Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya.
Pairing: Always NaruSasu
Rated: M for Mature, Sexual Content
.
.
You're My Kidnapper
.
By: CrowCakes
.
~Enjoy~
.
.
_Konoha Gakuen, Pukul 08.00 Pagi_
.
Empat hari terlewat sejak kasus penculikan dan tragedi penembakkan di kediaman Uchiha. Hanya Sasuke, Itachi dan Fugaku yang mengingat jelas bagaimana tubuh Naruto yang bersimbah darah tersungkur dilantai. Potongan gambar paling mengerikan yang tertangkap oleh mata onyx Sasuke.
Tetapi kini, Sasuke kembali ke sekolah seakan-akan waktu itu hanyalah mimpi buruk. Dirinya yang pendiam semakin tertutup dan dingin. Bahkan saat Sakura menyapanya, ia hanya diam saja. Ia juga tidak berniat untuk membuka pembicaraan dengan gadis itu.
Sasuke hanya duduk diam di kelas sambil menatap bangku Naruto yang kosong di belakang.
Pemuda pirang itu tidak ada disana. Kursi itu kosong sejak empat hari yang lalu... Rasanya—sunyi.
Empat hari—Yang sanggup merubah perasaan bencinya pada pemuda pirang itu menjadi rasa cinta.
Aneh?—Memang aneh. Tapi itulah yang dirasakan oleh hatinya.
"Sasuke-kun?—" Panggilan Sakura membuat pemuda onyx itu mengalihkan pandangannya dari bangku Naruto ke wajah gadis pink itu.
"Hn?" Sasuke menyahut malas.
Sakura tersenyum kecil kemudian duduk di sebelah 'kekasih' nya itu, "—Gosip soal penculikanmu itu—"
"Tidak ada penculikan—" Potong Sasuke cepat, "—Aku hanya menginap di tempat temanku."
"Tapi—" Sakura masih tidak percaya, matanya beralih menatap punggung tangan Sasuke yang ada sedikit luka dan lebam, "—Bagaimana kau menceritakan luka-lukamu itu?"
Sasuke mendelik galak, "—Ini hanya luka biasa. Terjatuh. Cerita selesai dan berhenti menanyaiku lagi." Tegas pemuda onyx itu sembari beranjak dari bangkunya.
"Tunggu—" Sakura menahan lengan Sasuke panik, "—Kau tidak seperti biasanya Sasuke. Sebenarnya ada apa? Kau lebih sering melamun dan—menatap bangku Naruto." Suara gadis itu melemah dan lebih mirip bisikan.
"Tidak ada yang berubah. Aku seperti biasanya." Balas Sasuke lagi seraya menepis pegangan gadis itu ditangannya.
Mata hijau Sakura sedikit terluka, "Aku mengerti—" Ia kembali menatap 'kekasihnya' itu dan mencoba tersenyum, "Sasuke, bagaimana kalau setelah pulang sekolah kita jalan-jalan—"
"Tidak—" Sasuke menolak secara tegas, "—Aku ada urusan. Maaf." Ucapnya lagi seraya beranjak pergi, meninggalkan kelas.
Ia benar-benar butuh udara segar untuk menjernihkan otaknya sekarang. Tidak ada waktu untuk berbincang omong kosong dengan gadis itu.
.
.
.
.
_Konoha's Hospital, Pukul 14.00 Siang_
.
Itachi duduk disalah satu bangku tunggu tepat didepan sebuah kamar pasien—Nomor 101.
Sesekali pemuda itu mengetukkan kakinya karena gelisah. Menunggu seorang pasien benar-benar membosankan. Apalagi pasien itu adalah musuh terbesarmu sekaligus 'kekasih' adikmu.
Ironis.
"Itachi?" Suara Yahiko membuat sang Uchiha menoleh ke arah rekan kerjanya itu. "—Minumlah dulu. Kau kelihatan letih." Lanjut sang agent seraya menyerahkan segelas kopi ke arah Itachi.
"Thanks."
Yahiko ikut duduk disamping pemuda Uchiha itu, "Jadi—dia selamat, huh? Benar-benar beruntung—"
Itachi tidak merespon perkataan rekannya itu. Otaknya kembali mengingat kejadian di kediaman Uchiha, tepatnya saat penembakkan itu terjadi.
.
.
_FlashBack_
.
"AYAH!—JANGAN!" Sasuke berteriak keras. Dilanjutkan dengan suara letusan pistol yang nyaring.
Itachi yang berada di lantai dasar dapat mendengar desingan peluru itu dan segera berlari menuju lantai tiga. Ia tidak tahu apa yang terjadi disana, tetapi kalau Sasuke berteriak, ia yakin hal itu benar-benar gawat dan genting.
.
BRAAK!—Itachi mendobrak pintu ruangan, asal suara letusan tadi. Yang dilihatnya pertama kali adalah Naruto yang babak belur dan darah yang menggenangi tubuh pemuda pirang itu.
"TIDAAK!—" Sasuke meronta dan menyikut dua bodyguard yang memegangi lengannya kemudian berlari menuju ke arah Naruto.
Fugaku hanya mendesis dingin, "Huh!—Benar-benar beruntung—" Ucapnya seraya melirik ke arah tembakannya yang bersarang di bahu pemuda pirang itu.
Tembakkan awal. Hanya sebuah gertakan kecil dari sang Uchiha untuk 'penculik' itu. Namun kali ini, Fugaku memastikan bahwa pelurunya akan bersarang di otak pemuda pirang itu.
Ia kembali menodongkan pistolnya ke arah kepala Naruto, "—Tetapi keberuntunganmu akan segera berakhir, Nak." Lanjutnya lagi dengan suara yang mengancam.
"Hentikan ayah!—" Sasuke menangis sembari memeluk tubuh Naruto, "—Aku mohon, hentikan—Aku akan melakukan apa yang kau perintahkan, jadi tolong lepaskan Naruto." Lanjutnya lagi seraya memohon keras. Suara tangis dan nada ketakutan bercampur di tenggorokan pemuda onyx itu. Tangannya yang gemetaran masih memeluk erat tubuh Naruto, seakan-akan ia takut pemuda pirang itu akan menghilang dari dekapannya.
Itachi yang berada di ambang pintu langsung mengeluarkan pistol dari saku jacketnya, kemudian menodongkannya ke arah Fugaku, "—Jatuhkan senjatamu, Tuan Uchiha!"
Fugaku melirik tidak tertarik ke arah putra sulungnya itu, "Tuan polisi—" Ucapnya seraya menaruh kembali pistolnya ke atas meja, "—Bisakah kau penjarakan penculik ini?"
Belum sempat Itachi bersuara, Sasuke sudah menyela dengan cepat, "Ayah—Aku mohon lepaskan Naruto. Aku mohon!"
Fugaku mendelik anaknya itu, "Kenapa aku harus berbaik hati pada penjahat sepertinya?"
"Dia bukan penjahat!—" Potong Sasuke lagi, "—Ia kekasihku."
—PLAK!—Tamparan dari Fugaku melandas cepat ke pipi Sasuke. Pria Uchiha itu mendesis sinis, "Jangan berani mengatakan hal menjijikan itu."
Sasuke menahan gemetaran tubuhnya yang emosi, "—Aku mencintainya."
"SASUKE!" Fugaku meraung keras.
"AYAH DENGARKAN AKU!—" Sasuke membalas raungan Fugaku dengan teriakan keras, "—Aku mencintainya. Dia kekasihku. Jadi, aku mohon lepaskan Naruto." Ada nada tercekat dan ketakutan dari kalimat tegas itu.
Fugaku menggertakkan giginya geram, "Baiklah—asal dengan satu syarat." Ia kembali mendesis, "—Jangan pernah berhubungan dengan anak ini lagi, dan aku akan mencabut semua laporanku tentang penculikan itu."
"A—Apa?—Apa maksud ayah?" Tanya Sasuke lagi.
