Naruto belong to Masashi Kisimoto
Story by Dark Bloosom
.
.
.
Lorong sekolah itu terlihat sepi. Wajar bila ini terjadi mengingat bahwa sekarang jam kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
Dari arah kejauhan nampak seorang gadis berambut indigo tengah berjalan agak kepayahan dengan beberapa buku tebal dalam dekapannya. Rambut panjangnya bergoyang seiring dengan langkah kaki-kaki mungilnya. Saat dia akan berbelok, tanpa diduga seseorang menabraknya dan menyebabkan buku-buku yang tadinya berada dalam dekapannya berhamburan diatas lantai.
Tanpa berniat untuk melihat orang yang berdiri di depannya, gadis itu berjongkok lalu memungutinya. Saat tangannya terulur pada sebuah buku yang terletak agak jauh,ada tangan lain yang menyentuhnya.
''Biar aku saja,''
Hinata mendongakan kepalanya. Lavender-nya bertemu pandang dengan sepasang emerald. Menghipnotisnya selama beberapa saat dan mengajaknya untuk menyelami lebih dalam warna hijau itu.
Gadis itu tak bisa berbuat apa-apa saat Sakura merebut buku-buku yang tadinya dia bawa.
''Arigatou Sakura-kun'' uap Hinata pelan namun sesaat kemudian dia membekap mulutnya dengan telapak tangan saat tak sengaja memanggil pemuda itu dengan sufiks -kun.
''Gomen..''
''Hn''
Tak ada percakapan yang tercpta diantara kedua anak manusia tersebut. Sakura sendiri memang tergolong manusia yang irit bicara dan tidak pandai membuka pembicaraan, apalagi dengan seorang perempuan. Sedangkan Hinata?tahu sendirilah..dia adalah gadis yang pemalu dan mudah merasa gugup. Apalagi sekarang gadis itu tengah berjalan berdampingan dengan seorang laki-laki. Jantungnya berdetak sangat kencang seolah ingin meloncat keluar. Berkali-kali dia membuang nafas berat untuk menetralisirnya.
Sakura hanya mengangkat sebelah alisnya dan melirik sesaat gadis di sampingnya. Heran dengan sikap Hinata yang menurutnya aneh. Seakan tersadar sesuatu pemuda itu akhirnya membuka suara.
''Kau teman dekat Yamanaka''
Hinata yang tidak bisa membedakan antara pertanyaan atau pernyataan karena nada datar yang berasal dari bibir tipis Sakura hanya bergumam pelan.
''Ya''
''Apa..dia baik-baik saja?'' tanya Sakura ragu-ragu dan tanpa menoleh sedikitpun pada gadis disampingnya.
Hinata tak langsung menjawabnya,gadis itu malah termenung selama beberapa saat.
'Kenapa Sakura-kun bertanya seperti itu?apa jangan-jangan dia..?'
Mengenyahkan pikira negatifnya dengan menggelengkan kepalanya pelan.
''Ya..sepertinya dia baik-baik saja. Memangnya ada apa Sakura-san?''
''Hn tidak''
Sunyi beberapa saat. Mata Hinata melirik tas punggung yang terpasang di bagian belakang tubuh pemuda itu. Akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk bertanya. Hitung-hitung mencoba berbasa-basi.
''A-ano..kenapa kau baru berangkat Sakura-san?'' tanya gadis itu pelan dan hati-hati.
''Hn''
kedua orang itu berhenti beberapa meter sebelum mencapai pintu kelas I-A. Sebenarnya Sakura-lah yang menghentikan langkahnya,Hinata pun melakukan demikian karena heran dengan sikap Sakura. Keheranannya semakin menjadi saat pemuda itu menyerahkan buku-buku yang dia bawa kepada Hinata, lalu berjlalan meninggalkan gadis itu.
''Kau tidak masuk kelas?''
''Aku hanya tidak sedang berminat untuk memandangi tubuh menggoda Kurenai-SenseiI'' ucap Sakura kemudian berlalu dari pendangan Hinata. Hinata sendiri hanya terpaku dengan muka semerah kepiting rebus. Merona entah karena perkataan Sakura atau seringai yang jarang ditampilkan pemuda itu. Dan Hinata adalah salah satu gadis beruntung yang sempat melhatnya.
.
Hembusan angin menerbangkan lembut helaian merah muda Sakura yang sedang memandangi kumpulan remaja tanggung dengan seragam olahraga yang membalut tubuh mereka.
Mata emerald miliknya tak pernah lepas dari seorang gadis yang tengah tertawa seolah tanpa beban di seberang sana. Memandangi sang gadis dalam jarak yang terbilang tidak dekat dengan raut yang sama sekali tak dapat dibaca. Meskipun dalam jarak yang agak jauh, Sakura dapat melihat dengan jelas satu demi satu bagian wajah gadis itu. Menatap dalam tanpa berniat untuk melepaskan arah pandangnya.
