One Piece © Eiichiro Oda

Undercover Rockstar © Viero D. Eclipse

Pairing: Ace x Luffy (AceLu), Slight Zoro x Sanji (ZoSan)

Genre: Romance/Humor/Drama

Rated: T

Warning: AU, Shounen Ai (BoyxBoy Love!)

Don't like? Don't read!


-Chapter 3-

Deeper Relationship

.

Jika dawai intuisi satu insan telah terpetik dengan lembutnya kebaikan, salahkah jika ia meminta kedekatan yang lebih padamu?

.


Sepulang kampus, dengan deadline tugas berdurasi lama.

Saat yang tepat untuk berlatih kendo bagi seorang... Roronoa Zoro.

.

.

Pemuda dengan serpihan hijau pada hamparan rambutnya itu tampak berjalan dengan ritme yang begitu statis. Tas ranselnya merebak ke kanan dan ke kiri, menggantung tepat di pundak kanannya. Tangan kirinya menggenggam sebilah pedang bambu. Keseriusan terpapar di parasnya. Satu motif yang hendak direalisasikan.

Ia ingin pergi ke gym klub kendo.

Kendo? Ya benar. Zoro telah tergabung dalam pusat klub Kendo yang ada di wilayah East Blue. Ilmu bela diri yang satu itu merupakan salah satu obsesi Zoro. Mahasiswa berambut hijau itu memang gemar menerapkan seni berpedang. Kecintaan ayahnya pada seni berpedang semenjak dulu sepertinya telah menurun pada mahasiswa mugiwara tersebut.

Taburan para pejalan kaki menjadi sebuah panorama klise yang menghantam pandangan Zoro. Ia harus melalui rutinitas itu hampir setiap harinya. Tak ada keluhan yang terlontar dari mulutnya. Jika memang begini aktivitasnya, maka jalani saja apa adanya tanpa perlu banyak protes.

Sungguh sebuah prinsip yang sangat 'Let it flow' dari seorang Roronoa Zoro.

Dan itulah dia. Suka atau tak suka, ia sungguh tak peduli dengan persepsi orang lain.

Pedang bambunya tampak terayun dengan lemasnya. Kedua matanya memandang bosan. Deretan kompleks bangunan kini menjadi panoramanya. Sungguh tak berubah. Rangkaian deret pasar tetap saja ramai. Penjual buku-buku bekas masihlah tampak menjajakan dagangannya. Sebuah gedung bank berdiri dengan megahnya. Rumah sakit dikerumuni banyak pasien dan taman kecil di sampingnya pun juga dipenuhi anak-anak kecil. Tak ada yang berubah.

Bahkan Restoran... Baratie.

Baratie.

Restoran yang terletak tepat di samping taman itu juga ramai akan pengunjung. Rata-rata pengunjungnya adalah pengunjung kelas atas yang memiliki selera elit dan juga kaya raya. Hal itu sangat wajar mengingat Baratie adalah satu-satunya restoran high-class yang ada di East Blue. Daftar harga makanan yang bisa terbilang mahal itu cukup mampu untuk membuat seorang mahasiswa dengan uang saku pas-pasan macam Zoro, bisa mendadak miskin jika ia makan di restoran itu.

Pengecualian untuk Luffy.

Kawannya itu bisa makan sepuasnya di Baratie dengan konsekuensi bahwa Garplah yang menanggung semua biayanya. Sungguh seorang cucu yang merepotkan.

Kembali pada pokok permasalahan utama. Selain harga makanan yang terbilang mahal, satu lagi alasan yang membuat Zoro enggan untuk singgah sebentar saja di restoran itu.

S.

A.

N.

J.

I.

Ya. Lima susunan abjad itu akan membentuk sebuah nama yang tak ingin diucapkan oleh Zoro. Nama dari rival abadinya. Salah seorang juru masak restoran Baratie. Dalam nalar Zoro, S-A-N-J-I hanyalah seorang pria abnormal yang memiliki sepasang alis berbentuk abnormal dan memiliki kebiasaan abnormal dengan jatuh cinta pada setiap wanita yang ia pandang.

Mr. Triple Abnormal.

Hah, sepertinya julukan itu sungguh pantas untuk menggambarkan perilaku rivalnya. Dari dulu mereka memang tak pernah akur. Selalu saja cekcok karena hal yang sepele. Dan Zoro tak habis pikir, mengapa Mr. Triple Abnormal itu selalu saja senang mencari gara-gara dengannya? Beradu mulut. Unjuk gigi dengan untaian diksi berskala kebun binatang. Belum lagi dengan baku hantam secara fisik. Juru masak Baratie itu bukanlah orang yang lemah. Zoro selalu saja kesulitan melawan teknik tendangan S-A-N-J-I hanya dengan bersenjatakan pedang bambunya saja.

Dan mereka selalu saja seimbang. Tak ada yang menang ataupun kalah.

Hal itu semakin menambah ngangahan jurang mereka sebagai sepasang rival abadi.

Zoro sungguh tak ingin berinteraksi dengan pemuda berambut pirang itu.

"Cih!" mendecih kesal, mahasiswa mugiwara itupun memalingkan pandangannya dari Baratie dan berusaha mempercepat langkahnya agar ia bisa segera menjauh dari tempat rivalnya.

Namun sayang, seribu sayang...

Tak ada yang bisa menduga datangnya badai distopia.

"GUK! GUK! GRAUUKK!"

