Chapter 4.

Warning: Lime in this chapter! Pendek, kok. Seme!Rus x Uke!Ame. Rada PWP.

Tak terasa, satu minggu berjalan dengan cepat. Sekarang sudah hari sabtu, yang berarti tak ada sekolah. Alias libur akhir minggu. Alfred tidak mengikuti yang disebut dengan MOS atau masa orientasi siswa karena entah kenapa, kakak kelas yang bertatapan dengannya mendadak mengalihkan pandangan (lebih tepatnya karena Alfred selalu kabur dengan sempurna). Sekarang Alfred sudah resmi menjadi murid di World High.

Tapi, Alfred mengalami suatu masalah. Masalah yang kerap disebut masalah yang paling bermasalah dari semua permasalahan remaja (Sampai disini author bingung sendiri).

Sejak peristiwa kecil buka baju setelah hujan, Alfred jadi merasa sedikit aneh jika berada terlalu dekat dengan Ivan. Badannya menggigil, tapi pipinya memanas. Jantungnya berdebar lebih cepat. Kepalanya pusing.

"Haching!" Alfred mengelap hidungnya. Ivan yang sedang menulis di meja belajarnya menoleh kearah Alfred yang terbaring di tempat tidur dengan tangan di atas kepala. Ivan buru-buru menghampiri Alfred. Sebagai tutor, ia juga bertanggung jawab menjaga kesehatan Alfred agar Alfred tidak harus meninggalkan kelas karena sakit.

"Kau baik-baik saja, da?" Tanya Ivan. Alfred menggeleng lemah. Kepalanya terasa sakit.

Ivan meletakkan tangannya ke dahi Alfred untuk mengukur suhu tubuh Alfred. Ia berjengit ketika dahi Alfred terasa panas. Pemuda itu mengecek keadaan Alfred dan menyadari nafas Alfred tidak seperti biasanya. Agak berat dan tersengal-sengal.

Ivan berdiri, membuka pintu dan berlari ke UKS. Ia menyambar sekotak obat dari lemari dan kembali ke kamarnya dan Alfred.

Ivan mengambil sebotol air mineral dari tasnya dan menyerahkan botol itu bersama dengan satu butir pil ke tangan Alfred. Pemuda berambut pirang keemasan menoleh bingung.

"Minum itu. Kau mau makan?" Tanya Ivan, wajahnya menampakkan ekspresi sangat peduli, sehingga Alfred, entah kenapa, merasakan dirinya sendiri tersenyum. Senang melihat perhatian Ivan kepadanya. Aneh.

"Aku mau burger, yoghurt dan kopi," Pinta Alfred. Ia menelan pil yang diberikan Ivan dan menenggak air mineral dari botol. Ivan tersenyum dari pintu kamar.

"Burger, yoghurt dan teh manis. Nggak boleh minum kopi kalau lagi sakit," Kata Ivan tegas. Teh. Alfred benci teh. Pada saat yang normal Alfred pasti protes. Tapi Alfred hanya mengangguk letih.

"Iya, iya. Terserah,"

Pintu kamar tertutup bersamaan dengan mata Alfred.

Alfred terbangun karena guncangan kecil di pundaknya. Bajunya terasa lengket oleh keringat karena jendela yang terbuka dan AC-nya mati.

"Hei. Hei. Ayo bangun." Tangan Ivan berada di pundak Alfred. Pemuda berkacamata itu berusaha sekuat tenaga untuk bangun. Baju yang ia kenakan menempel di punggungnya saking berkeringat. Alfred menoleh ke meja samping tempat tidurnya dan menemukan burger, yoghurt serta teh hangat.

Baru saja tangan Alfred hendak menjangkau burger, tangan seseorang sudah menemukan kancing kemeja putih yang ia pakai dan mulai melepasnya satu persatu.

