Siang Minna san! ^^

Well, setelah sekian lama… berbagai badai datang.. akhirnya kesempatan untuk update chapter datang juga ^^

Hehehe… terimakasih untuk yang menunggu * semoga ada..

Terimakasih sudah membaca ff yang aneh bin ajib ini * semoga juga ada yang baca XD

Dan kalau bisa tinggalkan jejak kaki (?) ya..

Karena itu akan menjadi motivator tersendiri untuk author :3

Nah, hunter x hunter tetap punya om yoshihiro. Dan masih setia saya doakan semoga manganya berlanjut XD

Selamat membaca ^^

Chapter 3

Remember

YorkNew City sudah tampak ramai meskipun matahari masih belum terlalu tinggi. Lalu lalang kendaran mulai memadati jalanan. Sebuah taman kota yang terletak di tengah-tengah kota juga tak luput dari keramaian pagi itu. Dihari libur, taman itu selalu ramai. Nampak beberapa pasangan, keluarga, duduk diatas rumput hijau sambil bercengkrama. Udara taman kota yang memang cukup luas itu memberi atmosfer tersendiri di tengah-tengah kepadatan kota.

" Itadakimaaasu!" Seru Gon dan Killua bersamaan. Kemudian mereka mulai melahap sandwich kalkun. Kurapika hanya tersenyum kecil melihat tingkah Gon dan Killua. Disebelahnya, Leorio dan Senritsu menyesap teh hangatnya.

" Killua-kun, Gon-kun.. kalian bisa tersedak jika memakan semuanya sekaligus seperti itu." Tegur Senritsu.

" Ogh.. tag ap..ha.. " Jawab Gon tak jelas. Makanan dimulutnya nampak menyembur wajah Killua. Melihat itu, leorio bergegas menyingkirkan makanan- makanan dihadapan mereka.

" Leorio!" Protes Killua.

" Maaf, kami belum mulai makan. Jadi tidak akan kubiarkan kalian menggunakan makanan ini untuk perang sembur makanan." Jawab leorio. Killua menggembungkan wajahnya. Sudah seminggu mereka berada di YorkNew City. Tepat sehari setelah Kurapika keluar dari rumah sakit, mereka memutuskan untuk kembali ke YorkNew City. Senritsu yang kebetulan tidak terikat dengan pekerjaan apapun memutuskan untuk ikut bersama mereka. Lebih tepatnya, Killua dan Leorio memintanya ikut.

" Ada beberapa hal yang harus dia jelaskan, Senritsu-san. Dan kami ingin kau memeriksa kejujurannya." Jelas Killua. Senritsu terdiam sejenak.

" Kami tak bisa tau apakah dia akan memberitahu kami yang sebenarnya terjadi atau tidak. Hanya jika kau mendengarkan kejujurannya kami bisa tau. Bagaimana?" Leorio bertanya penuh harap. Senritsu menghela nafas berat kemudian mengangguk.

" Ritsu… Senritsu!" Kurapika mengguncang bahu Senritsu.

" Eh? Ah.. ada apa?" Tanya Senritsu.

" Daijobu ka?" Tanya Kurapika. Senritsu menggeleng pelan.

" Daijobu." Jawabnya.

Kurapika mengangguk kecil. Kemudian ia meraih cangkir tehnya dan menyesapnya sedikit. Killua masih sibuk berdebat dengan Leorio. Sedangkan gon justru menonton acara debat itu sambil menikmati makanannya. Kurapika tersenyum kecil. Kemudian ia melihat telapak tangannya. Matanya sedikit menyipit. Ia tidak tau pasti apa yang difikirkannya tapi ia merasa ada hal yang aneh dengan dirinya.

" Kurapika?" Kurapika mengangkat pandangannya dan mendapati mereka berempat menatapnya curiga.

" Ah.. gomen.. ada apa, Gon?"

" Kau terlihat kurang sehat." Jawab Gon. Mendengar pernyataan Gon, Killua dan Leorio berhenti berdebat dan serentak menoleh kearah Kurapika.