"HEII! A-APA-APAAN INI! AAARRGGHHH!" secara tak terduga, seekor anjing rottweiler mendadak berlari dari arah belakang Zoro dan lekas menggigit pedang kendo miliknya. Pemuda berambut hijau itu syok dan mencoba mempertahankan pedangnya. Anjing itu semakin menggigit erat pedangnya dan menyeretnya ke samping. Sedang sang korban mulai berteriak tak jelas dan melayangkan tendangan tepat di kepala rottweiler secara bertubi-tubi. Pergulatan mahasiswa VS anjing itu semakin memasuki tahap liar dan segenap pejalan kaki yang melintas pun kini sudah menganggap bahwa Zoro... adalah seorang pasien yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa.

"ANJING GILA! LE-LEPASKAN PEDANGKU, BRENGSEK! AAKKHH!"

"GUKK! GROAARR!"

Keduanya sama-sama persisten. Keduanya sama-sama menggeram. Segenap saksi mata yang memandang hanya dapat mematung takjub. Dalam pergulatan itu, sudah tak bisa dibedakan lagi, mana yang anjing dan mana yang manusia. Kedua makhluk itu sungguh terlalu brutal, frontal dan sangat nakal.

"I-INI ANJING MILIK SIAPA SEBENARNYA, HAH? BRENGSEK! LEPASKAN PEDANGKU! CEPAT LEPASKAN, ANJING JAHANAM!"

"GRRRR! GRAUUUKK!"

"AAARRGGHHH!"

Zoro terpental ke bawah saat anjing rottweiler nista itu menerjang tubuhnya. Setelah berhasil menumbangkan tubuh korbannya, sang anjing lekas menggigit pedang bambu incarannya dan membawanya kabur menuju ke suatu tempat. Kehororan merajalela di paras Zoro saat ia menatap kemana arah tujuan anjing itu pergi.

Anjing itu telah membawa pedang kendo miliknya.

Menuju.

Restoran.

Baratie.

...

"Oh, Shit!"


"Kau semakin cantik saja hari ini, Nona Alvida~"

"Ah, terima kasih atas pujiannya, Sanji-kun~"

Dengan sangat cekatan, Sanji menghidangkan menu spesial pada para pelanggan restorannya. Khusus untuk para pelanggan wanita, Sanji sebagai juru masak utama restoran Baratielah yang akan mengantarkan makanannya dengan senang hati. Ditambahkan dengan bonus pelayanan spesial berupa rayuan gombal tingkat tinggi dan kedipan mata maut dari Sanji. Oh Tuhan, hal itu sungguh merupakan sebuah paket fans service yang tak penting.

"Selamat menikmati hidangan kami, Nona manis~ Nikmatnya hidangan kami sungguhlah tak setara dengan nikmatnya kecantikan yang terpancar dari kalian semua~"

"Aaww..." dan tak tanggung-tanggung. Beberapa dari pelanggan wanita Sanji mulai terbuai dalam badai gombal itu. Membalikkan badan dengan cara yang menurutnya jantan nan gagah, Sanji mulai berjalan meninggalkan meja pelanggan, sok tak acuh dengan para wanita yang kini sedang diterjang serpihan rona merah pada paras mereka masing-masing. Zeff yang menatap fenomena itu hanya dapat menggelengkan kepalanya. Putranya itu memang pantas mendapat titel sebagai seorang pujangga gombal nomor satu di East Blue.

"Hah... jika kau seperti ini terus, kau akan sulit menemukan jodohmu, Sanji."

"Huh?" keluhan yang terlontar dari mulut ayahnya itu membuat Sanji menaikkan sebelah alisnya, tak paham. Juru masak utama restoran Baratie lekas berjalan menuju ke dalam dapur. "Apa maksudmu, Ayah?"

"Maksudku adalah... dengan rasa tertarikmu pada setiap wanita yang kau pandang itu, kebimbangan pasti akan menutup jalannya pilihanmu, Sanji. Suatu saat kau harus memiliki seorang pendamping hidup dan kau tak mungkin menikahi seluruh wanita yang ada di dunia ini." penjelasan Zeff hanya dibalas tawa oleh Sanji. Putranya itu mengulum senyum dan lekas meletakkan sepotong daging sapi mentah di atas wajan penggorengannya.

"Kau tak perlu khawatir, Ayah. Aku pasti akan menemukan jodohku nantinya," Sanji mulai meracik bumbu dan menaburkannya tepat di atas daging yang ia goreng. "Jika Ayah masih ragu, bagaimana kalau aku bertaruh?"

"Bertaruh?"

"Ya. Aku bertaruh bahwa... jika saat ini ada seseorang yang mendadak muncul tepat di hadapanku, maka orang itu kelak akan menjadi jodohku. Jika tidak ada satupun orang yang muncul, maka jodohku masihlah belum diijinkan untuk bertemu denganku."

"Jangan berkata seperti itu, Sanji. Ucapanmu itu bisa saja menjadi kenyataan nantinya!" Zeff jelas syok dengan keberanian putranya dalam mempertaruhkan hal seperti itu. Jika orang yang muncul nantinya adalah orang yang baik, maka tak masalah untuk Zeff. Tapi bagaimana jika yang muncul adalah orang yang buruk?

Sanji kembali memaparkan seringai menantang.

"Aku tak mungkin menganggap bahwa setiap orang yang mendadak muncul secara sembarangan di hadapanku adalah jodohku, Ayah. Untuk taruhanku kali ini, akan ada spesifikasinya," pemuda berambut pirang itu lekas mengarahkan jari telunjuknya ke arah yang lain.

"Jendela?" dahi Zeff berkerut serius. Sanji menganggukkan kepala.

