:: The Omega ::
~ChanBaek~
.
.
.
.
"Wow lihat itu Ten Chittapon!"
Aku dan yang lain menahan tawa setelah Haechan menunjuk seseorang yang sedang kami kerjai, ketika melihat orang yang bernama Ten itu lewat dan berjarak sekitar dua meter dari kami sembari membawa nampan di tangannya Haechan menirukannya dengan baik dan begitu menghibur. Dia sepertinya mencari tempat untuk duduk, aku menaruh tas milik Yixing di kursi Ten ketika si pemilik tas pergi ke toilet untuk membasuh tangannya, terlalu banyak tempat yang bisa didapatkan bocah itu jadi aku dan yang lain ingin melihat dia tak mendapatkan tempat.
Lihat ketika seseorang datang menghampiri Ten, ku tebak dia tengah menawarkan tempat duduknya. Aku mendecakan lidah, hampir semua siswa di sekolahku menjadi homo hanya pada Ten. Ten beberapa hari yang lalu menggemparkan sekolah karena datang dengan choker di lehernya, semua orang tahu mengenakan aksesoris ke sekolah itu tidak boleh tapi karena dia mengakui dengan gemblang bahwa dia adalah Omega sekarang semua orang seolah menjadikannya siswa spesial.
Aku Byun Baekhyun satu-satunya orang yang tidak menyukai Ten, oh bukan aku membencinya aku hanya tidak suka Omega berjenis kelamin pria.
Yixing kembali dan menanyakan di mana tasnya, dia akan pergi entah untuk melakukan apa setelah makan siang dan tidak melanjutkan pelajaran selanjutnya, yang jelas dia berkata sesuatu kurang baik terjadi di rumah dan dia harus pergi segera. Aku menyikut perut Haechan dan dia bergerak cepat mengambilkan tas Yixing lalu memberikannya.
"Apa yang kalian lakukan? Berhentilah mengerjai Ten." Yixing menggantungkan tasnya di bahu kirinya. "Aku akan datang dan mungkin sedikit terlambat, katakan pada Chanyeol jangan mengeluarkan pemain pengganti jika belum sepuluh menit!" Yixing berlalu setelah mengatakannya.
"Hei Yixing, aku pemain penggantinya jadi serahkan saja padaku!" Aku berteriak dan Yixing menggeleng tanpa menoleh padaku.
Aku menggidikan bahuku ketika Haechan, Tao, dan Jongdae menatap kepadaku secara bergantian. Yixing anak yang agak misterius, dia tidak begitu terbuka padaku dan yang lainnya tentang dirinya, tentu kami tidak ingin tahu masalah pribadinya hanya saja kami temannya dan jika itu masalah yang cukup... ya kami tidak ingin ikut campur masalah pelik sebenarnya namun mungkin kami bisa membantu walau hanya menyemangati.
Aku kembali mencari keberadaan Ten dan aku menemukannya duduk bersama Jaehyun dan teman-temannya, sudah kukatakan Ten selalu mendapatkan tempat. Tak lama setelah itu aku melihat Jaemin melintasi meja mereka lalu berhenti sejenak untuk menyapa Jeno dan merangkul Ten seperti dia adalah sahabat terbaiknya. Itu hanya alasan agar dia bisa menyapa pujaan hatinya, ugh menjijikan.
Jaemin datang pada kami dan melempar cup kosong pada meja kami, hampir saja sampah itu mengenai wajah polos Tao jika saja si polos itu tak segera menghindar. "Aku tidak mengerti, sungguh tidak mengerti!" Teriak Jaemin terdengar frustrasi.
Kami memutar mata bosan, Jaemin akan mengeluh lagi.
"Renjun si cupu itu tak lebih baik dariku!" Jaemin duduk di sampingku dengan wajah yang lebih buruk dari sampah yang dia buang baru saja.
"Dia lebih baik darimu dalam semua mata pelajaran." Jaemin mendelik pada Haechan.
