Step Sister
.
.
.
.
Desclaimer: Naruto miliknya Masashi Kishimoto.
.
.
Selamat membaca.
.
.
Chapter 4
Itachi kalut. Terlihat dari betapa berantakan penampilannya. Rambut hitam panjang yang biasanya halus berkilau terlihat kusut berantakan dikuncir rendah tanpa disisir. Kantung mata yang tebal dan menghitam terlihat mengerikan, apalagi warna kulitnya yang semakin memucat. Sejak semalam Sakura dibawa ke Rumah Sakit, panas tubuhnya meningkat membuat Itachi terjaga sepanjang malam. Dia begitu khawatir keadaan Sakura. Belum pernah seumur hidupnya Itachi menyaksikan tubuh sang adik berdarah-darah. Paling cuma luka gores maupun lecet akibat terjatuh ketika Sakura kecil belajar berjalan.
"O..oppa?" Suara feminim tertangkan oleh indera pendengarannya membuat Itachi mendongak dari posisi menunduknya. Mata sehitam jelaga itu bertemu pandang dengan mata emerald milik Sakura. Dengan perasaan bahagia sang kakak memeluk Sakura hati-hati. Takut jika tangannya menyentuh bekas luka tembak ataupun goresan di sekujur tubuh Sakura.
"Kau sudah sadar Saki-chan?" tanya Itachi cemas sambil mendekapnya erat. Seakan teringat suatu hal Itachi kemudian menempelkan punggung tangannya di dahi Sakura.
"Syukurlah demam-mu sudah turun Saki-chan. Kau tahu, aku sangat mencemaskanmu!" ucap Itachi dengan wajah kusut sambil menghela nafas lega. Setidaknya suhu tubuh Sakura sudah tidak panas lagi.
"Kau mau minum?" tanyanya lagi seraya menyerahkan gelas berisi air putih pada Sakura. Itachi menghela nafas sejenak lalu membelai lembut helaian merah jambu dengan tangan lainnya sambil sesekali mencium puncak kepala Sakura. Sakura merasakan kekeringan pada tengorokannya jadi tak membutuhkan waktu lama gadis berparas cantik ini menerima uluran gelas dari Itachi lalu meminum habis air putihnya.
"Maaf… Itachi-Oppa!" jawab Sakura setelah mengembalikan gelasnya dan diterima Itachi sembari tersenyum lirih. Membuat kakak satu-satunya cemas merupakan hal terakhir yang ingin Sakura lakukan, karena bisa mempengaruhi kesehatan jantung sang kakak.
"Kenapa tidak teriak minta tolong sih, kamu sampai terluka kan?" ucap Itachi sewot mulai omelannya, tapi masih terlihat jelas kekhawatiran pada wajah tampannya.
Sakura cuma memutar bola matanya bosan, sebenarnya yang kena pukulan siapa sih? Apa Itachi-Oppa amnesia kalau Sakura menguasai karate dan kungfu. Bahkan sekarang dirinya sedang mempelajari Systema 'ilmu bela diri' dari Rusia. Jadi kalau masih mampu melawan akan Sakura hadapi.
"Mau teriak nanggung Oppa, yang ada malah bikin ribut lagipula Saku juga selamat!" jawab si gadis tanpa merasa bersalah. Sedangkan lawan bicaranya berusaha mati-matian supaya kepalan tangan kanannya ini tak mendarat di kepala pink 'Adik tidak tahu diri' nya.
"Sabar Itachi... Orang sabar disayang Tuhan!" batin Itachi memantrai dirinya.
.
.
"Kyaaaa tampannya…!"
"Anak baru, tampan sekali!"
"Kyaaaa…!"
"Kyaaaa…!"
Celotehan para siswi terdengar di telinga Sasuke. Bel pulang sekolah baru saja berdering sehingga para siswa berhamburan keluar dari sekolah. 'Han Nyoung High School' sekolah elit khusus siswa-siswa yang orang tua-nya kaya raya, dan di sinilah Sasuke mulai menjalankan perannya sebagai siswa atlet panahan. Pria tampan ini melangkah menuju mobil sport berwarna hitam metalik tanpa menghiraukan teriakan kekaguman para fans dadakannya. Sasuke tidak peduli karena ada urusan yang lebih mendesak daripada mereka.
