Seharusnya…

Ya, seharusnya ia melindungi Naruto dengan tubuhnya. Bukan sebaliknya dimana pemuda pirang itu kini berada di bawah kendali tubuh berkulit porselennya. Ia seharusnya membuat Omega di bawahnya ini bersimpati padanya, bukan membuatnya memandang dengan rasa takut dan terkejut dari jernih iris azure miliknya. Di atas lantai tatami yang lembut itu, dirinya yang mengungkung tubuh berkulit tan di bawahnya dapat merasakan akan nafas mereka yang memburu dan saling bertukar.

Setelah menjalankan misi, seharusnya mereka kini tengah berendam di dalam onsen mewah yang ditawarkan oleh klien mereka. Namun belum sempat memanjakan diri, permasalahan yang mereka hindari kini justru harus dihadapi tanpa persiapan apapun. Belum genap dua bulan, kini Naruto kembali mengalami Heat. Tak ada tanda suatu apapun, dan aroma manis menguar kembali dari tubuh pemuda yang bercita-cita sebagai Hokage di masa depan itu tanpa bisa ditahan.

Semua berawal pada sentuhan tanpa disengaja yang dilakukan oleh Sasuke ketika melihat Naruto berjalan sedikit terhuyung ke dalam kamar mereka. Ya, mereka harus menggunakan kamar yang sama dan mencoba bertahan dalam menghadapi cobaan yang dirasa berat bagi keduanya. Ditambah lagi situasi sekarang yang semakin mempersulit keteguhan hati keduanya.

"Sa… Sasuke…"

Desahan lirih itu memberikan dampak bagi pemuda Alpha di atasnya. Sasuke dapat merasakan matanya memanas karena Sharingan miliknya yang aktif. Semua indera miliknya menjadi lebih sensitif berkali-kali lipat. Arah pandangnya menjadi lebih luas meskipun iris merahnya berfokus pada iris sebiru langit di bawahnya. Hidungnya dapat menangkap dan menghirup sebanyak mungkin aroma manis yang menguar dari tubuh Naruto. Dan meskipun tak bersentuhan, kulitnya dapat merasakan hawa panas yang menguar dari si pirang.

"Naru… to…"

Sharingan miliknya kini berfokus pada leher jenjang kecoklatan yang sedikit terekspos dan nampak menggodanya untuk segera menanamkan giginya di antara perpotongan leher dan pundak itu untuk menandainya. Secara perlahan tangan putih miliknya terangkat dengan gemetaran menuju leher Naruto. Ia tahu bahwa mereka berdua berkeringat dingin, tapi ia tak bisa menghentikan pergerakan tangannya untuk menyentuh kulit tan eksotis yang selama ini selalu ia inginkan.

"Haah… Sasu…"

Suara serak Omega di bawahnya mengerang membuat telinga Sasuke terasa berdengung. Rasa panas seolah menjalar dari ujung jarinya ketika menyentuh kulit itu. Tubuh Naruto juga dapat ia rasakan bergetar penuh antisipasi akan rasa nikmat dan rasa takut yang menjalar bersamaan mencoba saling mendominasi. Nafas yang kian memburu dan saling bertukar kini bercampur dengan aroma tubuh manis. Semua ini tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Sasuke tahu bahwa kedua hati mereka tengah bergejolak antara menolak atau terus melanjutkannya.

Dapat ia dengar bahwa dirinya tengah menggeram karena jiwa Alpha-nya yang mencoba untuk mendominasi Omega di bawahnya. Ujung-ujung jarinya yang membelai lembut disertai desahan membuat akal sehat Sasuke semakin menjauh. Ia ingin mengklaim Omega di bawahnya. Ia ingin menjadikan Naruto sebagai miliknya. Geramannya terdengar semakin kencang ketika pemuda pirang itu menggeliat dan mendesah karena sentuhan yagn diberikan.

Dan perlahan pemuda berambut raven itu mendekatkan wajahnya pada ceruk leher si pemuda pirang. Ia bermaksud untuk menjadikan Naruto sebagai miliknya dengan menandainya.

"Sasu… tidak…"

Zraat.

|\_/|
( ^_^ )

Love vs Instinct

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : SasuNaru, Alpha Beta Omega Dynamics, Ninja-verse, child abuse, discrimination, soulmate bounding, rape

|\_/|
( ^_^ )

For Fujodanshi Independence Day #8

|\_/|
( ^_^ )

Iris azure itu membelalak lebar ketika melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Alpha di atasnya. Pemuda berambut raven itu menampakkan ekspresi kesakitan yang kentara. Matanya telah kembali pada warna obsidian seperti biasanya. Keringat dingin mengucur dari wajah putih porselen milik Sasuke. Perlahan senyuman tersungging dari bibir tipis itu.

"Maafkan aku… Dobe…" lirihnya. Bibir yang tersenyum itu mendekat pada dahi yang tertutup helaian poni pirang miliknya. Sasuke mengecup dahinya dengan lembut sebelum senyuman kembali terkembang. "Aku… pasti akan melindungimu…"

Bruk.

Dan tubuh kekar pemuda Alpha itu ambruk tepat menindih tubuh Naruto sambil meringis. Sedikitpun Naruto tak mengedipkan matanya, sebelum ia merasakan sesuatu yang hangat terasa di perutnya. Sesuatu yang hangat tersebut terasa lembab dan seolah membasahi baju yang dikenakannya. Tangannya meraba perutnya perlahan merasakan bajunya yang basah dan perlahan mengangkat tangannya untuk melihat jemarinya kini basah dengan noda berwarna merah.