"Seperti yang kukatakan. Jangan pernah berhubungan dengan anak ini." Jelas Fugaku lagi seraya menuju bangku kerjanya dan duduk dengan angkuh. "Oh iya—aku lupa memberitahumu, aku dan ayah Sakura sudah menyetujui hari pernikahan kalian. Tentunya, setelah kau lulus sekolah. Aku harap kau menyetujui permintaanku. Kalau kau menolak—aku bisa meledakkan kepala anak ini dengan pistolku kapan saja." Lanjut sang kepala keluarga sembari menatap Naruto dengan geram.
Sasuke tidak menjawab, ia hanya menggigit bibirnya yang gemetaran, matanya beralih ke sosok Naruto yang berada di pelukannya. Kalau hal itu bisa membuat pemuda pirang itu selamat, maka ia akan—
"Aku setuju—" Ucapnya lirih.
—Menerima negoisasi ayahnya.
.
Fugaku menarik sudut bibirnya menjadi sebuah seringai tipis, "Bagus—" Ia kembali melirik ke arah Itachi, "—Tuan polisi, cabut seluruh laporanku dan bebaskan Naruto dari tuduhan penculikkan."
.
_End OF Flashback_
.
.
Itachi mendesah kesekian kalinya ketika mengingat hal itu. Kekuasaan ayahnya memang benar-benar diluar kendali. Laki-laki itu bisa membeli hukum dengan uangnya sesuka hati. Dan itu cukup membuat Itachi semakin frustasi memikirkan masa depan adiknya. Apalagi diharuskan menikah dengan wanita yang tidak kau cintai, itu merupakan hal terkonyol yang pernah didengarnya.
"Kau menghela napas lagi." Ucap Yahiko seraya menyeruput minumannya.
Itachi mencoba tersenyum, "Yeah—aku sedang memikirkan sesuatu."
"Biar kutebak—" Yahiko melirik sekilas, "—Adikmu?"
"Hn—" Gumam Itachi singkat sambil menyesap kopinya.
Yahiko menepuk pundak rekannya itu, prihatin. Saat dia mencoba untuk menghibur Itachi, suara langkah dari koridor membuat kedua polisi itu menoleh.
Sosok Sasuke terlihat menuju ke arah mereka sambil menenteng bunga dan buah.
Itachi bangkit dari duduknya kemudian mendekat ke arah adiknya itu, "Sasuke?—Sedang apa kau kesini?—Kalau Fugaku tahu, kau bisa dalam masalah besar."
"Nii-san—aku hanya ingin menjenguk Naruto—"
"Tidak!—Fugaku akan—"
"Please—hanya sebentar saja." Pinta Sasuke lagi. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi memohon pada Itachi, ia berharap kakaknya itu mau bermurah hati sedikit saja.
Sang kakak mendesah pelan, "Baiklah—hanya sebentar."
Sasuke mengangguk, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar pasien. Meninggalkan Itachi yang masih melihatnya dengan pandangan yang tidak bisa dideskripsikan.
Mata onyx nya menjelajah ruangan itu. Warna putih mendominasi keseluruhan kamar. Hanya ada sedikit perabotan yang terlihat didalam sana. Lemari kecil dan kursi, serta ranjang tempat Naruto beristirahat. Selain itu tidak ada lagi yang istimewa. Kecuali vas bunga yang kosong di atas lemari kecil tadi.
Sasuke mendekat ke sisi ranjang Naruto dan duduk di kursi tepat disebelah pemuda pirang itu. Tangannya terjulur untuk menyentuh kening Naruto.
Tidak ada panas dan demam. Itu bagus.
Sasuke kembali menyentuh beberapa luka di wajah sang Uzumaki. Robekan di pelipis pemuda itu sudah dijahit, memar dan lukanya juga sudah diperban. Pemuda onyx itu sadar kalau luka Naruto lebih parah dibanding luka penyiksaan yang dialaminya.
Tepat ketika Sasuke bangkit dari kursi dan ingin berbalik pergi, tangannya terlanjur ditahan oleh Naruto yang mulai siuman.
"Nghh—Sa—su—" Pemuda pirang itu mengerang perlahan. Rasa sakit dikepalanya masih bersarang dan ia belum sembuh total. Namun tangannya tetap memegangi lengan Sasuke dengan kuat agar tidak pergi.
"Na—Naru?" Sasuke sedikit kaget, ia kembali duduk seraya menangkup tangan Naruto dengan kedua tangannya. Sesekali senyuman lega tersungging di bibir tipis itu. "—Aku mengkhawatirkanmu." Lanjutnya lagi sambil mengelus lembut surai blonde pemuda itu.
Naruto mencoba membalas senyum Sasuke dengan lengkungan bibirnya, namun rasa sakit membuat pemuda itu mengurungkan niatnya untuk tersenyum, "—Terima kasih."
"Bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang sakit? Apa aku perlu memanggil dokter?" Tanya Sasuke lagi.
Naruto menggeleng pelan, "—Tidak perlu. Aku baik-baik saja."
Sasuke menghela napas lega, "—Aku senang kau sudah sadar."
"Yeah—terima kasih." Balas Naruto lagi, tangannya bergerak untuk mengelus pipi Sasuke, "—Aku sedang memikirkan sesuatu."
"Hn?" Sasuke membalasnya dengan tatapan heran, "—Memikirkan sesuatu?"
"Ya—" Naruto mengangguk lemah namun ia mencoba tersenyum, "—Kita akan pergi dari kota ini, dan memulai hidup yang baru. Hanya kita berdua. Tidak ada Konoha Gakuen, tidak ada keluarga Uchiha, bahkan tidak ada Sakura. Hanya kau dan—"
"Naruto—" Sasuke memotong 'khayalan' pemuda pirang itu dengan cepat, ia melepaskan pegangan Naruto dari pipinya, "—Aku—tidak bisa."
"A—Apa maksudmu?"
Sasuke menundukkan wajahnya, ia menggigit bibirnya ragu, "—Aku—akan menikah dengan Sakura setelah lulus sekolah."
"A—Apa?!" Naruto membelalakkan matanya kaget, "—Bagaimana bisa?—Kau tidak mencintai Sakura kan?"
"Naruto—" Sasuke kembali memotong perkataan Naruto, "—Itu adalah perjanjian yang kusepakati dengan ayahku."
"KENAPA?!" Naruto meraung, ia mencengkram pundak Sasuke dan menyentaknya keras, bahkan ia tidak mempedulikan rasa sakit di seluruh persendiannya, "—KENAPA KAU MELAKUKAN HAL ITU?!"
"Naruto—aku—"
"JANGAN KATAKAN UNTUK MELINDUNGIKU!" Sela Naruto lagi.
Sasuke tidak menjawab, pemuda onyx itu hanya menunduk diam, tidak berani menatap wajah Naruto.
Cengkraman pemuda pirang itu melemah, namun amarah masih membakar emosinya, "—Aku mohon, jangan katakan kau menyetujui hal itu hanya untuk melindungiku." Ucapnya lagi yang lebih mirip bisikan tertahan. Rasa tertekan, kecewa dan sedih keluar dari mulut pemuda pirang itu, ia bahkan tidak tahu harus mengekspresikan nada suaranya yang terdengar terluka seperti apa lagi.
"Aku—harus menyetujui kesepakatan itu, Naruto—"
"Tidak—Tidak!—" Naruto kembali mencengkram lengan Sasuke, "—Kita bisa kabur!—Lari dari kota ini!"
"Naruto hentikan." Suara Sasuke terdengar lelah. Ia melepaskan pegangan Naruto dari lengannya, "—Hentikan bertingkah kekanakan. Kita tidak bisa bersama lagi—seharusnya kau mengerti itu." Lanjut sang onyx seraya memeluk lengannya erat. Wajahnya terus menunduk tanpa melihat tatapan Naruto.
"Kau—tidak bisa melakukan hal itu, Sasuke!—Kita saling menyukai!—Mencin—"
—PLAK!
Tamparan Sasuke melandas dengan cepat ke pipi Naruto. Terlalu cepat sehingga membuat pemuda pirang itu membeku dengan mata terbelalak kaget.
"Kenapa?" Naruto mulai bersuara lagi, mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menatap mata Sasuke.
