Sudah memasuki minggu kedua di bulan Mei. Tetap tak ada yang istimewa bagi Tsunayoshi. Ia menjalani hari-hari biasa sebagai anak sekolah. Setiap pagi agak sulit disuruh untuk beranjak dari tempat tidur karena malas sekolah. Berangkat sekolah bersama teman, dan pulang sekolah bersama teman, yaitu Gokudera.
Tsunayoshi masih belum bisa menerima perasaan Gokudera sepenuhnya. Toh ia sendiri sedang mengincar orang lain. Ia ingin menyuruh Gokudera untuk berhenti menyukainya sebelum malah ia yang tersakiti. Namun bukan Gokudera namanya jika hanya mengiyakannya. Gokudera beralasan jika Tsunayoshi sedang tersakiti, tidak masalah bagi dirinya tersakiti juga. Alasan yang sangat tidak diduga oleh Tsunayoshi dari orang seperti Gokudera.
Semenjak hari jadian kakaknya dengan 'pacarnya', Tsunayoshi tak pernah menyantap makan siang di atap sekolah lagi. Ia lebih sering menghabiskan bekal di kelas atau di halaman belakang sekolah. Meskipun Tsunayoshi tidak melihat objeknya secara langsung, memorinya masih mengingat dengan baik objek yang akan digambarnya.
Remaja raven yang sangat memukau itu sudah dimiliki. Tsunayoshi merasa tak ada celah lagi untuk dicari. Remaja itu milik'nya' seutuhnya. Ia tidak boleh curang, apalagi bermain di belakang. Oh sungguh itu bukan pribadinya. Bersama Gokudera saja sudah cukup baginya saat ini.
Gokudera selalu bersamanya di saat ia senang dan sedih. Sedangkan orang yang disukainya, tidak ada di sisinya. Justru orang itu berada di sisi yang lain. Sisi yang sangat tidak terjangkau oleh Tsunayoshi.
Sore menjelang, pukul empat sore. Waktunya para pelajar Namichuu kembali ke rumah masing-masing. Ini hari rabu dan Tsunayoshi sangat ingat bahwa sore ini ada latihan sepak bola. Tanpa menunggu lagi, ia segera menuju ruang ganti klub sepak bola.
Di sana, ia sudah bertemu dengan Gokudera. Ia agak terkejut karena tidak biasanya Gokudera tidak mengajaknya kemari bersama.
"Gokudera-kun, kau sudah ada di sini daritadi?"
"Iya, maaf aku duluan."
"Iya, tak apa."
Setelah mereka berdua berganti pakaian, mereka segera menuju lapangan untuk melaksanakan latihan sepak bola. Tumben sekali anggotanya tak ada yang absen. Latihan pun dimulai hingga pukul enam sore.
Seusai latihan, Tsunayoshi segera mengganti pakaiannya, lalu menghampiri kakaknya yang berada di ruang klub aikido.
Lagi-lagi Tsunayoshi melihat pemandangan yang tak ingin dilihatnya. Dino tampak sedang asyik mengobrol dengan 'pacarnya'. Tsunayoshi hendak memanggilnya, tapi tidak sopan jika mengganggu. Tsunayoshi pun mengurungi niatnya itu. Sampai sebuah tepukan di pundaknya menyadarkannya.
"Tsuna.", Tsunayoshi langsung menoleh ke sumber suara.
"Gokudera-kun.. ada apa?"
"Ayo kita pulang, kau sedang apa di sini?"
"Aku ingin pulang bersama kakakku…"
"Kenapa kau tidak panggil saja?"
"Itu.. sebaiknya.."
"Pelatih…!", teriak Gokudera kepada orang yang ada di dalam ruangan itu.
Yang dipanggil pun langsung menoleh dan segera menghampiri Gokudera. "Ada apa, Gokudera? Oh, Tsuna, kau sudah selesai.", Dino langsung mengalihkan perhatiannya kepada Tsunayoshi.
"Ya, aku sudah selesai. Ayo pulang.", ajak Tsunayoshi.