Sepuluh menit berlalu ketika Sasuke tiba di salah satu restoran mewah di kota Seoul. Setelah memarkirkan mobilnya menggunakan jasa vallet parkir, pria tampan ini masuk ke dalam. Tiga puluh menit yang lalu Sasuke mendapatkan email singkat dari Suigetsu tentang seorang wanita berkewarga negaraan Rusia yang bisa menolongnya menemukan sang ibu dan Itachi. Dan sekarang sang wanita telah menunggunya di dalam lengkap dengan info yang berhasil ia kumpulkan, karena sebelum mereka bertemu sang wanita menerima foto Itachi terlebih dahulu.
Sasuke sendiri masih berseragam sekolah lengkap. Memakai kemeja putih dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka tak lupa juga dengan dasi bermotif garis-garis miring tersampir pasrah di pundaknya. Kemudian celana panjang berwarna biru gelap senada dengan jas almamater. Emblem 'Han Nyoung High School' tersemat di saku kanan jas. Terkesan siswa urakan. Tapi sekali lagi Sasuke tak menghiraukannya, bahkan beberapa pasang mata yang mungkin heran melihat salah satu siswa dari sekolah elit memasuki restoran seorang diri tak mampu mengubah arah tujuan pemuda ini. Selang beberapa menit kemudian Manajer restoran menghampiri Sasuke untuk menanyakan reservasinya.
Sasuke pov
"Kudyavka Anko!" ucapku begitu ditanya nama pemesan. Sengaja tidak memakai namaku untuk pemesanan meja karena bagaimanapun juga pencarian ini rahasia. Jangan sampai pria tua yang ada di Jepang sana mengetahui kalau aku mencari ibu dan kakak-ku. Karena pencarianku tidak akan berjalan baik, jika pria tua yang menyebut dirinya ayahku itu mengetahuinya. Setahuku Uchiha Fugaku selalu mendapatkan apapun yang diinginkan-nya. Termasuk menghentikanku. Entahlah… aku mempunyai firasat buruk akan menimpa kakak dan ibuku jika pencarianku ini diketahui Fugaku.
"Mari ikuti saya Tuan!"
Suara pemuda yang menjadi Manajer ini membuyarkan lamunanku. Dia berjalan di depan menuju ruang VVIP yang telah Anko pesan untuk transaksi ini.
"Hm!" gumamku sambil mengikuti langkahnya.
"Silakan!" ucap Manager seraya menggeser pintu tradisional Korea. Lalu membungkukan badan setelah aku melangkah masuk dan menggeser kembali pintu ruangan untuk menutupnya. Sekilas aku melihat seorang wanita berambut hitam sebahu dengan make up yang sedikit tebal, menurutku. Lalu menarik sudut bibirnya yang terpoles lipstik merah sambil mengangguk menyapaku.
"Ah, selamat siang Tuan..?"
"Sasuke!" jawabku dengan nada tak suka. Bukan karena apa, yang kutahu wanita ini pasti mengetahui namaku dari Suigetsu. Entah untuk tujuan apa, pura-pura tidak mengetahui namaku. Tch!, tapi sekali lagi aku tidak peduli. Fokusku, benda apa yang ia bawa dan serahkan kepadaku.
"Ah baiklah, aku tahu Tuan tidak suka basa-basi, kalau memang foto Tuan Itachi kecil yang Tuan serahkan sama dengan Tuan Itachi saat ini maka...!" ucapnya setelah aku duduk di depannya dengan meja berkaki rendah di tengah sebagai pemisah.
Wanita ini mengeluarkan amplop coklat lumayan besar dari dalam tas lalu mendorongnya kehadapanku. Aku merobek amplop itu hati-hati karena ku yakin isi di dalamnya berupa foto-foto Ka-chan dan Itachi-ni. Tapi apa yang kudapat melebihi bayangan ku.
"Tuan Uchiha Itachi telah merubah marganya, sekarang menjadi Haruno Itachi karena Nyonya Mikoto telah menikah dengan Tuan Haruno... "
Pertama foto yang kupegang berupa foto pernikahan Ka-chan dengan Komandan Korea Utara, tercetak dalam ukuran 10R; saling bertukar cincin di hadapan pendeta.
"...kalau Tuan belum tahu, sekarang Tuan Haruno menjabat sebagai 'Pemimpin Tertinggi Tentara Rakyat' menggantikan Ayahnya yang telah wafat... "
Lalu foto kedua berupa foto keluarga dengan suami baru Ka-chan dan Itachi-ni berdiri di belakang Ka-chan. Sedangkan posisi Ka-chan duduk di tengah-tengah mereka. Lalu ada beberapa foto ukuran 4R dengan gambar Itachi-ni menggenggam tangan seorang gadis cantik bertubuh tinggi langsing dengan warna rambut pink cerah, sewarna dengan rambut suami Ka-chan. Entahlah gadis ini anak bawaan dari suaminya atau adikku yang lahir dari rahim Ka-chan setelah menikah lagi. Cukup manis. Aku masih membukanya satu per satu, ada gambar Itachi-ni bertengkar dengan sang gadis di pinggir jalan. Lalu Itachi-ni berangkat kuliah di salah satu Universitas di Korea Utara. Lalu foto Itachi-ni menggenggam tangan mungil sang gadis di depan.. PEMAKAMAN?
