Lanjut... Wokeh! aku dah percaya diri tingkat dewa! ah, makasi dolo ama review...
ScarletAndBlossom:
Arigatou... seneng rasanya hahaha! maaf, wa mase gaje... kangen rasanya ama cerita ini... dah kepikiran banged! sama! tingkat dewa pengen buat! Enjoy...
Marysykess:
Makasi banyak... mo Review cerita asal usul ga jelas dari sang author... eh? bangun bangun! hehehe, enjoy...
Games: Dynasty Warriors, belong from KOEI
Chapter 4: what the!?
Gendre: Romance & Adventure
Rate: K+ (oh hoi, hoi! mau diganti ga Thor?)
Chara: Jiang Wei
Summary: pepatah Cina kuno mengatakan... Diam itu emas, Bicara itu perak. aku tidak bisa sembarangan memberi tahu sesuatu yang akan membuat musibah sendiri...
.
.
Aku masih dengan posisi mulut mengangga, ditambah dengan wajah heran dari Jiang Wei. apa yang harus kukatakan? aku tidak ahli seperti teman teman ku yang rajanya bohong (?). aku berusaha tenang dan duduk kembali.
"tidak ada apa apa"
"hah?"
"iya! tidak ada apa apa! kau tidak perlu tau urusanku!"
"ouh... aku tidak mengerti apa maumu, tapi... mungkin aku memang menganggumu"
"ya! kau... eh? apa?"
"aku menganggumu, kalau begitu, maafkan aku."
Jiang Wei mulai berdiri dan berjalan kearah pintu, saat dia mengengam gangang pintu dia menoleh padaku.
"aku tidak akan menganggumu lagi, mungkin ini yang terakhir kalinya"
"hah? tunggu... Tuan Jiang Wei! apa maksud..."
BRAKK!
"mu...?"
Aku jadi merasa bersalah. tapi, aku ingin tau apa maksud dari kata katanya. "mungkin ini yang terakhir kalinya" itu sangat membinggungkan! super duper membingungkan! bahkan lebih membingungkan! (*oi! #iya iya) dia pintar bicara tentang yang susah-susah yah? ah! apa yang sedang kupikirkan!? waktunya pergi mencari kalung itu!
Aku tidak begitu yakin, paling paling 50:50. kalung itu bersifat aneh, lagipula kelihatannya keluargaku biasa biasa saja kalau kalung itu hilang. aku berjalan di tengah tengah pasar dan karena ramai, aku menumbur seseorang.
"auh!"
"ah, maafkan saya anak muda, kamu tidak apa apa?" seorang lelaki menjurulkan tangannya, aku hanya terbengong bengong... suara parau ini, kalau tidak salah...
"ah? aku yang salah... karena ramai aku tidak sengaja menumbur kakek"
"tidak apa apa, saya juga terbengong ditempat... siapa namamu nona muda?"
"saya Khu... eh, Li Ling Fong! kalau kakek?"
"saya Huang Zhong, mungkin saya sudah tua yah?"
"begitulah"
"saya belum pernah melihat orang seperti dirimu, kamu darimana?"
"aku, aku, aku... dari hutan? hehe"
"jarang ada anak aneh seperti Nona..."
"aku tidak aneh kek Huang Zhong! saya cuma saja... terbentur tanah..."
"hahaha! sudahlah, sebagai permintaan maaf, nanti saya akan mengajarimu memanah. bagaimana?"
"benarkah? aku mau!"
"baiklah, tunggu ditempat latihan memanah ya? kalau kamu sudah kuat, kamu bisa mengikuti perang, membantu Yang Mulia Liu Bei.."
"baik! anggap aku muridmu, guru!"
Dia hanya menganguk pelan dan pergi dari sini. dia sudah tua sekali, tapi masih bisa memanah dan mengikuti perang. hebat sekali! aku sangat kagum! baiklah... ketempat memanah... dimana yah? ah, mungkin Jiang Wei bisa membantuku! atau... mungkin tidak... kami sedang sedkit terpisah, aku pun mencari jalan sendiri.
Aku menemukan tempat yang cukup besar dan sudah agak tua, mungkin ini. aku masuk melihat sasaran dan beberapa busur dan panah. aku celingak celinguk melihat ada kakek Huang Zhong, aku bersorak dalam hati, syukurlah tidak salah tempat!
"oh, Nona Fong! anda ingin belajar?"
"tentu saja!"
Latihan pun dimulai, aku tidak menyangka menjadi pemanah cukup berat dan sangat menyenangkan! karena lama kelamaan kita sudah hebat!
"coba Nona tembak yang sasaran semua ini"
"itu gampang!"
"tapi, ini akan kuputar... ingat kataku... jangan tegang, tetap tenang, mata melurus kedepan, dan lepaskan"
"aku mengerti guru!"
