Haii Haii..

Makasih buat yang udah setia baca dan kasih review untuk fic ini.

Maaf aja ya kalo fic ini masih banyak kekurangan dan sering telat update.

Bagi SSL yang ngerasa g suka dengan fic saya, bisa kok langsung di Close aja J

Saya disini juga SSL sejati, tapi saya lebih suka kalo SS yang dimulai dari perjuangan menemukan cinta sejati mereka.

Nikmati aja fic ini, kalo g suka ya g usah dibaca :D #plakkk

Review please J

UNDECIDED OF HEART

Chapter 4

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story by : Saison Cerise

Genre : Romance/Drama

Pairing : SasuSaku x SaiIno Slight SasuIno, SasoSaku

DLDR

Please Review After Read

.

"Kalian berdua sedang apa?"

Sakura melepaskan dirinya dari kungkungan Sasuke, buru-buru ia menghampiri Ino yang tengah menatap mereka berdua dengan geli. "Kau sedang apa disini Ino?"

"Aku pikir ada apa dengan kalian berdua sampai lupa kembali. Ternyata…" Ino tersenyum menggoda pada Sakura.

Rona merah kembali menghiasi wajah putih Sakura, buru-buru digelengkan kepalanya sambil menatap galak Ino. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan Ino."

"Sakura hampir tertabrak pelayan yang membawa piring." Sasuke menghampiri ketiga temannya dan berdiri di sebelah Sakura. "Jadi aku sedikit menariknya."

"Oohhh…" Ino mengangguk-angguk mengerti.

"Tapi Sasuke, sekilas kau terlihat cocok dengan Sakura." Sai tersenyum menatap Sakura.

Sakura menatap Sai dengan mata yang menyipit tajam. Sasuke berlalu begitu saja meninggalkan mereka bertiga di belakangnya.

"Jaga mulutmu Sai." desis Sakura sambil berjalan menyusul Sasuke.

Ino memandang Sakura dan Sasuke dengan tak enak hati, kemudian dipandangnya Sai dengan lembut, "Lain kali, jangan berbicara seperti itu pada Sasuke. Jangan kau sering menyudutkannya Sai."

"Aku tidak menyudutkannya. Aku hanya mencoba berkata jujur Ino."

Ino mengibaskan tangannya, "Aku mengerti, tapi lain kali cobalah melihat situasi Sai. Kau membuat Sakura dan Sasuke merasa tidak nyaman sekarang. Sudahlah, ayo kita susul mereka."

Sai memandang punggung Ino yang berjalan menjauhinya dengan tatapan sendu. Aku bisa melihat situasi Ino, sangat. Maka dari itu aku akan mencoba segala cara agar Sasuke tidak lagi menyukaimu.

Sakura merebahkan tubuhnya di sofa rumahnya, menghabiskan waktu bersama tiga sahabat barunya ternyata sangat melelahkan. Sakura memijat pelan betisnya untuk sedikit mengurangi rasa lelah yang menderanya. Sakura menegakkan kepalanya, matanya tak sengaja menatap layar LED TV yang berada di depannya. Layar itu tidak menyala, hanya menampilkan layar kosong yang berwarna hitam pekat. Hitam, seperti matanya…

Sakura mendesah lelah, perlahan dia bangkit dan berjalan menuju dapur. Sakura mengambil sebotol jus jeruk dari dalam lemari es nya. Jus jeruk itu perlahan berpindah tempat ke tenggorokannya, menghilangkan rasa haus yang sempat dirasakannya. Tak sengaja matanya menatap lekat lemari es di depannya. Bukan karena ada notes atau tulisan dari kedua orang tuanya yang biasa ditempelkan disana kala orang tua Sakura tiba-tiba harus pergi keluar kota, melainkan karena lemari es tersebut berwarna hitam pekat. Masih dengan meneguk jus jeruk dalam botol, Sakura semakin tajam memperhatikan lemari es itu. Perlahan warna hitam itu mengecil, dan sesosok wajah pemuda tampan menghiasi lemari es milik Sakura.

Brrussshhhh…

Sakura mengelap jus jeruk yang merembes di sudut bibirnya. Dikerjapkannya kedua matanya menatap lemari es di depannya. Hitam, sesosok pemuda tampan itu telah hilang dari hadapannya. Sakura menggelengkan kepalanya, disentuhnya dahinya yang sedikit lebar itu dengan punggung tangannya. Normal. Lalu apa yang tadi dilihatnya? Oh Tuhann, sepertinya aku sudah mulai gila…

Sasuke meletakkan tas sekolahnya di atas meja belajar di kamarnya. Lelah juga seharian ia menemani para sahabatnya mengelilingi Konoha Mall. Sasuke mengganti seragam sekolahnya dengan kaos lengan pendek berwarna hitam dan celana pendek selutut warna abu-abu. Sasuke menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang big size-nya, kedua matanya perlahan menutup menyembunyikan onyx hitam miliknya. Sasuke memejamkan matanya sambil merentangkan kedua tangannya. Berbagai kejadian perlahan muncul dalam benaknya. Dia mengingat wajah sumringah Ino ketika mengelilingi Mall, wajah cemberut Ino ketika melewati toko yang menawarkan berbagai diskon, hingga tawa riang Ino ketika bermain basket dengan Sakura.

