Title: Sadless ending
Author : ESH1608
Genre : Brothership, Family, Hurt/Comfort, Angst, Drama
Main Cast : Cho Kyuhyun, Park Jungsoo, Lee Donghae, Kim Kibum
(Semua main cast marganya berubah menjadi Park)
Other Cast : Super Junior Member dan yang lain mengikuti cerita
Rating : T
Warning : OOC, Typo(s), Cerita ini hanya lah karangan fiksional. Bagi yang pernah mengalami kejadian serupa lebih baik untuk menghindari cerita ini.
DON'T LIKE IT DON'T READ IT
Summary : FF Brothership, With Jungsoo dan tiga adik kembarnya Donghae, Kibum, Kyuhyun. (Maaf lagi gak ada ide untuk buat summary)
.
.
~ Sadless Ending Chapter 4 ~
-Joy and Sorrow-
.
.
I wanna die but i hate being die,
Cause deep in my heart.. I wish some 'Happiness' before i die..
(Aku ingin mati tapi aku benci mati, karena jauh dalam hatiku. Aku berharap beberapa kebahagiaan sebelum aku mati)
_ Park Kyuhyun _
.
.
"Kalau begitu, biarkan aku mati. Setidaknya tidak ada yang terluka karena ku, juga tidak ada yang mengetahui mengenai diriku."
"Kyuhyun!" Jungsoo berteriak, tidak! Kali ini dia benar-benar membentak keras. Membuat Kibum dan Donghae berjengit kaget. Pancaran amarah dan kecewa terpancar jelas. Tidak pernah seumur hidupnya, dia melakukan hal tersebut pada Kyuhyun. Tapi saat ini, setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Kyuhyun, Jungsoo berang. Dia bukan tidak tahu tentang kelakuan atau pikiran buruk apa saja yang selalu terlintas di benak adiknya, hanya saja 'meminta untuk mati' itu sudah keterlaluan.
Kyuhyun menunduk terdiam begitu pun dengan Donghae dan Kibum. Namun jauh dalam hatinya, Kyuhyun tak merasa bersalah sama sekali. Walau ini pertama kali ia membuat Jungsoo begitu emosi, bagi Kyuhyun itu tak memberi efek apapun pada dirinya juga mungkin pada perasaannya. Hidup 17 tahun seperti ini sama dengan kematian. Jadi jika ia meminta, tidak masalah bukan?
Tubuh Kyuhyun bergerak refleks tanpa perlawanan ketika Jungsoo menarik dan menggeret paksa dirinya entah kemana. Dia meringis nyeri ketika pergelangan tangannya di pegang erat oleh Jungsoo. Langkahnya terseret-seret menaiki anak-anak tangga karena langkah Jungsoo yang tak sabaran.
"Hyung." Helasnya
Jungsoo memilih berpura-pura tidak mendengar. Dia sibuk mengalihkan pikirannya ke hal yang lain walau ujung-ujungnya masih berhubungan dengan Kyuhyun. Amarah menelan kewarasan seorang Jungsoo membuatnya benar-benar tidak sadar akan tindakan yang sedang ia lakukan saat ini.
"Masuk!" Perintahnya.
"Hyung?!"
"Masuk Kyuhyun!" Dia sedikit mendorong Kyuhyun untuk masuk ke dalam kamar miliknya yang tepat berada di seberang ruangan kerja milik orang tuanya. Matanya memandang tajam, walaupun Kyuhyun tahu Jungsoo sedang bergelut menahan tangis. Genangan air mata itu bergeriyak menyelimuti kedua matanya yang kelam.
"Hyung."
"Renungkan kesalahanmu, jangan keluar dari ruangan ini sebelum kau benar-benar sadar."
Dia menutup pintunya kesal, raut wajahnya jelas sekali memperlihatkan rasa iba, bersalah dan rasa... sakit.
Dari dalam Kyuhyun memperhatikan pintu kamar itu yang dengan cepat tertutup. Memberikan bayangan terakhir punggung kakaknya sebelum dia benar-benar menghilang. Dia terduduk menyender pada dinding. Merenungkan kesalahan? Memang apa yang menjadi kesalahannya? Bagi Kyuhyun yang mencoba egois 'Death is a Freedom' (Kematian adalah sebuah kebebasan)
Kepalanya ia tundukan bersembunyi pada lutut yang ia lipat merapat ke dada. Rasa sakit yang ia rasakan tidak bisa ia salurkan pada air matanya. Seluruh tenaga ia kerahkan untuk bisa menangis dan membiarkan air mata itu menelan penderitaanya. Tapi hasilnya nihil, air mata itu tetap saja tertahan. Pandangannya semakin lama semakin redup, ketakutan mulai menghantuinya. Perasaan takut dan sakit adalah sisa, tanda bahwa ia masihlah hidup. Bagaimana jika perasaan itu benar-benar pergi?