Seperti yang dikatakan guru, walau sasaran ini berputar putar membuat kepalaku pusing. tapi, aku tetap tenang, jangan tegang, mata melurus kedepan, dan... lepaskan! ya, aku tidak tau apa anak panahku menancap tepat atau tidak! pokoknya akan kulakukan!
Sudah beberapa menit, akhirnya putaran berhenti. nafaskan tersengah sengah karena capek dan harus serius. tapi, syukurlah semuanya menancap pas!
"kamu hebat!"
"hehe, ini berkat guru! terima kasih!"
"sama sama dan terima kasih kembali, oh yah. kenapa kamu bisa sampai disini?"
"hm? Tuan Jiang Wei menolongku!"
"Jiang Wei?"
"iya, memang kenapa?"
"bukankah dalam pembicaraan pasar kalau Jiang Wei menyukai seseorang?"
"ekh? siapa!?"
"aku hanya mendengar penjual bunga saja..."
"oh... eh, terima kasih atas pelajaran memanah hari ini! aku mau pulang dan melihat Nona Yue Ying apakah sudah pulang! dah!"
Aku berlari sampai rumah Yue Ying, dan aku tidak menyangka dia menyukai seseorang? tapi... dia memang sudah cukup umur dan... aku... tidak akan pernah menjadi apa apa baginya, kecuali seorang teman.
Selagi sedang berjalan aku bertemu dengan Jiang Wei. sangat mendadak! apa yang harus kulakukan? apakah aku harus membentaknya? apa aku harus membiarkannya? aku... harus apa? egh, aku tidak ada waktu untuk dia! mencari kalung dan pulang... dan melupakan ini pernah terjadi...
Aku berlari meninggalkannya yang terkejut melihatku tidak menyapanya ataupun lainnya. aku tau aku salah, tapi inilah yang terbaik... aku berhenti sebentar karena capek dan ngos-ngosan. fiuh, itu hampir saja! aku tidak mau dia melihatku sedang menangis.
Aku menoleh kiri kanan dan melihat penjual bunga yang dikatakan orang yang disukai Jiang Wei. aku mencoba menghampirinya dan melihat baik baik wajahnya.
Dia... dia... cantik sekali. walau bagiku Yue Ying yang tercantik. dia sepertinya heran kenapa aku menatapnya terus, dan tiba tiba dia langsung memberiku bunga. kali ini aku yang heran...
"bunga ini mengartikan semangat! karena warnanya merah, saya tahu kamu pasti sedang patah semangat, ayo bersemangat!"
"terima kasih!"
Aku senang, ternyata orang yang disukai Jiang Wei sangat bagus! tidak seperti diriku yang hanya membentaknya dan tidak peduli. aku menunduk dan tiba tiba ada yang menarik pergelanggan tanganku. saat aku menoleh kebelakang, ternyata Jiang Wei.
"hosh... hosh... kamu sedang apa!? jalan rumah Nona Yue Ying sebelah sana! hosh..."
"buat apa kau mengejarku!?"
"saya khawatir nanti kamu tersesat! ayo!"
"sabar! jalan pelan pelan! jangan tergesa gesa!"
Ugh... terpaksa aku jalan disampingnya dan menunduk wajahku, aku sedang tidak ingin menatap wajahnya.
"bunga itu dari wanita itukan? kamu membelinya?"
"eh? ehm... ini! hahaha! ini untukmu!" aku memberikan bunga itu.
"ehm... terima kasih tapi... aku bukan wanita..."
"berikan saja pada wanita yang kau su... ups!"
"hem? su?"
"su... su... sujud baiknya itu! hehe"
"penjual bunga itu? wah... kalau itu..." dia blushing sambil mengaruk garuk kepalanya itu.
"hehe, ketahuan... aku dukung!"
"dukung? buat apa?"
"supaya dia mau menerimanya!"
"hem... bagaimana kalau ini kujaga saja?"
"terserah..."
Aku tau pembicaraan ku ini salah, sebenarnya aku tau aku suka pada Jiang Wei, tapi... aku tidak ingin orang yang menyelamatkanku tidak dapat mendapatkan wanita itu... sebaiknya, aku tidak menyukainya saja?
Aku menghela nafas dan mulai menaiki kepalaku. secara tiba tiba dia mengengam tanganku dan menarikku kesampingnya.
"a... a... apa yang kau lakukan!?"
"jangan berpikiran tidak tidak, aku hanya mengengam tanganmu, tidak lebih"
"apa maksudmu!? dasar mesum!"
"sudah kukatakan jangan berpikir tidak tidak, kau masih kecil"
Aku tak tau apa maksudnya, tetapi lama lama wajahku akhirnya blushing... sampai rumah, aku harus menahan rasa malu ini... lelaki manapun juga... tidak akan mau... wajahku panas... tuhan, semoga aku sampai dirumah dengan selamat... (?)
Pikiran author sedang dilumuti dengan PR kerajinan tangan buat nilai... so, mungkin update agak lama... please review! kalau ga mau ditulis di kotak bawah ini juga bole (*sama aja!) hope you like it!