Jaemin segera berdiri dan menghampiri Haechan seolah akan membunuhnya. Dalam lingkar pertemanan kami Jaemin lah yang terlihat paling menderita karena cinta, sudah sejak lama sekali dia menyukai Jeno dan melakukan apa saja agar dapat mendapat perhatian dari si pujaan hati, namun ironisnya semua usaha yang Jaemin lakukan tak membuahkan hasil selain mendapat senyum menawan Jeno. Jeno menjalin hubungan dengan juara kelasnya, Huang Renjun, dan membuat Jaemin frustrasi hingga sampai saat ini seperti tak ada seseorang yang bisa dia cintai lagi.
Aku, kami semua sangat kasihan padanya.
"Hei hentikan orang itu sebelum dia membunuhnya."
Aku segera menoleh begitu pendengaranku menangkap suara berat milik Chanyeol, untuk sesaat aku merasa merinding di seluruh tubuhku, Chanyeol akhir-akhir ini sedikit... uhm mungkin aneh? Menurutku.
"Hei hei berhenti!" Jongdae lah orang yang melerai Jaemin dan Heechan, Jaemin mencekiknya dan Heechan benar-benar tak berdaya. "Bunuhlah bocah ini di tempat lain, orang-orang sedang mencoba makan."
Aku menoleh menatap Chanyeol di sampingku, dia mengambil tempat Jaemin. Aku merasa tidak nyaman berada di sampingnya jujur, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku namun aku berpikir Chanyeol agak menakutkan akhir-akhir ini dan... seksi. Aku menggeleng dan Chanyeol menyadarinya.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya, dia seperti sangat peka padaku.
"Y-ya," Jawabku sedikit gugup. Tenggorokanku tiba-tiba saja kering dan merasa kegerahaan, aku mengambil minuman berwarna hijau kental milik Tao. "Aku hanya haus."
"Hei kau kan tidak suka jus sayur!"
Tao protes karena aku tanpa permisi menghabiskan minumannya. Aku melotot begitu menyadari apa yang aku lakukan, jus sayur dingin itu telah melewati kerongkonganku dan aku berusaha memuntahkannya. Oh sial ini terlihat konyol.
.
.
.
Hari ini ada pertandingan sepak bola antar sekolah dan juga pertandingan olahraga lainnya, hanya pertandingan persahabatan aku dan Minseok ikut dalam pertandingan karena di antara anak kelas kami hanya aku dan Minseok yang ada dalam klub sepak bola. kami sedang pemanasan, aku hanya berpikir aku akan menggantikan Yixing jadi aku mengikuti Minseok untuk pemanasan, dan Jongdae menghampiri kami bersama Chanyeol. Ah iya Chanyeol adalah kapten tim kami.
"Dimana Yixing?" Tanya Chanyeol.
Aku dan Minseok saling menatap sesaat untuk bertanya lewat mata kami siapa yang akan mengatakannya lalu kami memutuskan akulah yang mengatakannya. Aku tercekat ditenggorokan ketika akan mengeluarkan suaraku, dadaku sesak dan aku kesulitan untuk bernafas.
"Yixing sedang mendapat masalah kecil seperti biasa." Minseok menggantikanku menjawab Chanyeol.
"Y-ya se-seperti biasa." Aku mengiyakan Minseok dengan tangan kananku berada di dada, aku benar-benar merasa sesak.
"Kau baik-baik saja?"
Aku lebih tercekat lagi ketika Chanyeol bertanya, Minseok dan Jongdae juga bertanya namun aku tiba-tiba saja tidak mengerti apa yang mereka tanyakan dan hanya fokus pada dadaku dan suara Chanyeol. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi aku berpikir ini reaksi tubuhku ketika Chanyeol ada di sekitarku, mungkin Chanyeol membawa virus aneh. Aku akan bertanya padanya dan menyuruhnya untuk memeriksakan diri ke klinik nanti.
"A-aku ti-tidak apa-apa," Aku melirik Chanyeol sekilas lalu tersenyum. "Aku hanya ha-haus"
Aku segera pergi untuk mengambil air dan kudengar Chanyeol mengatakan sesuatu sebelum aku benar-benar jauh dari mereka. "Kau selalu haus akhir-akhir ini." Suaranya terdengar kecil dan kupikir hanya Minseok dan Jongdae saja yang mendengarnya namun aku juga mendengarnya walau aku yakin aku sudah berada cukup jauh darinya.
