MARK X RENJUN

.

SKYPE TIME

.

AUTHOR SIDE

.

.

SEOUL - MOSCOW

(JARAK WAKTU 6 JAM LEBIH CEPAT SEOUL)

.

Lampu kamar sudah di matikan. Jeno bahkan sudah bergelung dengan selimutnya. Pemuda Lee itu tidur lebih awal hari ini. Di ranjang lain, Renjun sudah menyelimuti bagian bawah tubuhnya. Memangku macbook pemberian orangtuanya, dengan telinga tersumpal earphone. Ya, Mark tidak membelikannya macbook sebagai hadiah ulang tahun. Karena pria itu lebih memilih membelikan cartier bracelet untuk kekasihnya.

Renjun menghentikan film yang ditontonnya. Melirik sekilah ke arah Jeno di ranjang sebelah yang memunggunginya. Pemuda manis itu menggigit bibir bawahnya, seolah ragu untuk mengambil keputusan. Jarinya mulai mengetikan sesuatu di macbook. Melakukan pencarian video. Renjun membenarkan letak duduknya dan mulai memainkan video tersebut.

NCT 127 'Chain' MV

Entah mengapa kini kebiasaan Taeyong menular pada Renjun yang mulai menggigiti kukunya.

"Ah, ini bahkan lebih buruk dari teasernya.." komentar keluar dari mulut Renjun.

Video terus berlanjut. Renjun mulai menikmati ritme dari lagunya.

"Sejak kapan lengannya seperti itu?"

TOK TOK TOK

Renjun menghentikan video dan melepas earphone saat mendengar suara ketukan.

TOK TOK TOK

"Injun-i?"

Suara Ten membuat Renjun meninggalkan ranjangnya. Membuka pintu yang memang tak pernah terkunci. Lebih tepatnya ini permintaan Mark agar pintu kamar Renjun dan Jeno tidak dikunci.

"Ya, hyeong.."

"Belum tidur?" tanya Ten dengan tangan memegang ponsel.

"Aku masih menonton. Ada apa, hyeong?"

"Ini.." Ten menyerahkan ponselnya pada Renjun. "Bahkan bukan kekasihku yang memberi kabar mereka telah sampai di penginapan Moscow. Tapi justru kekasihmu yang menelponku.."

Renjun mengambil cepat ponsel Ten. Menempelknya di telinga. "Hallo.."

"Kau sudah tidur, Mooby?"

"Belum. Sudah di Moscow?"

"Skype time?" ada yang berbeda dari suara Mark. Bahkan dia tak menjawab pertanyaan basa-basi Renjun

"Ya.." Renjun pun membalas singkat. Renjun mengembalikan ponsel Ten. "Terima kasih, hyeong.."

Ten menempelkan ponsel ke telinganya "Mark, katakan pada Johnny untuk menghubungiku.."

"Ya. Terima kasih hyeong.." Mark memutus panggilan.

Ten menatap adik penurutnya ini. "Dia sudah menghubungi ponselmu puluhan kali. Dan berakhir menghubungiku.."

Renjun menepuk dahinya. "Aku bersalah.."

"Ya, bayi singamu akan mengamuk. Selamat malam, Injun-i.." Ten kembali ke kamarnya.

Renjun segera menutup pintu dan berlari mendekati ponselnya. Tubuh mungil itu melemas melihat ponselnya dalam kondisi mati. "Aku lupa mengisi ulang dayanya.." Renjun dengan cepat men-charge ponselnya.

Renjun kembali pada macbook nya dan membuka aplikasi Skype. Tak lama Renjun online, panggilan masuk dari Mark langsung didapatnya.

Kini Renjun sudah berhadapan dengan wajah Mark yang tanpa senyum. Si manis menunduk menghindari tatapan Mark.

"Hai sayang. Aku mengganggu waktu tidurmu?"

"Aku minta maaf.." Renjun menatap Mark dengan wajah bersalah. "Aku tidak sadar jika ponselku mati.."

Mark mengangguk dan kini menarik senyum tipis. "Ya. Setidaknya kau memiliki alasan mengapa mengabaikan 23 panggilanku.."

"Sebanyak itu?" Renjun meringis.

"Dan 20 pesan.." Mark mengulum senyum.

Renjun mendesah pelan. "Maafkan aku.."

"Lupakan saja. Jadi apa yang kesayangan Minhyung lakukan sampai lupa semuanya dan belum tidur?" Mark kembali ke nada memanjakan Renjun.

"Aku sedang menonton.." si manis pun juga kembali menjadi menggemaskan dengan nada suara berbeda.

"Menonton apa?" Sebelah tangan Mark menopang tangannya. Pemuda itu sepertinya sedang duduk di depan meja.

"Tebak.." Renjun mulai jahil dan bibirnya tersenyum lebar.

"Kita bermain jika di Seoul tidak hampir tengah malam. Aku hanya ingin melihatmu bukan bermain tebak-tebakan.."

