Daily Lives of High School Boys

A Naruto Fanfiction

All Character of Naruto © Masashi Kishimoto-Senpai

Danshi Koukousei no Nichijou © Yamauchi Yasunobu

Original Story © Vanille Yacchan

Warning : OOC, AU, TYPO(S), DLDR, HUMOR GARINGNESS

Rated T

.

.

.

[#4 Cowok-Cowok SMA dan Realistis atau Fiktif?]

"Pengumuman nomor 17896 garis miring OSIS perihal Festival Kebudayaan—

HIHIHIHIHIHAHAHAHAHA...

"—dengan hormat, dengan diselenggarakannya festival kebudayaan di SMA Konoha Timur, saya selaku dewan perwakilan murid dengan berbangga hati mengundang seluruh siswa SMA Konoha Privat—"

GYAHAHAHAHAHAHA...

Twich...

Twich...

"APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN HAAAH?"

Krik

Krik

Dua cowok ababil yang masih setia cekikikan bak nenek lampir dipojokan ruangan osis menulikan—atau beneran tuli—dari teriakan menggema sang kaicho yang berdiri disamping meja singgasananya, wajahnya murka, bola matanya yang menatap nyalang kearah kedua anak buahnya bagaikan mata pisau manusia psycho yang siap mengkuliti korbannya hidup-hidup.

Bahkan kabarnya ia dapat melahap ratusan manusia dengan sekali teguk—sangat mengerikan sekali readers-san sekalian. Jika kalian menebak apa yang akan dilakukan sang kaicho pada anak buahnya adalah menghajarnya kemudian merebus duo makhluk silver itu sampai matang dan diberikan kepada primata-gembel-kurus-kering yang kelaparan mungkin ada benarnya. Tetapi sayangnya, karena fanfiction ini tidak diperuntukkan di jalur kekerasan maka itu tidak akan mugkin terealisasi.

Merasa tak ada respon dari kedua tersangka yang menurut cowok pemegang abadi ketua OSIS tiga kali berturut-turut itu mengganggu hak ketentramannya saat membacakan sebuah pengumuman. Sang kaicho dengan wajah piercingannya yang dianggapnya maha keren tak tertandingi—kecuali diperuntukkan si cowok berhati dingin Uchiha Sasuke. Ia melangkahkan kakinya kearah duo perusuh yang dari tadi sibuk cekikikan bak toa mesjid.

Alisnya bertautan ketika bola matanya menangkap sesuatu berwarna norak—penuh warna yang menurutnya menusuk mata, bikin katarak dan hal-hal yang membuat matanya bereaksi tak baik—yang sekarang sedang dipegang masing-masing kedua makhluk berkacamata dan makhluk kappa dihadapannya.

Benda itu dipenuhi dengan gambar cewek-cewek SMP plus gradasi warna rambut mereka yang ngejreng. Tak salah lagi, kaicho yang memiliki kecerdasan setara dengan Alberto Einsteino dari Germano itu menduga bahwa penyebab mereka tak mau fokus mendengarkan pengumumannya yang bisa dibilang tak akan mungkin lamanya melebihi perang dunia itu adalah buku yang sedang mereka baca saat ini. Dan hal yang terburuk buku itu adalah sebuah—

MANGA.

Ia benci MANGA.

Ia sama sekali tak suka MANGA.

Berniat memiliki satu pun tak pernah terbayangkan dalam pikiran terdangkalnya.

Apalagi cerita di dalamnya yang overdosis, dibumbui dengan khayalan yang tak akan mungkin ada di dunia realistis ini. Manusia punya ekor lah, manusia memiliki kekuatan sihir lah, binatang bisa bicara lah, mimpi saja sana.

Well—Jika ada seseorang yang membela dengan mengatakan 'itu hanya sebuah fiksi belaka, jadi wajar-wajar saja' nenek ompong ngemut topeng Tobi pun juga tahu, apalagi kaicho satu ini juga tidak sebegitu bodohnya dan tak akan mau repot-repot menjadi pedemo untuk memberantas peredaran manga dan anime di pasaran. Hell, jika itu memang terjadi bisa-bisa ia menjadi sasak tinju ras otaku diseluruh dunia.