"Benar. Aku berani bertaruh bahwa jika ada orang yang mendadak muncul di jendelaku dan melompat ke arahku, kelak ia akan menjadi jodohku!"

"Wow..."

Terperanjat. Semua personil juru masak yang ada di dapur menjadi saksi atas pernyataan Sanji. Taruhan itu bagaikan sebuah alegori bahwa -tak mungkin ada sembarangan orang yang mendadak melompat masuk dari jendela dan menerjang Sanji- Peluang terjadinya hal itu akan sangat tipis. Dan ironisnya, tipisnya peluang itu benar-benar menggambarkan betapa rumitnya tali perjodohan Sanji dalam memilih seorang pendamping hidup. Selama kebiasaan abnormalnya untuk jatuh cinta pada setiap gadis cantik yang menghantam penglihatannya masih berlanjut, juru masak utama Baratie itu akan sulit untuk menentukan pilihan.

Sebenarnya Sanji memiliki satu pilihan paten. Yakni Nami.

Mahasiswi Universitas Mugiwara itu berhasil menarik perhatian Sanji hingga ke akar-akarnya. Siapa yang tak terpanah melihat kecantikan seorang gadis berambut panjang dengan warna oranye secerah mentari seperti Nami? Sanji pasti akan bertekuk lutut.

Tapi ironis. Sepertinya mahasiswi yang satu itu sangat sulit untuk dipikat hatinya.

Sanji hanya bisa berharap pada taruhannya yang utopis itu.

Seseorang yang mendadak muncul dari jendela dan melompat ke arahnya?

Hah, apakah ada orang yang akan melakukan itu saat ini?

"Sungguh mustahil-"

"GUK! GUKK! GROAAARRR!"

KLONTANG! KEMPRAAANG! ZZSSSHHHH!

"AAAARRRGH! ADA PEDANG KENDO DI WAJAN PENGGORENGANKU!" salah seorang juru masak menjerit histeris. Syok, karena mendadak ada seekor anjing yang menerobos masuk ke dalam dapur dan menerjang wajan penggorengannya. Sebuah pedang bambu terlepas dari gigitan rottweiler itu dan terpental tepat di atas daging yang tergoreng di atas wajan. Semua personil dapur mematung horor.

"Ke-Kenapa bisa ada anjing yang masuk ke dalam Baratie, hah? A-Anjing siapa ini?" Sanji mulai geram. Dan belum sempat ia menanyakan hal ini lebih lanjut, tiba-tiba Zeff menunjuk ke arah jendela.

"Li-Lihat itu! A-Ada seseorang yang hendak melompat dari jendela!"

"NANI!"

Segenap penghuni dapur mengarahkan pandangan mereka ke arah jendela. Sanji menatap horor. Figur yang hendak melompat dari jendela dapurnya tampak berlari dengan kecepatan brutal. Figur itu bertubuh sedikit kekar dan sudah jelas bahwa ia bukanlah wanita. Dan aliran waktu pun seakan tersendat saat gema teriakan yang cukup maskulin telah membahana di penjuru dapur.

"KEMBALIKAN PEDANG KENDOKU, ANJING GILAAA!"

"NA-NANI! SU-SUARA ITU! TI-TIDAAAAK! JANGAN KEMARI! JANGAN MASUK KEMARI MELALUI JENDELAAAA!"

Terlambat.

Jeritan horor Sanji sudah tak membawa efek apapun untuk merubah keadaan itu. Sesosok figur berambut hijau dengan raut bringas kini sudah bertengger tepat di jendela Baratie. Roronoa Zoro tak memperhatikan keadaan sekelilingnya dan langsung saja menerjang ke dalam dapur.

Menerjang tepat ke arah... S-A-N-J-I.

"MARIMOOOOO!"

"Oh, Tuhan! Me-Menyingkirlah dari situ, Abnormal! AAARRRGGGHHHH!"

"KENAPA KAU TAK PERNAH BERHENTI MENYUSAHKANKU, HAH! DASAR KAU RUMPUT LAUT GILAAAAAAAA!"

"AAAAAARRRGGGHHHH!"

"AAAAAAAAAARRRRRRGGGGGGHHHHHHH!"

BRUUUUAAAAAAAAKKK!

"SA-SANJI-SAMA!"

Semua seakan terjadi dalam dimensi slow motion. Segenap penghuni dapur melotot dan menganga syok. Zoro menerjang tepat ke arah Sanji dan mereka pun jatuh, terpental ke bawah secara bersamaan. Dan sang anjing rottweiler nista itupun telah berhasil kabur dengan membawa sepotong daging sapi mentah dari Baratie.

...

Hening.

Zeff pucat, hampir saja mendapat serangan jantung.

Ia harus menerima kenyataan ini. Bahwa putranya...

"Sa-Sanji... jodohmu ternyata adalah seorang... pria."

"NANI!" Zoro terkejut mendengar itu. Seakan ada sebuah peluru yang menembus tepat di pelipisnya. Jodoh? Apa maksud dari perkataan Zeff yang sebenarnya?

Dan lekas ditatapnya Sanji yang saat ini terbaring tepat di bawah tubuhnya, tertindih dengan cukup brutal. Raut syok terpapar jelas di paras juru masak utama Baratie itu. Penampakan wajah Sanji benar-benar menyerupai seorang anak kecil yang baru saja melihat tanda-tanda hari akhir dunia. Ia masih tetap menganga, tak dapat menguntai satupun kata.

Salah seorang juru masak yang lain pun angkat bicara di tengah keadaan genting itu.