"Kau masih bertanya 'kenapa'?—" Suara Sasuke terdengar bergetar, "—Kau seharusnya mengerti kita tidak akan pernah bersama. Derajat dan martabat kita berbeda. Dan lebih penting lagi 'gender' kita sama. Apa kau tidak pernah berpikir tentang hal itu?" Desis sang onyx tajam.
"Tetapi aku tidak peduli dengan derajat dan martabatku!"
"ITU KAU!—" Sasuke menunjuk penuh emosi ke arah Naruto, "—Tetapi tidak denganku. Aku lahir dari keluarga Uchiha. Lagipula hubungan kita hanya sekedar penculik dan korbannya. Tidak lebih." Sambung pemuda itu seraya menenangkan emosinya kembali.
Naruto hanya diam. "Aku mengerti—" Ia mengalihkan pandangannya dari Sasuke, berharap bisa menyembunyikan senyum getir yang sempat tertangkap mata pemuda raven itu, "—Pergilah. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." Lanjut Naruto.
Sasuke mencoba membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu, namun ego membuat bibir itu terkatup kembali. Ia memilih menatap Naruto sebentar sebelum berbalik pergi. Ia bahkan tidak mengatakan apapun saat keluar dari ruangan itu.
Mungkin—itu yang terbaik untuk mereka berdua.
—Berpisah.
.
.
"Sasuke?" Itachi mencoba memanggil adiknya saat pemuda onyx itu keluar dari ruangan pasien, "—Kau tidak apa-apa?" Tanya sang kakak lagi.
Sasuke tidak menjawab, hanya mengangguk pelan, "Saat semester ini berakhir dan kami lulus. Aku dan Sakura akan melangsungkan pernikahan."
Itachi tidak membalas perkataan adiknya itu, ia hanya menyenderkan tubuhnya ke tembok, "—Kau bisa kabur dari rumah. Pergi jauh dari laki-laki itu. Kau tidak perlu memaksakan—"
"Nii-san—" Sasuke memotong cepat, "—Aku harus melakukan ini untuk generasi Uchiha. Bukan sekedar karena keinginan ayah."
Itachi kembali terdiam, "—Kau serius akan berpisah dengan Naruto?"
"Haruskah aku menjawabnya?—" Balas Sasuke sambil menatap sang kakak dengan pandangan getir, kemudian segera memalingkan wajahnya sebelum cairan bening di kelopak matanya mengalir, "—Aku harus pulang. Selamat tinggal."
Itachi tidak menahan atau berbicara apapun untuk menyahut pernyataan adiknya itu. Ia hanya menatap kosong punggung Sasuke yang terus menjauh keluar dari gedung rumah sakit.
—Itachi sadar, beban yang dipikul Sasuke lebih berat dari masalahnya sendiri. Dan ia tidak tahu harus berbuat apa untuk melindungi adiknya itu.
God!—Hal itu membuat Itachi semakin frustasi.
.
.
.
.
Home Sweet Home, bukanlah hal yang tepat untuk Naruto saat ini.
Sudah seminggu sejak ia diperbolehkan pulang oleh dokter, namun perpisahannya dengan Sasuke membuat pemuda pirang itu tidak bisa berbuat apa-apa selain merasa hampa ketika kembali ke apartemennya. Ia bahkan tidak mengucapkan 'Aku pulang, Sakura' atau 'Kau cantik hari ini, Sakura'.
Tidak—ia sama sekali tidak bernafsu menatap foto gadis itu, apalagi untuk berbicara dengan potret tadi.
Ia bergerak menuju kamar bekas penyekapan Sasuke. Matanya menjelajah isi ruangan itu. Bercak darah masih tertempel di lantai dan kasur, serta noda 'putih' lainnya yang belum ia bereskan.
Naruto mendesah. Ia cukup lelah untuk mengenang pemuda onyx itu. Bahkan ia bingung akan menampilkan ekspresi seperti apa saat disekolah nanti. Haruskah ia acuh? Ataukah mencoba menyapa Sasuke?
Naruto tidak tahu. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah istirahat total.
.
.
.
_Konoha Gakuen, Pukul 08.00, Keesokan harinya_
.
Sasuke masuk sekolah seperti biasa dan mencoba bersikap normal. Bertingkah angkuh, dan bersikap dingin, merupakan satu-satunya pertahanan diri yang dimiliki pemuda itu. Ia tidak berusaha bertingkah mencolok lagi dengan berbicara maupun membantu Naruto yang di-bully lagi.
Ia tidak akan mengambil resiko itu, karena akan ketahuan oleh ayahnya yang memiliki mata-mata di sekolah ini yang bisa memantau setiap pergerakan Sasuke.
Yeah—Ia akan mencoba menjadi 'Uchiha'... Menjadi seorang yang brengsek dan berhati dingin. Ia pernah sekali mencoba berbaik hati, dan berakhir dengan arus bernama percintaan bersama Naruto.
Tidak!—Ia tidak bisa melakukan hal itu lagi. Atau ayahnya akan 'membunuh' pemuda yang disayanginya itu.
.
BUAGH!—Sebuah suara yang tidak asing mampir ditelinga Sasuke. Ia menoleh dan mencoba mencari asal suara pukulan itu. Mata onyx menjelajah koridor kelas dan menemukan beberapa gerombolan siswa sedang menghajar seseorang.
Tidak perlu bersusah payah untuk menebak siapa yang sedang di-bully itu. Sasuke yakin, Naruto sedang dihajar sampai babak belur disana. Namun ia mencoba acuh, tidak peduli. Onyx nya bisa menangkap saphire biru Naruto yang sedang menatapnya dalam diam. Pemuda pirang itu tidak mencoba meminta tolong atau menampilkan tatapan memohon.
Mata biru itu terlihat—kesepian. Kosong. Tetapi Sasuke mencoba mengalihkan pandangannya dengan membuang muka. Ia tidak mempunyai urusan lagi dengan Naruto.
Hubungan mereka sudah berakhir, bukan?
.
Pelajaran Kakashi-sensei selesai lebih cepat dari biasanya, Sasuke bersyukur ia akan pulang cepat juga, jadi ia tidak perlu bertemu Naruto lagi. Setidaknya untuk hari ini.
"Sasuke—" Panggilan Kakashi-sensei membuat sang Uchiha mendongak menatap gurunya itu.
"Ya—Kakashi-sensei?"
"Bisakah kau membawa buku-buku ini ke perpustakaan?" Tunjuknya pda beberapa kardus berisi buku-buku pelajaran, "—Aku meminjamnya dan sekarang aku tidak sempat untuk mengembalikan semua ini."
Sasuke mengangguk, "Tentu saja, Kakashi-sen—"
"Bersama Naruto—" Potong Kakashi-sensei. "—Kau tidak sanggup membawa kardus-kardus ini sendirian." Lanjutnya lagi.
Belum sempat Sasuke menyerukan protesnya, guru bermasker itu sudah melarikan diri dari kelas bersama Iruka-sensei yang sudah menungguinya sejak tadi didepan pintu.
Sang Uchiha hanya bisa berdecak kesal. "Cih—" Ia bergerak untuk mengangkat kardus-kardus itu.
"Akan kubantu—" Ucap Naruto seraya mengambil kardus dari tangan Sasuke.
"Tidak perlu!" Tegas sang onyx seraya mendelik tajam, "—Menyingkir!"
"Aku tidak bisa, Kakashi-sensei menyuruh kita untuk—"
"Lupakan soal Kakashi-sensei!—Aku bisa melakukannya sendiri!" Seru Sasuke sedikit emosi, membuat seluruh pasang mata melirik ke arah mereka dengan tatapan heran dan penasaran.
Sasuke yang menyadari seluruh tatapan teman sekelas berpaling ke arah mereka hanya bisa mendengus kecil, "Baiklah—lakukan apa yang kau suka." Sahutnya cepat.
Naruto tidak menjawab, hanya mengangkat setengah kardus untuk dibawanya, dan setengah lagi dibawa oleh Sasuke. Mereka langsung bergerak keluar kelas menuju perpustakaan.