"Maaf, Tsuna. Kau pulang duluan saja bersama Gokudera. Aku masih ada urusan."
"Baiklah. Aku pulang."
"Hati-hati ya."
Tanpa menghiraukan ucapan Dino, Tsunayoshi segera melangkah pergi dari sana. Diikuti Gokudera yang setia menemaninya. Tsunayoshi sepertinya terlihat tidak sehat. Apa dia sakit? Atau..? Entahlah pertanyaan terus menyerbu di kepala Gokudera. Gokudera sangat melihat pelatih aikidonya sedang bermesraan di ruangan itu dengan 'pacarnya'. Dan ia sangat yakin hal itu yang membuat Tsunayoshi jadi tidak sehat.
Di depan kediaman Sawada,
"Tsuna, kau yakin tidak apa-apa?", tanya Gokudera kepada Tsunayoshi sebelum ia memasuki rumahnya.
"Aku tidak apa-apa, Gokudera-kun. Tidak usah khawatir."
"Jika ada apa-apa, hubungi aku saja."
Tsunayoshi hanya mengangguk dan segera memasuki rumah. Gokudera kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya.
Sangat tidak terbayang oleh Tsunayoshi melihat kakaknya sedang berciuman dengan orang yang sedang disukainya saat ini. Memang sih dia sudah dimiliki, tapi Tsunayoshi hanya menyukainya dan berniat tidak mendekatinya. Tidak apa, kan?
Sepertinya berendam di air hangat akan membuatnya lebih rileks. Dengan segera ia memenuhi bathtubnya dengan air hangat. Sambil menunggu bathtubnya penuh, ia membuat teh hangat. Sekedar untuk menenangkan diri.
Tsunayoshi memang tidak putus asa. Namun mau bagaimana lagi jika fakta bahwa Hibari milik Dino sekarang. Rasanya ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Seakan hidupnya sudah berakhir begitu. Tapi mengakhiri hidup karena cinta bukanlah jalan keluar, itu malah membuat jalan menuju neraka. Tsunayoshi hanya dapat berdoa agar hubungan di antara keduanya selalu membaik.
Setelah menyegarkan tubuhnya dengan mandi, Tsunayoshi berniat untuk makan malam. Kebetulan sebelum Dino pergi mengajar, ia sempat membuatkan makan malam. Tsunayoshi hanya tinggal menghangatkannya saja dan itu tidak sulit.
Acara makan malam usai, Tsunayoshi berniat untuk mengerjakan tugas sekolah. Sepertinya mengerjakan soal sambil menonton tv akan meminimalisir kejengkelannya terhadap tugas sekolah ini.
Sudah pukul setengah delapan malam, Dino belum kembali juga. Tsunayoshi agak khawatir sih, tapi Dino bukanlah tipe orang yang harus dikhawatirkan. Ia bisa menjaga dirinya dengan sangat baik, sekalipun mayat hidup yang menyerangnya. Tapi Tsunayoshi harap hal itu tidak akan pernah terjadi.
Pukul sembilan malam, Tsunayoshi berhasil menyelesaikan tugasnya yang ia kerjakan dari pukul tujuh tadi. Dino masih belum menampakkan wujudnya. Oke Tsunayoshi mulai khawatir, ke mana Dino sampai tidak pulang-pulang? Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Tsunayoshi segera mengambil ponselnya dan melihat layarnya bahwa Gokudera menelponnya. Ia segera mengangkatnya.
"Halo. Ada apa, Gokudera-kun?"
"Tsuna, apa aku mengganggu?"
"Tidak. Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol saja. Apa kau sudah mengerjakan tugas yang diberikan tadi?"
"Sudah. Baru saja aku menyelesaikannya. Kau?"
"Aku juga sudah. Um.. Tsuna.."
"Ya, kenapa?"
"Aku melihat pelatih berduaan dengan senpai di sebuah restoran cepat saji. Aku melihatnya saat aku hendak membeli makan malam."
"Begitu ya.. dia belum pulang sampai sekarang."
"Eh? Benarkah? Kau sendirian di rumah?"
"Ya.. begitulah.."