"Hm?" Aku menyodorkan foto itu pada Anko meminta penjelasan.
"Oh, ini saat hari minggu Tuan Itachi dan Nona Haruno pergi ke pemakaman!"
"Siapa?" tanyaku.
"Nyonya Haruno Mikoto meninggal setelah beberapa bulan melahirkan Nona Haruno. Dari penyelidikanku, Nyonya Haruno mengalami kanker rahim karena pembersihan yang tidak benar setelah proses melahirkan Nona Haruno!"
"Siapa nama belakangnya?"
"Hm?" Anko memandangku bertanya. Aku menunjuk foto gadis berambut pink bergandengan tangan dengan Itachi-ni.
"Ah namanya Haruno Sakura, putri bungsu Tuan Haruno; bisa dibilang adik tirinya Tuan Itachi!"
"Hm, ini upahmu!" Aku beranjak pergi setelah meninggalkan amplop berisi uang yang kurasa lebih dari cukup.
"Terima kasih Tuan!"
Sasuke pov end
Setelah keluar, Sasuke memacu kencang mobilnya. Pemuda ini tidak memikirkan arah tujuan kemanapun. Hanya ingin melaju cepat. Ingin meninggalkan kenyataan bahwa sang Ibu telah meninggal meruntuhkan dunianya. Seorang wanita yang teramat ia rindukan pada akhirnya tak dapat dijumpai, dan mustahil untuk memeluk hangat raganya karena...
"Aaarrrgghhh!" Sasuke berteriak frustrasi.
Tikungan di depan terasa menantang jika dilewatinya dengan kecepatan penuh.
Nggiiiiiiiiiiiiiikkk…..
Gesekan keras antara ban mobil dengan aspal akibat dari aksi drift nya meninggalkan bekas karet hitam lumayan tebal di badan jalan. Sasuke terus memacu mobilnya lebih cepat. Seiring detik waktu berlalu, jarum pada spedo meter kian meningkat. Pemuda tampan ini tak mampu berpikir jernih selain memicu adrenalin. Hingga suara ombak memecahkan keheningan dalam mobil, mampu menghentikan aksi kebut-kebutan menepikan mobilnya di pinggir pantai.
Ternyata hari sudah menjelang malam kala mobil sport itu berhenti. Terbukti dengan cahaya jingga sebagai latar belakang sunset di perbatasan cakrawala. Cukup lama Sasuke merenung di dalam, sebelum keluar menikmati pemandangan pantai. Kasarnya pasir putih menyambut kaki telanjang Sasuke saat turun dari mobil. Tak menghiraukan keadaan kemeja yang telah kusut di beberapa bagian dan juga jas almamater yang tersampir pasrah pada punggung jok mobil, Sasuke melangkah meninggalkan mobil menuju pantai. Deburan ombak memecahkan batu karang terdengar saling bersahutan. Sasuke memejamkan mata menikmati angin nakal yang berhembus kencang menerbangkan rambut biru gelapnya. Begitu menenangkan sebelum telepon genggam di saku celananya bergetar menandakan panggilan masuk.
Kim Danzou is calling
Begitulah kalimat yang tertera di layar ponsel hitam metaliknya.
"Hm?"
"Halo, Tuan Uchiha bisakah anda datang ke markas? Ada sesuatu yang Tuan Danzou ingin bicarakan!"
"Hm.. Hal ha lo..."
Kresek
"Halo Tuan Uchiha, anda mendengarkan suara saya?"
Kresek
"Ah, SIAL. Aku TIDAK MENDENGAR JELAS SUARAMU!"
Kresek
"Halo, Tuan Uchiha anda dimana?"
"Ha..? Kabuto telepon mu aku tutup, suaramu tidak jelas!"
Kresek
Kresek
Klik
Secara sepihak Sasuke memutuskan sambungan telepon dari asisten Danzou. Tak lama kemudian sebuah seringai nampak di sudut bibirnya. Tak sia-sia belajar tipu muslihat dari 'Dobe', temannya berambut pirang yang sekarang kuliah di Kanada.