Untuk pertama kalinya, Sasuke mengutuki guru bermasker itu. Ia menyesal menyetujui untuk membantu Kakashi-sensei.
—Sial!
.
"Sasuke—Ruang perpustakaan disini." Ujar Naruto sambil menunjuk sebuah ruangan di sebelahnya. Sasuke berhenti berjalan dan berbalik.
Ah!—Sasuke tidak sadar kalau dia berjalan terlalu jauh melewati ruang perpustakaan. Mungkin karena ia kebanyakan melamun, akhirnya ia tidak fokus dalam berjalan.
Shit!—Sekarang sikapnya mirip orang yang salah tingkah.
"A—Aku tahu—" Tegas Sasuke mencoba berdalih.
Naruto tidak membantah, ia hanya mengikuti Sasuke di belakangnya dan meletakkan kardus-kardus tadi di atas meja.
"Apakah kita sudah selesai?" Tanya pemuda pirang itu seraya menggerakkan otot bahunya yang kaku.
Sasuke mengangguk, "Ya—sepertinya begitu." Ucapnya sambil menatap ruangan perpustakaan itu.
Sepi—Tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya dan Naruto. Memang bukan hal yang aneh kalau perpustakaan sedang kosong, sebab sekarang masih jam pelajaran, dan lagi beberapa siswa sibuk belajar di kelas masing-masing. Selain itu, librarian perpustakaan sepertinya sedang sibuk keluar dan meninggalkan ruangan begitu saja. Benar-benar pegawai yang tidak disiplin.
"Sasuke—" Naruto memanggil dengan suara pelan, "—Bisakah kita bicara sebentar?"
Sasuke menoleh sekilas, kemudian mengerutkan keningnya, tidak suka. Ia tahu arah pembicaraan pemuda pirang itu sehingga Sasuke cepat-cepat menggeleng, "Tidak bisa—tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku pergi—"
"Tunggu—" Naruto segera mencengkram lengan pemuda itu, "—Aku hanya ingin bicara sebentar."
"Sudah kubilang tidak bisa, Naruto!—Lepaskan!" Desis sang onyx tajam. Ia bahkan menambahkan geraman di suaranya, berharap Naruto berhenti mencengkram tangannya.
"Sasuke!"
"NARUTO, LEPAS—HMPHH!" Belum sempat Sasuke berteriak, Naruto sudah menutup mulut pemuda onyx itu dengan tangannya, kemudian menyeretnya ke pojok perpustakaan yang tidak terlihat oleh mata orang lain.
"Ssst—Diamlah Sasuke." Bisik Naruto tajam seraya melirik ke arah pintu perpustakaan.
Awalnya Sasuke tidak menurut dan memilih meronta, namun begitu melihat beberapa siswa masuk ke dalam ruangan perpustakaan itu, tubuh sang Uchiha langsung membeku.
Kalau dia ketahuan bersama Naruto sekarang, tamatlah riwayatnya.
.
Sasuke mulai berhenti berontak. Hanya jantungnya saja yang terus berdegup keras seiring napasnya yang menderu. Entah karena gugup akan ketahuan orang lain atau karena aroma maskulin yang menguar dari tubuh Naruto, yang pasti, hal itu membuat Sasuke hampir hilang kesadaran.
"Le—pas—" Erang Sasuke seraya mendorong dada Naruto menjauh. Napasnya sudah tidak karuan dan matanya mencoba tidak menatap pemuda pirang dihadapannya.
Naruto hanya diam menatap perubahan sikap sang Uchiha. Alisnya berkerut bingung dengan keadaan ganjil Sasuke.
—Ada apa dengannya? Apakah sakit?—Demam?
Naruto mencoba menyentuh kening Sasuke namun segera ditepis kasar oleh pemuda onyx itu.
"Jangan. Menyentuhku." Desisnya galak seraya mengeluarkan tatapan death glare.
Naruto kaget dengan sikap Sasuke, ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, "Aku tidak akan menyakitimu, jadi biarkan aku memeriksa keadaanmu, oke?—Aku takut kau demam."
"A—Aku tidak demam!" Tukas Sasuke lagi seraya menepis tangan Naruto dari keningnya.
"Tapi napasmu—"
"Napasku tidak apa-apa, Dobe!" Sergah Sasuke langsung.
Naruto ingin kembali menyela pernyataan pemuda itu namun terhenti saat matanya tanpa sengaja jatuh ke arah selangkangan Sasuke. Ada benda yang menonjol di balik celana itu, dan Naruto mulai menyeringai kecil ketika menyadari deru napas dan wajah memerah sang Uchiha.
Oh my!—Dia baru sadar Sasuke benar-benar manis dan tsundere.
Naruto mendekat perlahan dan menenggelamkan kepalanya di leher sang onyx, membuat pemuda raven itu sedikit terusik dengan tingkah Naruto.
"A—Apa yang kau lakukan, Dobe?!—Hentikan!" Tegas Sasuke dengan suara bisikan tajam.
"Tidak bisa. Maaf. Aku sudah tidak tahan lagi—" Ucap Naruto dengan dengusan napas yang cepat, "—Aku hampir gila karena tidak bisa menyentuhmu selama beberapa hari ini."
"Naru—"
"Aku mohon, Sasuke—Biarkan aku menyentuhmu sedikit saja—" Pinta pemuda pirang itu lagi. Sesekali ia melandaskan kecupan singkat di leher putih Sasuke.
Sang Uchiha mencoba menolak kecupan lembut Naruto. Namun bagian selangkangannya punya pemikiran sendiri, dan itu sedikit membuat Sasuke kesal dengan dirinya.
.
Tangan Naruto mulai bergeriliya masuk ke dalam celana Sasuke dan meremas benda yang sudah menegak itu. Sang onyx bergetar hebat sambil menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan erangan sedikitpun.
"Na—ngh!—Naru—" Sasuke mencoba berbisik pelan seraya mempertahankan napasnya yang terengah-engah.
Bukannya berhenti, Naruto semakin gencar menjamah tubuh mulus pemuda onyx itu, di mulai dari membuka retsleting Sasuke, memasukkan tangannya ke dalam baju sang Uchiha, hingga memainkan dua nipple yang sudah tegang disana.
Sasuke lagi-lagi bergetar saat nipple nya di hisap oleh Naruto yang kelaparan. Ia mencengkram surai blonde sang dominan dengan keras kemudian berusaha mendorongnya.
"Le—pas—Ahkkk—Stop!—" Desak Sasuke lagi, masih mencoba mendorong kepala pemuda pirang itu dari dada nya.
Melihat gerakan berontak Sasuke, akhirnya Naruto menyerah dan melepaskan hisapannya dari nipple pemuda itu. Ia kembali menjatuhkan kecupannya di daun telinga sang Uchiha. Menghembuskan dengus napasnya sembari menjilat lembut spot sensitive sang penerima.
Sasuke kembali mengerang ketika perlakuan Naruto semakin intim dengan menggigiti telinganya, "Naru—nghhh—please stop—"
"Tidak bisa—hhh—berhenti—" Ucap sang dominan seraya menggesekkan bagian bawah tubuhnya ke selangkangan Sasuke. Menggoda kejantanan sang Uchiha untuk mau bergulat panas dengannya.
Sang Uchiha mencoba menolak 'ajakan' pemuda pirang itu, namun otaknya menginginkan lebih dari sekedar gesekan saja. Ia ingin menyentuh sang pendominan, mengerang di bawah lengan atletis itu dan mendesah penuh gairah. Tetapi tidak!—Ia tidak bisa melakukannya di ruang perpustakaan. Itu akan membuat mereka dikeluarkan dari sekolah.
"Naru—Hghh!—Kita tidak bisa melakukannya disini—" Bisik Sasuke lagi seraya mendorong kepala Naruto dari bagian nipple nya yang sedang digigit.
"Kenapa?" Pertanyaan polos dari Naruto hampir saja membuat Sasuke menghajar kepala pemuda pirang itu dengan rak buku terdekat.
"Apa kau tidak lihat mereka?—" Sahut Sasuke seraya mendelik ke beberapa orang yang berada di perpustakaan, "—Nanti mereka akan menangkap basah kita."