Aku sudah siap akan masuk ke lapangan namun Yixing datang tepat waktu dengan santainya, dia sudah memakai baju tim dan siap terjun ke lapangan bersama yang lainnya. Aku benci menjadi pemain cadangan, si idiot itu menempatkanku di sini seperti tak mempercayai kemampuanku. Lihat saja aku akan menggantikannya sebagai kapten nanti dan membuatnya merasakan apa yang aku rasakan sebagai seorang pemain cadangan, Oh sial kau kapten Park Chanyeol.
"Hei pemain pengganti."
Haechan dan Tao duduk di sampingku seperti mereka boleh saja duduk di sini denganku oleh pelatih. Aku rasanya ingin menendang bokong Haechan hingga masuk ke dalam gawang lawan karena sapaan kurang ajarnya, dia tahu aku tidak suka menjadi pemain pengganti, mereka semua tahu!
"Aku akan memanggil Pelatih Kim." Kataku dan Haechan segera menahan lenganku dan menarikku untuk duduk kembali.
"Hei hei aku hanya bercanda, jangan seperti pantat bayi." Katanya.
Aku mendengus. "Kulitku memang sensitif dan halus seperti pantat bayi." Aku menjawabnya dengan jengkel dan mereka terkikik geli.
"Ayo pergi ke lapang basket, kau di sini tak akan mendapat kesempatan." Haechan berkata dan aku benar-benar ingin menendangnya.
Saat aku akan menendangnya Tao menghentikannya dengan menceritakan sesuatu tentang Jaemin. "Jaemin sangat menyedihkan, ayolah kita harus membawanya pergi dari sana."
Apa lagi yang Jaemin lakukan sekarang? Tao dan Haechan menceritakan tentang Jaemin yang berteriak 'Jeno aku mencintaimu' saat pertandingan basket berlangsung, memanfaatkan riuh penonton di sana untuk menyampaikan perasaannya. Tao berkata dia melihat Renjun juga ada di sana untuk menyemangati kekasihnya, tepatnya di samping Jaemin yang tak menyadari keberadaannya dan melihat si menyedihkan itu begitu mencintai kekasihnya.
Terdengar sangat gawat namun aku ingin menyaksikan pertandingan tim kami dan berharap aku akan segera di panggil. Pelatih Kim datang dan memelototi Heechan dan Tao, mengusir mereka dengan galak dan mereka akhirnya pergi karena kegalakan luar biasa dari pelatih Kim.
.
.
Sepuluh menit jelang berakhirnya pertandingan aku tak kunjung di panggil, aku sudah sangat kesal karena tak diberi kesempatan untuk menginjak rumput dan menggiring bola jadi aku putuskan pergi mencari Tao dan Haechan untuk menjemput si menyedihkan Jaemin. Tim akan menang kupikir karena kami unggul satu kosong dari lawan namun saat aku melangkah keluar teriakan dari penyiar terdengar dan riuh-riuh penonton memekakan telinga, saat kulihat papan skor tim lawan berhasil mengimbangi timku, aku mengerang dengan keras.
"Ini karena kalian tidak membiarkanku masuk!" Teriakku dengan keras dan Chanyeol lah orang pertama yang melihat ke arahku.
Aku berjalan begitu saja, aku sudah tidak peduli dengan pertandingan ini.
Aku pergi ke lapangan indoor, menyapukan pandanganku ke segala arah untuk mencari keberadaan teman-temanku. Aku melirik papan skor dan melihat tim basket kami unggul, aku melangkah untuk masuk kursi penonton mencari teman-temanku namun aku segera ditarik oleh seseorang, aku membalikan tubuhku dan menemukan tubuh jangkung milik Tao tengah menarikku keluar dari lapangan.
"Hei bukannya Jaemin ada—"
"Sst! Diamlah, Jaemin ada di luar dan sedang berbicara dengan Renjun." Potong Tao.
