A/N: Akhirnya update lagi.

Gomen kalau ada kesalahan dalam fic ini. Aku tidak mungkin luput dari kesalahan juga...^^

Terima kasih buat yang review selama ini.

Disclamer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso

Warning: AU, OOC, Shou-ai, Typo, sedikit fanservice


Be My Sacrifise


Hari dimulai lagi seperti biasanya dan Ciel juga masuk ke universitasnya. Langkah kakinya kembali membawanya menuju kelasnya dan disana teman-temannya langsung menyapanya.

"Pagi, Ciel..." sapa teman-teman yang lain.

"Pagi..." balas Ciel.

Tidak lama kemudian Sebastian datang. Semua murid langsung menyapa Sebastian.

"Pagi, Mister Michaelis." sapa murid-murid, kecuali Ciel.

"Pagi." balas Sebastian.

Hari ini adalah hari bebas, Sebastian menyuruh mereka mau berlatih atau tidak. Dan sebagian besar anak-anak tidak berlatih, terutama anak-anak band. Setelah merayakan suksesnya pertunjukkan musik mereka, mereka hanya berlatih sebentar.

"Lucia, Ciel. Kita latihan yuk." ajak Ann.

"Baiklah..." jawab Lucia dan Ciel. Lalu mereka bertiga segera menuju ruang latihan khusus. Sebastian memperhatikan sosok Ciel yang berlalu dengan Ann dan Lucia sambil sesekali tersenyum kecil.

Karen memperhatikan Sebastian yang sedang memperhatikan Ciel, entah kenapa Karen tersenyum sendiri. Dan dia langsung menarik Andrew juga Ryan ke ruangan khusus mereka.

"Ayo kita latihan!" seru Karen bersemangat sambil menarik lengan Andrew dan Ryan. Harry dan James juga mengikuti mereka bertiga.

"Wah...Mereka semua latihan ya?" gumam Sherly.

"Kalau begitu kita juga." ajak Merin sambil menarik lengan Sherly ke ruangan khusus.

Dan semua murid-murid berlatih. Sebastian hanya mengawasi mereka di depan masing-masing ruangan. Tapi tentu pandangan matanya menuju ke arah Ciel. Matanya tidak bisa lepas dari sosok pemuda yang menarik perhatiannya itu.

Wajah Sebastian menunjukkan kesenangan tersendiri. Tampaknya dia memiliki rencana untuk memiliki Ciel.

'Mungkin bisa kucoba nanti.' batin Sebastian.


Hari telah sore, tampaknya senja tidak segan muncul sebentar untuk memperlihatkan pesonanya di langit. Murid-murid jurusan musik itu rata-rata sudah pulang menuju rumah masing-masing, kecuali Ciel. Iya, dia anak yang sangat rajin berlatih.

Ciel masih berada di ruangan itu untuk berlatih piano, tampaknya kali ini pilihannya jatuh pada lagu Fur Elise karya Beethoven. Jari-jari Ciel memainkan tuts piano dengan indahnya. Alunan lagu itu juga terdengah begitu indah.

Mendengar suara piano, Sebastian segera masuk ke ruangan itu dan melihat sosok Ciel yang sedang serius memainkan piano. Wajahnya terlihat sangat serius, Sebastian hanya tersenyum saja. Dia segera mendekat ke arah Ciel.

"Aku tahu kau datang." ujar Ciel yang menghentikan permainan pianonya.

"Kenapa kau berhenti?" tanya Sebastian.

"Aku tidak bisa konsentrasi kalau ada kau." ujar Ciel yang langsung mengalihkan pandangan matanya pada langit senja di luar sana. Sebastian sudah berada di hadapan Ciel, dia segera menyentuh dagu Ciel dan wajah mereka berdua saling bertatapan.

"Kenapa kau tidak pernah mau melihatku?" tanya Sebastian.

"Bu...bukannya begitu..." gumam Ciel dengan wajah yang mulai memerah. Tingkah Sebastian yang suka menggodanya cukup membuat Ciel salah tingkah.