" I..iie… aku baik-baik saja." Jawab Kurapika menenangkan. Gon tersenyum kecil. Leorio memperhatikan Kurapika dan meletakkan makanan yang diamankannya.

" Haaahhh… baiklah. Acara sarapan di taman kota hari ini, memang harus dihadiri oleh orang yang baik-baik saja. Jadi, karena kau sudah baik-baik saja.. bisakah kau katakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi sebelum kau sadar di rumah sakit?" Tanya Leorio. Kurapika hanya memejamkan matanya tenang sambal menyesap tehnya.

" Mudah saja.. tidak ada yang terjadi." Jawab Kurapika datar. Killua melirik Senritsu. Senritsu mengangguk kecil.

" Jadi, kalau tidak ada yang terjadi, kenapa kau bisa terbangun di rumah sakit saat itu?" Tanya Killua. Kurapika meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong dan menghela nafas. Kurapika memejamkan matanya. Memikirkan jawaban terbaik untuk pertanyaan Killua. Ia tahu bahwa saat ini Senritsu pasti sedang mendengarkan detak jantungnya yang gelisah. Tapi yang lebih ia khawatirkan bukan tentang semuanya akan tahu apa yang terjadi sebelum ia berakhir dirumah sakit itu. Yang ia khawatirkan lebih rumit dari itu sendiri. Yang ia khawatirkan justru karena 'tidak ada yang terjadi'. setelah berfikir beberapa saat, ia mengangkat wajahnya dan menatap Killua datar.

" aku berakhir di rumah sakit saat itu, karena tidak ada yang terjadi." Jawab Kurapika pelan. Gon, Killua dan Leorio menoleh kearah Senritsu. Senritsu mengernyitkan matanya kemudian ia mengangguk kecil. Leorio menarik Killua mundur

" Bagaimana ia bisa masuk rumah sakit jika tidak ada yang terjadi?' Bisik Leorio. Killua mengusap dagunya.

" Tidak mungkin juga Kurapika berhasil menyembunyikan kebohongan di hadapan Senritsu." Gumam Killua. Leorio mengangguk keras.

" Kurapika.. apa maksudmu dengan tidak ada yang terjadi? apa ada hal penting yang kau tak ingin kami tahu? Kau sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Tanya Gon. Kurapika tersenyum kearah Gon. Leorio dan Killua menoleh mendengar pertanyaan Gon yang blak-blakan.

" Ini..aku sudah menjawab pertanyaan kalian dengan jujur. Tanyakan saja pada senritsu." Kurapika menoleh kearah Senritsu.

" Ya. Yang dia katakan benar." Jawab Senritsu. Kurapika kembali menoleh kearah Gon.

" Kalau kau baik-baik saja… masalahnya dimana? Kenapa kau sampai tidak sadar seperti itu? Menyerang Gon, mengubah matamu menjadi scarlet didepan kami dengan tatapan membunuhmu. Dan.." Killua mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Kurapika terdiam mendengar pernyataan Killua. " Dan kau bahkan tidak mengingatku.." Kata Killua lirih. Kurapika melebarkan matanya.

" Jadi apa karena hal itu kalian berdua seperti takut mau mendekatiku saat aku sadar waktu itu?" Tanya Kurapika. Gon mengangguk pasti.

" Gomennasai… aku.. benar- benar tidak tau apa yang terjadi. itu… itulah masalahnya." Jawab Kurapika. Killua mengangkat wajahnya yang tertunduk. Kurapika tersenyum kecil

" Itu masalahnya, Killua.. aku tak ingat apa yang terjadi. aku hanya tau bahwa tidak ada yang terjadi. aku juga sudah berusaha mengingat apa yang membuatku berada dirumah sakit itu. Tapi aku tak berhasil. Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya."

" Seberapa banyak?" Kurapika menoleh kearah Gon. Melemparkan pandangan tak mengerti kearahnya.

" Seberapa banyak yang kau lupakan?" Tanya Gon. Kurapika nampak berfikir.

" Hal yang bisa kuingat hanya.. setelah aku memasang chain jail kepada kuroro dan pakunoda, aku meninggalkan YorkNew bersama bos." Jawab Kurapika setelah beberapa saat berfikir. Gon tercengang.

