DREAM CASTLE

Pairing : Gilbert Beilschmidt/Ludwig Weillschmidt

Rating : T

Genre : Drama/Angst

Summary : "...istana impian ini adalah milikmu, Ludwig. Maka jagalah baik-baik..."

Disclaimer : All characters belong to Himaruya Hidekazu-sensei

Warning : Apa pun yang terjadi di sini adalah rekayasa walau sedikit mengena ke sejarah masing-masing negara. Timeline yang ada di sini saya sesuaikan dengan yang ada di Hetalia, di mana mereka sepertinya berumur panjang (terutama Jerman). Kalau ada yang kurang berkenan, saya sarankan untuk tidak membaca dengan segala hormat. First Ger/Pru, trial and error... :/

~Chapter 4~

The choice he made he could not comprehend

His blood a grim secret they had to command

Main Castle, Berlin – 1930s

Gilbert's POV

Nazism…

Pria dengan keahlian pidato luar biasa, bernama Adolf Hitler, muncul ke permukaan bersama Partai Serikat Pekerja di Berlin. Suara lantangnya seakan bisa membangunkanmu dari tidur yang sangat lelap sekali pun. Semangatnya begitu mengena di hati siapa pun yang mendengarnya. Laki-laki bertubuh kecil itu muncul seperti bintang harapan, orang-orang menyanjung dan memujanya seperti Tuhan.

Jerman pun merangkak naik…

"Hitler mulai terkenal sekarang. Mengerikan…"

Hitler dan orang-orangnya ingin membentuk satu batalyon pasukan yang sangat kuat. Dia sangat cinta kepada Jerman, maka itu apa pun dilakukan demi bisa mengembalikan kehormatan Jerman di mata dunia. Jika ada perang dunia lagi, dia menjamin tidak akan terjadi kekalahan untuk kedua kalinya.

"Mengapa kau bilang begitu, Antonio?"

"Entahlah. Banyak hal yang sudah dilakukannya untuk Jerman. Aku dengar dia akan dicalonkan sebagai Kanselir."

Aku baru saja pulang dari pertemuan di Main Castle, dan bertemu dengan Antonio Fernandez, dari Spanyol, di sebuah bar. Perbincangan kami dimulai dari Hitler, dan berakhir dengan perkara Hitler juga. Seperti tidak ada habisnya. Bahkan semua orang di sini juga meramaikan masalah Hitler dan Nazi-nya itu.

"Bagaimana kabar Ludwig?"

"Dia hebat, aku kalah tinggi."

"Hahaha…padahal dulu dia masih kecil saat pertama main bola bersama Lovino di rumahmu. Apa rencanamu setelah dia dewasa?"

"Tentu saja dia harus meneruskan cita-citaku, Tuan Matador. Mungkin bulan depan aku akan memasukkan dia ke sekolah militer. Masa depan Jerman ada di tangannya."

"Dan kau berhadapan dengan Hitler, Tuan Besar Beilschmidt. Kau yakin camp pelatihan militer di Jerman bisa steril dari tangannya?"

"…"

"Jaga adikmu baik-baik, Gilbert. Aku tidak tahu kau berada di pihak mana. Tapi untuk kau tahu, aku tidak setuju dengan paham keras Hitler."

Tidak hanya kau, sobat. Aku pun juga tidak setuju. Petinggi Prussia sepertinya sudah tidak bisa lagi mengendalikan Hitler. Bahkan kabar burung yang aku dapat, laki-laki kejam itu akan menghapus nama Prussia dari wilayah besar Jerman.

Ini tidak bisa dibiarkan…

Keluar dari bar, aku berencana untuk pulang ke rumah. Sepanjang jalan, telingaku terasa pengang mendengar orasi Hitler dikumandangkan. Poster dan selebaran mulai bermunculan di mana-mana.

"Jaga adikmu baik-baik…"

The Mansion, 5.00 pm

Tiba di rumah, aku terkejut tidak melihat Ludwig berkeliaran di mana-mana. Biasanya dia akan menyambutku di ruang tengah dengan segelas birnya. Tapi dia tidak ada sekarang, bahkan kamarnya pun kosong. Ludwig jarang bepergian, dan dia selalu izin padaku kalau akan pergi.

"Ke mana Ludwig, Madam?"

"Siang tadi dia bilang akan ke kota mencari Anda, Tuan Besar."

"Untuk apa dia mencariku?"

"Dia tidak bilang, hanya ingin ke kota. Begitu saja."

"Apa dia bilang kapan akan pulang?"

"Katanya sih sore ini dia pulang. Tapi…"

"Aku mengerti. Siapkan makan malam, siapa tahu dia pulang sebelum waktunya makan."

Aku naik ke kamarku dan berganti pakaian. Langkahku kemudian berhenti di ruang kerjaku karena pintunya tidak semuanya tertutup. Apa yang dilakukan anak itu di ruang kerjaku? Ketika aku masuk, pandanganku tertuju pada sebuah papan maket dengan model istana dari bahan gips di atasnya.

