FF BAP ONE SHOT EXTRA 1 BOBBY/ DOUBLEB/ YAOI/APOLOGY/Part 4

Title: Apology

Author: Bang Young Ran

Rating: T *sementara*

Genre: Yaoi/Friendship/Romance/Drama/Triangle Love/AU

Length: 1 to 5

Main Cast:

Kim Ji Won (IKON) as Bang Ji Won aka Bobby (A/N: D ff ni, Bobby lbih muda dari Hanbin)

Kim Han Bin (IKON) as Moon Han Bin aka B.I (Officially, he's on my freakin' bias lists now! Yeaaaaa~~\(=^0^=)/*screaming happily*)

Support Cast:

Kim Yoojung (Actress) as Moon Yoojung as Hanbin's sister

JongJae (Jong Up & Young Jae)

BangHim (Yong Guk & Him Chan)

DaeLo (Dae Hyun & Zelo)

Hyeri (Girls Day) as Jung Hyeri

Probably all the BAP Casts from ONE SHOT ff*nyusul*

Nyusul...

Disclaimer: DoubleB, BAP, & Others is their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachh...*kechup basah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! STRAIGHT! DRAMA! TRIANGLE LOVE! CHEATING! NO PLAGIARISM! NO BASHING!

Author's Note(PENTING): Annyeong~^0^)/ Ff ni adalah extra 1 dari ff ONE SHOT spesial Bobby Bang. Extra 2... masih rahasia~ *bisik2* Akhir kata, selamat membaca bagi Readers-nim smua yang masih penasaran ma kelanjutan kehidupan keluarga The Mato's setelah FF ONE SHOT~ \(=^o^=)/ Bye!*kabur*

Summary: Like a criminal, I ran away.

.

.

.

APOLOGY

Part 4

"I SAID STOP, MOON HAN BIN!"

Deg.

Hanbin terkesiap. Bentakan Bobby begitu membahana hingga ia khawatir pertengkaran mereka akan terdengar hingga ke lantai satu sana.

Apa yang akan keluarga Bobby katakan kalau menemukan posisi mereka... seperti ini?

"Kau tidak mendengarkanku dengan baik," bisik Bobby lirih dan pelan. Dia terlihat begitu terluka, bertentangan dengan sosoknya yang dikuasai amarah beberapa detik lalu. Sudut dimana kedua alis mata Bobby bertemu, berkerut dengan khas. Mengingatkan Hanbin akan ekspresi Sang Chanie Umma saat tengah berpikir keras. "Aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan perasaanmu padaku konyol, Hyung. Yang kusayangkan adalah, kau bertindak gegabah dan menyakiti dirimu sendiri."

Sorot terluka namun penuh kelembutan dari marbel hitam yang menatapnya, memaksa Hanbin untuk segera berpaling. Dia tidak ingin melihat serta salah mengartikan tatapan tersebut. Lagi. Dia tidak ingin menjadi Moon Han Bin yang dulu; bocah yang terus-menerus bermimpi dan mengartikan tatapan nanar Bobby sebagai balasan atas perasaannya.

Karena pada kenyataannya, hal itu tidak pernah ada.

Semua hanya fatamorgana.

Bobby tidak menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Tatapan itu mengandung sorot kasih sayang. Bukannya cinta. Hanbin menyalahkan otaknya yang penuh intrik hingga pernah menyusun skenario konyol tersebut.

Yah, Bobby benar. Semua ini konyol. Apa yang dilakukannya konyol. Apa yang dirasakannya juga... konyol.

Tes~

DEG.

Kedua mata Hanbin terbelalak seiring dengan jatuhnya setetes kristal bening hangat di pipi kanannya. Bobby menangis. Wae? Kenapa Bobby malah menangis?

Tangan kokoh yang menekan pergelangan tangan Hanbin di ranjang, bergetar hebat mengikuti tubuh Sang Pemilik. Ia tampak berusaha keras menahan tangis. Namun apa boleh buat bila tetes demi tetes, berubah menjadi aliran kristal bening yang menganak-sungai tiada henti.

"M – hiks... mianhe, Hyung," ucap Bobby terbata. "Selama ini a-aku... hiks! Selalu berpikir jelek tentangmu. Hiks... aku menyalahkanmu karena bersikap egois. Pa-padahal... s – hiks, semua ini adalah kesalahanku!"

Alih-alih membersihkan wajahnya sendiri menggunakan tangan yang sudah terlepas dari genggaman melonggar tersebut, Hanbin malah melarikannya ke mata Bobby, membersihkan bagian kelopak dengan lembut menggunakan sisi ibu jari, serta telapak tangan yang menyapu jejak air mata pada tulang pipi. "Ini bukan salahmu. Kenapa kau malah meminta maaf dan menangis, eoh?"

Menggeleng, salah satu tangan Bobby ikut menangkup di atas jemari Hanbin yang menapaki pipi kanannya. "Tidak, Hyung. Ini salahku. A-aku yang tidak peka. Hiks, akulah yang mendorongmu h-hingga melakukan semua itu! Hiks... maafkan aku, Hyung."

Tidak, ingin rasanya Hanbin mengingkari. Tapi percuma. Dalam keadaan seperti ini Bobby tidak akan menerima bantahan tersebut. Alih-alih berkata, ia menarik dan memeluk erat leher namja itu, membuat tubuh mereka menempel tanpa sedikitpun celah udara tersisa. Kedua tangan kokoh Bobby juga menyelinap, memeluk pinggangnya tak kalah erat. Sementara wajah tampan yang Hanbin kagumi, bersembunyi di sisi lehernya.

Mereka hanya berdiam diri. Membiarkan keheningan melingkupi meski begitu banyak hal yang berkecamuk dan mengusik hati masing-masing. Di saat-saat seperti ini rasanya seberapa banyak pun rangkaian kata terucap, tidak akan cukup mengurai rangkaian kacau dari kekalutan yang mereka rasakan.