Darah.

Perlahan ia menggerakkan tubuh Sasuke untuk menyingkirkan dari atas tubuhnya. Pemuda bermarga Uchiha itu meringis sedikit ketika digerakkan. Dan kini Naruto dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi. Gejolak Heat yang tadi dirasakannya kini terlupakan. Karena iris azure miliknya menangkap bahwa rivalnya itu menusukkan sebuah kunai tepat ke perutnya sendiri.

Semua akal sehatnya serasa ikut menguap. Tubuhnya gemetar dengan pemandangan yang dilihatnya. Ia hanya dapat mematung selama beberapa saat mencoba mencerna hal yang dilihatnya. Sebelum akhirnya kinerja otaknya mulai tersadar kembali.

"Sa-Sakura… chan…" lirihnya memanggil dengan suara bergetar. "Sakura-chaaaann!"

Suara seraknya yang histeris kini terbayarkan ketika mendengar derap langkah setengah berlari menuju kamar mereka. Suara pintu yang bergesar karena tegesa terdengar. Iris birunya masih memandang pada sosok rivalnya yang terbaring tak berdaya sambil menahan sakit.

"Naruto, apa yang…" jeda sesaat sebelum gadis itu ikut histeris melihat pemandangan yang dilihatnya. "Sasuke-kun!"

Gadis Beta itu segera berlari mendekat untuk memeriksa rekannya. Sebuah kunai yang digenggam pemuda Alpha itu menusuk dalam pada perutnya dan membasahi baju putihnya serta menggenangi lantai tatami kamar.

"Naruto, apa yang terjadi?!"

Namun pemuda Omega berambut pirang itu hanya menjawab dengan tidak jelas sambil terbata-bata. Berusaha bergerak cepat, Sakura mencoba untuk mengobati Sasuke. Namun lengan gadis itu ditahan oleh pemuda Alpha yang terluka.

"Bawa Naruto pergi dari sini…" lirih Sasuke. "Bawa ia ke ruangan lain… Jauhkan ia dariku… cepat… Sakura…"

"Sasuke-kun, apa yang kau katakan? Kau terluka! Aku harus-"

"Lakukan saja kataku!" bentak Sasuke.

Keduanya tersentak mendengar bentakan yang dikeluarkan oleh pemuda raven. Jeda sesaat sebelum gadis berambut pink itu menarik lengan Naruto agar menjauh dari Sasuke. "Ayo, Naruto. Kau menetap di kamarku saja."

"Sakura-chan, apa yang kau… Sasuke terluka! Sembuhkan ia dulu!"

Tak mengindahkan permintaan si pirang, gadis itu segera menarik Naruto sekuat tenaga untuk menjauhkannya dari sosok Alpha yang masih terkapar berlumur darahnya sendiri. Iris obsidian Sasuke memandang lega ketika melihat rekannya membawa si pirang menjauh keluar dari kamar mereka saat ini.

"Terima kasih… Sakura…" desahnya.

|\_/|
( ^_^ )

Sakura langsung mengunci Naruto di ruangan kamarnya yang terpisah beberapa kamar dari kamar sebelumnya. Gadis itu tak mengindahkah teriakan si pemuda pirang. Dengan tergesa ia segera kembali ke kamar Sasuke. Pemuda berambut raven itu masih terbaring disana mengatur nafasnya. Darahnya masih terus menggenang di bawah tubuhnya.

Dengan cekatan gadis Beta itu mengobati dan menyembuhkan luka pada perut Sasuke. Ia mencabut perlahan kunai yang masih tertancap pada perut pemuda di hadapannya yang menyebabkan Sasuke sedikit meringis kesakitan lalu segera mengalirkan cakra penyembuh pada perutnya. Selama beberapa saat keduanya terdiam.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Sasuke-kun?" tanya Sakura perlahan.

Hening menemani.

"Naruto sudah kau amankan?"

Gadis itu menganggukan kepalanya perlahan. Sasuke menghela nafas lega. Mereka kembali terdiam dan Sakura tetap berkonsentrasi menyembuhkan luka pada rekannya. Ketika sudah memastikan bahwa luka tadi telah sembuh, gadis itu tetap duduk pada posisinya dan memandang pada pemuda di hadapannya yang secara perlahan mulai bangkit dan ikut terduduk.

Sasuke membuka baju yang telah terkoyak dan berlumur darah lalu melemparnya jauh. Yang tersisa dari tubuhnya kini hanya noda darahnya. Pemuda itu dapat merasakan bahwa gadis di sampingnya menunggu penjelasan darinya. Ia menghela nafas perlahan.

"Naruto… mengalami Heat saat aku menyentuhnya tanpa disengaja," ujarnya. Tak ada tanggapan dari Sakura, mungkin ingin mendengar secara jelas tanpa ada gangguan. Pemuda Alpha itu menundukkan kepalanya. "Dan aku menyerangnya."

Hening kembali menemani di antara mereka. Sakura menghela nafas. "Lalu kau sengaja melukai dirimu untuk melindungi Naruto?" ucap gadis itu lirih yang dibalas anggukan lemah dari rekannya. Iris emerald miliknya terpejam erat. Karena meskipun ia telah merelakan pemuda di hadapannya ini lepas dari genggamannya, namun rasa sakit karena mencintainya masihlah tetap ada. Tangan ramping gadis yang berlumur darah itu mengepal erat.

Perlahan gadis itu bangkit dari posisinya duduk. Ia berjalan menuju pintu bermaksud untuk keluar dari ruangan itu. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara bariton dari pemuda di belakangnya.