"Sanji-sama sudah bertaruh bahwa orang yang akan muncul di jendela dan menerjang ke arahnya... akan menjadi jodohnya kelak. Siapapun itu. Dan ternyata, orang yang muncul itu..." sang juru masak itu sudah tak mampu lagi menyelesaikan kalimatnya. Zoro kini sudah memandang horor layaknya orang yang terkena stroke.

Ia tak salah dengar 'kan?

Bertaruh soal jodoh katanya?

...

...

What.

The.

Hell!

"AAAARRRGGHHH! AKU BERUBAH PIKIRAN! AKU INGIN MEMBATALKAN TARUHAN ITU! BATALKAAAAAN! AKU TAK MUNGKIN BERJODOH DENGAN KEPALA MARIMO INI! TIDAK MUNGKIIIEEN!" Sanji tiba-tiba menjerit histeris. Dan lipatan sewot lekas terbentuk di samping kening Zoro.

"APA? A-AKU JUGA TAK AKAN MAU DAN TAK AKAN MUNGKIN MENJADI JODOHMU! BAKA ERO!"

"INI SEMUA SALAHMU! KENAPA KAU MASUK LEWAT JENDELA DAN MENERJANGKU, PUNK NORAK!"

"ITU KARENA AKU HANYA INGIN MENGAMBIL PEDANG KENDOKU, KOKI SARAP!"

"TAPI TETAP SAJA! SEMUA TARUHANKU JADI KACAU GARA-GARA KAU!"

"KAU MENYALAHKANKU? HEI! LAGIPULA, BUAT APA KAU BERTARUH SEPERTI INI SEGALA? KAU TOLOL ATAU APA, HAH!"

Dan pertikaian dalam rumah tangga pun sudah tak dapat terhindarkan lagi. Sanji melayangkan tendangan dan Zoro pun dengan sigap menghadang tendangan pemuda pirang itu dengan pedang kendo miliknya yang sudah setengah hangus. Zeff menggelengkan kepala, miris dengan segenap kenyataan ini. Apa putranya dan pria berambut hijau itu tak sadar?

Bahwa mereka sudah bertengkar layaknya pasangan suami istri?

"Zeff-sama, apakah Anda baik-baik saja?" asisten Zeff tampak khawatir. Dan pemilik restoran Baratie itu hanya dapat mengelus dada. Pasrah.

"Aku akan terima kenyataan jika pada akhirnya putraku akan menikah dengan orang itu. Aku sudah ikhlas..."


~AxL~


"Acee~"

"..."

"Aceee!"

"..."

"ACEEEEEE!"

"Berhentilah memanggil namaku seperti itu, Luffy!"

"Shishishi! Aku tidak bodoh 'kan, Ace? Aku bisa menyebut namamu dengan benar, neee!" Ace hanya dapat menghela napas pasrah mendengar itu. Ia sudah tampak terduduk di kursi ruang makan Luffy. Terdiamlah ia memperhatikan roommatenya yang kini telah menghidangkan makanan di atas meja. Sepiring nasi untuknya dan sepuluh piring nasi untuk Luffy.

Dahi Ace berkerut melihat itu.

"Sebanyak itukah porsi makanmu?"

"Nee?" sebelah alis Luffy naik sebelah. Ia menatap jari telunjuk Ace yang kini terarah pada tumpukan piringnya. Gema tawa terlontar dari mulutnya. "Hahaha! Ini sebenarnya masih kurang. Aku harus belajar untuk menghemat makanan."

"Hah? Menghemat makanan?" Ace memasang tampang aneh. Nalarnya mulai mengkalkulasikan segenap realitas ini. Sepuluh porsi piring setiap kali makan dan jika satu hari roommatenya itu makan dua kali, itu artinya perhari ia sudah menghabiskan dua puluh piring makanan?

'Hemat apanya?'

"Mmhhh! Nyamm! Ayo, makanlah, Ace! Kalau tidak, jatah makanmu akan kucuri setelah ini!"

"Eh? Ja-Jangan!" setengah panik, sang rockstar itu lekas melahap habis makanannya secepat yang ia bisa. Ia tak ingin menanggung resiko kelaparan. Luffy hanya dapat tertawa melihat itu.

"Kau terlihat seperti orang yang tak pernah makan selama lima tahun, Ace! Shishishi... kau lucu!"

"Aku seperti ini juga karena ancamanmu itu, tahu! Dasar, kau ini..."

"Heeheehee... gomene!" Luffy menggaruk belakang kepalanya seraya mengunyah kumpulan daging di mulutnya. Ace lagi-lagi hanya dapat menghela napas pasrah. Kembali diliriknya sang meat lover itu dan secercah kurositas pun muncul di benaknya.

"Bagaimana kau bisa makan sebanyak itu tapi berat badanmu tidak naik sedikitpun? Kau terlihat seperti orang yang tak terlalu suka makan jika dilihat dari kurusnya fisikmu itu." Luffy mengulum senyumnya dengan justifikasi itu. Ia sendiri sebenarnya juga tak mengerti, mengapa bobotnya tak bisa bertambah dengan kadar makannya yang sangat berlebihan seperti ini.

"Entahlah. Aku menganggap bahwa ini adalah misteri! Setidaknya aku bersyukur karena tak memiliki tubuh sebesar kakekku."

"Ah, kau benar juga. Aku juga lega saat tahu bahwa kau tidak seseram kakekmu. Pria itu sudah dengan brutalnya menghancurkan pintu kamarku." Ace memijat keningnya, ironi. Luffy tampak melahap satu potong daging terakhirnya dan melayangkan tatapan bersalah pada Ace.