Namun tidak begitu lama.

Suara Bobby yang tertahan karena bersembunyi di sisi leher Hanbin memecah kesunyian tersebut. "Hyung, please don't go."

Deg~

"K-kalau kau pergi... hiks, a-aku... a-aku tidak ingin kita berjauhan lagi! Please, Hyung... don't go?"

Hanbin tidak menjawab. Lebih tepatnya, ia tidak mampu menjawabnya. Bagaimana mungkin ia bisa menjawab Bobby? Dia tidak ingin memberikan janji serta harapan palsu. Lebih baik tidak berjanji apa-apa ketika kau tahu, kau tidak akan bisa menepatinya, bukan? Janji adalah hutang.

"Hyung..." panggil Bobby lirih karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Hanbin.

"Aku tidak bisa, Bobby."

DEG.

"... Aku tidak bisa. Tetap di sini... akan membuat semuanya kacau. Aku tidak ingin Yoojungie Noona mengetahui ini semua, Bobby-ya. Bisa kau bayangkan bagaimana reaksinya kalau dia tahu? Noona-ku akan terluka."

"Lalu bagaimana denganmu, Hyung?"

Tersenyum, jemari Hanbin menyisiri lembut surai hitam Bobby. "Kau tahu? Potongan besi yang ditempa untuk membentuk sebuah pisau? Semakin keras kau menempa dan mengasahnya, maka akan semakin runcing dan berbentuk pula besi itu. Aku sudah kebal, Bobby-ya."

Wajah tampan yang sebelumnya bersembunyi akhirnya menjauh dari leher Hanbin. Tatapan penuh pergolakan tergambar pada kerut kedua alisnya. "Tapi kau bukan besi, Hyung," bantahnya tidak suka. "Kau manusia. Kau memiliki hati dan perasaan."

"Racun dari ular yang sangat berbisa sekalipun, tidak akan membunuhmu jika kau terus diinjeksi oleh racun yang sama berkali-kali." Hanbin terus berkata, sedikitpun tidak mengindahkan bantahan Bobby.

Hingga ekspresi keras kembali menghiasi wajah namja tampan itu. "BERHENTI MENGATAKAN SESUATU YANG TIDAK BERPERASAAN!" bentaknya geram. Semua ucapan Hanbin seolah dengan sengaja memancing amarahnya. Wae?! Kenapa Hanbin harus bersikap seperti ini? Apa dengan mengatakan semua itu, dia berpikir akan berhasil membuatnya untuk tidak peduli? Begitukah?! "Kau manusia, Hyung. Kau tidak sekuat yang kau pikirkan. Aku tahu itu."

"Benarkah?"

Deg.

Ada nada sinis dari suara Hanbin yang Bobby tangkap. Bukan, bukan hanya nada sinis, tapi juga senyum remeh. Karena semua itu tengah tertuju padanya saat ini.

"Tiga tahun telah berlalu, Bang Ji Won."

Deg!

Hanbin memanggilnya dengan nama lengkap. Meski untuk pertama kali, namun Bobby tahu kalau sahabatnya itu tengah marah. Wae? Apa dia telah mengatakan sesuatu yang salah?

"Sekarang baru kusadari, betapa muaknya diriku atas sikap 'sok tahu'mu itu. Aku tidak sekuat yang kupikirkan, kau bilang? Huh~" Hanbin mendengus sinis, berpaling penuh ironi. "Aku bukan lagi Moon Han Bin yang dulu, Bang Ji Won. Jangan berlagak seolah kau mengerti siapa diriku yang sekarang, sementara diriku yang dulu saja tidak bisa kau pahami dengan benar."

DEG.

Hanbin benar.

Dia tidak memahami Hanbin yang dulu, bagaimana mungkin dia memahami Hanbin yang sekarang?

"Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu," tukas Hanbin, menyingkirkan tubuh Bobby dari atasnya dengan mudah karena Si Pemilik masih termangu. "Aku pergi."

"Mwo?! Hyung!" Bobby bangkit dari ranjang, berniat menyusul Hanbin yang telah berjalan menuju pintu kamar, hanya untuk berhenti saat telapak tangan berbalut perban itu menapak tepat di dadanya. Sang pemilik sedikitpun tidak menatapnya. "Hyung...?"

"Aku sedang tidak ingin melihatmu sekarang, Bobby. Hiks... sudah cukup."

Deg~

"Lain waktu. Kita... hiks, akan membicarakannya lain waktu, oke?"

Bohong.

Hanbin berbohong.

Tidak akan ada 'lain waktu', 'kan?

Grep~

Bobby mendekap bahu kecil itu erat setelah menyikirkan uluran tangan di dadanya. Dia tidak akan pernah mengerti tindakannya ini. Dia tidak akan pernah mengerti kenapa dirinya memeluk Hanbin begitu erat menggunakan satu tangan, sementara tangannya yang lain menutup kedua mata sipit itu, menyembunyikan marbel sewarna cokelat hangat basah tersebut dengan telapak tangannya yang lebar.

"Kalau begitu jangan melihatku, Hyung." Ia berbisik lemah. "Jangan melihatku dan tetaplah di sini; di sampingku."

"B-Bobby...?" Nafas Hanbin tercekat. Ia merasakan kepalanya dibawa berpaling dan...

Chu~

Deg!

... Bobby mengecu – tidak, menciumi bibirnya. "B – mmh, Bobby ap-pa yang... mmh~ kau..."

"Tetaplah di sampingku, B.I Hyung... Tetaplah di sini... Jangan... pernah pergi. Tetaplah bersamaku." Bobby meracau. Bibirnya terus menciumi bibir kenyal Hanbin dalam. Menuntut.