Plung
Suara benda jatuh kedalam air. Ternyata Oh ternyata, Ponsel canggih berwarna black metalik dilempar sekuat tenaga oleh sang pemilik menuju ketengah laut. Dan berakhir menjadi sampah di dasar laut.
"Dasar tua bangka, merepotkan saja!"
.
.
Ruang kerja 'Perdana Menteri Kim Danzou'.
"Di mana bocah tengik itu?" ucap pria paruh baya dengan nada marah pada lawan bicaranya di telepon.
"Pantai Naksan, Tuan Kim!" jawab seseorang di seberang telepon.
"Apa yang dia lakukan!"
"Hanya berjalan di pantai, Tuan!"
"Hm, tetap awasi Sasuke. Laporkan kegiatannya padaku!"
"Baik Tuan, saya mengerti." Seseorang di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari mobil sport Sasuke mematikan sambungan teleponnya. Lalu memandang ke arah pantai, dimana terdapat seorang pemuda berjalan pelan menyusuri garis pantai.
Mata tua Danzou beralih menatap asistennya setelah memutuskan sambungan telepon.
"Kabuto, apa yang kau dapatkan?"
"Ehem!' Kabuto membasahi tenggorokannya yang mendadak kering setelah mendapatkan tatapan tajam dari atasannya.
"Tuan Uchiha, hari ini setelah pulang sekolah mampir ke restoran. Saya rasa bukan untuk makan karena kami kehilangan jejaknya setelah masuk ke dalam. Perkiraanku, dia memilih tempat eklusif; bisa VIP atau VVIP!"
"Kenapa tidak kau tanyakan pada pelayan!" ucap Danzou meninggi.
"Maaf Tuan, mereka tidak bisa mengatakan apapun karena menjaga privasi pelanggan!"
"Hm, kencan? Menurutmu dia bertemu siapa di sana?"
"Saya tidak tahu, Tuan Danzou!" ucap Kabuto menunduk. Takut jika jawaban yang ia berikan tidak memuaskan sang atasan. Baginya, Kim Danzaou sanggup melakukan apapun jika tidak puas dengan hasil yang ia peroleh. Oleh sebab itu Kabuto harus pandai-pandai menempatkan diri.
"Baik, awasi juga pergaulannya di sekolah. Jangan sampai kekasih Sasuke menghambat misinya. Jika memang dia punya!" ucapnya remeh.
Senyum miring Danzou tercetak setelah mengatakan kalimat itu.
.
.
.
Selama dua minggu Sakura dirawat di Rumah Sakit Korea Utara. Selama itu pula gadis cantik ini mendapatkan perawatan ekstra untuk memulihkan luka lecet maupun goresan yang ditimbulkan dari pertarungan. Tidak membutuhkan banyak waktu untuk membuat kulit tangan maupun pipinya mulus kembali. Terima kasih pada peralatan dan pengobatan tercanggih berupa operasi plastik yang tidak hanya menyamarkan saja, namun sanggup menghilangkan bekas-bekas luka.
Sakura kembali menjalani hari seperti biasanya. Berangkat sekolah di pagi hari lalu jalan-jalan bersama Itachi, tak lupa juga menghabiskan isi dompet hitam kesayangan sang kakak. Sambil sesekali memenuhi panggilan sang Komandan untuk rapat membahas strategi sana-sini di markas. Dan juga mempersiapkan 'Kejuaraan Panahan' dengan latihan-latihan rutin di Sekolah.
Slash
Slash
Tak
Seperti sekarang gadis cantik ini bersama beberapa siswa lainnya berada di lapangan khusus klub panahan. Sakura memincingkan matanya, mencoba fokus membidik lingkaran merah kecil di tengah-tengah target. Tangan kirinya ia gunakan untuk memegang busur sedangkan tangan kanan berfungsi menahan anak panah yang dikaitkan pada tali busur, kemudian merentangkannya ke belakang menyentuh pipi sampai batas maksimal. Udara berhembus pelan menerbangkan anak rambut Sakura yang tidak terkuncir. Mata emerald itu semakin tajam menatap bulatan kecil berwarna merah yang berjarak 70 meter dari garis shooting target. Setelah menghembuskan nafas pelan serta yakin bidikannya akurat, Sakura melepaskan anak panah.
Slash...
Anak panah itu meluncur cepat secara horizontal menembus udara.
Tak
Lalu menancap pas di tengah target.
Plok
Plok
Plok
"Bagus Sakura!" ucap sang pelatih puas.