"Di sana sore?" Renjun mengabaikan ucapan Mark.

"Tidak bisa dibilang sore karena masih seperti siang. Tapi sekarang pukul 5.." Mark memperlihatkan jam di ponselnya.

Renjun menganggukkan kepalanya mengerti.

"Jadi, apa yang kau tonton. Film horror lagi?"

Renjun menggeleng "Ini sedikit lebih menyeramkan dari film horror.." Renjun masih bertahan dengan tebak-tebakannya.

"Lalu apa, sayang? Kau harus segera tidur.." Mark seperti sedang membujuk anak kecil tidur, karena ini sudah lewat waktu malamnya. "Kau menonton Chain?"

Mata Renjun membulat, bahkan mulutnya terbuka. "Bagaiaman kau mengetahuinya?"

Mark teratwa. "Jadi aku benar? Apa seramnya MV itu?"

"Your guns. It's creepy.."

Mark tesenyum lebar. "Kau menggunakan kamus pemberianku dengan baik sekarang. Ingin menggunakan bahasa inggris?"

Renjun mengibaskan tangannya cepat. "Tidak. Tidak. Gunakan bahasa yang kita berdua kuasai.."

Mark tidak bisa menahan tawa melihat tingkah menggemaskan Renjun. "Kau baru menontonnya?"

Renjun mengangguk "Ya, seperti itulah.."

"Apakah seperti ini bentuk dukunganmu pada kekasih dan gege mu?"

"Jangan memprotes apapun. Aku hanya belum siap melihatnya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk MV nya setelah melihat teaser nya. Dan aku benar, kau terlihat menyeramkan.."

"Kau ingin melihat nya sekarang?" Mark sudah memegang kedua ujung bajunya.

"Aku sudah sering melihatnya!" Renjun bahkan meninggikan suaranya. "Jangan memperlihatkannya sekarang.."

"Lalu mengapa mengatakan itu menyeramkan?" Mark mendekatkan wajah pada kamera.

"Jauhkan wajahmu dari kamera. Semua layarku hanya wajahmu.."

"Capture time. Kau bisa menjadikan wajahku sebagai desktop barumu.."

"Aku lebih mencintai moomin.." balas Renjun sengit

Mark mengalah. Jika sudah ada moomin di antara mereka, maka Mark hanya orang ketiga diantara kekasihnya dan moomin. "Jadi, bagaimana reaksimu tentang MV Chain, selain membahas lenganku pastinya.."

"NCT 127 kembali dengan konsep mereka. Sebenarnya lagu ini lebih kepada kau dan Taeyong hyeong.."

"Baik, aku akan mendengar komentar dari kekasihku sebelum memberikan pembelaan.." Mark melipat tanganya di atas meja. Jika menyangkut Renjun, maka itu artinya Mark akan tersenyum bodoh.

"Aku hanya mendengar bagianmu dan Taeyong hyeong. Sekalipun, bagian JaeIlYoung hyeongdeul tetap menjadi killing part. Bahkan nada tinggi Taeil hyeong tidak berhenti berputar di kepalaku.."

"Lalu?" Mark menikmati wajah bersemangat kekasihnya.

"Uri Haechan-i menjadi center. Ah, Haechan terlihat begitu indah di sana.."

"Selanjutnya?" Mark menunggu.

"Yuta hyeong, Youngho hyeong, Siceng-ge juga sepertinya mendapatkan screen time yang sama rata. Walaupun bagian menyanyi kau makan semua.."

"Mengapa menyalahkanku?" Mark tidak terima disudutkan.

"Ini salahmu. Bukankah pembagian dari lagu juga salah satu ulahmu dan Taeyong hyeong.."

"Tidak semua lagu kami beruda yang membaginya.." dengan sabar Mark memberikan pengertian.

"Apa gunanya punya anggota banyak jika yang dimanfaatkan hanya sebagian.." tatapan mata yang tadi lembut kini berbuhah kesal.

"Mooby, aku hanya ingin melihat wajah manis kekasihku disaat bekerja jauh seperti ini.." hal seperti ini terkadang terjadi pada mereka. Disaat Mark hanya ingin melihat kemanjaan Renjun padanya seorang, tapi kekasihnya itu justru membangun debat.

"Sepertinya ini alasan mengapa anggota china"

"Hei hei.." Mark menyela langsung kalimat Renjun. "Renjun-i.." panggil Mark membuat kedua mata itu saling beratatapan, meski terhalang layar. "Jangan berkata seperti itu.."

Renjun bernapas perlahan saat ini. Meredam emosinya. "Maafkan aku.."

"Ingin bicara dengan Winwin hyeong? Setidaknya kau tidak perlu berpikir dua kali untuk memilih kata jika bicara dengannya.."

Renjun menggeleng. "Denganmu saja.."

Mark tertawa kecil. "Bisa aku melihat senyum kesayanganku?"