Hanbin tidak bisa melihat apa-apa. Bukan hanya karena telapak tangan Bobby yang menutupi matanya, tapi juga karena... otaknya. Dia blank. Apa yang harus dilakukannya? Kenapa Bobby menciumnya? Ba-bagaimana hal ini bisa terjadi?

Duk~

Bagian belakang kepala Hanbin terbentur pelan ke pintu. Entah bagaimana caranya Bobby menyudutkannya ke pintu tanpa melepas dekapan tangan di matanya. Dan, sejak kapan mereka saling berhadapan begini?

Ckmph~

Decakan nyaring adalah satu-satunya yang dapat Hanbin dengar. Oh, bibir mereka telah terlepas. Suara nafas tersengal saling bersahutan pun, menyusul kemudian. Ketika bibirnya yang basah berkedut oleh kehilangan, di saat itu pula Hanbin menyadari kalau dia... membalas ciuman Bobby.

Wae?

Kenapa dia membalasnya? Maksudnya, sejak kapan, di detik ke berapa dia membalasnya? Apakah Bobby semudah itu meruntuhkan pertahanannya? Tunggu, apa bahkan dirinya pernah membangun sebuah pertahanan untuk menghadapi hal ini? Apa otaknya bahkan pernah berpikir akan kemungkinan untuk skenario ini?

Bobby... menciumnya? Wae?

Deg, deg, deg, deg~

Telapak tangan lebar yang menutupi mata Hanbin menjauh. Mereka hanya berdiri di sana, dipisahkan oleh jarak beberapa centi yang begitu dekat hingga nafas hangat keduanya beradu. Dalam keheningan yang berdenging bak sebuah satelit televisi tua. Marbel cokelat gelap bertemu dengan marbel cokelat yang hangat, saling menyelami, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Hanbin tidak mengerti. Banyak pertanyaan di kepalanya yang tidak bisa ia cerna apalagi untuk dipahami. Dan pengecutnya ia, begitu Bobby membuat pergerakan hendak meraih pipinya, dirinya berpaling.

"Aku pergi."

Like a criminal, I run away.

Tangan Bobby yang tadinya terulur, sekarang hanya menyentuh udara hampa. Udara hampa yang sebelumnya diisi oleh sosok rapuh dan penuh tanya Moon Han Bin. Hanbin pergi.