Sakura?

Tiba-tiba emerald cantik itu muncul begitu saja dalam benak Sasuke. Emerald yang serasa menghipnotisnya dalam diam, memancarkan segala keindahan yang tak pernah ia temui selama ini. Kemudian emerald itu perlahan mengecil seiring munculnya sesosok wajah gadis cantik sang pemilik emerald yang tengah tersenyum senang.

Deegg.

Sasuke membuka matanya dengan cepat, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dipijatnya pelipisnya pelan seiring kedua alisnya yang saling bertaut. Kenapa muncul Sakura? Sasuke memejamkan kembali matanya, perlahan kejadian tadi siang di depan toilet wanita bersama Sakura muncul kembali. Bagaimana ia tiba-tiba saja menarik tangan Sakura, bagaimana wajah Sakura menabrak pelan dadanya dan bagaimana wajah cantik itu berada didepannya, merona dan mempersembahkan kedua emerald indah yang tiba-tiba saja berhasil mempesonanya.

Perlahan rona merah menjalari pipi Sasuke, ia membuka matanya lalu mengusap lelah wajah tampannya. Sepertinya aku benar-benar kelelahan…

"Sakuraaa…."

Gadis berambut merah muda itu menoleh dengan cepat begitu mendengar namanya disebut. "Ino? Ada apa?"

Ino mengatur nafasnya sejenak, "Kau ikut klub apa?"

Sakura menatap Ino heran, "Kenapa? Kukira ada sesuatu yang penting sampai kau berlari seperti itu."

"Ishh menurutku ini sangat penting Saku. Kau tau kami bertiga, aku, Sai dan Sasuke, sudah berkali-kali didesak untuk memilih salah satu klub oleh Pak Kakashi. Dan hari ini batas terakhir kami untuk bergabung dengan salah satu klub itu. Tapi aku tidak tau harus ikut yang mana. Aku ingin satu klub bersamamu Saku, makanya aku bertanya padamu."

"Kau kan bisa satu klub dengan Sai atau Sasuke."

Ino menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak! Aku tidak mau satu klub dengan mereka. Sekali-kali aku ingin mencoba sesuatu sendiri Saku, tidak dengan mereka. Kau tau kan maksudku. Lagipula mereka berdua sepertinya akan masuk klub Pecinta Alam."

Sakura menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal, "Anoo… Inoo…, sepertinya kau memang harus satu klub dengan mereka berdua."

Ino membelalakan matanya, "Apa? Kau tidak mau aku satu klub denganmu?"

Sakura mengibaskan tangannya, "Bukan begitu Ino." Sakura menghembuskan nafas panjang diiringi cengirannya, "Aku anggota klub Pecinta Alam."

"Aiisshhh.." Ino menepuk pelan jidatnya.

"Selamat datang di klub Pecinta Alam." teriak seorang pemuda penuh semangat. Jaket hijau lumut yang digunakannya benar-benar menarik perhatian. Rambut klimis tak lupa cengiran (sok) seksi menghiasi wajahnya. "Nah seperti agenda kita tahun lalu, bulan ini kita akan kembali mengadakan kemah di Bumi Perkemahan Konoha. Tepatnya kita akan melaksanakan acara ini pada hari Jum'at depan. Kita akan berkumpul diruangan ini pukul 5 pagi, kalian masih punya waktu beberapa hari untuk melakukan persiapan. Untuk masalah ijin sekolah, semua telah kami diskusikan dengan para Guru, dan para Guru telah memberi kami ijin. Nah, disini sekarang kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari 6 orang, 3 siswa dan 3 siswi. Setiap kelompok harus memilih ketua mereka sendiri, yang nantinya akan bertanggung jawab terhadap setiap anggotanya. Barang-barang yang harus kalian bawa akan diberitahukan kemudian. Ada pertanyaan?"

Suasana ruang klub Pecinta Alam mendadak sunyi, sebagian besar anggotanya tampak mengangguk-angguk paham, sebagian lagi menggelengkan kepalanya tanda mereka tidak memiliki pertanyaan lebih lanjut.

"Baiklah langsung saja kita mulai pembagian kelompoknya. Kelompok 1, Hyuuga Neji, Sabaku Temari….."