"Dari tadi kau tidak menatapku, Ciel. Kumohon, bisakah hari ini?"

Ciel hanya mengangguk pelan saja dan Sebastian langsung mendekatkan wajahnya pada Ciel dan mencium bibir merahnya. Kedua bibir itu saling bertautan dan membagi kehangatan di tengah dinginnya musim dingin kali ini. Yang mereka berdua rasakan hanyalah kehangatan masing-masing. Sebastian menjilat bibir bawah Ciel, meminta izin untuk masuk ke dalam rongga mulutnya.

Ciel membuka sedikit mulutnya dan Sebastian langsung memanfaatkan kesempatan itu. Sebastian segera memasukkan lidahnya di dalam rongga mulut Ciel. Mengajak lidah Ciel bertarung dengannya.

Tapi Sebastian ingin merasakan lebih dari Ciel. Segera Sebastian melepaskan ciumannya dan beralih pada leher putih milik Ciel. Sebastian segera menjilat leher putih itu dan mulai menggigit kecil sehingga muncul tanda kemerahan di leher Ciel.

Ciel hanya mendesah tertahan saja, dia tidak tahu apa yang dia rasakan ini. Rasanya nikmat tapi Ciel sadar, dia ingin menolaknya. Sebastian kembali mendekatkan wajahnya pada leher Ciel, tapi bukan untuk meninggalkan kissmark, kali ini niat Sebastian berbeda. Dia ingin mencicipi Ciel, dia ingin merasakan manisnya darah Ciel.

Sebastian mengeluarkan taringnya dan siap untuk menghisap darah Ciel. Tapi kali ini Ciel mendorong Sebastian cukup kuat hingga Sebastian terdorong sedikit jauh dari Ciel. Sebastian langsung mengembalikan taringnya. Dan hanya menatap Ciel.

"Kenapa?" tanya Sebastian.

"A...aku..." gumam Ciel. Sekarang wajahnya benar-benar memerah. Ciel merasa badannya panas karena tingkah Sebastian tadi. Sebastian langsung mendekati Ciel dan mengecup pelan dahinya.

"Baiklah. Aku tidak akan seperti itu lagi."

Ciel hanya mengangguk pelan saja. Sebastian hampir saja bisa merasakan manisnya Ciel, tapi niatnya kali ini tertunda karena Ciel tidak mau. Iya, Ciel tidak tahu apa yang sebenarnya Sebastian inginkan.

"Aku mau pulang." ujar Ciel tiba-tiba dan berjalan meninggalkan Sebastian di ruangan itu sendiri.

Sebastian menatap kepergian Ciel dalam diam, sesekali dia menyeringai. Dan menjilat bibirnya sendiri.

"Sebaiknya kutunggu hingga rasanya benar-benar manis." gumam Sebastian.

.

.

.

Ciel berjalan pulang dengan gelisah, dia tidak tahu apa yang Sebastian lakukan pada dirinya. Ingatan Ciel tentang kejadian tadi langsung terbayang di benaknya, wajahnya langsung saja memerah.

"Duh...Apa yang kupikirkan?" gumam Ciel malu.

Ciel segera melangkahkan kakinya menuju rumahnya, dia ingin beristirahat hari ini. Sungguh capek karena latihan dan tingkah Sebastian yang membuatnya heran itu.

.

.

.

Sebastian telah sampai di apartemennya. Dia segera merebahkan dirinya di sofa miliknya. Matanya menerawang ke sekeliling ruangannya dan dia segera menuju ke dapur. Diambilnya pisau dapur miliknya dan Sebastian membuat sayatan kecil di pergelangan tangannya.

Darah mengalir dari pergelangan tangan Sebastian. Dia hanya menatap darahnya dengan wajah yang datar. Tidak menunggu waktu lama, Sebastian menghisap darahnya sendiri. Dijilatnya hingga tidak ada lagi darah yang mengalir dari pergelangan tangannya.

"Aku tidak bisa seperti ini terus." gumam Sebastian.