Jungsoo dengan lunglai menuruni anak tangga. Satu sisi ia merasa bersalah namun disisi yang lain dia harus memberikan ketegasan terhadap Kyuhyun. Rasa bersalah itu berubah kembali menjadi amarah ketika ia melihat isteri pertama dari kakeknya yang masih berdiam diri di tempat itu tak bergeming sama sekali.
"Kenapa halmeoni masih disini? Bukankah urusannya sudah selesai?!" Ucapnya dingin, melebihi dinginnya sikap yang di tunjukan oleh Kibum selama ini. Jungsoo tak pernah sedingin ini kecuali pada saat dia mengetahui sebuah kenyataan paling konyol dalam hidupnya 8 tahun yang lalu.
Orang-orang yang berada dalam rumah terdiam mematung. Kegamangan merebak pada setiap inci jarak yang tercipta. Neneknya tanpa berucap segera meninggalkan mansion megah itu. Jungsoo kesayangannya sepertinya sudah mulai memberontak. Tidak lagi menjadi anak manis penurut, yang suatu saat nanti akan menjadi pewarisnya.
"Kenapa kalian masih berkumpul? Kerjakan tugas kalian!" Perintahnya pada orang seisi rumah, tidak terkecuali untuk kedua adiknya. "Donghae, Kibum masuk kedalam kamar kalian!"
Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan tempat tersebut dan kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda akibat insiden itu. Donghae dan Kibum juga tanpa banyak bicara, pergi meninggalkan Jungsoo dan segala amarahnya. Sedang Jungsoo, pikirannya kacau. Dia harus mendinginkan otaknya sebelum meledak. Secepat mungkin dia harus menemukan akal sehatnya kembali.
Sekretaris Lee mengikuti langkah Jungsoo yang sepertinya hendak keluar, "Tuan muda, anda mau kema-?
"Jangan ikuti aku! Aku sedang ingin sendiri."
Dia melenggang pergi membawa kunci mobil, menjauh dari kegaduhan yang baru saja ia ciptakan.
Suasana senyap kembali menyergap, tidak pernah barang sehari rumah itu terasa hangat. Luasnya membuat setiap sisi terasa dingin sama dengan emosi para penghuninya. Masing-masing dari mereka mulai kembali menutup diri, memendam rasa, memutus asa. Yang paling merasakannya tentulah 'Ia', seseorang yang menjadi alasan berikut rahasia.
Kyuhyun menerawang di balik matanya yang terpejam.
"Kau berbohong padaku. Bagus sekali!" Suara wanita yang adalah ibunya menggema di lantai dua. Kyuhyun berdiri seorang diri tak jauh dari mereka, menatap serta menangkap gelombang amarah kedua orang tuanya.
"Ya tuhan, Jung Hana. Itu sudah berlalu 4 tahun yang lalu. Kenapa kau selalu menyinggungnya?"
Wanita itu terlihat menyunggingkan senyum kecewa dibalik topeng ketegaran yang ia buat, "Kau bahkan memanggilku dengan nama lengkapku. Benar Park Si Kyung sepertinya semuanya sudah berubah."
"Hentikanlah, aku lelah. Aku baru saja pulang. Apa seperti ini kelakuan seorang isteri?"
Kyuhyun, anak yang baru saja menginjak usia 5 tahun beberapa bulan yang lalu itu menyaksikan semua tarik ulur pertengkaran kedua orang tuanya tanpa mampu mengerti. Mereka seolah tidak peduli terhadap keberadaannya. Menganggapnya tidak ada dan terus saja berdebat hebat.
Kenangan itu kembali terulang bagai momento. Dia tidak berusaha mengingat dan tanpa keinginannya kenangan itu muncul begitu saja.