"Oh…"

Melihat istana ini, ingatanku melayang kembali pada masa lalu. Ludwig dengan penuh semangat mengerjakan macam-macam di papan maket ini. Dia bilang, istana ini harus indah. Dan aku menyuruhnya untuk menjaga keindahan istana ini. Aku masih ingat bahwa istana ini harus sudah selesai tepat saat aku pulang dari peperangan.

Dia menepati janjinya…

Dan aku yang terlambat menagihnya…

Ah, aku yang lupa…

Dasar orangtua dungu…

"Kakak?"

Lamunanku mendadak buyar ketika suara Ludwig memanggilku dari belakang. Aku sontak membalikkan badanku dan berhadapan dengannya. Entah apa yang mendorongku untuk menghampirinya dan merengkuh tubuh besarnya dalam pelukkanku.

"Kau membuatku cemas, bodoh."

"Maaf, aku memang tidak ada rencana untuk pergi sebenarnya, Kak. Tapi…"

"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku senang kau pulang. Jadi, apa yang…oh…"

Aku baru saja memeluknya, kemudian mendorong bahunya dariku. Kedua tanganku masih berada di pundaknya, dan aku memperhatikan apa yang membuatku melakukan ini.

Ludwig memakai seragam militer berwarna hijau. Kalung salib hitam itu terpajang di dekat kerahnya. Dan yang paling mengejutkan adalah lambang swastika terbalut di salah satu lengan tangannya. Aku baru saja melihat lambang itu di jalanan kota, dan sekarang kulihat lambang itu di rumah ini.

Di lengan adikku…

"Kau…"

"Maafkan aku, Gilbert. Masa keemasanmu sudah berakhir. Sekarang giliranku yang meneruskan cita-citamu, yaitu membesarkan Jerman."

"Apa?"

"Aku sengaja tidak bilang padamu karena aku tahu kau akan melarangku bergabung dengan Nazi. Tetapi aku melihat generasi sebayaku begitu bersemangat bergabung ke sana, ditambah lagi semangat dari pemimpinnya."

"Tidak mungkin…"

"Kau bilang aku akan menjadi ksatria hebat untuk melindungi negara ini. Maka inilah kesempatanku."

"Tetapi aku tidak pernah mengajarkanmu bergabung dengan kelompok pelik seperti itu, Ludwig! Hitler itu bukan manusia, dia iblis! Dia akan menghancurkan Jerman!"

"Jangan merendahkan nama Hitler seperti itu, Kak! Kau mungkin belum tahu siapa dia. Maka kelak kau akan tahu jasa-jasanya mengembalikan kehormatan Bangsa Jerman setelah kalah dari PD I."

"Aku tidak tahu dan aku memang tidak akan pernah mau tahu soal dia! Keluar dari kelompok bengis itu sekarang, atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!"

"Gilbert…!"

"Katakan di mana salahku mengajarkanmu, Ludwig? Mengapa sekarang kau malah mengubah haluan menjadi orang tak punya hati macam Hitler? Kau tahu bahwa isu rasisme mulai bermunculan di masyarakat? Orang Yahudi mulai ketakutan keluar rumah. Hitler menyebarkan orang-orangnya di kota Berlin demi menarik mereka keluar dari Jerman. Dan lebih parah lagi, mereka dibunuh!"

"Apa kau sengaja mencari keburukan dari Nazi supaya kau bisa mengeluarkan aku, Kak?"

"Tapi itu memang kenyataannya! Prussia besar, maka Jerman besar. Hanya kita, ksatria Prussia yang bisa membesarkan Jerman. Bukan Nazi!"

"Prussia…sudah tidak ada, Kak."

"…!"

"Aku yang akan membesarkan Jerman dan melindungi kehormatannya."

"Kau dan orang-orangmu tidak pantas mengucapkan itu, Ludwig Weillschmidt!"

Seperti tersambar petir di siang bolong, pertemuanku dengan Ludwig nampaknya akan menjadi awal pertikaian kami. Adikku yang sangat kubanggakan, kubesarkan dengan penuh cinta, kini telah memilih jalan lain demi meneruskan cita-cita leluhurnya.

"Ah, aku baru mau bertanya padamu, Kak. Bagaimana jika kau bergabung denganku?"

"Demi apa pun di dunia ini, aku tidak akan pernah mau bergabung dengan Nazi!"

"Jangan pedulikan Nazi-nya, kau punya aku di sana. Kita bisa wujudkan kejayaan Jerman sekali lagi."

"Aku tidak mau…"

"Karena Hitler akan membunuh orang yang tidak sepaham dengannya, Kak. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi padamu. Aku sudah pernah berjanji padamu, bahwa akan tiba saatnya untukku berperang dan melindungimu-"

"Kau mengucap janji itu sebagai ksatria Prussia, bukan sebagai bawahan Nazi! Biar saja aku mati, ketimbang harus mencium sepatu boot milik iblis macam dia!"

BUAGH!