"I-i-ivan! Apa yang kau lakukan?" Alfred ingin menepis tangan Ivan, tapi tangan pemuda berambut pucat itu masih kukuh membuka kancing kemeja Alfred sampai selesai. Tangan Ivan sudah siap untuk menarik kemeja Alfred lepas dari tubuhnya.

"Da? Aku mau mengganti bajumu. Yang ini terlalu basah," Ivan melepas kemeja Alfred dengan sempurna dan meninggalkan tubuh Alfred setengah telanjang. Alfred berusaha menutup dadanya yang cukup bidang karena malu, membuat Ivan menaikkan sebelah alis dengan heran.

"Buat apa kau tutupi dadamu?" Tanya Ivan, bingung. Mereka kan, sama-sama cowok. Untuk apa malu? Kecuali...

"A-ah? Ti-tidak apa-apa. Agak dingin disini," Alfred ngeles. Tentu saja bohong. Bohong yang terbaca dengan jelas. Ia tidak malu dilihat oleh sesama cowok. Tapi ia malu dilihat oleh Ivan.

"Masa? Kan aku sudah membuka jendelanya supaya kau hangat. Diluar panas lho," kata Ivan.

"Pokoknya dingin!" Kata Alfred keras kepala. Ivan menghela nafas. Ia meraih lap basah dari baskom kecil berisi air bersih yang tadi ia ambil dari kamar mandi.

"Nah, lepaskan tanganmu, da,"

"Untuk apa?"

"Supaya aku bisa mengelap badanmu. Sekarang, lepaskan tanganmu," Ivan setengah menarik tangan Alfred yang menutupi dadanya. Tangan Alfred masih bersikukuh menutupi dadanya.

"Biar aku sendiri!" Kata Alfred.

"Aku saja. Memang kenapa sih? Cepat lepas tanganmu! Sekarang, Alfred kirkland," Kata Ivan dengan nada mengancam. Alfred menghela nafas, setengah malu setengah kesal. Kemudian ia melepaskan tangan yang sedang menutupi dadanya. Sial, ia merasa seperti cewek dihadapan Ivan! Ia cowok! Sumpah, ia cowok! *histeris*

Ivan mulai mengusap pundak Alfred menggunakan handuk basah itu, berhati-hati agar airnya tidak tumpah ke seprai. Dari pundak, tangan Ivan dan handuknya beralih ke punggung Alfred. Sekarang Alfred merasa agak segar.

Tangan Ivan menggosok punggung Alfred dengan lembut, memijatnya pelan. Berusaha membuat Alfred merasa baikan. Alfred mengeluarkan dengkuran nyaman dan Ivan tersenyum kecil.

Setelah beberapa lama, tangan Ivan berpindah ke dada Alfred. Wajah Alfred berubah menjadi merah merona.

'Manis,' pikir Ivan, senyum masih terpatri di wajahnya. Tangannya masih mengusap dada Alfred, terkadang menggesek dua puting merah yang sensitif dan membuat Alfred memejamkan mata.

"H-hnn! Mmn.." Desah Alfred pelan dengan nada manja. Tentu saja tidak sengaja.

"Da? Kenapa Alfred?" Tanya Ivan dengan nada inosen. Tangannya menggosok dada Alfred lebih keras dengan sengaja. Membuat dua puting merah menggoda itu menonjol karena mengeras dibawah sentuhan Ivan, walaupun bukan sentuhan secara sensual. Alfred menutup mulutnya dengan tangan kanannya, berusaha menutupi suara-suara aneh yang terancam keluar dari mulutnya. Ivan, tersenyum senang melihat hal ini, menyingkirkan tangan Alfred dan mengecup tangan itu dengan bibirnya. Jarinya sudah melepas handuk basah dan kini bermain di puting Alfred dengan bebas. Memuntir dan memilin puting-puting dengan lembut itu sebelum menurunkan wajahnya ke puting kanan Alfred. Ia menjulurkan lidah untuk menjilati puting Alfred sebelum menghisap-hisap puting tersebut. Sesekali menggigit. Tangannya masih bermain di puting kiri.