"Amfu minya maaf atas ferbuatan kakekku, Ace. Nyia sudah menghancurkanmm ...mmmfintumu!"

"Hei, jangan berbicara saat mulutmu masih penuh dengan makanan seperti itu," keluh Ace singkat. Lekas diraihnya kain serbet yang terletak di atas meja dan ia pun mulai mengusapkan kain serbet itu di sela mulut Luffy. "Tenang saja. Kakekmu hanya salah paham soal ini. Ia tak sengaja melakukan itu."

Luffy terdiam sejenak, membiarkan Ace membersihkan bumbu daging yang belepotan di mulutnya. Kain serbet itu diusapkan dengan sangat lembut dan hati-hati. Luffy terpanah dengan aksi itu. Baru kali ini ada orang yang mau membersihkan mulutnya seperti ini. Keheningan pun terjadi. Dan simpulan senyum sarkas pun terpapar di paras tampan sang vokalis. "Hah! Belepotan sekali. Kau makan seperti bayi saja, Luffy."

"Eh?" paras Luffy menciut secara mendadak. Ia mulai merasa tersinggung. "Aku tidak makan seperti bayi, Ace!"

"Ah, semakin terlihat seperti bayi."

"Heeee! Kenapa kau suka meledekku seperti ini, hah!"

"Aku tidak meledekmu!"

"Lalu ini?"

"Ini concrit."

"Bleeeeh! Sama saja!" Luffy menjulurkan lidahnya, cemberut. Gema tawa membahana dari mulut Ace. Hanya dalam waktu sehari ia bermalam di kamar 126. Dan ia bisa seakrab ini dengan pemiliknya.

Luffy...

Ah, pemuda lugu ini. Pagi tadi, ia sudah menghabiskan sebelas piring makanannya dan berkeliling-keliling sendiri memutari kamar hanya untuk mencari sepasang sepatunya yang hilang satu. Suara benda berjatuhan di lantai akibat ulahnya sungguh sukses membuat Ace terbangun dari tidurnya. Sang rockstar itupun beranjak dari sofanya dan mulai menatap ke arah pelaku utama yang menghasilkan semua kekacauan ini. Pemilik kamar 126 tersebut sudah terlihat begitu berantakan. Kemeja tak terkancing, sabuk yang serba miring, rambut acak-acakkan, mulutnya tampak menggigit sepotong paha ayam goreng dan risleting tas ranselnya pun menganga dengan lebarnya, mencoba memuntahkan buku-bukunya untuk keluar. Wajah polosnya menyiratkan sedikit rasa bahagia saat tahu bahwa roommate barunya itu ternyata sudah bangkit dari alam mimpi.

"Luffy?"

"Nee, Axze! Kau sudah bangun? Baguslah! Aku hendak berangkat kuliah! Jika kau ingin makan, ada persediaan makanan di kulkas! Tolong jangan kau habiskan semua! Aku akan kembali sore nanti! Kau tak apa-apa 'kan kutinggal sendiri?"

Ace terdiam sejenak mendengar itu. Kedua obsidian miliknya menatap Luffy tanpa ekspresi. Mahasiswa mugiwara itu hanya melebarkan pandangan matanya. Terdiam, seolah menunggu respon.

Ah, bahkan Ace harus menerima kenyataan bahwa di pagi buta begini, Luffy masih salah menyebutkan namanya.

Sungguh nasib...

"Aku adalah seorang pria yang sudah berumur 22 tahun, Luffy. Kau pikir aku takut berada sendirian di dalam kamar apartemenmu ini?"

"Hehehe... siapa tahu saja 'kan?" Luffy menggaruk belakang kepalanya, terkekeh pelan. Tak membutuhkan waktu lama bagi nalarnya untuk mengingat sesuatu. "Ya ampun! La-Laporan jurnalku belum selesai! Smoker-sensei akan menghukumku nanti! Ah, aku berangkat dulu, Axey! Pulang dari kampus nanti, aku pasti akan bisa menyebutkan namamu dengan benar! Lihat saja nanti! Ja Ne!"

Braak!

Pintu kamar mulai tertutup dan mahasiswa mugiwara itupun sudah tak nampak lagi di hamparan pandangan Ace. Dan benar saja. Sepulangnya dari kampus, Luffy sungguh berhasil menyebutkan namanya. Dan hampir satu jam lebih pemuda itu menggemakan nama "Ace" di penjuru kamar.

Hmm... Jika dipikirkan lagi...

Memang, tingkah dan antusiasme Luffy terkadang sedikit membuat Ace merasa terganggu. Tapi sungguh, ia tak bisa berkilah bahwa segenap perlakuan pemuda polos itu padanya selalu saja sukses membuat untaian senyum tersimpul di mulutnya. Semua hal yang dimiliki oleh pemuda itu sungguh sangat menarik di mata Ace. Semangat tinggi itu. Optimisme. Tekad baja. Dan kejujuran Luffy. Semua itu membuat Luffy terkesan adiktif. Ace selalu ingin tersenyum jika berada di dekat mahasiswa itu.

Hah, bayangkan saja. Ia dikenal sebagai seorang pria yang sangat dingin. Apalagi jika ia berhadapan dengan orang baru, ia akan sulit untuk membuka diri. Ia juga tak mengumbar senyum pada sembarang orang. Bahkan saat ia berada di hadapan para fans, ia hanya melayangkan senyum palsu. Tak ada kesenangan hakiki dalam pancaran matanya. Ia hanya akan tersenyum secara sungguh-sungguh jika berada di dekat sahabatnya saja. Dan Luffy... hanya dengan satu hari pertemuan saja, pemuda itu mampu membuat Ace tersenyum murni seperti ini.