" I,..itu sudah hampir setengah tahun yang lalu, Kurapika." Jelas Gon.

" Setelah itu, kita berhenti bekerja di keluarga Nostrade. Bos sangat frustasi karena kemampuan Neon-sama menghilang." Senritsu menambahkan.

" Hmm.. ya.. aku ingat.. setelah aku berpisah denganmu dan yang lainnya.. aku…." Kurapika tampak berfikir keras.

" Hei.. hei.. kau tidak perlu mengingat setiap detailnya kan? Kau tidak perlu memaksakan diri, Kurapika! Kurasa tidak ada hal penting yang terjadi beberapa bulan terakhir ini." Usul Gon. Killua menoleh kearah Gon.

" Sou… pasti Gon berharap ingatan Kurapika yang hilang tidak akan kembali. Karena jika ia ingat apa yang terjadi, ia pasti akan kembali membuat dirinya dalam bahaya mengingat ia berakhir di rumah sakit dalam keadaan seperti itu. Tapi jika Kurapika tak mengingat apapun.. bisa jadi ada hal penting yang terlewatkan." Pikir Killua.

" Gon benar. Kau tak perlu memaksakan dirimu sendiri, Kurapika." Leorio menepuk bahu Kurapika. Kurapika tak bergeming. Ia masih sibuk berfikir.

" Tapi, aku merasa ada hal penting yang sudah kulupakan. Jika aku tidak mengingatnya.." Kurapika kembali terdiam.

" Mungkin kau hanya terlalu khawatir, Kurapika." Senritsu mencoba meyakinkan Kurapika.

" Mm! kau pasti sibuk bekerja selama ini, Kurapika." Gon mengacungkan telunjuknya.

" Aaaa!" Teriak Leorio. Semua mata tertuju kearahnya. Kurapika melempar pandangan ' ada apa?' kearahnya.

" Ah.. nandemonai. Aku hanya tiba-tiba ingat tujuanku menemukanmu." Leorio mengusap kepalanya. Killua menundukkan kepalanya.

" Ternyata kau masih mempermasalahkan hal itu, Leorio." Ejek Killua.

" Sebenarnya, aku hanya tiba-tiba ingat ketika Gon berkata mungkin ia sangat sibuk bekerja. Dan aku tidak berniat melakukan apa yang sudah kurencanakan padanya jika aku menemukannya." Gumam Leorio jengkel.

" Jadi, apa yang akan kau lakukan jika kau menemukanku, Leorio?" Tanya Kurapika. Leorio cepat-cepat menggeleng.

" Iie.. tidak apa-apa. Lupakan saja." Ujar Leorio. Kurapika menyipitkan matanya dan melemparkan tatapan tajamnya pada Leorio. Leorio merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh kearah Killua meminta pertolongan darinya. Killua hanya meliriknya sekilas kemudian mengambil cangkir the dihadapannya dan meneguknya. Leorio mengepalkan tangannya melihat reaksi Killua. Kemudian ia kembali menoleh kearah Kurapika yang masih menunggu jawaban darinya.

" Ok.. wakatta… aku hanya akan mengomelimu karena kau sangat susah dihubungi." Jawab Leorio. Kurapika mengangkat sebelah alisnya.

" Hanya itu?" Tanya Kurapika heran. Leorio terdiam ditempatnya. Entah kenapa melihat wajah innocent Kurapika, ia tiba-tiba ingin sekali melaksanakan rencananya. Killua melirik Leorio.

"Oi..oi.. kalau kau memarahinya, ia akan berfikir lagi tentang apa yang ia lakukan selama ini." Killua mencoba memberi kode pada Leorio. Namun..

"BAAAAKAAAA! AKU SANGAT KESAL, KAU TAHU! KALAU KAU SEKEDAR TAK MENJAWAB TELPONKU SEKALI ATAU DUA KALI TAK MASALAH! TAPI KAU SELALU TAK MENJAWABNYA! BAHKAN DISAAT GON SEKARAT KAU TIDAK BISA DIHUBUNGI!" Akhirnya Leorio mengeluarkan amarahnya. Killua dan Gon memegang kepalanya.