Kyuhyun ingin sekali berteriak dan menangis kencang tapi emosi itu menguap. Dia seolah mati rasa. Beberapa jam dia tak bergerak dalam duduknya sampai matahari benar-benar tenggelam dan berganti malam. Dia tertidur. Lampu kamarnya masih dalam keadaan off. Kepalanya masih bersembunyi pada lipatan lututnya. Dia berharap akan ketenangan tapi tak kunjung ia dapatkan.
Dia yang benci kegelapan itu, akan membiarkan dirinya tak terlihat.
"Kau berbicara seolah kau yang paling benar setelah semua kebohongan ini!" Sebuah tamparan dilayangkanoleh Park Si Kyung pada pipi tirus wanita yang berstatus isterinya beberapa detik setelah Jung Hana selesai mengucapkan apa yang menjadi kegundahannya.
Kyuhyun yang masih berdiri tak jauh dari mereka mendadak terkesiap. Ia ingin menangis begitu saja ketika melihat ibu yang sangat di sayanginya mendapat perlakuan kasar seperti itu dari orang yang selalu dia impikan sebagai pahlawannya.
"Kau itu wanita terhormat tapi mulutmu seperti jalang di luar sana."
"Bagi ku kau yang seperti itu." Wanita itu mendesis, dan suaminya mengamuk. Membanting semua barang, melemparkan ke arah meja kaca di ruang tengah yang kini telah menjadi kepingan-kepingan menyedihkan. Kyuhyun memperhatikan semua dan mendengar segalanya.
"Ap-..pa!" Bisik yang tak terdengar keluar dari mulut kecil itu. Dia terus menggumam dalam tangis hingga wanita yang jadi pengasuh dirinya sejak ia lahir itu memeluknya erat, membuat Kyuhyun kecil menangis lebih kencang. Jelas sekali apa yang saat ini anak itu rasakan. Kyuhyun masih tidak berhenti menangis sampai ayahnya, sang kepala keluarga itu melenggang pergi. Sedang ibunya, Jung Hana terdiam lalu meneteskan air mata, dia yang sangat tegar dan kuat itu nampak sangat rapuh.
Kyuhyun melepaskan pelukan dari pengasuhnya, lalu menghampiri sang ibunda dan memegang ujung Coat Soft pink miliknya. "Eom..ma." Tak ada respon. Ia mengulanginya lagi hingga wanita itu balik menatap Kyuhyun. Tapi tatapan itu, terlampau tajam dan menyakitkan."Kau ikut Eomma!"
Kyuhyun bergerak gelisah dalam tidurnya. Dia tak sadar tangannya mulai meremat bagian tubuhnya yang lain, kukunya membuat beberapa goresan pada masing-masing lengannya. Bulir keringat mulai menyatu satu sama lain. Mulutnya terus menggumam tak jelas.
"Kemana Eomma?"
Ibunya tidak menjawab, dia malah menggeret Kyuhyun yang mulai terseok-seok tidak bisa mengimbangi langkah ibunya yang terkesan terburu-buru. Dia membawa Kyuhyun ke sebuah tempat di lantai dua, pada bangunan terpisah dari mansion itu. Sebuah ruangan yang lembab dan gelap. Dia mendorong Kyuhyun masuk ke dalam kamar mandi tersebut, lalu mulai menyiramnya dengan air yang sangat dingin.
"Eomma." Kyuhyun memberontak, dia terkejut juga tidak mengerti.
"Kau! Setiap semua kesalahan yang mereka perbuat, kau yang akan menanggungnya. Karena kau seharusnya tidak ada." Dia kembali menyiram Kyuhyun yang sudah mulai menggigil.
Anak kecil itu memelas, bibirnya mulai membiru, "Eom..ma."
"Karena tidak akan ada yang tahu. Tidak ada yang peduli. Aku terlalu sakit menanggung semuanya. Kau juga harus merasakannya, karena hanya kau yang bisa menerima ini semua." Wanita itu mulai melantur tak jelas, Kyuhyun semakin tidak paham.
"Tidak ada seorang pun yang akan tahu dan tidak akan aku biarkan mereka memanfaatkanmu." Kyuhyun menangis kencang ketika sebuah tamparan keras mendarat pada pipi mungilnya. Dia meronta, mencoba melepaskan diri. "Eom..ma sudah. Ampun eomma."
"Hyung, Jungsoo Hyung..Donghae Hyung..Kibum Hyung." Cicitnya, memohon dan memohon lagi.
Ngh, ngh.. Kyuhyun menahan napasnya dan dia mulai merasa sesak. Rasa sakit yang ada dalam alam bawah sadarnya bergabung dengan keadaannya saat ini, membuatnya seolah nyata.