Apa yang terjadi?

~~~~~~~~\(=^0^)/\(0o0=)/~~~~~~~~

"Hei," sapa Youngjae, melongokkan kepala di antara celah pintu kamar Hanbin yang terbuka. "Bolehkah Umma masuk?"

Hanbin menggelengkan kepala. Pertanyaan Sang Umma hanya terdengar sangat lucu. "Umma, ini rumahmu dan Appa. Kkkk~ tentu saja Umma boleh masuk!" celetuknya sembari menyeringai. Begitu familiar karena Youngjae dapat melihat wajah Jongup di sana. Begitu juga dengan bocah periang yang ia lahirkan dulu.

Tangan Hanbin tengah menggusak handuk putih ke surai hitamnya yang basah. Ia baru keluar dari kamar mandi saat Youngjae masuk tadi. Beberapa tetes air membasahi sweater putih berlengan panjang yang kedodoran, membuat sepotong celana khaki selutut hanya mengintip setengahnya. Hanbin seolah tenggelam mengenakan pakaian seperti itu.

"Kapan kau pulang, Chagi? Umma tidak melihatmu kembali." Youngjae bertanya, begitu dirinya duduk di tepian ranjang Sang Aegya.

Seperti datangnya, keriangan dalam seringai Hanbin mendadak lenyap. Saat ini yang tersisa hanya senyuman kaku yang bahkan tidak menyentuh mata. "Aku pulang sangat pagi, Umma. Umma dan yang lainnya masih tidur."

Alis Youngjae menyatu. Firasatnya mengatakan, sesuatu terjadi. "Ada apa, Chagi? Apa yang membuatmu pulang begitu pagi? Apa kau dan Bobby... bertengkar?"

"Tidak, Umma. Kami tidak bertengkar. Aku pulang cepat karena teringat akan hal penting yang harus secepatnya kulakukan."

Bohong.

Well, awalnya, itu adalah kebohongan. Tapi setelah tiba dan berbaring sebentar di tempat tidurnya, kepala Hanbin langsung menyetujui; ya, ia memang memiliki sesuatu yang penting untuk secepatnya dilakukan.

"Hal penting? Hal penting apa yang membuatmu pulang begitu pagi dari rumah Bobby saat semua orang belum terjaga?!" Mungkin Hanbin dapat menipu orang lain dengan senyuman disertai nada santai itu. Tapi Youngjae tidak. Tidak lagi. "Apa kau menyayangiku, Son?"

Deg.

Mata sipit Hanbin terbelalak. Ditatapnya Sang Umma tidak percaya. "Um-ma? Ap-apa yang Umma katakan?! Tentu saja aku menyayangi Umma! Pertanyaan macam a—"

"Hiks..."

Deg!

Isakan tersebut sukses membungkam Hanbin. Youngjae menangis. Kenapa? Apakah Hanbin yang membuat Sang Umma menangis? A-apa dia... mengatakan sesuatu yang salah?

"E-Eom... ma?"

"Ka – hiks! Kalau kau sayang padaku, katakan, apa yang sebenarnya terjadi, Binie?! Hiks... Kau anak kami! Aku Umma-mu! Jangan biarkan a – hiks, aku terlihat seperti seorang ibu yang bodoh dan tidak peka, yang bahkan tidak menyadari kalau anaknya sendiri menderita!"

Layaknya gunung berapi yang tersembunyi setelah sekian lama, Youngjae meledak. Tidak, dia tidak marah pada Hanbin. Dia marah pada dirinya sendiri yang tidak peka. Youngjae merasa gagal sebagai seorang ibu.

Dengan panik Hanbin mengambil duduk di sebelah Sang Umma. Ia langsung memeluk erat tubuh kurus tersebut erat. "Um – huks! Umma..., apa yang Umma katakan? Umma adalah Umma-Ku Yang Hebat! Hiks... kenapa Umma bisa berpikir seperti itu? Dan apa? Aku menderita?! Aku baik-baik sa—"

"Kau mencintai Bobby."

DEG.

Youngjae jelas tidak sedang bertanya. Ia memberi pernyataan. Fakta.

Hanbin menarik diri, menatap wajah manis Umma-nya shock. Seolah hidup dan matinya dipertaruhkan oleh satu statement yang baru saja terungkap. "U-Umma, ap-apa yang... a-ak-ku tidak—"

"Kau mencintai Bobby dari dulu. Kau pergi karena tidak ingin melihat Bobby dan Yoojung bersama. Aku Umma-Mu. Aku sudah tahu semuanya. Jangan mengelak lagi, Moon Han Bin."

Saat Sang Umma memanggil nama lengkapnya dengan kaku. Saat itu pula Hanbin tahu, dia tidak bisa, dan sebaiknya jangan, membantah. Mengelak jelas akan menjadi usaha yang tidak berarti. Menyerah, Hanbin menundukkan kepalanya dalam, membuat air mata menetes ke pangkuan, membasahi kedua tangannya yang saling terpaut gelisah di sana. "Huks... mianhe, Umma... hiks, mianhe."

Hati Youngjae serasa hancur. Bagaimana ini? Sekarang semuanya sudah jelas. Apa yang harus dilakukannya?

"Mianhe, Umma. Hiks... aku tidak akan membuat masalah. Aku sudah memutuskan a – hiks! Akan m-menetap di New York. A – huks! Aku baru s-saja menghubungi... hiks, perusaha—"

"Binie! A-apa yang kau bicarakan? Menetap di New York?!" Youngjae menatap Sang Aegya tidak percaya. Apa maksud Hanbin dengan menetap di New York?! Apa Hanbin memutuskan untuk kabur lagi?! "Kau ingin kabur lagi?!"

Siiiiiiiiiiiiiiiinnnnggg...

Ya.

Hanbin tidak memiliki pilihan lain.

"Kau tidak bisa terus-menerus lari dari masalah, Binie! Setelah tiga tahun lamanya, kau akhirnya kembali. Dan sekarang? Kau ingin pergi lagi?! Menetap di New York? Kau ingin meninggalkan kami selamanya?! K-kau ingin... hiks... me-meninggalkan – hiks... ku?"

Bibir Hanbin tampak bergetar oleh tangis. Kristal bening semakin deras berjatuhan dari matanya yang masih bersembunyi dari Youngjae. "A-aku... hiks! Tidak tahu lagi harus berbuat apa, Umma. Hiks... ijinkan aku pergi. Aku t-tidak ingin m – hiks, meninggalkan kalian... Meninggalkanmu. T-tapi... hiks, aku tidak bisa te-terus di sini. Aku tidak ingin... hiks... membenci Yoojung Noona..."

DEG.

Apakah sudah separah itu? Apakah perasaan Hanbin sebegitu dalamnya pada Bobby hingga ia mampu membenci Noona yang ia sayangi dan menyayanginya selama ini?

"B-Binie...?"

Wajah yang sebelumnya tertunduk dalam, akhirnya terangkat. Memperlihatkan mata yang berlinang kristal bening dan memerah akibat Si Pemilik mengusapnya kasar. Hanbin terlihat begitu rapuh. Tidak berdaya.

"Ijinkan aku pergi, Umma. Hiks... Bebaskan aku dari penderitaan ini."

DEG!

Yah, sudah separah itu. Jika Youngjae tetap memaksa Hanbin untuk tinggal, maka, puteranya tidak akan bahagia. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Hanbin akan depresi dan... melakukan tindakan ne – oh, tidak! Hanbin-Nya tidak akan melakukan hal bodoh seperti mengakhiri hidupnya...

Deg, deg, deg, deg~

... 'kan?

"Baiklah, Binie." Youngjae berucap lirih, meraih tangan Hanbin yang basah oleh air mata, menggenggamnya erat. "Hiks... Umma a-akan mengijinkanmu... p-pergi."

Tidak ada pilihan lain.

Bila dengan merelakan adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan puteranya dari penderitaan, maka Youngjae akan melakukannya; ia akan merelakan Hanbin pergi. Puteranya pantas mendapatkan kebahagiaan. Dimanapun ia berada nantinya.

#########\(^0^)/\(^3^)/#########

Tok, tok, tok~

"Baby Dongsaeng? Time to wake up~"

Dendangan lembut dari luar pintu kamar perlahan menarik Bobby dari alam bawah sadar. Itu Hyung-nya, Minki. "Hmmh... ya, Hyung, aku bangun," sahutnya grogi, menenggelamkan wajah di kedua telapak tangan, mengusapnya.

"Syukurlah kau sudah bangun. Sarapan sudah Hyung siapkan di meja. Hari ini Hyung mau keluar. Umma dan Appa juga pergi. Kau segeralah turun, ne? Bye, Baby Dongsaeng~ Take care. Bangunkan Hanbinie juga."

Deg!

Itu cukup menyadarkan Bobby sepenuhnya.

Bunyi 'krak' dari leher yang dibawa berpaling terburu ke samping, begitu nyata terdengar. Membuat bagian dalam telinga Si Pemilik serasa berdengung. Namun ia mengabaikannya karena...

Deg, deg, deg, deg~

... nihil.

Hanbin tidak di sana; di sampingnya.

"Huft..."

Bobby menghempaskan kepala kembali ke bantal, menghembuskan nafas panjang, menatap langit-langit kamarnya dengan kosong. Kejadian semalam kembali berbondong memenuhi kepalanya, seolah tidak cukup hanya menghiasi bunga tidur.

Dia mencium Hanbin. Kenapa dia melakukannya? Kenapa dia menciumi bibir kenyal nan lembut itu? Merasakan... bagaimana belahan atasnya yang berujung lancip... membelainya. Dan Hanbin... juga membalas ciumannya.

Apa yang terjadi?

Bobby tahu, mulai dari sekarang hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi. Tidak akan. Hal yang menyebalkan dari penyesalan adalah... kedatangannya yang selalu belakangan.

Hei, tentu saja, Bang Ji Won. Bila datangnya di awal, itu disebut kesadaran, 'kan?!