" dia melakukannya! Dan dia merusak rencana." Pikir mereka bersamaan. Kurapika menatap Leorio tidak percaya. Apa yang sebenarnya sudah ia lakukan sampai ia taka da disaat Gon sekarat? Kurapika memandang Gon bingung.

" Kau.. sekarat? Apa.. maksudnya ini? Kenapa.. kenapa aku.." Kurapika bertanya linglung.

" Kurapika… daijobu. Tidak masalah. Aku juga sudah sehat seperti ini. Kau tak perlu memikirkannya." Gon mencoba menenangkan Kurapika. Kurapika menggeleng tegas.

" Harusnya aku tau itu. Harusnya aku.. apa yang kulakukan selama ini?" Tanyanya pada diri sendiri. Killua menatap Kurapika datar.

" Yah.. kurasa hal itu tidak masalah sekarang, Kurapika.. Gon benar. Itu sudah selesai. Mungkin kau benar-benar sibuk bekerja saat itu. Lagipula kau tak datang bukan karena kau tak mau. Tapi kau tak tahu masalah ini. Jadi, ini bukan kesalahnmu." Killua memberikan alasannya pada Kurapika.

" Killua-kun benar, Kurapika. Ini bukan kesalahnmu." Senritsu menepuk tangan Kurapika. Kurapika menatap Gon yang sedang tersenyum kearahnya. Meyakinkan Kurapika bahwa taka da yang salah dengan dirinya. Kurapika tersenyum kemudian menoleh kearah Leorio yang saat ini diomeli Killua.

" Gomennasai, Leorio.. tapi saat aku mengingat semuanya, aku akan memberitahumu apa yang kulakukan." Leorio menoleh dan terdiam. Kemudian ia mengibaskan tangannya.

" Lupakan saja.. tak masalah. Dan.. maafkan aku. Mungkin harusnya aku lebih memahami situasi." Leorio menggaruk kepalanya. Kurapika tersenyum samar. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Gon.

" Jadi, hal bodoh apa yang kau lakukan sampai kau sekarat seperti itu, hm?" Tanya Kurapika. Gon menggosok-gosok belakang kepalany sambil cengengesan.

" Etto… " Gon pun menceritakan petualangannya di NGL bersama Killua dan Kite. Tentang chimaera ant, tentang Neferpitou, dan tentang pertarungan mereka dengan meruem dan loyal guardnya yang menewaskan Netero chairman. Sesekali Killua ikut menimpali cerita Gon.

" Hmm.. aku memang dengar kalau Netero chairman meninggal dalam pertempuran itu. Tapi aku terkejut kalian berdua ikut andil dalam pertempuran itu. Lalu bagaimana nasib kite?"

" Dia memang sudah tewas. Tapi, ia lahir kembali sebagai chimaera ant. Yah.. meskipun ia menjadi seorang perempuan kecil sekarang.. tapi, setidaknya dia masih seperti Kite yang dulu." Jawab Gon. Kurapika tersenyum.

" Kau tidak perlu merasa sebersalah itu, Gon. Kite seperti itu bukan karena kau. Pasti dia akan marah kalau kau terlalu menyalahkan dirimu sendiri." Ujar Kurapika. Gon tersenyum dan menggeleng.

" Mm.. awalnya aku memang merasa sangat bersalah. Tapi setelah Ging mengatakan padaku bahwa itu jalan yang dipilih Kite sendiri, aku merasa lebih baik." Jawab Gon bersemangat.

" Ging? Maksudmu.."

" Gon sudah bertemu dengan ayahnya." Sela Leorio.

" Yokatta, Gon!" Gon mengangguk.

" Ne, Kurapika.. darimana kau mendengar kabar meninggalnya Netero?" Tanya Leorio.