"Baiklah semua nya berkumpul" -sang pelatih berteriak memanggil para atlet panahan- "latihan hari ini cukup bagus, Douja tingkatkan fokus matamu. Tadi bidikanmu meleset. Lalu Lee, cobalah latihan angkat beban untuk menguatkan tanganmu. Kulihat anak panahmu tidak sampai mengenai target. Untuk lainnya kurasa cukup bagus tingkatkan terus latihannya. Dan Sakura, Shikamaru besok kita akan berangkat. Siapkan segala keperluan sehari-hari kalian malam ini, jangan sampai ada yang terlewat. Sampai jumpa besok di bandara.
Sepuluh menit kemudian Sakura sudah sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobil kesayangannya, gadis cantik ini memasuki rumah.
"Aku pulang...Itachi-Oppa... Appa...!" ucap Sakura lesu. Tak biasanya Sakura yang kelebihan energi dan semangat, pulang dalam keadaan suntuk. Mata hijau yang biasa berbinar cerah kini nampak meredup membuat sebelah alis Itachi terangkat. Apalagi rambut merah jambu-nya yang dikuncir asal-asalan semakin membuat Itachi heran. "Ada apa dengan anak ini?"
"Kau kenapa Saki-chan?" tanya Itachi memperhatikan keadaan sang adik kemudian mematikan televisi yang beberapa menit lalu masih ditontonnya. Kakinya melangkah pelan menghampiri Sakura.
"Hm, kau kenapa?" tanyanya lagi setelah beberapa menit Sakura masih terdiam.
"Aku besok harus ke Jepang Itachi-Oppa, mengikuti kejuaraan itu. Saku pasti kangen sama Oppa?" ucap Sakura kemudian memeluk tubuh Itachi.
" Memangnya berapa lama kau di sana, Saki-chan hm?"
"Kira-kira seminggu! Tapi kan..." ucap Sakura tidak meneruskan kalimatnya. Kangen merupakan salah satu faktor Sakura berat meninggalkan Korea Utara, karena alasan sebenarnya; sang adik berat berpisah dari sang kakak meski sementara waktu. Sakura khawatir pada Itachi, bagaimanapun juga kejadian penyusupan oleh ninja itu masih terekam jelas dalam ingatannya, hingga menimbulkan trauma kecil baginya. Yang Sakura takutkan, bagaimana jika penyusupan itu terjadi lagi saat dirinya berada di Jepang. Bukankah tidak menutup kemungkinan hal itu kembali ter-ulang? Sakura masih meragukan kemampuan para tentara yang berjaga di luar meskipun sudah diganti. Apalagi sang ayah yang akhir-akhir ini semakin banyak menghabiskan waktu di luar untuk menghadiri rapat. Selain itu banyaknya Tentara bawahan sang ayah yang memandang Itachi remeh jika berkunjung ke rumah mereka.
Itachi mendekap tubuh mungil Sakura erat. Dirinya-pun pasti kangen pada adiknya yang berisik ini. Itachi melonggarkan pelukannya, kemudian meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi Sakura hingga pandangan mereka bertemu. "Shh, tenanglah Saki-chan semuanya akan baik-baik saja. Aku akan tetap sehat dan menunggumu!" ucap Itachi dengan senyuman untuk meyakinkan Sakura. Rupanya sang kakak sedikit banyak mengerti, kekhawatiran yang dirasakan Sakura.
"Berjanjilah padaku Itachi-Oppa. Kau tetap rutin meminum obatmu. Kalau ada apa-apa, aku mohon segera hubungi aku!" ucap Sakura tegas penuh tuntutan.
"Hm, baiklah. Aku janji Saki-chan!" jawab Itachi yakin, kemudian melirik jam diding di ruang keluarga. Jam 7, waktunya makan malam. "Nah, karena besok pagi kamu sudah berangkat ke Jepang bagaimana kalau sekarang kita makan di luar?" tanya Itachi yang dibalas anggukan Sakura, lalu beranjak menaiki tangga menuju ke kamarnya setelah pamit pada Itachi untuk mandi dan ganti baju dulu.
Narita International Air Port, Tokyo-Japan.
Dua orang pemuda menarik masing-masing satu koper berwarna biru gelap dan abu-abu. Keduanya begitu menyita perhatian karena terlihat layaknya boyband asal Korea Selatan. Apalagi bentuk wajah keduanya yang bisa dikatakan mirip, namun untuk ukuran bentuk tubuh yang satu lebih tinggi beberapa centi dari lainnya. Uchiha Sasuke dan Kim Sai. Dua siswa atlet panahan yang akan mengikuti pertandingan di 'Asian High School Archery Competition'sebagai perwakilan dari Korea Selatan. Kim Sai merupakan anak kandung dari 'Perdana Menteri Korea Selatan' Kim Danzaou. Tak lama kemudian mereka meninggalkan bandara setelah masuk ke dalam mobil putih yang menjemputnya.
