Let Me Go

.

.

(BTS)

Park Jimin

Min Yoongi

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Kim Namjoon

Kim Seokjin

Boys' Love

.

.

Chapter III

.

.

.

Pertemuan Ketiga
(My Heart Started to Race)

.

.

.

Jimin sedang mencari buku tentang satra saat pandangannya tidak sengaja menangkap seorang pria berambut caramel yang sedang menata buku-buku tentang music pada rak. Dengan senyum tidak hilang dari wajahnya, Jimin melangkah dengan percaya diri ke arah pria itu.

"Bukankah kalau dalam intensitas seperti ini, seharusnya kita sudah saling jatuh cinta, Caramel Boy?"

Pria bersurai caramel itu langsung mengalihkan pandangannya dari tumpukan buku yang ingin disusunnya ke arah Jimin yang masih memamerkan senyumannya. Menghela nafas pendek, pria bersurai caramel itu melanjutkan kegiatannya menyusun buku.

"Hey, setidaknya beri tahu aku namamu. Bagaimana mungkin kita sudah bertemu tiga kali secara kebetulan dan aku masih tidak tahu namamu?" Jimin berjongkok di sebelah pria bersurai caramel yang memang sedang menyusun buku di rak bagian bawah.

"Apa namaku begitu penting bagimu?" pria itu berujar tanpa mengalihkan pandangannya dari buku-buku di hadapannya.

"Tentu saja. Asal kau tahu ya, aku bukanlah tipe orang yang menanyakan hal tidak penting. Jadi saat aku bertanya sesuatu, jelas itu adalah hal yang penting," pria bersurai caramel itu hanya mendengus mendengar nada percaya diri Jimin.

"Jungkook," ujar pria itu pelan.

"Hah?"

"Ku bilang namaku Jungkook," pria bersurai caramel itu langsung pergi meninggalkan Jimin.

Jimin hanya terkekeh kecil.

'Jungkook? Lalu kenapa nametag-nya tertulis Yoongi?'

Jimin bangkit dari posisinya, kemudian menghampiri Yoongi yang kembali berkutat dengan buku-buku di rak lainnya.

"Ah…jadi begitu ya cara mainmu, Min Yoongi-ssi," Jimin melangkah meninggalkan toko buku itu dengan senyum di wajahnya dan senyum itu semakin lebar saat dia mengingat rona tipis yang menghiasi wajah Caramel Boy-nya.

.

.

.

.:LMG:.

.

.

.

.

Seokjin mendapat satu hari libur sebelum dia dan Namjoon memulai tugas mereka untuk menangani kasus pembunuhan itu. Sebenarnya Seokjin ingin menghabiskan harinya dengan bergulung nyaman dengan selimut dengan selimutnya yang hangat, sayangnya sebagai seorang manusia yang sangat mencintai makan, Seokjin tentu tidak bisa melakukan hal itu karena dia harus mengisi perutnya yang selalu meminta cemilan setidaknya dua jam sekali. Seokjin bukan seseorang yang payah dalam memasak, tapi terkadang kemalasannya untuk masuk dapur mengalahkan keinginannya untuk makan dan itu sedang terjadi sekarang, jadi dari pada Seokjin mati kelaparan di atas tempat tidur berseprai pinknya, dia memutuskan untuk pergi ke café terdekat untuk menghamburkan uang membeli beberapa makanan kecil sejuta kalori kesukaannya.

Hari yang dikira akan menjadi hari indah tanpa pekerjaan tidak pernah terjadi pada Seokjin. Seokjin baru mengambil beberapa langkah dari café tempatnya menumpuk kalori saat dia melihat orang-orang mengerubuni sesuatu di tengah jalan sana. Sebagai seseorang yang sudah cukup lama mengabdikan hidupnya menjadi seorang dokter, Seokjin yakin kalau ada orang yang tergeletak tidak berdaya di tengah kerumunan itu. Dengan langkah lebar, Seokjin melangkah menuju kerumunan itu kemudian bertanya pada seoarang pemuda berbaju biru yang berdiri di sisi paling luar kerumunan.

