Drrrrtt... Drrrtt... Drrrtt...

Mataku terbuka, ketika telingaku mendengar alarm yang menggetarkan kepala ranjang. Sengaja, aku tidak memakai alarm yang berbunyi. Aku tipe orang yang mudah bangun. Kusingkap selimut oranye yang tadi membalutku. Tanganku terangkat menggapai alarm, lalu mematikannya.

Kepalaku berpaling ke kiri, memperhatikan sekitar. Ini kamar yang kutempati sejak dua minggu lalu. Kini, aku sudah terbiasa dengan kamar ini, juga seisi rumah. Kuikat rambut merah muda—yang sebenarnya ingin kuubah menjadi warna oranye—ini dengan cekatan. Sekarang sudah pukul empat pagi—sesuai alarm yang telah aku set. Terlalu pagi? Ah, tidak. Orang sukses tak pernah malas untuk bangun pagi.

Ayo, bangun.


Naruto © Masashi Kishimoto

High School Life: BEGINNER © Radar Countdown

.

.

.

BEGINNER'

Chapter 3: Cutting Capers

(Bermain-main)

.

R-Countdown 2014


"WOY! SEKARANG ADA APEL SISWA!" suara Naruto menggema sepanjang lorong tangga. Penampilan baru bangun tidurnya terlihat sangat kentara, dengan piyama hijau muda kusut dan topi tidur bergambar kepala Keropi* yang miring. Tangannya menggantung di pegangan tangga. Jalannya terseok-seok, hampir berlutut di pertengahan tangga. Terlalu shock dengan apa yang baru saja ia ingat.

"(sensor) ANJR*T!" Kiba segera menutup mulutnya, ketika menyadari bahwa ia baru saja mengumpat. Death-glare Sasuke segera menusuk mata Kiba, begitu ia mendengarnya.

"Aish. Tanggal berapa sekarang?" Shikamaru tiba-tiba bangun, dari acara sandar-bersandarnya di kursi makan. Wajahnya menampakkan ekspresi—agak—panik.

"Hari Senin, tanggal dua, alias awal bulan. Ayo... kalian belum mandi," ucap Ino, seraya tersenyum manis—lalu berubah menjadi menyeringai puas menatap kalender. Sebelumnya, ia pun lupa hari ini tanggal berapa.

Suara langkah kaki yang tergesa, terdengar dari lantai dua. Neji dengan rambut setengah kering terlihat terperangah melihat Naruto serta teman-teman lelakinya yang lain—kecuali Sasuke, karena dia terlihat sudah mandi. "Belum mandi? Ada apel, woy!" bentak Neji pada Naruto, khususnya. "Tidak ada yang mengingatkan mereka? Sasuke?" tanya Neji, masih shock dengan teman-temannya yang seperti menantang para petugas apel.

"Kalau aku ingat, aku sudah pakai seragam," ucap Sasuke seraya menatap datar Neji. "Bersiap!" komando Sasuke seraya bergegas melangkah menuju kamarnya. Semua lelaki yang ada di ruangan itu segera kembali ke lantai dua, begitu mendengarnya.

"Sakura, pinjam hair-dryer," ucap Neji, mengutarakan maksud utamanya ke lantai bawah.

"Di laci nakas, yang paling atas," ucap Sakura, seraya membantu Karin untuk menyiapkan sarapan express—selembar roti dan pisang—bagi teman-teman lelakinya yang terancam terlambat mengikuti apel siswa.

"Heh, pada telat mereka," ucap Tenten seraya menuruni tangga dengan santai. Ia masih bisa bersantai, karena para siswi akan masuk sekolah pada jam normal—pukul delapan. Sedangkan para siswa yang mengikuti apel harus masuk sejam lebih cepat. Dan sekarang sudah pukul tujuh kurang lima menit. Apel siswi akan diadakan esok hari.

"Hinata di mana?" gumam Karin seraya memakan roti isinya.