~~~~~~~~\(=^0^)/\(0o0=)/~~~~~~~~

"Minie Oppa, yang ini saja. Kurasa warna pink ini lebih cocok dengan dekorasinya." Yoojung menyodorkan kertas pink cerah yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai buket bunga mawar. Namun yeoja cantik bermata doe di sebelahnya malah menepis tangannya yang menyodorkan buket tersebut.

"Ani, Oppa. Warna biru pastel ini. Setelan jasmu yang berwarna putih akan terlihat lebih hidup lagi. Percaya padaku, Oppa!" Jung Hyeri, puteri sulung dari Jung Dae Hyun dan Jung Jun Hong itu, berkata dengan berapi-api. Ia mematahkan usulan Yoojung begitu saja. Membuat Sang Eonni seketika mendelik jengkel.

"Ya, Jung Hyeri. Kenapa kau tidak sopan sekali, eoh? Aku ini eonni-mu. Aku lebih tua!"

Bukannya merasa bersalah, Hyeri malah mematuti Yoojung lekat dari ujung kaki hingga ke puncak kepala. Senyum jahil tertarik di sudut bibir penuh itu. "Hum, aku bisa melihatnya," celetuknya menanggapi. "Kau jelas sekali tampak lebih tua dariku, Eonnie."

"YAH!"

Minki menenggelamkan wajah dalam tangkupan telapak tangan. Dirinya sedari tadi berada di sana, menatapi perdebatan ke sejuta kali dua yeodongsaeng cantiknya dengan rahang jatuh serta gelengan ironi. Bukannya dia tidak berusaha menengahi, hanya saja Yoojung dan Hyeri selalu menemukan hal untuk diperdebatkan.

Seperti kedua samcheon-nya, Daehyun dan Youngjae.

Err, mungkin ini faktor gen?

Yah, ini pastilah faktor gen.

Enemy by nature, huh?

Tanpa sengaja ekor mata Minki menangkap sosok Bobby di sudut ruangan. Tsk. Adiknya ini, lagi! Kenapa dari tadi dia hanya diam melongo saja di sana, eoh? Beraninya berlagak seperti raja di atas singgasana sementara Hyung TERsayang-Nya pusing kepala di sini!

"Yah, Jiwonie!"

Panggilan tiba-tiba Minki tampaknya menyentak lamunan Bobby. Adiknya yang berwajah tampan tersebut seketika terlonjak. Ia menoleh ke sekeliling. Ekspresi bingung terpatri nyata.

Eh? Apa yang sebenarnya Bobby lamunkan, eoh?

"Jiwonie?" panggil Minki lagi. Kali ini berhasil mendapat perhatian Sang Dongsaeng sepenuhnya. "Kau baik-baik saja, Baby Dongsaeng?"

Entah sejak kapan Yoojung dan Hyeri berhenti berdebat. Keduanya sekarang melemparkan pandangan khawatir ke arah Bobby. Urgh, ralat. Tidak dengan Yoojung. Yeoja cantik itu menatap Sang Namjachingu sendu. Ada kesedihan yang tidak terbaca di sana.

"Oh-ah, ne, Hyung, aku baik-baik saja. Waegeure? Perlu bantuanku?"

"Aish, kau ini. Tentu saja aku memerlukan bantuanmu, Baby Dongsaeng. Aku sudah nyaris gila di sini. Yoojungie dan Hyeri sama sekali tidak membantuku! Mereka malah berdebat soal warna buketnya!"

Bobby terkekeh. Menertawakan kegalauan Sang Hyung sembari bangkit dari sofa dan berjalan mendekat. Kedua tangan bersembunyi di dalam saku mantelnya. "Gunakan warna merah, Hyung. Sewarna dengan bibirmu."

Siiiiiiiiiiiinnnngg...

Keadaan menjadi hening seketika.

Ketiga pasang mata menatap Bobby nanar, lalu saling melirik hanya untuk kembali menatap namja tampan itu bak seorang dewa dengan sayap malaikat tak kasat mata.

"Jiwonie, KAU JENIUS!"

Hyeri lah yang pertama kali berseru heboh. Yeoja cantik tersebut langsung bertepuk tangan, nyaris melompat-lompat jika saja saat ini dia tidak duduk dengan setumpuk hiasin dekorasi bunga kertas di pangkuan.

Bobby yang gemas hanya menggusak puncak kepala berhiaskan surai cokelat berpotongan pendek itu. "Ne, ne. Noona baru tahu kalau aku ini sangat jenius, eoh?" celetuknya membanggakan diri. Mengundang pouting dari Si Pemilik kepala, serta decakan jahil dari Minki.

"Kalau Umma di sini, dia akan mencubit dan menarik kedua pipimu karena berlagak sombong, Jiwonie."

"Oh, ya, Hyung, mana Umma? Bukankah semalam Umma berkata akan ikut bersama kita untuk menemanimu memilih dekorasi pesta?"

Tik,

Tik,

Tiiiiiiiiik...

"What?"

"Err, you kind of... asked the exact same questions for about twenty minutes ago? Are you sure you're okay, Baby Dongsaeng?"

Oh.