"Ah! A-ah! Ah! Iva~ahn!" Erangan Alfred terdengar merdu di telinga Ivan. Tangan Alfred menggenggam rambut Ivan, seolah menyemangatinya untuk melakukan hal-hal yang lebih lanjut. Ia menempelkan tubuhnya ke tubuh pemuda pucat di atasnya.

Ivan merasakan bagian bawahnya mengeras mendengar suara Alfred. Ia buru-buru melompat dari tempat tidur untuk menutup jendela, mengunci pintu dan menyalakan AC sebelum akhirnya membuka bajunya dan baju Alfred. Hingga akhirnya kedua pemuda tersebut telanjang diatas tempat tidur Alfred.

Ivan menatap tubuh Alfred, kemudian menatap matanya yang berwarna biru cerah. Pemuda dibawahnya ini membuatnya sangat terangsang. Ivan memang merasakan ada yang berbeda pada diri Alfred sejak hari pertama mereka bertemu. Hanya saja, Ivan tak menyangka akan jadi seperti ini.

"Apa kau betul-betul ingin melakukan ini...Alfred?" Tanya Ivan ragu-ragu.

Alfred mengangguk. Matanya setengah terbuka menatap Ivan dan bibirnya merah menggoda, basah karena saliva,"Iya,"

"Apa kau betul-betul yakin? Aku tahu kau masih virgin, dan aku tak ingin-mmph."

Alfred mendiamkan ocehan Ivan dengan ciuman telak di bibirnya. Akhirnya Ivan meleleh karena cara Alfred menciumnya dengan hangat dan menjilat bibir pemuda itu, meminta jalan masuk. Sepasang warna violet tersembunyi di kelopak mata yang kini terpejam erat.

Alfred membuka mulut dengan senang hati. Segera saja, lidah Ivan bertautan dengan Alfred. Menjilat, menghisap, dan segalanya terasa nikmat bagi mereka berdua.

Ivan menghentikan ciuman itu untuk menjilati leher Alfred, membuat 'pacar' barunya menggeliat penuh cinta.

"Mmmm...I-ivan...ah! cepat..." Desah Alfred ketika Ivan menjilat putingnya, turun ke perutnya dan kini mengusap-ngusap alat vitalnya.

"Aaaaaahhmm...nnnh...enak..." Sempat-sempatnya Alfred berkomentar. Ivan tertawa kecil dan mengusap rambut Alfred dengan sayang.

"Tenang saja, dorogoy. Akan kuberikan yang lebih," Ivan memasukkan jari-jarinya ke mulut Alfred.

"Jilat," perintah Ivan, pelan tapi jelas. Segera saja, lidah Alfred berputar di sekitar jari Ivan, menghisap jari-jari itu dengan semangat. Mata birunya tak pernah lepas dari mata violet milik Ivan, menatapnya dengan seduktif. Ivan tersenyum layaknya psikopat dan menarik jarinya dari mulut Alfred.

Tangan Ivan menjelajah lebih kebawah dan menemukan 'lubang keramat' milik Alfred dan memasukkan satu persatu jarinya dengan amat perlahan. Setiap kali Alfred berjengit, ia akan berhenti dan bertanya,"Sakit? Maaf,"

Setelah jari-jari Ivan mulai bergerak dan menggesek satu titik didalam tubuh Alfred yang membuat pemuda itu setengah berteriak, barulah Ivan menarik jarinya dan memposisikan dirinya di depan lubang Alfred. Masuk, sedikit demi sedikit. Sampai dirinya sudah masuk sepenuhnya di dalam anus Alfred. Ivan berusaha sekuat tenanga untuk tidak langsung bergerak maju dan mundur didalam lubang yang ketat itu. Alfred mengeluarkan suara seperti tangisan tertahan dan Ivan berhenti dalam suasana horor. Ia melihat air mata turun dari pelupuk mata Alfred yang terpejam dan mendadak merasa sangat bersalah.