"Masih tidur, sepertinya," jawab Tenten dengan jemari yang masih sibuk mencuci tangan di wastafel.

"Dia pasti lelah. Guy-sensei melatihnya terlalu keras," ucap Ino yang sudah selesai dengan sarapannya.

"Kalian semua juga begadang mengerjakan tugas tadi malam. Aku sampai tidak tega membangunkan kalian," sela Sakura.

"Dan akibatnya mereka semua terlambat," tegas Karin.

"Aku membangunkan mereka dengan kekuatan penuh. Tapi mereka baru bangun tadi. Aku pun lupa sekarang ada jadwal apel," ucap Sakura meluruskan.

Gerombolan remaja lelaki berseragam sekolah, menuruni tangga dengan cepat. Para manusia kelaparan itu segera menyergap roti dan pisang, lalu berlari menuju pintu utama.

"GAK MANDI, YAAA?"teriak Ino pada teman-teman lelakinya, saat mereka berlari melewatinya.

"Masih wangi, kok," gumam Naruto yang tengah membuka pintu utama. Tak berselang lama, yang lainnya pun berlari mengikuti Naruto.


Mentari mulai bersinar, menyinari rambut lepek—karena terkena keringat berlebih—milik lima pelajar lelaki ini. Mereka berdiri sejajar, menghadap lapangan. Bak boyband yang hendak pemotretan album cover. Mereka telah memersiapkan mental untuk kemungkinan terburuk. Namun, kenapa hampir semua siswa yang mengikuti apel kali ini memakai rok? Apa mereka dihukum? Atau mereka memang perempuan?

Sedikit mendramatisir keadaan, Naruto berkata, "Heh. Apa ini lelucon? Kenapa dunia ini begitu penuh dengan kebohongan?" tangan Naruto mengepal erat di depan dada, seraya wajahnya menghadap menatap langit.

"Rambutku belum kering," ucap Neji parau. Tiba-tiba angin berhembus keras, cukup keras untuk membuat rambut cokelat Neji berkibar hingga mencolok mata kanan Shikamaru, yang kini tengah berkedut-kedut menahan amarah dan stres.

Sasuke kini saling bertatapan dengan Kiba. Dengan wajah datar—teramat datar—Sasuke melihat Kiba yang kini tengah menatapnya dengan tatapan kosong, seakan sedang memikirkan sesuatu. Jengah dengan tatapan Kiba, Sasuke memutar matanya bosan.

"Kita melewatkan sesuatu yang penting," ucap Kiba, yang kini sudah mengalihkan pandangannya.

Sontak, empat lelaki lain menatap sang 'center' penasaran. "Apa?" tanya mereka hampir bersamaan.


Para lelaki pergi, meninggalkan keheningan di salah satu unit asrama ini. Namun, tak lama kemudian suara langkah kaki tergesa kembali menyapa gendang telinga mereka.

Surai indigo sebahu terlihat menyembul dari ujung tangga. Setelah sepasang mata lavender itu menatap empat orang di depannya, ia terlihat menghela napas lega. Setelah menapaki lantai, ia tiba-tiba bersimpuh. "Kukira, aku sudah ditinggal," ucapnya terputus-putus, akibat napasnya yang belum tertata.

"Tenang saja, baru jam tujuh lebih lima menit," tanggap Ino.

Dengan cepat, Hinata menaikkan kepalanya kaget. Matanya membulat sempurna, terkejut atas apa yang ia dengar. "Kita terlambat!"

"Kenapa?" Sakura membuka suaranya, setengah terkejut.

"Apa kalian lupa? Kakashi-sensei memberitahu kita kalau jadwal apel ditukar. Pembina apel siswa belum bisa hadir hari ini. Apa yang harus kita lakukan? Kita sudah terlambat," ucap Hinata putus asa.