"Terima kasih… Lindungi Naruto dariku, Sakura."

Genggaman gadis itu semakin erat. Perlahan Sakura menoleh melalui bahunya sambil menyunggingkan senyuman tipis yang menenangkan. "Pasti."

Dan sosok gadis Beta itu menghilang dari balik pintu kamar yang tertutup. Kini Sasuke hanya seorang diri dan masih tetap duduk di atas genangan darahnya sendiri. Iris obsidiannya memandang nanar pada apapun yang ada di hadapannya. Lalu ia membenamkan wajahnya pada telapak tangannya, membuat wajahnya ternoda oleh noda darahnya sendiri.

Terdengar sebuah ketukan pada pintu kamarnya sebelum terdengar suara seseorang yang memanggil, "Permisi, Tuan. Saya diperintahkan oleh Nona Sakura untuk membersihkan kamar Anda." Suara pelayan penginapan mereka rupanya. Pemuda Uchiha itu segera bangkit dari tempatnya termenung sebelum berpindah ke sisi lain ruangan kamarnya untuk berganti pakaian. "Masuk."

Sesaat ia bisa mendengar suara wanita itu yang terkesiap, mungkin karena melihat genangan darah yang berada di atas tatami mengotori kamar itu. Sasuke tak menanggapinya dan lebih memilih untuk membuka seluruh pakaiannya. Ia berencana untuk membersihkan tubuhnya karena darah yang masih basah sekaligus berendam menenangkan dirinya.

"Tu-tuan, jika Anda terluka, kami bisa mengobati Anda. Kami punya-"

"Tidak perlu. Lukaku sudah sembuh. Maaf, jika kau sudah selesai membersihkannya, bisakah kau keluar? Aku ingin berendam."

"Ba-baik. Segera, Tuan."

Terdengar suara gemerisik lembut dari ruangan yang tengah dibersihkan oleh pelayan penginapan tersebut. Sedangkan Sasuke termenung berdiri dengan tubuh tanpa tertutup oleh sehelai lembaran kain apapun. Ia masih memikirkan peristiwa yang belum lama ini terjadi antara dirinya dengan rivalnya yang kini diketahui sebagai seorang Omega.

Sasuke jadi memikirkannya kembali, apa gerangan yang membuat Naruto berbeda bila dibandingkan dengan Omega lainnya? Sudah sering kali dirinya mendapat berbagai godaan dari Omega lain, namun tak pernah sedikit pun ia merasa tertarik. Jangankan tergoda, untuk disentuh oleh para Omega itu ketika mereka dengan sengaja mendekati dirinya ketika mengalami Heat saja, Sasuke justru merasa jijik.

Tapi dengan Naruto justru berbeda. Ia tak pernah sekalipun merasakan gejolak ini, dimana dirinya begitu mudah dikendalikan oleh jiwa Alpha-nya untuk mendominasi Omega yang kini diinginkannya. Namun kini berbalik, dirinya yang ingin memiliki pemuda pirang itu justru tak bisa dengan leluasa menyentuhnya. Karena takut Naruto akan semakin sulit menghilangkan trauma dalam jiwanya. Atau… mungkin juga karena selama ini dirinya selalu menolak dan meremehkan para Omega yang berusaha mendekatinya, ia terkena karma.

"Tuan, saya sudah selesai membersihkan kamar Anda. Saya permisi," suara pelayan yang memanggil membuyarkan lamunannya. Hanya dibalas gumaman dari Sasuke sebelum dirinya mendengar pintu kamarnya yang bergeser dan tertutup kembali. Perlahan pemuda berkulit porselen itu mulai berjalan menuju onsen pribadi dalam kamarnya dan membersihkan diri, sebelum dirinya berendam.

Namun satu hal tekad yang tak tergoyahkan dari dirinya. "Aku akan melindungimu… Dobe…"

|\_/|
( ^_^ )

"Bagaimana keadaan Sasuke, Sakura-chan? Kau sudah menyembuhkannya? Bagaimana dengan lukanya? Dia terluka sangat parah 'kan? Cepat jelaskan padaku, Sakura-chan. Apa dia sudah baik-baik saja? Lalu-"

"Naruto, tenanglah!"

Gadis berambut pink itu segera mencengkram kedua bahu pemuda di hadapannya. Bermaksud untuk menghilangkan kepanikan yang dirasanya tidak perlu. Kedua pasang iris azure dan emerald itu saling beradu pandang. Dimana pemilik iris emerald memandang dengan tenang sedangkan lawannya menyiratkan kekhawatiran.

"Sasuke-kun baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menyembuhkan lukanya."

Ekspresi Naruto langsung berubah menjadi lega sebelum akhirnya ia menghela nafas. Sakura memandang pemuda di depannya sambil tersenyum. Dilihatnya si pemuda pirang itu mengusapkan wajahnya menggunakan sebelah tangannya yang berkulit kecoklatan. Naruto menggumamkan kata syukur dengan pelan.

Gadis Beta itu memperhatikan Omega di depannya sebelum ia mengingat sesuatu dan merasa ada keganjilan. Ia menelan air liurnya karena ragu akan membuka suara. "Naruto," panggilnya lirih. Dilihatnya pemuda pirang di hadapannya memfokuskan pandangannya pada dirinya.

"Kudengar kau mengalami Heat saat bersama Sasuke-kun tadi."

Tubuh pemuda itu menegang mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh rekannya. Iris biru itu mengalihkan perhatiannya ke samping dan mengangguk pelan. Hening menyelimuti sebelum akhirnya Sakura kembali berbicara.