"Pssttt… Saku." Ino mencolek-colek lengan Sakura yang berada di depannya. Sakura menolehkan kepalanya ke belakang dengan alis terangkat. "Bagaimana jika kita tidak satu kelompok? Aku kan ikut klub ini supaya bisa bersamamu."

Sakura mendesah pelan, "Ino, biarpun kita tidak satu kelompok, tapi kan kita masih satu tempat. Justru bagus bukan kalau kau bisa punya banyak teman."

Ino mengerucutkan bibirnya, bukannya ia tidak mau punya banyak teman. Hanya saja, sedari dulu teman-temannya tidak ada yang tulus berteman dengannya. Mereka hanya berteman dengan Ino agar bisa dekat dengan Sasuke dan Sai. Maka tak heran jika bahan pembicaraan mereka setiap harinya tak pernah lepas dari dua pemuda tampan itu.

"Kelompok 7, Haruno Sakura, Yamanaka Ino.."

"Kyaaa… Kita satu tim Saku!" Ino tiba-tiba memeluk Sakura dari belakang, Sakura menoleh dan menempelkan telunjuk di bibirnya agar Ino sedikit tenang.

"Hahahaha.. Sepertinya ada yang benar-benar semangat untuk kemah kita kali ini. Bagus Nona, mari kita kobarkan semangat masa muda." Pemuda itu mengacungkan jempolnya kepada Ino sambil mengedipkan sebelah matanya. Ino yang terkejut hanya bisa tersenyum sopan menanggapi tingkah kakak kelasnya yang menurutnya norak itu. "Oke. Diulangi, kelompok 7, Haruno Sakura, Yamanaka Ino, Hyuuga Hinata, Uzumaki Naruto, Uchiha Sai dan Uchiha Sasuke. Selanjutnya…"

Puukkk.

Ino menepuk pelan dahinya. Bagaimana mungkin dunia ini terasa begitu sempit?

Suasana kantin tampak cukup ramai, bel istirharat siang memang baru beberapa menit yang lalu terdengar. Murid-murid berhambur memenuhi kantin untuk mengisi perut mereka. Sakura duduk dengan tenang sambil memakan kari pesanannya, diliiriknya Ino didepannya yang juga asik dengan saladnya. Sakura mengedarkan pandangannya, Kemana mereka? Tumben sekali duo Uchiha itu tidak menemani Ino?

Sakura melihat sebuah tangan melambai ke arahnya, dilihatnya rambut pirang sang pemilik tangan. "Naruto?"

Ino menatap bingung Sakura, "Apa?"

Belum sempat Sakura membuka mulutnya, tangan kanan Naruto telah terulur ke arah Ino. Pemuda pirang ini tau-tau saja sudah ada di depan mereka. "Hai. Ino bukan? Namaku Uzumaki Naruto, kau boleh memanggilku Naruto. Ngomong-ngomong kita satu kelompok di klub Pecinta Alam."

Ino meraih tangan Naruto, "Yamanaka Ino." Ino melirik gadis cantik bersurai hitam kebiruan di sebelah Naruto.

Naruto mengikuti arah pandang Ino, "Ahh, kenalkan ini Hinata, Hyuuga HInata. Hinata juga satu tim dengan kita."

Hinata mengulurkan tangannya malu-malu. "Hyuuga Hinata."

"Ino."

"Dan jangan lupa Uchiha bersaudara ini, maka genaplah kelompok kita." Naruto menunjuk Sasuke dan Sai yang berada di belakangnya yang kemudian

Sakura menarik Hinata agar duduk di sebelahnya, "Kau terlalu berisik Naruto, duduklah Hinata."

"Kau kejam sekali Sakura. Memangnya kau tidak rindu padaku?"

Sakura mendecih pelan, "Untuk apa aku merindukanmu? Cukup Hinata saja yang merindukanmu." Naruto tampak mengerucutkan bibirnya, "Kapan kau kembali? Bagaimana lombanya?"

Naruto duduk di sebelah Sakura dan mengacungkan jempolnya, "Beress, satu piala lagi berhasil kami bawa pulang. Hahahaha, kami baru dua hari yang lalu kembali ke Konoha."

"Naruto ini mewakili sekolah kita mengikuti Lomba Pecinta Alam antar Sekolah di Iwa. Berhubung kita satu kelompok dengannya kali ini, kita tidak perlu khawatir tersesat atau kesulitan selama disana." Sakura menaik-naikan kedua alisnya pada Naruto.

Naruto mengangguk pada kelima rekannya sambil mengistirahatkan lengannya pada pundak Sakura, "Tenang saja. Percayakan padaku."

Sasuke mengernyitkan alisnya menatap Naruto tak suka, tatapannya tajam ke arah lengan kanan Naruto yang menempel di pundak Sakura. Sok akrab sekali bocah rubah ini.

Duugg..

"Adduhhh…" Naruto tampak mengelus-elus kakinya di bawah meja, tatapannya beralih tajam kepada sosok pemuda emo dihadapannya.

