Chapter 4

Terdapat sticky notes di sekuterku. Aku menariknya dan membaca:

"tangki bensinmu penuh. Seungcheol hyung."

Seungcheol-ssi mengisi bensinku? dadaku terasa hangat. Dia sangat baik. Kata-kata Mingyu tentang parasite kembali berdengung di telingaku dan aku sadar aku harus membayar Seungcheol-ssi secepatnya. Aku tidak ingin dicap sebagai parasite seperti ayahku.

Aku memindahkan sekuterku ke dalam rumah lalu meninggalkannya. Kurasa aku akan manceri pekerjaan disekitar sini dulu. Beberapa mobil masih diluar, walaupun tidak sebanyak tadi malam. Aku berpikir ispa yang tejaga sepanjang malam. Apa mereka selalu disini? Aku tidak melihat siapapun pagi ini selain Mingyu dan wanita itu.

Mingyu bukan orang yang baik tetapi dia cukup adil. Aku harus mengakuinya. Dia juga sangat seksi. Aku hanya harus belajar menghiraukannya. Seharusnya mudah. Aku tidak menyangka mingyu akan sering berada didekatku. Dia terlihat tidak suka berdekatan denganku. Mungkin karena aku terlihat menginginkannya, sedangkan dia tidak. Kurasa dia straight. Mengingat wanita itu. Mungkin dia jijik. Entahlah.

Aku berjalan kemuar lingkungan perumahan. Aku menemukan Koran lokal dang melingkari beberapa pekerjaan yang berbeda. Dua sebagai pelayan di restoran lokal dimana aku berhenti dan mencoba melamar. Aku punya perasaan aku akan mendapat balasan dari alah satu atau keduanya tapi aku tidak yakin yang mana yang kuinginkan. Aku juga mencoba melamar di kafe. Lalu di apotek sebagai resepsionis.

Tempat terakhir yang aku datangi adalah sebuah klub yang terlihat cukup mewah sebagai pelayan. Gajinya adalah 7000 won per jam dengan bonus tip yang tak terhingga. Mungkin aku bisa keluar dari rumah Mingyu lebih cepat. Ada kelebihan lain. Asuransi kesehatan, hebat.

Berdasarkan arahannya, aku harus datang ke kentor pusat dibelakang lapangan golf untuk melamar. Aku mengikuti arahannya lalu melihat kekaca untu memastikan penampilanku. Aku merapikan rambutku agar terlihat lebih rapi lalu berdoa semoga aku diterima,

Untung saja aku mengenakan kemeja hitamku yang memeluk tubuhku dengan pas. Mingy bilang bajuku tidak wajar. Aku juga tidak paham maksudnya. Aku kan semalam menggunakan pakaian berlapis lapis karena aku dalam perjalanan jauh. Kurasa pakaianku saat ini cukup pantas. Menarik napas untuk terakhir kalinya, aku membuka pintu dan masuk kedalam.

Seorang wanita bertubu kecil dengan rambut berwarna cokelat bergaya bob dan sepasang kacamata keemasan berjalan menuju ruang penerima saat aku masuk. Dia melirikku sambil berjalan menuju kantor tap berhenti begitu melihatku. Dia memberi tatapan singkat padaku dari atas kebawah lalu mengangguk padaku.

"kau kesini untuk melamar pekerjaan?" tanyanya blak-blakan

Aku mengangguk, "Iya, Bu. Aku disini untuk melamar sebagai pelayan."

Dia memberiku senyum tipis, " bagus. Penampilanmu sangat mendukung. Para anggota akan mengabaikan kesalahanmu dengan wajah seperti milikmu. Kau bisa menyetir kereta golf dan membuka botol bir dengan pembuka botol?"

Aku mengangguk

"kau diterima. Aku butuh seseorang dilapangan sekarang. Ikuti aku, aku akan memberimu seragam"

Aku tidak menolak. Data dia berputar kembali dan pergi menuju ruang lain aku mengikuti dibelakangnya. Dia wanita yang tegas. Dia membuka pintu dan aku masuk.

"ukuran celanamu M? atasanmu harus lebih kecil dari yang kau gunakan sekarang. Para gadis akan menyukainya. Mereka menyukai pemuda berbahu lebar dan perut ramping. Mari kita lihat." Dia membicarakan tubuhku. Rasanya aneh. Dia mengambil kaus polo warna kuning dari rak dan menyerahkannya padaku. "itu ukuran yang cocok untukmu, harus ketat. Kami cukup berkelas tapi para pelanggan juga butuh kesenangan. Maka dari itu, kami menawarkan sepasang training putih dan kaus polo yang ketat. Jangan khawatirkan berkasnya. Aku akan membiarkanmu mengisinya setalah bekerja. Lakukan selama seminggu dengan baik dan mungkin kita bisa memindahkanmu di bagian restoran. Staf yang bekerja tidak dikontrak lama juga, wajah sepertimu tidak mudah ditemukan. Sekarang, bergantilah dan aku akan membawamu ke kereta berisi minuman dan camilan."

Dua jam kemudian, aku sudah berhenti di lubang ke delapan di lapangan golf sebanyak dua kali dan mengosongkan kereta minuman. Semua pemain golf menanyakan apakah aku masih baru dan memuji layananku. Aku tidak bodoh. Aku melihat cara para wanita dan beberapa pria mengikuti gerak gerikku. Untungnya, mereka semua berhati hati agar tidak melewati batasan apapun.

Wanita yang mempekerjakanku akhirnya memberitahukan namanya saat dia mendirongku kearah kereta golf. Dia adalah Kim Heechul. Dia betugas sebagai HRD. Dia juga sangat tegas. Dia memberitahuku untuk kembali dalam 4 jam atau saat kehabisan minum, manapun yang datang duluan. Aku kehabisan minuman dalam dua jam.