"Boleh aku ke sana untuk menemanimu?"
"Tentu, jika kau tidak kerepotan."
"Tidak apa. Aku akan ke sana sekarang."
Sambungan pun diputus oleh Gokudera. Tsunayoshi meletakkan ponselnya di atas meja. Ia membaringkan tubuhnya. Tubuhnya agak pegal.
Sepuluh menit kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah Tsunayoshi. Tsunayoshi yang mendengar itu segera menuju pintu dan membukanya. Terlihatlah sosok Gokudera di balik pintu.
"Tsuna, pelatih belum pulang juga?"
"Belum. Silahkan masuk, Gokudera-kun."
Gokudera segera masuk dan menuju ruang tengah. Tsunayoshi pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan camilan. Setelah mengambil suguhan tersebut, ia kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa, di samping Gokudera.
"Kau tidak menelpon pelatih?", tanya Gokudera sambil meminum minumannya yang diantarkan Tsunayoshi.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Sepertinya aku hanya akan mengganggunya saja."
"Maaf jika pemberitahuan ku tadi membuatmu sedih."
"Tidak apa, Gokudera-kun. Ini bukan salahmu."
Cukup lama Gokudera bertamu dan berbincang dengan Tsunayoshi. Hari semakin larut, sampai-sampai membuat keduanya tertidur di sofa. Dino masih belum menampakkan wujudnya. Ke mana si pirang itu?
.
.
.
Keesokan paginya, pukul lima pagi, Tsunayoshi terbangun dari tidurnya. Ia cukup terkejut karena ia terbangun di samping Gokudera yang masih tertidur. Tsunayoshi berusaha mengingat kenapa mereka berdua bisa tertidur di sofa. Akhirnya ia ingat, bahwa semalam mereka berdua menunggu kepulangan Dino.
Tsunayoshi segera beranjak dari sofa dan berlari menuju kamar Dino. Tanpa ragu ia segera membuka pintu kamar Dino yang tidak terkunci. Kosong. Dino tak ada di kamarnya. Lalu ia pergi menuju kamar mandi. Tanpa ragu pula ia membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu. Kosong. Dino masih belum sampai di rumah? Sungguh Tsunayoshi sangat khawatir. Ia kembali ke ruang tengah dan membangunkan Gokudera.
"Gokudera-kun.. bangun..", ucap Tsunayoshi sambil menepuk pundak Gokudera.
Untungnya Gokudera segera tersadar. "Ada apa, Tsuna?"
"Dino-kun masih belum kembali juga..", tampak kecemasan tergambar di wajah Tsunayoshi.
"Benarkah..? Coba kau hubungi dia."
Dengan segera Tsunayoshi mencari ponselnya. Setelah menemukan ponselnya, ia langsung menghubungi Dino. Dino belum mengangkat teleponnya. 'Ayo angkat..', batin Tsunayoshi cemas.
"Halo? Tsuna?"
"Dino-kun.. kau ada di mana..?"
"Oh.. maaf, Tsuna.. aku ketiduran di rumah Kyoya.. aku akan segera pulang.."
Tsunayoshi meneguk ludahnya. Apa Dino bilang dia ketiduran di rumah Kyoya? Apa yang habis mereka lakukan. Tsunayoshi tak bisa berhenti curiga saat menyadari suara Dino begitu berat dan seperti kelelahan.
"Apa kau sakit..?"
"Tidak.. aku tidak sakit.. aku hanya kelelahan, tidak usah khawatir begitu, Tsuna.."
"Baiklah.. cepat pulang.. aku ingin latihan pagi hari ini.."
"Baiklah.. hati-hati ya.."
Gokudera menghampiri Tsunayoshi yang baru saja memutus sambungan teleponnya.
"Bagaimana pelatih..?", tanya Gokudera.
Tsunyaoshi menatap Gokudera sedih. "Ia.. habis menginap di rumah Kyoya.."