Pikiran empat gadis yang menjadi lawan bicara Hinata, melayang pada saat malam tadi—saat mereka begadang mengerjakan tugas seni dari Bee-sensei (Killer Bee). Setelah mendapatkan rekaman memori, mereka hanya bisa tersentak kaget.

"Jangan panik. Jangan jadi pengecut. Kita pakai rute tiga. Pakai seragam kalian," komando Sakura seraya berlari ke lantai dua.


"Hari ini apel siswi. Hehe," Kiba terkekeh dengan wajah tanpa dosa. "Ninja-sensei memberi tahu kita kemarin," ucap Kiba mengingatkan. Ninja adalah panggilan kesayangan mereka untuk Kakashi, karena kebiasaannya memakai masker.

Setelah mendengar itu, Naruto berlutut di atas rumput dengan dagu keriput. Mata Shikamaru terpejam untuk memulai meditasinya—pertanda stres berat tengah melandanya. Neji melakukan gerakan kibas-rambut-ganteng. Sasuke hanya bisa—kembali—memutar bola mata bosan.

"Bubar," komando Sasuke, lalu memimpin perjalanan ke kelas mereka, seraya menyampirkan jas almamaternya di bahu kanan. Di ujung barisan, terlihat Kiba yang menarik kerah belakang Naruto yang sedang 'nangis benaran. Oh, dia memang Drama King yang sesungguhnya.


Sakura berlari, berada di posisi terdepan barisan. Empat gadis ini berjalan di salah satu rute-kabur-ekskur yang paling sulit dilewati. Ini terpaksa mereka lakukan, karena rute ini memiliki garis finis di samping UKS. Empat gadis, karena Hinata hanya mengikuti setengah rute, lalu dengan cepat bertransformasi menjadi petugas darurat yang menangani salah satu siswi yang pingsan.

Setelah berlari dengan kecepatan cahaya, berjalan di titik buta kamera, bersembunyi saat melihat petugas OSIS, akhirnya mereka sampai di UKS. Mereka berusaha menormalkan napas. Lalu, Sakura menghadap Kurenai, yang perhatiannya sedang teralihkan—sehingga Sakura terlihat datang dari arah peserta apel, bukan dari UKS.

"Kurenai-sensei, maaf. Teman-temanku sudah tidak kuat lagi. Kami begadang mengerjakan tugas. Dan kami belum sarapan," ucap Sakura parau.

Kurenai yang notabenenya adalah sesosok guru yang sangat keibuan, segera menatap panik Sakura. Benar saja, wajahnya lesu dan berkeringat—wajah lesu hanya akting, namun keringatnya asli. Kurenai segera mengusap kepala Sakura, menyingkap poninya. "Kalian istirahat saja di UKS," jawab Kurenai dengan nada yang sangat khawatir.

"UKS penuh, sensei..." gumam Tenten seraya berakting mengernyitkan dahi—pusing.

"Kalau begitu istirahat di kelas. Di mana Hinata?" ucapnya masih dengan nada khawatir.

"Hinata sudah di UKS," kata Karin dengan hidung merah—flu sungguhan.

"Kalau kondisinya sudah membaik, ajak saja dia ke kelas. Absen kalian ibu wakilkan," ucap Kurenai seraya tersenyum khawatir.

"Terima kasih, sensei," ucap Ino seraya membungkuk hormat.

"Ya, manfaatkan waktu istirahat kalian," gumam Kurenai seraya mengusap kepala Ino dengan sayang.


Lima orang perempuan itu berjalan santai ke arah kelas mereka. Sesekali terdengar gelak tawa karena lelucon mereka. Saat Tenten—orang pertama yang memasuki kelas—menginjakkan kaki di lantai, terdengar suara yang melengking keras.

"TIARAAAP!" tiba-tiba suara komando Naruto memenuhi seisi ruangan, lalu tiga lelaki lainnya—kecuali Sasuke, karena dia hanya berdiri di dekat jendela, memperhatikan tingkah kekanak-kanakan kawan-kawannya—berjongkok mengikuti komando Naruto. Walaupun sebenarnya komandonya adalah tiarap, bukan jongkok.