Bobby manggut-manggut. Entah dia benar-benar mengerti atau tidak dengan apa yang baru saja Minki katakan. Well, memang tidak. Terlalu nyata dari tatapan nanarnya saat ini yang membuat Sang Hyung mau-tidak-mau menghela nafas panjang.

"Pulanglah. Sepertinya kau butuh istirahat, Jiwonie. Yoojungie, kau pulang bersama Jiwonie, ne? Biar Hyeri saja yang menemani Oppa di sini."

Tanpa membantah—meski sedikit tidak rela karena tidak bisa ikut serta memilih dekorasi pernikahan Oppa Kesayangan-Nya—Yoojung mendekati Bobby dan mengalungkan tangan ke lengan kiri namja itu. "Ayo, Bobby. Kita pulang, ne?" tanya-nya sembari tersenyum lembut.

Awalnya Bobby hanya menatap wajah cantik milik Yoojung nanar, seolah tengah mencari sesuatu. Apa yang dicarinya? Apakah... Bobby menemukan apa yang tengah dicarinya?

"Ne, Noona. Ayo, kita pulang."

Entahlah.

#########\(^0^)/\(^3^)/#########

Berkali-kali Yoojung melirik ke arah Bobby di sampingnya, mencoba membaca ekspresi Sang Namjachingu yang... zoom out? Entahlah. Pikiran Bobby terkesan mengembara jauh sementara raganya di sini. Apa yang Bobby pikirkan?

Akhir-akhir ini – ah, tidak, beberapa bulan terakhir, Bobby bersikap aneh. Dia jadi jarang tertawa. Selalu melamun. Dan saat Yoojung bertanya ada apa, dia akan menepis kekawatirannya dengan hal simpel seperti 'Aku baik-baik saja, Noona.'

Tidak. Bobby jelas tidak baik-baik saja.

"Hei, are you okay?" tegur Yoojung, menyempatkan diri melepas roda kemudi untuk mengulurkan satu tangannya, mengusap pelan lengan Bobby.

Si Pemilik lengan tampak tersentak sejenak sebelum balas menatapnya. "Eum? Wae, Noona?"

Oh, tentu saja, Bobby tidak mendengarnya.

"Kau melamun lagi. Kau membuat kami semua khawatir. Ada apa sebenarnya?"

"Tidak ada apa-apa, Noona. Aku hanya sedikit tidak enak badan. Itu saja. Semalam aku begadang menyelesaikan beberapa thesis."

Jawaban itu lagi.

Hal yang paling sulit akhir-akhir ini Yoojung lakukan adalah, mempertahankan keakraban dengan Bobby, pacarnya sendiri. Bobby menjauh. Wae? Tidakkah dalam suatu hubungan, kedua belah pihak harus saling berbagi? Itulah yang disebut 'berpacaran', 'kan?

Seakan tersadar dari lamunan yang panjang, Bobby meraih jemari di lengannya; meremasnya lembut sebagai gestur menenangkan. "Aku baik-baik saja, Noona. Sungguh. Jangan mengkhawatirkanku. Sedikit tidur akan memulihkanku dengan cepat."

Dan Bobby tersenyum. Meski hanya senyuman kecil, namun rasanya sudah lama sekali, Yoojung tidak melihat senyum menakjubkan tersebut mengarah padanya. "Huft, okay, okay... aku akan mengantarmu pulang secepatnya dan kau, cepatlah tidur."