"Tidak akan—" Sahut Naruto santai, "—Kita di pojok ruangan, lagipula terlindungi oleh lemari buku. Tidak akan ketahuan."
"Tapi—Nghh!—" Belum sempat Sasuke protes lagi, sebuah cumbuan mampir di tengkuk lehernya dan meninggalkan tanda 'kiss mark' disana.
Naruto tersenyum kecil seraya menyambut bibir Sasuke dengan mulutnya, "Percayalah, kita tidak akan ketahuan. Jadi tenang saja, oke?"
Sasuke tidak menjawab, ia sibuk menahan desahannya saat jari Naruto memelintir dua nipple nya yang menonjol, "Naru—Nghh!—Berhenti menyentuh dadaku—Ahnn!—rasanya aneh—" Mohonnya lagi.
Naruto menatap Sasuke bingung, "Aneh?—Maksudmu—begini?" Tepat setelah ucapannya tadi, jarinya kembali bergerak memuntir kedua nipple Sasuke. Membuat sang onyx bergetar hebat seraya menempelkan punggungnya ke sisi tembok.
"Ja—ahnn!—Jangan—" Pinta Sasuke sambil mencoba melepaskan jari Naruto dari dua tonjolan pink nya itu.
"Kenapa?—" Lagi-lagi pertanyaan pura-pura polos terlontar dari mulut Naruto, Ia menyeringai kecil sambil menarik-narik nipple sang onyx. Dan sesekali mencubitnya gemas.
Sasuke menggigit bibir bawahnya kuat, beberapa tetes saliva mengalir melalui sela dagunya, "Ja—Jangan—Ahkk—sakit—"
"Kalau begitu, aku hisap saja—" Ujar Naruto yang langsung melahap puting berwarna pink itu dengan rakus.
"Hen—Ahhk!—Hentikan, Idiot!" Sasuke semakin bergerak liar saat dadanya dihisap dan digigit lembut. Sentuhan pemuda pirang itu membuat organ dalamnya seakan-akan meleleh dilantai. Membuat kakinya tidak sanggup menahan berat badannya lagi.
"Tapi aku haus—" Balas Naruto yang masih setia menghisap puting dada sang Uchiha dengan decakan keras.
"Jangan bodoh, Dobe—Ahkk!—Seberapa keras kau menghisap dadaku tetap tidak akan ada yang keluar—Unghh!—" Pemuda itu terus menggeliat geli. Sesekali mencoba mendorong tubuh atletis dihadapannya.
Naruto berpura-pura berpikir sejenak, kemudian melepaskan hisapannya dari dada Sasuke, "—Yeah—kau benar. Kalau begitu—" Mata birunya mendelik ke arah selangkangan pemuda onyx itu, "—aku hisap yang disini saja." Lanjutnya seraya menyentuh celana Sasuke.
Sang Uchiha terbelalak kaget, "Do—Dobe!—Hentikan—Nghh!—" Belum sempat Sasuke menghentikan gerakan Naruto, pemuda pirang itu sudah lebih dahulu membuka retsleting Sasuke dan mengeluarkan batang kejatanan pemuda onyx itu yang meneteskan pre-cum.
Naruto menarik sudut bibirnya sedikit, "—Kau basah, Sasuke. Apa kau menyukai sentuhanku?" Tanyanya lagi seraya mengelus penis sang Uchiha dengan lembut.
Sasuke menggeleng lemah, "Ja—jangan—Ahkk!—" Ia cepat-cepat menutup mulutnya agar berhenti mengeluarkan desahan. Kalau ada yang mendengar suaranya, maka habislah dirinya.
Naruto sepertinya tidak peduli dengan sekitar, tangan kanannya terus digerakkan untuk mengocok milik Sasuke sedangkan tangan kirinya mencoba menahan tubuh pemuda onyx itu agar tidak limbung.
"Apakah—sakit?" Tanya Naruto lagi saat melihat wajah merah Sasuke yang sesekali terdengar rintihan.
Sang Uchiha hanya menggigit bibir bawahnya dengan kuat lalu menggeleng, "Tidak—Ahhk!—Rasanya nikmat—Nghh!—Penisku merasa nikmat—"
Oh—Sasuke—Tidakkah dia sadar kalau ucapannya membuat Naruto semakin bernafsu untuk menjamah tubuh mulus tanpa pertahanan itu? Lihat saja wajah pemuda pirang itu sekarang, penuh dengan tatapan kelaparan mirip serigala liar.
Naruto berlutut di depan Sasuke kemudian menjilat batang kejantanan pemuda onyx itu dengan lahap.
Sasuke yang kaget langsung berusaha berontak, "Ja—Jangan, Idiot!—Ahkk!—Penisku kotor—Nghh!—"
"Tidak kotor—" Sahut Naruto cepat, "Kau—manis—" Lanjutnya lagi tanpa mengurangi gerakan lidahnya untuk menjilat benda keras itu.
Sasuke mencoba mendorong kepala sang dominan menjauh dari organ vitalnya, terlebih lagi menyingkirkan jari-jari Naruto yang mulai bergeriliya meremas belahan pantatnya, "Ngh!—Apa yang kau lakukan, Dobe—lepas—Ahhk—"
Naruto tidak menjawab, ia sibuk mengulum penis Sasuke dan memaksa jarinya masuk ke lubang anal pemuda onyx itu.
Sasuke yang masih bersender di tembok mencoba meronta sekuat tenaganya, sambil sesekali mengerang tertahan. Tubuhnya tidak sanggup lagi menahan berat badannya, dan ia mulai melorot perlahan seiring pahanya yang bergetar hebat.
"Na—Ahh—Naru—" Sasuke mendesah dengan wajah memerah, keringat membanjiri pelipisnya, terlihat erotis dengan air liurnya yang terus menetes di sela dagu.
Naruto menghentikan kulumannya dan sentuhannya di lubang Sasuke, ia menatap sang Uchiha dengan pandangan takjub.
Pemuda onyx itu terduduk di lantai dengan paha yang terbuka lebar, celana panjangnya sudah teronggok di lantai beberapa menit yang lalu, memperlihatkan kejantanannya yang mulai menegang dan anus nya yang berkedut. Kedua tangannya mencoba mempertahankan sisa jas seragam yang masih tersisa ditubuhnya.
"Hen—Hhh—Hentikan Naruto—kita akan ketahuan—nghh—" Mohon Sasuke lagi. Sayangnya, dalam keadaan menggoda seperti itu, malah membuat Naruto semakin bernafsu untuk menyetubuhinya.
Naruto beringsut mendekat ke arah Sasuke, kemudian membuka baju seragam Sasuke, "Tidak apa-apa—kita tidak akan ketahuan—" Ucapnya mencoba menahan dengus gairahnya.
Sasuke menggeleng, masih tetap mempertahankan baju seragamnya, "Tapi—orang-orang di perpustakaan akan menemukan kita—"
"Tidak akan asal kau tetap diam—" Potong Naruto cepat seraya melemparkan baju seragam Sasuke ke lantai. Kini tubuh porselin itu tidak tertutupi apapun, dan siap disantap.
"—Kau cantik—hhh—sempurna—" Puji Naruto seraya menghirup sisi leher sang Uchiha. Oh god!—aroma tubuh pemuda onyx itu hampir membuat Naruto mabuk kepayang.
"Hentikan, Idiot—Nghhh!—" Belum sempat Sasuke protes, tangan Naruto lagi-lagi sudah menggapai lubangnya dan seenak jidatnya menusukkan jarinya ke dalam liang anal pemuda onyx itu.
Naruto menjilat bibirnya sebelum mengecup seluruh tubuh Sasuke, dimulai dari kening, pipi, dagu, leher dan dada. PutingSasuke merupakan area ter-favorite Naruto untuk dimainkan. Ia menggigit dan menghisapnya layaknya bayi yang kelaparan.
Sasuke tidak banyak berbuat apapun untuk menyingkirkan tubuh pemuda pirang itu, ia hanya berusaha menahan desahannya saat Naruto sibuk menghisap tonjolan dadanya itu.