Aku masuk kembali ke kantor dan Heechul-ssi menyembukan kepalanya, "kau sudah kembali?" dia bertanya, keluar dengan tangan di pinggangnya.

"Iya Bu. Aku kehabisan minum."

Alisnya melejit naik, "Semua?"

Aku mengangguk, "Ya, semuanya."

Sebuah senyum tergambar di wajahnya dan ia mengeluarkan sebuat tawa. "Well, sial sekali. Aku tau mereka akan menyukaimu. Tapi wanita-wanita kesepian itu akan bersedia untuk membeli apapun yang kau punya hanya untuk membuatmu tinggal lebih lama. Kurasa beberapa pria juga begitu." Godanya sambil berkedip padaku

Aku merona. Aku juga tidak yakin itu masalahnya. Diluar sangat panas. Setiap kali aku berhenti di lubang para pemain golf terlihat lega.

"kemarilah, aku akan menunjukkan kepada mu dimana kau bisa kemabali mengisi stok minuman. Kau harus terus melayani hingga matahari terbenam. Lalu kembalilah untuk mengisi form lamaran."

Langit sudah gelap saat aku sampai di kediaman Mingyu. Aku keluar sepanjang hari. Tidak ada mobil lain di depan tumah maupun halaman. Garasi yang berisi tiga mobil juga tertutup dan satuu mobil konvertibel merah yang mahan diparkir di jalan setapak yang menuju pintu depan. Aku memastikan sekuterku yang tadi pagi kupindahkan tidak menghalangi jalan. Mingyu-ssi mungkin akan mengundang beberapa orang dan aku tidak ingin sekuterku jadi masalah. Aku kelelahan. Aku hanya ingin tidur.

Sku berhenti dipintu dan berpikir apakah aku harus mengetuk pintu atau langsung masuk. Mingyu sudah bilang aku bisa menumpang selama sebulan. Aku yakin aku tidak perlu mengetuk pint u terus menerus.

Aku memutar pegangan pintu dan berjalan masuk. Ruang tamu yang tadi pagu begitu berantakan terlihat kosong dan bersih. Bibi Lee pasti sudah membersikannya. Bahkan lantai marmernya terlihat mengkilap. Aku mendengar suara televise datang dari ruang tengah. Tidak banyak suara lain. Aku berjalan menuju dapur. Aku punya tempat tidur yang menungguku. Aku ingin mandi tapi aku belim mendiskusikannya dengan Mingyu-ssi dimana aku bisa mandi dan aku tidak ingin mengganggunya mala mini. Aku akan menyelinap saja besok dan menggunakan kamar mandi yang sama.

Bau bawang dan keju tercium di hidungku saat aku memasuki dapur. Perutku menggeram sebagai jawaban. Aku punya satu pak selai kacang dan roti di tasku dan satu botol susu yang aku bawa dari supermarket yang aku lewati saat pulang. Aku mendapat sedikit uang tip tapi aku tidak bisa menyia-nyiakannya untuk makanan. Aku harus menabung segalanya.

Terdapat Teflon di kompor dan botol wine yang telah dibuka di meja dapur. Kurasa Mingyu sedang bersama seseorang.

Sebuah desahan terdengar dari luar diikuti dengan suara keras.

Aku berjalan menuju dinding kaca tapi saat sinar matahari memantul di tubuh bagian belakang Mingyu aku membeku. Bagian belakang yang sangat mengesankan. Sangat sangat mengesankan. Walaupun aku belum pernah melihat bagian belakang tubuh tanpa penutup apapun sebelumnya. Aku melihat sebentar sebelum Mingyu mulai bergerak,

Aku seharusnya tidak melihat ini. Ku gelengkan kepalaku untuk menjernihkan pikiranku lalu berlari menuju dapur menuju kamarku. Aku tidak boleh memikirkan Mingyu dalam konteks itu. Dia cukup seksi. Melihatnya tidur dengan seseorang, di luar, di beranda rumahnya. Aku masih mendengar suara mereka. Mingyu dan seorang pemuda lain. Membuat jantungku berdetak sangat cepat. Tidak. Aku tidak boleh memikirkannya. Sebaiknya aku tidur.

Suara itu terus menggangguku. Melihatnya melakukan itu dengan orang lain membuatku sedikit iri. Aku tidak pernah merasakannya. Dua puluh taun dan masih polos agak sedikit menyedihkan. Kihyun bilang mencintaiku tapi saat aku sangat membutuhkannya dia membutuhkan kekasih yang bisa menyelinap dan tidur dengannya tanpa menghawatirkan ibunya yang sakit. Kihyun menginginkan pengalaman remaja biasa. Aku tidak bisa menyanggupinya, jadi kulepaskan dia.

Saat aku pergi kemarin pagi untuk datang kesini Kihyun memohonku untuk tinggal. Dia berkata bahwa dia mencintaiku. Dia tidak bisa melupakanku. Bahwa semua teman kencannya hanyalah pengalih yang tidak berharga. Aku tidak bisa mempercayainya. Setiap malam aku selalu kesepian dan ketakutan. Aku membutuhkan seseorang yang dapat melindungiku. Kihyun tidak ada disana. Dia tidak mengerti cinta.

Aku mengunci pintu kamarku dan melemparkan diriku ke tempat tidur. Aku bahkan tidak menarik selimutku. Aku butuh tidur. Aku harus sampai di Dazed, klub tempatku bekerja tepat jam 9. Aku tersenyum pada diriku sendiri karena aku bersyukur karena punya tempat tidur dan pekerjaan.