"Kkkkk, okay, Noona~"

~~~~~~~~\(=^0^)/\(0o0=)/~~~~~~~~

Lima bulan.

Hampir lima bulan lamanya Hanbin pergi, meniti karir di New York. Dan selama itu pula hasrat untuk tersenyum yang Bobby miliki meredup. Dia tidak bisa melakukannya. Sekuat apapun ia berusaha untuk tersenyum seperti dulu, bayangan sosok Hanbin yang tersenyum hangat padanya akan selalu muncul. Seakan mengingatkan Bobby kalau sekarang, dirinya tidak lagi terikat hubungan apa-apa dengan namja itu.

Well, apa yang Bobby harapkan? Setelah apa yang mere – dia lakukan... semua tidak akan bisa kembali seperti... err, seperti apa? Tautan tali persahabatannya dan Hanbin sudah lama merenggang. Dan sekarang? Apakah tali tak kasat mata itu telah saling melepaskan diri? Atau malah terputus?

Cklek~

"Omo, Jiwonie. Kau sudah pulang? Secepat itu? Mana Minie?" Himchan yang baru saja membuka pintu depan, memberondong Sang Putera dengan berbagai pertanyaan. Menurut perkiraannya, mengingat betapa bawelnya Minki akan 'detail' pernikahannya yang akan berlangsung kurang dari dua minggu ke depan, Bobby seharusnya masih mengembara di beberapa toko dekorasi. Bukannya di ruang tamu mereka, duduk dengan tatapan kosong ke depan. "Kau baik-baik saja?" tanya-nya sembari mengulurkan tangan, menangkup kedua pipi Sang Aegya, mengusapnya.

Sesuatu terjadi. Himchan tahu itu. Dia sudah cukup lama mendiamkan masalah ini, berpikir putera bungsunya dapat menyelesaikan masalah apapun itu yang sedang dihadapinya seorang diri, namun, dia sudah tidak bisa lagi melakukannya. Himchan tidak akan berdiam diri begitu saja.

Bobby tersenyum saat jemari lembut Sang Umma meraba pelan permukaan pipinya. Ia meraih kedua tangan tersebut, balas meremasnya lembut. "Nan gwenchana, Umma~" Bobby berdendang riang, kekanakan. "Minie Hyung masih shopping. Aku pulang duluan."

"Wae? Kau sakit?"

"Ani. Hanya sedikit kelelahan dan Hyung langsung menyuruhku pulang beristirahat." Bobby berkata sembari mengangkat bahunya acuh, berusaha membuat namja cantik di depannya tidak khawatir.

"Lalu? Kenapa kau tidak langsung istirahat? Kau malah melamun di sini tanpa mengganti pakaian. Sudah berapa lama kau berada di ruang tamu, Chagi?"

Sayangnya, Himchan tidak semudah itu dikelabui.

Mulut Bobby terbuka hanya untuk tertutup kembali. Dia tidak tahu harus menjawab apa untuk semua pertanyaan itu. Yang diketahuinya, hanya... well, dia sudah duduk di sofa ruang tamu tanpa melakukan apapun saat Yoojung mengantarnya tadi. Bagaimana caranya dia memasukkan kunci ke lubang pintu, membukanya, dan melangkahkan kaki masuk ke sini?

Huft. Molla.

Sebelah alis Himchan terangkat. Bobby tidak kunjung menjawabnya. Alhasil, dia hanya menghembuskan nafas pasrah. Mungkin ini belum saatnya. Puteranya terlihat tidak fokus. Mungkin Bobby benar-benar membutuhkan istirahat. "Alright, Tough Guy, forget it. Umma akan mengantarmu ke tempat tidur, dan ingat, kau harus segera tidur. Umma akan membangunkanmu saat makan malam."

Bobby sama sekali tidak membantah saat Sang Umma menariknya berdiri dari sofa, mengalungkan satu lengan ke pinggang, dan memapahnya menuju kamarnya di lantai dua. Dia bahkan tidak protes ketika jemari telaten tersebut juga membantunya melepas pakaian, meninggalkan sepotong boxer dan wife-beater.

"Kau tahu? Umma jadi teringat saat kau kecil dulu. Kau sangat pemalas mengganti pakaian dengan baju tidur, hingga aku dan Appa-mu lah yang akhirnya melakukannya untukmu. Kkkkk~" Himchan terkikik, melirik Bobby yang duduk pada tepian ranjang ditengah kesibukan kedua tangannya memilah isi wardrobe.

"Karena kupikir tidak ada gunanya melakukan hal itu, Umma. Toh, pagi harinya aku akan mandi," dalih Bobby beralasan. Bibirnya yang berwarna pink pucat mengerucut. Yah, terkadang ia tidak bisa menahan sifat kekanakannya di hadapan Sang Umma. Mungkin, Pangeran Kecil Yongguk dan Himchan ini tidak sepenuhnya berkenan meninggalkan masa-masa menyenangkan tersebut untuk sebuah kehidupan rumit yang disebut orang-orang sebagai kedewasaan.

"Ne, ne... aku memakluminya, Chagi," dendang Himchan, mendekati Bobby dengan sepotong celana piyama merah hati bermotif kotak-kotak di tangan. "Nah. Pakai ini dan segera tidur."

Namja tampan yang diberi perintah seketika menurut, memakai celana piyama tersebut hanya untuk menatap marbel hitam indah milik Sang Umma setelahnya. "Umma, eumm... m-maukah Umma m-menemaniku... sampai aku tertidur?"

Oh.

O-oh.

OH!

Omo. Himchan tidak percaya ini! Apakah... baru saja Bobby meminta untuk ditemani tidur? S-seperti saat dirinya kecil dulu? BENARKAH?!

"Gyaaaaaa~ TENTU SAJA! Tentu saja, Chagi, Umma akan menemanimu!" Saking senang dan gemasnya, namja cantik yang Bobby panggil dengan sebutan 'Umma' langsung menghambur, memeluknya erat hingga ia kesulitan bernafas.

Sesak?

Ne.

Bobby ingin melepaskan pelukan tersebut?

Tentu saja tidak.

Tidak ada yang bisa mengalahkan pelukan seorang ibu, 'kan? Pelukan dari seseorang yang kau kasihi dan mengasihimu adalah segalanya. Kau tidak akan menemukan kehangatan dan kenyamanan yang sama dari orang lain.

"Aku merindukan ini," Bobby berkata, semakin mempererat pelukannya di pinggang ramping Himchan, menenggelamkan wajah ke dada hangat yang mendekapnya tak kalah erat. "Aku masih ingat, aku akan lebih cepat tertidur saat Umma memelukku. Tubuh Umma menguarkan aroma strawberry-citrus seperti Minie Hyung. Aku suka."

"Kkkk, kau berbicara persis seperti Appa-mu. Kau tahu itu?"

"Jinjja? Well, sepertinya itu semakin menegaskan kemiripanku dan Appa. Hahaha~"

Himchan berdecak, "I can't argue with that, Son. Sikap keras kepala kalian juga sama."

#########\(^0^)/\(^3^)/#########

"Hime! Kau harus mendengar ini! Kau tahu apa yang Daniel bualkan padaku? Dia INGIN mengajak Uri Minie tinggal bersama di rumahnya setelah dia dan anaknya yang menyebalkan itu menikah! What the hell. That guy always talkin' non – Hime?" omelan—curhat—Yongguk terhenti dikala makhluk cantik yang dicarinya tidak berada di kamar mereka. Err, mana Himchan?

"HIME?!"

"I'm here. No need to shout like a Banshee, Gukie."

Yongguk berbalik, terbelalak mendapati sosok menakjubkan Sang Anae menyender di daun pintu... huh? Bukankah itu kamar Bobby? "Apa yang kau lakukan di kamar Jiwonie, Hime?" tanya-nya sembari mendekat, mengecup kening mulus tersebut begitu Si Cantik berada dalam jangkauan.

"Dia ingin aku menemaninya sampai tertidur."

Siiiiiiiiiiiiiiiinnnng...

"What?" Yongguk menatap Himchan sangsi. Well, ucapan namja cantik ini memang terdengar seperti... lelucon? Ne. Bukankah Bobby, putera mereka, sudah terlalu dewasa untuk minta ditemani sampai tertidur? "You must be joking, right?"

"Nope. Aku tidak bercanda. Bobby memang memintaku menemaninya, Gukie." Himchan berkata, menarik tangan Yongguk untuk membawanya menjauh dari kamar putera mereka yang sudah tertidur pulas di dalam sana. Ia baru berhenti ketika mereka telah mengambil duduk di kursi meja makan dapur. "Kau ingat pembicaraan kita mengenai Bobby yang bersikap aneh belakangan ini?"

"Yeah. Wae?"

"Kurasa masalah ini semakin serius, Gukie. Waktu pulang tadi aku menemukan Bobby di ruang tamu. Melamun. Saat kutanya apa dia sakit, dia berkata kalau dia hanya kelelahan dan Minie menyuruhnya pulang untuk beristirahat."

Yongguk mengambil duduk di kursi meja makan sebelum merespon. "Dia berbohong," katanya, lebih kepada memberi pernyataan ketimbang bertanya.

"E-heum. Seperti biasa, dia tidak mau menceritakan apapun permasalahannya pada kita. Dia menghindar. Aku tidak mengerti jalan pikiran anak itu. Dulu dia tidak seperti ini, 'kan?!" gerutu Himchan, mengepalkan kedua tangan dan menghentakkannya keras di meja. Membuat Yongguk seketika terlonjak, memegangi dada kirinya.

"Gosh, Hime... Jangan mengagetkanku seperti itu!"

Bukan merasa bersalah, Himchan malah terkikik. "I'm sorry, Gukie. I always forget that you are an old man now," candanya sembari meraih ke seberang meja dan menarik kedua pipi Yongguk melebar. Memperlakukan Sang Nampyeon layaknya bocah kecil, bukannya 'orang tua' seperti yang ia sendiri katakan.

Yong Guk yang tidak terima langsung menepis kedua tangan jahil di pipinya. "Jangan meledekiku, Hime. Umurmu sama denganku. Itu berarti kau juga sudah tua. Meski wajahmu tidak berubah sama sekali." Kata terakhir diucapkannya berbisik, tidak ingin Him Chan mendengar gerutuan yang terdengar seperti pujian tersebut.

"Thank you, Seobang~"

Percuma. Toh, makhluk cantik di seberang meja tetap mendengarnya.

"Oke, kembali ke permasalahan putera kita," usul Him Chan, merubah fokus pembicaraan mereka ke topik semula. "Kau yang harus memaksanya bicara, Gukie."

"MWO?!"

"Sikapmu dan Bobby sangat mirip. Mungkin kalian akan saling memahami?" Sebenarnya, Him Chan jelas terdengar tidak yakin dengan 'ide asal'nya sendiri. Bobby sangat keras kepala. Mempertemukan dua orang keras kepala untuk memecahkan masalah... Oh, oke, itu ide gila. Lupakan.

Mungkin ekspresi Him Chan yang mudah dibaca, atau Yong Guk yang terlalu mengenal Sang Anae luar-dalam. Dia terkekeh, "wae? Kau ingin menarik kembali 'ide cemerlang'mu?"

"Tsk! Ne. Aku sadar kalau orang keras kepala seperti kalian tidak akan bisa memecahkan masalah. Ibarat mempertemukan badai, kau tahu? Akan terjadi bencana besar." Him Chan berkata dramatis, melambaikan kedua tangannya yang putih ke atas sebagai gestur menyerah. "Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Gukie."

Yong Guk berdiri, memutari meja makan untuk memeluk tubuh Him Chan erat. "Calm down, okay? Jika tiba waktunya nanti, Jiwonie akan berbicara pada kita. Dari yang kulihat, hal itu tidak akan lama lagi terjadi. Trust me."

Him Chan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang tersebut, menghirup dalam aroma familiar dari cinnamon dan wild lily. "Okay, I'll trust you, Gukie. Kuharap... Jiwonie secepatnya mengerti kalau kita akan selalu di sini, mendukungnya."

