Hahaha, saya akan melanjutkan ceritanya.

Oke sekarang chapter 4!

Oke terima kasih udah yang mau review, terutama untuk yuuki-san, saya berterima kasih banyak untuk anda! *ngancungin jempol*.

Baik ini dia!

Disclaimer:Yamaha corp.&Crypton

Genre:Adventure 40%,Friendship 25%,Family 20%,Romance 14% Lain-lain 1%. Total=100%.

Rate:T

BECOME A WARRIOR

Chapter 4

Kaito POV

"Hah dimana aku?" tanyaku saat aku membuka mataku.

"Oh iya-ya, aku kan meninggalkan mereka, kok aku bisa lupa ya?" ahh aku ini memang pelupa.

Aku berdiri dan pergi mencari sungai untuk mencuci muka, masa' mau makan?

Setelah selesai mencuci muka, perut aku berbunyi tanda berarti aku lapar.

KRUYUK!

SHIT!

Coba waktu aku pergi dari mereka aku membawa bekal, aduh, aku ini memang PELUPA!

"Siapa kau anak muda?" Tanya seseorang, aku terkejut dan melihat seorang kakek-kakek kurasa di depan ku.

"A-aku Kaito, Kaito Shion, kakek siapa?" tanyaku balik.

"Aku? Namaku Dell, Dell Honne, jangan panggil aku kakek, walaupun rambutku putih seperti ini aku masih muda kok! Dan panggil saja aku Dell, oh iya kenapa kau ada di hutan ini Kaito?" tanya Dell.

"A-aku tersesat di hutan ini" jawabku bohong.

"Sudah berapa lama kau di hutan ini, Kaito?" tanya Dell lagi.

"Dari kemarin malam, memang kenapa?" tanyaku balik.

"Fuh, untung saja kau tidak dimakan oleh monster hutan ini" jawab Dell.

"Me-memangnya ada monster apa di hutan ini?" tanyaku lagi.

"Ya monster, tapi monster itu hanya keluar saat malam hari, kalau pagi-pagi gini sih tidak apa-apa" jawab Dell.

"Oh, hmm, bolehkah aku menginap di rumahmu sementara?" tanyaku.

"Boleh, tapi ada syaratnya" jawab Dell.

"Syarat apa?" tanyaku lagi.

"Pegang ini" jawab Dell sambil menyerahkan kapak kepadaku.

"Untuk apa?" tanyaku.

"Ya untuk nebang pohon, jika kau mau tinggal di rumahku kau harus bekerja!" jawab Dell.

APA BEKERJA? AKU KAN TIDAK PERNAH BEKERJA MENEBANG POHON! HAH, TAPI BAIKLAH DARIPADA DIMAKAN MONSTER.

"Hei, bagaimana mau tidak?" tawar Dell.

"Iya deh" jawabku paksa.

"Baiklah, ayo kita ke sana, disana kayunya bagus-bagus" ajak Dell.

"Ya" jawabku.

Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan Dell tadi, aku bertanya ke Dell.

"Oh iya Dell, kau memangnya tinggal dengan siapa, apakah kau punya anak atau istri?" tanyaku.

"Aku tinggal sendirian, aku mempunyai seorang anak perempuan, namanya Haku, tapi…" Dell berhenti berbicara, raut wajahnya berubah sedih.

"Sudahlah Dell, aku tau kok, maaf ya aku bertanya seperti itu" kataku. Aku kasihan melihat Dell.

"Ahh, tidak apa-apa, haha, jika Haku masih hidup, pasti sekarang usianya sepertimu Kaito" kata Dell.

"Hmm, begitu, oh iya ayo kita selesaikan pekerjaan ini, nanti sudah malam, nanti kita dimakan monster hutan ini" kataku sambil menebang pohon yang besar.

"Baiklah" kata Dell.

Setelah kami selesai menyelesaikan pekerjaan kami, kami pun langsung pergi meninggalkan hutan.

"Dell rumahmu dimana?" tanyaku.

"Di pinggir hutan itu" jawab Dell.

"Oh iya Dell, apakah kau pernah melihat monster hutan itu?" tanyaku sambil mencairkan suasana yang hening.

"Pernah, tapi hanya sekali" jawab Dell.

"Bagaimana bentuk monster itu?" tanyaku lagi.

"Heh kau ini bertanya saja, tapi baiklah begini ceritanya" jawab Dell.

End Kaito POV

FLASHBACK:ON

Dell POV

Hah, gara-gara keasyikan menebang pohon, tak terasa sudah malam, oh iya Haku, dia kan lagi sakit, aku harus cepat-cepat pulang kerumah!

Aku pun berlari meninggalkan hutan.

Saat aku sampai di rumah, aku heran, kok lampu di rumahku mati?