Wow ini gila, apa ada pertarungan di luar? Aku tak tahu Renjun bisa berkelahi, dari ukuran tubuh Renjun kalah dengan Jaemin dan anak itu terlihat seperti anak yang sangat lemah dan pekerjaannya hanya belajar. Tao menarikku hingga ke tempat hijau di sekolah, ya taman.
Tao menarikku hingga berjongkok dan dia mengisyaratkanku untuk mengikutinya, berjalan dengan keadaan berjongkok menghampiri Haechan di balik semak sana yang tengah memasang telinganya lebar-lebar. Haechan menaruh jari telunjuknya di bibirnya, aku dan Tao mengikuti kekurang ajaran Haechan. Menguping.
"Kau terlalu naif, kau ingin aku merebut Jeno darimu? Jika itu terjadi aku bahkan takkan pernah membiarkanmu melihatnya barang sebentar saja."
Wow drama macam apa ini?
Kudengar langkah seseorang menjauh lalu suara isak tangis terdengar selanjutnya. Itu bukan suara Jaemin, semenyedihkannya Jaemin bocah itu tidak menangis seperti itu. Kutebak yang baru saja pergi adalah Jaemin dan yang menangis adalah Renjun. Jaemin tidak menangis sebagus itu, tangisan Jaemin itu luar biasa gila.
Kami berjalan seperti saat pertama kali datang, berjongkok. Hingga dirasa kami sudah cukup jauh dari Renjun lalu lantas kami berlari untuk menyusul Jaemin. Kau tahu aku adalah pemain sepak bola jadi lariku lebih kencang dari Tao dan Haechan, aku meraih pundak Jaemin lalu membuatnya berbalik. Aku terkejut melihat air mata berlinang turun dari matanya, dia menarikku untuk dipeluknya lalu menangis meraung-raung.
Aku mengusap punggungnya untuk membuatnya sedikit tenang namun dia justru semakin keras menangis, aku melepaskan pelukannya lalu membekap mulutnya. Bocah ini jika menangis memang benar-benar gila. "Kau ingin aku terlihat seperti penjahatnya di sini?" Aku memelototinya.
"Ya Nana tenanglah, ayo kita bicara sambil makan es krim." Tao berkata lalu menepuk bahunya dan Jaemin mengangguk mengiyakan.
Kami benar-benar tidak peduli pada pertandingan persahabatan antar sekolah, sekarang prioritas kami adalah Jaemin. Kami butuh tempat yang jauh untuk membuatnya bisa menceritakan semuanya, aku dan Tao melewatkan apa yang terjadi dan Haechan hanya menggidikan bahunya ketika aku dan Tao menatapnya bertanya. Kami berada di kafeteria, Tao memesan es krim dan kudapan lainnya seperti dia benar-benar kelaparan sedangkan aku, Haechan, dan Jaemin hanya memesan es krim seperti tujuan awal kami.
Butuh beberapa menit untuk membuat Jaemin tenang dan siap bercerita, selagi menunggu aku menumpahkan kekesalanku tentang selalu jadi pemain cadangan jika ada pertandingan dan Tao menceritakan bahwa nanti dia akan masuk klub basket, Tao menyukai basket namun dia mengambil klub seni bela diri dan tak mendapat kesempatan untuk masuk klub dan menjadi bagian dari tim basket sekolah dua tahun ini.
Saat aku dan Tao juga Haechan masih ribut dengan obrolan kami Jaemin mengeluarkan suaranya. "Aku... aku mungkin belum menceritakan ini pada kalian," Dia berkata dan kami senyap seketika. "Du-dulu sebelum aku mengenal kalian aku dan Renjun adalah teman, bahkan..."
Jaemin menggantung kalimatnya, dia bermain dengan es krim di depannya dan membuat kami penasaran.
"Bahkan kalian bersahabat?" Tanya Tao.
"Sangat-sangat bersahabat?" Aku menambahi.
Jaemin berhenti sejenak, dia menghela nafas panjang. "Bahkan kami sempat berpacaran."
Aku menjatuhkan rahangku, jika ini adalah kartun yang selalu aku tonton setiap akhir pekan mungkin rahangku sudah jatuh menyentuh tanah. Apa katanya? Berpacaran? Selama ini aku dan yang lainnya mengira Jaemin tak pernah dekat bahkan berbicara dengan Renjun karena sangat membencinya karena dia orang yang beruntung bisa menjadi pacar si pangeran dengan senyum indah itu.