"Kau menyukainya?" tanya seseorang dengan suara baritone yang berasal dari belakang tubuhnya. Sakura tak menyahut, hanya mendengus kesal dengan kehadiran sang pemuda yang kini berdiri di sampingnya.
Selama mereka berdua berdiri di tempat yang sama itu pun tak ada percakapan yang tercipta. Memiliki sifat yang sama-sama dingin, dan ego tinggi itulah yang membuat keduanya enggan untuk memulai pembicaraan dengan orang lain, sekalipun dengan sesame partner misi. Hanya cicitan burung dan suara riuh yang berasal dari segerombolan anak-anak di lapangan sepak bola yang mengisi keheningan. Keempat mata itu terfokus pada satu titik yang sama. Namun yang membedakan hanyalah apa yang ada dalam pikiran keduanya.
Sakura melirik samping kirinya lalu mendengus-lagi-. Melihat pemuda berambut merah itu masih berdiri disana dengan jade lurus.
'Cih,kenapa aku selalu- ah bukan..kenapa seranga merah ini selalu menggangguku'
"Aku hanya mengawasimu" sahut Gaara seolah dapat membaca isi kepala Sakura.
Menghela nafas gusar, lalu Sakura memutuskan untuk menanyakan hal yang sedari tadi mengganjal di kepalanya. Siapa tahu pemuda merah ini mengetahuinya. Begitu pikir Sakura.
"Aku hanya merasa aneh dengan sikapnya" ucap Sakura dengan intonasi yang tak kalah datarnya dengan Gaara.
Gaara tak menyahut. Diamnya bukan karena dia bodoh dengan 'nya' yang Sakura maksud, dia tahu benar siapa yang menjadi objek pembicaraan mereka berdua kali ini. pemuda berambut merah itu sendiri sebenarnya hanya tid-belum mengetahui jawaban atas pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan yang terlontar dari bibir tipis Sakura.
"Ya, setelah apa yang dia lihat dan wajah ketakutannya kemarin bisa-bisanya dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa dengan dirinya"
Kali ini Sakura yang dibuat bingung dengan penjelasan Gaara. Menaikan sebelah alisnya, lalu kepala merah mudanya sedikit menoleh ke kanan. Jelas-jelas yang mengetahui kejadian yang menimpa gadis itu hanya dirinya juga kedua teman dekat gadis itu yang sedang berada di ruang kesehatan pada saat kejadian berlangsung. Gaara tak menoleh, tapi dia tahu jelas bahwa saat ini pasti pemuda Haruno itu sedang bingung dan heran.
"Aku mempunyai apa yang tidak kau ketahui dan miliki" jawabnya datar dengan seringai yang tercetak samar di wajahnya.
Sakura hanya mengedikkan bahu. Tidak mau tahu. Tapi demi apapun, sebenarnya dia penasaran dan kesal setengah mati dengan apa yang dimaksud Gaara. Aku mempunyai apa yang tidak kau ketahui dan miliki.
'Apa-apaan dia itu?berkata seolah dia adalah orang yang jauh diatasku?'
Gaara mendengus geli. Menikmati menggoda bungsu Haruno itu. diam-diam Gaara ragu dengan marga yang disandang oleh pemuda yang sedang menahan kesal di sampingnya. Bagaimana mungkin dia dengan mudahnya dibodohi seperti itu? setahunya seluruh anggota klan Haruno adalah orang yang memiliki kemampuan otak diatas rata-rata, tapi masih berada dibawah 2 klan lainnya. Tapi Sakura? Entahlah..hanya Kami-sama dan anggota keluarganya yang tahu. Tetapi satu hal yang jelas, dia pantas untuk diragukan sebagai anggota klan Haruno.
"Menurutmu apa yang menyebabkannya menjadi seperti itu?" tanya Sakura setelah berhasil meredakan rasa kesalnya.
"hn entahlah..tapi menurutku ini semacam..penghapusan memori.."
Sakura mengernyit. Mengulang kalimat Gaara di kepalanya. Setelah menganalisanya selama beberapa saat dia membenarkan penuturan Gaara dalam hati. Tapi dia-ah bukan maksudnya mereka kan belum mendapat bukti yang jelas. Terutama Gaara. Pemuda merah itu tidak bisa menarik kesimpulan semudah itu dalam kasus ini sementara dia belum mendapat petunjuk atau bukti apapun.
Emerald Sakura mengamati sang gadis yang kini sudah beranjak pergi. Lalu pemuda itu membalikkan badan dan berniat pergi meninggalkan tempat itu dan Gaara yang masih bertahan di posisinya.