Setelah dirasa cukup Sebastian hanya terdiam di dapur. Tampaknya dirinya sudah benar-benar haus akan darah orang lain. Dia menginginkan Ciel, tidak darahnya. Dia ingin segera mencicipi Ciel.


Keesokan harinya dengan memantapkan perasannya Ciel segera melangkahkan kakinya menuju universitasnya. Disana baru ada Karen, Andrew, Ann dan Sherly.

"Pagi..." sapa Ciel.

"Pagi." jawab mereka berempat.

"Dimana yang lain?" tanya Ciel.

"Tampaknya semua sibuk dengan urusannya," jawab Ann. "Banyak yang tidak masuk."

"Iya. Sebenarnya aku juga ingin tidak masuk." gumam Andrew.

"Berani tidak masuk awas saja kau!" ancam Sherly.

Ciel hanya tersenyum saja melihat tingkah teman-temannya itu, dia melirik ke arah Karen yang sedang sibuk sendiri dengan ponselnya. Ciel mendekat ke arah Karen.

"Karen, kau sedang apa?" tanya Ciel.

Buru-buru Karen menyembunyikan ponselnya dan menatap Ciel sambil tersenyum, well senyum yang tampak seperti berusaha menyembunyikan sesuatu.

"Haha...Tidak ada apa-apa kok," jawab Karen sambil tertawa. "Aku hanya sedang menghubungi temanku."

"Oh begitu..."

Tidak lama datanglah Sebastian, dia melihat kelasnya yang hanya lima orang muridnya. Sebastian menghampiri Ann.

"Yang lain kemana?" tanya Sebastian.

"Entah. Mereka ada urusan, jadi tidak masuk." jawab Ann.

"Oh begitu..."

"Ah ya, Mister Michaelis. Apakah latihannya tetap jalan?" tanya Karen.

"Terserah kamu saja, saya hanya disuruh mengawasi kalian. Bukan mengatur jadwal latihan kalian." jawab Sebastian.

"Baiklah..." Karen langsung menghampiri Andrew. "Nanti tolong iringi aku bernyanyi ya? Sekali-kali ingin coba hanya diiringi gitar."

"Ok." jawab Andrew.

"Kalau begitu kita latihan bareng ya!" seru Sherly sambil menarik tangan Ann dan Ciel. Lalu mereka bertiga segera menuju ruangan khusus dan latihan.

Sebastian hanya memperhatikan murid-muridnya berlatih, tentu mereka tidak harus dipaksa berlatih karena mereka juga sudah menguasai alat musik masing-masing. Tiba-tiba saja Sebastian merasa sedikit pusing, dia hanya menyentuh keningnya yang terasa sakit itu.

'Lagi-lagi hal ini terjadi.' batin Sebastian.

Sebastian langsung meninggalkan kelas itu dan segera menuju toilet. Well, apa yang Sebastian alami adalah dia mulai merasa lemas karena sudah lama tidak menghisap darah orang lain. Meminum darah sendiri hanyalah alat pemuas sejenak.

"Ck...Aku harus bisa mendapatkannya. Bagaimanapun caranya." gumam Sebastian.

.

.

.

Begitu Sebastian kembali ke kelas semua murid berada di kelas, tidak berada di ruangan khusus masing-masing. Sherly langsung menghampiri Sebastian.

"Mister Michaelis darimana? Tadi kami cari?" tanya Sherly.

"Ada apa mencariku? Aku hanya ke toilet sebentar." ujar Sebastian.

"Iya. Kami sudah membuat kolaborasi yang baru!" seru Karen.

"Benarkah?" tanya Sebastian.

"Tentu!" jawab Ann.

Lalu Karen dan Ann bersiap-siap, sedangkan Sherly bersiap dengan biolanya begitu juga Ciel dengan piano dan Andrew dengan gitar. Mereka berlima memainkan lagu yang pernah dibawakan Karen dan teman-teman bandnya.

