Naruto © Masashi Kishimoto

.

.


Princess of Glasess

.

Chapter 3

"Bad Day or Nice Day?"


.

Don't Like YA Don't Read

.


Enjoy for Reading…

.

Setelah mengikuti kompetisi kemarin, Sakura menjadi pusat perhatian gadis dan juga laki-laki yang menatapnya dengan tatatapan penasaran. Dan aku juga semakin menjadi buruan gadis-gadis yang mempertanyaankan kebenaran Sakura yang menjadi Cherry itu benar atau tidak? Dan aku semakin kesusahan sendiri. Bahkan Sakura tidak mau ambil pusing dan mengabaikan mereka, seolah hal itu tidak mengganggunya. Tapi, justru hal itu mengarah kepadaku semua.

Aku benar-benar tidak bisa lari.

Bahkan Naruto tidak mau membantuku karena dia masih marah padaku yang tidak memberitahu hal ini kepadanya. Sial. Sahabat macam apa dia itu?

Aku akhirnya tidak pernah keluar kelas dan aku tidak pernah bisa makan di kantin karena menghindari gadis-gadis yang semakin liar menanyakan kedekatanku dengan Sakura yang sekarang menjadi kakak tiriku. Sakura yang dalam kasus ini adalah pemeran utamanya juga, masih bisa aku lihat sangat santai berjalan melewati kelasku dengan jas lab dan buku tebalnya.

Dia benar-benar mengabaikan semua orang.

Seakan mereka tidak ada dihadapannya, menganggunya dengan tatapan menyelidik. Sebenarnya aku ingin melindunginya dari hal itu, tapi di rumah dia bilang kalau dia bisa mengatasi hal ini, dia seperti sudah memperkirakan hal ini akan terjadi.

Aku hanya bisa mendesah, aku sekali lagi tidak bisa apa-apa.

Hadiah yang kami dapatkan dari kompetisi kemarin baru bisa kami pakai akhir pekan nanti, itu masih dua hari lagi dari sekarang. Dan rasanya seperti seribu abad menunggu hari itu. Aku akan berlibur ke Suna dengan Sakura. Setidaknya, aku masih mempunyai hal-hal yang membuatku kembali bersemangat.

Tiba-tiba perutku berbunyi.

Ini sudah jam makan siang, aku sendirian sekarang di kelas. Mau keluar rasanya malas karena aku akan berurusan dengan gadis-gadis yang selalu membuntutiku. Aku melarang keras mereka memasuki kelas, dan aku bersyukur mereka tidak pernah menghampiriku ke kelas. Aku mendesah keras karena Naruto dan Neji meninggalkanku, mereka sudah keluar sejak tadi.

"Oi, kau mau ke kantin tidak, teme?" Naruto tiba-tiba berteriak di depan kelas. Panjang umur dia. Baru saja aku membicarakannya. Gumamku.

Aku mendengus setelahnya, apa dia sudah tidak marah padaku? Dia mengajakku ke kantin bersama dan memanggilku dengan sebutan biasanya. "Tidak. Terim kasih." Ucapku, sambil bersandar ke kursiku. Aku ingin balas dendam dengannya.

Dia menyipitkan mata ke arahku kemudian mengangkat bahu. "Terserah kau saja." Lalu dia berbalik meninggalkanku. Sendirian lagi. Sialan. Dia benar-benar sahabat yang baik.

Aku mengabaikannya dan bersandar di tembok, suasana di kelas sepi dan ini membuatku memikirkan Sakura. kalau jam istirahat seperti ini dia biasanya kemana? Apa ke kantin? Apa sama denganku, di kelas karena menghindari orang-orang? Atau makan di atap sekolahan?

Aku mendesah, dia ternyata sulit untuk dipahami dan ditebak. Kadang-kadang membuatku berdebar-debar, kurasa itu terjadi setiap saat. Maksudku dia mempunyai daya tarik sendiri, bahkan aku tidak menoleh ke gadis lain yang lebih menonjol darinya dan dia pusat perhatianku. Dan kadang-kadang dia membuatku jengkel karena sikap dinginnya melebihi aku dan kutub utara dan selatan sana, tapi aku bersyukur, karena kami akhir-akhir ini kami sering mengobrol. Ya, walaupun itu di rumah.

Memikirkan Sakura kembali membuat perutku bernyanyi.

Sial. Aku harus makan atau aku akan mati, kurasa aku berlebihan. Aku butuh makan. Karena mendesak, akhirnya aku memutuskan keluar kelas, dan bersyukur tidak ada seorang gadis yang membututiku. Saat berjalan menuju kantin aku mendapati Sakura yang berjalan menuju tangga atap sekolah, sejenak aku berhenti berjalan dan ide bagus muncul di kepalaku sambil senyum menyeringai muncul dibibirku.

Aku akhirnya membuntutinya dari belakang. Aku tidak pernah sekalipun mendapatinya pergi ke kantin saat istirahat, mungkin saja dia selama ini nongkrong di atap untuk menunggu bel sekolah masuk lagi.

Sekarang aku menjadi gadis-gadis yang selalu membututiku.

Sakura sudah sampai di atap, dan aku membuka pintu masuk atap dengan pelan, aku mendapati Sakura yang duduk bersandar sambil memakan makanan di bentonya. Jadi, dia selalu makan sendiri di atap sekolahan? Apa dia tidak punya teman di kelasnya? Aku memperhatikan makanan yang dia makan, itu sarapan tadi pagi yang aku buat. chiken yakiniku dan salad favoritnya.

Seperti biasanya, saat aku sedang memperhatikannya, dia akan tahu. Dan saat ini dia sedang menatap arah pintu masuk yang sekarang ada aku di balik pintunya. Aku membeku di tempatku sekarang.

"Kau keluar sekarang atau aku akan membunuhmu, Sasuke."

Kata-katanya sudah membuat system syarafku menjadi kaku, aku akan belajar trik untuk membuatnya tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya. Sambil menelan saliva aku membuka lebar pintunya dan melangkah mendekat ke arahnya yang menatapku dari balik kacamatanya. Kenapa dia cantik sekali.

Dia masih memperhatikanku sampai aku sudah berdiri di depannya. "Apa yang kau lakukan di belakang pintu?" tanyanya, sambil beralih menatap bento di pangkuannya. Dia menyumpit chicken yakiniku buatanku dan memakannya. Tidak ada jawaban dariku membuatnya mendongakkan kepalanya, menatapku lagi yang sedang memperhatikannya makan. "Apa bokongmu sakit? Kau bisa duduk tanpa aku menyuruhmu, bukan?" Ucapnya datar sambil mengunyah makanan.

Aku menghela nafas dan duduk di hadapannya. Dia kembali memakan bekalnya. Kami diam untuk beberapa saat, "Kau belum menjawab pertanyaanku," ucapnya, dia membenarkan kacamatanya yang turun. Dan seperti biasa, aku akan berdebar melihatnya melakukan hal itu. "Sedang apa kau di belakang pintu?" lanjutnya, sambil memasukkan salad ke dalam mulutnya, tapi tatapan matanya masih memperhatikanku.

Mulutku baru saja terbuka untuk menjawab pertanyaannya, tapi suara asing yang terdengar menyedihkan membuatku kaget dan menahan erangan. Karena pastinya wajahku memanas sekarang.

Perutku bernyanyi dengan kerasnya.

Sakura bahkan menghentikan sumpit di depan mulutnya saat mendengar suara menyedihkan yang berasal dari perutku. Sial. Aku selalu kehilangan harga diriku di depan gadis ini. Dia menatapku dalam diam, masih menggantungkan sumpit di depan mulutnya yang menganga.

Aku memasang wajah sedatar mungkin, sebisa mungkin aku harus bersikap biasa saja dengan keadaanku yang menyedihkan ini. Aku sudah tidak punya harga diri lagi sekarang. Sakura menutup mulutnya yang menganga, menurunkan sumpit yang ada saladnya tadi ke bento dan kemudian mengambil chicken yakiniku sebagai gantinya. Kemudian tangannya diangkat ke udara, dan membuatku melebarkan mata karena tangannya menuju ke arahku, dan sumpitnya sudah berada di depan mulutku yang tertutup.

Kami terdiam untuk beberapa saat.

Aku menatapnya dengan perasaan senang bercampur bingung. Karena ingin memastikan, apa dia benar-benar melakukan hal ini padaku?

Sakura berdeham, membuatku tersadar. "Tidak perlu kusuruh kau harus apa, bukan?" ucapnya, masih menganggantungkan sumpit di depanku.

Aku akhirnya tersenyum dan membuka mulutku perlahan. Karena ini bukan mimpi. Sakura memasukkan chicken yakiniku ke dalam mulutku lalu mengambilkan nasi dan menyodorkan lagi ke mulutku. Kami bergantian memakan bekalnya. Aku tidak bisa menahan senyum. Ada untungnya mengikutinya kemari, dan aku tidak perlu ke kantin untuk makan dan kerepotan dengan bertemu gadis-gadis yang selalu membututiku.

Sakura sepertinya sering makan siang di sini, kenapa aku tidak pernah tahu? Atau setidaknya, aku tidak pernah melihatnya berjalan ke atap seperti hari ini. Aku mendapat banyak keberuntungan hari ini.

"Kau sering makan di sini?" tanyaku, sambil mengunyah salad yang baru disondorkan Sakura ke mulutku. "Apa kau tidak pernah ke kantin? Apa kau tidak makan dengan teman sekelasmu?" aku memperhatikannya yang masih tenang memakan makanannya.