"Apa kau masih merasakan Heat yang kau rasakan tadi?"

Sesaat Naruto terdiam memandang tatami di kamar itu, lalu dengan tiba-tiba wajah pemuda itu langsung memandang ke arah gadis di depannya. Tak lupa ekspresi terkejut yang terpasang disana. Pemuda itu kini menyadari bahwa Heat yang tadi ia rasakan kini telah menghilang tak berbekas.

"Be-benar juga… aku… Heat-ku berhenti?" ujarnya dengan nada yang bingung. "Bagaimana mungkin? Sakura-chan?"

"Tu-tunggu dulu, aku juga tidak mengerti. Karena itu aku bertanya padamu, Naruto."

Keduanya kini memasang ekspresi yang sama bingungnya. Naruto memandang kedua tangannya lalu meraba tubuhnya yang kini terasa seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda ia merasakan Heat seperti sebelumnya.

"Apakah Heat-ku berhenti karena aku panik?" gumam pemuda itu heran.

"Entahlah. Aku tak pernah mendengar ada Omega yang mengalami Heat lalu berhenti secara tiba-tiba hanya karena panik," ujar Sakura.

"Kau benar."

"Apapun itu, kita bisa menanyakannya nanti kepada Tsunade-sama."

Naruto menganggukan kepalanya. Gadis berambut pink itu menghela nafasnya sebelum mencoba memberanikan diri untuk mengutarakan pendapatnya pada pemuda pirang di hadapannya. Karena ia tahu betapa keras kepalanya Naruto jika ia tahu apa yang akan dibahas mereka selanjutnya. Hal ini membuat Omega itu memasang ekspresi bingung pada tingkah rekannya yang tampak sedikit gugup.

"Naruto…" panggil Sakura perlahan mencoba berhati-hati.

"Ya?"

"Kau sudah mendengar dari Tsunade-sama mengenai kemungkinan hubunganmu dengan Sasuke-kun, bukan?"

Dan… tubuh Naruto kembali menegang karenanya. "Sakura-chan… Kau tahu aku tidak-"

Jari telunjuk lentik menghentikan kalimatnya yang membuat pemuda pirang bungkam. Gadis di depannya tahu apa yang menjadi alasan pemuda itu. Ia lebih dari tahu, karena ia juga yang selalu bersama dengan si pemuda Omega ketika mengalami hal menyakitkan itu. Sakura tersenyum lembut pada Naruto.

"Apa kau menganggap Sasuke-kun sama seperti Alpha lainnya?"

Iris biru Naruto memandang sayu pada tatami. "Aku tidak tahu…" lirihnya.

Senyuman manis masih bertengger di bibir tipis rekan wanitanya. "Kau sudah tahu, Naruto. Kau bisa melihatnya, dan mungkin kau sudah merasakannya. Kau hanya belum yakin."

"Entahlah…"

Telapak tangan putih dan lembut milik Sakura menyentuh tangan berkulit tan milik Naruto. "Kau tahu… Aku ingin kalian bahagia. Kau dan Sasuke-kun."

Pemuda Omega itu melirik pada gadis di depannya. "Kau menyukai Sasuke, aku tidak ingin-aduh sakiiiitt!" Naruto meringis sakit ketika sebelah tangan Sakura mencubit pipinya keras.

"Jangan jadikan aku sebagai alasanmu, Naruto. Melihat betapa kalian begitu keras kepala dan tersiksa seperti ini justru membuatku lebih sedih, bodoh," dengus Sakura sebal. Dilihatnya Naruto mengusap pipinya yang kini tampak memerah. "Berbahagialah, Naruto," ucapnya lagi. "Berbahagialah dan aku juga akan bahagia melihat kalian dapat bahagia bersama."

"Sakura-chan…"

Mereka saling berpandangan, sebelum Naruto memutus kontak mata dengan rekannya. Ia menyembunyikan iris azure miliknya dibalik kelopak mata. Dan secara perlahan kembali membuka matanya dan memandang Sakura. Sebuah senyuman lemah tersungging di bibirnya. Melihat itu, tangan Sakura menepuk pundak Naruto seolah memberi semangat.

"Baiklah, lebih baik kau beristirahat. Aku akan berendam dulu," ujar gadis itu sambil bangkit dari posisinya dan menuju pintu kamar, bermaksud untuk keluar.

"Mau mandi bersa-"

"Bagaimana kalau kuberi memar merah lagi di pipimu yang lainnya?" tanya Sakura sambil mengepalkan tangannya disertai senyuman manis.

"Ti-tidak… maafkan aku, Sakura-chan…"

|\_/|
( ^_^ )

"Huff… Akhirnya aku bisa bernafas lega," gumam Naruto saat menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang apartemen miliknya.

Ya, ia beserta kedua rekannya telah kembali ke Konoha. Dimana tentunya mereka sudah melaporkan misi mereka pada sang Hokage dan kini sudah kembali ke rumah masing-masing. Jika ada yang bertanya bagaimana perjalanan misi mereka, maka Naruto akan menunjukkannya dengan wajah yang sangat kelelahan. Bukan misi mereka yang dipermasalahkan, namun suasana canggung di antara ketiganya. Dimana semua permasalahan itu berpusat pada dirinya.

Dirinya berbaring sambil memperhatikan langit-langit kamarnya. Sesungguhnya, ia tahu bahwa Sasuke berbeda bila dibandingkan dengan Alpha lainnya. Tentu saja dia berbeda, jika para Alpha akan langsung mendekat dan menyerang Omega yang mengalami Heat, Sasuke justru dapat menolaknya. Meskipun harus melukai dirinya sendiri. Sedikitnya ia bisa merasakan bahwa tindakan Sasuke saat itu dilakukan untuk melindunginya, meskipun ia sendiri tidak ingin mengakui hal tersebut.

