Mimpi itu adalah bunga tidur. Keinginanmu tidak akan terkabul jika kau tak berusaha mewujudkanya. Seperti itulah kata-kata yang sering kita dengar. Tapi, bagaimana jika keinginan mu bisa terkabul karna mimpi !? Pastikan seseorang untuk tak membangunkan mu saat itu terjadi. Karna itu pasti sangat indah.
.
.
.
.
.
CAPTAIN TSUBASA : YOICHI TAKAHASHI
Mimpi dan Harapan: Ran Hikari Ozora
Chapter : 4, Harapan
.
.
.
.
.
Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, semua hal yang baru saja kau dengar tak bisa kau percayai, itu terlalu mustahil. Kau mencoba bersugesti ini hanyalah mimpi. Tsubasa pasti sedang mengerjai mu, ia pasti hanya sedang bercanda.
Kau akhirnya masuk kedalam ruangan itu, berjalan perlahan kesisi tempat tidurnya. Kau tatap wajahnya yang begitu damai.
"Hey!" kau memulai menyapanya, tapi tak ada jawaban. "Jangan bercanda, kau tahu ini tidak lucu." Ia tetap tak menjawab. Kau mulai mengguncangkan tubuhnya. Namun nihil, semuanya tetap sama.
"Kumohon bangunlah ini benar-benar tidak lucu, Tsubasa." Kau mulai meninggikan suaramu, "Bangun, buka matamu dan katakan padaku bahwa yang di katakan mereka semua bohong. Kau masih hidup, kau tidak akan meninggalkan kami kan? Kau tidak akan meninggalkan ku kan?"
Apa pun usaha yang coba kau lakukan untuk membangunkanya hasilnya tetap sama. Ia masih menutup matanya dan tak bergerak sedikit pun. Dan pada akhirnya kau hanya bisa menjerit memanggil namanya.
"UWAAAAAAAAAAA... TSUBASAAAAAAAA!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kau tak sadar waktu berjalan begitu saja, kau bahkan tidak sadar kini kau sudah berdiri di hadapan batu nisan yang bertuliskan namanya.
Salju di musim dingin membuat semuanya terlihat putih dan dingin, sedingin hatimu yang telah kehilanganya. Kau sudah kehilangan mentarimu, cahayamu.
Kau menangis! Tidak, bukan hanya kau tapi semua orang juga menangis. Ini terasa begitu tidak adil, kenapa harus Tsubasa yang memiliki impian! Kenapa bukan dirimu saja yang bahkan impian pun tak punya. Kau terus mengutuk dirimu.
"Kamisama, kenapa? Kenapa kau mengambinya secepat ini dari kami! Kenapa kau mengambilnya sebelum ia sempat mewujudkan mimpinya!"
.
.
seseorang entah siapa menepuk pundakmu, mengajakmu untuk pulang. Tapi kau tetap diam tak merespon. Semua orang sudah tak nampak lagi di sana hanya ada kau, beberapa teman dan keluarga Tsubasa. Orang itu menepuk pundakmu lagi, kali ini kau menoleh padanya. Kau mendapati wajah teduh sahabatmu Yukari.
Meski tak ingin, kau menggikuti Yukari dan yang lainya untuk pulang. Angin musim dingin berhembus melewati mu saat kau sampai di luar area pamakaman. Angin itu tak seperti angin di musim dingin yang biasanya. Angin itu seolah menuntunmu untuk malihat lurus ke depan.
Di depan mu, di seberang jalan itu, kau melihatnya. Melihat sosoknya yang seperti biasa dengan bola sepak di kakinya. Dia tengah melihat kearahmu sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Senyum yang selalu membuat wajahmu memerah dan jantungmu berdetak tak karuan.
Kau balik tersenyum, menggerakkan kaki mu dan berlari kearahnya. Namun angin dingin menerpamu lagi. Kali ini dengan membawa suaranya yang terdengar jelas di telingamu.
"Sayonara."
Dadamu bergemuruh , kau merasa sangat sesak. Sosok Tsubasa perlahan berlari menjauh, kau mencoba mengejarnya.
"Tsubasa!"
Kau mencoba memanggilnya, berharap dia menoleh dan berhenti. Tapi sebaliknya, tanpa menoleh lagi sosoknya yang sedang berlari itu semakin lama semakin jauh dan hilang bersama salju.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari berlalu begitu saja sejak kepergianya. Tapi bayanganya tak pera bisa kau lupakan. Seolah ia masih ada disini, di sampingmu.