"Apa setelah makan, sifat ingin tahumu meningkat, Sasuke?" aku menaikkan sebelah alisku, memang salah kalau aku bertanya? Dia mendesah. "Pertanyaanmu barusan terlalu bertubi-tubi. Dan aku tidak terbiasa makan di tempat ramai," dia menyondorkan telur gulung ke arahku. "Lagi pula, aku sudah biasa sendiri. Makan bersama orang lain rasanya agak aneh."

Aku mengangguk sambil mengunyah, dan aku merasa malu sendiri rasanya karena memang tadi aku bertanya padanya secara bertubi-tubi. Aku menatapnya, dia tidak biasa berkumpul dengan orang lain. Dia sama denganku yang tidak suka hal-hal yang merepotkan seperti terlalu banyak orang disekitarku. Tapi, aku masih mau makan di tempat ramai sekalipun. Memperhatikan sumpit yang dimasukkan ke dalam mulutnya membuatku sadar, kalau sejak tadi kami melakukan ciuman tidak langsung melalui sumpit itu. Dadaku tiba-tiba berdebar.

Sakura memperhatikanku dari balik kacamatanya, dia menaikan sebelah alisnya melihatku. "Kau kenapa?" tanyanya, aku mengalihkan perhatianku dari bibir Sakura dan kemudian menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Kau kenyang atau tidak merasa enak dengan makanannya? Kau yang membuatnya tadi pagi, dan kurasa makanan buatanmu baik-baik saja dan enak. Kenapa wajahmu memerah begitu?"

Kupingku memanas. Dadaku berdebar kencang, dan ada sesuatu yang mengelitik perutku sampai rasanya ada sesuatu yang ingin keluar dan membuatku ingin melompat, apa tadi Sakura serius mengucapkannya? Dia baru saja bilang kalau masakkan buatanku enak. Dia baru saja memuji masakkanku.

Sudut-sudut bibirku kembali tertarik ke atas, gejolak diperutku rasanya semakin membuat senyumku melebar. Sepertinya ada kupu-kupu yang terbang saat ini, berasal dari dalam perutku.

Dan bunyi nyaring membuatku kembali ke alam nyata. Bel selesai istirahat selesai, bahkan Sakura sudah mengepak bentonnya dan dia berdiri dari duduknya. "Senyum bodohmu itu benar-benar tidak cocok untukmu, Sasuke." Sakura berjalan meninggalkanku. Aku tersentak dan berdiri dari dudukku. Dia berbalik lagi menatapku. "Ini, minumlah. Kau bukan ular'kan? Yang makan tanpa minum." Dia melempar minuman kaleng ke arahku. Dan aku menerimanya, dia juga tersenyum dan berbalik lagi menuju pintu masuk.

Aku juga ikut tersenyum, dan aku tersadar sesuatu. Aku belum sempat menanyakan hal ini. "Kau sudah memutuskan siapa yang ingin kau perankan untuk menemaniku ke Suna?"

Dia berhenti dan menoleh ke arahku, seringai muncul dibibirnya. "Itu rahasia, Sasuke-kun." Jawabnya sambil berbalik menuju pintu masuk, dia melambaikan tangannya dan berlalu masuk ke gedung sekolah.

Aku berdiri dengan senyum bodoh yang tiba-tiba muncul akibat panggilan Sakura barusan. Dia memanggilku dengan embel-embel kun lagi. Kali ini dengan tampilan putri kacamatanya, aku berjalan masih dengan senyum bodohku menuju kelas. aku tidak sabar menunggu akhir pekan besok untuk liburan pertamaku dengan Sakura.

Putri kacamata atau Cherry. Itu tidak penting.

Itu semua tetap Sakura, dan aku menyukai semuanya.


oOo


Akhir pekan akhirnya tiba, dan aku sudah menyiapkan persiapanku dengan sangat matang untuk liburan yang akan aku dan Sakura lewatkan. Aku tidak mau hal sekecil apapun yang tertinggal atau melenceng dari rencanaku. Semuanya sudah tersimpan dalam memori otakku dengan sangat rapi.

Rencana liburan ala Uchiha Sasuke.

Aku sudah mengepak pakaianku semalam dan menyiapkan tiket yang jelas tidak boleh tertinggal. Pagi ini ayahku membantuku memasak, Sakura belum bangun dari tidurnya karena semalam aku tidak menemukannya di rumah sampai larut malam. Kemungkinan dia pulang terlambat lagi.

"Kalian akan berlibur ke Suna?" tanya ayahku sambil memotong tomat dan memasukkanya ke dalam panci. Aku mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan ayah. "Aku iri dengan kalian, aku juga ingin pergi dengan kalian rasanya."

Aku terkekeh sambil memotong sosis. "Lain kali ayah," ucapku. "Lagipula tiketnya hanya untuk dua orang."

Ayahku mengerucutkan bibirnya. "Jahat sekali kalian meninggalkan orangtua sendirian di rumah," ayah merajuk, kemudian mendesah. "Tapi aku tidak keberatan kalian pergi bersama. Jadi bersenang-senanglah." Ayah menoleh ke arahku dan tersenyum.

Aku ikut tersenyum dan mengangguk. Aku menganduk sup yang akan kami makan sarapan pagi ini, aku dan Sakura tidak masuk sekolah karena kami akan berlibur. Pihak sekolah tentunya tahu karena kompetisi kemarin adalah bagian dari acara sekolah. Aku membawa mangkok ke meja makan, ayah masih mempersiapkan masakan.

Saat di meja makan, aku tergoda untuk berjalan ke kamar Sakura dan menyuruhnya untuk makan. Ayah bilang tadi sudah mengetuk pintu kamar Sakura, tapi dia tidak keluar juga dari kamarnya. Selesai menata mangkok ke meja makan, ayah membawa mangkok besar berisi sup dan piring berisi telur gulung ke atas meja makan.

Ayah mengambil majalah yang tidak jauh dari meja makan, seingatku majalah itu tentang wisata Suna. "Tempat wisata kalian dimuat dimajalah ini, bukan?" aku menoleh menatap ayah yang sedang membuka majalah yang dipegangnya dan membolak-balik halamannya dengan wajah senang. "Wow! Pantai dan gua pasirnya benar-benar menakjubkan," ayah masih membalik halamannya lagi. "Bahkan hotel dan kolam renangnya tidak kalah menakjubkannya, kalian benar-benar membuatku iri." Ayah menatapku yang sudah terkekeh.

Kemudian ayah menutup majalahnya dan melenggang pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja.

Aku masih menata meja makan seorang diri, sampai pintu kamar Sakura terhuyung terbuka dan aku dengan sigap menatap pintu kamarnya, mulutku sudah terbuka untuk bicara denganya, tapi tidak ada suara yang keluar dan aku hanya menganga menatapnya. Sakura baru saja bangun tidur, dan masih terlihat sangat santai. Aku sudah terbiasa dengan pemandangannya yang baru bangun tidur. Itu tetap membuatku berdebar, tapi hari ini, hal itu membuatku kesal.

Apa dia tidak ingat apa hari ini?

"Kau belum bersiap?" ucapku, sambil meneliti ekspresinya yang susah sekali ditebak.

Sakura menoleh ke arahku sambil mengkuncir cepol rambut pinknya, "Siap apanya?"

Aku hampir saja menjatuhkan sendok ke lantai kayu kalau tidak terhalang meja makan, dia benar-benar lupa dengan hari ini?

"Kau ini ingat tidak?!" desisku pelan, mencoba menjaga suaraku tetap tenang karena aku tidak mau meledak di pagi hari yang cerah ini. "Jangan bilang kau lupa dengan liburan kita dan kau juga belum mengepak pakaianmu!"

Dia berjalan mendekat ke arahku dengan menggosok-gosok tengkuk lehernya. "Apa boleh buat, aku bekerja sampai pagi," jawabnya pelan, dia menguap dan membenarkan letak kacamatanya. Dia selalu bisa membuatku berdebar hanya dengan gestur itu. "Jalan-jalannya besok saja ya."

Mataku terbelalak menatapnya, dia bergumam melewatiku dan hanya samar-samar aku mendengarnya. "Cuci muka dan keluarkan seragam." Hanya itu yang aku dengar.

Aku mengepal tanganku dan mendesah keras. Sabar Sasuke sabar. Kau sanggup menghadapinya. Aku menatapnya yang berjalan menuju kamar mandi dan memulai mandinya. Aku pikir dia sudah mulai percaya padaku, dia bilang padaku kalau dia tidak akan pernah memakai topengnya dihadapanku.

Tapi kurasa hal itu masih tetap saja sama sampai sekarang.

Aku akan memaksanya untuk siap-siap dengan rencana liburan kami, dia tidak boleh merusak rencana liburanku yang sempurna ini. Lagipula hadiah ini juga untuknya, kenapa dia tiba-tiba bersikap tidak peduli begini. Padahal waktu menerimanya dia terlihat senang sekali, sampai-sampai rona merah menghiasi wajahnya. Aku menghela nafas, Sakura benar-benar sulit ditebak. Aku duduk di kursi makan bersamaan ayah datang dengan setelan jas-nya dan memulai sarapan pagi.

"Sakura sudah bangun?" tanya ayah sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Aku mengangguk memberinya jawaban. "Baiklah, hari ini sepertinya rumah akan sepi."

Aku kembali mengangguk dan dibarengi senyum bodohku. Tidak akan kubiarkan Sakura merusak hari ini dan kedepannya.


oOo


Aku bergerak gelisah di dalam taksi. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan dan waktuku benar-benar tidak banyak. Ini semua karena gadis kacamata yang aku cintai itu.

"Bisakah kau diam?" ucap gadis di sampingku pelan, aku menatapnya yang sedang menguap dan menatapku bosan. "Kau hanya membuat taksi ini bergerak lambat."