'Psssss...' suara semprotan pengharum ruangan terdengar, setelah diam-diam Neji keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menyemprotkan pengharum ruangan ke arah para gadis yang baru memasuki ruangan. Walau tidak berbahaya—karena jarak semprot dikategorikan aman, namun tetap saja baunya menusuk.

"GAK MANDI, YAAA?" teriak Naruto dan Kiba, membentuk chorus yang memekakkan telinga.

Spontan, empat gadis itu langsung menutup hidung dan mulut mereka—kecuali Sakura, karena ia sudah berada tak jauh dari tempat Sasuke, entah sejak kapan. Mereka menatap tajam para lelaki jahil itu—kecuali Hinata yang hanya bisa memberi tatapan innocent.

"YA!" teriak Tenten, seraya menarik rambut Neji yang hendak kabur, lalu memberikan tendangan telak di punggung lelaki itu, sehingga Neji tiarap di atas lantai, dengan Tenten mengunci pergerakannya.

"Aku tidak terlibat. Sungguh," cicit Shikamaru, begitu melihat Ino berjalan ke arahnya dengan tatapan bak vampir. Namun pembelaannya tak berefek banyak, terbukti dengan munculnya seringai Ino yang mengerikan.

Karin yang kini memegang kendali atas pengharum ruangan, berjalan menghampiri Kiba yang hanya bisa duduk bersimpuh pasrah, saat melihat pengharum ruangan itu sudah berada di depan matanya dengan jarak tiga puluh senti meter.

"HINATA! PUKUL NARUTO!" tiba-tiba tiga gadis itu berteriak memerintah Hinata. Hinata yang masih terkejut setengah mati, hanya bisa menggerakkan bola matanya gugup.

"A-aku?" jawabnya gagap, seraya menunjuk hidungnya sendiri.

"CEPAT!" teriak Karin memaksa.

Setelah mendengar itu, Hinata melangkah pelan ke arah Naruto. Tangannya yang mengepal, ia sejajarkan dengan telinga. Tanpa basa-basi, ia segera mengarahkannya pada kepala Naruto.

.

.

.

'Puk.'

"ARRGGHH!" Naruto spontan berlakon bak orang sakit yang hampir gegar otak.

Sedetik setelah mendengar erangan kesakitan Naruto, mata Hinata melebar kaget. "Maafkan aku!" ucapnya cepat, seraya membungkuk sembilan puluh derajat—untung saja tubuh Hinata tidak terlalu tinggi, sehingga kepalanya tidak membentur kepala Naruto.

Naruto sungguh menjiwai peran 'Drama King'-nya di sini.

.

.

.

Di sisi lain, dua orang yang sedari tadi benar-benar tidak ikut campur atas insiden ini, hanya bisa termenung bosan. Sakura yang berdiri menghadap kerumunan seraya melipat tangan di depan dada. Sasuke sepertinya lebih tertarik dengan pemandangan para siswi yang masih diguyur sinar matahari di lapangan.

"Kehidupan SMA," gumam kedua orang itu hampir bersamaan, diiringi helaan napas bosan.


Kau lihat mereka?

Mereka masih bermain-main

.

Mereka belum melihat pecut yang siap mencambuk mereka

Mereka belum melihat roda yang harus mereka gerakkan

Mereka belum melihat hutan belantara yang harus mereka jamah

Mereka belum melihat sungai deras yang harus mereka seberangi

.

Mereka menunggu sesuatu untuk menampar mereka

Sesuatu yang dapat membuka mata mereka

Sesuatu yang dapat mereka jadikan sandaran

Sesuatu yang juga dapat mencambuk mereka

.