Kedua obsidian yang dingin itu kini memancarkan sedikit serpihan kelembutan.

Seakan ada perasaan hangat yang menggetarkan dawai intuisi Ace setiap kali Monkey D. Luffy melayangkan senyum lebar padanya.

Mahasiswa muda itu sungguh spesial.

Tak terkecuali sekarang.

Bahkan secara refleks, telapak tangan Ace dengan sendirinya telah mengambil secercah kain serbet dan ia pun mulai menyeka mulut Luffy yang tampak belepotan makanan. Tak ada penalaran dalam tindakan itu. Intuisi telah menggerakkan kehendaknya. Semakin lama, pemuda polos yang merupakan roommatenya itu semakin memberi efek magnet pada Ace. Semakin keras Ace menyangkal...

Ia tak akan bisa bertahan lama untuk segera menunjukkan sentuhan perhatiannya pada Luffy.

Perasaan nyaman yang tak dimengerti ini...

'Biarlah berkembang dengan sendirinya...' batin Ace singkat. Ya. Ia hanya akan pasrah pada kuasa sang waktu.

Untuk sekarang...

Jalani saja apa yang sudah terjadi di depan mata.

"Nee, Ace?"

"Hmm?"

"Boleh aku tanya sesuatu padamu?" pernyataan itu membuyarkan lamunan Ace. Kedua obsidiannya mulai sedikit membelalak saat Luffy sudah mendekat padanya. Kain serbetnya masih ia tahan di samping mulut Luffy. Jarak mereka begitu tipis dan ia pun tak habis pikir, mengapa Luffy selalu saja senang dengan jarak mereka yang sedekat ini?

Mahasiswa itu selalu saja fokus memperhatikan wajahnya dengan sangat observant.

Terkadang Ace bingung, harus menginterpretasikan hal ini sebagai apa.

Ia bahkan ragu jika pemuda lugu macam Luffy memiliki motif terselubung.

"Kau ingin tanya apa?"

"Aku ingin tanya... apa kau betah singgah di sini?"

"Huh?" kedua alis Ace bertaut serius. Kenapa pertanyaan ini tiba-tiba dilontarkan padanya? "Mengapa kau tanyakan hal ini padaku?"

"Aku hanya ingin tahu saja."

Hening.

Ace memejamkan kedua matanya dan lantas menyeringai.

"Lumayan. Aku cukup betah meskipun hanya tidur di atas kursi sofamu dan hanya mendapatkan jatah makanan sepiring saja."

"Hei! Kau berkata seakan-akan aku telah memberikan sebuah pelayanan yang cukup sadis padamu. Kau sendiri 'kan yang meminta semua itu?" Luffy merutuk kesal. Melipat kedua tangannya di dada dan membuang pandangan ke samping. Gema tawa yang begitu pelan kembali terdengar dari mulut Ace.

"Hahaha... ya, aku tahu. Aku yang meminta untuk tidur di sofa dan aku yang meminta untuk makan dengan porsi sepiring." dan hal itu semata-mata bukan karena Ace tak suka makan. Jangan salah. Vokalis Black Spade yang satu itu sebelum menjadi terkenal seperti sekarang, ia sudah dikenal sebagai seorang penggila makanan, sama seperti Luffy. Hanya saja saat ini Ace sudah menjadi publik figur, ia haruslah menjaga pola makannya dengan baik.

Black Spade akan kehilangan banyak fans jika vokalisnya mendadak gendut dan berlemak.

Dan lagipula, jika ia ketahuan makan dengan porsi berlebihan...

Shanks pasti akan membunuhnya.

Manajer berambut merahnya itu bisa menjadi orang yang sangat mengerikan jika ia mau.

Dan Ace tak ingin mengambil konsekuensi terburuk itu.

"Tenang saja, Luffy. Setelah pintu kamarku diperbaiki, kau tak akan kehilangan seporsi makananmu lagi setiap harinya. Aku akan kembali ke kamarku lagi." Ace mulai tertawa dengan nada bercanda. Luffy tampak terdiam dan menunduk dengan hal itu. Sama sekali tak menemukan adanya sesuatu yang lucu dalam pernyataan Ace. Dan dahi Ace berkerut serius. Kenapa lagi dengan anak ini? Bukankah ia senang jika jatah makanannya tak berkurang, eh?

"Aku tak keberatan jika kau singgah lebih lama lagi di sini, Ace."

"Eh?" Ace ditikam Luffy dengan tatapan ambigu. Sebuah tatapan yang menyiratkan suatu harapan. Tapi harapan apa itu? "A-Apa maksudmu dengan singgah lebih lama lagi di sini?"

"Aku sendirian di sini. Dan aku benci jika merasa kesepian." pandangan Luffy tampak sendu. Mahasiswa mugiwara itupun lekas memejamkan kedua obsidiannya dan lalu kembali menikam Ace dengan tatapan determinasi. "Aku cukup senang dengan kehadiranmu di sini, Ace. Dengan kau singgah di kamarku seperti ini, aku tak akan merasa kesepian lagi. Aku bisa memiliki... teman."

"Luffy..." Ace sungguh terperanjat dengan pengakuan itu. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa pemuda energetik macam Luffy bisa memendam perasaan gundah seperti ini. Pemuda itu selalu tampak riang dan bersemangat.

Dan ternyata, Luffy juga bisa takut dengan... kesendirian.