Mata Sasuke tanpa sengaja jatuh pada selangkangan Naruto, benda di dalam celana itu terlihat menonjol dan tersiksa berada di dalam sana. Sasuke menjulurkan tangannya untuk menyentuh kejantanan Naruto. Mengelusnya lembut dan menyentuhnya pelan, membuat sang Uzumaki tersentak kecil.
"Hghh!—Sasu—Ghhk!—" Naruto menghentikan hisapannya. Ia mencoba menahan dengus napasnya saat miliknya disentuh oleh Sasuke.
"Apakah—sakit? Kau terlihat tersiksa—" Ujar Sasuke lagi seraya membuka retsleting Naruto dan mengeluarkan benda panjang yang meneteskan pre-cum itu.
Naruto mencoba menggeleng lemah, deru napasnya sudah terdengar mirip serigala di masa kawin, penuh nafsu dan gairah untuk menyetubuhi seseorang. Tangannya menarik kepala Sasuke perlahan, dan mendekatkan ke batang kemaluannya.
"Tolong—jilat—" Mohon Naruto dengan napas terengah-engah tidak terkendali. Tidak perlu diminta dua kali, Sasuke segera membuka mulut kecilnya dan meraup organ vital pemuda pirang itu dengan sekali telan.
"Gahkk—Ahhgh—" Naruto sedikit kesusahan dalam menahan desahannya, tubuhnya terus bergetar sambil berusaha menggigit bibirnya kuat.
Sial!—Sial!—Lidah Sasuke terlalu nikmat memanja penisnya. Membuat benda keras itu berdenyut-denyut liar.
Sasuke mendongak menatap Naruto sambil tetap mengulum penis pemuda pirang itu. Dari bawah sini, pemandangan tubuh berkulit tan itu terlihat menakjubkan, dengan otot six pack serta keringat yang berkilat. Ah—jangan lupa, rambut yang diacak berantakan membuat sosok Naruto semakin menggiurkan.
"Nharhutho—" Sasuke mencoba memanggil sang dominan dengan mulut yang penuh batang kejantanan pemuda pirang itu.
"Sasuke—jangan memanggilku saat kau mengulum penisku, itu—Hghh!—sedikit geli—" Sahut Naruto lagi.
Sasuke mengangguk patuh, kemudian melepaskan kulumannya dan berhenti di ujung penis Naruto lalu menyeruputnya keras. Seakan-akan ia sedang menghisap minuman dari sedotan, hanya saja yang ia sedot sekarang adalah pre-cum Naruto yang terasa getir dan asin di lidahnya. Namun ia menyukai rasa itu dimulutnya.
"Berhenti—Hghh!—Sasuke—" Naruto melepaskan kuluman Sasuke dari penisnya. Kemudian melandaskan ciuman singkat di bibir pemuda onyx itu.
"Aku—ingin—hhh—memasukimu—" Pinta Naruto seraya berbisik di telinga sang onyx.
Sasuke tidak langsung menyetujuinya, matanya lebih dahulu melihat keadaan sekeliling, berharap tidak ada orang yang melihat kegiatan mereka. Dari balik rak buku, Sasuke tidak melihat seorang pun di perpustakaan, ia tebak beberapa siswa tadi sudah kembali ke dalam kelas dan librarian masih tidak ada ditempat
Good!—Situasi yang aman.
"Baiklah—" Akhirnya Sasuke menjawab. Ia berbalik dan menopang tubuhnya ke tembok, tangannya bergerak untuk membuka belahan pantatnya dan memperlihatkan lubang analnya yang berkedut liar. "—Masukkan, Naruto—" Pintanya lagi dengan wajah memerah menahan malu.
Permintaan menggoda itu tentu akan dikabulkan dengan cepat oleh Naruto. Pemuda pirang itu menjilat bibirnya penuh nafsu sebelum mendekatkan ujung penisnya ke lingkaran lubang milik Sasuke.
"Hghh!—Ahkk!—" Paha Sasuke bergetar saat benda panjang itu memasuki bagian bawah tubuhnya. Ia mencakar dinding dengan kuat, mencoba mempertahankan badannya agar tidak limbung, sedangkan mulutnya sudah terbuka dengan air liur yang menetes.
Naruto mendengus senang saat miliknya sudah masuk seutuhnya ke dalam lubang Sasuke. "Ahh—Hangat—" Ucapnya seraya menghentakkan pinggulnya dengan perlahan.
Sang onyx bergetar dan terus gemetaran ketika tubuhnya disentak kedepan dan belakang. Membuat otaknya hampir hilang kesadaran karena rasa nikmat di bagian anusnya.
"Ahhk!—Naruto—hhh—Nghh!—Hghh—" Pemuda onyx itu terus mendesah hebat seiring hentakan sang dominan di belakang tubuhnya. Tangannya yang mencengkram bidang datar dinding mulai merosot lemah dan hampir tarjatuh. Tetapi Naruto langsung menangkap pinggang pemuda itu dan kembali menyodoknya lebih kuat.
"Jangan—pingsan—Ahggh!—" Pinta Naruto lagi disela hentakkan pinggulnya. Masuk-keluar, dorong-tarik, semua gerakan itu dilakukan dengan tempo cepat dan brutal, sesekali ia melakukan putaran di dalam rektum Sasuke, memberikan rasa nikmat berlebih.
Tubuh sang Uchiha terus merosot seiring tenaganya yang melemah, hingga berpangku dengan kedua lutut dan tangannya dilantai, sedangkan bagian pantatnya terus dihantam tanpa ampun oleh penis Naruto.
"Oh—Great—Fuck—Agghh!—Aku ingin menggagahi mu terus, Sasuke—Ahghh!—" Racau Naruto lagi. Ia senang melihat pemuda onyx yang sebelumnya bersikap angkuh dan sombong itu kini meronta dan mendesah hebat dibawah tindihannya.
Naruto ragu apa yang akan dilakukan Sakura kalau tahu 'kekasih' yang dianggap paling hebat se-Konoha mengerang nikmat di setubuhi olehnya.
.
.
.
.
_Di kelas, pukul 10.00 Pagi_
.
"Ino-san—" Sakura memanggil sahabat karibnya itu, "—Kau tahu dimana Sasuke-kun?"
Ino yang sedang mencatat di kelas hanya mendongak bingung ke arah gadis pink itu, "—Bukankah Sasuke disuruh oleh Kakashi-sensei untuk mengembalikan buku ke perpustakaan bersama Naruto."
"Ah iya—benar juga." Sahut Sakura lagi.
Ino kembali menatap gadis itu, "Kau ingin menemui Sasuke di perpustakaan?" Pertanyaan gadis pirang itu dijawab dengan anggukan semangat.
"Ya!—Aku tidak sabar menemui kekasihku." Lanjut Sakura seraya menangkup kedua tangannya dan berkhayal yang aneh-aneh.
Ino hanya terkikik geli, "Asal jangan lupa, hari ini Uchiha Fugaku-san akan kemari untuk menemuimu dan Sasuke. Kau tahu—membicarakan pertunanganmu."
Sakura melirik kaget, "Kau tahu dari mana informasi seperti itu?"
Ino tertawa kecil, "Ayolah Sakura—ayahku adalah rekan kerja Uchiha Fugaku-san, tentu saja aku tahu semuanya."
Sakura memeletkan lidahnya sambil mengetuk kepalanya pelan, "Hehehe—aku lupa. Kalau begitu—aku pergi dulu untuk mencari Sasuke-kun. Bye Ino!" Gadis pink itu melambai riang ke arah sahabatnya sebelum bergerak pergi dari kelas.
Ino hanya tersenyum kecil, "Dasar gadis penuh semangat."
.
Sakura bergerak menyusuri koridor untuk menuju perpustakaan. Ia benar-benar tidak sabar menemui pangerannya itu.
Kakinya terus berlari menuju ruangan yang dituju. Setelah sampai ditempat, Sakura mencoba menengok ke dalam perpustakaan.
—Kosong! Tidak ada orang sama sekali.