Berpikirlah

Buka matamu


SMA Senju, sekolah unggulan di kota ini. Ada enam mata pelajaran wajib dan sisanya adalah pilihan minat masing-masing murid. Pelajaran pertama, yaitu bahasa. Di bawah bimbingan Hatake Kakashi, yang sangat suka memberikan tugas yang tidak terlihat ataupun terdengar seperti tugas. Kemampuannya mengolah diksi, terlihat dari kata-kata puitisnya yang sering kali memengaruhi pikiran murid-murid. Hidupnya hanya diisi dengan hal-hal 'normal' dan 'tidak normal'. Hanya dirinya yang bisa mengategorikan sesuatu itu 'normal' atau 'tidak normal'. Ia sangat suka bicara berbelit-belit.

Pelajaran kedua adalah matematika, yang dibimbing oleh Mitarashi Anko. Istri dari Kakashi Hatake yang juga merupakan bibi dari Tenten ini memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan keponakannya. Keras, ambisius dan terkadang lembut. Namun, dalam hal membentuk karakter murid asuhannya, dia-lah yang terbaik.

Yang ketiga adalah sains. Pelajaran ini ada di bawah bimbingan guru teraneh kedua setelah Killer Bee, yaitu Yakushi Kabuto. Dia tidak memiliki rumah sendiri. Jangan berpikir dia seorang yang miskin, karena nyatanya dia memiliki harta berlimpah dari penghargaan atas temuan-temuannya. Dia tinggal di laboratorium sekolah—tentunya dengan membayar biaya sewa pada Tsunade yang cukup pelit itu. Gaya mengajarnya santai dan lebih menekankan kerja sama tim.

Selanjutnya adalah pelajaran olahraga yang dibimbing oleh Maito Guy. Puncak karir bagi seseorang yang memiliki keahlian bertarung dengan tangan kosong ini, adalah saat ia membintangi sebuah film action bersama salah satu aktor film bela diri terkenal—di mana film itu langsung menjadi hits. Dia adalah orang yang penuh semangat dan penyabar dalam mengajar.

Yuuhi Kurenai adalah seorang guru ilmu sosial. Dia adalah guru yang lembut dan penyayang. Walaupun begitu, ia adalah orang yang disiplin dan teliti. Dia juga sangat pandai berdebat. Satu-satunya murid yang dapat memenangkan debat dengannya adalah Shikamaru.

Yang terakhir adalah Killer Bee—bukan nama asli. Dia menguasai hampir semua bidang seni. Mulai dari seni rupa, musik, drama hingga tari. Ia gemar bernyanyi ataupun bicara dengan gaya freestyle-rap. Walaupun kebanyakan tugasnya menyiksa, namun tetap terasa menyenangkan.

Selain enam guru tersebut, ada tiga tetua sekolah yang kehadirannya datang-tak-diundang, pulang-tak-diantar. Mereka adalah Tsunade, Orochimaru dan Jiraiya. Mereka terkadang datang untuk mengawasi jalannya kegiatan belajar-mengajar. Terkadang, jika mereka sedang dalam mood yang baik, mereka yang terkenal pelit itu bisa membagi ilmu yang sangat 'wow' pada muridnya. Patut dipertegas, itu hal yang 'terkadang'.


'BRAK!'

Hening menerkam ruangan tiba-tiba. Sepasang mata malas menyisir pemandangan di depannya. Meja dan kursi ditumpuk tak karuan. Laki-laki disudutkan oleh perempuan. Botol pengharum ruangan yang terlepas dari tutupnya, menggelinding ke arah kakinya.

Berantakan.

.

.

.

Hancur.

.

.

.

Tidak normal.

.

.

.

"SASUKE!" manusia bermasker itu memicingkan mata malasnya pada salah satu laki-laki di kelas.

"Pffftt..." tiba-tiba terdengar desisan menahan tawa, dari samping Sasuke. Siapa lagi jika bukan Sakura?