" Aku mendengarnya saat tidak sengaja teman kerjaku memasuki ruanganku untuk memberitahuku bahwa aka nada pemilihan chairman selanjutnya. Saat itu aku tidak terlalu konsentrasi. Mungkin karena saat itu aku sedang membuat makam untuk scarlet eyes yang sudah berhasil kukumpulkan. Saat mendengar itu, aku menyimpulkan bahwa mungkin netero sudah.." Kurapika menghentikan ucapannya. Scarlet eyes? Tiba-tiba saja ingatan itu melayang di kepala Kurapika. Seperti lembaran-lembaran kejadian yang berantakan. Semua scarlet eyes yang terpajang rapi dihadapannya, dirinya yang menghitung jumlah scarlet eyes. Handphonenya yang terus berdering meskipun sudah ia abaikan, semuanya…

" Scarlet eyes." Gumam Kurapika. Matanya melebar. Kemudian ia memandang teman-temannya satu persatu. " Aku ingat.. aku.. aku sudah mengumpulkan scarlet eyes." Katanya.

" Ee? Hontou? Kalau begitu sekarang dimana kau simpan mereka?" Tanya Gon bersemangat. Kurapika mencoba mengingat.

" Aku.. menyimpannya di ruangan kerjaku. Ya! Aku menyimpannya disana." Mata Kurapika berbinar ketika akhirnya ia berhasil mengingatnya. Namun kemudian sinar itu meredup. Dan ia menoleh kearah Gon sambil melemparkan tatapan bersalahnya.

" Gon.. maafkan aku. Saat itu, aku mendengar handphoneku berbunyi. Bahkan aku memegangnya. Itu.. panggilan darimu, Leorio. Tapi aku.. aku tidak menjawabnya. Saat itu aku hanya.. aku sedang.. " Ucapannya terpotong saat Gon memegang tangannya.

" Tak perlu khawatir. Pasti saat itu kau memang sedang tak bisa diganggu. Lagipula, aku sudah bilang.. aku baik-baik saja, Kurapika." Sahut Gon. Kurapika tersenyum. Matanya menyiratkan ucapan terimakasih untuk Gon. dan percakapan ringan mulai mengalir di antara mereka. Angina lembut memainkan dedaunan yang ikut menyapa hangatnya sinar mentari pagi. Suara tawa yang menggema, terbawa angina kesegala penjuru. Menceritakan perasaan halus yang beriak kecil dalam bilik kebahagiaan di hati mereka. Perasaan yang mereka biarkan lepas diwaktu itu. Waktu yang tak akan bisa dirusak meski setelahnya hal besar menunggu mereka.

66666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666

Burung-burung kecil itu mulai terbang berombongan membelah langit senja. Mulai melakukan tarian selamat tinggal pada matahari yang perlahan bersembunyi di langit barat. Dan alam mengganti tabiatnya. Menyimpan makhluk pagi dan menggantinya dengan makhluk malam yang siap menyambut sang bulan. Hampir setiap orang di YorkNew bersiap meninggalkan kepenatan untuk beristirahat di rumah. Sekedar menonton televise dan memakan cake. Namun tidak dengan mereka yang saat ini berlari di pinggiran jalan. Melewati deretan mobil yang tak bergerak karena ramainya jalanan sore itu.

" Nah, dimana kantormu, Kurapika?" Tanya Gon sambil berlari didepannya.

" Tak lama lagi kita akan sampai." Jawab Kurapika. Dibelakangnya, Leorio membetulkan letak kacamatanya.

"Hee? Kau sudah mengatakannya satu jam yang lalu. 'tak lama lagi'. Tapi ini sudah satu jam!" Protesnya. Gon tertawa kecil mendengar omelan Leorio. Omelan Leorio masih berlanjut sampai akhirnya matanya menangkap seluet bayangan yang mendahulinya.

" Akh! Killua! Kau curang!" Teriaknya sambil menunjuk Killua yang asyik meluncur dengan skateboard hijaunya. Killua menoleh kebelakang.

" Nani? Apanya yang curang?" Tanya Killua tidak mengerti.

" Kau tidak berlari! Kau menggunakan alat! Tunjukkan respectmu!" Tuntut Leorio.