Aku mengeluarkan aura gelapku, dia benar-benar tidak bisa memahami situasi sepertinya. Aku begini juga karena dia, aku hampir saja bergulat dengannya di rumah kalau saja ayah tidak meleraiku dengannya. Sakura tadi bersikeras untuk menunda liburan kami, padahal hal itu tidak dibolehkan karena akomodasi jalan-jalan ke Suna semuanya diuntukkan hari ini bukan hari lainnya.

Dia menyadari aura gelapku dan mengangkat tanganya, "Oke, aku diam." Dia menatapku dengan ekspresi datarnya.

Aku mendesah dan menatap depan lagi.

Semoga kami tidak ketinggalan kereta.

Sudah bermenit-menit perjalanan menuju stasiun dan keberangkatan kami tinggal beberapa menit lagi. Saat sampai di Stasiun aku berlari dengan Sakura yang kutarik tangannya. Kami mencari kereta yang akan membawa kami ke tujuan liburan kami, karena Sakura membawa beban berat aku menarik tasnya dan membawanya. Tangan kirinya kugandeng dan kami berlari menuju peron keberangkatan kereta menuju Suna.

Waktu kami tidak banyak dan saat kami sudah sampai di peron yang benar. Kereta sudah berjalan. Aku panik bukan main dan aku berlari dengan Sakura yang berlari di belakangku. "Tunggu!" teriakku ke kereta yang masih berjalan pelan meninggalkan Stasiun, aku menggapai ganggang pintu untuk bisa naik. Akhirnya setelah tiga kali gagal menggapi ganggangnya, aku berhasil dan Sakura masih berlari sampai aku menarik tangannya. Kami berdua sudah masuk ke kereta dan terjatuh dengan Sakura menindihku.

Sakura buru-buru berdiri dan membersihkan pakaiannya. Aku mengikutinya berdiri dan menatapnya tajam. "Ini gara-gara kau," ucapku marah. "Kita hampir saja ketinggalan kereta dan tiket liburannya akan hangus."

Dia mendesah dan mengambil tas yang terjatuh bersamaan dengan kami. "Baik-baik, aku minta maaf," ucapnya sambil membenarkan kacamatanya. "Tempat duduk kita sebelah sana, 'kan?" dia membawa tasnya dan meninggalkanku yang terdiam mendengarnya meminta maaf, ini baru pertama kalinya aku mendengarnya minta maaf. Aku menggeleng dan berjalan menyusul Sakura sambil menyambar tasnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya, alisnya terangkat tinggi saat aku mengambil tasnya.

"Aku laki-laki, mana boleh melihat seorang gadis membawa tasnya dan ini juga berat." Ucapku sambil mengangkat tasnya yang tidak terasa berat di tanganku.

Sakura tiba-tiba memalingkan wajahnya, aku mengerutkan dahi menatapnya. "Menyebalkan." Dia bergumam dan berjalan menuju tempat duduk kami.

Aku masih menatapnya bingung, memang kenapa kalau aku membawakan tasnya? Aku mengangkat bahu dan mengikutinya dari belakang. Sakura sudah duduk dan menatap luar jendela, aku menaruh tas kami di atas tempat duduk kami dan duduk di sampingnya. Dia kemudian menguap.

"Pakai mantelmu, Konan." Aku menoleh dan mendapati sepasang pemuda pemudi yang duduk tepat di sebelahku. Seorang pemuda berambut orange sedang menyuruh seorang gadis berambut violet memakai mantel. Sepasang kekasih rupanya.

Laki-laki itu memakaikan mantel ke kekasihnya. "Sudah tidak dingin?" tanyanya dengan nada lembut.

Aku melihat gadisnya dan dia hanya memasang wajah masam sambil berucap. "Hm."

Meski begitu mereka terlihat serasi. Mungkin aku harus mencobanya ke Sakura, aku mengambil mantelku. "Sakura, pakai dulu man—" mulutku menganga melihatnya dengan tangan terangkat membawa mantel dan berhenti sebelum sampai ke tujuan semula.

Sakura sudah tertidur dengan suara dengkuran halusnya.

Bagaimana dia bisa tidur secepat ini?

"Sudahlah! Kau ini berisik sekali!"

Aku menoleh ke arah sampingku lagi, gadis itu menyingkirnya mantel ke arah kekasihnya. Mereka bertengkar rupanya. Saat aku sedang memperhatikan mereka, laki-laki berambut orange menatapku. Gawat. Aku selalu ketahuan kalau sedang memperhatikan sesuatu. Sial.

Dia tertawa pelan ke arahku. "Kau jalan-jalan berpasangan juga?" ucapnya, aku menatapnya lagi. "Hubungan kami mulai dingin karena sudah lama berpacaran. Makanya jadi seperti ini…"

Dia yang berpacaran saja bisa dingin. Sedangkan aku yang belum berpacaran pun sudah sedingin kutub selatan dan utara sana. Bagaimana menurutmu? Ucapku dalam hati.

"Oh, siapa namamu?" ucapnya sambil menyondorkan tangannya ke arahku. "Aku Yahiko, Ohashi Yahiko."

Aku menjabat tangannya. "Sasuke. Uchiha Sasuke."

Dia mengangguk, dan kami melepas jabatan tangan kami. "Tujuan liburan kalian dimana?" tanyanya, dengan tatapan penuh harap dengan jawabanku.

"Ke Onsen Suna, Hotel Akatsuki, goa pasir dan lainnya."

Dia tersentak dan bersorak senang. "Kenapa bisa kebetulan begini?" cicitnya senang, dia mengambil selembaran kertas di sakunya dan memperlihatkannya ke arahku. "Liburan kami juga sama sepertimu, dan kalian juga berpasangan. Bagaimana kalau kita sama-sama menikmati liburan di Suna?" aku melirik ke belakangnya, gadis di sampingnya terlihat bosan sambil menatap luar jendela. "Oh. Dan bagaimana kalau kita bertukar pasangan?"

Aku menatapnya dengan tatapan hororku, dia justru memasang senyum tanpa dosa. Dan gadis di sampingnya sama terkejutnya denganku.

"Apa yang kau ucapkan, Yahiko?!" seru gadis di sampingnya. "Kenapa kau menyuruhku berpasangan dengan orang asing itu…" gadis itu menatapku dan mulutnya tiba-tiba menganga dengan mata berbinar, laki-laki yang menjadi kekasihnya menatap gadisnya dan aku bergantian. "Baiklah, aku mau bertukar pasangan, karena laki-laki ini tampan sekali."

"Apa!" aku dan laki-laki berambut orange bernama Yahiko itu berseru bersamaan.

"Berisik sekali…" aku mendengar Sakura terbangun dari tidurnya. Aku menoleh ke arahnya.

"Aku tadi bercanda, Konan," aku masih mendengar pertengkaran pasangan di sampingku dengan bosan. Dan tentunya dengan memutar mataku. "Kenapa kau mau?"

"Aku ingin berganti suasana." Mulutku sudah menganga mendengar ucapan gadis itu, aku dijadikan barang oleh mereka? Lagipula, aku tidak mau Sakura berduaan dengan laki-laki lain.

"Ada apa ini ribut-ribut?" Sakura sudah duduk tegak sambil melepas kacamatanya untuk mengusap matanya.

Aku menutupinya. "Kau, kau tidurlah lagi," ucapku, berusaha menyembunyikan sosoknya yang cantik ini dari orang lain.

"Wow! Pacarmu cantik sekali," aku membelalak mendengar ucapan laki-laki di belakangku, Sakura sudah memasang lagi kacamatanya. "Kalau begitu aku mau bertukar pasangan."

"Apa!" giliranku dan gadis berambut violet di samping Yahiko itu berseru.

Laki-laki berambut orange ini mendekat ke Sakura, dan menarik tangan Sakura lalu mengecupnya. "Hai. Namaku Yahiko, Ohashi Yahiko, siapa namamu nona?" bisiknya menggoda sambil tersenyum ke arah Sakura.

Aku mengeluarkan aura gelapku sambil memincingkan mata menatapnya, Sakura bahkan tidak melepas atau memberontak setelah tangan kotor laki-laki ini menyentuh tangannya. Sakura membetulkan kacamatanya. "Sakura. Haruno Sakura."

Mulutku sudah menganga mendengar Sakura menjawab pertanyaan laki-laki orange ini. Laki-laki itu tersenyum dan membawa tangannya ke arah telinga Sakura. "Nama yang cocok untukmu, sebaiknya kau lepas kacamatamu." Laki-laki itu sudah melepas kacamata Sakura dan membuatnya menjadi Cherry sekarang, meski masih ada kepang di rambutnya. "Kau terlihat semakin cantik seperti ini."

Aku ingin memukul laki-laki ini. "Yahiko! Apa yang kau lakukan?" seru gadis di sampingku, dia sudah berdiri rupanya.

Yahiko, laki-laki berambut orange ini menatap kekasihnya. "Aku menuruti maumu yang ingin bertukar pasangan." Ucapnya datar.

Cukup sudah.

"Berhenti bicara sembarangan!" geramku. Aku menatap laki-laki di depanku. "Aku tidak setuju dengan ucapanmu barusan. Lagipula, aku sudah merencanakan liburan special dengan Sakura, aku tidak mau kau merusaknya. Aku ingin membawanya di Goa Pasir yang terkenal dengan pemandangan indahnya karena di sana suasana gelap dan membuatnya ketakutan supaya dia bisa memelukku, berendam bersama dengannya di kolam renang yang menghadap langsung ke pemandangan, dan akhirnya kita bisa tidur berdua bersama. Lalu kami bisa berciuman."

"Jadi kau merencakana hal itu untukku, Sasuke?"

Aku membelalak dan buru-buru mengatupkan bibirku. Sialan! Aku kelepasan bicara, astaga… apa yang baru saja kulakukan? Rencana rahasiaku sekarang terbongkar sudah. Dan aku tidak punya wajah untuk menatap Sakura karena sudah merencanakan hal ini. Ya, tuhan, aku benar-benar malu sekarang.