"Sebaiknya kau berhati-hati..menurutku mereka sudah mulai bergerak" ucap Gaara datar sebelum Sakura meninggalkannya.
.
.
"Ck..kemana sih si Sakura. Aku kan membutuhkan kemampuan otaknya di situasi begini" keluh Naruto gelisah sambil sesekali melirik kursi disampingnya yang masih kosong sejak tadi pagi.
Suasana kelas I-A saat ini benar-benar hening. Tak seperti biasanya. Hal ini dikarenakan Genma,sang guru Fisika yang dengan baik hati menyodorkan satu lembar soal untuk dikerjakan oleh masing-masing anak dan dikumpulkan satu jam lagi. Tak ayal hal ini membuat Naruto kalang kabut, otaknya yang pas-pasan dipaksa untuk memecahkan rumus-rumus dan angka yang memusingkan itu seorang diri tanpa adanya campur tangan dari Sakura.
Diseberang Naruto, nampak seorang gadis beriris lavender yang sesekali mencuri pandang di sisi Naruto yang masih belum berpenghuni. Seketika gadis itu teringat akan kejadian beberapa jam yang lalu saat dirinya sedang berjalan bersama pemuda itu. matanya, cara bicaranya, tangan mereka yang bersentuhan-walaupun secara tidak langsung- mampu untuk memerahkan wajah manisnya dan membuyarkan konsentrasinya sejenak sebelum suara Genma yang menggelegar menginterupsi pendengarannya.
"Ya Sasuke, ada apa?" tanya Iruka yang melihat Sasuke sedang mengangkat tangan.
"Saya ijin keluar sebentar, Sensei"
Hinata menatap sebentar punggung Sasuke yang kemudian hilang dibalik pintu setelah mendapat anggukan dari Genma. Kemudian gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
.
"Hoahmm..mendokusai" seru Shikamaru sambil menatap sederetan nama yang terpampang di papan tulis. Kepala nanasnya melirik kearah gadis berambut pirang panjang di depan sana. Belum apa-apa saja dirinya sudah menganggap bahwa akan sangat merepotkan berada satu kelompok bersama gadis Yamanaka itu.
"Apa lihat-lihat!" seru sang gadis galak saat mendapati mata Shikamaru terarah padanya.
"Ck benar-benar.."
Saat dia melihat kearah jendela di dekat pintu kelas, tanpa sengaja dilihatnya sepasang emerald yang tersembunyi dibalik jendela.
'Bukannya itu Sakura?'
Sakura mengumpat saat Shikamaru memergokinya sedang mengintai salah seorang temannya. Di tengah-tengah harga dirinya yang serasa jatuh karena ketahuan mengintai, Sakura segera mengambil langkah seribu dari tempatnya berdiri. Tidak ingin mengambil resiko lebih.
"Sial..kalau bukan karena misi dari Sasori mana mungkin aku mau melakukan hal memalukan seperti ini. Aarrghh!" umpat Sakura di lorong sekolah yang sepi. Karena tidak focus pada jalan, tiba-tiba dia menabrak sesuatu yang terasa empuk sebelum kemudian jatuh dan hampir menindih seseorang di bawahnya. Emerald Sakura menatap sepasang onyx di bawahnya. Rona tipis mewarnai pipi keduanya.
"H-hei..menyingkir dariku, Haruno" desis Sasuke seraya mencoba mendorong dada bidang Sakura.
"Hn. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sakura datar.
"Bukan urusanmu. Lagipula bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu?baru satu minggu di sekolah baru tapi sudah berani membolos. Ckck beginikah didikan kedua orangtuamu, Haru-"
"Aakkhh!"
Otak Sasuke belum sepenuhnya mencerna apa yang terjadi karena kejadiannya begitu cepat. Sakura menarik paksa lengannya. Dia mengira pemuda itu marah karena mengatainya demikian. Tapi nyatanya tidak demikian.
'A-apa ini?'
Sasuke membulatkan matanya saat melihat Sakura sudah tersungkur di lantai dengan darah segar yang mengalir dari bahu pemuda itu. Seperti..bekas cakaran?
Saat sedang panik itulah Sasuke kembali dikejutkan dengan sesuatu yang memukul tengkuknya pelan. Sebelum kehilangan kesadarannya, samar-samar gadis itu mendengar seorang pria yang menyerukan nama Sakura yang juga telah kehilangan kesadarannya.
'Makhluk apa tadi?bertaring dan berkuku tajam. Tapi..mata coklat itu. Sen-'
TBC
Terimakasih bagi para reader yang sudah mampir. Tanpa banyak kata-kata.. Review please ^^