Empat hari berlalu semenjak Sakura menginjakkan kakinya di Jepang. Hari ini merupakan hari terakhir pertandingan panahan, tinggal menunggu hasil score dan nama pemenang yang akan diumumkan ke-esokkan harinya. Menang atau kalah tidak jadi masalah, yang penting telah berusaha sebaik-sebaiknya.
Sreeet
Sakura meresleting suit hitam berbahan kulit yang menempel ketat di tubuh langsingnya. Kemudian memakai hot pants setinggi 10 centi diatas lutut."Aphrodhite,Hades ini misi kalian, " perintah Zeus sebelum mereka terbang ke Jepang, "Carilah lokasi ini (Zeus memperlihatkan peta sebuah lokasi yang ditunjukkan dengan tanda X di pinggiran kota Tokyo, Jepang)"
Sakura melapisinya dengan sebuah dress pink cantik berlengan pendek sepanjang lutut. "Dari hasil penyelidikanku, Festival Tanabata akan diadakan di pinggiran kota Tokyo. Lokasinya tak jauh dari Laboratorium milik Orochimaru, tempat pembuatan Bom Biologis!"
Setelah memoles make up natural, Sakura beralih pada tas tangannya. Memasukkan beberapa pelaratan penyamaran. "Aphrodhite, tugasmu menghentikan virusBacillus anthracisyang di-kembang biak-kan dalam laboratorium itu lalu mematikan semua peralatan yang mendukungnya"
Sakura memasukkan wig pendek berwarna coklat. Kemudian meraih kotak kecil yang berisi kontak lensa berwarna coklat gelap, lalu sebuah tabung injeksi berisi cairan kekuningan beserta dua pasang sarung tangan karet dan masker khusus di dalam tas tangannya. " Dan bila keadaan memungkinkan bawalah sampelnya, kita pelajari setibanya kalian di Korea!"
Setelah dirasa cukup Sakura menutup tas, tak lupa memakai both hitam setinggi lututnya. "Kuharap kau bisa melakukannya dengan baik Aphrodhite, dan kau Hades tugasmu melindunginya, memastikan kelancaran misi; kau mengerti? (ucap Zeus menatap Hades tajam, dan di jawab sebuah anggukan oleh Hades), kalian berhati-hatilah; dan ini," (Zeus menyerahkan dua tabung injeksi pada mereka, masing-masing mengambil satu), "gunakan vaksin itu sebelum kalian memasuki laboratorium, waktu kalian dua jam mulai injeksi, sebelum vaksin di tubuh kalian mati!"
Drrttt
Drrttt
Getaran ponsel di atas meja menandakan pesan singkat masuk ke ponsel nya.
" Ku tunggu di lobi"
Sakura dan Shikamaru meninggalkan Hotel setelah meminta ijin melihat Festival Tanabata kepada pelatih.
.
.
Perayaan Festival sangat meriah. Terdapat beberapa stand-stand penjua makanan ringan khas Jepang. Ada juga sebuah panggung megah untuk pertujukan kisah percintaan klasik antara Orihime dengan sang pengggembala. Kemudian perayaan diakhiri dengan pesta kembang api. Sakura bserta rombongan (beberapa atlet turut serta ) telah tiba. Sekarang mereka berpencar menikmati perayaan setelah membuat janji akan bertemu di tempat semula sebelum pukul 12 malam untuk menonton kembang api bersama-sama.
Shikamaru menggandeng tangan Sakura layaknya kekasih. Mereka berjalan ber-iringan menuju stand dango, sekedar mengganjal perut mereka karena sebagian waktunya tersita untuk persiapan misi. Panggung hiburan telah membuka tirai penutupnya. Seorang host mengenakan Haori berbicara sejenak, memberitahukan bahwa pertunjukan akan dimulai 10 menit lagi. Berharap para penonton segera mendekati panggung. Lalu lalang penonton berjalan ke arah panggung, namun berbeda dengan Shikamaru dan Sakura. Mereka menyelinap keluar dari desakan para pengunjung. Keduanya berakhir pada sebuah gang sepi dan gelap, lalu mulai memakai semua perlengkapan penyamaran yang mereka bawa.