Kemana harga dirimu sekarang Uchiha Sasuke?

Sakura menggelengkan kepala sambil memijat pangkal hidungnya. "Tidak kusangka aku akan diserang oleh adikku sendiri."

"Apa?! Adik? Kalian tidak sepasang kekasih?" Aku manatap tajam laki-laki orange di depanku ini. "Jadi, tidak masalah kalau kau berpasangan denganku, bukan?"

Aku melirik Sakura, dia terlihat tidak keberatan. Aku tidak bisa apa-apa sekarang, harapanku tinggal kekasih laki-laki orange ini. Aku meliriknya, dia siap untuk mengeluarkan protesnya.

"Yahiko!" serunya, "Bagaiamana denganku? Kau lupa kalau berlibur denganku?"

Laki-laki di depanku ini mendesah. "Bukankah kau yang mau, aku hanya menurutimu," ucapnya dingin, aku ingin sekali menonjoknya. Tapi Sakura sudah menatapku tajam, aku akhirnya diam tidak melakukan apa-apa.

Gadis bernama Konan ini pun hanya diam dan menatap Sakura sambil menahan kesal. Aku sebenarnya tidak suka ada gadis yang memandang Sakura begitu. Tapi, mau bagaimana lagi, posisiku juga benar-benar dalam keadaan bahaya sekarang.

"Nah. Selama kau menjadi pasanganku, rambutmu harus digerai." Aku membelalak. Tolong jangan buat Sakura menggerai rambutnya, itu hanya boleh dilakukannya di dalam rumah dan hanya di klub yura saat menyamar. Tangan Yahiko dengan cepat sudah berada dipunggung Sakura dan melepas ikatan kuncir di sana dan mengerai rambut Sakura. "Kau terlihat seksi, dan matamu juga indah. Tinggal merapikan rambutmu, bagaimana?"

Sakura… kau harus menolaknya. Kau harusnya berlibur denganku, bukan dengannya. Aku mohon tolaklah permintaan kepala orange ini. Aku memohon-mohon dalam hati sambil menatapnya dengan tatapan memohon. Harga diriku turun lagi.

Yahiko meneloh ke arah kekasihnya. "Konan, pinjami sisir dan jepit rambutmu."

Konan tanpa penolakan langsung berbalik sambil menghentakkan kakinya mengambil permintaan Yahiko, aku masih menatap Sakura penuh harap. Dia terlihat tidak senang dengan perlakuan Yahiko barusan, dia tidak nyaman. Dan aku masih berharap Sakura menolak permintaan Yahiko.

"Hn, tentu saja."

Mulutku menganga mendengar jawaban setuju dari Sakura. Apa yang dia pikirkan?

Akhirnya Sakura membenarkan rambutnya dan berubah menjadi Cherry dalam sekejap, Yahiko tersenyum senang sambil duduk ke tempatnya semula bersama Konan. Karena sebentar lagi kereta yang kami tumpangi akan sampai di tujuan liburan kami. Sedangkan aku, jangan ditanya. Suasana hatiku benar-benar kacau, aku mengatupkan mulutku selama sisa perjalanan kami di kereta.


oOo


Kami sudah menaruh barang bawaan kami di hotel dan langsung menuju pantai dengan pemandangan pasir dan air yang menakjubkan. Kami berempat berjalan beriringan ke pantai. Dan hanya dua orang yang tersenyum dengan pemandangan di depan. Sakura dan Yahiko.

Aku dan Konan berwajah masam.

Di sinipun masih banyak gadis yang melirikku merona dan ditambah laki-laki yang melirik Sakura karena penampilannya yang berubah menjadi Cherry.

"Aku ganti baju dulu, kau ganti juga Sakura," ucap Yahiko sambil mengedipkan satu mata ke arah Sakura. "Nanti kita berenang bersama." Sakura hanya mengangguk memberi jawaban ke Yahiko.

"Seharusnya kau marah bukan?" Aku menoleh dan mendapati tatapan tajam dari Konan yang berdiri di sampingku. "Dan apa-apaan gadis itu? Tadi dia terlihat biasa saja saat memakai kacamata, kenapa sekarang menjadi seperti itu? Aku akan membuktikan ke Yahiko kalau aku bisa lebih cantik dari gadis itu."

Konan yang selesai mengoceh di sampingku berjalan cepat meninggalkanku dengan alis terangkat tinggi, aku hampir saja ingin membalas ucapannya barusan tapi kuurungkan karena ada suatu hal yang harus kulakukan. Aku menghampiri Sakura yang berjalan menuju ruang ganti.

"Sakura…" dia menoleh ke arahku dan berhenti berjalan. "Pakai kembali kacamatamu, ini masih terlalu awal untuk menjadi Cherry." Ucapku sambil mengarahkan kacamatanya ke arahnya.

Dia menggeleng menghindar dari kacamatanya. "Biar begini saja," ucapnya sambil tersenyum. "Lagipula aku tidak mau dapat omelan Kakashi karena membuat wajahku terbakar dan ada bekas lingkaran karena memakai kacamata." Sakura kemudian melirik ke arah kerumunan laki-laki yang menatapnya penuh kagum dan terpesona padanya. "Yang penting nikmati saja."

Sakura mengedipkan satu matanya dan tersenyum ke arah kerumunan di samping kami dan mereka berseru senang. Aku menatap ke arah samping juga, dan para gadis-gadis pun berseru senang menatapku. Aku hanya menoleh tanpa melakukan apa-apa, tapi pipi mereka sudah merona.

Saat aku menoleh untuk bicara dengan Sakura lagi, dia sudah menjauh dariku. Sial!

Dia benar-benar menguji kesabaranku. Bahkan tadi kulihat laki-laki menatapnya dengan mata berbinar seperti Naruto yang menatap Cherry. Baiklah, aku juga bisa menikmati suasana ini. Aku tidak akan membiarkannya menang kali ini. Lagipula, aku tidak perlu berganti pakaian. Aku sudah memakai celana tiga per empat warna navy, kaos warna coklat dan kemeja lengan pendek. Memakai ini saja sudah cukup untuk membuat gadis-gadis berteriak histeris.

Yahiko kembali dengan pakaian yang sama denganku, celana tiga per empat berwarna chocho dan kaos putih. Dan tidak sedikit gadis-gadis yang melihatnya merona. Aku mendengus, karena bagaimanapun juga Sakura tidak akan pernah tertarik dengan laki-laki tebar pesona sepertinya. Apa dia lupa kalau sudah memiliki kekasih?

Kemana kemesraan yang terjadi di kereta tadi? Saat dia memakaikan mantel ke kekasihnya itu. Ini gara-gara dia mengucapkan hal yang membuatku naik darah seperti sekarang ini.

"Dimana Sakura?" Yahiko memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil melihat sekelilingku, mencari Sakura. "Apa dia masih ganti baju?"

Aku mendengus. "Apa urusanmu?" aku memincingkan mata ke arahnya. Dia benar-benar mau berurusan denganku rupanya. "Kau urus saja pacarmu."

"Kita sudah bertukar pasangan sejak turun dari kereta. Itu sudah bukan kewajibanku lagi."

Aku mengepalkan tangan dikedua sisi tubuhku. Mulut tajam orang ini, benar-benar tidak bisa dimaafkan. Aku tidak akan membiarkan Sakura dekat-dekat dengannya, bagaimanapun caranya aku harus membuat Sakura bersamaku terus. Karena memang ini liburan yang harusnya untuk kami nikmati bersama.

"Kalian menunggu lama?" Yahiko tersenyum mendengar suara Sakura yang datang dari arah samping kami, aku menoleh bersamaan dengan Yahiko. Dan sekita mulutku menganga melihat penampilannya.

"Wow! Kau seksi sekali, Sakura-chan."

Mulutku langsung terkatup dan rahangku mengeras mendengar ucapan Yahiko. Dia menatap Sakura tanpa berkedip. Bahkan laki-laki yang berada di pinggiran pantai sama dengannya saat menatap Sakura, apa yang dipikirkannya? Kenapa dia memakai pakaian seperti itu? Aku tahu ini pantai. Tapi, aku tidak menyangka dia akan berpakaian seperti itu di depan orang banyak. Memakai bra bermotif blaster dan hot pants? Sungguh sempurna kalau hanya aku saja yang dapat melihat penampilannya ini.

Sakura tidak keberatan dengan penampilannya. Tapi, aku sangat keberatan. Dia terlihat santai dan berjalan mendekati kami. Harus kuakui, dia benar-benar membuatku kepanasan dengan penampilannya ini, aku belum pernah melihatnya berpakaian seperti ini, maksudku melihatnya berpakaian seperti ini di depan banyak orang. Waktu dia menjadi dj pun pakaiannya tidak terbuka seperti ini, dadaku berdebar tidak karuan memandangnya.

Sosoknya yang menjadi Cherry benar-benar memiliki daya tarik sendiri. Dia mengkucir kuda rambutnya saat sampai di antara aku dan Yahiko. Aku harus bisa menahan emosiku yang mendapati laki-laki yang masih menatapnya lapar.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain dan mendapati kekasihnya Yahiko berjalan mendekat ke kami dengan wajah murung. Aku menautkan alis menatapnya, dia belum berganti pakaian. Dia bilang padaku tadi ingin mengganti pakaian dan ingin bersaing dengan Sakura, kenapa pakaiannya masih sama dengan yang tadi?

"Aku lupa membawa baju ganti," ucapnya dengan wajah masam, terjawab sudah pertanyaan di kepalaku tadi. Aku melirik ke arah Yahiko dan dia tidak bereaksi apa pun mendengar pernyataan dari Konan. "Bisa kita tidak berenang di pantai?"