Jangan-jangan ada yang aneh di dalam rumahku.

"HAKU!" aku teriak dan langsung berlari kea rah rumahku.

Aku menendang pintu rumahku dan melihat, Haku sudah tinggal tulang dan darahnya saja, dia dimakan sosok yang besar, apa itu?

Aku pun menuju tempat Haku dan memukul sosok besar itu dengan kapakku.

"Sialan kau,! Kenapa kau memakan anakku?" teriakku sambil menebas-nebas kapakku ke arah sosok besar itu.

Dan saat aku menghujamkan kapakku kearah pundak sosok besar itu, dia langsung menghindar dan mencakar kakiku, saat dia mau kabur, aku melempar kapakku dan tepat mengenai kakinya.

Dan akupun lama-lama langsung tak sadarkan diri.

Dan gelap.

Saat aku bangun aku hanya terdiam, dan mencari sisa-sisa tubuh Haku, dan hanya tersisa tulang-belulang Haku.

Sialan kau! Monster!

End Dell POV

FLASHBACK:OFF

Normal POV

"Oh begitu ceritanya, aku sedih mendengarnya" kata Kaito.

"Ya, dan inilah bekas cakaran monster itu" kata Dell sambil menunjukkan bekas dari cakaran monster itu.

"Hei! Sepertinya aku pernah melihat cakaran ini!" seru Kaito.

"Tidak mungkin" kata Dell.

"Benar, tapi aku lupa dimana aku pernah melihatnya" seru Kaito lagi.

"Ahh kau ini Kaito, selera humormu bagus sekali, hahahaha" Dell tertawa.

"Hhh" Kaito mendesis.

Kaito POV

"Ya, dan inilah bekas cakaran monster itu" kata Dell sambil menunjukkan bekas dari cakaran monster itu.

"Hei! Sepertinya aku pernah melihat cakaran ini!" seruku.

"Tidak mungkin" kata Dell.

"Benar, tapi aku lupa dimana aku pernah melihatnya" seruku.

"Ahh kau ini Kaito, selera humormu bagus sekali, hahahaha" Dell tertawa.

"Hhh" aku mendesis.

Memang aku pernah melihat bekas cakaran ini, tapi dimana? Aku lupa.

Aku ini memang PELUPA!

"Sudahlah Kaito, itu kejadian lama, lebih baik kita kerumah ku saja, dan istirahat" kata Dell.

"iya" jawabku.

Tak terasa kamipun sudah sampai di rumah Dell.

"Kaito kau bisa tidur di kamar ini, aku bisa tidur di kursi" kata Dell.

"Eh? Bukannya tuan rumah yang tidur dikamar?" tanyaku.

"Sudahlah, aku tak perduli, tamu itu yang harus diutamakan" jawab Dell.

"Baiklah" kataku.

"Ya, aku mau tidur dulu, jika ada yang kau perlukan, kau bangunkan saja aku ya" kata Dell sambil meninggalkanku di kamarnya.

"Haah, capeknya habis bekerja" kataku sambil merebahkan badanku di kasur milik Dell.

Aku yakin, aku sepertinya pernah melihat bekas cakaran itu, tapi aku memang PELUPA!

Aku berpikir terus, tak lama aku memikirkan bekas cakaran itu, aku malah teringat sama Luka.

"Ahh, sial! Malah ingat yang ini!" teriakku pelan.

Dan ada 1 bayangan lagi itu Len, dia memang sahabatku yang baik, dan dia mengajakku karena dia ingin menolong kakaknya yang terkurung di Benteng itu, dan waktu itu dia pernah melihatkan sesuatu di betis kakinya.

FLASHBACK:ON

"Hei, Kaito, kau mau melihat sesuatu?" tanya Len.

"Ya, tapi jangan yang aneh-aneh, ingat saat kau mengajakku melihat sesuatu dan ternyata para wanita yang sedang mandi?" tanyaku.

"Tidak! Ini lain" jawab Len.

"Baiklah apa itu?" tanyaku lagi.

"Kau tau ini bekas luka apa?" tanya Len sambil melihatkan bekas cakaran di betis kakinya.

"Apa itu? Aneh sekali bentuk cakarannya, kau dapat darimana bekas cakaran itu?" tanyaku.

"Waktu Rin diculik" jawab Len.

"Berarti itu adalah cakaran si penculik" kataku.

"Mungkin, dan setelah itu aku pingsan dan tak sadarkan diri" kata Len.

"Oh, ya sudahlah, aku mau ke rumah Luka dulu ya, daa~" kataku sambil melambaikan tanganku ke Len, dia hanya tersenyum.

FLASHBACK:OFF

Plek, aku membuka mataku, sekarang aku ingat, itu adalah bekas cakaran orang penculik Rin, tetapi kok bisa?

