Tidak pernah ayah melewati waktu seberat ini. Keringat terus turun dan oksigen di sekitar ayah terasa menipis walau kita masih di luar ruangan.

Hari ini. Ada pengadukan di ruang tahta.

Dan semua ciptaan menahan napas. Menunggu untuk melihat pengantin wanita. Ingin tahu bagaimana pengantin wanita akan berpakaian dalam menyambut hari besarnya.

Benar. Setelah setengah tahun belakangan ini diisi dengan perjuanganmu tanpa henti untuk bisa bersamanya. Kini putri kecil ayah mendadak sudah akan berubah menjadi seorang ratu dalam beberapa waktu yang cepat. Dia memakai gaun putih milik ibunya yang bahkan sudah ketinggalan jaman. Tapi dia tetap tersenyum seolah seluruh dunia kini tengah bersamanya.

Lucu sekali. Ayah merasa melihat ibu di dalam dirimu. Entah itu karena gaun ibumu atau karena wajahmu. Itu berhasil mengingatkan ayah akan rekaman pernikahan ayah dan ibu yang sudah usang. Kau sama persis dengannya. Dan itu membuat perasaan ayah semakin biru.

Harusnya ayah bahagia. Kau layak mendapatkannya. Perjuanganmu setengah tahun ini untuk meyakinkan ayah sudah di ujung jalan. Kau menanggung kelelahan dan kemalangan selama ini untuk bersama. Dengan segenggam restu ayah kau kini tengah menukarkan semua rasa malang itu dengan milyaran kebahagiaan. Gadis yang lelah ini telah beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan barunya bersama orang lain.

Ingatlah semua langkah ini, nak. Ayah akan mengantarkanmu ke jalan terakhirmu. Akan ada seseorang yang menjemputmu di ujung jalan. Seseorang yang kau nanti dengan senyuman merekah.

Sebenarnya ayah masih khawatir, benar-benar khawatir. Tapi ayah sudah berjanji padamu untuk percaya dengannya. Jadi ayah akan menyembunyikannya.

Perjalanan kali ini terasa cepat namun begitu berat dalam setiap langkahnya. Seperti ada batu yang terikat di kedua kaki ayah. Tangan kecilmu yang melingkar di lengan ayah bahkan terasa begitu menyakitkan. Ayah merasa tidak akan bisa menggandeng tangan kecil itu lagi. Kau terasa akan pergi begitu jauh dari ayah. Lucu sekali perasaan ini.

Akhirnya kita sampai. Lihatlah. Dia dengan sigap sudah menantimu, memberikan uluran tangannya untuk memulai perjalanan bersama. Tahu tidak yang ada di pikiran ayah saat ini? Ayah ingin membawamu kabur dari pelaminan saat ini juga. Hahaha.

Tapi tentu ayah tidak akan melakukannya. Tatapan kalian yang saling mendamba sudah cukup untuk menghentikan pikiran konyol ayah itu.

Kini kalian berdiri berdampingan, saling berjanji untuk hidup bersama dalam senang ataupun susah. Dan ayah harap itulah kebenarannya. Ayah tidak mengijinkanmu untuk menikah bukan untuk ditinggalkan di tengah jalan. Ayah mengijinkanmu menikah untuk sampai ke ujung jalan kalian, mencapai hari akhir kalian dengan tangan yang saling menggenggam walau sepanjang jalan kalian harus berlari, berjalan lambat atau bahkan merangkak sekalipun untuk mencapainya.

Ayah masih tidak bisa mengalihkan pandangan darimu. Kau memakai baju putih, dari kepala sampai ujung kaki. Tapi hanya kau yang bisa melakukannya. Membuat perasaan sedih di tengah euforia kebahagiaan tanpa henti ini. Putri ayah kini telah menjadi seorang ratu di istana barunya. Seorang raja telah mempersuntingnya.

"Ayah! Sudah kubilang jangan menangis!" Kau cemberut sembari mengeluarkan sapu tangan untuk mengeringkannya. Tapi itu masih tidak cukup untuk menutupi kebahagiannmu yang meledak.

Ayah terpaksa tertawa sembari ikut mengeringkan air mata ayah sendiri yang sebenarnya sudah membendung banyak. Ayah akan menahannya untukmu nak.

"Untung aku benar-benar membeli sapu tangan yang paling mahal. Sudah kuduga ini akan terjadi."

Dengan cekatan kau memastikan tidak ada air mata yang tertinggal.

Kita saling berpandangan. Terdiam sebentar. Hingga kau tersenyum tulus. Kemudian memeluk ayah begitu erat. "Terima kasih, ayah. Terima kasih sudah memberikan restumu. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar rasa terima kasihku padamu."

Bisikanmu itu seperti hujan di musim panas. Begitu menenangkan dan mengharukan.