Seperti pagi itu. Kau melihatnya sedang latihan dilapangan sekolah yang penuh salju seperti biasanya. Suaranya yang khas memasuki indra pendengaran mu saat ia menyapamu dengan tersenyum.
"Selamat pagi, Menejer."
"Pagi, Tsubasa."
Kalian berjalan beriringan menuju ruang klub. Kau membuatkanya secangkir teh hangat kesukaanya. Saling berbagi cerita yang tentunyatak jauh-jauh dari sepakbola. Kau tertawa saat ia mengeluh tentang salju yang menumpuk di lapangan hingga membuat ia sulit menendang bola.
Namun obrolan kalian terhenti saat suara anggota tim yang lain terdengar di luar. Saat mereka semua mulai masuk kau menyapa mereka seperti biasa dan menawarkan teh. Tentu saja mereka semua menerima dengan senang hati. Tapi perkataan salah seorang teman mu menyadarkan mu kembali akan sesuatu.
"Menejer, teh ini untuk siapa?" Izawa menunjuk secangkir teh yang ada di atas meja. "Saat kami masuk kulihat kau hanya sendirian. Tapi kenapa ada dua cangkir teh di sini."
"Kau tak lihat itu untuk, Tsu-" ucapan mu terhenti saat kau melihat kebangku dimana tadi Tsubasa sedang duduk. Kau tak menemukan dia lagi, tak ada siapapun disana.
Tanganmu mengepal. Kepalamu menunduk dalam. Kau menggigit bibirmu menahan tangis dan gejolak sesak di dadamu yang terasa begitu menyakitkan.
Tsubasa sudah tidak ada lagi di sini, Sanae. Ia sudah pergi untuk selamanya.
"Menejer?" angota tim sepak bola menatap khawatir kearahmu.
Kau mendongak, memaksakan dirimu untuk tersenyum. "Atsushi, tadi ia mampir sebentar kesini sebelum pergi kesekolahnya."
Kau berbohong agar teman-temanmu tak terus khawatir dengan keadaan mu.
Tapi apa kau tahu Sanae! Saat kau pergi membuatkan mereka teh, mereka menatap punggung mu sedih. Mereka tahu apa yang kau rasakan semenjak kepergian Tsubasa. Karna mereka juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kau rasakan. Tapi mereka tahu apa yang mereka rasakan tidak seburuk apa yang kau rasakan. Karna mereka tahu, kau sangat mencintainya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak hanya sekali dua kali kau mengalami hal yang sama, tapi berkali-kali. Saat perayaan tahun baru, kau pergi bersama teman-temanmu ke Festival.
Mereka bilang kau tak boleh terus-terusan seperti ini, kau harus merelakanya pergi, kau harus melupakanya. Tapi di hari seperti hari ini, tak mungkin bagi mu untuk melupakanya. Sekali lagi kau justu semakin mengingat tentang dirinya, hal-hal menyenangkan yang sudah kau lalui dengannya di Festifal musim panas lalu. Dan kau tak akan mungkin bisa melupakanya.
Kau mengelus gelang di pergelangan tangan kirimu saat kau melihat salah satu stan yang menjual aksesoris yang dulu pernah kau kunjungi bersamanya. Saat itu kau tak tahu apa yang sedang ia pikirkan, tiba-tiba saja memberikan mu gelang. Tapi ekspresi wajahnya saat itu tak bisa kau lupakan.
"Ayo jalan."
Kau menoleh kedepan dimana seseorang sedang mengulurkan tanganya padamu. Kau hanya diam saat menemukan Tsubasalah yang mengulurkan tanganya. Dia ada di sini, di dekatmu.
"Pagang tanganku. Aku tak mau repot mencarimu yang tersesat."
Kau lagi-lagi hanya tertawa menanggapi candaanya. Dan kau selalu menemukan tawamu saat bersamanya.
"Umm."
Namun saat kau akan menyambut uluran tanganya. Dengan perlahan sosoknya memudar, seperti kunang-kunang yang berterbangan dan menghilang dalam kegelapan malam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mungkin akan lebih baik jika dulu kau membencinya.
Mungkin akan lebih baik jika kau tak memiliki perasaan terhadapnya.
Dan mungkin akan lebih baik jika sejak awal kau tak pernah bertemu denganya.
Mengingatnya membuatmu semakin terluka. Tapi kau juga tak mampu menghapus dirinya dari ingatan mu.
Pada suara itu! Pada wajah itu! Dan semua tentang dirinya yang membuatmu telah jatuh cinta padanya.