"Atau mungkin harga dirinya terlalu tinggi untuk tunduk pada feromon seorang Omega," lirihnya.

Atau… itulah cara Sasuke untuk melindunginya, karena pemuda stoic itu tahu mengenai trauma dirinya dan tidak ingin memperburuk keadaan. Sedikitnya Naruto mengetahui hal tersebut. Ia tidak bodoh, hanya saja hati kecilnya masih tidak bisa menerima seorang Alpha mendekatinya, meski itu rekannya sekalipun yang selama ini ia kejar setengah mati.

Kini ia memiringkan tubuhnya ke samping menghadap dinding putih kamarnya. Pemuda pirang itu bermaksud untuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannya, namun setelah beberapa menit berbaring, rasa kantuk tak juga menghampirinya. Ia mulai gelisah. Naruto merasa ada hal mengganjal dalam hatinya yang harus ia temukan jawaban secepatnya.

"Berbahagialah, Naruto."

Omega pirang keras kepala itu langsung bangkit dari ranjangnya dan segera memakai jaket oranye yang menjadi ciri khasnya. Setelah memastikan bahwa apartemennya terkunci dengan aman, ia segera berlari dan melompat dari atap ke atap. Seolah dikejar waktu dan akan kiamat jika ia tidak sesegera mungkin. Ia harus menemui seseorang, walaupun akan lebih beruntung baginya jika bisa bertemu dua orang sekaligus.

Ia bertemu dengan beberapa temannya, menyapa sekaligus menanyakan keberadaan orang yang dicarinya. Dan setelah diberitahu dimana sosok itu berada, Naruto langsung menghilang dari hadapan teman-temannya. Hal ini tentunya membuat teman-temannya yang lain seperti Hinata, Ino, Chouji dan Shikamaru merasa heran. Seperti yang dikatakan oleh rekan setimnya, orang yang dicarinya berada di dalam hutan sedang berlatih.

"Kiba! Shino!" panggilnya keras lalu mendarat tak jauh dari kedua orang yang dicarinya tersebut. Ia mengatur nafasnya yang sejak tadi berlari dengan kecepatan penuh.

"Oh, Naruto, ada apa?" sahut Kiba yang berada di atas tubuh rekan anjingnya, Akamaru. Dilihatnya si pirang berjalan mendekat. "Kudengar kau baru pulang setelah menjalankan misi panjang," ujar Kiba.

"Ya. Dan aku ingin bertemu denganmu-maksudku dengan kalian."

Kiba dan Shino saling berpandangan heran mendengar penuturan teman pirangnya itu. Mereka merasa ada hal penting yang ingin disampaikan oleh temannya itu dengan serius. Melihat itu, Kiba bermaksud untuk turun dari punggung Akamaru, namun- "Aku ingin tahu bagaimana hubungan kalian sebagai pasangan Alpha-Omega," ujar Naruto.

Gubrak.

Mendengar itu, Kiba langsung terpeleset dan terjatuh dengan tidak elit. Sakit? Tentu saja. Shino pun tak bergeming meskipun pasangan Omega-nya terjatuh sambil meringis kesakitan, dimana Akamaru berusaha membantu majikannya. Sedangkan Naruto memandang heran tingkah kedua temannya itu.

"Na-Narutooo…" geram Kiba sambil berusaha bangkit dari tempatnya terjatuh. "Apa maksudmu bertanya seperti itu? Sama saja kau melakukan pelecehan seksual pada kami!" teriaknya dengan wajah yang merona merah. Sebelah tangannya menopang pada tubuh Akamaru untuk menjaga keseimbangan. Kali ini giliran Naruto yang memasang wajah merona.

"He-hei, bukan itu yang kumaksud! Kau salah paham."

"Lalu apa?" kali ini giliran Shino yang membuka suaranya.

Naruto menautkan jari-jarinya memberikan gestur gugup. "Ku-kudengar dari Tsunade-baachan bahwa kalian adalah salah satu pasangan Alpha-Omega langka yang berjodoh, atau… begitulah kira-kira… uh… maksudku… begini… uhmm…"

Kembali Kiba dan Shino saling berpandangan meskipun pemuda Alpha dari klan Aburame itu mengenakan kacamata hitam, namun pemuda dengan tato segitiga merah itu dapat menangkap ekspresi yang terpancar dari pasangannya. Lalu Kiba duduk di atas tanah disusul oleh Akamaru yang berbaring di sampingnya. "Lebih baik kita bicarakan dengan santai saja. Apa yang kau ingin ketahui, Naruto?" tanya Kiba sambil membelai bulu Akamaru.

Mengikuti saran temannya, Naruto mulai ikut duduk di hadapan Kiba. Tingkahnya yang tampak gugup masih terlihat jelas. Selama beberapa menit keheningan masih menemani di antara ketiga pemuda dan satu anjing besar itu. Pemuda bermarga Inuzuka mulai kehabisan kesabaran menunggu suara yang keluar dari pemuda pirang di hadapannya.

"Hei, kenapa sekarang kau malah diam, Naruto?!" geramnya kesal.

"A-aku juga bingung harus memulai dari mana!" balas Naruto tak kalah keras suaranya.

Melihat kedua Omega yang sifat kekanakannya tak berbeda jauh, Shino yang sebelumnya bersandar pada pohon mulai mendekat pada keduanya, dan ditambah anjing besar. Oke, Akamaru tidak ingin keberadaannya dilupakan disana. "Apa ini ada hubungannya denganmu, Naruto?" tanya Shino.