Sakura menatap Konan dengan wajah pokerface sambil menyilangkan tangannya di dada, sedangkan Yahiko mendekat ke arah Sakura. dia benar-benar serius dengan ucapannya barusan? Tidak memiliki kewajiban lagi? Tidak bisa dipercaya.

Aku mendesah. "Kita ke Goa pasir saja," aku menatap ketiga orang yang berdiri mengelilingku. Aku menatap tajam ke arah Yahiko, aku harus menjauhkannya dari Sakura. "Dan kita berpisah dari sini."

Dan aku akan bisa berduaan dengan Sakura di Goa pasir.

Sakura mendesah dan melepas lipatan tangan di dadanya. "Baiklah, kau dengan Konan dan aku dengan Yahiko."

Mataku terbelalak mendengar ucapan cepat yang meluncur dimulut Sakura, aku menatapnya yang sudah mendekat ke Yahiko dan si orange itu mendekap bahu Sakura.

"Kau benar-benar seksi memakai pakaian begini, Sakura." telingaku memanas lagi mendengar ucapan tidak sopan dari Yahiko, mataku memincing tidak senang menatap mereka berdua.

Aku menoleh ke Konan, "Hei, Kau," aku menahan untuk berteriak memanggilnya, "Kenapa kau diam saja? Dia pacarmu, seharusnya kau marah bukan?" tanyaku sarkastis, rahangku rasanya mengeras sekali saat melirik ke arah Sakura dan Yahiko.

Konan menoleh ke arah lain. "Biarkan saja mereka," ucapnya pelan dan terdengar putus asa, aku bisa mendengar ucapannya dan mulutku menganga. "Laki-laki penggoda sepertinya, aku bisa apa?"

"Kau bilang apa barusan, Konan?!"

Bahu Konan tersentak dan menatap ke arah Yahiko dengan seringai palsunya. "Eh, aku tidak bicara apa-apa, benarkan?" dia menatapku sambil melototkan matanya. Aku mendesah dan mengangguk. Pasangan aneh. "Sebaiknya kita segera ke Goa Pasir."

Yahiko mengangkat bahu sambil merangkul bahu Sakura berbalik menuju lokasi Goa Pasir tujuan kami, aku menatap tangan Yahiko yang melingkar di bahu Sakura yang tidak ada sehelai kain apapun kecuali bra motif blasternya, aku berjalan cepat meninggalkan Konan. "Tunggu!" seruku, Sakura dan Yahiko berhenti berjalan dan menoleh ke belakang, menatapku dengan dahi berkerut. "Aku perlu memakaikan ini." Aku melepas cepat kemejaku dan memakaikannya di tubuh Sakura, Yahiko diam menatapku melakukan hal ini, sedangkan Sakura menatapku diam tanpa ekspresi seperti biasa. Dia susah ditebak. "Kau nanti kedinginan." Lanjutku sambil mengaitkan satu kancing kemejaku, tepat di depan dadanya. Dan pipiku memanas melakukan hal ini.

Ini di luar dugaanku, tubuhku bergerak sendiri.

Setelah selesai, Yahiko berdeham dan merangkul Sakura untuk berbalik melanjutkan perjalanan menuju Goa Pasir. "Kau urus pasanganmu sendiri, Sasuke."

Rahangku mengeras dan tanganku terkepal di sisi tubuhku, mereka berjalan pelan tanpa menunggu kami. Konan berdiri di sampingku dan menatapku, seolah mengajakku untuk segera berjalan mengikuti mereka. Akhirnya aku berjalan dengan jarak satu langkah dari Konan, menatap punggung laki-laki berambut orange dan gadis berambut merah muda. Jeruk dan Cherry. Benar-benar manis.


oOo


"Wow! Indahnya!" Sakura berdecak kagum setelah sampai di Goa Pasir, dan Yahiko terkekeh melihat ekspresi Sakura yang berbinar menatap pemandangan menakjubkan di dalam Goa Pasir ini. Tangan Yahiko tidak lagi merangkul bahu Sakura, melainkan tangan Sakura yang mengait di tangan Yahiko. Membuatku diam sampai aura gelapku menguar kepenjuru tubuhku.

Sosok Cherry yang terkadang pendiam dan juga bisa riang seperti saat aku mengikuti kompetisi tempo hari untuk memenangkan jalan-jalan ke Suna saat itu dikeluarkan Sakura sekarang, dan ini membuatku semakin kesal dan marah. Tentu saja. Karena seharusnya hal semacam ini tidak terjadi di acara liburan kami. Kami berdua. Aku dan Sakura-ku.

Mereka berjalan di depanku dengan sesekali Yahiko menunjuk artefak yang terdapat di tiap lorong yang kami lewati. Ini benar-benar bencana. Aku yang seharusnya di samping Sakura saat ini, bukan Yahiko. Laki-laki orange itu sudah merusak suasana, aura gelapku menguar seiring aku berjalan membututi mereka berdua. Tangaku terkepal di dalam saku celanaku.

"Hei Sasuke, lihat itu, ada boneka pasir yang terpajang di sana," Konan yang berjalan di sisiku mengoceh sejak masuk di Goa Pasir. Dia terlihat biasa saja melihat kekasihnya seperti itu ke Sakura, membuatku semakin mengeraskan rahangku. "Kau lihat itu tidak … ada istana pasir. Indah sekali."

"Ya. Kau benar! Itu indah sekali!" desisku pelan, dari ujung kaki sampai kepalaku rasanya ingin meledak karena melihat adegan di depan sana. Aku yakin Konan menyadari auraku ini, dia bergidik ngeri di sampingku dan tidak lagi mengajakku berbicara. Aku tidak peduli.

Yang aku pedulikan adalah dua pasangan berambut nyetrik di depanku sana.

Apa harus sedekat itu mereka? Kenapa Sakura mau mengaitkan tangannya di tangan Yahiko. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Yahiko sama sekali tidak mempedulikan pacarnya dan Sakura tidak mempedulikan aku yang jelas-jelas pasangan berliburnya.

"Awas Licin!" Aku bersiap untuk berlari untuk menangkap Sakura yang hampir terjatuh karena terpeleset. Tapi aku gagal, karena Yahiko yang dekat dengannya bisa menangkapnya dalam sekejap. Tapi, aku mendengar barang terjatuh. "Hati-hati kalau berjalan Sakura, kau terlalu senang untuk menuruni tangga." Aku semakin mengerang dalam hati melihat adegan di depanku.

Kapan ini berakhir…

Sakura berdeham. "Terima kasih, Yahiko."

Aku mendengus mendengar Sakura berterima kasih, bahkan aku tidak pernah mendengarnya berterima kasih padaku. Ini membuatku semakin frustasi. Tapi setelah aku pikir-pikir sosok Konan yang berdiri di sampingku tidak terlihat, kemana dia? Dia bahkan tidak berteriak melihat Yahiko menyelamatkan Sakura tadi. Aku mengedarkan pandanganku dan mataku terbelalak menemukannya tergeletak telentang. Jadi, yang kudengar barang terjatuh adalah dia.

"Kau tidak apa-apa?" tanyaku. Memandangnya yang sudah meringis kesakitan.

Dia melambaikan tangannya ke arahku. "Pinjam tanganmu," gumamnya.

Aku melirik ke belakang dan mereka masih berbicara sambil melepas senyum. Dadaku berdenyut melihat hal itu, aku menggeleng dan membawa tanganku ke tangan Konan untuk menolongnya. Dan hal berikutnya benar-benar mengejutkanku, dia menarik tanganku dan kami bedua sama-sama terjatuh. Orang-orang yang melihat kami terkekeh. Memalukan.

Apa maunya gadis ini.

"Kenapa kau menarikku?!" geramku, bokongku rasanya sakit sekali.

Bukannya merasa bersalah, dia malah terkekeh. "Maafkan aku," ucapnya, sambil menahan tawanya. Aku mengatupkan bibirku, Konan akhirnya tertawa lepas "Kau tidak apa-apa kan? Aku tadi hanya bercanda."

Aku mendengus, sebenarnya aku tidak tahu maksud dan tujuan gadis ini. Tapi, mungkin dia sedang menarik perhatian Yahiko. Aku melirik ke depan dan mereka ternyata sedang memperhatikan kami.

Yahiko terlihat mendengus di sana, "Konan itu…" aku mendengar suara pelan Yahiko dan Sakura hanya diam masih memperhatikanku dengan Konan. "Kenapa dia terlihat senang begitu?!"

Ada nada tidak senang dari Yahiko saat mengucapkan kalimatnya tadi. Sakura menatap Yahiko. Aku berdiri dari terjatuhku tadi bersama Konan.

"Kau…"

"Hei Sakura," Suara Yahiko kini terdengar jelas di telingaku, ucapan Sakura tadi dipotong olehnya. Konan yang masih duduk langsung berangsur berdiri. "Bagaimana kalau kita benar-benar menjadi sepasang kekasih saja?"

Mataku terbelalak, mungkin Konan juga melakukan hal yang sama denganku. Nafasku naik turun, sudah cukup. Laki-laki orange bernama Yahiko ini sudah kelewatan. Aku tidak bisa tinggal diam saja. Aku menghampirinya dengan tangan terkepal dan semuanya terjadi begitu saja, aku mendengar teriakan Konan dan Sakura. nafasku masih naik turun setelah melayangkan satu pukulan di wajah Yahiko.

Aku menatapnya dengan wajah kaget.

Apa yang baru saja kulakukan? Aku tidak sadar memukulnya.

"Apa yang kau lakukan?!" Yahiko menyentuh darah yang keluar dari sudut bibirnya dan menatapku marah.