"Semuanya menjadi benar-benar berubah ketika Jeno menarik kami semakin jauh," Jaemin menancapkan sendok es krimnya dengan cara yang sadis lalu mengepalkan tangannya sangat erat. "Kami putus karena kami sama-sama tertarik pada Jeno, dan sekarang dia yang berhasil mendapatkannya. Aku... aku senang namun juga terluka, sangat terluka karena orang yang dulu sangat aku sayangi dan orang yang sangat aku sayangi dimasa sekarang telah bersama." Jaemin tertawa terbahak-bahak lalu seketika menangis begitu pilu.
Wow ini hal gila yang baru aku ketahui tentang Jaemin, Renjun, dan Jeno. Aku tak tahu hubungan mereka begitu... rumit?
"Aku tahu," Aku dan Tao menoleh pada Haechan. "Aku pernah melihat kalian berciuman, kalian memang benar-benar dekat dulu."
Ah ya benar Haechan satu SMP dengan Jaemin, dia pasti tahu sedikit tentang Jaemin namun kenapa dia tak menceritakannya? Mungkin karena dia menghargai privasi Jaemin sebagai seorang teman baik.
.
.
.
Brugh!
"Hei!" Aku menjerit protes ketika seseorang menabrakku dari depan, ketika aku melihat siapa orang itu aku memasang wajah malas lalu bersedekap dada. Itu Ten dan dia terlihat seperti tengah di buru seseorang dengan tangan menutupi leher dan terengah-engah.
"Ma-maafkan aku Baekhyun." Katanya lalu berlalu pergi terburu-buru.
Aku tidak mau tahu tentang mengapa bocah Omega itu terlihat seperti tengah dikejar seseorang sekarang aku harus menghampiri teman-temanku dengan rencana mereka untuk merayakan ulang tahunku. Kami berjanji bertemu di sungai tempat biasa kami menghabiskan waktu bersama dan tempat biasa kami merayakan sesuatu, aku menduga ulang tahunku akan di rayakan di sungai itu.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di sana dengan bis, aku tidak bisa mengendarai mobil dan ayah pun tak pernah mengizinkan aku menggunakan mobilnya. Aku sudah sangat hafal dimana tempat kami biasa berkumpul, aku dapat mendengar gelak tawa mereka dan... sungguh aneh karena aku akhir-akhir ini selalu peka dengan suara Chanyeol.
Salah satu pohon besar yang ada di sini dengan tanda goresan hati besar yang retak karya tangan jahil Jaemin adalah tanda bahwa itu adalah tempat kami. Aku melihat Jaemin berbaring di paha Haechan dan tengah mengobrol, Jaemin akhir-akhir ini dekat dengan Haechan karena dia orang yang ternyata tahu bagaimana dirinya sebelum mengenalku dan yang lain, Minseok dan Yixing juga tengah mengobrol sedangkan Chanyeol... aku melihatnya menghampiriku dan meninggalkan Jongdae.
"Hei." Sapanya.
"H-hei." Balasku.
Perasaan tidak nyaman ini muncul lagi beserta dengan hawa panas dan tenggorokanku yang mengering. Chanyeol mengantarku dan sepertinya dia ingin aku duduk di sampingnya namun aku malah mengambil tempat di samping Minseok dan Yixing, aku tidak mau berkeringat dan kehausan lalu mereka memandangku aneh karena di sore yang sejuk ini aku seperti orang yang berada di padang sahara.
"Teman-teman!"
Aku menoleh pada seseorang yang baru saja berteriak, Tao menghampiri kami dengan tangannya yang melambai ke arah kami dan senyum cerianya yang menggemaskan, aku menekuk wajahku. Bukan, aku tidak kesal pada kedatang Tao, aku kesal dengan seseorang yang Tao bawa bersamanya.
Ten.
"Wow wow kenapa kau membawa... si Omega?" Jaemin bangkit dari berbaringnya di paha Haechan, berkata dengan kata yang terakhir dia pelankan namun tetap dapat didengar kami semua. Idiot.