Iris azure miliknya memandang pada pemuda Alpha berkacamata hitam itu. Lalu ia menganggukan kepalanya. Dapat dirasakannya Shino yang kini duduk di samping Omega dari klan Inuzuka itu. "Kau menemukan Alpha-mu?"

Kalimat ini membuat kedua Omega tersebut terkejut. Heran karena Shino dapat mengetahui hal tersebut, sedangkan Kiba juga tak menyangka bahwa Alpha-nya dapat menebak hal itu sehingga membuat pemuda Omega berambut pirang di depannya terkejut. Hal ini membuat Kiba memasang ekspresi serius.

"Naruto, benarkah? Siapa?" tanya Kiba memastikan.

Naruto terdiam beberapa saat sebelum menggelengkan kepalanya. "Ma-masih belum dapat dipastikan. Karena itu-"

"Kau baik-baik saja?"

Iris birunya bertemu dengan iris gelap milik teman Omega-nya yang tampak khawatir. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Yang dilakukannya hanya menundukkan kepalanya. Beberapa temannya sudah mengetahui bahwa Naruto mengalami trauma mengakibatkan dirinya tidak bisa berdekatan dengan Alpha, terutama dengan Alpha yang tak memiliki pasangan Omega. Baik Shino dan Kiba mengetahui hal ini.

"Aku… aku tidak tahu harus bagaimana," lirihnya. "Tubuh ini selalu bereaksi setiap berdekatan dengannya. Tapi aku terlalu takut untuk menerima semua ini. Aku… Ini semua bukan keinginanku menjadi seperti ini!" teriaknya mulai histeris. "Aku tidak ingin dikendalikan jiwa Omega-ku oleh para Alpha. Aku juga memiliki perasaan dan tidak hanya sekedar mengikuti instingku saja. Membuatku membenci para Alpha karenanya. Mereka seperti hewan yang hanya mengikuti insting nalurinya saja."

Pasangan Alpha-Omega dari klan Aburame-Inuzuka tersebut terdiam selama beberapa saat melihat reaksi teman mereka yang mulai tampak hilang kendali. "Kau tahu kalau aku juga seorang Alpha, Naruto," dengus Shino yang tampak tersinggung dengan kalimat Naruto. Pemuda Omega pirang tetap memasang wajah sedihnya seolah tidak merasa bersalah telah melukai seseorang. Sedangkan Kiba menutup mulutnya berusaha menahan tawanya hingga tubuhnya gemetar.

"Hehehe… Ya, ya, aku mengerti itu, Naruto," ujar Kiba sambil menghapus air matanya karena tawa. Dilihatnya si pirang yang mulai menoleh pada rekan sesama Omega-nya. "Para Alpha tidak akan mengerti bagaimana perasaan kita para Omega yang dianggap sebagai alat reproduksi dan pemuas nafsu saja. Yang harus tunduk pada para Alpha hanya karena mereka pemimpin."

"Kiba, aku tidak-"

Kalimat Shino terhenti dengan jari telunjuk yang terangkat dari si pemuda berambut coklat pecinta anjing itu. "Tapi, baik Alpha, Beta maupun Omega, apapun rasnya, kita semua tetaplah manusia yang memiliki hati. Kita tak hanya bergantung pada insting kita saja. Hasrat kita yang ingin mencintai dan dicintai juga terdapat di dalamnya. Mungkin beberapa di antaranya ada yang benar-benar terbutakan oleh insting mereka tanpa mengikuti perasaan mereka. Hanya segelintir Alpha yang akan selalu menghargai Omega-nya. Yah, salah satunya adalah Alpha milikku ini," ujar Kiba sambil tersenyum memandang sang Alpha. Shino terdiam namun jari-jari tangannya bertautan dengan Omega-nya.

Naruto memperhatikan bagaimana pasangan di depannya tampak nyaman bersentuhan satu sama lain. Saling berpandangan dengan sirat mata yang bersinar. Sedikitnya Naruto merasa heran. Kiba adalah seorang Omega yang dulunya juga tidak menyukai para Alpha. Namun apa yang dilihatnya saat ini sangat berbeda. Pandangan Kiba itu seolah mengatakan bahwa Alpha adalah makhluk yang aman bagi Omega sepertinya.

"Maaf, aku tidak ingin mengganggu acara romantis kalian, hanya saja-Kiba, aku tidak mengerti. Kau dulu juga tidak menyukai para Alpha karena sifat dominan mereka. Lalu kenapa sekarang kau tunduk pada seorang Alpha?"

"Jangan samakan aku dengan Alpha lainnya, Naruto," geram Shino.

Atmosfir di antara mereka kini mulai terasa berat karena Shino dan Naruto saling berpandangan dengan tajam. Kiba menghela nafas karenanya. Jika dalam keadaan biasa, kedua orang ini dapat bekerjasama dengan baik, namun jika sudah menyangkut hal antara Alpha dan Omega, Naruto akan menjadi orang yang sangat menyebalkan. Begitu menurut Kiba. Meskipun hal tersebut tak bisa disalahkan pada si pemuda pirang.

"Oke, kalian berdua hentikan," dengus Kiba. "Dengar, Naruto. Aku tidak tunduk pada Shino atau para Alpha. Aku menghormati dan menghargainya sebagai seorang Aburame Shino, bukan karena ia seorang Alpha. Selamanya aku tidak akan tunduk pada para Alpha," lanjutnya.