"Eom..ma." Kyuhyun memohon dalam tidurnya.
'Eomma.'
"Ampun..Eomma."
'Ampun eomma!'
"Hyung.. Hyung.."
'Hyung, Hyung.'
Bayangan itu menyatu. Dia tidak bisa membedakan mana yang nyata dan yang bukan. Sampai dia tersentak bangun ketakutan. sikap waspada menyergap menyambutnya ketika ia sadar bahwa kamar itu gelap dan kelam. Dengan gegas, dia mencari kontak lampu tersebut dan menekannya. Cahaya yang terang tiba-tiba, masuk kedalam retina mata Kyuhyun membuatnya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan. Ia masih gemetaran. Semakin di pikirkan semakin yakin, dirinya sudah tak sanggup lagi. Dia butuh pergi menjauh dan melarikan diri.
Setelah merenung cukup lama Kyuhyun menuju kamarnya, mengendap-endap pelan. Kaos yang dikenakannya sudah basah bermandikan keringat. Kedua kakaknya sudah tertidur tapi tak lelap. Masing-masing dahi mereka berkerut sesekali mengigau. Mereka kembar, mereka saling merasakan. Tapi Kyuhyun harap setelah ini mereka tidak akan merasakan rasa sakit lagi.
Dia mengambil ransel dan beberapa lembar uang 50 ribu won di bawah tumpukan baju miliknya, lalu mengambil kaos milik Donghae yang ia pakai kemarin juga jaket yang tidak terlalu tebal. Dia kembali berjalan keluar dengan mengendap-ngendap. Kyuhyun bukan tidak pintar, dia tahu betul saat ini beratus mata sedang mengawasinya dari balik lensa CCTV itu. Dia hanya mengacuhkannya. Berharap untuk kali ini saja, mereka mau membebaskannya dari istana -penjara- tersebut.
Walau begitu, dia sangat yakin bahwa sebentar lagi pasti akan ada orang yang memanggil namanya.
Benar saja, tepat beberapa saat dia berhasil keluar dari gerbang yang berbelas tahun mengurungnya itu, seseorang yang sangat dia kenal menyerukan namanya, wajahnya terlihat kesal.
"Kyuhyun, mau kemana?" Pemuda yang umurnya tak terlalu jauh dengan Jungsoo itu memergokinya telak.
"Sungmin Hyung."
"Kau bukan orang yang bisa kabur begitu saja, lain kali buat strategi sebelum melakukannya."
"Sungmin Hyung."
"Wae? Dari tadi kau hanya menyebut namaku saja? Ayo temani aku minum." Sungmin mengalengkan lengan kanannya pada leher Kyuhyun. Menariknya, membuat Kyuhyun terseret-seret karena perbedaan tinggi mereka. Kyuhyun harus sedikit menunduk agar tak tercekik.
"Tapi ka-?
"Bukan aku yang bertugas hari ini. Aku tidak sedang berpatroli."
Kyuhyun mendengus, tapi mulai berjalan beriringan dengan Sungmin. Sebelumnya dia berjalan tertatih karena lengan sungmin yang mengaleng erat, membuatnya susah untuk bisa melangkah. "Berpatroli? Memangnya kau polisi?"
"Semacam. Sudah jangan banyak protes."
Tengah malam itu mereka berdua malah terduduk di kedai tteoppokki, tidak memesan soju sama sekali. Sungmin telah mengelabuinya. Alasannya adalah karena Kyuhyun masih di bawah umur. Cih, semua orang di rumah itu tahu bahwa dia mempunyai hobi menghabiskan beberapa koleksi wine milik ayahnya dan berdalih bahwa Jungsoo lah yang meminumnya.
Keputusan Sungmin untuk tidak minum membuat Kyuhyun lega. Setidaknya dia tidak harus kembali lagi kerumah itu karena harus memapah Sungmin. Kyuhyun telah bertekad bagaimanapun caranya dia harus keluar dari rumah itu. Jika perlu dia akan menghilang.
"Mau pergi kemana kau, Kyu?"
"Pergi kemana apanya Hyung? Aku hanya ingin menghirup udara luar."
Sungmin tersenyum mengejek, "Dengan ransel yang berisi beberapa lembar uang? Kau bukan orang yang bisa berbohong."