"Ada apa Naruto?"

Naruto buru-buru mengubah ekspresinya, "Ehh Sakura, tidak apa. Hanya kakiku terantuk meja. Hahahahaha.."

"Dasar kau ini, tetap saja ceroboh. Yasudah, ayo kita mulai membahas tentang persiapan kemah kita Jum'at depan." Sakura mulai menjelaskan tentang apa saja yang perlu dipersiapkan dibantu dengan Hinata. Sementara Naruto memandang Sasuke dengan tatapan yang meminta penjelasan mengapa kakinya yang tidak punya salah apa-apa malah ditendang dengan cukup keras oleh makhluk dingin di depannya ini.

Sasuke hanya mendecih pelan menanggapi tatapan intens Naruto, bukan Sasuke namanya jika ditatap begitu saja dia sudah ketakutan. Sasuke justru menyeringai pelan sambil menatap Naruto, siapa suruh kau terlalu berisik.

Tapi benarkah hanya karena Naruto berisik hai Sasuke?

Sasuke mengedarkan pandangannya ke arah beberapa teman-temannya, sedari tadi ia, Sai dan Ino sedang menunggu tiga rekan kelompoknya yang sampai sekarang belum muncul juga. Diliriknya Ino yang tengah sibuk mencoba menelpon Sakura yang ternyata belum diangkat juga oleh gadis pink itu. Sasuke kembali memicingkan matanya, dari kejauhan tampak olehnya sebuah warna pink, berjejer dengan pirang dan hitam kebiruan. Mereka?

"Aahh itu mereka!" Ino berlari menyusul ketiga sosok di depannya. "Kenapa kau lama sekali Saku?"

"Hhaahh. Salahkan rubah ini yang tidak mau bangun meskipun sudah berkali-kali dibangunkan." Sakura menunjuk Naruto tepat dihidungnya.

Naruto menepis pelan jari Sakura, "Maaf maaf, aku benar-benar kelelahan. Kemarin aku baru mengantar saudaraku ke Bandara, sampai rumah sudah tengah malam. Jadi yaa… Kau tau sendiri."

"Ayo." Sasuke berjalan mendahului mereka. Sakura mengangguk kemudian menyusul Sasuke diikuti yang lainnya.

Setelah sedikit pembukaan dan pemberian arahan oleh Ketua Panitia, para peserta kemah dipersilahkan untuk memasuki bus mereka masing-masing. Tempat duduk dalam bus dibuat bebas, dengan catatan mereka diharuskan duduk cowok-cewek dalam satu bangku. Hal ini dimaksudkan agar ada yang menjaga tiap-tiap peserta cewek. Sakura kini menatap bangku di hadapannya dengan alis yang diangkat tinggi. Kenapa pembagian tempat duduknya harus seperti ini?

Ino terlihat duduk di dekat jendela sambil memajukan bibirnya, disebelahnya tampak Sai yang duduk tenang sambil tersenyum senang. Dibelakang mereka tampak Naruto dan Hinata yang duduk berdua sambil tertawa, tampak Naruto sedang membisikkan sesuatu di telinga Hinata yang kemudian membuat gadis Hyuuga tersebut perlahan merona. Sakura memutar matanya jengah, satu tahun bersahabat dengan mereka membuatnya paham dengan romantisme mereka berdua. Tatapan Sakura tertuju pada bangku di belakang Naruto dan Hinata, Sasuke tampak duduk tenang sambil memejamkan matanya, headset putih tampak pada kedua telinganya. Sakura mendesah pelan, perlahan dengan hati-hati ia duduk di sebelah pemuda itu. Disandarkannya tubuhnya pada kursi yang ternyata cukup empuk itu kemudian perlahan memejamkan mata. Lebih baik aku tidur saja.

Sasuke perlahan membuka matanya, ditatapnya sosok merah muda yang sedang menutup matanya. Bus telah melaju membelah jalan Konoha, helaan nafas teratur terdengar disebelahnya. Suasana bus sudah cukup sepi, sepertinya mereka sudah lelah mengobrol dan memilih beristirahat sebelum tiba di tempat perkemahan. Sasuke mengulum senyum menatap gadis pink yang tampak berkali-kali hendak menjatuhkan kepalanya ke depan. Perlahan ditariknya kepala Sakura mendekat, diletakkannya dengan hati-hati kepala Sakura pada bahunya. Sasuke merasa nyaman dengan posisi ini, Sakura terlelap di bahunya rasanya jauh lebih pas daripada Sakura yang terantuk-antuk seorang diri. Perlahan dipejamkannya kembali kedua matanya, disenderkannya kepalanya perlahan pada kepala merah muda Sakura. Seulas senyum samar hadir seiring hilangnya kesadaran Sasuke.

TO BE CONTINUE