Gokudera membulatkan matanya. Ia tahu bagaimana perasaan Tsunayoshi. Mungkin agak hancur. Gokudera semakin memperdekat jaraknya dengan Tsunayoshi. Lalu memeluknya dengan tulus. Tsunayoshi tampak membalas pelukan Gokudera. Ia meremas baju bagian belakang Gokudera. Apa ia sedang menangis lagi?
.
.
.
"Siapa yang telepon?"
"Tadi adikku kok.. kau cemburu, Kyoya?"
Hibari pun terdiam sejenak dan sedang mencerna pertanyaan Dino tadi. "Tidak."
Hibari langsung beranjak dari ranjangnya dan merapikan bajunya yang berantakan.
"Kau mau ke mana, Kyoya? Ini masih pagi, kan?"
"Aku ingin mandi."
"Kalau begitu aku iku-", yang tadinya ingin beranjak dari ranjang, Dino terbaring kembali di ranjang karena habis ditendang Hibari.
"Mandi saja sendiri."
Hibari melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Padahal sekolah masuk pukul delapan, tapi memang sudah kebiasaannya bersiap-siap sepagi ini. Sambil merilekskan tubuhnya di bathtub, ia merasa sangat bersalah. Ia telah membawa kakak orang pergi ke rumahnya sampai-sampai ia melupakan adiknya yang mungkin sekarang sedang mengkhawatirkannya.
.
.
.
Pukul enam pagi, klub sepak bola Namichuu tampak sedang latihan. Tsunayoshi memang cukup senang saat ia sedang berlatih sepak bola. Ia terlihat begitu gembira. Sama halnya dengan Gokudera, ia juga senang saat melihat Tsunayoshi gembira seperti itu.
Tanpa sadar sepasang mata sedang memperhatikannya. Lagi-lagi intuisi Tsunayoshi tak berjalan. Sampai perhatiannya beralih ke atap sekolah. Ia melihat seseorang sedang berdiri di sana dan terlihat sedang memperhatikan kegiatan klub sepak bola. Tsunayoshi tidak melihatnya begitu jelas. Ia hanya bisa melihat surainya yang berwarna hitam. Tsunayoshi pun tak menghiraukannya dan kembali berlatih.
Pemilik sepasang mata itu sepertinya kecewa melihat Tsunayoshi tak menghiraukannya bahkan tak menyadari keberadaannya.
Pukul tujuh, latihan berakhir. Tsunayoshi segera mengganti baju olahraganya dengan seragam. Setelah merapikan diri, ia segera pergi ke kelasnya.
Di kelas, tak ada siapa pun. Tsunayohsi memang melihat ada beberapa tas. Mungkin murid yang seklub dengannya atau murid yang memang rajin. Tapi semua pemilik tas itu tidak ada di sana. Bahkan Gokudera tak ada di sana. Tsunayoshi memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.
Membaca memang bukan hobi kesukaannya, tapi kalau membaca buku tentang seni, ia cukup segan. Sampai di perpustakaan, ia segera menelusuri rak-rak penuh buku itu. Melihati judul buku yang mungkin akan menarik perhatiannya. Akhirnya ia mendapatkan buku menarik. Ia segera mengambilnya dan menuju tempat duduk yang sudah disediakan. Sampai di tempat duduk, ia meletakkan bukunya di meja. Tak sengaja sikutnya menyenggol tumpukkan buku yang ada di dekatnya. Buku-buku itu pun jatuh berantakan. Salah satunya ada yang terbuka dan memperlihatkan sebuah kartu peminjaman buku. Di sana ia melihat nama Hibari Kyoya. Ketika ia merasa ada seseorang yang menghampirinya, dengan secepat mungkin ia merapikan buku-buku itu dan meletakkannya kembali ke atas meja. Akhirnya ia melihat juga siapa yang tengah menghampirinya.
"Ma-maaf, Hibari-kun..", ucap Tsunayoshi sambil merapikan buku-buku itu di atas meja.
"Tsunayoshi."
"Ya?"
"Tidak apa-apa."
Tsunayoshi tak membalasnya lagi. Ia hanya bersikap seakan tak ada apa-apa. Ia menduduki kursi yang sedaritadi ingin ia duduki dan membaca buku pilihannya dengan tenang. Dan kalian harus tahu perasaan Tsunayoshi tak setenang ekspresinya saat ini.