Kyuhyun melipat kedua tangannya di dada, "Emang apa salahnya dengan ransel yang berisi uang? Kenapa semua orang selalu bilang aku tidak bisa berbohong padahal aku ini aktor hebat. Donghae saja selalu masuk dalam jebakanku." Serunya bangga.
Ya, dia aktor yang luar biasa hebat untuk membohongi semua orang mengenai perasaan yang sesungguhnya.
"Hah, terlalu percaya diri." Sungmin memakan tteoppokkinya yang masih mengebul.
Padahal Kau bukan aktor yang baik, Kyu. Karena semua orang tahu apa yang kau sembunyikan. Batin Sungmin berbicara yang lain.
"Mengenai hal yang terjadi tadi sore.. tidak usah kau pik-..."
"Aaaa...aaa..aaa.." Kyuhyun menutup kedua telinganya lalu berseru-seru, tidak ingin mendengar apapun jika itu berhubungan dengan kejadian tadi sore.
Sungmin menjejalkannya dengan tteoppeokki, membuatnya Kyuhyun berhenti berseru dan mulai mengunyah. Angin musim gugur di tengah malam cukup membuat tubuhnya bergetar walau sebentar. Tangannya menggosok-gosokkan pada lengan atasnya menghalau rasa dingin.
"Kyu?"
"Hm." Gumamnya
"Kau tidak mau kembali kerumah itu?"
Tangan Kyuhyun yang hendak menyuapkan tteoppeokki itu mendadak terhenti karena pertanyaan absurd dari Sungmin.
"Kau ini bicara apa sih Hyung? aku bilang aku hanya ingin menghirup udara luar bukan mau kabur?" bohong...
Sungmin tersenyum lalu mengacak rambut Kyuhyun. "Aku kan tidak bilang kau mau kabur. Aku hanya bertanya apakah kau tidak punya keinginan untuk kembali kerumah itu lagi?"
Kyuhyun meletakkan sumpitnya di meja, dia mendadak kehilangan nafsu makan. "Wah, Kau benar-benar merusak suasana hatiku Hyung. Apa bedanya kabur dengan tidak memiliki keinginan untuk kembali? Itu sama saja."
Lawan bicaranya terdiam, Sungmin mendalami tatapan Kyuhyun. Mencoba membaca apa yang anak itu pikirkan. "Ayo kita kabur. Pergi jauh dari tempat ini. Meraih mimpimu."
"Hyu-.."
"Aku belum selesai, jangan berucap sebelum aku selesai bicara." Sungmin menyela kemudian dia kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda, "Ayo pergi dari tempat ini. Kau bisa bersekolah dan mempunyai banyak teman. Kau bisa menekuni semua hobimu. Kau bisa bebas menjaili semua orang dan kau-.."
"Hyung."
Sungmin menarik bibir Kyuhyun menguncinya, "ssstt.. aku bilang biarkan aku menyelesaikan kalimatku." Lalu dia melepas tangannya membuat Kyuhyun berkata lagi. "Tapi Hyung.." Sebelum sempat Kyuhyun melanjutkan, Sungmin mengeluarkan kalimat yang membuatnya mematung.
"Jadi Kyuhyun berhentilah berpikir untuk mati. Kau masih berhak merasakan kebahagian. Ayo kita mengulang kembali hidupmu dari awal. Pergi jauh dari sini dan melupakan semua yang sudah terjadi."
Melihat keseriusan dari Sungmin, Kyuhyun yang mematung itu langsung tertawa tak bisa berhenti membuat Sungmin salah tingkah. "Hyung. apakah memakan tteoppeokki membuat mu mabuk?" Dia bergelung menahan tawanya.
"Kyuhyun!"
"Hyung, Hidupku... tak semudah yang kau pikirkan." Rautnya berubah menjadi serius.
Sungmin terbawa oleh arusnya, dia menatap kyuhyun tajam tak berkedip. "Aku tahu, maka dari itu aku menyuruhmu untuk mengulang semuanya kembali dan menyimpan kenangan buruk yang telah terjadi padamu."
Di dalam mansion itu ada lima anak yang tumbuh besar dan dewasa bersama, salah satu nya adalah Sungmin. Dia tinggal di dalam mansion itu sejak usianya menginjak tiga tahun. Ayahnya adalah kepala pengawal keluarga Park dan ibunya telah kembali kesurga beberapa menit setelah melahirkannya.
