luar biasa, mengingat dulu sebelum menikah dengan oppaku, Kibum eonnie adalah seorang dosen psikologi yang bahkan sudah meraih gelar doktornya di usia dua puluh lima tahun. Maklum, Kibum eonnie ini adalah seorang yang mempunyai IQ tinggi, bisa digolongkan jenius. Tapi entah bagaimana cara oppaku merayunya, hingga yeoja sehebat Kibum eonnie mau menikah dengannya, bahkan merelakan profesi dosennya dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Ini hal yang sampai sekarang belum bisa kupahami dan belum bisa kuikuti, bahkan hingga aku diceraikan suamiku.
"Terserah kau saja, mau bangun silakan, tidak bangun juga silakan." ucapnya pada akhirnya. Aku yakin eonnie sudah lelah membangunkanku dengan berbagai cara yang ia bisa. Dalam hati aku tertawa, senang rasanya bisa membuat 'snow white princess' yang begitu dingin itu mengeluarkan emosinya.
Kudengar langkah eonnie menjauh dari kamarku, kemudian terdengar suara pintu ditutup pelan-pelan.
Sepeninggal Kibum eonnie dari kamarku, aku segera mendudukkan diriku. Bagaimanapun juga aku merasa kasihan kepada eonnie yang sudah susah payah membangunkanku. Maka segera aku keluar kamar, menuruni tangga pelan-pelan, berniat menuju dapur untuk mengambil air dingin, menghilangkan dehidrasi yang tiba-tiba saja menyerangku.
Belum sempat aku masuk ke dapur, telinga tajamku ini mendengar suara oppa dan eonnieku yang sedang mengobrol.
Bagaimana mungkin sudah hampir jam delapan oppa belum pergi ke kantor? Setelah beberapa saat mengingat, akhirnya aku sadar kalau ini adalah hari minggu. Makanya oppa tidak ke kantor.
"Jadi menghubungi Joongwoon hyung?" suara Siwon oppa. Mendengar ia menyebut nama Joongwoon oppa, aku mengurungkan niatku. Sekarang aku mengambil tempat yang agak tersembunyi tapi masih memungkinkanku mendengar pembicaraan mereka. Ya, aku akan menguping pembicaraan mereka. Habisnya ini sangat mencurigakan. Untuk apa mereka ingin menghubungi kakak mantan suamiku.
"Huss...jangan keras-keras yeobo." Kibum eonnie terdengar memperingatkan oppaku.
"Kenapa chagi, kau bilang Minnie belum bangun kan?" tanya Siwon oppa kembali.
"Memang tadi belum bangun, tapi bagaimana kalau tiba-tiba dia menyelinap dan menguping?" jawab Kibum eonnie, hah ... eonnieku itu feelingnya begitu kuat. Tapi memang benar aku sekarang sedang menguping mereka.
"Baiklah chagi, kita berbicara dengan berbisik saja." putus oppaku. Detik berikutnya aku tidak mendengarkan apa-apa lagi. Sebenarnya apa yang direncanakan oppa dan eonnieku itu?
End of Sungmin POV
T.B.C
Chap 4 update juga akhirnya. Mianhe kalau cuma pendek ... walau pun hanya sependek ini, tapi saya membuatnya hampir dua jam lho ... Semoga tidak terlalu mengecewakan. Dan mianhe lagi, Kyumin momentnya masih saya simpan, karena belum waktunya muncul ... saya harap reader semua bersabar ya ... he...he...he...
Terimakasih untuk semua reader yang sudah memberi review :
Tiasicho, yatiyunjae, abilhikmah, Kim Ae Rin, keroro. r. kero, PaboGirl, Kang Shin Ah, SiwonAhjussi407, parkhyun, lisnaangr, lalakms
(Mianhe kalau ada kesalahan penulisan nama reviewer)
Terimakasih juga untuk yang sudah memfollow dan memfavoritkan ff ini.
Yang sudah baca tolong review.
ThanKYU