Memang kaicho yang bisa dibilang punya hidup simpel satu ini mencintai hidupnya yang realistis. Dalam kamus hidupnya, yang namanya bermimpi terlalu jauh itu akan menimbulkan kegilaan di usia dini dan berakhir pada pensiunnya ke eksistensiannya di bumi yang penuh dengan umat-umat galauers yang membludak tiada henti, bahkan cowok bersurai orange itu tak berani memiliki obsesi yang tak bisa dicapai di depan mata. Cukup hidup nyaman, punya uang banyak, memiliki istri yang berdada besar dan dikaruniai dengan dua puluh orang anak. Kemudian menikah lagi—jika diperbolehkan. Itu adalah cita-cita masa kecilnya.

"EHEM"

Reflek kedua anak buahnya yang sama-sama memiliki surai berwarna silver itu mengalihkan atensi kearah kaicho mereka yang sebenarnya sudah menahan hasratnya ingin merobek-robek dan menjejalkan sobekan-sobekan manga itu kedalam mulut duo makhluk kacamata-kappa itu.

"PAIN-KAICHO!"

"PAIN KAICHO-SAMA!"

Serentak duo makhluk silver itu berdiri dan berojigi menghormati sang kaicho.

"Pain kaicho-sama, kami sudah menunggu lama. Katanya ada pengumuman. Pengumuman apa memangnya?" Salah satu anak buahnya yang berkacamata dan terkenal akan pengetahuannya dibidang perotakuan mengungkapkan rasa penasarannya.

'KURRRAAAAAAAANGGGG UUUUJAAAAAAAAARRRR! Kussoooooo! Mereka tak menyadari kehadiran ku?' Sanubari kaicho—yang sering dipanggil Pain— itu berteriak histeris. Ia selalu sabar menghadapi kedua anak buahnya yang bodohnya bagai teori paradoksnya robot masa depan yang tak sengaja pernah Pain tonton ketika berumur sepuluh tahun, dan tentu saja berakhir dengan hilangnya nyawa sang benda elektronik yang malang itu. Tapi karena ini menyangkut dengan daftar peringkat satu benda yang paling ia benci, maka cukup sudah, pertahanan yang dibangun setebal baja itu pun mampu ditembus dengan secuil rambut Naruto bak durian.

"APA-APAAN KALIAN? BEBERAPA MENIT YANG LALU AKU SUDAH BERUSAHA MEMBACAKAN PENGUMUMAN ITU. TETAPI KALIAN!" Jari telunjuknya bergantian terancung kearah duo makhluk silver itu. "SUIGETSU!" Cowok yang merasa namanya disebut melotot dan megap-megap bak kappa kehabisan air. "KABUTO!" Sedangkan cowok yang satunya merespon dengan wajah takut-takutnya. "APA YANG KALIAN LAKUKAN? KALIAN MALAH SIBUK MEMBACA BENDA YANG TAK AKAN PERNAH SEUMUR HIDUPKU SUDI MENYENTUHNYA BAHKAN MEMBACANYA!"

Sebenarnya bukan tipikal Pain yang suka seenaknya melampiaskan rasa amarahnya kepada anak buahnya, baginya hal itu membuang energi masa mudanya. Tapi apa daya emosi ini membuatnya tak bisa berpikiran jernih lagi. Salahkan lah benda terkutuk itu. Jika perlu ia tak akan segan mencanangkan setiap siswa di sekolah ini diharamkan membawa manga. Sebegitu bencinya kah kau Pain terhadap benda tak berdosa itu?

Bola matanya menatap bergantian kedua makhluk silver itu. Mereka berdua sama-sama ternganga dan menatap sang kaicho dengan tatapan apa-kau-serius-?

"Oii! Kali—"

"SUGOOOIIIII!" Potong kedua makhluk bersurai silver itu mengungkapkan rasa senangnya dengan wajah berseri-seri.