Lagu yang dipilih lagu yang bertema tentang kesedihan seorang gadis yang ditinggal oleh kekasihnya. Lagu ini diciptakan oleh Karen sendiri. Suara Ann dan Karen bisa bersatu dan terdengar indah, lalu iringan biola dan piano yang serasi serta iringan gitar yang sesekali mewarnai lagu itu. Lagu yang dimainkan mereka sangatlah indah.

Sebastian mendengarkan lagu yang dibawakan murid-muridnya dengan senang. Perasaannya seolah terhanyut mendengar lagu itu. Dan tidak lama lagu itu telah selesai. Sebastian memberikan tepuk tangan pada mereka.

"Wah...Kolaborasi yang sangat bagus." puji Sebastian.

"Terima kasih, Mister Michaelis." ujar kelimanya bersamaan.

"Ternyata permainan kalian jika digabungkan terdengar indah."

"Ini ide Karen," ujar Andrew. "Dia merasa bosan hanya gitar yang mengiringi. Dan ingin mencoba yang baru."

"Haha...Benar-benar." ujar Karen.

"Ide yang bagus." gumam Sebastian.

Setelah pertunjukkan itu, murid-murid berpamitan pulang pada Sebastian. Sebastian tentu memperbolehkan mereka pulang, saat Ciel akan pulang Sebastian malah menahannya.

"Ada apa?" tanya Ciel.

"Tolong temani aku." ujar Sebastian.

"Eh? Baiklah..."

Ciel duduk di samping Sebastian. Suasana langsung hening, tidak ada seorangpun yang bicara diantara mereka. Ciel juga menikmati keheningan ini. Sebastian menoleh ke arah Ciel.

"Ciel..." panggil Sebastian. Dan si empunya nama hanya menoleh ke arah Sebastian.

"Ada apa?" tanya Ciel lagi.

Tapi Sebastian tidak menjawab pertanyaan Ciel. Sebastian langsung menyentuh pipi Ciel dengan lembut. Wajah Ciel tiba-tiba saja memerah. Sebastian langsung mendekatkan wajahnya pada Ciel dan menciumnya lembut.

Lagi-lagi Sebastian kembali menciumnya, tampaknya Sebastian menyukai mencium Ciel seperti ini. Ciel ingin menolak, tapi apa daya tubuhnya sendiri tidak menolak perlakuan Sebastian.

Sebastian melepaskan ciumannya dan menatap Ciel lekat-lekat. Merah bertemu biru. Selalu seperti itu. Sebastian langsung beralih pada leher Ciel dan sekali lagi ingin mencoba apakah dia bisa menikmati darah Ciel.

"Sebastian...Jangan..." gumam Ciel.

Akhirnya Sebastian sedikit menjaga jarak dari Ciel. Dilihatnya wajah Ciel benar-benar memerah. Sebastian hanya mencium bibir Ciel sebentar dan langsung memeluknya.

"Hmm...Kalau kau tidak mau, aku tidak memaksa." ujar Sebastian.

"Kau juga melakukannya kemarin." ujar Ciel dengan wajah yang masih memerah.

"Maaf."

Hanya 'maaf' yang terdengar dan sesudah itu tidak ada yang saling berbicara lagi. Tampaknya mereka berdua menyukai keheningan.

"Aku..." gumam Ciel yang langsung berdiri membelakangi Sebastian.

"Hati-hati kalau mau pulang." ujar Sebastian.

"Baiklah."

Ciel segera berjalan meninggalkan Sebastian di kelas sendiri. Sebastian hanya menatap ke arah jendela, melihat langit senja yang tampaknya mendung.

"Hanya ada sekitar 31 jam lagi aku akan melihatnya," gumam Sebastian. Mata merahnya hanya menunjukkan kesedihan tapi ada kesakitan juga disana. Iya, dia berusaha menahan sakitnya. "Setidaknya aku ingin memiliki waktu untukmu, besok."

TBC

A/N: Huhu... Maaf kalau ceritanya aneh atau kecepatan alurnya.

Ditunggu reviewnya saja.