"Ini yang akan kuceritakan pada kalian, Ten—"
"Hei Omega, apa kau sudah heat?" Tanya Jaemin. "Jangan heat di sini aku tidak mau terangsang."
Kami tertawa karena candaan Jaemin, itu candaan yang bagus hanya saja agak keterlaluan mungkin jika Ten orang yang mudah tersinggung. Ten tersenyum pada Jaemin.
"Kalian tidak bisa merasa terangsang karenaku, kalian bukan alpha dan tidak mungkin ada alpha seperti kalian." Dia membalas candaan Jaemin dengan... What the hell? Dia seperti menghina daripada bercanda.
"Kecuali Chanyeol," Ten tersenyum pada Chanyeol yang ternyata tidak tertawa sama sekali dengan candaan Jaemin. "Dia cukup seksi untuk menjadi seorang Alpha."
Aku melotot lalu menatap Chanyeol dengan mata yang masih melotot, Chanyeol menggidikan bahunya acuh. "Jadi apa yang membuatmu kemari dengan Tao, Ten?" Chanyeol merubah topik pembicaraan dengan pertanyaan pertama.
"Hentikan hentikan, aku yang akan menjelaskannya!" Tao menjerit lalu mendengus kesal karena tadi dia dipotong oleh candaan Jaemin dan dianggap seolah tidak ada di sini untuk sesaat.
"Ten bertanya kemana aku akan pergi dan aku menjawab untuk bertemu teman-teman, dia juga bertanya apa ada Chanyeol dan aku menjawab ya." Aku lagi melotot, kenapa omega itu mencari Chanyeol? Aku tahu dia satu kelas dengan Chanyeol tapi aku tak pernah tahu dia sangat dekat dengan Chanyeol. Aku merasa agak marah. "Tadi dia terlihat sangat kacau, kalian harus tahu dan dia memaksa untuk ikut." Tao melanjutkan.
Ya aku merasa marah.
"Setelah ini aku ingin berbicara denganmu Chan."
Aku mengepalkan tanganku lalu berkata dengan keras karena benar-benar merasa marah. "Hei ini tentang ulang tahunku, rencana ulang tahunku, ingat?" Aku marah karena ada omega itu di sini dan kedekatannya dengan Chanyeol.
"Ah ya benar, ayo rayakan ulang tahunmu di sini!" Tao berkata antusias.
"Kita selalu merayakan apapun di sini bukan?" Jongdae menimpali.
"Ya." Haechan, Minseok, dan Yixing menjawab Jongdae sembari mengangguk.
"Kalau begitu ayo cari tempat baru!" Kami menoleh pada Jaemin yang tengah berpikir dengan dagu yang diapit jarinya. "Ayo rayakan di klub, berdansa dengan gila dan mabuk sampai pingsan." Sarannya sukses dapat mata melotot dari kami semua.
Kami tahu itu hanya keinginan Jaemin karena dia sangat stres akhir-akhir ini setelah menceritakan begitu peliknya kisah cintanya ditambah dia melihat Renjun dan Jeno berciuman di toilet. Betapa stresnya Jaemin, kami semua seakan bisa merasakan apa yang dia rasakan.
"Kau ulang tahun?" Tanya Ten dan aku tak perlu repot-repot menjawabnya. "Selamat ulang tahun!" Serunya.
"Itu lusa." Jawabku kesal.
"Kupikir kau harus tetap di rumah," Aku merasakan merinding luar biasa ketika Chanyeol berbicara, aku tak mau menoleh padanya entah mengapa karena aku merasa sangat takut padanya untuk alasan yang tidak jelas. "Kuperingatkan, tetaplah di rumah."
Semua orang mendesah kecewa dan melayangkan protes pada Chanyeol yang ditanggapi tawa renyahnya namun aku tak bergeming karena peringatannya. Tubuhku bergetar dan aku berkeringat, aku sangat takut akan peringatannya. Chanyeol, aku tak tahu kenapa dia begitu menguasaiku.
.
.
.
Prequel? Sudah! Sequel aka spesial chapter? hmm otw jangan? wkwkw :v