Sudahlah nanti saja aku memikirkannya, aku mau tidur capek!

End Kaito POV

Di Desa Kanibal

Len POV

Sudah 2 hari Kaito tidak kembali ke kami, ya sudahlah, lanjutkan saja perjalanan, toh nanti pasti ketemu di jalan.

"Len, kau sedang apa?" tanya seseorang dan saat aku lihat adalah Luka.

"Haah, aku sedang memikirkan Rin, dan juga Kaito" jawabku.

"Kaito ya?" tanya Luka lagi, dan mukanya terlihat sedih.

"Luka, kau kenapa, hei air matamu jatuh?" tanyaku.

"Ahh, tidak, tadi ada debu yang masuk mataku tadi" kata Luka bohong, ya tentu saja.

"Sudahlah Luka, tidak usah disembunyikan, aku tau kok kau sedang menyembunyikan sesuatu, ayolah kita kan sudah berteman dari kecil" kataku.

"Baiklah, hmm, sebenarnya, ini masalah Kaito" kata Luka.

"Kaito? Kenapa dia?" tanyaku.

"Dia itu kan suka sama aku, tapi kenapa tidak pernah bilang? Kalau dia bilang dari dulu, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi" jawab Luka.

"Sudahlah Luka, hmm, kau suka Kaito?" tanyaku lagi.

"?, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Luka balik.

"Sudahlah jawab pertanyaanku" seruku.

"I-iya" jawab Luka.

"Kalau kau suka, kenapa kau dekat-dekat sama Wakcik?" tanyaku lagi.

"Ah, i-itu…" jawaban Luka terpotong oleh suara seseorang.

"Itu karena dia bertanya kepadaku, siapa yang mengurusnya saat dia pingsan, jadi dia bertanya kepadaku" kata seseorang itu dan ternyata Wakcik.

"Wakcik?" Luka langsung diam.

"Kenapa kau tidak bilang?" tanyaku lagi.

"Luka bilang jangan beritau kepada semuanya, ya aku rahasiakan saja" jawab Wakcik.

"Oh" aku ber-oh ria.

"Sudahlah, lebih baik kita cari Kaito dan melanjutkan perjalanan" kata Wakcik.

"Ok" jawabku.

Kamipun bersiap-siap dan segera ingin melanjutkan perjalanan.

"Sudah mau pulang ya?" tanya bapak yang mempunyai rumah yang kami tempati.

"Iya pak, terima kasih ya" jawabku langsung pergi keluar rumah itu bersama teman-temanku.

"Tunggu" kata bapak itu.

"Kenapa pak" tanyaku.

"Tidak baik kan jika tamu ingin pergi tanpa memberi tamu sebuah hadiah" jawab bapak itu.

"Tidak usah repot-repot pak" kataku.

Bapak-bapak itu aneh!

"Jangan tertipu!" seru seseorang.

"Siapa kau?" tanyaku.

"Nanti juga tau, sebaiknya kalian lari! Di belakang bapak itu ada kapak, dia akan menebas badanmu!" teriak orang itu lagi.

"Ahh, ketahuan ya?" tanya bapak itu langsung menebas dengan membabi buta.

"SHIT! Ternyata semua kebaikanmu palsu!" teriakku sambil menghindar.

Dan saat bapak itu menebas ke arahku, tiba-tiba sebuah kapak yang tentunya bukan punya bapak itu melayang kearah bapak yang ingin membunuhku tadi dan bapak itupun langsung tewas.

Orang aneh itupun turun dengan memakai topeng dan meludahi bapak itu, dan berkata kasar.

"YOU SON OF A BI*** MAN!" teriak sosok bertopeng itu.

"Terima kasih sudah menolongku, siapa kau?" tanyaku.

"Menolongmu? Lebih baik kau menolongku,karena Ini baru satu orang, sebentar lagi akan ramai dengan orang pemakan manusia itu" jawab orang bertopeng itu.

"Baiklah, aku akan membantumu" kataku.

Pose para prajurit:

JENG-JENG-JENG

Len: mengambil pedangnya dari sampul pedangnya yang terletak di pinggangnya. (dengan gaya yang cool, coba dibayangin aja).

Wakcik: rambut panjangnya tertiup angin, (saat kamera dilihatkan kea rah kiri, ternyata hanya kipas angin yang membuat rambutnya tertiup) XD *PLAAK*. *hehehe Cuma humor sedikit*.

Miku: membersihkan depan celananya (tau gak missal seseorang terjatuh, biasanya membersihkan celananya, maaf saya tidak tau apa kata lebih singkatnya) dan mengeluarkan senjatanya, yaitu 2 buah crossbow.

Meiko: jalan santai sambil mengeluarkan senjata handalannya, 2 buah sarung berbentuk muka beruang, (pernah main DW dan pakai Meng Huo, kira-kira seperti itulah senjata Meiko).