Jess
Masing-masing menginjeksi urat nadi pada lengan kiri.
"Hm!"
Seiring dengan anggukan kepala kedua agen khusus melesat cepat saling memisahkan diri.
.
.
Aku berdiri di depan bangunan kumuh tak terawat. Menurut peta yang kupegang maupun detektor radiasi, di sinilah tempat laboratorium milik Orochimaru tersembunyi. Mengendap-endap aku menuju bawah jendela. Dugaanku bangunan ini sebelumnya terbakar kemudian dijadikan laboratorium rahasia oleh Psikopat itu. Lihat saja pada tembok yang sekarang ku panjat ini, dibeberapa tempat ada noda hitam layaknya jilatan api. Sampai setengah jalan aku memanjat, keadaan masih sepi. Begini mudahkah keamanan laboratorium i? Tapi aku tetap waspada mengingat bangunan ini milik siapa, pasi ada banyak jebakan yang siap membunuhku.
Hup
Aku berhasil menyelinap masuk. Keadaan masih sama dengan di luar, gelap, dan reruntuhan bekas bangunan terbakar. Aku berjalan pelan sambil mengamati keadaan sekitar, menyusuri sebuah lorong. Bau lumut dan lembab kucium begitu aku berbelok semakin ke dalam. Perasaan apa ini? Belum pernah jantungku bergetar sehebat ini! Aku menatap tajam keadaan sekeliling-ku memastikan tidak ada kamera yang sengaja merekam gerak-gerikku.
Samar tapi pasti aku mendengar perbincangan dari balik…Drum?
Aku makin menajamkan indera pendengaranku. Tepat sekali. Aku rasa di balik drum besar ini ada ruang rahasia. Aku meneliti fisik drum mencari-cari sembuah tombol atau apapun juga untuk membukanya. Hitam bekas terbakar, tercium bau arang meskipun samar, dan juga bau tajam.
Uhg….
Kepalaku pusing seketika mencium bau menyengat itu…. Formalin? Untuk apa laboratorium ini membutuhkan Formalin? Aku menggelegkan kepala, mencoba mengusir pening di kepalaku.
"Hm, lakukan sebaik mungkin!" AH, ucap seorang pria tua jika ku nilai dari suaranya. Aku cepat mengendap-endap bersembunyi di samping drum. Keadaan gelap menguntungkan ku.
"Baik Sensei, saya mengerti. Saya pastikan lusa senjata itu bisa digunakan!" suara seorang lelaki yang lebih muda dari sebelumnya.
"Aku ingin hasil terbaik, kerahkan semua kemampuan kalian. Jika transaksi ini gagal, nyawa beserta satu klan kalian menggantikan kerugianku!" Hm, Pria tua otoriter.
"Hai…!" ucap yang lebih muda dengan suara bergetar. Aku memperhatikan mereka, ilmuwan muda menunjukkan kartu pengenal pada lampu merah yang teramat kecil di depannya. Pintu drum terbuka kemudian mereka masuk ke dalam, lekas aku susul setelah memastikan tubuh mereka sudah menjauh di balik pintu drum.
Klek
"Aphrodhite! kau bisa masuk, semua kamera pengawas dalam kendaliku. Akan ku tuntun langkahmu mulai sekarang!" ucap Hades begitu aku masuk ke drum atau laboratorium milik Orochimaru. Segera aku pasang sarung tangan beserta masker khusus untuk menghindari radiasi yang mungkin ditimbulkan selama proses pembuatan Bom Biologis di dalam laboratorium ini maupun racun berbahaya yang bisa saja aku hirup.
"Um!" ucapku dengan jempol tangan kanan terangkat (tanda Ok!) pada kamera. Memastikan kesiapanku pada Hades.
"Majulah perlahan tanpa menimbulkan suara, di kanan ada dua petugas keamanan bersenjata lengkap. Kurasa kau bisa melumpuhkannya!"
Seorang agen wanita berambut coklat dengan suit hitam membidikkan pistolnya pada kedua petugas yang sedang berbincang sambil merokok itu.
Tak…..
Tak…..
Akumenyeret kedua petugas itu di balik pot pohon besar di belakangku, menyembunyikan mayat mereka.
"Bagus, majulah. Kau langsung menemukan laboratorium itu. Ada 2 ilmuwan di depan, kau tau apa yan…!" ucapan Hades terhenti karena…
Tak…
Tak…
"..ng kau lakukan!" Hades mengakhiri kalimatnya yang meskipun tak kulihat tapi kupastikan dia memutar matanya, "Yare yare…!"