"Ternyata Pain-kaicho bisa marah!" Seru Suigetsu nyaring.

Dan hal ini menimbulkan garis perempatan di jidad sang Kaicho yang kini masih berusaha menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan. "HAL INI BUKAN UNTUK DIBANGGAKAN TAHU!"

"Oh, begitu." Jawab Suigetsu sekenanya.

Pain menggeretakan giginya, ujung bibirnya berkedut. Tahan... tahan... tahan. Setelah perdebatan batin yang dialami Pain, ia mengisi paru-parunya dengan udara disekitarnya, lalu menghembuskannya dengan pelan. "Sudahlah!" Ucapnya, memutar tubuhnya dan kembali melangkahkan kakinya ke arah tempat duduk singgasananya.

"Eeeto... tadi Pain kaichou-sama menyebutkan MEMBACA BENDA YANG TAK AKAN PERNAH SEUMUR HIDUPKU SUDI MENYENTUHNYA BAHKAN MEMBACANYA? Apa artinya Pain kaichou-sama membenci ini?" Tanya Kabuto seraya menunjuk manganya yang tergeletak tak berdaya diatas meja.

"Benarkah itu Pain-kaichou?" Tambah Suigetsu meyakinkan.

Pain membeku, rahangnya mengeras. Tidak lagi, pikirnya. Dulu Kabuto—si kacamata sialan yang otaknya di penuhi dengan karakter dua dimensi—juga pernah menyarankannya untuk menghilangkan rasa bosan, lebih baik baca saja manga bergenre komedi. Tetapi jangan harap Pain dengan mudahnya akan tergugah dengan saran yang old fashioned, tak bermutu, dan hanya membuang waktu berharganya demi membaca sebuah buku bergambar yang dinamakan komik itu. No no! Maka kau akan bernasib sama seperti Kabuto yang berakhir dengan wajah yang di penuhi maha karya gratis dari sang kaicho. Bahkan sepulang sekolah saking kagetnya, kakeknya—si tua bangka Orochimaru nan macho [mantan chopet]—yang kabarnya doyan benda-benda yang kyut itu menambah deretan maha karya dari sang kaicho di wajah tak berbentuk cucunya. Hingga akhirnya Kabuto dikabarkan tidak masuk sekolah selama dua minggu. Poor him.

"Bagaimana kalau sesekali Pain kaichou-sama coba membacanya, mungkin akan menyukainya." Saran Kabuto seraya merogoh-rogoh sesuatu di dalam tas berwarna dark bluenya.

'Dalam mimpimu kacamata sialan, heh~ aku tak akan sudi.'

Karena merasa tak ada penolakan, Kabuto memantapkan hatinya untuk menggaet targetnya—yang paling sulit ditaklukan baginya—sekali lagi. Ia tak peduli, wajahnya akan seperti apa bentuknya nanti. Sekedar informasi saja, tidak hanya seorang otaku, Kabuto juga ingin menjadi seseorang yang berpengaruh besar terhadap kelangsungan perkembangan otaku disekolahnya. Ia ingin memiliki club otaku di sekolahnya, itu artinya ia akan mempengaruhi semua siswa-siswa di SMA Konoha Privat. Sebelum rencananya berjalan, agar lebih baiknya pengaruhi saja dulu orang tertinggi atau wakil siswa disekolah ini. Nice idea Kabuto wink... wink...

BRAAK...

Suara selusin manga dijatuhkan diatas meja kayu berpernis. Suigetsu yang melihat dari kejauhan tak henti-hentinya mengucapkan kata 'sugoi' beberapa kali. Sedangkan Pain yang tampak tak rela meja sucinya dikotori benda biadab itu meringis jijik layaknya melihat sensei PE makhluk-hijau-Guy memakai bikini.

"Kenapa benda-benda ini ada disini? Cepat singkirkan!" Perintah Pain. Semua warga SMA privat ini tahu bahwa setiap perintah ketua osis itu mutlak, ya~walaupun kadang perintah Pain terdengar konyol.