Dengan sorot mata tak kalah malas, Sasuke menundukkan kepalanya sembilan puluh derajat ke arah Kakashi. Tangan kanannya yang cukup panjang itu, segera menarik pundak kiri Sakura—memberi isyarat untuk ikut menunduk. Tak lama kemudian, kedua insan tersebut sama-sama menunduk hormat.

"Maafkan kami, Sensei," ucap mereka bersamaan.

Berbeda dengan Sakura dan Sasuke yang sudah meminta maaf kepada sang guru, kedelapan murid lain masih belum tersadar dari shock mereka, hingga sebuah suara keras menendang mereka kembali pada kenyataan.

"KEMBALI KE POSISI!"

Dan butuh beberapa menit untuk mengembalikan keadaan kelas menjadi 'normal'.

.

.

.

.

.

"Mulai sekarang, hentikan tingkah abnormal kalian. Kalian sudah murid tingkat atas. Lakukanlah sesuatu yang lebih bermanfaat," ceramah Kakashi di depan kelas. Lelaki bermasker ini berbicara tentang normal dan abnormal. Kalau begitu, mari kita lihat cara duduknya.

Kakashi duduk dengan kaki kanan yang ia lipat di atas kursi. Ia menghadap ke arah para murid, namun kursinya menghadap ke arah sebaliknya. Tangan kirinya ia tumpukan pada sandaran kursi, lalu ia tindihkan pula dagunya di atas tangan. Sementara itu, tangan kanannya memegang buku kecil bersampul jingga yang misterius apa isinya. Jadi, apa dia normal?

"Tidak ada sesuatu yang menarik untuk dikerjakan, Sensei," sanggah Neji, mengomentari ceramah guru besarnya.

"Itu cara kami menghibur diri, Sensei. Selama ini kami stres dengan semua pelajaran yang diberikan. Hidup ini... tidak semudah yang Sensei bayangkan," keluh Naruto, mulai menyelami peran 'Drama King'-nya kembali.

"Apa maksudmu kita stres? Kita bahkan baru dua minggu belajar di sini," sela Ino dengan cepat.

"Jujur, Sensei. Dua minggu ini sedikit membosankan menurutku," komentar Kiba tiba-tiba terdengar.

"Kiba benar," gumam Karin yang tengah menatap malas majalah fashion di hadapannya.

"Sensei, kenapa kita semua masuk kelas unggulan? Sistem pembelajaran kita bahkan tidak ada bedanya dengan murid di kelas lain. Kalau kita—" ceramah Tenten tiba-tiba terhenti ketika Sasuke mengetuk meja.

"Biarkan Kakashi-sensei bicara," ucap Sasuke singkat, dengan nada malas yang begitu kentara.

Semua perhatian yang tadinya terpecah, kini kembali memusat. Kakashi akhirnya berhenti membaca buku jingganya. Ia berdiri, menegapkan tubuhnya. "Kalian bosan? Sama. Saya juga," ucapan lelaki itu terhenti sejenak.

"Tapi," Kakashi mengangkat sebuah amplop berwarna cokelat besar yang baru saja ia ambil dari mejanya. "Setelah membaca isi amplop ini, kujamin rasa bosan kalian akan hilang. Masalahnya, bacaan di dalam amplop ini terlalu panjang. Aku pun malas membacanya," Kakashi tiba-tiba melempar amplop itu ke atas meja Hinata—sebenarnya ia tak peduli di mana amplop itu mendarat.

"Intinya, dalam waktu sebulan dari sekarang, kalian harus menemukan tujuan hidup kalian. Jurusan kalian. Kemauan kalian. Semangat kalian. Bakat kalian. Sesuatu yang membawa kalian pada kesuksesan di masa depan. Ini langkah awal kalian. Langkah yang menentukan segalanya. Dan inilah alasan kalian ada di kelas ini. Murid-murid di kelas lain mungkin menentukan hal ini lewat psikotes. Namun, khusus untuk kalian, ada ribuan tes yang mesti dilalui.