Hibari kembali menutup mulut dan ia duduk di kursi sebelah Tsunayoshi. Ia juga membaca buku pinjamannya dengan tenang. Sebenarnya pikirannya tak sepenuhnya tertuju pada buku yang dibacanya. Ia juga sedang memikirkan hal lain. Sampai sesuatu yang melintas di kepalanya, membuatnya angkat bicara.
"Maaf..", ucap Hibari tiba-tiba dan membuat Tsunayoshi langsung menoleh ke arahnya.
"Maaf untuk apa, Hibari-kun?"
"Maaf aku telah mengajak pergi kakakmu sampai membuatmu cemas."
Tsunayoshi terdiam sejenak, seakan mencerna perkataan Hibari. "Tidak apa kok.", ia berusaha terus tenang.
"Lain waktu, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Perasaan Tsunayoshi semakin tak enak. "Maaf, aku harus kembali ke kelas. Permisi.", Tsunayoshi segera beranjak pergi meninggalkan Hibari seorang diri.
Hibari yang ditinggal pun, merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Sepertinya meminta maaf seperti itu hanya akan membuat Tsunayoshi semakin cemas.
Di perjalanan menuju kelasnya pun, raut wajah Tsunayoshi tak setenang tadi. Raut wajahnya menjadi sedih dan semakin sedih. Matanya sudah berkaca-kaca, tapi untungnya ia masih bisa menahannya.
Saking berusahanya menahan air mata, Tsunayoshi tak fokus berjalan dan menabrak seseorang, untunglah yang ditabraknya bukan orang yang aneh-aneh. Melainkan Gokudera.
"Tsuna, kau habis dari mana?"
Tsunayoshi tak menjawabnya, bahkan ia tak menatap wajah Gokudera.
"Tsuna..? Kau tidak apa-apa?"
Akhirnya Tsunayoshi menatap Gokudera dengan mata yang berair.
"Tsuna?! Ada apa?"
"Tidak apa, Gokudera-kun.."
"Jangan bohong.. kau itu menangis. Memangnya kau punya kebiasaan menangis tanpa sebab?"
"Ya.. mungkin saja memang benar begitu.."
"Ceritakan saja, Tsuna.."
Tsunayoshi berusaha menenangkan dirinya sendiri dan, "Aku.. bertemu Hibari-kun di perpustakaan tadi.. Kau tahu kan bagaimana perasaanku..?"
"Iya.. aku mengerti.."
Di lorong yang sepi itu mereka berpelukan. Sampai bel tanda masuk menyadarkan mereka berdua. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke kelas sebelum terlambat di jam pelajaran pertama. Lagi-lagi sepasang mata memerhatikan mereka dengan tatapan kecewa.
.
.
.
Minggu terakhir di bulan Mei. Tak terasa sudah akhir bulan Mei, dan sebentar lagi akan masuk bulan Juni. Tak terasa juga sudah hampir memasuki bulan pertama semenjak hari jadian Dino dengan pacarnya.
Hari terakhir bulan Mei ini jatuh di hari selasa. Matahari mulai menampakkan cahayanya. Perlahan namun pasti Tsunayoshi membuka matanya. Ia tampak kesilauan dengan cahaya matahari yang tumben-tumbennya terang sekali memasuki kamarnya. Ia baru ingat semalam ia sampai lupa menutup tirai jendela. Melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh, Tsunayoshi segera bangkit dari posisi berbaringnya. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi dan berseragam, bau masakan Dino seakan menghipnotis Tsunayoshi untuk menuju ruang makan. Benar saja di ruang makan sarapan sudah siap. Tumben sekali pagi-pagi begini Tsunayoshi merasa lapar.
Seusai sarapan, Tsunayoshi segera bersiap-siap berangkat sekolah, lalu pamit kepada sang kakak. Seperti biasa, Gokudera sudah setia menunggu di depan rumahnya untuk berangkat sekolah bersama. Dalam perjalanan menuju sekolah, tak jarang Tsunayoshi menguap dengan lebarnya.