Sedikit bingung, Sakura mencoba berjalan masuk, meneliti setiap meja dan kursi bahkan counter tempat librarian pun tidak lepas dari pemeriksaannya. Barharap Sasuke bersembunyi disana kemudian berseru 'Surprise!' padanya. Namun tidak, semua sudut tempat itu terliha kosong.
Apa Sasuke sudah kembali ke kelas, ya? Tanya Sakura dalam hati.
Merasa yakin dengan keismpulannya bahwa Sasuke sudah pergi, Sakura pun beranjak menjauh. Namun baru beberapa langkah menuju ke arah pintu keluar, suara aneh menggelitik sensor pendengarannya.
—Suara yang samar-samar berada di pojok ruangan, tertutup oleh rak buku yang besar.
Tubuh Sakura membeku sesaat karena berpikir bahwa ada hantu di perpustakaan. Tetapi ketika ia sadar kalau hantu tidak muncul pada pagi hari, maka gadis itu mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengintip arah asal suara.
Ia berjingkit agar tidak menimbulkan bunyi sama sekali. Tubuhnya beringsut perlahan ke pojok ruangan. Suara yang tadinya samar-samar mulai semakin jelas. Gabungan antara teriakan dan rintihan kesakitan.
Apakah ada orang yang disiksa? Batin Sakura heran.
Tangannya terjulur ke sisi rak buku, kepalanya dimiringkan untuk melihat keadaan di balik lemari besar itu. Ia mencoba mengintip tanpa ketahuan. Kemudian yang dilihatnya hampir membuat jantung Sakura berhenti berdetak dengan mata terbelalak ngeri.
.
Dihadapan gadis pink itu, Naruto sedang menggagahi 'kekasihnya' dengan gerakan brutal.
"Aghh!—Nikmat!—Kau hebat Sasuke—Ahkk!—" Racau Naruto seraya menghentakkan pinggulnya dan mendorong penisnya lebih dalam ke lubang surgawi itu.
Sasuke yang berada di lantai mencoba mencakar-cakar bidang porselin itu dengan liar, "Ahkk!—Naruto!—Sakit!—Hghh!" Tubuh putihnya terus tersentak ke depan dan ke belakang dengan cepat seiring hantaman pemuda pirang itu di belakang tubuhnya.
Naruto menjilat bibirnya penuh gairah, ia mengangkat satu kaki Sasuke dan melebarkannya, membuat penisnya bisa mengakses lubang anal itu leluasa. Menyodoknya tanpa ampun dan sesekali menghentaknya agar bisa menyentuh prostat sang Uchiha.
Naruto mencengkram pinggang Sasuke erat, "Kau suka—nghh—disetubuhi olehku, Sasuke?"
"Ahhkk!—Iyha—Nhikmat—Hgnnh!—" Erang Sasuke dengan mulut yang terbuka dan lidah yang menjulur penuh saliva, "—Agh!—Sodhok—Therus—Nghh!—" Desah sang onyx lagi sambil mengocok penisnya sendiri.
Rasa nikmat membuat Sasuke tidak bisa berpikir jernih lagi, ia menginginkan kejantanan Naruto di tubuhnya. Mengobrak-abrik dinding analnya dengan gerakan kasar dan brutal.
.
Sakura yang masih bersembunyi di balik rak hanya gemetaran dengan wajah pucat pasi. Ia mundur perlahan dengan kedua tangan menutup mulutnya yang hampir berteriak histeris ketakutan.
—Tidak!—Sasuke tidak akan melakukan hal itu!—Sasuke mencintainya, benarkan?
.
Suara kecupan terdengar keras saat Naruto mencium bibir sang Uchiha, "Sasuke—Ahhh—aku mencintaimu—Hghh!—"
"Aku—Ahkk!—mencintaimu juga, Naruto—Nghh!—Ahgh!" Sahut Sasuke seraya mengerang dan mendesah hebat.
.
Sakura yang mendengar itu mencoba menahan tangisannya, ia menggeleng cepat dan memejamkan matanya erat, mencoba menghentikan mimpi buruk itu. Namun gadis itu sadar, itu bukanlah mimpi buruk, itu kenyataan yang membuat hatinya hancur.
Dengan menahan tangisannya, Sakura berlari keluar dari perpustakaan dengan cepat, ia bahkan tidak mempedulikan beberapa siswa yang ditabraknya. Yang dibutuhkannya sekarang adalah tempat sepi untuk menangis dan berteriak.
Kenapa?—Kenapa harus Naruto yang disukai Sasuke?!
Beberapa pertanyaan berkecamuk di kepala Sakura seiring isakan tangisnya yang tidak bisa dibendung lagi. Ia gadis terpopuler. Terhormat dan kaya raya. Tetapi kenapa ia bisa kalah dengan pemuda pirang bodoh dan kutu buku itu?
Sial!—Sakura membenci semuanya!
.
—DUG!—Sakura menabrak seseorang yang membuatnya terjungkal ke belakang. Sedikit kaget dan bingung, gadis itu menoleh ke arah orang yang ditabraknya. Setidaknya ia harus meminta maaf karena sibuk menangis dan tidak melihat jalan.
"Ma—Maaf—hiks—aku—" Sakura mencoba mengumpulkan suaranya agar tidak terdengar bergetar dan terisak. Sedangkan tangannya terus diusap ke kelopak mata untuk menyapu air mata yang terus keluar.
"Sakura?" Panggilan didepannya membuat sang gadis mendongak, terlebih lagi ia mendengar suara yang familiar.
Sakura menatap orang yang ditabraknya dan manik hijaunya langsung terbelalak kaget.
"Uchiha Fugaku-san?—" Ucap Sakura akhirnya. Ia berdiri cepat seraya membersihkan roknya, "—Maafkan saya—" Lanjutnya lagi sambil membungkuk 90 derajat.
Fugaku melirik Sakura dalam diam. Gadis itu terisak didepannya pasti tanpa sebab, pria Uchiha itu mulai merasakan firasat buruk, "Dimana—Sasuke?" Tanya tegas.
Sakura sedikit terlonjak diberi pertanyaan tiba-tiba seperti itu, ia menunduk sambil memainkan jarinya, bibirnya bergetar, "Sasuke—dia—hiks—"
Fugaku semakin tajam menatap gadis itu, tanpa diberitahu pun, pasti Sasuke sudah melakukan sesuatu yang membuat Sakura menangis. Pria Uchiha itu yakin pasti ini ada hubungannya dengan pemuda pirang yang menculik Sasuke dulu.
"Bawa aku ke tempat Sasuke." Perintah Fugaku lagi.
Sakura mendongak takut, "Ta—Tapi—Fugaku-san—"
"Cepat bawa aku." Tegas Fugaku yang mulai terdengar kesal.
Sakura menggigit bibirnya gelisah kemudian mengangguk pelan, ia tidak berani membantah lagi. Ucapan Fugaku adalah mutlak.
"Baiklah, Fugaku-san—"
.
.
.
Di perpustakaan, tepatnya di pojok ruangan yang tersembunyi, Naruto dan Sasuke masih melakukan aktifitas terlarang mereka. Bergulat panas dengan suara erangan serta desahan yang memabukkan. Sesekali decakan liur bergabung untuk meramaikan kegiatan itu.
Tidak ada kata 'berhenti' untuk keduanya sampai puncak kenikmatan dapat mereka raih. Tetapi untuk sekarang—mereka masih menikmati setiap sensasi persetubuhan itu. Terlebih lagi Sasuke yang terus mendesah keras di bawah tindihan sang dominan. Sesekali ia mengerang nikmat saat Naruto menampar pantatnya dengan suara -PLAK!- keras.
Ah—Sasuke sangat menikmati sifat dan sikap kasar pemuda pirag itu.
"Sasuke—Ahk!—nikmat—hhh—hangat—" Racau Naruto lagi. Wajah pemuda itu memerah hampir pingsan karena sengatan kenikmatan. Tubuhnya melemah perlahan, namun sodokannya tetap mempertahankan tempo cepat di anal Sasuke.