" Kurasa disini tidak ada larangan untuk tidak menaiki skateboard.. iyakan, Kurapika?" Gon bertanya sambil menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri. Mencoba mencari peraturan bagi pejalan kaki. Kurapika mengangkat bahunya dan tertawa geli.

" Kalau itu.. kita juga tidak seharusnya berjalan diatas sini, Gon." Koreksi Kurapika.

" Ah! Souk a!" Gon menjulurkan lidahnya. " Demo… ini mengingatkanku pada ujian hunter. Iya kan?" lanjut Gon. Ketiga orang yang berlari – kecuali Killua- terdiam sejenak. Kemudian ketiganya tersenyum dan mengangguk serempak. Killua kemudian menekan ujung skateboardnya dengan tumitnya dan menangkap skateboard yang terlempar ke udara. Kemudian ia berlari menyandingi Gon.

" Baiklah, aku juga akan ikut berlari." Gon, Kurapika, dan Lerio tertawa mendengar pernyataan Killua.

" Kau tidak perlu mengulang dialogmu saat itu, Killua!" Ujar Gon. Killua hanya mengangkat bahunya. Saat itu mereka memutuskan untuk berlari di tembok pinggir jalan raya. Karena taksi yang mereka tumpangi terjebak macet.

" A! sudah terlihat." Kurapika menunjuk sebuah rumah berdesign rumah bangsawan kuno.

" He? Kau bekerja disana?" Tanya Leorio. Kurapika mengangguk dan menoleh.

" Sebenarnya, aku juga tinggal disana." Jawab Kurapika.

" Waah.. rumah yang menarik." Komentar Killua.

" Mirip rumah hantu." Gumam Leorio.

" Sengaja. Agar tak banyak orang yang berniat menemuiku. Setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu." Sahut Kurapika.

" Oi.. kau berniat membunuh dirimu sendiri dengan mendekam didalam rumah hantumu itu ya?" Gumam Leorio. Merekapun melanjutkan langkah mereka. Sampai akhirnya mereka tiba didepan sebuah pintu kayu yang berukir. Kurapika mendorong pintu itu pelan.

" Nah, Silahkan ma..-"

" Kurapika-sama!" Seorang Pria berjalan tergesa menyambut kedatangan mereka.

" Ah, Bert-san." Sapa Kurapika. Pria tua itu mengerutkan alisnya.

" Kurapika-sama, sudah kubilang kau tidak perlu seformal itu padaku. Aku bekerja untukmu, kau tau itu!" Protes Bert.

" Bert-San, bagaimana jika aku menawarkan pilihan lain untukmu? Aku akan memperlakukanmu dengan 'normal' saat aku harus memberikan perintah untukmu. Bagaimana?" Tawar Kurapika. Bert menggeleng dan sudah akan mengatakan sesuatu saat tangan kanan Kurapika menepuk pundaknya.

" Nah, Bert.. itu perintah pertamaku." Sambung Kurapika. Bert hanya bisa melongo mendengar perintah Kurapika. Kurapika melangkah ringan meninggalkan Bert yang masih tak bergerak bahkan saat Gond an yang lainnya melewatinya.

" Hei, Sejak kapan kau memiliki butler?" Tanya Leorio.

" Entahlah.. sejak aku membeli rumah ini?" Jawab Kurapika sekenanya.

" Bagaimana mungkin kau bisa mengumpulkan uang sebanyak itu? Rumah sebesar ini, merangkap kantor. Dan kau pasti menggaji karyawanmu kan?" Leorio mencoba mengira pengeluaran Kurapika.

" Tapi, sebenarnya.. pekerjaan apa yang kalian lakukan?" Tanya Killua.

" Bukan pekerjaan yang berat. Kau bisa melihatnya nanti." Jawab Kurapika sambil mendorong sebuah pintu yang lebih besar dari pintu masuk tadi. Mereka segera menyusul Kurapika dan melongokkan kepalanya kedalam ruangan. Sebuah ruangan berkarpet merah yang luas terhampar dihadapan mereka.

" Ah, Kurapika! Hei! Kurapika sudah kembali!" Seorang wanita berkepang coklat melambaikan tangannya.

" Yo, Giselle." Sapa Kurapika singkat.