Kedua obsidian itu masihlah menatap lekat. Tak memiliki niatan untuk memutus kontak mata. "Di kampus, aku memiliki banyak teman tentu saja. Ada Zoro, Usopp, Nami bahkan Sanji di Baratie. Tapi di sini. Di kamar ini. Aku sendiri. Aku tak punya teman," Luffy menghela napasnya untuk sejenak. "Dan kau pun datang kemari dengan sikapmu yang sedikit menyebalkan itu. Meski baru sehari kau singgah di sini, aku sungguh tak ingin kau pergi, Ace."

"Hah?"

Apa?

Ia tak salah dengar 'kan?

Luffy tak ingin dia pergi?

Ace seakan membeku. Yang pada awalnya ia menyangka bahwa ucapan Luffy hanyalah lelucon, tapi ia salah. Luffy benar-benar serius dengan ucapannya. Kedua alisnya bertaut serius. Ia masih skeptis akan hal ini. "Katamu aku ini sedikit menyebalkan? Jika begitu, kenapa kau masih ingin aku berada di sini?"

"Itu karena hanya ada kau di sini, Ace! Hanya ada kau dan tak ada orang lain. Dan aku ingin berteman denganmu. Sungguh-sungguh ingin menjadi teman! Tak peduli jika kau menyebalkan atau tidak. Apakah permintaanku ini salah, nee?"

...

Hening.

Tidak. Tidak ada yang salah dengan permintaan tulus itu. Luffy hanya memiliki niatan baik. Dan baru kali ini Ace bertemu dengan orang dengan hati sejernih Luffy.

Sejenak, tak ada yang menguntai kata untuk mengisi jeda keheningan itu. Mereka hanya dapat saling memandang dengan persepsi masing-masing. Luffy memperjuangkan determinasinya dengan kedua obsidiannya itu. Ace pun menghela napasnya. Pasrah. "Kau tahu 'kan bahwa aku tak mungkin tinggal di sini selamanya denganmu?"

"Aku tahu itu! Tapi setidaknya, kau bisa singgah beberapa hari lagi di sini. Setelah pintu kamarmu diperbaiki, singgahlah tiga sampai lima hari lagi! Kumohon, Ace! Kau mau 'kan singgah beberapa hari lagi di kamarku ini? Ya? Mau ya?" dan Luffy pun mengerahkan senjata andalannya. Wajah lugu itu jika sedang memohon, akan benar-benar sulit untuk dinafikkan. Ace mulai gentar dengan sisi Luffy yang satu ini.

Gah! Kenapa Luffy bisa memiliki wajah tak berdaya seperti itu?

Ace akan menjadi orang ternista di dunia ini jika ia tega menolak permohonan itu.

Sungguh Tuhan... Wajah itu...

"I-Iya. Akan kupertimbangkan lagi. Sudah! Hentikan ekspresi jelekmu itu! Aku tak tahan melihatnya!" Ace mengeluh frustasi. Sebuah cengiran pun terpapar di paras Luffy.

"Yatta, neee! Arigato, Ace! Heeheehee!" mahasiswa mugiwara itupun mulai melonjak girang. Dikepalkan tangannya ke atas dan Luffy pun bergaya layaknya seorang pejuang yang baru saja memenangkan peperangan. Ace lagi-lagi tak bisa menahan simpulan senyum di parasnya. Roommatenya itu benar-benar memiliki kekuatan untuk mengendalikan intuisinya.

"Nyaaam! Mhhh!"

Tunggu sebentar.

Kenapa sepotong daging terakhir milik Ace bisa mendadak berpindah tempat di mulut Luffy?

...

What the hell?

"Hei! I-Itu 'kan jatah daging terakhirku, Luffy! Kenapa kau makan, hah! Kembalikan!"

"Gaaahh! Aku masih lapar, Aceeee!" dan duel perebutan daging pun telah terjadi. Luffy berusaha keras mempertahankan paha ayam goreng milik Ace yang ada di mulutnya. Sedangkan Ace mulai menarik tulang paha ayam itu dari mulut Luffy. Keduanya semakin bersikeras untuk memperebutkan daging terakhir itu hingga pada akhirnya, suara tapak kaki seseorang mulai terdengar dari balik pintu kamar apartemen.

Tap! Tap! Tap!

"Luuuuffy!"

"Hieeee? I-Itu 'kan suara-"

"He-Hei! Lu-Luffy! Awas! Kau menginjak gundukan karpet-Aaaaakkkkhhh!"

"N-NANI? HU-HUAAAAAAAHHH!"

BRUUUUAKKK!

Dengan gerakan cepat, keduanya pun terjatuh ke bawah. Luffy tanpa sengaja telah tersandung gundukan karpet. Mahasiswa mugiwara itupun dapat merasakan bahwa tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Ace dan mulutnya pun telah terhantam dengan suatu hamparan yang cukup lembut.

Dan sang vokalis Black Spade, Portgas D. Ace terbelalak... syok.

Roommatenya sudah terjatuh tepat di atas tubuhnya. Paras Luffy telah menghantam paras bagian kanannya dengan cukup keras. Dan tanpa disengaja, bibir Luffy menempel tepat pada pipinya dengan sangat lekat. Pemuda itu tak sengaja mencium pipi kanannya. Mereka tak bergeming dalam posisi seperti itu. Terlalu syok dengan realitas yang ada. Sekujur tubuh terasa panas berkat kontak itu. Serpihan rona merah mulai menjalar di paras keduanya.

Dan pintu kamar apartemen mereka pun pada akhirnya mulai terbuka dengan sangat kasar!