Pemuda pirang di depannya memandang bingung. Menghormati dan menghargai, namun tidak tunduk pada para Alpha? Sedikitnya ia mulai mengerti bahwa Kiba tidak hanya memandang Shino sebagai seorang Alpha saja, tetapi juga orang yang dicintainya. Semua itu terjadi bukan hanya karena mereka adalah Alpha dan Omega, tetapi karena mereka manusia yang memiliki perasaan dan tidak hanya dikendalikan insting mereka.

Naruto mengenal Kiba dimana terkadang memiliki sifat keras kepala yang sama dengannya jika menyangkut hubungan antara Alpha dan Omega. Namun kini pemuda pecinta anjing itu tampak tenang berada di samping Alpha-nya. Apakah perasaan itu mudah untuk berubah?

"Sedikitnya aku mengerti… tapi, tetap saja aku belum bisa menerima hal seperti itu," lirihnya.

Omega berambut coklat itu memandang temannya yang sedikit depresi. Dapat terlihat jelas bahwa jiwanya kini tengah berkecamuk. Dimana tubuhnya menginginkan Alpha yang hanya untuknya, namun dinding hatinya serta ego yang tinggi menghalangi. Keduanya berbenturan dan tak sejalan membuatnya bingung. Perlahan Kiba melepaskan genggaman tangannya pada sang Alpha dan mendekati si pemuda pirang. Tangan itu merangkul pundak Naruto.

"Hei, dengar. Kau hanya bingung saja. Yang perlu kau lakukan hanyalah membuka hatimu, lalu melihat bagaimana sikap Alpha itu terhadapmu. Kalau memang dia adalah Alpha yang pantas untukmu, kau akan tahu."

Naruto memandang rekan Omega-nya dengan ekspresi heran. "Bagaimana caranya untuk mengetahui hal itu?"

Kiba tersenyum. "Kau akan mengetahui dengan sendirinya. Dan kau akan merasakannya. Itu hal yang mudah. Hanya saja seperti yang kukatakan, kau harus membuka hatimu padanya. Lihatlah dengan cara pandang terbuka dan kau akan merasa bahwa dia memang orang yang pantas untukmu. Bukan karena ia adalah seorang Alpha tetapi karena dia adalah orang lebih mementingkan dirimu dibandingkan dirinya."

Naruto termangu mendengarnya. Artinya ia harus melihat jati diri sang Alpha bukan sebagai seorang Alpha, melainkan sebagai orang biasa yang melihat Naruto sebagai dirinya sendiri, bukan seorang Omega. Iris birunya memandang ke bawah dengan ekspresi datar. Seolah hal ini membebani pikirannya begitu berat. Namun entah mengapa rasanya ia bisa menemukan titik terang dari permasalahan ini.

"Ada hal yang harus kupastikan lagi," ujarnya dan langsung beranjak dari posisi duduknya.

Kiba menyeringai mendengarnya. Karena ia tahu apa yang dimaksud dari si pirang. Sebagai sesama Omega yang pernah memiliki cara pandang yang sama, mereka saling mengerti satu sama lain. "Bagus. Lakukanlah. Dan akan kuberitahu sesuatu," ucapnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Naruto yang membuat pemuda pirang itu sedikit terkejut. Hal ini membuat Shino menaikkan sebelah alisnya dengan heran. Setelah keduanya sempat berbincang secara sembunyi dari seorang Alpha disana, Naruto membalikkan badannya seolah bermaksud beranjak dari tempat itu. Namun baru dua langkah, ia berhenti dan kembali menghadap pada pasangan Alpha-Omega di depannya.

"Oh, satu hal lagi yang ingin kutanyakan," ucap Naruto sambil memandang pada dua orang di hadapannya yang mulai beranjak dari duduknya dan berdiri. Kiba memasang ekspresi bingung sedangkan Shino hanya terdiam di balik kerah baju yang panjang menutupi sebagian wajahnya. "Apa benar setelah kalian terikat, kalian jadi tidak terpengaruh dengan orang lain?" tanyanya.

"Ah… hal itu…" gumam Kiba dengan rona merah yang sedikit menghiasi pipinya. "Ya, itu benar. Heat-ku tidak akan mempengaruhi Alpha lain dan hanya berpengaruh pada Shino saja."

"Begitupun sebaliknya. Omega manapun yang mengalami Heat tidak akan berpengaruh padaku," kali ini Shino ikut mendeklarasikan.

Naruto bergumam sambil memegang dagunya seolah berpikir. Ia mengangguk beberapa kali sebelum kembali membuka suaranya. "Jadi… sudah sejauh apa kalian berhubungan? Dan kenapa sampai saat ini kalian belum memiliki anak? Apa kalian menggunakan alat kontrasepsi?"

Dan Naruto segera berlari menghindar secepat mungkin dengan wajah biru ketika Shino dan Kiba beserta Akamaru melancarkan serangan pamungkas mereka padanya. Akan ia ingat bahwa bertanya akan keintiman mereka dianggap sebagai sebuah pelecehan seksual. Mungkin Naruto terlalu lama bergaul dengan Jiraiya sehingga lupa apa yang seharusnya pantas atau tidak untuk ditanyakan.

|\_/|
( ^_^ )

Langit mulai menghitam dengan kerlip bintang yang bertaburan menandakan malam telah datang. Seorang pemuda tengah memandang langit malam di depan jendela kamarnya. Rambut kelamnya yang biasa menentang grafitasi bumi kini tampak lemas karena tak kuasa menahan berat air yang membasahi di antara setiap helaiannya. Tubuhnya yang berbalutkan kulit seputih porselen itu tampak lembab dan sedikit bulir-bulir air berjatuhan dari torsonya. Dan sebuah handuk kecil bertengger manis di lehernya.