" Wah.. aku terkesan kau masih mengingatku. Kukira kau sudah melupakan proyek kita setelah pergi sekian lamanya." Canda Giselle. Kurapika tertawa datar.

" O..oi.. Kurapika.. siapa gadis itu?" Bisik Leorio.

" Sou ka! Minna san, aku membawa temanku kali ini. Yang berbaju hijau namanya Gon. Disebelahnya Killua. Dan pria ini, Leorio." Jelas Kurapika. Semua di ruangan itu menoleh dan tersenyum sopan. Gon sibuk mengangguk-anggukkan kepalanya untuk membalas senyum mereka.

" Kau membuatku terasa tua." Protes Leorio. Kurapika tak menggubris dan berjalan mendekati seorang laki-laki berkacamata.

" Gerald, sampai mana perkembangannya?" Tanya Kurapika.

" Tak terlalu jauh. kau menghilang sekian lama. Jadi kami bingung melanjutkan proyek ini." Jawabnya. Kurapika menepuk dahinya pelan.

" Kapan kalian bisa benar-benar bekerja sendiri?" Omel Kurapika. Giselle tersenyum.

" Kalau kami bisa bekerja sendiri, kami tidak akan bekerja padamu, Kurapika. Iya kan, Hikari-chan!" Seorang Gadis dengan rambut pinknya menjulurkan kepalanya dari balik meja, mengangguk lalu kembali bekerja.

" Hei.. ini tidak menjawab pertanyaanku!" Protes Killua.

" Ah, Gomen.. kami hanya melakukan penelitian, penyembuhan, dan penginterogasian." Jelas Kurapika.

" Penelitian?"

" Penyembuhan?"

" Penginterogasian?" Tanya mereka bertiga bergantian. Kurapika mengangguk. Killua dan Gon saling berpandangan bingung. Leorio menggumam gumam tak jelas.

" Kau selalu berbicara seperlunya. Aku heran mereka masih menyebut diri mereka temanmu." Giselle berjalan mendekat " Sebaiknya kita tidak mengobrol disini kan, Bos." Bisiknya. Kurapika melirik kesal. Tapi ia tak menolak usul Giselle. Kurapika segera mempersilahkan mereka memasuki ruangan pribadinya. Sebuah ruangan yang tak kalah luas dengan satu set sofa ditengah ruangan menyambut mereka. Sebuah meja kerja dengan tumpukan kertas dan sebuah laptop diatasnya nampak berantakan. Di sudut ruangan berjejer rak buku yang penuh tanpa celah.

" Nah, duduklah." Kurapika mempersilahkan mereka untuk duduk. Sementara ia berjalan menuju sebuah I phone yang tertempel didinding. Setelah memesan teh dan cake lewat I phone pada Bert, ia segera bergabung dengan yang lainnya.

" Nah, bagaimana kalian bisa berteman dengan orang seperti Kurapika?" Tanya Giselle sambil tertawa renyah. Kurapika memilih diam. Gon tertawa sambil menggosok kepalanya. Kemudian ia menceritakan pertemuan mereka dengan Kurapika.

" Sou… kalian mengikuti ujian hunter di tahun yang sama. Hmm… tak kusangka kalian semua baru tahun lalu lulus ujian hunter. Kalian memiliki bakat yang besar." Giselle tersenyum ramah.

" Iie.. kami hanya melakukan yang kami bisa." Jawab Leorio merendah. Kurapika melirik Leorio.

" Itu tak terdengar sepertimu, Leorio." Sahut Kurapika datar. Leorio menoleh geram kearahnya. Merekapun mulai beradu mulut. Gon sibuk menenangkan. Sedangkan Killua hanya melihat keributan itu dengan tatapan datar. Giselle tercengang sebentar kemudian tertawa geli. Mereka serentak menoleh kearah Giselle.

" Nani?" Tanya Kurapika heran. Giselle menggeleng.

" Kalian harusnya sering-sering datang kesini. Kurapika akan bertingkah lebih baik jika kalian sering menemuinya." Jawab Giselle.