"Kau kurang tidur, Tsuna?", tanya Gokudera yang sudah mulai cemas.
"Mungkin.. tapi aku yakin semalam aku tidur tepat waktu."
"Jangan sampai kurang istirahat, nanti asma mu kumat lagi.."
"Tenang saja, Gokudera-kun.. aku tidak akan melakukan hal bodoh yang memperburuk keadaanku."
Gokudera hanya membalasnya dengan senyum. Ia merasa Tsunayoshi lebih bersemangat hari ini, meskipun tidak begitu menonjol di ekspresinya. Setelah perbincangan singkat tadi, mereka melanjutkan perjalanan menuju sekolah.
Sampai di sekolah, pas sekali bel masuk berbunyi. Tsunayoshi melewati pelajaran pertama hingga seterusnya dengan seksama, meskipun rasa kantuk sepertinya menguasai tubuhnya dengan sangat cekatan. Mati-matian Tsunayoshi menahan kantuk agar tidak tertidur di kelas.
Setelah perjalanan panjang menuju waktu makan siang, akhirnya bel istirahat berbunyi. Menyelamatkan Tsunayoshi yang sudah mengantuk. Melihat guru yang mengajar sudah keluar dari kelas, Tsunayoshi meletakkan kepalanya di meja dan bersiap ingin tidur.
Ternyata Tsunayoshi tak dapat tidur setenang yang ia pikirkan. Karena Gokudera tengah menghampirinya untuk mengajaknya makan siang.
"Tsuna, ayo kita makan."
"Ah, Gokudera-kun. Aku sangat ngantuk, aku ingin tidur dulu sebentar."
"Eh? Memangnya kau tak bawa bekal?"
"Bawa sih.. tapi aku terlalu ngantuk untuk menyantap bekal.."
"Kenapa kau tidak tidur di ruang kesehatan saja?"
"Itu tidak perlu.."
Dengan cepat Gokudera menarik kursi lain agar ia bisa duduk di samping Tsunayohi. Menyandarkan kepala Tsunayoshi di pundaknya. Tsunayoshi cukup terkejut dengan perlakuan Gokudera.
"Tidak usah sungkan, tidur saja.", ucap Gokudera begitu mengalun di telinga Tsunayoshi.
Tanpa pikir panjang Tsunayoshi segera memjamkan matanya. Cukup lama matanya terpejam hingga lima belas menit kemudian, bel tanda istirahat berbunyi dan membuat Tsunayoshi tersadar seutuhnya. Kau tahu? Itu adalah tidur tersingkat yang pernah dilakukan Tsunayoshi, hanya dua puluh menit.
Gokudera yang masih setia berada di sampingnya tertawa kecil melihat wajah bangun tidur Tsunayoshi. Lihat matanya begitu sayu dan masih tak kuat menahan kantuk. Akhirnya guru pelajaran berikutnya datang dan memisahkan Tsunayoshi dengan Gokudera. Lalu mereka melanjutkan kegiatan belajar sampai pukul empat sore.
Dalam perjalanan pulang,
"Tsuna, aku ingin kau berkunjung ke rumahku hari ini..", ajak Gokudera agak malu.
"Eh? Memangnya ada apa, Gokuder-kun?"
"A-aku.. baru saja mencoba resep makanan.. aku ingin tau komentar darimu atas masakanku.."
"Kau bisa memasak, Gokudera-kun?!"
"Tentu saja. Memangnya kalau aku bawa bekal, itu buatan siapa?"
"Hahah.. begitu ya.. baiklah aku mau mencoba masakanmu.."
Gokudera hanya menatap Tsunyaoshi senang. Baru pertama kali ia melihat Tsunayoshi tertawa seperti itu. Meskipun tertawanya tak sepenuh hati sih, pikirnya.
Sampai di rumah Gokudera, mereka langsung menuju dapur untuk melakukan ritual memasak yang dibicarakan Gokudera tadi. Tsunayoshi hanya melihatinya dan bertanya-tanya dalam hati apa yang akan dibuatnya.