Renjun mendengus dan tersenyum setelahnya.

"Sayang, apapun yang terjadi sebelumnya jadikan itu sebagai pelajaran. Ini jalan yang kau pilih. Kau masuk ke perusahaan ini dan lanjutkan pekerjaanmu. Aku selalu ada di sampingmu. Winwin hyeong, Kun hyeong, Chenle, bahkan Lucas ku rasa.."

"Berjanji selalu disampingku?" Renjun seperti berbisik kali ini.

"Ya. Bahkan saat kau mendorongku menjauh. Aku akan mempertahankamu disampingku.."

"Keju time!" Renjun bertepuk tangan heboh sekarang.

"Kau selalu menggagalkan suasana romantis kita.."

Renjun menguap, matanya melirik pada jam yang tertera di bagian bawah desktop. Sudah lewat tengah malam "Aku mengantuk.."

"Ini memang sudah waktu tidurmu.." Mark tersenyum lembut.

Renjun mengambil ponselnya yang di charging. "Pindah ke panggilan biasa?" tanya Renjun melambaikan ponsel yang dalam proses menyala.

Mark mengangguk. "I love you, little one.." Mark menyeringai melihat ekspresi tak suka Renjun.

"Menggelikan. I love you.."

Sambungan terputus. Ponsel Renjun kembali menyala. Menunggu panggilan Mark, Renjun mematikan macbook nya.

Panggilan masuk dari Mark tertera di ponsel pintar Renjun. Bertahan beberapa detik sebelum menjawab panggilan roaming itu.

"Sebentar.." Renjun berujar lebih dulu. Meletakkan macbook nya di nakas samping dan masuk ke dalam selimut dengan benar. Berbaring menyamping memeluk salah satu boneka moomin nya. "Sudah.."

"Sudah? Tidurlah.."

"Semoga pekerjaanmu lancar di sana. Sampaikan salamku ke pada hyeongdeul dan Haechan-i.."

"Ya. Aku akan menunggumu sampai tertidur.."

"Bagaimana cara menunggunya?"

"Seperti biasa.."

"Lagu tentang apa kali ini?"

"Masih lagu tentang dirimu yang tidak dipublikasikan.."

"Aku sedang tersenyum lebar sekarang.."

"Aku tau. Pejamkan mata, berdoa, dan nikamti suara kekasihmu ini.."

"Baiklah. Selamat malam, Simba.."

"Selama malam, Mooby.."

Mark mulai menyanyikan lagu kesekian yang dia ciptakan untuk kekasih mungilnya yang terlampau manis.

.

.

.

END

.

.

.

Balas-balas Review :

Byeolie : Manis ya.. baca komentar kamu aku jadi ngebayangin lagi Mark mainin jari nya Renjun. Yah Renjun kan bilang, kondisi spontan pas lihat orang jatuh, apalagi yang jatuh pacar sendiri.. hehehe

Honeydew96 : Benerkan, bukan aku doang yang nggak ada kerjaan berarti ngeliat fancam berkali-kali. Yah biarkan, Mark bersama geng-geng aneh nya.

Zaara13 : Kakak bikin ini dulu yak. Jangan dibawa ke pelaminan cepet-cepet, belum diresutuin keluarga.

Gingsuluwu : Aku juga nggak kuat gigit jari ngetiknya. Hehehehe..

Aliyasepti : Kamu ikutan Doyoung sana ngomolin penata panggung sama stylist noona.. heheh.. amin amin.. Ini aku next kok..

Realnaila : Tuhkan, berarti bukan salah Renjun kalau ngetawain Mark pas jatuh. Kamu aja senyum-senyum.. heheheh.. di next mba.. aku bukan Thor.. aku Loki.. hehehe..

Hayns : Hai kamu.. iya mereka memang gemesin..

.

.

a/n : Hai hai.. ketemu lagi.. Untuk chapter kali ini, aku kaya udah biasa bikin tema begini. LDRan lagi skype an.. efek Kapal aku sebelumnya juga pasangan LDR. Mungkin aku bakalan STOP di chapter 5. Mau fokus nyelesain yang AU mereka dulu. Kalau ngikutin kemauan mah, ini FF tiap hari update mulu kali karena lagi lancara idenya. Heheheh…

Ini chapter paling pendek diantara chapter lain kayanya.

Oia.. aku 96-Line. Jadi tentukan panggilan kalian ke aku ya. Manggil Mama juga boleh, karena kayanya pada kakak Renjun sama Mark semua di sini. Aku udah kenalan sama salah satu Reviewer di FF ini. Lucu kali ya kalau bikin GC Markren Squad. Hehehehe.. biar nyambung aja ceritanya. Hehehe.. kalau ada yang berminat, hubungin aku ada di twitter atau watty..

Uname Twitter : Meclaulin.

Uname Wattpad : Meclaulin

Kalau berminat.. hehehe..

Salam, Mama nya Huang Renjun.