Sejak pindah kerumah itu, Sungmin merasa bagian dari mereka. Karena dia tahu apa saja yang sudah terjadi pada anak-anak penghuni rumah itu. Ia bersahabat cukup baik dengan Jungsoo. Juga Kakak yang baik bagi Donghae dan Kibum. Lalu Kyuhyun, Sungmin sudah tidak bisa menahan diri ketika ia sang saksi hidup seorang Kyuhyun melihatnya semakin lama semakin jauh terkubur dalam luka.
"Ayo pulang Hyung, kau semakin ngawur." Kyuhyun berdiri dari duduknya dan mulai pergi meninggalkan Sungmin. Tapi ia mendadak berhenti ketika ia merasa Sungmin memegang pergelangan tangannya.
Sungmin menarik Kyuhyun ke dalam pelukannya. Sejak tadi ia mengamati bahwa Kyuhyun sedang mencoba menahan tangis. Baru sekejap dalam pelukan itu, Kyuhyun terisak.
"Kyuhyun, Na Jinshimiya (Aku tulus). Yang ku katakan tadi, semuanya adalah yang sesungguhnya." Dia mengelus punggung kurus Kyuhyun. Sungmin bisa merasakan Kyuhyun mengangguk di bahunya, "Hyung, bawa aku pergi jauh dari sini."
Melarikan diri terkadang menjadi keputusan termudah dalam sebuah tindakan. Seperti yang dilakukan Kyuhyun saat ini.
.
.
Sungmin mengamati jalanan yang gelap dari balik jendela kereta yang sedang di tumpanginya. Kyuhyun sudah terlelap beberapa saat yang lalu. Matanya masih terlihat bengkak dan wajahnya memerah efek menangis tadi. Sungmin lega dia bisa membuat Kyuhyun menangis terisak. Sudah beberapa waktu ini, Sungmin merasa Kyuhyun semakin sulit mengeluarkan emosinya. Dia takut jika Kyuhyun memilih untuk menyakiti dirinya sendiri untuk bisa melampiaskan perasaannya.
Dia mengambil jaketnya dan mulai menyelimuti Kyuhyun. Handphonenya berdering. Namun ketika tahu siapa yang menghubunginya, Sungmin langsung mematikan panggilan itu. Takut Kyuhyun terbangun. Dia langsung mengetikkan sebuah pesan, memberi tahu penelpon tadi untuk bertukar pesan melalui SMS saja.
Bagaimana dia?
Kyuhyun tertidur. Kami sudah dalam kereta, 4 jam lagi sampai di Busan.
Dia baik-baik saja?
Hm. Jungsoo berhentilah mengkhawatiri dia. Kau harus peduli pada dirimu juga. Cepat tidur! Beberapa minggu ini kau sulit tidurkan?
Sungmin Hyung, Kyuhyun akan tinggal dirumah yang telah ku tunjukan padamu kan?
Sungmin menghela napas. Kenapa semua keluarga Park begitu keras kepala? Hah... Beberapa hari yang lalu Jungsoo menghampirinya dan mereka pergi makan siang bersama. Bukannya pulang kerumah, Jungsoo malah mengajaknya keluar kota. Tapi dia memilih bungkam mengikuti kemauan anak tertua keluarga Park tersebut.
Perjalanan mereka berakhir pada sebuah tempat seperti kota kecil yang tak terlalu ramai di daerah Busan. "Mengapa kita disini?"
Jungsoo menggeretnya masuk kedalam rumah yang tidak terlalu luas namun terlihat cozy. "Hyung berjanjilah padaku?"
"Tentang apa?" Perasaannya tak enak, Sungmin yakin Jungsoo akan meminta hal yang aneh padanya.
"Bawa Kyuhyun pergi dan tinggal disini."
"Jungsoo-ya, kau mabuk? Kau mulai gila. Semua keluarga Park akan mencarinya dan bisa jadi membunuhnya. Tidak! Aku menolak."
Jungsoo berlutut, "Hyung, aku akan menangani masalah itu. Aku tidak bisa melihat Kyuhyun terus terluka. Dia adikku."
"Jungsoo.."
"Setiap hari aku di hantui rasa bersalah. Cukup Kibum saja yang pernah melukai dirinya sendiri. Aku tidak bisa melihat adikku yang lain melakukan hal yang serupa. Jika Kyuhyun tetap dalam rumah itu... Hyung, aku tak bisa membayangkannya." Dia memeluk lutut Sungmin, memohon dan memohon lagi.