"Apa yang terjadi?"

"Ada seseorang yang menjadi korban tabrak lari," pemuda itu menjawab dengan santai membuat Seokjin menggeram.

"Apa ambulance sudah dipanggil?" Seokjin langsung menerobos kerumunan itu saat pemuda berbaju biru itu mengendikan bahunya enteng.

Mata Seokjin melebar saat melihat seorang pemuda berbalut seragam sekolahnya terbaring penuh darah di atas aspal dan demi apapun, orang-orang di sini hanya melihat bahkan ada yang dengan tidak tahu dirinya mengambil foto pemuda tersebut dari segala angle.

'Inikah orang-orang yang harus ku selamatkan saat mereka akan mati?'

Tidak mau mengambil pusing pada orang-orang tidak tahu diri yan ada di sekitarnya, Seokjin menghampiri anak itu dan memberikan pertolongan pertama yang diperlukan.

"Tuan bermantel coklat, bisakah Anda menelpon ambulance? Anak ini sudah kehilangan cukup banyak darah," Seokjin menunjuk sembarang orang di sekitarnya karena tangannya mencoba untuk menutup luka di belakang kepala anak itu setelah memastikan kalau leher anak itu tidak apa jika digerakan sedikit.

"Aku?"

"YA ANDA! MEMANG SIAPA LAGI MANUSIA BERMANTEL COKLAT SELAIN ANDA?!" persetan dengan sopan santun pada orang asing, pria itu benar-benar membuat Seokjin kesal dengan tampang bodoh sambil menunjuk dirinya sendiri seolah-olah Seokjin sedang memintanya melompat dari lantai 20.

"Permisi, kami dari kepolisian," Seokjin mendongak saat mendengar kalimat itu.

"Kami mendapat laporan kalau terjadi korban tabrak lari, jadi kami sudah menghubungi rumah sakit terdekat untuk mengirim ambulance," Seokjin memberikan senyum kecil tanda terima kasih atas ketanggapan polisi yang berdiri di sampingnya yang merupakan partner kerjanya, Kim Namjoon.

"Apa ini sudah berlangsung lama?" Namjoon berlutut di sebelah Seokjin memeriksa keadaan korban.

"Aku tidak tahu, aku baru sampai sekitar 10 menit lalu dan memberikan pertolongan seadanya. Jika ambulancenya tidak segera datang, anak ini akan kehabisan terlalu banyak darah," Seokjin berujar semakin panic di setiap katanya saat merasakan detak jantung korban semakin lemah.

"Mereka akan segera tiba," ujar Namjoon, ingin menenangkan Seokjin. Ambulance tiba tepat setelah Namjoon menyelesaikan kalimatnya.

"Aku dokter di bawah kepolisian distrik Gangnam dan aku yang memberikan pertolongan pertama pada korban," Seokjin segera ikut masuk ambulance setelah salah satu tim medis yang datang dengan ambulance itu mengangguk setuju untuk Seokjin ikut.

"Aku akan segera ke sana setelah urusan di sini selesai," Seokjin mengangguk pada Namjoon tepat sebelum pintu ambulance yang menghubungkan mereka ditutup.

.

Namjoon masih meminta keterangan pada orang-orang sekitar lokasi kejadian saat ponsel di sakunya bergetar singkat.

'Dia baik-baik saja. Walau sempat mengalami kritis, tapi sekarang sudah stabil. Orang tuanya akan segera datang, terima kasih atas teammu yang sangat tanggap,'

Namjoon hanya tersenyum membaca pesan itu. Baguslah kalau anak itu tidak apa, setidaknya tidak ada yang kehilangan nyawa dalam kasus kali ini. Namjoon menyimpan ponselnya, tugas dokter dalam kasus ini sudah selesai, sekarang yang tersisa adalah tugasnya sebagai polisi.