Tanganku terkepal di sisi tubuhku, aku masih mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Aku tidak bermaksud untuk memukulnya dan aku baru pertama kali ini memukul orang, terkecuali Naruto. Itupun hanya bercanda. Tiba-tiba bahu kananku ditarik dan aku terdiam setelah apa yang baru saja terjadi.

Sakura, dia menamparku dengan sedikit keras di pipi kiriku.

"Apa kau tahu untuk apa orang datang ke Suna?" bisiknya pelan dan terdengar dingin, ini suara terdingin yang pernah aku dengar, bahkan pancaran matanya terlihat semakin tajam. Aku masih berdiam menatapnya. "Suna adalah tempat untuk rileks," dia kembali berbicara dan suaranya semakin dingin, suasana disekelilingku semakin membeku dengan mendengar suaranya saja. "Tapi, kau justru mengeluarkan aura aneh dan bikin capek!" Setelah mengucapkan kata-kata itu, kata-kata dinginnya, dia berpaling dariku dan memandang Yahiko.

Dan aku masih berdiri diam sampai merasakan dadaku berdenyut cepat mendengar ucapannya.

"Kau tidak apa-apa, Yahiko?" aku mendengar ucapan Sakura dan dia mendekat ke arah Yahiko. "Bibirmu masih berdarah."

Yahiko menggeleng sambil melepas jarinya dari mulutnya. "Aku baik-baik saja."

"Kau ada peralatan P3K di kamarmu?" Yahiko menggeleng dan Sakura mendesah. "Baiklah, kuobati dulu lukamu, aku punya P3K di kamarku. Ikuti aku." Sakura membantu Yahiko berjalan dan berbalik meninggalkan kami berdua.

Konan yang berdiri di sampingku tersentak dan maju selangkah. "Hei! Kenapa di kamarmu Sakura-san!"

Yahiko menoleh menatap tajam Konan. "Kenapa?!"

Konan kembali tersentak dan diam membeku sama sepertiku. "Eh… tidak apa-apa." Gumamnya gugup.

Akhinya mereka pergi berjalan di atara kerumunan orang-orang yang menyaksikan adegan kami berempat dan meninggalkan dua pecundang menyedihkan seperti kami di dalam Goa Pasir yang penuh dengan pasangan kekasih. Benar-benar menyedihkan. Dan seharusnya hal seperti ini tidak terjadi.

Kau kalah lagi Sasuke


oOo


Sore berubah menjadi senja. Matahari siap untuk turun dari langit, dan aku di dalam kolam renang dengan bermandikan pemandangan yang menakjubkan di depanku ini sendirian. Sendirian. Seharusnya kami berdua. Aku dan Sakura sedang menikmati sunsite di sini. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa indah. Karena bisa berenang sambil menyaksikan matahari terbenam. Benar-benar romantis.

Sebelum bencana datang mendatangi kami berdua.

Aku mendesah. Sebenarnya, apa yang kulakukan? Dan apa yang dilakukan Sakura dan Yahiko di kamar yang seharusnya untuk aku dan Sakura itu. Aku bahkan tidak bisa masuk ke dalam kamar dan memutuskan untuk langsung berenang saja ke sini.

Rencana liburanku bersama Sakura kacau semua.

Aku menggeleng dan mendesah keras. Aku tidak peduli lagi, terserah mereka mau melakukan apa. Aku benar-benar tidak peduli.

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang masuk ke dalam air. "Sasuke …"

Aku tersentak. "Sakura…" aku memutar tubuh dan tubuhku membeku melihat gadis ini sudah berendam di dalam air.

Tidak mungkin, kenapa Konan yang ada di sini?

Dia merendamkan tubuhnya ke dalam air. Seluruh tubuhnya. "Sekarang waktunya untuk berenang bersama. Asiknya …"

Aku diam di tempatku tadi, apa mau gadis ini sekarang? "Bagaiamana dengan Yahiko?" ucapku datar. Aku memang tidak tertarik dengan gadis di depanku ini. Tapi aku harus waspada dengan apa yang akan dia lakukan nanti.

"Aku tidak peduli lagi dengan laki-laki sepertinya," aku tersentak karena Konan dengan cepat sudah berdiri di depanku dengan jarak dua puluh centi. Dan aku langsung menatap arah lain, tidak tergoda dengan tubuh polosnya. "Dia sudah bermesraan dengan gadis lain, dan lebih parahnya di depan pacarnya sendiri." Dia berseru dengan wajah memerah.

Aku mendengus mendengar ucapannya. "Bukankah kau menyetujui tukar pasangan yang diajukan oleh pacarmu itu?!" desisku marah, kalau dia tidak menyetujui permintaan Yahiko dari awal, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

Konan ikut mendengus, "Bukannya kau juga tidak dihargai?" ucapnya skeptis, rahangku mengeras saat teringat Sakura menamparku tadi, dadaku sudah berdebar cepat sekarang. "Karena itu … bagaimana kalau kita berdua bersenang-senang, Sasuke?" Tiba-tiba Konan menarik tengekuk leherku dengan mata yang sudah tertutup. Aku baru saja ingin mendorongnya menjauh sebelum seseorang membuatnya menjauh dariku.

"Cukup!"

Nafasku tercekat melihat siapa yang mendorong Konan menjauh dariku. Sakura.

Aku benar-benar akan diserang kekasih orang? Aku harus benar-benar bisa bertindak tegas sekarang. Mulutku baru saja terbuka untuk mengucapkan terima kasih, tapi Sakura melemparkan handuk yukata ke arahku. Aku menatap depanku dan Yahiko berdiri di atas kolam renang dengan plester tertempel di sudut bibirnya.

Setelah aku sadari, Sakura memakai kacamatanya sekarang dengan berbalut handuk yukata, tapi dia menggerai rambut pink panjangnya.

"Kau pergi wisata dengan pacarmu, tapi bisa-bisanya kau mandi bersama dengan laki-laki lain?" ucapan Sakura yang terkesan biasa itu mampu membuat Konan tersentak.

"Tidak kusangka kau begitu Konan…" Giliran Yahiko yang berucap.

Mereka berdua menatap Konan dengan tatapan seolah semua ini adalah kesalahannya.

"Eh, itu…"

Aku yang masih berada di dalam kolam renang memandang mereka bertiga bergantian. Ini seolah aku yang bersalah di sini, dan aku yang seperti ketahuan membawa kekasih orang untuk menemaniku mandi bersama. Ya, tuhan, dosa apa yang sudah aku lakukan?

"Tapi… itu tidak masalah. Kalau itu maumu…" Sakura melepas kacamatanya dan mendekat ke Yahiko, dan detik berikutinya, Yahiko membawa tangannya ke bahu Sakura dan terus turun ke bawah melewati tangan Sakura. "Kami tidak akan sungkan lagi."

Akhirnya tangan Yahiko berada di pinggul Sakura dan Sakura melingkarkan lengannya di leher Yahiko. Aku sudah berdiri dan memakai handukku. Aku berharap mereka tidak melakukan ciuman. Tolong Sakura, tolong jangan lakukan itu. Aku sudah hampir dekat dengan mereka dan tiba-tiba Konan menarik bahu Sakura.

"Apa yang kau lakukan, eh!" Sakura mundur selangkah setelah ditarik paksa Konan. "Apa yang mau kau lakukan dengan Yahiko-kun, huh?!" Tangan Konan sudah melayang ke udara untuk menapar Sakura, aku berlari lagi untuk mencegah gadis itu menampar Sakura dan detik berikutnya, semua terjadi dengan cepat.

Aku dan Sakura terbelalak menatap adegan yang baru saja terjadi.

Aku berhenti saat Sakura terdorong ke arahku dan aku menahannya, Konan sudah menangis dengan tangan bergetar yang masih melayang di udara. Yahiko yang berdiri di depannya menatap Konan dalam diam setelah menerima tamparan kekasihnya itu, Sakura tadi di dorong Yahiko menjauh sebelum tangan Konan melayang ke pipi Sakura. Jadi, aku menangkap Sakura supaya tidak terjatuh.

Tangan Konan terjatuh di sisi tubuhnya, masih bergetar begitu juga bahunya yang terlihat jelas bergetar, kepalanya tertunduk "Kenapa kau melindunginya?" suara Konan terdengar gemetaran, tangannya terkepal. "Dan kau! Apa kau sadar, kalau kau itu pacarku! Pacarku Yahiko!" Konan berseru sambil mendongakkan kepala menatap Yahiko yang diam di hadapannya.

Aku melirik ke arah Sakura yang berdiri di sisiku. Dia terlihat tenang melihat adegan di depannya, seolah dia tidak ikut dalam masalah mereka berdua. Aku menatap depan lagi.

Yahiko menggerakkan tangannya menuju wajah Konan. Aku mengira Yahiko akan membalas berbuatan Konan, ternyata dugaanku salah. Yahiko menghapus airmata Konan.

"Konan… Ini pertama kalinya kau cemburu padaku." Yahiko masih mengusapkan tangannya di pipi Konan dengan senyum yang keluar dari sudut bibirnya, aku menautkan alis mendengar ucapannya. "Kau sampai mengeluarkan emosimu seperti ini."

"Yahiko…" aku mendengar Konan bergumam.

Yahiko masih mengusap-usap pipi Konan, dia menunduk dan mendesah. "Sikapmu yang cuek itu membuatku berpikir kalau kau tidak akan pernah cemburu ataupun peduli padaku, jadi aku sekuat tenaga memperhatikanmu lebih sering. Sepertinya kau justru jenuh padaku, dan aku justru menyakitimu…" Yahiko mendongak dan menatap Konan. "Aku tidak suka diriku yang seperti itu. Karena itu aku meminta bantuan Sakura tadi waktu dia mengobati lukaku untuk berakting."