Luka: duduk santai, (dia lagi sakit). *alasan*.

Mikuo:bersembunyi di belakang badan Miku, (takut).

Orang bertopeng:mengeluarkan senjatanya, pedang dan kapak. (siapakah pria bertopeng ini?)

"Let's Fu** it off" kata orang bertopeng itu. (pernah main COD)?

"Graraaa" para penduduk desa kanibal datang.

"Huh, manusia yang menjijikan!" teriak Miku.

CLEP,CLEP,CLEP,CLEP, 1,2,3,4,5, dan seterusnya, crossbow Miku mengenai para penduduk desa kanibal itu.

"Bagus Miku!" teriak Meiko.

"GRARRARARA" sekelompok penduduk desa kanibal datang ke arah Meiko.

"Kau pikir aku taku?" tanya Meiko.

*tiba-tiba layar hitam, dan saat layar kembali jelas, bruk-bruk-bruk, para penduduk desa kanibal itu jatuh.

"Jangan macam-macam sama WANITA ya, ingat itu!" teriak Meiko sambil menekankan kata WANITA.

"Huh, Cuma itu Meiko?" tantangku.

Aku pun langsung menunjukkan jari tengahku kepada kawanan kanibal itu.

"Kejar orang berambut kuning itu!" teriak salah seorang kanibal.

"YOOO" teriak kawannya.

"O" kataku. Sring!

"Ni" kataku lagi. Sring!

"Gi" kataku lagi. Sring!

"RI" teriakku. Saat aku memasukkan pedangku ke sampul pedangku para kanibal yang berlari ke arah ku langsung ambruk.

(Sori itu jurus Zoro, pinjem sebentar, hehehe).

"Hei, cowok berambut hijau, kau tidak membantu temanmu?" tanya pria bertopeng ke Mikuo.

"Ahh, kalau aku menggunakan jurusku, kanibal itu mati semua!" kata Mikuo bohong sebab wajah dia ketakutan sekali.

"MIKUO belakangmu!" teriak Miku.

"Eh?" Mikuo hanya eh, dan secara refleks dia langsung menebas pedangnya ke arah kanibal yang ada di belakangnya itu.

BRUK!

Kanibal di belakang Mikuo terjatuh, Mikuo pun bilang,

"Te-ternyata membunuh itu mengasyikkan!" seru Mikuo.

"Tapi kanibal itu makin banyak bagaimana ini?" tanyaku.

"Tunggu sebentar" kata orang bertopeng itu.

"Heh" orang bertopeng itu mengeluarkan nafasnya *belum mati*.

SRINGGG!

Suara tebasan pedang yang kuat! Dan satu-persatu kanibal itu ambruk.

"Hei, siapa kau?" tanyaku.

"Tidak penting" jawab orang bertopeng itu dan langsung meninggalkan kami.

"Sudahlah, lebih baik kita lanjutkan saja perjalanan" kata Wakcik.

"Baiklah" kataku.

Dan kamipun melanjutkan perjalanan.

End Len POV

Kaito POV

Huh, ternyata mereka sama sekali tidak ingat padaku ya? Padahal aku Cuma memakai topeng, tapi mereka tidak ingat padaku?

Huh, sudahlah, yang penting aku sudah meyelamatkan mereka.

Bantu Dell menebang pohon lagi saja.

Ketika aku sampai di tempat biasa Dell menebang pohon,

"Hei, darimana saja kau Kaito?" tanya Dell.

"Ma-maaf Dell, aku tadi buang air besar" jawabku bohong.

"Hah, ya sudahlah, ayo bantu aku, hari ini kita tidak sampai sore, karena di rumah tidak ada makanan, jadi aku harus belanja dulu, kau tidak apa-apa kan kutinggal sendiri di rumah?" tanya Dell.

"Iya tidak apa-apa" jawabku sambil terus menebang pohon.

End Kaito POV

Rin POV

Len, aku harap, kau harus cepat menolongku, sebab, umurku tidak akan lama lagi, jadi Len, aku ingin melihat wajahmu lagi.

OHOK-OHOK, lagi-lagi batuk berdarah ini!

End Rin POV

TBC~

Maaf ya kalau cerita ini tidak nyambung! Hehehe saya mau cari rangkuman dulu jadi segini aja!

OKE KALAU NDAK REVIEW TIDAK APA-APA CERITA INI DIBACA PUN SAYA SUDAH SENANG!

OKE SAMPAI JUMPA DI CHAPTER 5

GOOD BYE!

Dan bagi siapapun yang menghadapi ujian, semoga ujiannya lancer dan mendapat nilai yang bagus ya! (padahal saya juga masih kelas 9 SMP, jadi doain supaya saya lulus)..

BYE!