"Gokudera-kun, kau mau membuat apa?", tanya Tsunayoshi yang melihatinya dari meja makan.
"Aku akan membuat.. katsu donburi.."
"Wah.. sepertinya kita akan makan besar nih..", Tsunayoshi tersenyum.
"Semoga kau menyukainya, Tsuna!"
Lalu Gokudera kembali melanjutkan kegiatan masak memasaknya. Sampai dua puluh menit kemudian sajian bernama katsu donburi ala Gokudera sudah siap di meja makan. Sepertinya masakan Gokudera cukup untuk membuat Tsunayoshi berekspresi lebih nyata.
"Aku.. boleh mencobanya, Gokudera-kun?", tanya Tsunayoshi sambil melihati sajian itu dengan mata berbinar.
"Tentu."
Tanpa ragu Tsunayoshi segera mengambil sumpit dan menyuapi mulutnya dengan sajian buatan Gokudera itu. Dan ekspresi Tsunayoshi semakin nyata bagi Gokudera. Tsunyaoshi tampak kagum, sepertinya.
"Gokudera-kun, ini enak!"
"Benarkah..?"
"Iya! Kau coba saja sendiri."
Gokudera yang tampak tak percaya mencobanya sendiri. Dan ia memasang ekspresi sama seperti Tsunayoshi tadi.
"Yah.. lumayan baik lah.."
Dan tanpa sadar mereka juga sedang melakukan ritual makan malam, karena sudah masuk jam makan malam. Setelah menghabiskan santapannya, mereka sempat berbincang-bincang di meja makan. Sampai sesuatu mengalihkan perhatian Gokudera.
"Tsuna, itu di pipimu.."
"Eh? Ada apa?"
Gokudera segera mendekatkan wajahnya ke wajah Tsunayoshi. Lalu Gokudera menjilat sisa makanan yang menempel di pipi Tsunayoshi. Tsunayoshi tak bisa menyembunyikan wajah meronanya.
"Aku tidak tau kenapa bisa sampai ke pipi begitu..", Gokudera tertawa kecil di akhir kata.
"Gokudera-kun.. jangan begitu..", sepertinya Tsunayoshi sangat malu.
Pukul tujuh malam, Tsunayoshi memutuskan untuk pulang. Takut kakaknya akan marah-marah karena ia pulang malam. Tak lupa Gokudera mengantar Tsunayoshi pulang. Sebagai tanggung jawab karena ia yang mengajak Tusnayoshi untuk berkunjung ke rumahnya.
Di kediaman Sawada,
"Tadaima..", ucap Tsunayoshi sambil memasuki rumahnya.
"Okaeri, Tsuna!"
Tsunayoshi agak terkejut mendengar kakaknya menjawab begitu semangat. Ia segera pergi ke ruang tengah, merasa bahwa sumber suara Dino berasal dari sana.
"Tsuna! Kita kedatangan tamu hari ini!", ucap Dino saat melihat Tsunayoshi sudah berdiri di ambang pintu menuju ruang tengah.
Tsunayoshi hanya terdiam. Tenggorokannya kering seketika. Ia tak habis pikir kakaknya sudah berani membawa pacarnya ke rumah.
"O-oh.. Hibari-kun.. selamat datang. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri.", ucap Tsunayoshi yang di detik berikutnya ia segera pergi ke kamarnya.
Sepasang mata itu tampak curiga dengan kelakuan Tsunayoshi.
Sampai di kamar, Tsunayoshi segera menutup pintunya rapat-rapat. Ia segera menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Oh ayolah, apa yang akan kakaknya lakukan dengan membawa pacarnya ke rumah? Itu sangat-sangat membuat Tsunayoshi curiga. Jangan-jangan mereka akan melakukan sesuatu yang tidak senonoh? Tidak, Tsunayoshi segera menampar pikiran gilanya. Namun rasa cemasnya tak reda sepersen pun.