Kau mengeratkan kalungan tanganmu, mendesak ke ceruk leher ayah, menyadarkan kepala kecilmu di bahu ayah. "Kau ayah terhebat. Aku tidak pernah menyesal untuk terlahir sebagai putrimu. Jika aku terlahir lagi di masa yang akan datang, aku akan tetap meminta pada Tuhan untuk terlahir sebagai putrimu lagi dan lagi. Untuk selamanya ayah akan menjadi cinta pertamaku. Aku menyayangimu ayah."

Oh lihat?! Kau terus meminta ayah untuk tidak menangis tapi kau sendiri malah selalu membuat ayah menangis haru karena kata-kata manismu. Bagaimana kau bisa sekejam itu?

Sebuah dehaman kecil menganggu momen kita, menyadarkan ayah kalau kau kini sudah bukan milik ayah seorang. Ada raja lain di hidupmu sekarang. Tapi tahta ayah masih yang paling tinggi kan? Jangan pernah menurunkan ayah. Itu permohonan ayah.

Kau melepas rangkulanmu, menatapku dengan senyuman yang tak pernah ayah lihat. Begitu manis dan memilukan bagi ayah. Sudah saatnya kau pergi.

"Aku sayang ayah."

Tahu tidak? Kecupanmu kali ini mengingatkan ayah bagaimana rasanya menciummu pertama kali setelah kau keluar dari perut ibumu. Saat itu kau hanya sebesar lengan ayah, begitu kecil dan rapuh. Ayah bahkan sampai tidak berani menyentuhmu lama-lama saat itu. Takut menyakitimu. Itu lucu sekali kan? Padahal itu sudah lama sekali.

Kau mengangkat gaunmu. Berjalan bersama dengannya ke kereta kuda besi yang sudah menunggu sejak tadi untuk menuju istana baru kalian dengan taburan kelopak bunga dan sorakan bahagia orang-orang.

Setidaknya rajamu memperlakukanmu layaknya seorang ratu sebenarnya. Jadi ayah tidak begitu menyesal dan khawatir untuk hari ini. Semoga juga untuk kedepannya.

Kau terdiam sebentar sebelum naik ke kereta kalian. Dan kemudian berbalik menghadap ayah. Kau semakin tersenyum lebar. Ada apa, nak? Rasanya aneh jika kau tiba-tiba tersenyum lebar begitu.

"Terima kasih untuk kalengnya, ayah!"

Teriakanmu itu berhasil membuat semua orang tertawa dan menumbuhkan bunga di dalam hati ayah.

Ayah hanya mengangguk. Tentu nak. Ayah sudah berjanji padamu sejak awal. Sebulan ini ayah diam-diam tidak pernah membuang kaleng-kaleng minuman kita. Mengumpulkannya dan merancangnya untuk bisa digunakan pada hari ini. Kau menyukainya kan? Ayah membuat banyak sekali untukmu. Agar ketika kau lewat, semua orang akan tahu hari ini adalah hari besarmu.

Tanpa ragu lagi kau naik. Masuk ke dalam kereta kuda besimu bersamanya. Percaya sepenuhnya pada rajamu yang mengendarainya.

Ayah pikir ayah juga akan memberikan kepercayaan ayah sepenuhnya padanya. Ayah sudah berbicara banyak dengannya seharian kemarin. Mengenai dirimu, kelebihan dan kekuranganmu tidak ada yang ayah tutupi. Ia berhak tahu semua tentangmu. Bagaimana cara menghadapimu, bagaimana melarangmu, bagaimana memperlakukanmu, dan bagaimana menghormatimu. Semua ayah bicarakan dan dia sepertinya sudah paham.

Terpentingnya, ia juga paham betul konsekuensinya jika dia tidak menepatinya. Ayah mungkin bisa mengeluarkan revolver kesayangan ayah jika dia melakukannya. Tidak ada kata ampun bagi seseorang yang menyakiti putri ayah. Karena mau sedewasa apapun dirimu, kau tetap akan menjadi putri kecil ayah yang perlu perlindungan.

Kini ada seseorang yang mengeringkan air matamu selain tangan ayah. Seseorang telah memenangkan hatimu. Ketika kau tidak tahu dirimu dan semua yang ingin kau lihat, ditulis di wajahnya. Atau ketika tangan yang menanggung satu-satunya bekas luka, dan kemudian surganya menyentuh wajahmu, air mata terakhir akhirnya terhapus. Bahkan awan bergulung kembali saat dia meraih tanganmu. Dia akan mengantarmu melewati gerbang. Selamanya kalian akan memerintah di istana baru kalian.

Selamat menempuh hidup baru, nak. Ayah berharap semua kebaikan dan kebahagiaan menyertaimu.

Sekarang kau sudah berjalan berdampingan bersama orang lain. Tapi ingatlah, nak. Ayah masih berjalan di belakangmu. Jangan ragu untuk melihat ke belakang.

.

.

.

Mungkin kurang greget feelnya. Mohon maklumin ajah yak, cuma berbekal referensi cerita, drama dan film genre family doank ini :3

Aku anak paling bongsor dan belon nikah. Jadi gak paham nikah-nikahan begini.

Aku harap kalian sukak. Selamat berakhir pekan!