Aku langsung reflek menatap langsung ke Sakura, dia memalingkan wajahnya ke arah lain, berlagak tidak tahu. Jadi, selama ini mereka hanya berakting. Dia membantu Yahiko.

"Maaf, aku sudah mengujimu…"

"Tidak…" Konan bergumam sambil terisak. "Aku yang seharusnya minta maaf, sikapku sudah membuatmu tidak nyaman dan justru membuatmu memikirkan hal lain. Aku selalu cemburu setiap kali gadis-gadis menatapmu. Aku hanya bersikap santai karena memang kau terkenal dikalangan gadis-gadis. Dan tidak mengeluh ini itu karena aku takut kau anggap pencemburu dan posesif. Maaf, mungkin aku terlalu sering bersikap cuek dan tidak menyadari kalau kau ingin melihatku yang cemburu." Konan mendesah sambil mengusap sisi pipinya yang tidak diusap Yahiko. "Aku sayang sekali padamu, Yahiko-kun."

Yahiko tersenyum dan membawa Konan kepelukannya. "Aku juga sayang sekali padamu, Konan-chan."

Aku menatap mereka dengan mulut menganga.

"Apa-apaan ini? Pada akhirnya, kita hanya terlibat pertengakaran pasangan yang dilanda kasmaraan." Gumamku masih menatap adegan roman picisan di depanku ini.

Sakura berdeham. "Asiknya mereka berdua,"

Aku tersentak dan menatapnya. Dia bilang apa barusan? Dia seperti mengingkan hal itu terjadi dengannya. Ini di luar dugaan, tenyata Sakura juga mengingkan hal semacam itu juga.

Dia menyadariku yang menatapnya, dia berdeham lagi. "Meskipun laki-laki itu terlihat seperti yang kau pikirkan pada awalnya. Tapi, sepertinya dia benar-benar menyayangi pacarnya. Dari awal aku tahu, dia sedang menguji pacarnya waktu di kereta." Kemudian dia tersenyum. Senyum yang sangat lembut. "Mereka akhirnya bertengkar karena mereka punya sejarah berdua yang mungkin tidak kita mengerti."

Aku masih menatapnya, mencerna ucapannya. Kalau kupikir-pikir benar juga ucapannya. Mereka bertengkar karena punya sejarah berdua dan mereka tahu kalau hal itu membuat hubungan mereka semakin hari semakin berwarna dan membuat mereka bertambah menyayangi satu sama lainnya.

Aku tiba-tiba terkekeh, karena bagaimanapun aku juga ikut tertipu dengan aksi mereke berdua. Dan terlihat bodoh mempercayai aksi Sakura dan Yahiko. "Aku tidak menyangka kalau kau bisa berakting seperti itu," ucapku, sambil menatapnya yang menatapku dengan alis bertautan. "Aku benar-benar tertipu dan sampai panik sendiri."

Sakura mendengus sambil memasang kacamatanya lagi. "Itu karena sehari-harinya aku jadi aktris, kau ingat?"

Aku kembali terkekeh sambil mengangguk. Ya. Dia benar, dia setiap hari memakai dua peran. Seharusnya aku tahu hal itu, dan kurasa liburan kami bisa dimulai dari nol lagi. Karena kisah kami baru saja dimulai. Tetap tertawa di sampingku terus, Sakura.


.

Dan malam datang begitu cepat.

"Selamat tidur." Aku dan Sakura berucap bersamaan dan memulai tidur kami.

Dan hal yang tidak diduga pun datang juga, badai pasir terjadi malam harinya. Membuat suasana di dalam kamar kami. Aku dan Sakura, dipenuhi suara gemuruh angin di luar sana. Kenapa perkiraan ayah benar tentang cuaca hari ini? Dan aku masih tidak percaya karena cuaca pagi hari sampai sore tadi benar-benar cerah, dan malam hari tiba-tiba datang badai. Apa memang Suna selalu mengalami cuaca berubah-ubah seperti ini?

Aku mengangkat bahu sambil memiringkan tubuhku menghadap ke samping kananku, aku tidak bisa mendeteksi cuaca. Jadi aku tidak perlu mengeluh tentang hal ini, aku menatap Sakura yang tertidur membelakangiku di atas futon-nya. Kami saat ini tidur bersama dan hanya dibatasi papan pembatas di tengah kami. Dia terlihat tenang, atau sebenarnya dia menahan sesuatu sekarang.

Aku tahu itu.

Suara gemuruh di luar sana semakin membuat suasana di dalam kamar ini menjadi ramai. Sebenarnya, kalau boleh jujur aku sedang gugup sekarang. Karena kami harus tidur bersama dalam satu ruangan, dan hanya pembatas ini saja yang menghalangi. Selebihnya jarak kami benar-benar dekat, wajar saja bukan? Aku mau menginjak usia delapan belas tahun, memandangi Sakura dari belakang saja sudah membuat jantungku berdebar tidak menentu seperti ini. Rambut panjang Sakura terurai di belakangnya, dan aku bisa mencium wangi shamponya dari sini.

Aku memperhatikannya dalam diam untuk waktu yang lumayan lama, dia hanya diam saja tidak bergerak ke kiri atau telentang. Aku berdeham membersihkan tenggorokkanku. Masih memperhatikan Sakura yang tidak ada pergerakkan sama sekali di depanku, hanya suara gemuruh dari luar saja yang terdengar.

Saat aku masih larut memandanginya tiba-tiba dia berbalik menatapku.

Sial. Ketahuan lagi.

"Ada apa?" tanyanya, dia terlihat segar dan bukan raut wajah baru bangun tidur. Bahkan suaranya tidak serak. "Kenapa kau tidak tidur?" lanjutnya lagi.

"Belum ngantuk." Ucapku cepat.

Dia mengangguk dan menarik selimutnya ke dadanya. Aku melihat jari-jarinya terkepal erat di ujung selimutnya. "Baiklah, aku tidur duluan. Oyasuminasai…" Sakura berbalik membelakangiku lagi.

Aku diam menatapnya, kalau kubiarkan seperti ini terus tidak akan baik untuk Sakura. dan kenapa aku bersikap pengecut seperti ini? Benar-benar menyedihkan.

Aku menyibak selimutku dan berdiri, berjalan mendekat ke Sakura, dan dugaanku benar. Dia belum menutup matanya dan terlihat jelas sekarang ekspresi ketakutannya. Aku membungkuk dan menarik selimutnya. Sekarang aku bisa melihat, tubuhnya yang bergetar. Dia ketakutan.

Dia menatapku marah. "Apa yang kau laku…"

"Jangan berlagak kuat," potongku, dia menatapku skeptis. Aku mendengus. "Kau takut badai dan kau pura-pura tidak takut. Dasar!" Aku langsung duduk di sampingnya dan menyelimutiya lagi, begitu juga denganku.

"Kau tahu dari mana?"

"Dari ayah." Ucapku sambil mengangkat bahu, dia mengerutkan kening menatapku, seolah-olah aku sedang berbohong sekarang. "Aku serius, ayah yang memberitahuku," jelasku, aku akhirnya tidur di samping. Maksudku, tepat di sampingnya dan tidak ada penghalang lagi. Di atas futon-nya. Aku berdeham. "Tidurlah. Aku akan di sini."

Sakura memiringkan kepalanya menatapku yang sudah mati kutu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi aku diam saja tidak melakukan apapun, dan Sakura bergumam terima kasih dan memiringkan tubuhnya menghadapmu. Dia tidur menghadapku. Aku menatapnya yang sudah menutup matanya. Tadi… dia mengucapakan terima kasih padaku, ini pertama kalinya. Aku tersenyum tanpa sadar.

Dan dia sudah tidak gemetaran lagi.

Jadi, aku menyimpulkan kalau dia sudah tidak ketakutan lagi, dan sepertinya aku harus berterima kasih kepada ayah karena sudah memperingatiku. Aku menutup mataku dan mencoba untuk tidur, dan akhirnya aku terlelap tidur.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur, yang aku tahu, aku merasa sesuatu bergerak di sampingku. Sesuatu itu meringkuk mendekat ke arahku, dan aku merasakan dadaku tertekan benda keras. Membuatku mau tidak mau membuka mata, dan aku terbelalak karena Sakura tidur di dadaku, rambutnya yang berbau shampoo menguar menggelitik hidungku dan jantungku berdebar tidak karuan.

Aku meregangkan tanganku dan memindahkan Sakura untuk tidur dengan alas tanganku, dia kemudian memelukku. "Jangan pergi," bisiknya, aku membeku di tempat. Apa dia mengigau? Dia tidak mau aku pergi…

Dan senyum bodohku keluar.

Aku menatapnya yang masih meringkuk di dadaku, posisiku sekarang memiringkan tubuhku ke arahnya, aku menunduk supaya lebih jelas menatapnya. Dia benar-benar terlihat cantik. Dan yah, imajinasiku terkabul lagi, melihatnya tertidur. Dan aku dapat melihatnya dengan sangat jelas sekarang, tidak seperti waktu dia tertidur di sofa dulu.

Sakura benar-benar terlihat mempesona bahkan yang sedang tertidur, dia benar-benar membuatku tidak bisa mengontrol laju jantungku. Sakura memiliki inner beauty yang mungkin hanya aku saja yang tahu.

Memikirkan hal ini membuatku selangkah demi selangkah dekat dengannya, bahkan kami sudah bisa tidur bersama seperti saat ini. Aku membelai rambutnya dan bergumam mengucapkan selamat tidur dan mimpi indah, aku memulai tidurku dan berharap besok akan menjadi hari yang benar-benar cerah.


oOo


Pagi hari datang begitu cepat, dan perkiraanku tentang cuaca cerah benar. Setelah badai, aku dan Sakura di sambut dengan pemandangan kota Suna yang menajubkan. Sebelum pulang ke Konoha lagi, sepertinya menikmati tempat-tempat wisata yang belum kukunjungi dengan Sakura bisa dimulai pagi ini.