Akukembali menyeret dua mayat itu untuk disembunyikan.
"Ada petugas datang ke arahmu!" pekik Hades.
Duak
Tendangan tiba-tiba dari sebelah kanan berhasil kutahan, sebagai balasan aku mengarahkan tendangan kakiku pada tulang keringnya sekeras yang kubisa.
Duak
"Arrghh!" sang petugas memegangi tulang keringnya yang kemungkinan mengalami patah tulang.
Tak…
Malas berkeringat, aku menembakkan pistolku alih-alih bertarung dengannya.
"Si..siapa k kau?" seorang ilmuwan berhasil memergoki aksi ku, kemudian menekan tombol merah di samping kanannya.
WIUUUU
WIUUUU
WIUUUU
Seketika alarm berhasil dinyalakan olehnya sebelum tumbang karena timah panasku bersarang tepat di tengah keningnya.
"Sial!"
" Aphrodhite… Ada lima petugas keamanan berlari ke arahmu memegang senjata lengkap. Bertahanlah, aku akan segera sampai di sana" teriak Hades.
Tak
Satu petugas ambruk begitu tertangkap indera penglihatanku. Kemudian…
DOR
DOR
DOR
Keempat petugas keamanan menembakkan senjatanya brutal ke arahku. Aku berguling secepat yang kubisa untuk menghindar, lalu merah tumpukan koran dan majalah yang kutemukan di bawah meja. Ku lemparkan pada ke empat petugas, menghalau pandangan mereka. Kemudian aku melompat salto setelah berpijak pada meja, mendarat dibelakang tubuh petugas paling dekat denganku sambil merebut senjatanya.
DOR
Satu mayat lagi dari pihak lawan tumbang, petugas yang ku rebut pistolnya.
Cklek
"Menyerahlah… Angkat kedua tanganmu!"
Sial, setelah aku menembak sedetik kemudian pucuk senjata menempel tepat di belakang kepalaku.
"Mati kau!"
Aku memejamkan mata menikmati detik-detik terakhir saat nyawaku masih menempel pada raga. "Inikah akhir hidupku? Maafkan aku Itachi-Oppa, maaf tak dapat memenuhi janjiku untuk selalu melindungimu. Au titip Appa padamu. Jagalah kesehatanmu.. Hades… sampaikan salam perpisah….!"
DOR
DOR
DOR
"hanku pada kawan-kawan di agen khusus… Selamat ting...,"
BRUK
BRUK
BRUK
Suara di belakangku tubuhku berhasil mengembalikan fokusku. Aku meraba seluruh tubuhku mencari-cari suatu lubang yang berdarah. Nihil. Lagipula aku masih berdiri tegak. Ini…. Aku membalikkan badan, bermaksud mengetahui keadaan sebenarnya.
Terlihat di depan sana dua pemuda tampan, dengan tinggi di atas rata-rata bertubuh porposional. Salah satunya mengacungkan pistolnya yang masih mengeluarkan asap tipis ke tubuhku. Sedangkan pemuda lainnya tersenyum manis padaku.
.
.
.
Tbc
Bacillus anthracis: Virus mematikan yang menimbulkan penyakit Anthrak, biasanya digunakan dalam pembuatan senjata biologis karena vaksin nya masih sulit ditemukan yang berkembang biak di saluran pernafasan dan mampu bertahan hidup sampai 40 tahun.
.
.
Terima kasih untuk semua yang membaca, memfow atau memfav, dan yang menyempatkan ngetik ngetik untuk mereview fic abalku ini.
Balesan Review:
teeeneji : terimakasih sudah suka karakternya sakura, karena memang ku buat akrab dengan Itachi, untuk jadian sama Sasuke tunggu aja ya kelanjutan ceritaku. ku tunggu Review nya lagi..
Younghee Lee : ini dah lanjut, moga menghibur. review pliss..
Luca Marvell : Itachi mungkin sembuh mungkin jadi death chara karena masih belum da gambaran lanjutan fic abalku ini. thanks… review lagi ya…
Aegyo Yeodongsaeng : makasih dah suka kak, bikin aku tambah semangat. untuk bahasa baku memag aku buat "doain" biar terlihat akrab ma Itachi. Sakura itu punya dua karakter, dia jadi manja kalau di kehidupan biasa, tapi bisa profesional n kejam saat mode agen atau pertarungan. Terimakasih… review lagi ya kak
R
e
v
i
e
w
.
.
p
l
e
a
s
e
Saran dan kritik boleh tapi jangan flame ya…