Karena ini satu-satunya cara untuk meraih impian terbesar Kabuto, ya~ sesekali bolehlah menentang perintah kaicho. Walaupun dalam relung hatinya sangat menyesali hal itu. 'Tapi ini demi mimpiku, gomenasai Pain kaicho-sama.' Pikir Kabuto mantap.

Merasa heran tak sesenti pun bergerak dan membuang benda-benda bernuansa norak yang membutakan visualisasi—bagi Pain. Kedua alis Pain bertautan. Apa-apaan ini? Berani-beraninya anak buahnya sendiri menentang perintahnya. Sebelum sebutir kata terlontar dari bibirnya, Kabuto sudah mendahuluinya.

"Bacalah Pain kaicho-sama, onegai!" Salah satu manga yang berserakan diatas mejanya diangsurkan kehadapan wajah Pain yang terkaget-kaget. "A-angel Beats?" Pain melafalkan seraya terbata-bata, sedangkan Kabuto hanya nyengir seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana menurutmu, Pain kaicho-sama?"

Membuang muka, Pain mendengus. "Aku tak suka, terlalu imut untukku. Walaupun di cover itu karakter wanitanya memegang pistol, heh~ tetap saja aku tak akan pernah suka."

"O.K! Eeetoo..." Pandangan Kabuto menyapu tiap-tiap manga yang berserakan diatas meja Pain, seraya berpikir memilih-milih manga yang akan merebut hati kaicho yang dingin terhadap hal-hal yang fiktif, ia tetap akan berusaha.

"Bagaimana dengan ini?" Sekali lagi Kabuto mengangsurkan sebuah manga kehadapan wajah Pain. "Ku-kuroshitsuji?" Satu alis Pain terangkat, ia bergantian menatap manga yang covernya menampilkan cowok bak butler dengan seringaian sok kerennya—menurut Pain [Gomenasai Sebaschaaan] kemudian menatap Kabuto dengan tatapan kau-serius-? "Tetap tidak akan kubaca."

Mengehela nafas, Kabuto kembali memilih-milih. Mulai dari manga yang covernya mempertontonkan kemolekan tubuh salah satu karakternya, kemudian manga yang covernya abstrak, sederhana, dan berdarah-darah. Tetap saja tekad Pain masih sekuat baja, ia akan mengatakan 'tetap tidak akan kubaca'.

Sama halnya seperti Pain, Kabuto tak kehabisan akal. Salah satu pilihan manga ini adalah kartu AS terakhirnya. Apabila Pain kalah, maka impiannya yang terpendam sedari dulu akan terbentang luas. 'Mati kau ketua pervert, manga terakhir ini adalah manga yang paling spektakuler sepanjang masa.' Batin Kabuto seraya menyeringai.

Kabuto memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya kembali ke arah tempat duduknya semula, mengambil tasnya dan merogoh satu-satunya manga yang tertinggal. Suigetsu yang sedari tadi sibuk memperhatikan bacaannya menatap ke arah Kabuto yang tiba-tiba disampingnya memasang tampang serius. Suigetsu berasumsi bahwa Kabuto kalah telak lagi melawan kaicho, hal itu sudah biasa. Maka dengan asumsi yang sudah di simpulkan di dalam otaknya, Suigetsu kembali menekuni kesibukan awalnya. Merasa dunia ini miliknya sendiri, tak tahu menahu soal Kabuto yang kini sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya dan rasa kekinya.

"Hm~ Pain kaichou-sama bagaimana dengan manga terakhir yang akan aku tunjukkan kali ini, pasti kau akan jatuh cinta layaknya hidupmu yang realistis itu." Ucap Kabuto penuh percaya diri. Manga yang ia anggap spektakuler itu disembunyikan dibelakang punggungnya.

"Ya~ ya~ silahkan saja." Jawab Pain cuek seraya menumpu wajahnya dengan satu tangannya.