~~~~~~~~\(=^0^)/\(0o0=)/~~~~~~~~

Like a criminal, I ran away

Pip.

/Bobby? Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa kau tidak mengangkat teleponku? Kau baik-baik saja? Kalau kau mendengar voice mail ini, tolong hubungi aku secepatnya. Aku... sangat mencemaskanmu, Bobby-ya.../

Pip.

Bobby membenamkan wajah di kedua tangkupan telapak tangan, mengusapkannya pelan ke atas hingga melewati rambut. Dia tengah duduk di tepian ranjangnya. Hanya mengenakan sepotong celana piyama.

Sudah berapa hari berlalu? Kapan terakhir kali Bobby bertemu Yoojung? Berbicara dengannya? Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah dia mencintai Yoojung? Lalu... kenapa dia terkesan... menghindar?

DEG.

Ne, dia menghindar.

Tapi kenapa? Kenapa dia harus menghindar dari seseorang yang dicintainya? Yeojachingu-nya sendiri?!

Gosh... bukankah itu tidak adil bagi Yoojung? Sejak kapan dia berubah menjadi namja brengsek seperti ini?! Sejak kapan benaknya selalu...

Deg, deg, deg, deg~

... memikirkan Hanbin?

Oh, no.

Apa yang terjadi dengannya?!

TBC

NB: Sorry, Guys, smoothie-smutx ga jdi d chap ni. Ane ga mau ntar critanya terkesan ng-rush. I'll go with the flow. Smut d chap terakhir, Chapter 5. Orang sabar disayang Tuhan, ne?^3^ #plak Ni ff bakalan berakhir. Tpi jgn cemas, bakal ada Extra 2 dgn focus cast... rahasia~~ hahaha #plak Oke. Ane udah banyak bacot. I'll shut ma mouth rn. HIDUP DOUBLEB! DOUBLEB! BAAAAAAAAPPPPPPPP!\(=^0)/\(0^=)/*sorak dulu*