BRAAAAAAKKK!

"LUUUUUUUUUFFY, KAKEK SUDAH DA- ASTAGA! DEMI NAMA KEADILAN DAN DEMI PAKAIAN DALAM SENGOKU! APA-APAAN KALIAN INI, HAAAHHH!" serangan jantung hampir saja menyerang Garp saat panorama mesra telah menikam tepat di kedua hamparan penglihatannya. Pria tua itu benar-benar berparas horor. Dan dua orang penghuni kamar 126 itu seakan menghadapi mimpi terburuk mereka.

Ini benar-benar sangat kacau.

"Ji-Jii-chan?"

TBC


A/N: Yup! Makasih buat yang udah review. ^w^ Saya akan mengusahakan untuk updet sekali dalam seminggu. Jika Anda beruntung, saya bisa saja updet dua kali dalam seminggu.

Ace: Untuk balasan review kali ini...

Luffy: Biar kami yang menjawabnya! XD

Ika UzumakiTeukHyukkie

Luffy: Makasih buat pujiannya! Author akan berusaha untuk updet kilat! xD

Ace: Ahahaha! SETUJUUU! Aku dan Luffy memang pair paling THE BEST di One Piece! #Hugs Luffy

Luffy: Gaah! Aku tak bisa bernapas, Nii-chan! =="

muthiamomogi

Luffy: Aree... O.O Muthia-san tau saja jika fic ini bakalan jadi multichapter panjang! Itulah sebabnya kenapa author berusaha untuk updet setiap minggunya. Karena bulan Juli, dia bakal balik lagi di FNI.

Ace: Sequelnya Mutenya mungkin dibuat bulan Juli dengan judul "Loud". Hohohoh! Arigato reviewnya!

Angelic Heaven

Garp: Saya dibilang biadab? Huwaaaaaa! Kejaaaaam! TTATT #OOC to the max!

Ace: #Facepalm# Kurang mesra tuh! Masa cuman pangku-pangkuan doank! Mana di chapter ini yang kecium cuman pipi pula! Mintain authornya gih! Suruh buat yang lebih mesra lagi! =="

Author: WOI!

Luffy: Arigato reviewnya!

via sasunaru

Ace: Tau tuh otouto. Masa aku dikira sales panci? =="

Luffy: Nyehehehe

Ace: Seminggu sekali, Author akan berusaha untuk updet! Ikuti terus fic ini. Arigato reviewnya!

Arale L Ryuuzaki

Luffy: Kawai? Arigato pujiannya! ^o^

Ace: Zosannya masih berlanjut kok. Arigato reviewnya! #Grins!

Monkey Loses Bananas

Ace: Semoga Anda puas dengan nasib sial yang melanda ZoSan di chapter ini. Muahahahaha!

ZoSan: #Deathglare to Ace#

Luffy: Aku bloon atau polos itu...

Ace: Dua-duanya!

Luffy: HEI!

Ace: Untuk pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya seiring dengan berjalannya cerita! Ikuti terus dan arigato reviewnya!

kitteN Eye'S

Luffy: Heeheehee... Makasih pujiannya! ^w^

Ace: Seminggu sekali, author akan berusaha untuk updet. Bahkan jika Anda beruntung, dia bisa updet dua kali dalam seminggu. Makasih reviewnya!

N.h

Ace: Otouto emang rada kuper. Maklum aja... =="

Luffy: WOI!

Ace: Haha! Perasaan lebih pasti akan tumbuh di antara kami! Tunggu saja! #Evil Grins

Domi

Ace: What the hell? Luffy buatmu? NO WAY! HE'S MINE! #Mera-mera no mi mode: on# HIKEEEN-GAAAAHHHH! #Disiram air galon ama Luffy#

Luffy: Abaikan kesarapan, Ace! ^w^ Arigato reviewnya Domi-chan! #Hugs Domi

Ace: Noooo... TT_TT Hugs me too, please Luffy...

Vii no Kitsune

Ace: Apa chapter ini masih kurang panjang buat Anda? O_o

Luffy: Author gak pindah kok. Hanya melebarkan sayap aja xD Dia akan balik ke Fandom Naruto bulan Juli nanti. Arigato reviewnya! =D

Demon D. Dino

Ace: Namaku emangnya sulit banget ya buat dieja? =="

Author: Setujuu! Aku juga susah waktu pertama kali nyebut nama Ace!

Ace: #Pundung#

Luffy: Arigato reviewnya! xD

Kim D. Meiko

Ace: Wuiihh... bodyku bikin orang nosebleed! Tapi kenapa Luffy gak nosebleed ya? ==" #Pundung

Luffy: Pair kita masih kalah keren dari Namikazecest, Nii-chan! O.O

Ace: Tenang aja, Otouto. Meiko-chan tidak akan ikut ngeramein Namikazecest! Muahahaha!

Minato (AU): #Mendadak nongol# Brondong gue... #ngorek-ngorek tanah, suram#

Minato (Canon): Udahlah, Min. Ntar bulan Juli nih Author bakal balik lagi ke FNI. Sabar ajalah... =="

Ace: Dan di saat itulah, aku bakal ngeracunin nih otak author dengan ide-ide D-cest yang lainnya! Hahaha!

Minato (AU): #Death Glare# Kau ingin kurasengan, eh?

Ace: Boleh! Mau ngerasain Hikenku juga? #Evil Face

Minato (Canon): Gah... tinggalkan saja mereka... =="

Luffy: Arigato reviewnya! ^w^

Wokeh! See you all in the next chapter! Don't forget to REVIEW! :D