Sungmin langsung memengang lengan atas Jungsoo, mengajaknya untuk berdiri lalu memeluk Jungsoo erat. "Aku akan membawanya pergi, Jadi Jungsoo kuatlah. Khawatirkan juga dirimu. Ketika kau tumbang maka Donghae Kibum dan Kyuhyun, mereka juga akan akan tumbang bersama dirimu."
Mereka saling menguatkan satu sama lain.
Hyung mengapa kau tidak membalas pesanku? Kau akan tinggal dirumah itukan?
Pesan itu meleburkan ingatannya beberapa hari yang lalu, dengan cepat dia membalas pesan Jungsoo sebelum anak itu berpikir yang tidak-tidak.
Jungsoo, aku akan membawanya ketempat yang lain di daerah busan untuk sementara. Handphone ku tak akan aktif. Jangan khawatir, aku akan melindunginya.
Kabari aku jika ada apa-apa. Terima kasih Hyung.
Ya. Cepatlah tidur dan bersiap untuk tidak gagap menjawab pertanyaan kedua adikmu yang lain.
Sungmin memberikan emoticon mengejek di ujung pesannya. Dia bisa membayangkan ekspresi Donghae dan Kibum ketika mereka tahu bahwa adik bungsunya tidak ada dirumah.
"Hyung?" Suara Kyuhyun terdengar. Sungmin langsung mematikan handphonenya dan menyimpannya dalam saku celana.
Sungmin tersenyum ke arahnya, "Ya?"
"Siapa yang menelpon?" Tanyanya curiga, dia sempat mencuri pandang ketika Sungmin mematikan handhonenya dengan tergesa-gesa.
Senyumnya masih belum pudar, "Tidak ada. Tidurlah lagi. Masih beberapa jam lagi sebelum kita sampai di Busan." Sungmin menepuk-nepuk bahunya, mengisyaratkan pada Kyuhyun untuk bersandar padanya.
Setelah itu mereka terdiam tak ada suara. Masuk dalam kerajaan mimpi yang indah. Mengabaikan sesuatu yang buruk yang bisa datang kapan saja. Lebih memilih untuk bersorak pada gerbang kebahagiaan yang sebentar lagi akan dia rasakan. Walaupun nanti kebahagiaan itu ternyata hanya terasa singkat. Kyuhyun akan menghargainya.
.
.
"Ini Busan Hyung?"
Mata Kyuhyun tidak pernah terlepas dari pemandangan sekitar. Dia berhenti di beberapa tangga setelah keluar dari stasiun kereta api itu hanya untuk memenuhi memorinya dengan rasa aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Kyuhyun sudah mulai merasakan lapar. Sungmin tertawa ketika ia mendengar suara dari perut Kyuhyun.
"Aigoo, sudah lapar anak manis?" Dia mengalengkan lengannya pada leher Kyuhyun 'lagi'. Sepertinya itu akan masuk dalam daftar kebiasaan Sungmin.
Kyuhyun mencoba melepaskan lengan Sungmin di lehernya, wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus karena malu. "Aish, Hyung lepas!"
Tapi Sungmin tidak melepaskannya begitu saja, dia malah mulai menyeret Kyuhyun. "Ayo kita cari makanan khas busan." Ajaknya membuat Kyuhyun pasrah. Senyumnya mengembang, kali ini adalah yang sebenarnya.
Yesterday, i felt sorrow. (Kemarin, aku merasakan kesedihan)
Today, let me feel Joy. (Sekarang, biarkan aku merasakan kebahagiaan)
Tomorrow, let The God to decide it.. (Besok, biarkan tuhan yang menentukannya)
.
.
To be continue,,
.
.
maaf telat update, maaf juga stranger incident dan the unity of ability belum bisa aku update..
ada beberapa kesalahan di chap 3 untuk ff ini, secepat mungkin akan aku edit untuk di perbaiki, setelahnya akan aku repost ulang.
semoga kalian masih berkenan untuk membaca..
terima kasih untuk yang sudah review, aku bener2 enjoy membaca review kalian.
yang sudah follow dan favorite, semoga tidak bosan untuk selalu menunggu..
Terlebih lagi untuk yang baca.. Terima kasih banyak.. MAAF KALO SELALU MEMBUAT KALIAN PENASARAN -Senyumevil
BIG HUG
ESH1608