Sang Uchiha hanya menatap Naruto dengan senyum senang. Ia baru pertama kali ini melihat wajah kepayahan sang dominan. Terkesan imut—dan menggemaskan. Apalagi tubuh tan itu bergetar tidak karuan dan hampir limbung.
Sasuke mengetatkan lubangnya lebih kuat, meremas penis Naruto di analnya.
"Gaahhk—Ahkk!—" Naruto mendesah. Ia terengah-engah dengan mulut yang terbuka. Tangannya mengepal menghantam lantai dengan kuat, "Stop!—Ahkk!—Jangan diketatkan—hhh—aku tidak tahan—" Rutuk sang dominan lagi.
Sasuke mengelus surai blonde itu lembut, "Tapi kau terlihat—Nghh!—menawan saat kesusahan—Ahh—seperti itu." Sahutnya lagi seraya mengecup pundak Naruto.
Naruto tidak menjawab, dan masih sibuk tersengal-sengal dengan napas tidak terkendali. Matanya mulai mengabur hampir pingsan karena sengatan kenikmatan lubang Sasuke. Tetapi sodokannya di anal pemuda onyx itu tidak melambat sedikitpun, bahkan genjotannya semakin cepat dan—cepat.
Sasuke memeluk leher sang dominan, sesekali ia mengetatkan lubangnya untuk menggoda Naruto. Membuat pemuda pirang itu semakin bergetar hebat.
"Sasu—Hghh!—ketat—Nghh!—tidak tahan—" Ucap Naruto lagi, mencoba tetap sadar, namun matanya tidak bisa diajak berkompromi lagi. Pandangannya semakin kabur dan sebentar lagi ia pingsan. Ia menyesal mengajak Sasuke bergulat panas dengan dirinya. Ia tidak menyangka kalau pemuda onyx itu merupakan 'Uke' terhebat, bahkan tahan sampai beberapa ronde dan puluhan menit.
God—Ia menyesal.
Sasuke menyeringai kecil sambil memeluk leher sang dominan, "Ahhh!—tahan sebentar lagi—Ahh—oke?" Pinta sang Uchiha lagi.
Naruto mengangguk patuh dengan wajah yang tidak bisa dideskripsikan lagi. Pingsan adalah satu-satunya cara agar dia berhenti 'disiksa' oleh ketatnya lubang anus Sasuke.
"Hghh!—Sasuke—hhh—tidak tahan—" Erang Naruto lagi yang menggenjot lubang Sasuke semakin cepat. Penisnya berkedut-kedut liar di dalam liang hangat itu.
Sasuke yang paham hanya mengecup bibir Naruto penuh sayang, "Keluarkan didalamku—Nghh!—" Lanjut sang Uchiha lagi sambil mengocok penisnya sendiri. Sedangkan lubang analnya terus diberi kenikmatan oleh batang kejantanan pemuda pirang itu.
Naruto mendengus semakin cepat, napasnya terus terengah-engah, dan otot perutnya mengejang hebat, "Ahhhhgh!—Sial!—Sial!—mau keluar!—Aghh!" Ia menusuk anus Sasuke semakin dalam hingga menyodok prostat pemuda onyx itu.
Sasuke mengerang ketika prostatnya dihajar tanpa ampun, "God!—Agghh!—Lubangku disodok!—Naru—Hgghh!—Keluar!"
Naruto yang mendengar teriakan nikmat sang uke, kembali bersemangat menyodok lubang becek itu. "Aghh!—Sasuke!—Ahhhhkk!" Tepat setelah teriakan tertahannya, Naruto menembakkan semburan putihnya ke dalam lubang anus Sasuke, menyemprotkan spermanya hingga otot perutnya berhenti mengejang.
Sasuke yang berada didepan Naruto mulai ikut bergetar seiring prostatnya yang terus disodok. Ia tidak sanggup lagi menahan sari putihnya lebih lama.
"Ahhg!—AHHHK!—" Sasuke berteriak tertahan saat ia mencapai orgasme, ia menyemburkan spermanya dengan kuat hingga terciprat ke lantai dan—sepatu seseorang?
Tunggu!—Sepatu seseorang?
Sasuke yang terengah-engah mencoba mengumpulkan kewarasannya sebelum menatap bingung sepasang sepatu yang berdiri tepat di hadapannya. Onyx nya bergerak perlahan dari bawah ke atas, mencoba mendongak, hingga matanya terbelalak lebar dan ngeri memandang sosok didepannya.
"A—Ayah?!—" Suara Sasuke terdengar tercekat. Terlebih lagi menatap Sakura yang berada di belakang Fugaku dengan sikap gelisah.
Fugaku menggeram dengan penuh emosi, menatap anaknya yang diselimuti—sperma. Mata laki-laki itu berkilat tajam.
"Berdiri." Ucap Fugaku dingin.
"A—Ayah—Aku bisa menjelaskan—"
"BERDIRI, BRENGSEK!" Raung Fugaku murka. Ia menarik tangan Sasuke dan menyentak lengan pemuda itu kasar.
Kegiatan gulat panas yang dilakukannya dengan Naruto membuat koordinasi tubuh Sasuke tidak seimbang dan hampir limbung, terlebih lagi anusnya masih terasa sakit dan perih, hal itu membuat sang Uchiha bungsu terjatuh kembali ke lantai.
Naruto yang melihat 'kekasihnya' dalam keadaan meringis menahan nyeri, langsung bergegas untuk menolong pemuda itu, "Sasuke—kau tidak apa-apa?"
.
DUAGH!—Suara tendangan diikuti tubuh Naruto yang terlempar ke sisi tembok membuat Sasuke terkejut. Ia menatap ke arah pelaku penendangan itu.
"Ayah!—Berhenti!—Jangan menyiksa Naruto!—Aku mohon!" Pinta Sasuke lagi.
Fugaku hanya mendelik sinis, "Kau akan menikah besok."
"A—Apa?" Mata onyx Sasuke melebar, "—Apa maksud ayah?!—Ayah tidak serius kan?"
"Aku selalu serius. Dan besok kau akan melangsungkan pernikahan dengan Sakura." Desis Fugaku tajam, kemudian mata hitamnya menatap Naruto dengan tatapan jijik, "—Kau dikeluarkan dari sekolah. Mulai detik ini juga."
Naruto yang menahan sakit hanya bisa membeku, matanya terbelalak lebar mendengar pernyataan dari Fugaku. Seluruh kerja keras dan prestasinya lenyap dalam hitungan detik. Hilang sekejap mata.
"Kau—tidak bisa melakukan itu." Desis Naruto tajam. Ia menggertakkan giginya kesal.
Fugaku membalas desisan Naruto dengan tatapan dingin "Aku bisa melakukan apa saja. Karena aku—Uchiha Fugaku." tepat setelah ucapannya, ia menyeret Sasuke menjauh dari tempat itu.
"Lepaskan Aku!—Ayah, Lepaskan!" Raung Sasuke sambil berteriak marah, ia men-death glare Sakura dengan dingin. Ia menyalahkan gadis pink itu akan semua musibah ini.
Sasuke membenci Sakura. Sangat membencinya.
Sakura hanya bisa menunduk diam tidak bergerak. Manik hijaunya melirik sekilas pada Naruto yang masih terduduk di lantai, tanpa bisa bergerak.
"Naruto—maaf—tapi mulai sekarang, aku yang akan membahagiakan Sasuke." Ucap gadis pink itu sebelum bergerak pergi.
Naruto tidak mendengarkan perkataan Sakura. Telinganya tuli sesaat dengan ucapan Fugaku tadi. Ia menatap nanar lantai porselin dibawahnya.
—Apa—
.
—Apa yang sebenarnya terjadi?—Aku dikeluarkan dari sekolah? Terlebih lagi—
.
—Sasuke akan menikah?—Besok?
.
.
.
TBC
.
Oke, fic saya semakin hancur... hiks... *nangis di pojok ruangan*
Untuk chap selanjutnya mungkin akan lama di publishnya, soalnya masih dalam tahap pengerjaan, yah setidaknya 5-6 hari mungkin... hehehe ^^
Semoga Minna-san masih suka ya *puppy eyes*
.
RnR Please! ^^