Sepersekian detik kemudian, aku mendapati diriku bersandar pada meja kerjaku. Papan maket di atasnya gemetar seakan hampir jatuh menimpaku. Aku merasakan perih dan panas di wajahku. Pukulan tangan Ludwig menumbangkanku dan ini membuatku geram.

"Hooo…kau sudah merasa lebih hebat sekarang? Sudah berani melawan kakakmu, hah?"

"Kau memaksaku berbuat begitu, Gilbert!"

"Sejak kapan kau bergabung dengan mereka, Ludwig?"

"Kau tidak perlu tahu, Kak…"

"Butuh berapa hari otak dungumu bisa memahami Nazi sampai akhirnya kau bisa memusuhi saudaramu sendiri, Ludwig?"

"Kau tidak memberiku banyak pilihan, Kak! Bertahun-tahun kau meninggalkan aku ke medan perang. Kau tak menampakkan batang hidungmu sampai akhirnya aku terima kabar Jerman mengalami kekalahan di PD I."

"…"

"Tetapi aku tetap pada pendirianku untuk selalu setia menunggumu pulang. Istana kecil itu sekarang sudah jadi, berdiri dengan indahnya di atas papan maket yang kau berikan padaku. Lihatlah, itu hasil kerja kerasku sendiri!"

"Ya…aku sudah melihatnya…"

"Istana itu kubangun bersama impianku. Kau bilang akan mengibarkan bendera di atas istana itu setelah kau pulang dari medan perang. Tetapi sampai sekarang, kau tidak melakukannya!"

"…"

"Kau tidak mendukung impianku, Kak?"

"Aku dukung segala impianmu, Ludwig. Aku sangat bangga mempunyai adik dengan cita-cita setinggi langit, bahkan aku menaruh harapan besar di pundakmu. Tetapi-"

"Salahkah jika aku menentukan jalanku sendiri untuk membesarkan Jerman?"

"…"

"Jawab aku, Gilbert! Apakah aku salah menentukan lajur perjuanganku? Melindungi rumah kita? Jerman? Istana ini?"

"Aku tidak pernah mengajarkanmu membunuh orang tak berdosa demi membesarkan sebuah negara, Ludwig! Oh, demi Tuhan aku akan membunuh Hitler dan orang-orang yang sudah mencuci otakmu!"

"Kau tidak bisa lagi membanggakan nama besar Prussia seperti dulu, Gilbert."

"Prussia tidak akan pernah mati!"

"Nazi menghapusnya!"

"Itu sama saja kau menghapus masa lalumu, Ludwig! Dan itu juga sama dengan kau menghapusku dari ingatanmu!"

"Aku tidak pernah berpendapat seperti itu!"

"Jika memang begitu besar keinginanmu menjadi pahlawan bangsa ini, baiklah. Terserah padamu. Kau punya impian khan? Kau bangun segala impian itu dengan istana ini khan?"

"Gilbert…"

"Aku akan menghancurkan impianmu, dan kuawali dengan menghancurkan istana ini!"

Diriku sudah dikuasai emosi, aku mengangkat papan maket ini tinggi-tinggi dan bersiap menjatuhkannya ke lantai. Namun Ludwig merebutnya, aku berusaha menariknya kembali. Tangannya begitu kuat menarik papan ini, aku pun tidak mau kalah darinya. Sampai akhirnya…

BRAK!

"Apa yang kau lakukan, Gilbert?"

"Aku menghancurkan impianmu, Ludwig! Hahaha…lihatlah! Menaranya patah satu! Hahaha…!"

"Grrr…kau jahat!"

BUAGH!

Ludwig memukulku lagi. Darah mulai mengucur dari sudut bibir dan hidungku. Aku jatuh lagi di dekat meja, di dekat patahan menara istana tadi. Ludwig berdiri mengepalkan tangannya. Dia menatapku marah, tapi aku melihat sedikit air mata mengaburkan pandangannya. Nafasnya tersengal, seakan dia siap meluapkan amarahnya lagi.

"Aku…membangun istana itu susah payah, Gilbert. Tanpa bantuan tanganmu, tanpa semangat darimu, aku bisa membangunnya sendirian. Aku sisakah pucuk menaranya untukmu agar kau bisa mengibarkan bendera di atasnya. Tetapi sekarang kau menghancurkannya, bahkan mematahkan satu menaranya."

"…"

"Kau bilang akan mendukungku. Lalu mengapa…?"

"Uuurgh…"

"Aku akan menunjukkan padamu kalau aku bisa mewujudkan impianku, Gilbert. Kau butuh istirahat kurasa. Peperangan sudah membuatmu kehilangan banyak tenaga. Sekarang giliranku yang meneruskan perjuanganmu…"

Aku melihat Ludwig berlutut di hadapanku. Kemudian dia meraih tanganku dan menciumnya. Aku merasakan bibirnya gemetar di tanganku. Aku merasa pandanganku mulai kabur, kepalaku terasa pusing.

"Maafkan aku, Kak. Akan kubayar rasa sakit itu dengan kemenangan…"

The curse of his powers tormented his life

Obeying the crown was a sinister price

~to be continue~

Chapter 5 coming up next!