Cukup lama Tsunayoshi membaringkan tubuhnya. Sampai ia baru sadar bahwa ia belum mandi. Akhirnya ia beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Setelah mandi, ia makan malam, lalu ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
.
.
.
Pukul dua belas malam, Tsunayoshi terbangun dari mimpi indahnya. Ah bukan, mimpinya memang indah, tapi tiba-tiba berubah kelam dan membuatnya terbangun. Ia mendengar suara-suara aneh. Ia cukup merinding mendengar suara-suara itu. Ia berjalan perlahan kea rah pintu. Ia menguping. Suara itu seperti suara.. desahan? Siapa yang mendesah malam-malam begini? Apa itu suara tetangga? Mana mungkin suaranya sampai ke kamarnya. Tsunayoshi langsung tersadar, ia ingat bahwa kakaknya mengajak pacarnya. Jangan-jangan mereka..
Tsunayoshi langsung kembali berbaring di ranjangnya. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Keringat dingin mulai berkucuran. Beban pikiran menumpuk di kepalanya dengan bertubi-tubi. Jalan pikirannya tak lurus. Paru-parunya kembali tidak berfungsi seperti yang seharusnya. Perlahan tapi pasti, nafas Tsunayoshi mulai tersengal. Tsunayoshi mulai kewalahan dengan dirinya sendiri. Ia tak tahu harus bagaimana.
Tak jarang Tsunayoshi terbatuk-batuk karena tak nyaman. Menimbulkan suara berisik tersendiri. Tsunayoshi hanya menariki bajunya di bagian dada. Ia tak tahan lagi. Ia butuh udara.
Tiba-tiba seseorang terbangun dari tidurnya karena mendengar suara orang batuk. Saat ia terbangun, suaranya bukan dari orang yang ada di sampingnya, entah ada di mana. Karena penasaran, ia segera berjalan keluar kamar untuk mencari tahu.
Setelah berhasil keluar, ia melihat ada pintu kamar lain. Dengan penasarannya ia menguping. Akhirnya ia menemukan sumber suara batuk tersebut ditambah dengan suara orang sesak nafas. Dengan agak panik ia membuka pintu itu yang untungnya tak terkunci. Sampai di dalam,
"Tsunayoshi..!"
Ia melihat Tsunayoshi dalam keadaan tidak baik. Seluruh tubuhnya berkeringat. Tsunayoshi tersiksa tak bisa bernafas. Ia segera menghampiri Tsunayoshi dan duduk di tepi ranjang, di mana Tsunayoshi terbaring.
"Hi-Hibari… kun…", Tsunayoshi berusaha memanggil nama orang yang menghampirinya tersebut.
"Kau kenapa, Tsunayoshi? Bernafaslah."
Hibari cukup bingung apa yang harus dilakukannya. Tsunayoshi semakin lemas. Ia hampir kehilangan kesadarannya.
"Tetap bersamaku, Tsunayoshi. Jangan pejamkan matamu!", Hibari segera keluar kamar.
Ia kembali ke kamar Dino dan membangunkannya dengan cara yang tak pelan. Dino bangun dengan terkejutnya.
"Adikmu.. asmanya kumat lagi. Panggil ambulance!"
Hibari langsung meninggalkan Dino dan kembali ke kamar Tsunayoshi. Dino sempat terdiam karena kesadarannya belum pulih. Lalu di detik berikutnya, dengan panik Dino mencari-cari ponselnya untuk melakukan emergency call.
"Tsunayoshi..", Hibari menggenggam erat kedua tangan Tsunayoshi.
"Hibari… kun.. aku.. tidak bisa.. nafas…"
.
.
.
To be continued.
Akhirnya update juga!
Gyaaa! Tsuna tidak akan mati! Tenang saja! Aku ga akan setega itu!
Terima kasih untuk yang memfollow ceritanya. Kalau membekas banget di fav juga ga masalah kok.
Jangan lupa review setelah membaca ;)
Maaf jika masih ada yang kurang bagi readers, saya sudah berusaha agar ceritanya sempurna di mata kalian.
Arigatoy gozaimashita!
Sampai bertemu di chapter berikutnya
Ja~