Tanpa perlu menunggu Choji menjadi model catwalk bertubuh langsing nan seksi, Kabuto tak segan-segan mempertontonkan senyuman lebarnya ketika mengangsurkan sebuah manga dengan cover makhluk amfibi berwarna hijau. Kedua bola mata Pain berkedip. Matanya berusaha untuk mencerna tulisan yang tertera di cover manga itu. "Keroro Gunso?" Bibirnya menganga, tak percaya. Inikah yang Kabuto sebut manga spektakuler yang ia ucapkan? Jangan membuatnya tertawa sampai mati, karena—

.

.

Tunggu dulu...

.

.

"ACCCKKKK...!"

"KYAAAAAAA!"

Sebelum kalian mengetahui apa gerangan yang terjadi sebenarnya, maka kalian wajib mengetahui sebuah fakta yang sedari dulu menjadi aib kaicho satu ini. Ketika kedua orang tuanya telah meninggalkan dirinya yang berumur lima tahun, Jiraiya yang notabene juga sebagai kepala sekolah di SMA Konoha Privat yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Pain memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga tumbuh kembangnya Pain hingga beranjak dewasa.

Dan pada saat itu mulailah tragedi horor sepanjang masa bagi Pain. Jiraiya yang baginya abnormal itu, selalu saja dan kapan pun membelikannya semua perlengkapan dengan karakter dua dimensi makhluk amfibi berwarna hijau yang sangatsangatsangat ia cintai itu. Pada awalnya ia tak merasa terganggu dengan hobi abnormal pamannya.

Puncaknya pada saat ia berumur sembilan tahun, Jiraiya diam-diam memasukkan sebuah pakaian renang ketat berwarna hijau lengkap dengan topi renang berbentuk rupa makhluk amfibi tersebut. Cukup sudah, ia mulai menyadari jika hobi abnormal pamannya itu tak di hentikan sekarang juga maka akan mengakibatkan terguncangnya kondisi kejiwaannya. Dengan berat hati ia rela memakai pakaian terkutuk-laknat itu ketika kelas renang di mulai.

Hal pertama yang ia lihat, semua temannya diam membeku ketika di suguhkan dengan pemandangan oh-alien-kodok-menginvasi-kolam-renang-kami, tak lama kemudian suara tawa membahana menembus indera pendengarannya. Ia tahu kejadian ini akan terjadi, ia sangatsangatsangat tahu. Maka di hari itu, di hadapan pakaian renang yang sudah tak bernyawa—tanpa sepengetahuan Jiraiya—ia bersumpah akan membenci semua makhluk dua dimensi terutama karakter amfibi yang selalu di cintai pamannya itu, bahkan tak tanggung-tanggung kebenciannya juga menyebar pada sebuah buku yang memuat makhluk dua dimensi yang disebut manga—bagi Pain dapat membuat otak sarafmu putus dan menjadikanmu sinting karenanya.

"KAU TAHU, BAHKAN AKU SANGAT SENSITIF JIKA MENGENAI TENTANG MAKHLUK ITU!"

Pain beranjak dari singgasananya, dengan wajah tak berdosa ia meninggalkan kedua makhluk silver itu di ruangan osis. Suigetsu yang pada mulanya berteriak bak banshee karena disuguhkan pemandangan kekerasan antara ketua-anak buah itu kini menatap pemandangan di hadapannya dengan takut-takut. Mengerikan, pikirnya.

Ia menggelengkan kepalanya, tersadar akan sesuatu. Tanpa pikir panjang Suigetsu melenggos pergi meninggalkan ruangan osis. 'Jangan mati sebelum aku kembali, Kabuto.'

SREEK

"OIIIIII! Kaichou!" Seorang pemuda dengan surai merah bata menyembulkan kepalanya diantara pintu geser, atensinya menyapu seluruh ruangan guna mendeteksi batang hidung kaicho bersurai orange. Tiba-tiba matanya melebar, secara spontan ia berteriak kaget.

"AAAAAHHHH!"