"Baiklah, sepertinya kita bisa menikmati wisata yang belum kita kunjungi pagi ini," ucapku senang, aku dan Sakura keluar kamar hotel bersamaan. "Ini untuk mengganti hari kemarin." Iya itu benar, karena pasangan menjengkelkan itu, rencana liburanku benar-benar kacau. "Baiklah … ayo bersenang-senang!" seruku semangat.

"OKE!" aku tersentak mendengar teriakan di belakangku. Aku menoleh dan mendapati pasangan kemarin yang merusak rencanaku.

Aura gelapku sudah keluar. "Kalian tidak boleh ikut!" ucapku sambil memincingkan mataku tajam ke arah mereka berdua. Dan mereka justru tertawa mendengar ucapanku.

Sakura menguap dan terlihat mengantuk saat aku berdebat dengan duo pasangan ini. Bukannya semalam dia begitu nyenyak tidurnya. Kenapa dia terlihat seperti kurang tidur? Aku mengerutkan keningku mengingat hal-hal apa saja yang terjadi semalam, dan aku tersentak. Semalam kalau tidak salah aku merasa ada yang bergerak-gerak terus di tanganku. Mungkin saja itu Sakura yang terbangun dan akhirnya terjaga. Dan hal ini membuatku menyeringai tanpa sadar.

Ternyata dia juga bisa gugup dan terjaga semalaman.

.

.

.

.

To be Continued


.

Hallo …

Apa kabar semua… maafkan indah karena ngilangnya lama banget, bikin dua FFn multichapter itu susah ya… yang satu kelar satunya musti bangun mood buat bikin. Jadi, aku acungin author diluar sana yang mungkin menggarap FFn multichapter sampai tiga cerita. Keren pokoknya! Aku satu aja kualahan gini. Tapi, Alhamdulillah FFn satunya udah mau kelar, jadi bisa fokus sama POG (Princess of Glasess) nanti :D

Masalah marga Yahiko itu, karena di anime dan di manga tidak ada. Maka aku buat sendiri marganya, Ohashi itu nama marga di salah satu karakter komik aslinya. Jadi aku pakai buat marga Yahiko. Sekian infomasinya^^

Dan indah mau bilang juga … semoga chapter ini memuaskan teman-teman semua… dan semoga feelsnya dapet ya… amin^^

Ehem … segini saja chit chat gak penting dari indah.

Langsung cus bales review yang mampir …


.

Terima kasih banyak :

Luca Marvell ( iya … hubungan mereka udah bekembang. Senangnya^^ liburannya ditulis di chapter ini yap. :D )

echaNM ( iyap. Dia baik –si Sasu- hmm … masalah mama-nya Sasu sama ayah Itachi nanti ada porsinya sendiri, ditunggu aja yap.^^ dan msalah Sasu dirawat kakeknya kan krn mama-nya Sasu udah meninggal. )

uchiha javaraz ( sudah lanjut yap.^^ )

Hyemi761 ( yap … harus maju mereka, jangan jalan ditempat aja hihi. Sudah lanjut yap dan terima makasih semangatnya^^ )

yuanthecutegirl ( Saku badgirl yuhu … arghh! mereka bikin gregetan terus yah …^^ )

undhott ( gregetannya gak sama gigit bantal sama guling-guling di atas pecahan kacakan? *Dipikir kuda lumping? Haha #abaikan ini sudah lanjut, terima kasih^^ )

Uchiha Lady Haruno ( harus selalu manis dong mereka. Biar pada kena diabetes hihi^^ sudah lanjut yap :D )

Lady Bloodie ( sudah lanjut kak … :D )

hanazono yuri ( sudah lanjut kak^^ )

syahidah973 ( hehe iya, kemarin alurnya rada kecepetan. Apa jangan" kecepatan? Maaf ya kalo kecepatan, udah settinganya gitu. Dan terima kasih pujiannya^^ )

Guest ( terima kasih. Ini sudah lanjut^^ )

Yoriko Yakochidan ( Wuah … masalah lemon… nanti indah pertimbangkan ya, soalnya belum ahli bikin lemon, cenderungnya bisa bikin lime hehe xD oh, itu harus, Sasu harus memperjuangkan cintanya. Aku suka Sasu di sini. ;;) Eh! Masa?! Demi apa? Janganlah, jangan bikin cerita NSL dong. Aku bukan masalah gak suka NSL, aku suka kedekatan mereka sbagai sahabat dan saudara. Aku baru denger kabar itu, dari kamu malah. Aku tanya tmn sesama SSL, mereka malah pda gak tahu juga dan jelas gk trima juga dngan ide itu. Aku dan tmn" sesama SSL sih setujunya klo Masashi-sensei bikin cerita selengkapnya tntang SSL, meliputi (bagaimana mreka deket lagi, bagaimana Sasu bisa jatuh cinta ke Saku, bagaimana mereka berkomunikasi stelah perang dunia, bagaimana Saku ikut petualangannya Sasu, bagaimana Sasu ngelamar Saku, bagaimana pernikahan SasuSaku, bagaimana Saku ngelahirin Sara.) kurang lebih itulah. Yah, semoga aja gak asal bikin plot sembarang Masashi-sensei, hanya krn sumpah serampah NSL krna OTP mereka gak canon. Amin.. Dan masalah ke-ekstriman Sasu dlam perjuangan cintanya, itu udah ada di kepala. Jadi, Yori-chan tenang aja^^ dan maaf, jadi malah cerita gini, panjang bener haha. Terima kasih juga semangatnya …^^ )

Mustika447 ( waduh … senyum alay itu gimana ya? Aku ngebayangin loh ini haha XD untung gak jatuh ya, masih di atas kasur kan yang penting :D wuah … idolanya siapa nih? Diacara apa ya itu? Jangan bersedih ya… smngat pokoknya buat Tika-chan, semoga chapter ini bisa bikin senang kamu lagi yap^^ )

dziAoi ( terima kasih banyak… ini sudah lanjut ya dzi-chan^^ )

Anonymous ( Gregetnya bikin garuk-garuk tembok yaa XD hmm … baiklah, indah senpai saja, yang penting jangan author :p wuah masih muda ya. Udah tua brarti akunya nih :( ini sudah di lanjut^^ )

Bang Kise Ganteng ( Terima kasih sudah suka^^ yap, meraka kubuat terbalik. Sudah pernah baca komiknya ya kak? :) Oh, itu pasti! Sasu memang harus memperjuangkan cintanya ,,, trima kasih juga semnagatnya^^ )

Kucing genduttidur ( Salam kenal juga hmm … manggilnya apa ya kak? Hehe :D makasih sudah suka FFn indah^^ ini sudah lanjut yap, dan sepertinya ini lama yaa.. maap, semoga puas yaa ;;) )

Kaho ( eits … main jilat-jilat aja, ijin dulu dong sama aku. Udah aku jilat duluan dia haha XD iya si Neji kayak emak-emak rumpi *capcus cin.. :D yang bikin Sasu gitu juga berfantasi melulu kok haha..^o^ gakmungkinlah, meski aslinya Caku kuat tapi masa Cakura yang gendong Cacuke? Nista bgt nanti wkwk :D tapikan ini udah masuk, makasih udh repot" repiyu si kaka ini :D ini udah lanjut. Semoga puas yaa :D )

.

Tidak lupa untuk SilentReader juga, yang memfavorit dan memfollow FFn ini, Indah ucapkan banyak terima kasih.


.

Dan … Indah masih menerima kritik dan saran yang membangun, bukan menjatuhkan tentunya. Dan tentu saja dengan bahasa yang enak dibaca, jadi lebih bisa saling memberi kenyamanan dalam menyampaikan pendapat. Itu saja.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya …


.

.

.

.

.

.

.

.

Omake …

Aku duduk di kursi makan bersamaan ayah datang dengan setelan jas-nya dan memulai sarapan pagi. "Sakura sudah bangun?" tanya ayah sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Aku mengangguk memberinya jawaban. "Baiklah, hari ini sepertinya rumah akan sepi."

Aku mengangguk dan memulai makan.

Ayah berdeham, aku menatapnya dan dia bersandar ke arahku. "Kuberitahu sesuatu," bisiknya, sambil melirik ke arah kamar mandi, akupun sama meliriknya ke sana. Sepertinya ayah mau memberitahuku tentang Sakura. Kami mengalihkan pandangan dari kamar mandi bersamaan. "Anggap saja ini bonus untukmu, Sakura memang menyukai Suna," ayah menyecek lagi ke arah kamar mandi, aku dengan antusias mendengarkan informasi dari ayah. "Ayah yakin nanti malam di Suna akan ada badai. Dan Sakura, dia takut dengan badai. Ini tugasmu untuk menjaganya, nak," aku menahan untuk tidak mengeluarkan seringai bodohku. "Pastikan kau tidak membuatnya ketakutan, dia akan bersikap semua baik-baik saja. Jadi, kau harus bisa menjaganya. Aku percaya padamu." Ayah kembali duduk tegak sambil mengedipkan satu matanya ke arahku.

Aku mengangguk dengan senyumku, hampir saja menyeringai bodoh. "Ayah bisa mengandalkanku."

.

Dan selanjutnya …. Kalian sudah membacanya :D

.

.

.


Read and Review, please^^


P.S : Ekhem … berhubung tanggal 20 kemarin ulangtahun Yahiko dan Konan, jadi indah memakai mereka karena ulangtahunya sama kayak Indah, dan Indah juga buat panjang Chapter ini supaya teman-teman puas. Haha… *gakpentingbanget*. Jadi, abaikan saja XD