" O..oi! apa maksudnya itu?" Protes Kurapika.

" Ah, apa tabiatnya selalu buruk?" Tanya Leorio sambil tersenyum jahil kearah Kurapika.

" Hahaha.. kami harus bersabar menghadapi bos muda kami ini. Anak kecil yang berbicara seperlunya saja, menusuk, tapi tak bisa disangkal. Kalian pasti tahu kan kalau dia selalu berbicara setelah memikirkan semua kemungkinan. Seringkali kami kehabisan akal untuk membalas komentar pedasnya." Kali ini Giselle memasang wajah terlukanya. Gon, Killua dan Leorio hanya tertawa. Kurapika memilih diam tak berkomentar.

" Lihatlah. Bahkan dibicarakan seperti ini pun ekspresinya datar saja." Tambah Giselle. Tepat saat itu, Bert masuk membawa Troli berisi teh dan cake.

" Ah, letakkan saja disitu, Bert san." Kata Kurapika. Bert memandang Kurapika protes. Tapi tetap mengikuti intruksi Kurapika.

" Biar aku saja, Kurapika." Cegah Giselle saat melihat Kurapika hendak berdiri.

" Biar kubantu!" Gond an Killua berdiri serempak. Giselle tersenyum dan mengangguk kecil. Sementara Leorio dan Kurapika kembali saling mengejek. Gon, Killua dan Giselle berjalan kearah pintu dan mulai menata cangkir teh diatas troli.

" Giselle-san.. bagaimana kau bisa bekerja disini?" Tanya Gon.

" Hmm… aku tidak yakin.. tapi Kurapika yang menawarkan pekerjaan ini pada kami." Jawab Giselle

" Eh? Bukan kalian yang datang kesini dan berniat bekerja padanya?' Tanya Killua. Giselle menggeleng dan tersenyum. Gerakan tangannya terhenti. Ia menoleh dan menatap wajah penasaran Gon dan Killua.

" Kami semua adalah orang yang sudah diselamatkan olehnya." Jawab Giselle. Gond an Killua berpandangan bingung. Giselle tertawa kecil melihat ekspresi mereka.

" Ceritanya panjang. Tak akan cukup jika kuceritakan sekarang. Tapi yang jelas.." Giselle menoleh kearah Kurapika yang masih sibuk dengan Leorio " Kurapika bagi kami adalah anak kecil keras kepala yang luar biasa. Kami semua sangat menghormatinya dan.. menyayanginya. Bahkan Bert menyayangi Kurapika seperti anaknya. Bagi kami, Kurapika adalah bos, dan saudara kecil kami." Imbuh Giselle. Gon menatap Giselle datar. Sedetik kemudian senyumnya mengembang.

" Makanya kami senang sekali saat ia bilang tadi bahwa kalian adalah temannya. Selama kami bekerja dengannya, kami tak pernah tau dia memiliki teman. Ia hanya menghabiskan waktunya melihat mata scarletnya. Bahkan jujur aku sedikit kaget saat memasuki ruangan ini, dia sama sekali tak menghampiri scarlet eyesnya." Giselle kembali tertawa. Gon dan Killua memandang Kurapika dan tersenyum.

" Yokatta.. Kuharap, kalian bisa menjaga Kurapika." Kata Gon semangat. Giselle mengangkat alisnya.

" Hahaha.. kami khawatir mengingat dia sangat hebat dengan rantainya. Tapi tentu saja kami akan melindunginya. Dan…" Giselle membungkuk kearah mereka berdua " Sering-seringlah menemuinya. Kami baru kali ini melihat Kurapika terlihat santai dan.. senang." Bisik Giselle.

" Oi! Kalian sedang apa?" Teriak Leorio.

" Nah, nanti kita lanjutkan lagi." Giselle mengedipkan sebelah matanya. Mereka pun membawa teh panas itu menuju meja. Aroma teh itu memenuhi ruangan. Menjadi pendamping tawa yang tak mereka sadari, menjadi penghangat yang lebih hangat dari teh.

66666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666

TBC

Chapter 3 selesai!

Jangan lupa jejak kakinya ya ^0^/