"Alfred? Kau baik-baik saja? Sakit? Maaf, dorogoy," Ivan menghapus air mata Alfred dengan lembut menggunakan tangannya dan mencium bibir Alfred. Ia tidak sengaja menggerakkan pinggulnya dan Alfred melepaskan diri dari ciuman itu.

"O-ooh," desah Alfred pelan. Ivan mulai bergerak lebih cepat,"Ah! Aah! Lebih kera-aaahn! Di-disana! Oooh!"

Ivan memegangi pinggang Alfred dan memaju mundurkan pinggulnya dengan erotis, mencari kenikmatan. Sementara Alfred hanya bisa mendesah dan mengerang.

"Mm-mmmnh...A-Alfred!"

"I-ivaaaaaan!" Jerit Alfred saat ia mencapai klimaks. Tak lama kemudian, Ivan menyusulnya. Menyiramkan cairan miliknya di lubang milik Alfred. Menandakan bahwa secara tidak resmi mereka sudah menjadi milik satu sama lain.

Kedua pemuda tersebut terdiam di atas kasur, berusaha menangkap nafas mereka yang sempat terpakai.

Alfred menatap Ivan dengan senyum di wajahnya, Ivan menatapnya kembali dengan senyum yang serupa.

"Tadi itu keren," Komentar Alfred. Ivan menyeka keringat di dahi Alfred sambil memeriksa suhu tubuhnya yang ternyata cukup normal. Hanya sedikit lebih hangat. Kemudian ia mendekati wajah pemuda itu untuk memberinya ciuman lembut di bibir.

"Da," Gumam Ivan menyetujui, matanya mulai tertutup, tangannya memeluk pinggang adik kelas merangkap pacarnya. Alfred memeluk Ivan dan menyandarkan kepalanya di dada Ivan. Ia menguap dan menutup mata sebelum tertidur lelap.

Alfred yang terbangun lebih dahulu. Ia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 2 siang dan bergerak untuk bangun dari tempat tidur. Tangan Ivan di sekeliling pinggangnya mengerat. Alfred tersenyum kecil dan mengecup pipi pemuda itu. Tangannya mengguncang pundak Ivan dengan pelan.

"Heii, ayo bangun. Ivan," Panggil pemuda bermata biru langit kepada Ivan. Sedetik kemudian, Ivan membuka matanya.

"Mmh. Selamat sore, dorogoy. Atau jam berapapun sekarang," Ivan bangkit ke posisi duduk dan menciumi pipi Alfred yang halus. Alfred tertawa melihat tingkah laku Ivan.

"Kenapa da?" Tanya Ivan bingung.

Alfred berhenti tertawa dan tersenyum. Lebar.

"Ehm..apa ini artinya..kau dan aku.." Alfred tergagap dalam menyelesaikan kalimatnya. Ivan tersenyum dan menepuk lembut kepala Alfred. Kemudian ia mengambil tangan Afred dan membawa tangan itu ke bibirnya.

"Will you be my boyfriend, Alfred?"

Wajah Alfred berubah menjadi merah padam. Kemudian ia membisikkan satu kata yang membuat Ivan tertawa lepas dan mencium tangannya serta memeluknya erat.

"I will."

-TBC-

Hahah! Udah nongol nih lemonnya! Maaf kalo kecepetan. Soalnya saya ngetik di deket ibu saya. Bisa dirajam kalo ketahuan ngetik beginian.

Nah, Ivan sama Alfred udah pacaran. Apakah dengan ini ceritanya abis? The end?

Tentu tidak. Masih ada rintangan yang harus dilalui. Dan bagaimana reaksi Arthur, si kakak over-protektif?

Kita saksikan kelanjutan kisah cinta Ivan dan Alfred di chapter berikut.

Makin lama makin kayak sinetron

"True love doesn't have happy ending. Because true love never ends."

Review?