Reflek kedua pemuda yang berada di samping pemuda bersurai merah bata itu ikut mendekat.

"Ada apa Sasori?" Tanya salah satu pemuda dengan pakaian yang tak normal, kupluk dan kaca mata hitam. Tak ada tanda-tanda Sasori merespon pertanyaannya, maka si pemuda berkupluk itu berinisiatif memasuki ruangan osis yang nampaknya terjadi insiden mengerikan.

Kedua alis pemuda berkupluk itu tertarik keatas, matanya sedikit melebar ketika atensinya mengarah pada seseorang yang ia kenal. Kabuto, pikirnya. Jasadnya tergeletak hampir tak bernyawa di lantai. Sungguh mengerikan, teriak innernya histeris. Siapa yang berani-beraninya bertindak asusila di luar batas seperti ini? Dan yang lebih buruknya lagi, si pelaku melakukannya di ruangan osis! Tak bisa dibiarkan! Seru innernya. Jujur saja ia sangat menyayangi anak buahnya satu ini, karena Kabuto selalu 24 jam siap sedia melayaninya dan Pain.

"Cepat bawa dia ke UKS!" Perintah pemuda berkupluk itu seraya memperbaiki letak kacamata hitamnya.

"Ha'iii! Shino-fuku kaicho!" Sasori dan pemuda beriris amethyst—Neji—tanpa berpikir dua kali mereka menyeret tubuh malang Kabuto ke luar ruangan osis. Oh! Malangnya nasibmu Kabuto!

Setelah kepergian dua sosok makhluk merah dan brunette, Shino yang memiliki jabatan sebagai fuku kaicho dan pernah memiliki ambisi sebagai detektif amatiran itu mencoba menerka-nerka motif si pelaku yang bertindak asusila pada anak buahnya. Apakah karena iri? Iri? Kelebihan apa yang dimiliki Kabuto? Di otaknya hanya ada dipenuhi dengan karakter dua dimensi, tampangnya pun biasa-biasa saja, pikir Shino. Ia menggelengkan kepalanya, ragu akan asumsi yang telah ia simpulkan. Ketika atensinya menangkap sebuah barang yang notabene terlarang jika berada di ruangan osis. Bola matanya yang tertutupi kaca mata hitam itu seketika melotot. Tak salah lagi, benda itulah penyebab insiden berdarah itu.

Pemuda yang memiliki fetish terhadap serangga itu mendengus, berbalik menuju pintu geser.

SRAAAK

'DASAR KABUTO BODOH! Bikin repot saja!' Raung inner Shino agak menyesali ketika ia berpikiran Kabuto anak buah yang satu-satunya dapat ia banggakan. Tapi nyatanya asumsi pemuda bermarga Aburame itu SALAH TOTAL, bukan?

.

.

.

.

Owari!

*Jdeeeerrrr* AAAAAAAAA! *Teriak 5 oktaf* saya tidak menyangka akan melanjutkan fic ini. Saya gak tahu di chapter ini garingnya meningkat atau YANG LEBIH BURUKNYA alur ceritanya ANEH BANGET atau JELEK BANGET, hahahahahaha~ jujur saja di chapter ini agak sedikit panjang, biasanya sih saya ngetik fic ini sampai 5 halaman, tapi ini 8 halaman lohhh *gakpentingbangetsih* saya juga bingung sebenernya warna rambut Suigetsu itu apa yah? Jadi ya~ saya simpulkan aja sama kayak Kabuto...

Sebenernya sih saya agak ragu ama bahasa jepangnya wakil ketua? Fuku kaicho kah? Jika readers-san ada yang ngerti bahasa Jepang, tolong di koreksi yak!

Yap! Saya gak tahu lagi mau ngetik bacotan apaan, yang jelas saya berterima kasih banget ama readers-san yang udah mau ngeluangin waktu berharganya buat baca fiction ini, buat yang ngereview juga, buat silent readers juga hohohohohoho~ ARIGATOUUUU GOZAIMASUUUU! Akhir kata REVIEW PLEASEEE!