Sebuah mahkota cahaya mekar di langit malam, membuat rasa sakit di hatimu semakin bertambah. Kembang api itu selalu mengingatkan mu padanya.
Kau berlari, mengikuti kaki itu membawamu. Kau tak perduli lagi dengan semuanya, karna yang kau inginkan sekarang hanya dirinya. Ia yang kau kasihi, ia yang kau sayangi, ia yang kau cintai dengan sepenuh hatimu.
Kau tahu,sangat tahu. bahwa kau tak mungkin bisa bertemu denganya lagi. Tapi kau tak bisa membohongi parasaanmu. Kau ingin bertemu denganya, sangat ingin.
.
.
.
.
Suara teriakan mu menggema saat kau sampai di tepi sungai kenangan itu. Sungai yang jadi tempatmu dan dia melihat kembang api saat festival musim panas lalu.
Kau mencoba memejamkan matamu. Saat itu kau seperti merasakan kehadiranya disisimu. Namun saat kau membuka matamu, kau di hadapkan dengan kenyataan bahwa dia tidak ada di sana, tidak ada di sebelahmu. Dan lagi-lagi kau hanya bisa menangis.
Dalam suara gemuruh kembang api yang meledak di langit, kau kembali memejamkan matamu. Mengatupkan kedua telapak tanganmu yang terselip gelang pemberianya.
"Kamisama, kumohon puterlah waktu dan biarkan aku memperbaiki takdir yang menyesakan ini. aku lelah dengan semuanya. Aku tak bisa melupakanya, tak akan mungkin bisa." Sambil terisak kau terus memohon, berharap ada keajaiban.
"Tak apa jika ia harus melupakan ku sebagai gantinya. Asalkan aku bisa melihatnya tertawa bahagia, melihatnya bisa mewujudkan impianya, itu sudah cukup."
"Kamisama, aku sangat mencintainya. Karna itu untuk kali ini saja, kumohon putarlah waktu untuk ku."
Air matamu jatuh mengenai gelang yang kau genggam. Dan perlahan sebuah cahaya menyelimuti tubuhmu. Untuk sesaat kau merasa waktu terhenti, lalu berputar kembali namun terasa begitu berbeda. Tubuhmu seolah terseret kedalam putaran itu yang terasa begitu dingin dan hampa.
Kau tak tahu kemana putaran waktu itu akan menbawamu sampai semuanya yang ada di sekitarmu kembali seperti semula.
Kau berdiri disana, di tepi jalan bersama teman-temanmu yang lain. Menyaksikan truk pengangkut barang yang sedang menghindar dari menabrak seorang gadis kecil. Dan saat truk pengangkut barang itu tepat berhenti di sebelah mu, saat tali pengikat kaca yang di bawa truk itu putus, seseorang mendorong mu.
Saat itu semua ingatan pahit yang menyakitkan berputar di kepalamu.
Tidak!
Aku tak mau berakhir seperti itu lagi!
Kau berbalik, melihat kearah Tsubasa yang sudah mendorongmu. Dengan senyum di wajahnya ia menatapmu, seolah mengucapkan selamat tinggal.
Masih belum.
Ini masih belum berakhir.
Aku... masih ingin melihat senyum itu! Suara itu dan wajah itu. kumohon tetaplah hidup untuk ku, Tsubasa.
Tanpa membuang waktu sedetik pun kau balik berlari kearahnya. Menariknya dari jalur kaca-kaca yang hampir terjatuh.
"Sanae!"
Kau mendengarnya memanggil namamu di tengah suara bising orang-orang yang berteriak. Kau berusaha membuka matamu yang terasa begitu sulit untuk melihat. Tapi kau berhasil melihat wajahnya meskipun samar-samar. Kau bersyukur iya selamat, sangat bersyukur, Kamisama telah mengabulkan do'a mu.
Kau masih ingin melihat wajahnya lebih lama lagi. Tapi matamu sulit sekali untuk tetap terbuka. Kau merasakan sekujur tubuhmu panas seperti terbakar. Hal yang terakhir kau ingat adalah suaranya yang memanggil namamu, sebelum semuanya menjadi gelap gulita.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Bogor, 15/12/2015
Tapi baru di post sekarang hahahaha Gomenne... lupa cara update saya XDD
Masih tiga hari lagi ya tapi AKEMASHITE OMEDETOU GOZAIMASUUUUUU 2016
Salam CTL Ran Hikari Ozora