Gambarkan apa keinginan kalian. Lebih spesifik. Lebih terperinci. Berpikirlah puluhan langkah ke depan. Kalian ada di sini bukan sebagai murid SMA biasa. Kalian dituntut untuk maju, maju dan maju. Lari, lari dan lari. Ini garis start kalian. Jika kalian gagal melewati ini, jangan harap kalian mampu untuk tetap berada di kelas ini.

Bukan sekedar angan-angan anak kecil. Aku ingin jadi dokter, pilot, presiden. Ya, jika kalian normal, kalian bisa lakukan itu nanti. Nanti, masih lama. Itu jika kalian normal. Dan sudah kukatakan ribuan kali, kalian tidak normal. Kenapa harus tunggu waktu yang lama jika kalian bisa belajar mulai dari sekarang? Kalian bisa meraihnya dengan cepat, jika kalian berlari. Maka dari itu, jangan bangga jadi orang normal. Paham maksudku?" Kakashi akhirnya mengakhiri pidato panjangnya. Ia menyisir ekspresi murid-muridnya. Ada yang tercengang, ada yang gembira, ada yang masih berpikir, ada pula yang sudah mulai mengerjakan tugasnya.

.

.

.

Tunggu, tugas apa?

.

.

.

"Ma-maksud Sensei, kita harus menemukan bi-bidang yang akan kita pelajari lebih dalam selama dua tahun ke depan, sehingga sa-saat kita lulus, pengetahuan kita bisa setara dengan para profesional di bidang tersebut? Begitu?" ucap Hinata, menyimpulkan ucapan gurunya—sebenarnya ia hanya berniat membantu Naruto yang sepertinya masih berpikir, karena tidak mengerti maksud dari ucapan gurunya yang bertele-tele tersebut.

"Bingo," seru Kakashi, seraya menjentikkan jarinya di depan wajah Hinata.

"Ooo... begitu," gumam Naruto pelan, menyadari bahwa dia memang tidak mengerti ucapan gurunya. "Sensei, apa guru bahasa abnormal semacam Sensei, selalu berbicara panjang lebar untuk mengutarakan sesuatu yang singkat?" ucap Naruto dengan polos—ia tidak menyadari bahwa perkataannya sangat menyakitkan.

Gelak tawa segera mengisi ruangan. Namun, dengan cepat pula teredam, mengingat mereka harus menjaga kesopanan di hadapan guru. "Mungkin, hampir semua guru bahasa mengatakan pada muridnya untuk menggunakan kalimat efektif. Tapi, aku guru yang abnormal. Sesuatu yang abnormal bisa menjadi ciri khas seseorang. Kita hanya bisa berharap, ciri khas kita masih dianggap 'baik' oleh orang lain," Kakashi kembali menyudahi pidatonya.

"Intinya, Sensei?" Naruto kembali mengutarakan pertanyaan polosnya. Otomatis, pertanyaan menyakitkan itu kembali mengundang tawa seisi kelas.

"Bicara panjang lebar adalah ciri khasku," kali ini, Kakashi benar-benar menyudahi pidatonya.


...

(Class Agenda)

Sabtu, 19 Juli

1. Kami belajar tentang arti sebuah ciri khas.

2. Kami mendapat tugas penting!

...


To be continued...


A/N

Chap 3 UP! Maaf telat, tahun ajaran baru bikin semua serba sibuk~~ Terima kasih buat semua yang udah review di sepanjang fict ini..

Agenda chap ini adalah membuka gerbang konflik. Jangan heran kalau di chap-chap depan mulai agak serius gimana~ gitu. Action para tokoh udah kelihatan? Gimana karakter tokohnya? Semoga cukup memuaskan ya..

Mohon kritiknya.. Tolong ingetin kalau ada typo T_T

Review, ya... Papai!

Radar Countdown (Yui)