.

.

.

.:LMG:.

.

.

.

Jungkook menghela nafas kesal karena lagi-lagi skripsinya ditolak oleh dosen botak paling killer seantero Korea itu. tidak bisakah pria tua meluluskan Jungkook saja, apa tadi yang dia katakan? Dia lelah melihat wajah Jungkook terus?

"Dasar pria tambun menyebalkan! Dia pikir dia saja yang bosan?! Aku juga bosan melihat wajah bulat berbulu itu!" Jungkook mendorong pintu café di depannya dengan kesal kemudian melangkah ke arah kasir untuk memesan, tidak memperdulikan pandangan aneh orang-orang terhadapnya karena sudah berteriak seperti orang gila di depan pintu café.

"Anda ingin memesan apa?" Jungkook mengalihkan pandangannya dari buku menu yang dipegangnya kepada wanita di depannya.

"Aku ingin satu Iced White Chocolate Mocha satu," Jungkook yakin dia tidak akan kuat berjalan ke rumah tanpa asupan kafein yang akan menahan matanya tetap terbuka setelah semalaman suntuk terus membukan mata untuk menyelesaikan skripsi gagalnya.

"Apa Anda ingin menambahkan whipped cream?"

"Iya, yang banyak," dan Jungkook juga butuh hal manis menggemukan yang bisa membuat moodnya lebih baik.

Setelah membayar pesanannya, Jungkook menunggu minumannya di counter sebelah kasir. Pandangannya mengelilingi café mungil namun nyaman itu.

'Apa aku harus membuka satu yang seperti ini juga? Sepertinya untungnya banyak, lalu Yoongi hyung saja yang menjaganya,'

Pandangan Jungkook terhenti saat dia melihat seorang pria berambut coklat yang tidak asing. Alisnya mengerut saat melihat para pegawai yang terlihat sangat menghormati orang itu.

'apa dia pemilik café ini?'

Karena Jungkook bukan orang yang suka memendam rasa penasarannya, jadi dia memutuskan bertanya pada orang yang mengantar minumannya.

"Permisi, boleh aku bertanya," setelah mendapat anggukan dari orang di depannya, Jungkook memajukan tubuhnya sedikit. "Siapa orang itu?" Jungkook menunjuk pria berambut coklat itu.

"Ah…itu, dia adalah pemilik café ini. Biasanya dia turun tangan langsung menangani café jadi ada banyak pengunjung perempuan di sini," Jungkook menganggukan kepalanya mengerti tanpa melepas pandangan dari pria itu. Namun Jungkook langsung mengalihkan pandangannya saat pandangan mereka tidak sengaja bertemu.

'Ah…sial, aku jadi terlihat seperti stalker,'

Jungkook hampir menjatuhkan minumannya saat dia berbalik dan pria yang tadi diperhatikannya sudah berdiri di depannya.

"Apa ada yang bisa saya bantu?" suara berat yang mengalun dengan tenang itu, menghipnotis Jungkook membuatnya hanya bisa berkedip, tidak tahu mau menjawab apa, seakan-akan otaknya mengkhianatinya karena tidak mau membuat mulutnya bekerja.

"A-Aku…" yang keluar dari mulut Jungkook justru suara tercekat yang membuat pria di hadapannya itu terkekeh kecil.

"Kenapa kau tertawa?" lirih Jungkook.

"Tidak apa, ngomong-ngomong namaku Taehyung, Kim Taehyung. Ku harap kau akan sering ke café ini, karena aku akan dengan senang hati akan melayani pelanggan manis sepertimu setiap hari," Taehyung mengakhiri kalimatnya dengan cengiran khasnya, tidak memperhatikan wajah Jungkook yang sudah memerah.

'Jadi maksudnya aku manis?'

.

.

Let Me Go

.

.

(BTS)

.

to be continue