Uchiha Sasuke baru saja mandi dan ia hanya mengenakan celana hitam panjang untuk menutupi tubuhnya. Sedangkan tubuh bagian atasnya dibiarkan saja tanpa terbalut apapun. Menampakkan tubuh kekarnya yang berisi otot hasil dari latihan berat selama bertahun-tahun. Iris obsidian miliknya memandang kelamnya malam. Tak mempedulikan titik air yang berjatuhan dari atas rambut membasahi dada bidangnya.

Sejujurnya ia merasa lelah saat ini. Ingin rasanya ia langsung berbaring di atas ranjangnya yang nyaman. Namun entah kenapa tak dilakukannya. Mungkin ia hanya kelelahan secara mental saja, mengingat misi terakhirnya membuat hubungannya dengan si pemuda pirang menjadi lebih kaku. Ia mengutuk dirinya yang tidak bisa mengendalikan jiwa Alpha-nya sehingga mengagetkan Naruto. Diakuinya hal ini membuatnya kesulitan untuk mengendalikan diri jika berdekatan dengan pemuda yang selama ini dianggapnya sebagai rival namun ternyata memiliki arti lebih dari itu.

Menghela nafas berat, Sasuke segera mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang ada di pundaknya. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman dingin. Namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu lemari pendinginnya ketika mendengar suara ketukan pintu pada pintu depan apartemennya. Ketukan itu terdengar cukup pelan. Jika ia tidak memiliki pendengaran yang peka, maka ia tidak akan bisa mendengarnya.

Dan ia pun berjalan menuju pintu masuk apartemennya. Sayangnya ia tidak bersiap dengan tamu dadakan tidak diundang yang tiba-tiba datang ke tempat tinggalnya itu.

"Na-Naruto…"

Tak ada jawaban dari si tamu karena si pemuda pirang tengah menunjukkan ekspresi terkejut ketika melihat penampakan pada si pemuda bermarga Uchiha tersebut. Tubuh itu mematung disuguhi tubuh kekar berkulit putih di hadapannya. Ia menelan ludahnya ketika melihat titik air yang mengalir di antara lekukan otot dada dan perutnya yang turun lalu bersembunyi di balik celana hitam di sana. Perlahan rona merah mulai menghiasi pipinya yang berkulit tan.

"Hei, Naruto… kau baik-baik saja?" Sasuke menjentikkan jarinya di depan wajah si pemuda pirang yang masih asyik berbengong-ria dengan pikirannya yang melalang buana entah kemana. Naruto pun mulai tersadar dari transnya. Ia berdeham sedikit berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Uh… Ma-maafkan aku, Sasuke… aku… ukh… Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu…" Kalimat yang terbata-bata keluar dari bibir si pemuda pirang itu membuat Sasuke menautkan kedua alisnya heran. "A-ada yang ingin kubicarakan denganmu… uh… Jika kau tidak keberatan, aku ingin kau ikut denganku…"

Ekspresi terkejut tak bisa disembunyikan oleh Sasuke. Pasalnya selama beberapa waktu ini Naruto selalu menghindarinya, namun kini justru mendekatinya tanpa perlu ia undang. Tak ayal hal ini membuatnya heran. Iris kelamnya memandang gerak-gerik Naruto yang tampak gugup. Ingin rasanya ia menyentuh wajah pemuda itu, tapi diurungkannya.

Pemuda Alpha itu menjadi bingung. Ia ingin menjauh dari si pirang karena bermaksud untuk melindungi dari dirinya sendiri, namun ia juga tidak tega meninggalkan Naruto begitu saja. Ditambah lagi pemuda berisik itu sendiri yang mengundangnya secara langsung.

"Uh… aku…"

"Ka-kalau kau sedang sibuk, lain kali saja. Aku per-"

Belum sempat Naruto membalikkan tubuhnya, sebuah tangan menghentikan gerakannya dan menarik lengannya hingga punggungnya bertubrukan dengan dada bidang di belakangnya. Memberikan rasa hangat menjalar dari sana.

Sebuah tangan berkulit putih lainnya memeluk pinggangnya perlahan. Debaran jantung berdetak cepat memompa seluruh darahnya dan seolah bersiap untuk meledak. "Tunggu sebentar. Aku akan bersiap."

Lalu kehangatan itu menghilang ketika dirinya lepas dari perangkap tubuh milik Sasuke. Yang tersisa hanyalah cepatnya debaran jantung, nafas memburu, wajah memerah dan tubuh yang gemetaran.

"Mungkin lain kali aku harus memiliki jantung kedua," desahnya pada angin malam.

|\_/|
( ^_^ )

Continue? Yes or no?

|\_/|
( ^_^ )

Yuuuhuuu, gays…

Again, I should said I'm sorry cause of late post. Daaan… sepertinya chapter bakal nambah lagi nih… /cry

Yup, tadinya gw targetin chap depan itu terakhir, tp kayaknya… KAYAKNYA masih ada 2 chap lagi baru cerita ini kelar. Bye maksimal dengan semuanya.

Oke, jgn protes krn adegan SasuNaru disini Cuma seuprit. Lbh sedikit dr pd upil anak gw. Makanya gw panjangin chap ini sampe 5k words. Gw butuh berhari2 kelarin nih story krn diganggu ama keluarga melulu kLo di rumah. Gw lelaaah…

Thanks for reading.

Mind to review?